Jumat, 22 Mei 2009

Membaca buku dimulai bisa dari Apa saja! Dimana saja! Kapan saja!

Oleh : Bambang Murdianto, SS.


Masih ingat kita, dalam sebuah acara kuis Who Want’s to be a milionaire yang di bawakan oleh Tantowi Yahya, seorang loper koran mampu mengalahkan seorang profesor. Loper koran tersebut berhasil mendapatkan hadiah sebesar setengah milyar, sementara sang profesor hanya mampu mendapatkan hadiah puluhan juta saja.
Setiap hari loper koran tersebut, setelah selesai mengantar surat kabar ke langganan pada sore harinya ia tak lupa membaca koran. Informasi yang dia dapatkan dari surat kabar tersebut disimpan dan kemudian terbukti si loper koran tersebut berhasil menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan.
Mengembangkan atau melatih minat baca tak terbatas media, waktu dan tempat. Mendekatkan anak, atau siapa saja pada sebuah bacaan dapat dimulai tidak hanya dengan buku saja. Tapi bisa melalui media lain, bisa berupa majalah, koran atau bahkan tulisan di kertas bekas yang seringkali kita anggap tidak penting; selebaran promosi, koran pembungkus makanan, poster – poster yang tertempel di jalan – jalan, dan media iklan yang lain, ataupun barang – barang lain yang ada tulisan maupun gambarnya.
Membaca buku dimulai bisa dari Apa saja!
Mengembangkan atau melatih minat baca dengan gambar dan tulisan yang ringan, sederhana akan lebih mudah dan tidak secara langsung memaksa anak. Dengan media yang tersedia di sekitar kita maka terasa pas dengan dunia anak yang dekat dengan dunia bermain. Saat jalan – jalan dengan anak, misalnya ke supermarket ketika berbelanja kebutuhan rumah tangga seperti susu untuk anak, kita ajak untuk ikut melihat tanggal kadarluarsa, kandungan gizi , informasi – informasi yang lain yang biasanya ada di dalam kemasan susu tersebut. Hal sepele seperti diatas tanpa disadari akan melatih anak untuk membaca. Tentunya tidak sekali duakali cara ini di lakukan tapi terus menerus, anak selalu didampingi serta sabar dalam membacakan juga menjelaskan pada anak. Anak selalu mengawali untuk mengenal susu dengan membaca terlebih dahulu tidak hanya melihat tampilan visual saja.
Cara tersebut tidak akan dapat dilihat dalam waktu singkat apa manfaatnya. Bagi anak, setelah menjadi  menjadi kebiasaan, membaca informasi di suatu produk, pemikiran anak akan menjadi lebih kritis, selalu menganalisa, membandingkan dengan produk lain dan sebagainya. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi kita. Kita bisa menjadi lebih tahu tentang keinginan anak, suka atau tidak dengan produk tersebut, juga keunggulan produk tersebut, yang tidak kalah penting biasanya setelah pemikiran kritis anak terbangun, kadang informasi mengenai tanggal kadarluarsa produk sering terlewatkan, tapi karena anak kritis dalam menyikapi informasi tersebut kita bisa menghindari produk kadarluarsa tersebut. Bahkan bakteri Enterobacter Sakazakii yang kemarin ramai dibicarakan karena membahayakan bagi anak bisa kita ketahui, hal ini tentu sangat bermanfaat.
Selebaran/ brosur, pamlet, poster, spanduk baliho dan lain sebagainya, tidak ketinggalan menyimpan banyak manfaat, terutama bagi kegiatan latihan membaca. Biasanya media tersebut menyimpan informasi mengenai promosi kegiatan/ produk tertentu. Iklan yang merupakan pemberitahuan atau berita pesan untuk mendorong atau membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang atau jasa. (Kamus Pelajar SLTP : Pusat Bahasa Depdiknas, 2003)  biasanya sudah ditulis  dengan kata – kata yang menarik Ada pula yang dilengkapi gambar – gambar yang menarik. Setelah membaca informasi dari iklan tersebut, seorang anak akan memiliki dan memperoleh makna dari sebuah informasi yang disampaikan, juga mengembangkan imajinasinya. Ada satu contoh, ketika ada selebaran mengenai lomba menggambar bagi anak. Seorang anak akan membaca informasi yang ada di selebaran tersebut, kemudian dengan makna yang di tangkap dan dimasukkan ke daya imajinasi nya, si anak membayangkan bisa mengikuti lomba tersebut, menang dapat hadiah dan sebagainya. Dalam proses tersebut otak seorang anak dan minat terhadap sebuah informasi sudah berjalan.
Dengan contoh diatas, kita bisa mengembangkan ke arah yang lebih banyak mengandung informasi. Logikanya bisa informasi yang sedikit tersebut sudah membuat daya pikir dan imajinasi anak berkembang apalagi buku? Maka apabila anak sudah terbiasa membaca segala informasi kita mulai saja mengarahkan anak untuk membaca buku.  
Bahan lain yang bisa menjadi stimulasi anak adalah komik sebagaimana disebutkan ole Willy Gunarti dalam artikelnya yang berjudul “Membaca Komik itu mengasyikan” (Kompas, 24 April 2008 : 24) selain menghibur komik bisa menjadi sumber pengetahuan dan mengajak kita kita berimajinasi. Di dalam penelitian Fuad A. Gani (Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan FIB UI), terhadap 500 siswa di 50 sekolah di Jakarta, pada akhir tahun 2003, memperlihatkan kecenderungan bahwa 86 persen dari mereka senang membaca komik, hal tersebut menjadi potensi untuk anak bahwa komik bisa dijadikan pintu masuk bagi peningkatan minat baca anak.
 Ada beberapa pandangan masyarakat, bahwa komik bisa membuat anak malas. Ada benar tapi ada salahnya. Benar, kalau anak membaca komik tidak ingat waktu, tugas dan kewajibannya, akan membuat anak malas. Tapi pandangan negatif terhadap komik bisa salah apabila sebuah komik di jadikan media untuk memperkenalkan, mendekatkan minat baca pada anak.
Naruto, One Piece, Conan atau banyak lagi lainnya yang sudah di filmkan, dan rutin di tayangkan di stasiun televisi kita, bisa kita jadikan media. Cobalah anak di belikan/ di pinjamkan komik dengan judul yang sama dengan yang ditayangkan ditelevisi. Pasti akan berbeda imajinasi anak. Kenapa bisa begitu?
Televisi menyajikan sebuah visual gambar yang bergerak dengan dilengkapi suara, efek tertentu dan sebagainya, sehingga anak hanya menerima apa yang sudah dia lihat tanpa harus menemukan atau menggambarkan lagi jalan cerita. Hanya itu saja, sementara  komik walaupun ada gambar, tapi visualnya tidak terbatas. Yang bermain disini adalah teks dari komik tersebut, sekaligus ekspresi dari gambar didalam komik tersebut. Oleh karena itu membaca komik diperlukan pemahaman dan imajinasi untuk mengartikan makna, jalan cerita. Anak akan mendapatkan tantangan untuk memvisualisasikan jalan cerita yang tersaji melalui gambar – gambar serta teks di komik. Proses tersebut membutuhkan kerja otak untuk berpikir. Di sini letak perbedaan dengan televisi. Televisi hanya membutuhkan kemampuan melihat, mendengar. Itu saja.
Komik sebagai sebuah buku dengan tulisan yang relatif sedikit, karena jalan cerita diperjelas dengan gambar sangat menarik bagi anak, sehingga upaya kita untuk mendekatkan buku dan meningkatkan minat baca anak tidak terkesan memaksa.
Setelah anak mulai senang dengan komik, mulai membaca teksnya, ada baiknya kita mengenalkan dengan buku cerita yang berbentuk teks. Sekarang ini banyak cerita anak – anak yang juga ditulis oleh anak – anak pula, sehingga proses pengalihan gemar membaca dari komik ke buku cerita teks ( fiksi ) akan berlangsung dengan wajar dan apa adanya.
            Koran atau surat kabar oleh di uraikan Prof. Komaruddin dalam Kamus istilah Karya Ilmiah (2002: 258) yaitu kertas atau kertas yang di cetak dan didistribusikan, biasanya harian atau mingguan dan berisi berita, opini, karangan dan iklan. Seperti ilustrasi di awal tulisan ini, sesungguhnya surat kabar menyimpan potensi yang amat besar dalam mengembangkan SDM. Berita, opini, karangan atau bahkan iklan yang ada di Surat kabar bisa melatih orang untuk membaca. Semakin banyak surat kabar yang diterbitkan , dan oplah yang besar menunjukan tingginya kualitas sumber daya manusia manusia. Sekarang ini, di negara kita ada sedikit kecenderungan meningkat. Ada kecenderungan masyarakat Indonesia, saat ini sudah mulai akrab dengan surat kabar, sudah banyak kita temui agen, loper koran yang ada di di tempat keramaian, itu menandakan bahwa itensitas jumlah masyarakat yang membeli surat kabar naik.
Membaca buku dimulai bisa Dimana saja!
Tempat membaca, identik dengan perpustakaan, karena memang perpustakaan menyediakan bahan bacaan dan tempat membaca sekaligus. Tapi masih saja masyarakat jarang menggunakan perpustakaan. Suatu perpustakaan pusat di satu daerah ( Kabupaten/ Kota ) biasanya jangkauan ataupun jarak ke masyarakat ada yang relatif jauh, dan mungkin hal tersebut menjadi alasan kenapa masyarakat kurang berminat untuk membaca. Perpustakaan yang menjadi harapan masyarakat dengan menyediakan koleksi bahan pustaka, terutama buku yang semakin lama harganya diluar jangkauan masyarakat. Tapi sesungguhnya tempat membaca bukan menjadi suatu masalah. Buku yang mahal, bisa disikapi dengan meminjam di perpustakaan, taman baca, perpustakaan desa, ataupun persewaan buku yang letaknya yang paling dekat dengan tempat tinggal pembaca.
Sampai sekarang masyarakat kita sering menghabiskan waktu di dalam aktivitas kehidupan sehari – hari dengan hanya melamun, ngerumpi dan sebagainya. Di halte, dalam bis, kereta api masyarakat lebih banyak berbincang – bincang dengan orang lain, juga lebih banyak melamun. Bandingkan dengan negara lain, Sebut saja Jepang. Tidak ada waktu yang terbuang sia – sia bagi orang Jepang, entah itu halte, perjalanan di dalam bis, kereta api, pesawat terbang ataupun kapal selalu dimanfaatkan waktunya untuk membaca. Di Jepang, akan dengan mudah ditemui orang yang sedang duduk sambil membaca buku, entah itu di taman kota, di restoran, dan tempat – tempat umum lainnya.
Jadi membaca bolehlah dibilang, tempat tidak menjadi masalah. Di Indonesia komunitas pembaca masih terbatas memanfaatkan pembaca hanya di perpustakaan saja. Padahal di sekitar kita banyak ruang / tempat yang representatif untuk membaca, ada halte,tempat tunggu di; terminal, stasiun, bandara maupun pelabuhan. Di tempat tersebut biasanya tersedia kursi ruang tunggu, nyaman untuk membaca. Situasi keramaian yang ada, mungkin untuk memulai mencoba membaca akan sangat mengganggu. Tapi apabila konsentrasi dan fokus dalam membaca niscaya kita bisa menikmati membaca dengan nyaman.
Di taman misalnya, kita bisa memilih tempat yang teduh, mempunyai pemandangan yang bagus. Biasanya udara di taman relatif sejuk, sehingga membaca menjadi lebih menyenangkan, menyegarkan otak kita dengan rekreasi tempat dan rekreasi bacaan.
Ada satu tempat yang seringkali tidak kita bayangkan untuk bisa dijadikan tempat membaca. Toilet! Membaca di toilet tidak akan pernah rugi, dengan menyediakan ataupun membawa buku/ bahan bacaan lain ke toilet tentunya tidak ada waktu yang terbuang. Prinsip Time is Money di implementasikan dalam cara ini, selain bacaan yang ringan, bisa juga kita baca buku yang menunjang aktifitas kerja kita.
Tempat yang tidak kalah pentingnya, tempat tidur. Di sini, orang biasanya membuat dirinya senyaman mungkin untuk tidur, entah dilakukan dengan menonton tv, ngrobrol, ataupun kegiatan lain, jarang mengisi dengan membaca buku. Padahal dengan membaca buku, disaat kita merasa nyaman untuk membaca ,isi buku yang kita baca, bacaan ringan maupun bacaan lain akan lebih membuat kita mampu untuk menyimpan informasi melalui memori di dalam otak. Di tempat tidur, saat membaca pula apabila mata kita lelah, kita akan cepat tertidur. Manfaat yang kita dapat dengan membaca buku ditempat tidur salah satunya adalah mampu menyimpan informasi/ pengetahuan ataupun pesan yang disampaikan oleh pengarang yang pada suatu saatnya nanti biasanya memori semacam ini seringkali muncul pada saat kita butuhkan. Manfaat yang lain, sebagai hiburan bagi pikiran dan otak kita sekaligus untuk mengendurkan otot saraf kita setelah seharian beraktifitas.
Membaca buku dimulai bisa Kapan saja!
Untuk membaca buku, kebiasaan membaca tidak perlu menunggu waktu luang tersedia bagi kita. Tapi kita buat waktu untuk membaca. Saat ingin membaca, langsung membaca! jangan menunda keinginan tersebut.
Untuk melawan rasa malas membaca di dalam diri kita, bisa membeli buku atau meminjam buku bacaan yang kita senangi di perpustakaan, persewaan buku. Biasanya hal – hal yang disenangi atau sudah menjadi hobi akan lebih membangkitan semangat dalam melawan rasa malas untuk membaca.
Jadi Waktu yang tepat untuk mulai membaca adalah SEKARANG!

 Bambang Murdianto, SS.
Staf Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang







Tidak ada komentar:

Posting Komentar