Jumat, 06 November 2020

Gowes Blusukan Yoni Situs Salamsari Boja Kendal

Yoni Situs Salamsari Boja Kendal
          Sabtu, 7 November 2020, Dua hobi bisa bareng menjadi kebiasaan saya akhir-akhir ini. Hobi lama saya sebelum blusukan, gowes. Ceritanya dulu sekitar tahun 2010an saat ‘bike to work' pertama ngehit, saya ikutan kepingin berangkat kerja naik sepeda. Namun sayangnya cuman bertahan kurang dari 2 bulan, penyebabnya karena tak ada partner... hehehhe. Kemudian sepeda saya biarkan begitu saja, bahkan sempat dikomentari teman blusukan, saat sepeda saya gantungkan di atas teras. 
     Ketika Pandemi Covid-19 ini mulai menyebar, bersepeda jadi tren, saya kembali menurunkan sepeda saya dari atap. Apalagi istri sempat berceloteh akan menjual sepeda, karena tahu harga sepeda melambung. Secepat kilat saya kemudian mencari rekan yang bersepeda. Singkat cerita, sudah menjadi kebiasaan setiap sabtu saya gowes, kemudian hari ini karena kebetulan jadwal gowes rute saya arah Boja, sehari sebelumnya saya menghubungi mas Age Kharisma. Saya teringat akan postingan di IG beliau tentang Yoni di Sawah di daerah Boja. Apalagi pernah chat bersedia mengantar. 
Terminal cangkiran
    “Siap dan saya juga ada sepeda”, balas beliau. Seketika langsung terlintas ide Bolo Gowes, bolo Blusukan! Lewat jalur yang cukup menguras tenaga bagi saya : Jalur Gunungpati – Boja. Janjian di pertigaan dekat Taman Makam Pahlawan Boja. 
     Diluar dugaan sepeda Mas Age ternyata berasal dari pabrikan sama. Jadilah, Bolo Blusukan, Bolo Gowes Bolo United! 
Titik pertemuan di Pertigaan Taman Makam Pahlawan Boja
     Tak menunda waktu, kami kemudian langsung menuju lokasi. Petunjuknya situs berada di area sawah belakang SMKN 3 Kendal. Karena melewati pematang, sepeda kami parkir di pinggir sawah, kemudian kami menyusuri jalan setapak diantara pohon sengon. Kurang lebih berjalan 1km, setelah sempat mencari keberadaan yoni karena tertutup pandangan tanaman ketela rambat dan jagung. (Dulu saat mas Age ke lokasi ini tanaman padi). 
     Dan Gowes Blusukan menemukan jalan kebahagiaan : 
Yoni Salamsari Boja Kendal
     Secara administrasi Yoni ini berada di Dusun Rejosari Desa Salamsari kecamatan Boja Kabupaten Kendal. Kondisi Yoni selain aus karena terpapar terik matahari dan terkena derasnya hujan ribuan tahun sayangnya ada bagian yang nampaknya pernah ada usaha ‘merusak’. 
Yoni Salamsari Boja : Kondisi saat ini (2020)
     Ukuran Yoni tak terlalu besar, perkiraan kami antara 60-80cm. Dengan bentuk yang sederhana, dimana cerat yoni tanpa ada Penyangga. 
Bentuk Yoni Salamsari Boja : Sederhana
     Cerita sejarah keberadaan Yoni ini sangat minim. Terbatas hanya dari dulu memang dilokasi ini (dugaan kami masih Insitu), Lingga yang seharusnya berada diatas Yoni juga sudah lama tak tahu dimana keberadaannya. 
     “Warga mengenal ini sebagai tempat mencari peruntungan instan (=baca togel), namun itu dulu saat lagi musim bermimpi. Saat ini sudah cukup lama ditinggalkan", cerita mas Age.
      Bagian Penampang atas Yoni Rejosasi, Salamsari. 
Cerat Yoni, 
Cerat Yoni Salamsari Boja
       Tempat keluarnya air suci saat ritual keagamaan. Prosesinya dimana pemimpin upacara, menyiramkan air suci diatas lingga kemudian air yang keluar melalui lubang cerat itulah yang paling utama 'trta amrta'. 
       Semoga generasi muda Salamsari bisa tahu keberadaan sejarah yang sangat berharga di daerahnya. Juga kepada SMKN 3 Kendal bisa memaksimalkan fungsi sekolah sebagai tempat pembelajaran. 
   Dimana belajar sejarah tak perlu jauh ke Prambanan-Borobudur, bahwa dibelakang sekolahnya pun ada jejak buktinya. 
    Jika memungkinkan malah jika bisa sekolah merawat Yoni ini, impian saya, yoni ini diselamatkan, dibawa ke sekolah kemudian dibuatkan penutup dan pagar serta diberi narasi sejarah, serta keterangan lokasi penemuan. Di lingkungan pendidikan, barangkali saat ini menjadi tempat yang logis untuk nguri-uri Yoni. 
     Ya dirawat, ya digunakan.... Sebuah peran aktif nguri-uri tinggalan nenek moyang
     Semoga...! 
Yoni Salamsari : ditengah sawah
Lubang tempat lingga 
Yoni Salamsari : lubang kotak dimana Lingga seharusnya tertancap
      Lingga, perwujudan dari Siwa, sementara Yoni perwujudan dari Shakti Dewa Siwa (istri) , bertemunya Siwa dan Shaktinya melambangkan kemakmuran. 

Video Penelusuran Di Channel Youtube : 

Bologowes#boloBlusukan#BoloUnited
Maturnuwun Mas Age… Salam Sehat! 

      Salam Pecinta Situs dan Watu Candi 
#hobikublusukan 

Rabu, 30 September 2020

Curug Gending Asmoro : Air terjun eksotis Ungaran

Curug Gending Asmoro
     30 September 2020. Kali kedua dapat undangan untuk mengikuti kegiatan “One Day Trip with blogger Milenial dan Jurnalis”, yang di selenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. (link one day trip 2019). Dari itinerary yang dibagikan sehari sebelumnya, sudah membayangkan keseruan yang bisa saya nikmati. 
      Menjadi peserta wisata ke 4 destinasi di Kabupaten Semarang dalam satu hari, tentu menjadi cerita yang cukup menarik. Kesempatan berharga ini tentu sangat saya syukuri dan sangat langka. 
Gerbang Curug Gending Asmoro
     Tujuan pertama langsung ke Lokasi wisata yang cukup viral di Ungaran, Curug Gending Asmoro. Destinasi wisata air yang cukup dekat dengan kota Ungaran. Dari exit Tol Ungaran menuju Kalongan, melewati Kantor Kecamatan Ungaran Timur kemudian sekitar 500 m  perempatan ambil arah kiri, ikuti jalur tersebut. (Akan ada petunjuk arah menuju Curug),berdekatan dengan Taman Kayangan “Tebing Alfath”, Curug Gending Asmoro juga dikelola oleh Bumdes Kalongan Mandiri Jaya. Secara Administratif berada di Dusun Ndompo Desa Kalongan Kec.Ungaran Timur. Curug Gending Asmoro ini mulai dikembangkan sebagai tempat wisata oleh Pemerintah Desa Kalongan sekitar tahun 2018. Fasilitas parkir baik sepeda motor maupun mobil sudah ada, walaupun mungkin terbatas. 
Curug Gending Asmoro
     Wajib memakai masker, dan cuci tangan serta cek suhu tubuh menjadi protokol kesehatan yang disyaratkan untuk setiap pengunjung yang akan masuk. 
Tiket Masuk Gending Asmoro (2020)
           Harga tiket 5 ribu rupiah dan biaya parker Roda 2 rb serta R4 4rb masih sangat terjangkau. Jalan menuju lokasi sudah bagus, namun bila musim penghujan memang harus ekstra hati-hati. 
     Rambu-rambu peringatan juga sudah terpampang di sepanjang jalan. 
     Beberapa spot selfie juga ada di beberapa titik di sepanjang jalan. 
Salah satu spot selfie di Curug Gending Asmoro
     Di satu titik pinggir jalan, ada satu sumur yang di keramatkan oleh warga. Sumur Curug”, berbagai ritual warga yang punya hajat dilakukan disini, selain memberi sajen, mengambil air karena tuah juga air sumur curug dipercaya sebagai sumber kehidupan, dimana saat musim kemarau tak pernah mengering.      
Sumur Curug 
     Bapak Yarmuji, Bapak Kades Kalongan yang turut mendampingi kegiatan ‘one day trip with milenial”, menjelaskan asal muasal nama Curug Gending, “ Dulu curug ini sangat angker dan hanya orang tertentu yang berniat ritual yang berani mendekat. Namun kami mencoba bersama warga ingin mengubah pandangan tersebut, Dari Mistis menjadi Eksotis”, jelas Bapak Kades. 
Curug Gending Asmoro
     “Nama Gending Asmoro sendiri terinspirasi dari legenda masyarakat tentang bunyi suara gamelan yang kerap terdengar di hari hari tertentu, ketika penataan Curug ini, salah satu pekerja mendengar suara gamelan tersebut. Kemudian tercetuslah nama Curug Gending Asmoro ini”, jelas Bapak Yarmuji. 
Tanda cinta di Curug Gending Asmoro
     Saat kami kesini, masih musim kemarau, sehingga debit air curug memang tidak terlalu deras. Namun pemandangan cukup menawan, Batuan kali yang cukup besar menjadikan pemandangan eksotis. Cocok untuk foto prewedding. Juga pas untuk para traveller, pehobi tracking, dan pecinta alam. 
     Dari penjelasan Bapak Kades, Walaupun penurunan pengunjung bahkan sampai 80% namun para pengelola tetap berusaha memberi kenyamanan kepada pengunjung. 
      Well sangat recommended!! Tak jauh dari kota masih ada curug yang eksotis….. jalan kaki pun tak terlalu jauh. 
curug Gending Asmoro
    Bersambung ke destinasi Taman Kayangan Tebing Alfath Kalongan 

     Naskah ini satu paket dengan 3 destinasi wisata lain kegiatan ‘one day trip wiwt blogger milenial. Tentu yang cukup spesial adalah destinasi Bukit Cinta, dimana ada garis merah kegiatan ini dengan pakem blog saya ini… heheheh. (ada sesuWATU nya.. hehehe) 

Link : (akan terhubung setelah jadi

-. Bukit Cinta Rawa Pening 
-. Vlog : Situs Lingga Yoni Bukit Cinta 
-. Agrowisata kopeng “Gunungsari” 
ssdrmk di Curug Gending Asmoro
Salam budaya! 

#ayodolankabsmg 
#onedaytrip2020 
#hobikublusukan

Selasa, 29 September 2020

Kampung Rawa, Rawa Pening

Kampung Rawa
    Selasa 30 September 2020. Destinasi ketiga kegiatan “One Day Trip with blogger Milenial dan Jurnalis”, yang diadakan Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. setelah Curug Gending Asmoro, mampir di Kayangan Tebing Alfath kemudian sesuai jadwal perjalanan, menuju Rawa Pening : “makan siang di Kampung Rawa”. 
    Kampung Rawa berada di pinggiran Rawa Pening, masuk wilayah desa wisata Bejalen ini sebenarnya sudah cukup lama. Akhirnya saya bisa berkunjung ke Kampung Rawa. Kampung Rawa sendiri cukup eye catching bila melintas di Jalur Lingkar Ambarawa. 
       Selain indahnya Rawa pening, pemandangan Gunung Telamaya dan merbabu cukup mempesona dilihat dari kampung rawa.
Giant letter Kampung Rawa. 
kampoeng rawa
    Setelah bis rombongan parkir, kami kemudian diarahkan untuk menuju dermaga wisata Kampung Rawa. Sebelum makan siang kami diajak untuk naik perahu wisata putar-putar Rawa Pening; 100rb /perahu. Di beberapa lokasi tempat cuci tangan disediakan di lokasi ini. Para petugas pun memakai masker. 
     Saya tentu sangat antusias, selain pertama kali berkunjung ke Kampung rawa, ini juga kali pertama saya naik perahu keliling rawa Pening… hehehe, Maturnuwun Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. 
Dermaga Perahu Wisata Kampung Rawa
      Kesan berbeda ketika menuju Resto Apung, dimana setiap pengunjung akan naik perahu penyeberangan (mirip penyebrangan disungai). Dan Resto apung Kampung rawa benar-benar terapung. Jadi ketika makan atau berjalan di setiap lorong akan terasa bergoyang. 
     Sensasi makan diatas rawa, ikan yang berseliweran dan bangunan kayu yang cukup eksotis menjadikan Resto Apung ini bisa menjadi pilihan menarik saat menjamu rekan, sahabar, relasi bisnis, bahkan acara makan bareng keluarga akan sangat berkesan. 
Kampoeng Rawa
     Berbagai fasilitas di Kampung Rawa sendiri juga cukup lengkap. Taman bemain, dilengkapi berbagai permainan untuk anak-anak seperti komedi putar, trampoline, bebek air, ATV dan masih banyak lagi yang lain. 
   Kampung Rawa meninggalkan kesan mendalam, yang membuat saya pribadi ‘jika ada waktu ingin saya mengajak keluarga kembali ke sini’. 

Bersambung ke destinasi Bukit Cinta 
      Naskah ini satu paket dengan 3 destinasi wisata lain kegiatan ‘one day trip with blogger milenial and jurnalis. Tentu yang cukup spesial adalah destinasi Bukit Cinta, dimana ada garis merah kegiatan ini dengan pakem blog saya ini… heheheh. (ada sesuWATU nya.. hehehe) 

Link : (terhubung setelah jadi) 

3. Kampoeng Rawa 
4. Bukit Cinta Rawa Pening 
5. Vlog : Situs Lingga Yoni Bukit Cinta 
6. Agrowisata kopeng “Gunungsari” 

Salam budaya! 

#ayodolankabsmg 
#onedaytrip2020 
#hobikublusukan

Keindahan Taman Kayangan Tebing Alfath : Rekreasi Keluarga

Taman Kayangan
Kayangan Tebing Alfath
        Selasa 30 September 2020. Destinasi lanjutan kegiatan “One Day Trip with blogger Milenial dan Jurnalis”, yang di selenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. setelah Curug Gending Asmoro. Kami kemudian mampir di Taman Kayangan “Tebing Alfath”, yang dikelola oleh Bumdes Kalongan Mandiri Jaya. 
Kincir Angin
tebing alfath, Kalongan Ungaran
 
       Taman Kayangan “Tebing Alfath”mulai dikembangkan sebagai tempat wisata oleh Pemerintah Desa Kalongan sekitar tahun 2018. Fasilitas parkir baik sepeda motor maupun mobil Cukup Luas 
      Masih di Suasana Pandemi, di masa new Normal ini pengunjung wajib memakai masker, dan cuci tangan serta petugas mengecek suhu tubuh. HTM 10K. “Sebagian hasil keuntungan penjualan tiket kami alokasikan untuk membangun Masjid”, jelas Bapak Yarmuji, Kades Kalongan. 
      "Tebing Taman Kayangan Tebing Alfath, dulunya adalah bekas tempat pembuangan sampah. Atas kesepakatan warga dan pemerintah desa kemudian di sulap menjadi lokasi wisata yang bermanfaat baik secara ekonomi maupun sosiologi warga”, tambah Bapak Kades. 
      Gerbang Kayangan Tebing Alfath
Taman Kayangan
Gerbang Kayangan Tebing Alfath
      Saat kesini, matahari beranjak meninggi, apalagi masih musim kemarau, cuaca cukup terik. Namun setelah kami memasuki gerbang masuk. seketika mata di jamu dengan pemandangan yang aduhai. 
Tebing Alfath
      Berbagai spot foto tersedia di titik-titik yang meanjakan mata. 
Tebinks

      Pemandangan alami yang disajikan sangat indah. Es dawet jagung, suguhan khas tebing alfath :

     ditambah ada kolam renang yang menambah kesegaran Selain excited dengan pemandangan, fasilitas yang ada kami juga dijanjikan ada minuman segar khas Desa Kalongan, Es Dawet jagung. 

Kolam renang kayangan Tebing Alfath
       Taman Kayangan “Tebing Alfath” sangat cocok untuk rekreasi keluarga. Suasana alami. Ayah bunda refreshing anak bergembira main air. Keren!! 
      Saya pasti akan kembali mengajak anak istri. 
Gazebo diTebing Alfath
     Bersambung ke destinasi Taman Kayangan Tebing Alfath Kalongan 
---
    Naskah ini satu paket dengan 3 destinasi wisata lain kegiatan ‘one day trip wiwt blogger milenial and jurnalis. Tentu yang cukup spesial adalah destinasi Bukit Cinta, dimana ada garis merah kegiatan ini dengan pakem blog saya ini… heheheh. (ada sesuWATU nya.. hehehe) 

Link : (terhubung satu persatu setelah jadi) 
  1. Taman Kayangan Tebing Alfath 
  2. Bukit Cinta Rawa Pening 
  3. Vlog : Situs Lingga Yoni Bukit Cinta 
  4. Agrowisata kopeng “Gunungsari” 
Salam budaya! 

#ayodolankabsmg 
#onedaytrip2020 
#hobikublusukan

Rabu, 09 September 2020

Candi Kethek, Karanganyar

Candi Kethek
     Tahun 2011, saat kesini.. ternyata saya tak mencari informasi lebih detail. Selain Candi Cetho - Candi Sukuh - Situs Planggatan ternyata ada Candi Kethek yang terletak di dekat Candi Cetho. Setelah sampai dirumah kemudian barulah tahu ada Candi Kethek, jadi jangan tanya bagaimana menyesakkan hati. 
      Setelah 9 tahun kemudian barulah saya bisa berkunjung ke Candi Kethek ini. Dari pengalaman pribadi saya, kekuatan pikiran memang ternyata bisa berhasil pula, walau entah ini kebetulan atau terbukti. Setiap dengar rencana piknik bareng kerjaan saya selalu membayangkan piknik bareng ke Candi Cetho. Dan akhirnya harapan terkabul.
       Pas pula dengan hari dimana, adat kebiasaan "Ngemisan" biasa saya lakukan beberapa waktu lalu. Kamis,10 September 2020, bersama rombongan tempat kerja bidang Perpustakaan akhirnya tanpa perjuangan sebagaimana saya biasa lakukan sendiri, tinggal duduk sampai fasilitas makan minum lengkap. hehehe. Saya tentu ijin juga agar tak ditinggal rombongan, karena tentu saya ngeblass sendiri ke candi Kethek.

    Untuk blusukan versi Vlog di channel Youtube : 
     Menuju Candi Kethek cukup mudah, tapi karena saya ikut rombongan yang include tiket masuk candi Cetho, jadi saya melalui candi Cetho. Bila ingin langsung, sebelum gerbang masuk di sebelah kiri, ikuti saja jalur menuju pendakian gunung Lawu (ada papan petunjuk) 
      Masuk area yang sama dengan Puri saraswati dan Sendang Cetho, menuju candi Kethek sejalur dengan pendakian Gunug Lawu dengan membayar HTM 7K. Sebenarnya penasaran dengan Puri Saraswati dan Sendang. Tapi prioritas pertama tentu harus Candi Kethek. (Jalur menuju Candi Kethek via Candi Cetho komplit di video saya)
      Melewati jalur bebatuan, dengan udara yang segar terasa menyejukkan rongga paru-paru, walau sedikit ngos-ngossan. namun tentu sangat excited. kira-kira 300m setelah jalan kaki sampailah :
Candi Kethek
    Lokasi Candi Kethek berada di  lahan milik Perhutani. sebelah barat laut lereng Gunung Lawu,  secara administratif masuk wilayah Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. 
Candi Kethek
      Kethek dalam bahasa Jawa berarti kera, nama yang diberikan oleh penduduk setempat kepada candi ini karena dahulu ada banyak ditemukan kera di daerah ini. Namun saat saya disini tak ada satupun yang terdengar maupun terlihat batang hidungnya si kethek itu. hehehee.
Tambahkan teks
     Dari papan informasi yang di sandarkan (mungkin sudah akan diganti), Candi kethek ini diduga peninggalan, sejaman dengan candi Cetho dan Sukuh yaitu berasal dari abad ke 15 yang merupakan masa akhir Majapahit.
     Candi Kethek, diduga adalah Candi Hindu dengan ditemukan arca kura-kura. (Namun saya saat kesini mencari tak ketemu, di papan informasi memuat keterangan arca kura-kura di salah satu foto dibawah ini :)
    Beberapa close up Candi Kethek :
candi kethek

Candi Kethek
     Tangga Masuk ke bagian Candi paling atas :     
     Bagian paling atas Candi Kethek, Ada semacam tempat ritual/ tempat ibadah :
Candi Kethek
Candi Kethek
         Candi Kethek, saat saya kesini suasana sangat syahdu.  tenang, bikin hati terasa bahagia. Pemandangan dari atas :
Candi Kethek
Candi Kethek

       Sampai ketemu di penelusuran berikutnya

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
#hobikublusukan