Sabtu, 22 Agustus 2009

Hancurnya Istana Darah

 
BASTIAN TITO
Pendekar Nagageni 212
Wiro Sableng

DEBUR OMBAK memecah di pantai dan memukul lamping batu-batu karang terdengar abadi di udara pagi yang segar cerah. Kira-kira lima ratus tombak dari pantai
tampaklah berdiri sebuah bangunan besar dikelilingi tembok tinggi sepuluh tombak. Baik-bangunan maupun temboknya seluruhnya berwarna merah. Di daerah pantai seperti itu biasanya hampir tak pernah ditumbuhi pohon-pohon lain selain pohon kelapa. Namun
adalah satu kenyataan aneh karena di Iuar tembok yang mengelilingi bangunan besar tadi tumbuh berkeliling dua puluh satu pohon beringir raksasa. Bila angin bertiup dari
laut, daun-daun pohon beringin bergemerisik keras, akar-akar gantungnya bergoyang-goyang deras. Semua ini menimbulkan suasana yang menyeramkan. Di samping itu,
setiap angin bertiup maka menebarlah bau busuk dan anyir dari jurusan bangunan berwarna merah itu. Bila seseorang mendekati tembok dan bangunan di tepi pantai sunyi itu, pastilah dia akan terkejut dan berdiri bulu tengkuknya. Akan goyah lututnya lalu akan lekas-lekas mengambil langkah seribu. Betapakan tidak! Warna merah pada atap, tembok dan setiap sudut bangunan besar bukanlah warna cat atau kapur, tetapi darah! Lapisan darah inilah yang menjadi sumber bau busuk dan amis menjijikkan serta mengerikan, menebar di sekitar situ sampai puluhan bahkan ratusan tombak jauhnya!
Matahari pagi mulai naik. Air laut kelihatan berkilau-kilau. Darah merah di tembok dan di bangunan
besar di tepi pantai berkilat-kiiat sedang bau busuk amis semaki menjadi-jadi. Kira-kira sepenanakan nasi
berlalu, dari arah timur, berpapasan dengan tiupan angin laut, terdengarlah suara derap kaki-kaki kuda. Tak
selang berapa lama di sebuah liku-liku jalan kecil yang terletak di antara bukit-bukit karang tinggi dan
runcing tampaklah dua penunggang kuda memacu binatang tunggangan masing masing ke jurusan tembok
bangunan merah.Baik bulu kuda maupun pakaian kedua penunggangnya, keseluruhannya berwarna merah
basah agak bermninyak-minyak. Sengaja dibasahi ... dengan darah.
Mereka mengenakan topi berkuncir seperti tarbus, yang juga dibacahi dengan darah. Dan di bawah topitopi
itu paras masing-masing teramat mengerikan untuk dipandang karena telah dipupuri dengan darah yang
telah membeku!
Salah seorang dari kedua penunggang kuda itu membawa sesosok tubuh berpakaian hitam yang dimelintangkan
di punqqung kuda dalam keadaan pingsan dan siapa pula orang yang menggeletak tak berdaya
berpakaian hitam ini!
Kuda-kuda merah lewat di antara dua pohon beringin raksasa dan akhirnya sampai di hadapan sebuah
pintu besar di tembok bangunan. Pada bagian atas pintu merah ini terdapat tiga deretan huruf-huruf yang
terbuat dari tulang-tulang manusia yang telah dicat merah dan berbunyi. "Pintu Gerbang Darah"
Salah seorang dari penunggang kuda yang berhenti di hadapan pintu gerbang mengangkat tangan
kanannya tinggi-tinggi lalu dari mulutnya terdengar situ pekik aneh yang disusul dengan suara lantang,
"Atas nama Raja Darah, bukalah pintu gerbang!"
Untuk beberapa lamanya suara pekik serta seruan marwsia itu masih mengiang-ngiang di udara pantai
yang mengandung garam tanda bahwa orang itu telah mengeluarkan suara dengan disertai tenaga dalam yang
tinggi.
Sesaat kemudian dari belakang "Tembok Darah" demikian nama tembok merah yang mengelilingi
bangunan besar itu terdengar suara pekik balasan dan disusul oleh satu pertanyaan yang membentak keras,
"Siapa yang datang!"
"Hulubalang Keempat dan Kelima!"
"Kalian habis dari mana?"
"Menjalankan tugas Raja!"
Tak lama kemudian terdengar suara berkereketan. Pintu Gerbang Darah terbuka. Bersamaan dengan itu
dari bagian bawah pintu menjorok keluar sebuah jambatan kayu besi yang juga penuh dengan darah dan
bertuliskan "Jembatan Darah."
Ternyata antara Pintu Gerbang Darah dan bangunan besar di seberangnya dipisahkan oleh sebuah parit
selebar lima belas tombak dan dalamnya lebih dari sepuluh tombak. Parit ini dibuat sedemikian rupa
mengelilingi bangunan besar, dialiri dengan air yang telah menjadi merah karena bercampur darah dan di
dalamnya berenanglah ratusan ular berbisa dari berbagai jenis yang panjangnya mulai dari satu jengkal
sampai lima meter! Semua orang di situ mengenal parit itu dengan sebutan "Parit Kematian."
Kedua orang yang mengaku Hulubalang tadi melewati Jembatan Darah dengan cepat dan sampai di
tangga bangunan besar. Di belakang mereka Jembatan Darah masuk kembali ke tempatnya sedang Pintu
Gerbang Darah menutup dengan sendirinya.
Dengan memanggul tubuh manusia berpakaian hitam itu, Hulubalang Keempat diikuti Hulubalang
Kelima menaiki anak tangga bangunan besar yang pada sebelah atasnya terdapat tulisan, "ISTANA
DARAH." Huruf-huruf tulisan inipun dibuat dari tulang belulang manusia yang diberi warna merah dengan
darah!
Setelah melewati beberapa ruangan, kedua Hulubalang sampai di satu ruangan besar yang pada bagian
tengahnya terdapat sebuah kolam yang airnya berwarna merah dan busuk. Di tengah-tengah kolam berdirilah
sebuah patung raksesi dalam keadaan telanjang bulat dan dari bagian di antara kedua pangkal pahanya
senantiasa memancur cairan warna merah.
Di depan sana terdapat sebuah gordeng besar yang basah oleh darah. Tetesan-tetesan darah jelas kelihatan
berjatuhan ke lantai ruangan. Ruangan itu bukan saja busuk luar biasa hawanya tetapi juga pengap membuat
seseorang yang tak biasa akan sesak bernafas. Namun anehnya kedua Hulubalang Darah itu tenang-tenang
saja seolah-olah udara macam begitu tidak mengganggu jalan pernafasan mereka barang sedikitpun.
Di hadapan "Tirai Darah" mereka berdiri dengan sikap keren, lalu membuka topi masing-masing dan
menjura.
"Paduka Yang Mulia Raja Darah," kata Hulubalang Keempat. "Kami berdua Hulubalang Keempat dan
Kelima, datang menghadap guna melaporkan hasil tugas yang telah dibebankan kepada kami!"
Sunyi sesaat.
Lalu dari ruangan di belakang Tirai Darah terdengar satu suara laki-laki yang parau sember dan perlahan
namun hebatnya suara yang parau serta perlahan ini sanggup membuat dinding-dinding ruangan berwarna
merah jadi bergetar. Tirai Darah bergoyang-goyang sedang cairan merah di dalam Kolam Darah tampak
bergelombang-gelombang. Nyatalah bahwa siapapun adanya manusia di belakang Tirai Darah itu memiliki
tenaga dalam yang luar biasa hebatnya!
"Beri tahu hasil tugas kalian!" tiba-tiba terdengar satu suara.
Mendengar ini Hulubalang Darah Keempat membuka mulut memberi jawaban.
"Kami berdua telah berhasil menangkap hidup-hidup tokoh silat gotongan hitam daerah timur yang
bergelar Sepuluh Jari Maut! Sekarang dia berada dalam keadaan pingsan dan ditotok!"
"Bagus!" memuji orang di balik Tirai Darah lalu terdengar suara kekehannya. "Jebloskan dia dalam
tahanan. Gantung kaki ke atas kepala ke bawah dan nyalakan api di bawah batok kepalanya! Biar dia tahu
rasa!" Ucapan itu ditutup dengan suara tertawa mengekeh seperti tadi lalu menyusul caci maki kutuk serapah
aneh. "Keparat… sialan! Laknat …. haram jadah! Terkutuk ... ! Mampuslah semua! Semua…!"
Ucapan kotor itu masih terus terdengar sampai kira-kira sepeminuman teh. Bila kutuk serapah itu
berhenti maka Hulubalang Darah Kelima cepat-cepat membuka mulut.
"Perintah Paduka Yang Mulia segera kami laksanakan!"
Setelah menjura hormat, kedua Hulubalang tadi beserta tawanannya segera meninggalkan tempat
tersebut!
***
2
HULUBALANG Darah Keempat dan Kelima memasuki sebuah lorong menurun. Di kiri kanan lorong ini
banyak sekali cabang cabang lorong yang kesemuanya diterangi dehgan lampu minyak. Dimana-mana
kelihatan warna merah darah dan di sini udara jauh lebih pengap dan lebih busuk dari ruangan ruangan lain
dalam Istana Darah.
Mereka sampai di hadapan sebuah pintu merah terbuat dari besi dan dijaga oleh dua orang Hulubalang
Darah yang memiliki tampang seram bengis. Betapapun bengis gelaknya kedua pengawal pintu besi itu,
namun melihat siapa yang datang keduanya segera memberi hormat.
"Atas nama Raja Darah harap kalian buka pintu Penjara Darah!" kata Hutubalang Kelima.
Kedua Hulubalang pengawal meneliti orang berbaju hitam yang dipangqil Hulubalang Keempat. Salah
salah seorang dari mereka bertanya.
"Siapa dia?"
"Sepuluh Jari Maut," jawab Hulubalang Keempat dan pengawal yang bertanya ladi lalu memperhatikan
sepuluh jari orang yang dipanggul. Kesepuluh jari itu berkuku panjang dan berwarna hitam legam. Sementara
itu pengawal yang satu lagi dari dalam sabuknya mengeluarkan seuntai anak anak kunci. Dengan salah satu
anak kunci dibukanya pintu besi lalu masuk lebih dulu sedang Hulubalang Keempat dan Kelima menyusul
mengikutinya.
"Dia adalah tahanan yang keempat sampai." kata pengawal penjara sambil berjalan. Ruangan yang
rnereka lewati merupakan sebuah gang selebar tiga tombak dari batu karang atos yang dicat dengan darah.
Pada dinding kiri kanan terdapat deretan pintu-pintu besi merah. Deretan-deretan pintu sebelah kiri diberi
berangka ganjil sedang deretan sebelah kanan berangka genap. Inilah ruangan Penjara Darah yang terletak di
bawah tanah dan memiliki enam puluh buah kamar tahanan.
Di depan pintu yang bertuliskan angka 24 pengawal itu berhenti dan mengeluarkan untaian anak kunci
lalu membuka pintu besi. Begitu pintu terbuka dari dalam ruangan menyambarlah hawa dingin lembab yaag
busuk luar biasa. Lantai dan dinding serta langit-langit ruangan tahanan merah oleh darah, sebagian masih
merupakan cairan sebagian lagi telah kering membeku.
"Nyalakan lampu!" perintah Hulubalang Darah Kelima.
Pengawal segera menyalakan lampu minyak dan kamar tahanan itu kini menjadi cukup terang. Pada
dinding sebelah kiri terdapat sebuah rak batu. Di atas rak ini terletak berbagai macam benda penyiksa.
Pada langit-langit ruangan tampak sebuah kerekan lengkap dengan tali kawat yang besarnya dua kali ibu
jari. Dengan tali kawat ini sepasang kaki tawanan diikat erat-erat lalu tubuhnya dikerek hingga kini jadi
tergantung kaki ke atas kepala ke bawah.
Dari rak batu Hulubalang Kelima mengambil sebuah benda berbentuk pendupaan besi yang berisi
potongan-potongan benda hitam sebentuk batu bara. Ketika disulut dengan api benda hitam ini langsung
terbakar menyala.
"Kita tunggu sampai dia siuman," berkata Hulubalang Darah Keempat.
Tak berapa lama kemudian tawanan yang bergelar Sepuluh Jari Maut itu kelihatan membuka sepasang
matanya perlahan-lahan. Mata itu terbuka semakin lebar sewaktu keterkejutan menguasai dirinya. Sepuluh
Jari Maut melihat dunia ini terbalik. Kepalanya seperti mau karena jalan darahnya menyungsang sedang di
sekelilingnya tampak tiga orang berpakaian serba merah bertampang bengis. Rongga hidungnya sementara
itu disambar oleh bau busuk luar biasa.
"Di mana aku ...?" desis Sepuluh Jari Maut. Dicobanya menggerakkan anggota-anggota tubuhnya tapi tak
bisa. Sekujuar tubuhnya kaku tegang, sedikitpun tak dapat digerarkkan. Sadarlah Sepuluh Jari Maut bahwa
dirinya berada di bawah pengaruh totokan. Dicobanya mengalirkan tenaga dalam untuk memusnahkan
totokan tersebut namun sia-sisa. Totokan yang menguasai dirinya bukan totokan sembarangan.
Sepuluh Jari Maut memandang ke atas dilihatnya sebuah roda kerekan besi yang tergantung di langitlangit
ruangan, diganduli kawat besar. Ujung kawat itulah yang telah mengikat kedua kakinya dan sakitnya
bukan main. Dia memandang kembali pada tiga manusia berpakaian merah basah dan bau itu. Akhirnya dia
ingat. Sebelumnya dia telah bertempur dengan dua di antara tiga manusia tersebut. Dalam jurus kedua puluh
tiga dia terpaksa harus menerima satu jotosan keras dari lawan yang tepat mengenai pelipisnya. Selagi dia
berdiri nanar dengan pandanyan berbinar-binar, musuhnya yang lain telah menotoknya hingga dia tidak
berdaya. Lalu kepalanva dipukul hingga akhirnya dalam keadaan tertotok begitu rupa dia jatuh pirgsan.
Nyatalah bahwa kedua musuh tak dikenalnya itu telah membawanya ke tempat tersebut dan menawannya.
Dendam dan marah memuncak dalam diri Sepuluh Jari Maut. Rahang-rahangnya menonjol bergemeletukan.
"Tempat celaka apa ini namanya….?!" Sentak Sepuluh Jeri Maut.
Hulubalang Darah Kelima dan Keempat datang mendekat. Di tampang masing-masing menyungging
seringai bengis.
"Celaka bagimu, bukan bagi kami!" ujar Hulubalang Darah Kelima.
"Jahanam! Kalian mau bikin apa terhadapku? Aku tidak punya permusuhan apa-apa dengan kalian!"
Plaak!
Satu hantaman tamparan yang keras mendarat di pipi Sepuluh Jari Maut. Untuk beberapa lamanya dia
terbuai-buai dan berputar-putar sedang pemandangannya mulai gelap.
"Tak tahu diri. Sudah hampir mampus masih berani bicara memaki!" sentak Hulubalang Darah Keempat.
"Puaah!" Sepuluh Jari Maut meludahi muka Hulubalang Darah Keempat. "Beraninya terhadap musuh
yang tidak berdaya!"
"Setan alas!" teriak Hulubalang Darah Keempat. Tinju kiri kanannya menghujani muka tokah silat berbaju
hitam itu. Darah mengucur dari hidung, mulut dan matanya. "Seret pendupaan itu kemari!"
Hulubalang pengawal menyeret pendupaan yang dikobari api lalu melekkannya tepat di bawah kepala
Sepuluh Jari Maut.
"Tadi kau bertanya di mana kau berada," ujar Hulubalang Darah Kelima, ''Ketahuilah bahwa saat ini kau
telah dijebloskan ke dalam neraka dunia bernama Penjara Darah!"
Sepuluh Jari Maut kertakkan rahang. Mulutnya dikatupkan rapat-rapat menahan panasnya kobaran api
yang menjilat-jilat di bawah kepalanya. Hanya seketika saja dia dapat menahan rasa sakit. Sesaat kemudian
dari mulutnya mulai keluar raungan kesakitan yang menggidikkan. Di lain pihak tiga orang Hulubalang yang
ada di situ tertawa gelak-gelak.
"Manusia-manusia bejat!" teriak Sepuluh Jari Maut. "Jika aku mati di tangan kalian, kelak aku akan
menjelma menjadi setan dan mencekik kalian semua!"
"Kalau begitu biar kupercepat niatmu untuk jadi setan itu!" kata Hulubalang Darah Keempat. Lalu kawat
kerekan diulurkannya ke bawah hingga kepala tawanan itu semakin dekat dengan kobaran api dalam
pendupaan besi. Rambutnya yang menjulai mulai terbakar dan menebar bau sangit di ruangan itu. Dari mulut
Sepuluh Jari Maut tiada hentinya terdengar jeritan yang mengerikan hingga suaranya menjadi parau. Saat itu
dirasakannya kulit kepala dan tulang tengkoraknya seperti meleleh! Kemudian nafas laki-laki ini mulai
megap-megap. Darah yang keluar dari hidung, mulut, mata dan telinganya menetes-netes di atas api dalam
pendupaan besi, menimbulkan suara "cees" yang tiada hentinya.
"Sudah tiba seatnya memanggil tukang-tukang darah itu," kata Hulubalang Darah Keempat pada
kawannya Hulubalang Darah Kelima.
Hulubalang Darah Kelima mengangguk lalu melangkah ke pintu. Pada sanding pintu sebelah atas
terdapat sebuah tombol merah. Tombol ini selalu terdapat dalam setiap kamar tahanan yang sekaligus
merangkap ruang penyiksaan.
Tak lama setelah Hulubalang Darah Kelima menekan tombol itu maka masuklah dua laki-laki yang
membawa ember-ember besar, masing-masing mengenakan jubah merah. Salah seorang dari mereka, yang
barusan mengeluarkan sebuah pisau kecil tajam berpaling pada Hulubalang Darah Keempat dan Kelima.
"Laksanakan tugas kalian cepat!" Kata Hulubalang Darah Keempat. Lalu bersama Hulubalang Darah
Kelima dia meninggalkan ruangan tersebut.
Yang tinggal di dalam ruangan tahanan itu kini adalah Hulubalang pengawal dan kedua laki-laki berjubah
merah. Ember diletakkan di lantai. Orang berjubah di sisi kiri keluarkan segulung pipa karat warna merah.
Dia menggoyangkan kepalanya pada kawannya yang memegang pisau. Si pemegang pisau ini segera
mendekati Sepuluh Jari Maut, lalu craass …! Dengan pisau kecil itu diputusnya urat nadi di leher Sepuluh
Jari Maut. Darah menyembur. Pipa karet cepat dihubungkan dengan nadi yang putus. Darah dari tubuh
Sepuluh Jari Maut mengalir melewati pipa karet terus masuk ke ember sedang Sepuluh Jari Maut sendiri saat
itu megap-megap dan akhirnya meregang nyawa dengan cara mengenaskan.
3
LAKSANA anak-anak panah yang lepas dari busurnya, dua ekor kuda coklat itu berlari
kencang membawa penunggangnya masing-masing. Penunggang kuda yang pertama adalah seorang pemuda
berusia dua puluh tahunan, berpakaian biru sedang kawannya seorang dara berkulit hitam manis dan
mengenakan pakaian ringkas kuning muda.
"Bisakah kita sampai sebelum malam ke tempat guru?" bertanya sang dara tanpa memalingkan
kepalanya.
"Kurasa bisa. Tapi agaknya kita bakal mendapat kesiangan di tengah jalan, adikku," menjawab si
pemuda.
"Halangan apa maksudmu?"
"Lihatlah ke langit ... "
Gadis itu mendongak ke atas. Seat itu baru disadarinya bahwa iangit di atas sana telah gelap oleh
gumpalan-gumpaian awan hitam. Kemendungan meliputi hampir seluruh tempat.
"Kalau hanya hujan itu tidak menjadi halangan bukan?" ujar sang dara.
"Memang bukan halangan. Tapi jalan yang bakal kita tempuh, yang mendaki dan berbatu licin berlumut,
serta diapit oleh jurang-jurang terjal ... Itulah halangan yang kumaksudkan."
"Mudah-mudahan saja hujan tidak turun dalam waktu cepat," kata si gadis lalu menyentakkan tali kekang
kudanya. Binatang itu mendongakc ke depan dan mempercepat larinya. Pohon-pohon yang dilalui laksana
terbang ke belakang.
Kira-kira sepenanakan nasi berlalu ternyata hujan belum juga turun walau angin bertiup keras menderuderu.
Sewaktu si gadis mendongak lagi ke atas dilihatnya gumpalan-gumpalan awan hitam mulai pupus
sekelompok demi sekelompok. Udara yang tadi mendung kini berangsur cerah.
"Nah, apa kataku! Kita beruntung. Hujan tak jadi turun," kata gadis itu pula.
Si pemuda hanya tersenyum mendengar ucapan adik seperguruannya itu, lalu berkata, "Kalau begitu kita
memang bisa sampai sebelum malam turun. Berarti kau bakal bertemu dengan orang yang kau kasihi lebih
cepat. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Sang dara cemberut. Kedua pipinya kelihatan menjadi merah. Pemuda yang berkuda disampingnya
tersenyum. Namun laksana direnggutkan setan demikianlah pupusnya senyuman si pemuda sewaktu di
hadapan mereka tiba-tiba berkelebat dua bayangan merah dan dua sosok tubuh manusia aneh sesaat
kemudian sudah berdiri menghadang di tengah jalan.
Kedua saudara seperguruan itu sama-sama terkejut bukan main dan serta merta menghentikan kuda
masing-masing. Bau busuk menyambar dari tubuh para penghadang yang mengenakan pakaian merah basah
sedang wajah masing-masing ditutupi oleh cairan yang setengah membeku.
Salah seorang penghadang bertolak pinggang dan maju mendekati.
"Supaya tidak banyak susah, lekas kalian serahkan diri dan jangan melawan!" katanya.
"Kalian siapa dan punya maksud apa?" bertanya pemuda baju biru dengan nada tinggi dan sikap gagah.
"Kami adalah Hulubalany-Hulubalang Istana Darah!" jaweb orang yang bertolak pinggang.
"Istana Darah?!" mengulang si pemuda dengan terkejut.
Kedua Hulubalang Darah tertawa mengekeh. "Kalau sudah tahu kenapa tidak lekas turut perintah?"
"Turut perintahmu? Siapa yang sudi. Lekas minggir. Kami mau meneruskan perjalanan!" membentak
gadis berbaju kuning.
"Ohoo ... galaknya!" jawab Hulubalang Darah yang menghadang dengan bertolak pinggang.
"Kami tidak punya waktu banyak untuk bicara segala pepesan kosong. Beri jalan. Kalau tidak kalian akan
menyesal!" Kini pemuda baju biru berikan perlingatan.
"Pemuda sombong tekebur! Kau tak akan kuberi hidup lebih lama!" Hulubalang Darah yang tegak di
sebelah kanan menerjang ke depan dengan gerakan cepat sekali.
Tak ayal si pemuda segera cabut pedang di pinggangnya. Sinar putih mencuat memapas serangan
Hulubalang Darah. Tapi percuma. Di lain kejap terdengar jerit pemuda baju biru itu. Tubuhnya mencelat
mental dari atas punggung kuda yang ditungganginya, sedang pedangnya ikut terlepas mental.
"Manusia rendah! Matilah!"
Satu bentakan datang dari samping yang disusul dangan sembaran pedang ke arah batang leher
Hulubalang Darah. Yang diserang cukup dibikin kaget namun tidak menjadi gugup. Di Istana Darah dia
adalah Hulubaiang Darah Ketujuh yang mempunyai kepandaian tidak rendah. Sekali berkelit dia berhasil
mengelakkan sambaran pedang, kemudian dengan satu gerakan kilat dia berhasil memukul mental pedang di
tangan lawan. Si gadis mengeluh kesakitan sambil pegangi lengannya yang menjadi merah bengkak.
Hulubalang Darah Ketujuh menyeringai mengejek.
"Gadis manis sepertimu ini tidak seharusnya berlaku begitu galak terhadapku. Nah sekarang kalian mau
menyerah baik-baik atau bagaimana?"
"Baik, aku akan menyerah," jawab si gadis, "tapi…" digerakkannya tangannya.
"Tapi apa?" tanya Hulubalang Darah Ketujuh.
"Makan dulu jarumku ini!" seru sang dara baju kuning dan sesaat kemudian begitu dia gerakkan tangan
kanan puluhan jarum berwarna kuning melesat tanpa suara ke arah dua belas jalan darah di tubuh Hulubalang
Darah Ketujuh!
"Gadis binal!" hardik Hulubalang Darah Ketujuh marah. Dikebutkannya lengan pakaiannya. Puluhan
jarum yang menyerang serja merta mental dilanda angin dahsyat yang keluar dari ujung lengan pakaian itu!
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, pemuda baju biru berseru. "Mia! Larilah! Lari lekas! Biar
aku yang menghadapi begundal-begundal jahat ini." Dari pertempuran yang baru berjalan beberapa gebrakan
itu si pemuda sudah menyadari bahwa walau bagaimanapun tidak mungkin bagi mereka untuk menghadapi
kedua lawan yang memiliki kepandaian begitu tinggi. Karenanya demi keselamatan adik seperguruannya dia
bersedia korbankan nyawa.
"Tidak kangmas! Mati bersama di tempat ini adalah lebih baik daripada lari!" jawab Miani yang
membuat kakak seperguruannya menjadi kaget. Gadis ini rupanya juga sudah menyadari nasib apa yang
bakal dihadangnya namun sedikitpun tidak merasa gentar. Dengan sepasang tangan kosong terpentang Miani
maju ke hadapan Hulubalang Darah Ketujuh,
Yang ditantang ganda tertawa dan berpaling pada temannya. "Hulubalang Sebelas, kau bereskan pemuda
itu. Aku akan tangkap hidup-hidup perawan galak ini dan membawanya ke Istana!"
Hulubalang Darah Kesebelas maju ke hadapan pemuda baju biru. Pemuda ini berada dalam keadaan
terluka parah di sebelah dalam akibat jotosan Hulubalang Ketujuh tadi. Namun demikian dengan sisa
kekuatan yang ada dan penuh keberanian si pemuda melangkah ke hadapan Hulubalang Kesebelas. Tangan
kirinya tiba-tiba melepaskan dua puluh jarum biru sedang tangan kanan diayunkan ke batok kepala lawan.
Serangan ini disertai dengan satu loncatan cepat sehingga Hulubalang Kesebelas tidak berani bertindak
sembrono.
Dengan berkelit ke samping dan seraya melepaskan satu pukulan tangan kosong ke udara, seranganserangan
jarum biru berhasil dilewatkan oleh Hulubalang Darah Kesebelas. Untuk menghadapi serangan
lawan yang kedua yaitu jotosan keras pada batok kepalanya, Hulubalang Darah Kesebelas memukulkan
tangannya ke atas dengan mengandalkan setengah bagian tenaga dalamnya.
Dalam keadaan terluka begitu rupa bentrokan lengan adalah sangat berbahaya bagi pemuda baju biru.
Walaupun tenaga dalamnya lebih tinggi sekalipun belum tentu keselamatan dirinya akan terjamin. Karenanya
begitu lawan memukulkan lengannya ke atas, pemuda baju biru menjejak tanah dan melompat satu tombak.
Bersamaan dengan itu kaki kanannya menderu ke dada lawan!
Hulubalang Darah Kesebelas tidak menyangka kalau bakal mendapat serangan hebat begitu rupa. Saat itu
dia tengah memusatkan perhatian dan sebagian tenaga dalamnya untuk melakukan bentrokan lengan.
Tubuhnya telah mendongak ke atas dan dalam kedudukan seperti itu cukup sulit untuk menyelamatkan
dadanya dari tendangan si pemuda. Namun adalah percuma dia menjabat kedudukan Hulubalang di Istana
Darah kalau serangan begitu saja dia tidak sanggup menghadapinya.
Dengan berteriak keras dahsyat Hulubalang Darah Kesebelas berkelebat. Tubuhnya hanya merupakan
bayangan merah dan sebelum pemuda baju biru dapat memastikan di sebelah mana lawannya berada, tahutahu
satu pukulan menghantam dadanya, tepat di bekas jotosan Hulubalang Ketujuh sebelumnya. Tak ampun
lagi pemuda itu muntah darah dan tersungkur ke tanah!
"Kangmas Widura!" pekik Miani.
"Mia! Lari! Selamatkan dirimu!" seru pemuda baju biru yang bernama Widura sementara nafasnya mulai
megap-megap.
Bukannya lari sebaliknya Miani malah menubruk kakak seperguruannya. Namun sebelum dia sempat
berbuat suatu apa, satu totokan telah bersarang di punggungnya membuat gadis ini melosoh tak berkutik lagi.
Hanya mulutnya saja yang masih bisa mengeluarkan suara memaki dan mengutuki kedua manusia berbaju
merah itu.
Hulubalang Darah Ketujuh membungkuk merangkul tubuh Miani lalu memanggulnya di bahu kiri. Dia
berpaling pada kawannya dan menggoyangkan kepala. "Lekas selesaikan pekerjaanmu."
Dari balik pakaiannya Hulubalang Darah Kesebeias mengeluarkan sebuah kantong karet yang pada salah
satu ujungnya terdapat pipa sepanjang tiga jengkal. Setelah mengeluarkan pula sebilah pisau kecil yang amat
tajam dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari maka diapun melangkah mendekati tubuh Widura yang saat
itu tidak berkutik dan menggeletak di tanah tengah meregang nyawa.
Hulubalang Darah Kesebelas membungkuk. Tangannya yang memegang pisau bergerak ke pangkal leher
Widura.
"Manusia biadab! Laknat terkutuk! Apa yang kau lakukan itu?!" teriak Miani sewaktu menyaksikan
bagaimana Hulubalang Darah Kesebelas memutus urat nadi di leher Widura dengan pisau kecil lalu
menghubungkan ujung pipa karet dengan urat nadi yang menyemburkan darah. Sesaat kemudian kantong
karet itu kelihatan mulai menggembung tanda darah korban telah mengalir masuk.
Hulubalang Darah Ketujuh menepuk-nepuk pinggul Miani sambil tertawa gelak-gelak.
"Gadis molek. Kau tenang sajalah. Bagusnya berhenti berteriak agar suaramu yang merdu tidak menjadi
parau!"
"Kalian manusia-manusia terkutuk! Lebih kejam dan lebih buas dari binatang!" teriak Miani lalu berulang
kali diludahinya muka Hulubalang Darah Ketujuh.
"Sialan! Kalau kau bukan gadis manis sudah tadi-tadi kuremas hancur mulutmu!" hardik Hulubalang
Darah Ketujuh marah. Ditdriknya pakaian kuning si gadis dan disekanya mukanya yang penuh ludah.
"Seharusnya kau merasa gembira dan bangga karena darah kawanmu itu mendapat kehormatan untuk dipakai
sebagai cat istana Darah!"
Tiga perempat kantong karet telah penuh dengan darah Widura. Ketika tak ada lagi darah yang mengalir
masuk ke dalam kantong itu Hulubalang Darah Kesebelas mencabut pipa lalu membuhulnya. Dia berdiri dan
memanggul kantong berisi darah itu.
"Atas semua hasil ini kita pasti mendapat pahala besar dari Raja," kata Hulubalang Darah Kesebelas
dengan tertawa lebar.
"Yang jelas," menyahuti Hulubalang Darah Ketujuh. "Gadis manis ini akan dihadiahkan padaku. Dia
menelentang di tempat tidurku sebelum keputusan Raja datang untuk mencabut nyawanya!"
Merinding bulu roma Miani mendengar ucapan ;tu. Dia berteriak keras. "Lepaskan aku! Jangan bawa ke
Istana Darah! Kalian jahanam! Lepaskan aku!"
Hulubalang Darah Ketujuh cuma tersenyum. Diciumnya tengkuk gadis itu penuh nafsu lalu bersama
kawannya meninggalkan tempat itu dengan cepat.
 
***
Selanjutnya download di  sini ya :link : HancurnyaIstanaDarah

Mawar Merah Menuntut Balas


BASTIAN TITO
Pendekar Nagageni 212
 Wiro Sableng

1
ANAK perempuan berumur delapan tahun itu berlari-lari kecil sambil tiada
hentinya menyanyi. Di tangan kanannya tergenggam lebih dari
selusin tangkai bunga yang baru dipetiknya di dalam hutan. Saat itu
matahari pagi telah naik tinggi. Si anak mempercepat larinya. Dia takut
kalau kalau orang tuanya mengetahui bahwa dia telah pergi ke hutan lagi.
Tentu dia akan dilecut seperti kemarin.
Baru saja dia memasuki jalan kecil yang akan menuju keperkampungan, anak perempuan ini
dikejutkan oleh derap kaki kuda yang banyak dan riuh sekali. Dia tak ingin mendapat celaka
diterjang kaki-kaki kuda. Cepat-cepat dia menepi dan berlindung di balik sebatang pohon.
Tak lama kemudian serombongan penunggang kuda lewat dengan cepat. Si anak tak tahu
berapa jumlah mereka semuanya, tapi yang jelas amat banyak dan semua berpakaian serba hitam,
rata-rata memelihara kumis melintang serta cambang bawuk yang lebat. Tampang-tampang
mereka buas bengis. Dan masing-masing membawa sebilah golok besar di pinggang. Meski
rombongan penunggang kuda itu telah berlalu jauh namun debu jalanan masih beterbangan
menutupi pemandangan. Setelah debu itu sirna barulah si anak keluar dari balik pohon dan berlari
sepanjangjalan menuju ke kampungnya.
Kampung itu terletak di sebuah lembah subur yang dialiri sungai kecil berair jernih. Sekeliling
perkampungan terbentang sawah ladang yang luas. Saat itu padi tengah menguning hingga
kemanapun mata memandang warna keemasan yang kelihatan.
Anak perempuan itu terus lari. Dia harus lewat kebun di belakang rumah agar tidak kelihatan
oleh orang tuanya. Kemudian dia akan masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan bunga-bunga
itu dibawah kolong tempat tidur. Kemudiannya lagi ....
Jalan pikiran si kecil itu terhenti dengan serta sewaktu dari arah kampungnya terdengar suara
hiruk pikuk. Suara itu bercampur aduk. Ada suara ringkikan kuda, suara teriakan orang laki-laki,
pekik jerit orang-orang perempuan dan anak-anak, lalu suara beradunya senjata yang sekali-kali
diseling oleh suara ringkik kuda yang membuat kecutnya hati anak perempuan itu.
Ada apakah di kampung? Begitu si anak berpikir. Hatinya yang kecut membuat larinya
terhenti-henti. Satu perasaan takut memperingatkannya agar jangan pergi ke kampung, jangan
pulang. Namun kaki-kaki yang kecil itu terus juga bergerak meskipun dalam langkah-langkah
perlahan.
Dilewatinya kebun di belakang rumah dan sampai di sebuah gubuk reyot. Gubuk ini adalah
tempat ayahnya menyimpan segala barang-barang rongsokan.
Justru di sini anak tersebut menghentikan langkahnya. Sekujur tubuhnya gemetaran, parasnya
yang tadi kemerahan karena berlari saat itu berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan. Dia
ingin berteriak, dia ingin menangis tapi mulutnya terkancing oleh rasa takut yang amat sangat.
Di samping rumah dilihatnya ayah serta kakak laki-lakinya tengah berkelahi melawan dua
orang berpakaian serba hitam. Agaknya kedua orang berpakaian hitam itu tidak sanggup
menghadapi ayah dan kakaknya karena dalam waktu yang singkat keduanya roboh mandi darah,
Namun pada saat itu muncullah tiga orang penunggang kuda bertubuh kekar bertampang ganas.
Salah seorang dari ketiganya memaki dan melompat dari punggung kuda, langsung menyerang
ayahnya. Dua kawannya yang lain menyusul dan saat itu juga terjadilah perkelahian dua lawan tiga.
Tiga manusia bertampang ganas itu ternyata amat tinggi ilmu silatnya karena tak berapa lama
kemudian si anak mendengar jeritan ayahnya. Senjata di tangan salah seorang lawan telah
membabat dada ayahnya hingga laki-laki itu tersungkur dan tak bisa bergerak lagi, diperhatikannya
bagaimana kakaknya menjadi kalap oleh kematian ayahnya lalu mengamuk hebat. Tapi nasibnya
juga malang karena dua senjata lawan berbarengan mampir di perut serta di pundak kakaknya.
Salah seorang dari manusia-manusia jahat itu lalu membakar rumah orang tuanya. Pada saat api
berkobar hebat, dari pintu belakang keluar dua orang perempuan. Mereka lari ke arah kebun.
Keduanya adalah ibu dan kakak perempuan anak kecil yang berdiri disamping gubuk. Si anak
hendak berteriak memanggil ibunya tapi tak jadi. Salah seorang dari tiga manusia jahat itu rupanya
berhasil melihat kakak perempuan dan ibunya, lalu berseru keras dan mengejar.
"Ha-ha! Ternyata ada isinya juga rumah ini!" Mendengar seruan itu salah seorang kawannya
berpaling. Begitu melihat dua orang perempuan melarikan diri dia segera ikut menyusul mengejar.
"Bagianku yang muda, Tunjung!" seru laki-laki yang paling depan. Sebentar saja dia berhasil
mengejar si gadis, merangkulnya dan menciuminya dengan penuh nafsu. Gadis itu menjerit dan
meronta. Ibunya coba memberikan pertolongan namun tubuhnya sendiri kemudian tenggelam
dalam dekapan tangan-tangan kasar. Seperti anaknya, diapun diciumi secara buas!
"Bagus sekali perbuatan kalian!" satu bentakan terdengar. Yang membentak ternyata adalah
laki-laki ketiga yang tadi telah membunuh ayah anak perempuan kecil di dekat gubuk reyot. "Aku
sudah bilang setiap perempuan cantik di kampung ini menjadi milikku dan tak boleh diganggu!"
Kedua laki-laki itu berpaling, seorang diantaranya membuka mulut. "Bayunata! Sudah lebih
dari selusin perempuan di kampung ini kau nyatakan milikmu! Masakan pada sobat sendiri yang
dua ini masih hendak kau ambil?!"
"Heh, sejak kapan kau berani bicara membangkang terhadapku, Sawier Tunjung?!" gertak lakilaki
yang bernama Bayunata. Sepasang bola matanya yang merah menyorot garang. Mau tak mau
Sawer Tunjung terpaksa melepaskan rangkulannya dari tubuh padat si gadis. Begitu lepas si gadis
hendak melarikan diri tapi Bayunata cepat mencengkeram bahunya, memutar tubuh gadis itu
hingga paras mereka saling berhadap-hadapan dekat sekali.
"Sawer Tunjung! Ini adalah gadis yang tercantik di seluruh kampung! Dan kau hendak
mengambilnya!" ujar Bayunata menyeringai dan tertawa gelak-gelak. Kawannya yang bemama
Sawer Tunjung memencongkan mulut lalu meludah ke tanah.
"Kalau tidak dia biar yang ini saja untukku!" kata Sawer Tunjung seraya menunjuk pada
perempuan berumur sekitar tigapuluh lima tahun yang tengah didekap oleh kawannya yang
bemama Singgil Murka.
"Tidak bisa!" Singgil Murka memberi reaksi. "Ini punyaku! Sampai saat ini aku belum dapat
satu perempuanpun!"
"Kalian berdua tak perlu berbantahan! Perempuan itupun harus menjadi milikku!" kata
Bayunata. Memang Bayunata adalah seorang laki-laki bernafsu besar yang tak boleh melihat
perempuan berwajah cantik. Semuanya ingin dimilikinya sekalipun saat itu lebih selusin dari
perempuan-perempuan kampong telah diambilnya.
Singgil Murka dan Sawer Tunjung menggerutu habis-habisan. Bayunata sebaliknya malah
tertawa.
"Kelak kalau aku sudah mencicipi mereka, kalian bakal mendapat bagian yang lumayan. Jadi
tak perlu menggerutu!"
"Kau keterlaluan, Bayunata!" ujar Sawer Tunjung.
"Diam!" Bayunata membentak marah. "Bawa perempuan itu ke kuda dan awas kalau kau
berani mengganggunya!" Bayunata kemudian berpaling pada gadis dalam dekapannya yang saat itu
masih menjerit dan meronta.
"Kau ikut aku, gadis molek. Tak usah menjerit, apalagi meronta. Kau bakal hidup senang!
Mari ...!"
"Tidak, lepaskan aku! Kau menusia jahanam!"
"Jangan bikin aku marah," kata Bayunata. Tapi si gadis terus meronta dan memaki.
"Kau ingin aku berbuat kasar sebelum waktunya?! Baik!" Tangan kanan Bayunata bergerak
dan bret! Robeklah baju yang dipakai si gadis. Dadanya tersingkap lebar. Memuncaklah birahi
Bayunata melihat dada yang padat putih itu. Dilumatnya dada itu dengan ciuman bertubi-tubi
sedang dari mulutnya keluar ucapan, "Dada bagus .... dada bagus ... uh ... uh!"
"Lepaskan aku! Manusia dajal ....!"
Bayunata tertawa mengekeh dan memanggul tubuh si gadis lalu melompat ke atas kuda.
Pada saat itulah anak kecil yang berdiri di samping gubuk berteriak.
"Ibu .... kakak!" Namun suara teriakannya itu sama sekali tidak keluar karena satu telapak
tangan berwarna amat hitam dan berkeringatan menutup mulutnya!
"Jangan berteriak anak, jangan berteriak! Kalau mereka melihatmu, pasti kau dibunuh! Kau
tahu tak satu anak kecilpun yang mereka biarkan hidup di kampung ini!"
Gadis kecil itu berpaling dan dia hampir jatuh pingsan sewaktu melihat paras orang yang
menekap mulutnya. Paras itu menyeramkan sekali. Seperti paras setan-setan yang pernah
diceritakan oleh kakaknya jika dia mau tidur! Paras itu cuma punya satu mata yaitu di sebelah
kanan sedang mata yang kiri hanya merupakan lobang hitam yang dalam. Manusia bermuka hitam
itu cekung sekali kedua pipinya sedang hidungnya melesak penyet!
"Jangan takut anak, jangan takut!" kata manusia bermuka seram. Ketika dilihatnya ketiga
penunggang kuda itu sudah berlalu maka baru dilepaskannya tangannya yang menekap mulut si
gadis cilik.
"Mari ikut aku, anak! Kau anak manis, tulang-tulangmu bagus. Anak perempuan yang
sepertimu ini yang kucari-cari!"
'Tidak!" si gadis cilik meronta ketakutan dan melejang-lejangkan kedua kakinya.
"Kalau kulepaskan kau mau lari ke mana, anak?!"
"Ibu ... ibu ... aku akan mengejar ibu!" jawab si anak.
"Ah ... akan mengejar ibumu dan melawan perampok-perampok jahat itu?!"
"Ya!"
Manusia bermuka hitam seram yang temyata adalah seorang nenek-nenek itu tertawa
mengekeh.
"Sekecil ini kau telah menunjukkan hati jantan! Bagus! Memang calon muridku harus bersifat
demikian! Dan sampai saat ini kau tidak menangis! Hebat!"
Si muka hitam lalu mendukung gadis cilik itu dan berkelebat meninggalkan tempat tersebut.
Tapi satu bayangan putih memapas larinya dan satu bentakan mengumandang keras!
"Perempuan muka hitam! Anak itu sudah ditakdirkan menjadi muridku!"
Sang nenek terkejut bukan main dan menghentikan larinya.
"Bangsat! Setan alas dari mana yang berani mengumbar mulut seenaknya terhadapku?!"

00--00

selanjutnya download link ini ya :Mawar Merah Menuntut Balas

Senin, 17 Agustus 2009

Pembalasan Nyoman Dwipa


--012--
BASTIAN TITO
Pendekar Kapak nagageni 212
WIROSABLENG



KETIKA dia memasuki Klung-kung, kota itu
masih diselimuti embun pagi. Kesunyian pagi
dipecah oleh derap kaki kuda yang
ditungganginya. Sesampainya di depan pura
besar yang terletak dipersimpangan jalan
seharusnya dia membelok ke kiri. Tapi karena
hari masih terlalu pagi diputuskannya untuk
menghangati perutnya dengan secangkir kopi
lebih dulu di kedai yang terletak tak berapa
jauh dari persimpangan itu.
Meskipun hari masih pagi di dalam
kedai sudah penuh oleh pengunjung. Laki-laki yang baru datang ini duduk di tempat yang masih lowong sementara pemilik
kedai melayaninya. Beberapa orang tamu memandang kepadanya lalu meneruskan menyantap kue-kue atau menghirup
minumannya. Beberapa diantara mereka meneruskan percakapan yang tadi terhenti karena kedatangan pengunjung baru ini.
"Semarak kota Klungkung kini semakin tambah dengan kedatangannya orang baru itu," berkata seorang laki-laki sambil
memandang pada cangkir kupinya. Umurnya kira-kira lima puluhan.
"Sudah seminggu ini tentang penduduk baru itu saja yang dipercakapkan orang, termasuk kau." menyahut kawannya.
"Kalau anak-anak muda yang mempercakapkannya itu bukan soal, tapi kau yang sudah tua begini, ampun . . . " Dicabutnya
rokok kaungnya dari sela bibir lalu dihembuskannya jauh-jauh.
Laki-laki yang pertama tertawa. Waktu tertawa ini kelihatan gigi-giginya yang cuma tinggal beberapa saja sedang kedua
pipinya mencekung kempot. "Kau salah sahabatku. Kecantikan seorang perempuan bukan hak orang muda-muda semata untuk
membicarakannya. Kita yang tua-tua inipun tak ada salahnya. Dan anak gadis I Krambangan itu benar-benar cantik luar biasa.
Belum pernah aku sampai setua ini melihat yang secantik dia."
"Apakah dia secantik bidadari?"
"Ah sobat!" kata laki-laki tua itu sambil mengelus dadanya, "kau belum bertemu dengan dia. Nantilah .... kalau kau lihat
anak gadisnya I Krambangan itu hem ... Kau akan menyesal karena terlalu cepat dilahirkan ke dunia ini hingga ketika dia
muncul di Klungkung ini kau sudah jadi seorang tua renta, kakek-kakek peot macam terong rebus!"
Beberapa orang tersenyum-senyum mendengar ucapan itu. Dan orang tua tadi meneruskan lagi kata-katanya sementara

tamu yang baru datang, sambil menikmati kopi hangatnya tidak menyia-nyiakan pula untuk memasang telinga.
"Kau tanya apakah dia secantik bidadari. Sobat ... meski aku belum pernah lihat bidadari, tapi aku yakin mungkin dia
lebih cantik dari bidadari di kayangan! Kau tahu, kulitnya kuning langsat, potongan tubuhnya besar diatas besar di bawah dan
langsing di tengah-tengah. Matanya . . . hem ... pernah kau lihat bintang timur? Sepasang mata anak gadis I Krambangan itu
lebih bagus dari bintang timur. Lehernya jenjang, pipinya selalu merah, apalagi kalau kena sinar matahari persis macam pauh di
layang. Sepasang alisnya tebal hitam seperti semut beriring, hidungnya mancung kecil macam dasun tunggal. Dagunya seperti
lebah bergantung ... pokoknya segala macam oerumpamaan yang diberikan orang cocok melekat pada darinya. Dan kalau dia
tersenyum sobatku, hem ... rasa di awan kita melihatnya ..."
"Sudahlah," memotong kawannya. "Habiskan saja kopimu. Kalau kau terus bicara tentang anak gadis I Krambangan itu
mungkin lewat tengah hari baru kita sampai ke tempat pekerjaan!"
Setelah kedua orang tua itu pergi, tamu tadi berpikir-pikir. Rupanya tentang kecantikan anak gadis I Krambangan itu
sudah tersebar luas sampai ke pelosok kota Klungkung. Jangankan orang-orang muda, orang-orang tua seperti yang dua tadipun
masih punya minat untuk membicarakannya. Dia memandang ke luar kedai. Matahari telah agak tinggi. Dihabiskannya
kopinya dan setelah membayar harga minuman serta kue yang dimakannya orang inipun keluar dari kedai itu, menunggangi
kudanya dengan tidak tergesa-gesa menuju ke selatan.
Di tepi jalan seorang laki-laki separuh baya tengah mengukir sebuah patung di depan rumahnya. Penunggang kuda ini
berhenti dan bertanya letak rumah yang tengah ditujunya. Setelah mendapat keterangan maka dia pun melanjutkan perjalanan.
Rumah itu kecil mungil. Keseluruhan papannya baru dicat. Baru saja dia berhenti dan turun dari kudanya, pintu muka
terbuka, seorang laki-laki berpakaian bersih keluar, ketika melihat orang yang turun dari kuda ini, orang itupun berseru
gembira, "Made Trisna!"
"I Krambangan!"
"Sahabat lama! Kedatanganmu laksana dibawa oleh Dewa-dewa di Swargaloka! Bagaimana kau bisa tahu aku tirggal di
sini?"
"Secara kebetulan saja. Aku bertemu dengan Ida Bagus Seloka di Denpasar. Dia yang menerangkan bahwa kau pindah dan
menetap di sini."
"Oh⁄.." I Krambangan manngut-marggut beberapa kali. "Mari silahkan masuk sahabat. Tadinya aku hendak ke ladang.
Tapi biar kubatalkan. Seharian ini kita akan bicara panjang lebar!"
Kedua sahabat lama itupun naik kegatas rumah Setelah bicara panjang lebar ke barat-ke timur maka Made Trisna
mengutarakan maksud kedatangannya yang sebenamya.
"Sahabatku I Krambangan, di samping hendak menyambangimu disini, sebenarnya maksud kedatanganku ini membawa
pula satu maksud yang sangat baik."

"Gembira sekali aku mendengarnya, Made Trisna," ujar I Krambangan, "katakanlah apa maksudmu yang sangat baik itu."
Setelah batuk-batuk beberapa kali baru Made Trisna membuka mulutnya, "Kau tentu masih ingat dengan Tjokorda Gde
Anyer."
"Oh, siapa yang akan lupa pada manusia pemberani itu!"
"Nah justru kedatanganku kemari ini ada sangkut paut dengan dirinya."
"Hem, begitu? Sangkut paut bagaimana, Made?"
"Dialah yang meminta aku ke sini untuk menyampaikan salam hormat."
"Ah, aku yang rendah ini mana berani menerima salamnya?" potong I Krambangan.
"Kau tahu sendiri sifat Tjokorda Gde Anyer. Baginya semua orang sama, tak ada tinggi dan rendah tak ada bangsawan dan
rakyat jelata. Nah sahabatku, dia menyuruh aku kemari untuk tolong menyampaikan salam hormat di mana dia berhajat untuk
meminang anakmu . . ."
"Maksudmu Ni Ayu Tantri?"
"Tentu! Kau kan tak punya anak lain dari pada si tunggal Tantri itu."
I Krambangan meneguk ludahnya. "Sungguh satu kehormatan luar biasa. Tjokorda Gde Anyer mempunyai hasrat baik
untuk melamar anakku. Setahuku dia juga cuma punya seorang anak ⁄"
"Betul namanya Tjokorda Gde Jantra. Parasnya gagah, usianya dua tahun lebih tua dari anak gadismu. Ringkas kata, kalau
anakmu dijodohkan dengan dia pasti cocok sekali laksana pinang dibelah dua. Satu bulan satu mentari."
Sejak sepuluh tahun yang lalu I Krambangan tak pernah bertemu dengan Tjokorda Gde Anyer. Sewaktu anak Tjokorda
Gde Anyer masih kecil dia memang pernah melihatnya dan menurut pendapatnya anak itu tidaklah gagah parasnya, mukanya
senantiasa pucat macam orang sakit, tubuh kurus dan kelakuannya nakal bengal luar biasa. Tapi itu dulu selagi masih kanakkanak.
Sekarang sesudah jadi pemuda mungkin sifatnya telah berubah dan parasnya menjadi gagah.
Karena I Krambangan lama tak bersuara maka berkatalah Made Trisna,
"Apa lagi yang kau pikirkan, sahabatku? Terima saja lamaran itu. Tjokorda Gde Jantra pemuda gagah anak bangsawan dan
kaya raya. Pasti hidup anakmu akan terjamin dan bahagia!"
"Memang betul kata-katamu itu Made," jawab I Krambangan. "Tapi justru mengingat perbedaan darah turunan antara
kami dan dialah maka rasanya agak malu juga aku menerima lamarannya itu. Aku rakyat jelata mana mungkin berbesan dengan
orang bangsawan, sekalipun sebelumnya sudah saling mengenal."
Made Trisna tertawa. "Sekarang bukan jamannya berpikir sekolot itu, I Krambangan. Apalagi kau ingat sifatnya Tjokorda
Gde Anyer yang tak mau membeda-bedakan di antara manusia."
Kembali I Krambangan berdiam diri beberapa lamanya.
Lalu: "Anakku Ni Ayu Tantri berparas buruk. Masakan anaknya Tjokorda Gde Anyer bersedia mengambilnya jadi kawan

hidup ...?"
"Kau keliwat merendah, sahabat," kata Made Trisna pula seraya menggulung sebatang rokok kaung. "Kecantikan paras
anak gadismu laksana bunga harum semerbak yang dihembuskan angin ke pelbagai penjuru. Pagi tadi sebeLum ke sini aku
mampir di sebuah kedai. Dan kau tahu? Pagi-pagi buta begitu tamu-tamu di situ sudah bicara tentang kecantikan paras anakmu.
Bayangkan!"
I Krambangan mengusap-usap dagunya, memandang ke arah jalan di mana meluncur sebuah pedati menarik tumpukan
kayu-kayu bakar. Suara klenengan sapi-sapi penarik pedati itu terdengar sepanjang jalan.
"Walau bagaimanapun gunjingan orang di luaran tentang diri anakku, tapi Tjokorda Gde Jantra sendiri belum pernah
bertemu muka dengan anakku. Jangan-jangan begitu lamaran kuterima, setelah bertemu tahu-tahu pemuda itu kecewa dan
menyesal ⁄"
"Kalau dia tak pernah melihat paras anakmu dengan mata kepala sendiri, masakan dia dan ayahnya sampai memaksaku
agar datang kemari!" kata Made Trisna pula.
Kembali I Krambangan menelan ludahnya. Akhirnya berkata laki-laki ini. "Beri aku waktu barang seminggu dua minggu
untuk merundingkan hal ini bersama istriku. Aku sendiri pada dasarnya setuju, cuma bagaimanapun aku musti minta pula
pertimbangan istriku. Di samping itu yang terpenting Tantri pun harus diberi tahu."
Made Tisna manggut-manggut.
"Aku yakin istrimu serta Ni Ayu Tantri menyetujui pinangan yang kusampaikan ini. Dua minggu terlalu lama sobat, biar
aku datang minggu depan kemari untuk meminta jawabanmu. Akur..."
"Baiklah Made. Karena istriku sudah menyiapkan hidangan pagi di dalam, marilah kita masuk." Kedua orang itu berdiri
lalu masuk ke ruang tengah.

2
SEPERTI yang dikatakan Made Trisna, satu minggu kemudian dia kembali ke Klungkung menemui I Krambangan untuk
meminta kabar atau jawaban mengenai pinangan yang disampaikannya tempo hari. Dia yakin betul I Krambangan akan
menerima pinangan Tjokorda Gde Anyer. Begitu sampai di rumah sahabatnya itu langsung Made Krisna menanyakan
persoalan.
"Minumlah dulu, Made." kata I Krambangan mempersilahkan sahabatnya. Bila Made Trisna sudah meneguk minuman
yang disuguhkan maka I Krambangan baru membuka persoalan.
"Seperti yang kukatakan tempo hari, pada dasarnya aku bisa menerima lamaran Tjokorda GdeAnyer. Bukan saja
menerimanya tapi malah menganggapnya itu satu penghormatan yang luar biasa mengingat dia bangsawan kaya raya mau
mengulurkan tangan pada keluargaku bangsa rakyat jelata. Ketika kubicarakan pada istrikupun, dia terkejut dan hampir tak
percaya. Dan seperti aku, diapun menyetujui lamaran itu. Namun setelah kuterangkan pada Tantri, kita terbentur pada satu
persoalan, Made. Hal ini memang sudah kuduga dari semula, yaitu sejak kau mengemukakan lamaran satu minggu yang lalu
itu."
"Persoalan apakah yang menjadi halangan itu, I Krambangan?" tanya Made Trisna pula.
"Dua tahun sebelum kami pindah kesini, sebenarnya Tantri telah mempunyai pilihan hati sendiri. Kau tentu mengerti
maksud ucapanku ...."
"Maksudmu Tantri telah mempunyai kekasih?"
I Krambangan mengangguk. "Mereka saling mencinta dan sudah punya rencana untuk menikah sesudah Hari Raya
Galungan beberapa bulan dimuka. Meski aku orang tuanya, tapi kau tentu dapat memaklumi Made, bagaimana aku tak bisa
memaksa Tantri untuk memutuskan hubungannya dengan itu pemuda yang dicintainya. Terlalu besar dosanya memutuskan tali
kasih seseorang. Aku kawatir tak akan dirakhmati Dewa-dewa lagi jika aku berani memutuskan hubungan kasih anakku."
Lama Made Trisna termenung. Kemudian berkatalah laki-laki ini, "Kau terlalu banyak kawatir, sahabatku. Masakan Dewadewa
di kayangan tidak akan merakhmatimu. Bukankah dengan menikahkan Tantri dengan Tjokorda Gde Jantra berarti kita
membuat satu kebajikan dan pahala besar?"
"Itu betul Made. Tapi bagaimana dayaku untuk memutus hubungan Tantri dengan pemuda yang dikasihinya? Aku sebagai
orang tua benar-benar tidak tega . . . "
"Apakah kau sudah terangkan padanya bahwa yang melamar adalah Tjokorda Gde Anyer? Apakah kau terangkan pula
orang yang bagaimana adanya bangsawan kaya raya itu?"
"Sudah." jawab I Krambangan, "semuanya sudah. Bahkan kubujuk pula anak itu untuk mau menerima lamaran tersebut.

Tapi sia-sia belaka, Made."
Untuk kedua kalinya Made Trisna termenung.
Setelah saling berdiam diri beberapa lamanya kemudian bertanyalah Made Trisna, "Apakah kau tak melihat cara atau jalan
lain agar Tantri menyetujui perjodohannya dengan Tjokorda Gde Jantra?"
"Sudah kutempuh berbagai cara Made. Agaknya memang sukar melembutkan hati yang sudah diberikan pada seorang lain
yang dikasihi. Kita harus maklum itu karena kitapun pernah muda ..."'
"Sebagai orang tua, apakah kau tidak merasa itu merupakan satu keingkaran? Menyatakan bagaimana anakmu tidak
berbakti padamu ...?"
I Krambangan menggigit bibirnya. Pertanyaan itu merupakan satu pukulan baginya. Tapi dia tersenyum sewaktu
menjawab, "Meski aku orang tuanya. Made, tapi aku juga bisa melihat sampai batas-batas mana seorang tua bisa mencampuri
urusan pribadi anaknya. Penolakan yang dikemukakan Tantri bukan kuanggap sebagai satu keingkaran atau satu kenyataan
bahwa dia tidak berbakti terhadapku. Kurasa siapa saja mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya mengenai. urusan
pribadinya. Apalagi urusan yang menyangkut masa depan. Kukatakan aku dan istriku menyetujui lamaran Tjokorda Gde Anyer.
Tapi kita musti sadar pula bahwa bukan aku atau istriku atau kau atau juga Tjokorda Gde Anyer yang akan dijodohkan dan
akan menempuh hidup baru berumah tangga itu, tapi Tantri."
"Betul, betul sekali." sahut Made Trisna cepat-cepat karena kata-kata I Krambangan itu menggejolakkan hatinya. "Betul
sekali apa yang kau katakan itu, sahabat. Tapi kita musti pula menyadari, dunia ini masih belum terbalik. Kita orang-orang tua
mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara anak kita dan kalau sudah besar membuat dia berbakti pada kita, mengikuti
apa mau kita karena niscaya orang tua itu tak ada yang berniat mencelakakan anaknya. Dunia masih belum terbalik sahabatku.
Masakan kita orang-orang tua musti mengikuti maunya anak kita, justru anaklah yang harus patuh dan mengikuti kemauan
orang tuanya!"
"Menyesal sekali, rupanya jalan pikiran kita sedikit berbeda Made," kata I Krambangan. "Bagaimana pun aku tak merasa
dunia ini telah terbalik hanya karena aku memberikan hak untuk menentukan kehidupan masa depan pada anakku. Dan aku
juga menyadari bahwa memang bukan adat atau pun kebiasaan kita untuk berlaku seperti itu. Tapi harus disadari Made, dunia
kita di masa lalu tidak sama dengan dunia orang-orang sekarang. Dunia orang-orang sekarang tak sama pula dengan dunia
orang-orang di masa nanti. Segala sesuatunya harus tunduk pada keadaan dan kehendaknya jaman . . . "
"Dimana orang tua-tua tidak mempunyai daya apa-apa lagi terhadap anaknya? Dimana anak-anak sanggup mengatur
orang tuanya dan bukan orang tuanya yang mengatur diri mereka? Sungguh lucu jaIan pikiranmu. Jika memang itu
pendirianmu, memang sungguh berbeda jalan pikiran kita sahabat. Dan adalah sangat disayangkan kalau kau sampai mau
menolak lamaran Tjokorda Gde Anyer. Kau tahu, I Krambangan. Jika perjodohan ini jadi, kau sekeluarga akan dibuatkan

sebuah rumah gedung dan disuruh pindah ke Denpasar. Tentang kehidupan masa tuamu tak perlu memikirkan, kau hanya
ongkang-ongkang kaki saja karena semua keperluan dijamin oleh Tjokorda Gde Anyer. Tentang anakmu ... dia akan hidup
bahagia bersama Tjokorda Gde Djantra!"
"Memang sudah kubayangkan betapa kebahagiaan akan menyelimuti bila Tantri nikah dengan anak Tjokorda Gde Anyer.
Tapi aku tak punya daya untuk memaksa Tantri."
Made Trisna menjadi putus asa dan penasaran sekali pada sahabatnya itu. "Kalau aku boleh bertanya," katanya, "siapa
gerangan pemuda yang dikasihi oleh anakmu itu? Apakah dia tampan gagah, anak orang bangsawan tinggi, punya sawah ladang
berhektar-hektar, punya ternak berkandang-kandang dan punya harta bergudang-gudang, hingga mata dan hati anakmu tak
dapat dialihkan kepada yang lain lagi?"
"Pemuda itu bernama Nyoman Dwipa. Dia tinggal di desa Jangersari dan agaknya bagi Tantri, sawah ladang atau ternak
atau harta kekayaan itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan nilai kasih sayang yang dipadunya dengan Nyoman Dwipa."
Rasa putus asa dan penasaran yang menggelorai hati Made Trisna lama-lama berubah menjadi kejengkelan dan rasa muak
yang akhirnya berubah pula menjadi rasa benci terhadap sahabat lamanya itu. Dianggapnya I Krambangan keterlaluan tolol!
"Baiklah I Krambangan," kata Made Trisna seraya berdiri, "kalau begitu putusanmu memang tak bisa aku memaksa. Tapi
terus terang kukatakan bahwa sebagai manusia hidup kau terlalu bodoh untuk tidak mau menerima lamaran Tjokorda Gde
Anyer."
"Terserahlah kau mau bilang apa, sahabatku," jawab I Krambangan dengan pelahan. "Mungkin aku memang orang tolol.
Tapi aku yakin dalam ketololan itu aku berpijak pada kebenaran dan hak pribadi yang tak bisa diganggu gugat!"
Made Trisna memacu kudanya dengan kencang. Hatinya mencaci maki habis-habisan I Krambangan!
***
Denpasar sebuah kota besar dan bagus di pulau Bali. Beberapa buah pura besar yang sangat indah bangunannya terdapat
di sana. Di tengah-tengah kota terdapat sebuah gedung besar yang atapnya berbentuk candi. Tak ada satu orangpun di Denpasar
yang tidak tahu siapa pemilik gedung bagus dan besar itu. Bahkan penduduk yang tinggal di pinggiran kotapun tahu bahwa itu
adalah gedung kediaman bangsawan kaya raya Tjokorda Gde Anyer.
Waktu itu hari telah rembang petang ketika Made Trisna dan kudanya sampai di pintu gerbang gedung, langsung masuk
ke halaman dalam, dan menemui Tjokorda Gde Anyer. Sebelum dia membuka pembicaraan, Tjokorda Gde Djantra sudah
muncul pula hingga dapatlah ia memberi keterangan sekaligus pada kedua beranak itu.
Betapa terkejutnya bangsawan dan anak tunggalnya itu tatkala mendengar penuturan Made Trisna, tatkala mengetahui
bahwa lamaran mereka ditolak oleh I Krambangan. Tak perduli alasan apapun yang dikemukakan I Krambangan, yang nyata
ini adalah merupakan satu penghinaan besar!

"I Krambangan manusia tak tahu diri! Tak tahu diuntung!" maki Tjokorda Gde Anyer. Lalu dia berpaling pada anaknya
dan berkata, "Sudah, kau cari saja gadis lain! Di Denpasar ini, di pulau Bali ini ada ratusan gadis-gadis yang jauh lebih cantik
dari anaknya si Krambangan itu, yang turunan bangsawan terpandang, kaya raya!"
Tjokorda Gde Djantra termanggu beberapa lamanya. Mukanya yang senantiasa pucat macam orang mau mati besok, saat
itu kelihatan makin tambah pucat! Seperti ayahnya, pemuda inipun merasa terhina. Tapi hatinya benar-benar sudah terpaku
pada gadis itu hingga tak mungkin baginya untuk mencari lain gadis seperti yang dikatakan ayahnya.
"Kita sudah diberi malu Djantra!" berkata Tjokorda Gde Anyer. "Kuharap kau jangan memberi malu yang kedua kalinya.
"Tapi ayah aku tak sanggup hidup bersama gadis lain."
"Kenapa tidak sanggup? Sepuluh gadis yang lebih cantik dari si Tantri itu bisa kau ambil jadi istri sekaligus!"
Tjokorda Gde Djantra berdiri dari kursinya.
"Walau bagaimanapun aku musti dapatkan gadis itu, ayah. Tidak dengan cara baik-baik dengan jalan burukpun bisa. Rasa
malu yang kita terima akan kubalas malam ini juga!" Tjokorda Gde Djantra lantas berlalu dari situ.
Tjokorda Gde Anyer dan Made Trisna saling berpandangan. Kedua orang ini sudah bisa menduga apa yang bakal
dilakukan oleh Tjokorda Gde Djantra. Dan berkatalah Made Trisna, "Kalau betul itu hendak dilakukan oleh Tjokorda Gde
Djantra, kurasa tak ada salahnya. Itu sudah menjadi adat kebiasaan kita di sini."

3
HARI itu sejak petang lingkungan langit di ataskota Klungkung diselimuti kemendungan. Gumpalan awan hitam datang
bergulung-gulung tiada hentinya dari arah barat. Menjelang senja angin keras mulai bertiup, menerbangkan debu di segala
pelosok, membuat kota tenggelam dalam udara pengap. Tepat sewaktu sang surya lenyap di ufuk barat maka hujan deraspun
turunlah. Suaranya menggemuruh ditimpal oleh deru angin. Setiap telinga yang mendengarnya merasa ngeri. Sekali-sekali
menggelegar guntur, berkelebat kilat. Dalam tempo yang singkat parit dan selokan di seluruh kota telah luber oleh air hujan,
sungai-sungai kecil banjir menerpa segala apa saja yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang hujan itu mereda sebentar lalu turun
lagi dengan lebih lebat. Dinginnya udara seperti merembas dan mencucuk sampal ke tulang-tulang sungsum!
Dalam lebatnya curahan hujan, dalam kerasnya deru angin dan dalam gelapnya suasana malam yang sangat dingin itu,
dari jurusan timur laksana bayangan setan, kelihatanlah empat penunggang kuda memasuki Klungkung. Sesampainya di
persimpangan jalan di depan pura, keempatnya membelok ke kiri tanpa mengurangi kecepatan kuda masing-masing. Air hujan
dan lumpur bercipratan di belakang kaki-kaki ke empat binatang itu.
Hampir mencapai ujung jalan, salah seorang penunggang kuda menunjuk ke depan dan berkata, "Yang itu rumahnya!
Pergilah, aku menunggu di sini."
Tiga penunggang kuda lainnya segera mengeluarkan sapu tangan-sapu tangan besar yang berwarna hitam dan menutupi
paras mereka dengan sapu tangan itu sebatas mata ke bawah kemudian ketiganya segera bergerak ke rumah kecil yang ditunjuk
tadi.
Seperti keadaan rumah-rumah di sekitarnya, rumah yang mereka tuju inipun sunyi senyap, tak satu lampupun yang
menyala tanda seluruh penghuninya telah tidur nyenyak dalam kehangatan selimut masing-masing.
Ketiga orang itu turun dari kuda. Setelah meneliti keadaan sekeliling mereka langsung ketiganya menuju ke pintu depan.
Dengan mempergunakan sebuah alat, pintu yang terkunci berhasil dibuka. Hampir tanpa suara sedikitpun ketiga orang itu
masuk ke dalam rumah. Mata mereka terpentang lebar-lebar dalam kegelapan. Selangkah demi selangkah ketiganya bergerak.
"Kurasa yang ini kamarnya," berbisik salah seorang dari yang tiga lalu mendahului kawan-kawannya maju ke pintu dan
mengintai. Di dalam kamar gelapnya bukan main, tapi matanya yang tajam sanggup juga melihat sesosok tubuh yang terbaring
bergelung diatas tempat tidur.
"Biar aku yang masuk," berkata laki-laki bertubuh kurus. Didorongnya daun pintu. Pintu itu mengeluarkan suara
berkereketan tapi suara ini tertelan oleh suara hembusan angin deras dan hujan lebat. Dengan dua jari tangan terpentang lurus
siap untuk menotok, laki-laki berbadan kurus ini melangkah mendekati tempat tidur.
Tiba-tiba orang yang tidur di atas pembaringan menbalikkan badannya, selimut yang menutupi sebagian wajahnya

terbuka dan ketika dia bangun dengan cepat orang ini segera membentak, "Siapa kau?!"
"Keparat! Bukan dia!" rutuk laki-laki yang mukanya tertutup kain hitam sementara dua orang kawannya yang berdiri di
ambang pintu berjaga-jaga juga terkejut sekali. Tadinya mereka menyangka orang yang tidur di atas pembaringan itu adalah Ni
Ayu Tantri, gadis yang hendak mereka culik. Tapi suara bentakan itu nyata sekali suara laki-laki! Tak dapat tidak yang tidur di
situ adalah ayah dari gadis itu!
"Maling rendah! Kau berani masuk ke dalam rumahku!" terdengar lagi bentakan. Itu adalah suara bentakannya I
Krambangan yang menyangka manusia yang masuk ke dalam kamar itu adalah maling! Segera laki-laki itu melompat
menyambar sebilah parang yang tersisip di dinding. Namun sebelum tangannya mencapai senjata itu satu pukulan menyambar
dari samping!
I Krambangan dulunya adalah seorang bekas kepala prajurit kerajaan, dengan sendirinya memiliki ilmu silat yang cukup
bisa diandalkan, apalagi kalau cuma menghadapi seorang maling! Mendapat serangan itu dengan cepat dia melompat ke
samping, berkelit dan menyusupkan satu tendangan ke dada lawan!
Tapi yang dihadapi I Krambangan bukan "maling biasa". "Maling" itupun ternyata memiliki ilmu silat yang lihay. Dengan
mudahnya dia mengelakkan serangan I Krambangan lalu berkelebat cepat dan "buk". Tahu-tahu jotosannya melanda dada I
Krambangan.
Orang tua itu mengeluh tinggi. Tubuhnya terhempas ke dinding. Nafasnya sesak dan dadanya sakit bukan main. Tapi
karena dia tersandar ke dinding dengan sendirinya dia mempunyai kesempatan baik untuk menyambar parang. Cuma dia
masih kurang cepat. Sebelum tangannya berhasil menyentuh benda itu dari kiri kanan dua pasang tangan yang kuat-kuat telah
mencekal kedua lengannya. Dia coba berontak tapi tak berhasil. Sesaat kemudian satu pukulan yang amat keras mendarat di
keningnya. I Krambangan coba mempertahankan diri berusaha agar tidak jatuh pingsan. Tapi pukulan itu terlalu keras.
Lututnya tertekuk dan sewaktu dua orang yang mencekalnya melepaskannya, laki-laki ini terhempas ke lantai tanpa sadarkan
diri!
Di kamar sebelah, mendengar suara ribut-ribut itu, dua orang terbangun dari tidur masing-masing. Mereka adalah Ni Ayu
Tantri dan ibunya. Biasanya Tantri tidur sendirian di kamar depan tapi karena malam itu ibunya diserang demam panas, si
gadis sengaja tidur bersama sekalian untuk menjaga perempuan itu.
"Ada apa, nak ...?" bisik Ni Warda, ibunya Tantri.
"Seperti suara orang berkelahi, bu." jawab Tantri "Kudengar keluhan ayah ... Biar aku lihat keluar."
Ni Warda menarik pakaian anaknya dan berkata gemetar: "Jangan, Tantri. Pasti itu orang-orang jahat. Kalau kau keluar...."
"Tapi ayah bu," ujar Ni Ayu Tantri dengan hati cemas. Dan baru saja gadis ini berkata demikian pintu kamar itu
terpentang lebar oleh satu tendangan keras! Ni Warda dan Ni Ayu Trisna menjerit sewaktu melihat tiga orang laki-laki
bertutupkan kain hitam paras masing-masing, menyerbu ke dalam kamar itu!

***
Baru saja matahari pagi tersembul di ufuk timur, seluruh Klungkung sudah heboh oleh berita yang disampaikan dari
mulut ke mulut yaitu bahwa Ni Ayu Tantri, gadis cantik yang belum lama ini pindah bersama ayah dan ibunya telah lenyap
diculik orang malam tadi! I Krambangan dan beberapa orang penduduk semalam-malaman itu telah berusaha mencari jejak si
penculik, namun sia-sia belaka. Rata-rata penduduk menduga bahwa yang menculik Ni Ayu Tantri itu adalah gerombolan
rampok yang bersarang di Bukit Jaratan karena rampok-rampok itu memang selalu mengenakan kain hitam penutup muka bila
menjalankan kejahatannya.
Tapi I Krambangan sendiri mempunyai dugaan lain. Bersama dua orang tetangga, dengan menunggangi kuda pagi itu dia
berangkat menuju Denpasar. Tak sukar baginya mencari gedung kediaman Tjokorda Gde Anyer.
Akan Tjokorda Gde Anyer ketika melihat kedatangan I Krambangan berubahlah parasnya. Tapi seseat kemudian
bangsawan ini tertawa lebar dan berkata: "Sungguh tak disangka-sangka kedatanganmu ini, I Krambangan. Mari silahkan
masuk."
"Cukup kita bicara disini saja, Tjokorda Gde Anyer. . ."
"Eh, kenapa begitu? Tak pantas sekali seorang yang bakal jadi besanku hanya berdiri ..."
"Jangan bicara segala macam soal besan, Tjokorda Gde Anyer!" potong I Krambangan pula dengan suara keras. "Panggil
anakmu! Aku ingin bicara dengan dia!"
Tjokorda Gde Anyer memandang tajam-tajam pada tamunya. "Sobat lama, agaknya satu kemarahan menyelimuti dirimu.
Bicaralah dengan tenang tak perlu kesusu. Katakan maksud kedatanganmu, dan maksudmu hendak bertemu serta bicara dengan
anakku. Dalam pada itu kuharap kau suka masuk agar kita bisa bicara baik-baik."
Seseorang keluar dari dalam gedung. Parasnya kusut mungkin kurang tidur. Orang ini bukan lain Made Trisna. Dia tak
dapat menyembunyikan rasa terkejutnya sewaktu melihat I Krambangan. Namun seperti Tjokorda Gde Anyer tadi, diapun
lantas tertawa dan menegur laki-laki itu. I Krambangan tidak perdulikan orang ini melainkan memandang menyorot pada
Tjokorda Gde Anyer.
"Agaknya ada sesuatu yang tidak beres, I Krambangan?!" tanya tuan rumah.
"Ya, memang ada sesuatu yang tidak beres! Dan berat dugaanku anakmulah yang menjadi biang ketidak beresan ini!"
"I Krambangan, tuduhanmu agaknya sangat tidak beralasan! Katakan apa yang telah terjadi sampai kau bicara begini rupa!"
"Kurasa kau dan juga Made Trisna sudah tahu apa yang terjadil Aku bisa mengetahui pada pertama kali aku melihat air
muka kalian! Tapi tak apa saat ini kalian berkura-kura dalam perahu! Suatu ketika aku akan tahu kedustaan kalian! Dengar, sesudah pinanganmu kutolak secara baik-baik kemarin, malam tadi tiga orang telah memasuki rumahku dan menculik Ni Ayu
Trisna!"
"Oh! Lalu saat ini hendak kau tuduhkan bahwa anakkulah yang telah menculik anak gadismu? Sungguh tuduhan yang
sangat rendah dan tanpa bukti sama sekali!"
"Memang tuduhanku tidak ada bukti. Tapi aku yakin bahwa anakmulah yang melakukannya! Sekarang katakan dimana
anakmu itu?"
"Dia tak ada di sini, I Krambangan."
"Itu satu bukti bahwa memang anakmu ada sangkut paut dengan diculiknya Ni Ayu Trisna!"
"Jangan menuduh sembarangan!" tukas Tjokorda Gde Anyer dengan marah. "Sekalipun lamaranku ditolak apa perlunya
anakku menculik anakmu? Sepuluh gadis-gadis yang lebih cantik dari anakmu bisa didapat oleh Tjokorda Gde Djantra!"
I Krambangan menyeringai. "Katakan saja di mana anakmu berada!"
"Sejak siang kemarin dia meninggalkan rumah! Kemana perginya aku tidak tahu. Kalau kau tidak percaya silahkan tanya
pada Made Trisna."
"Dengar Tjokorda Gde Anyer!" kata I Krambangan dengan memandang tajam-tajam. "Jika aku mendapat bukti-bukti dan
kenyataan bahwa anakmulah yang telah menculik anakku dan terjadi apa-apa dengan diri Ni Ayu Tantri, aku akan bunuh dia!
Siapa saja yang berani menghalangi perbuatanku akan kusingkirkan dari muka bumi ini! Termasuk kau dan Made Trisna!"
Habis berkata begitu I Krambangan dan dua orang kawannya memutar tubuh dan segera meninggalkan gedung itu.



Selanjutnya Download di :PembalasanNyomanDwipa

Raja Rencong dari Utara

--011--
BASTIAN TITO
Pendekar Kapak nagageni 212
WIRO SABLENG

SATU

DISAMPING BUKIT KARANG YANG curam itu
terletak sebuah bangunan batu yang dikelilingi tembok
setinggi sepuluh tombak. Diluar tembok berderet-deret
barisan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai
ditiup angin laut. Bangunan yang terletak didekat pantai ini
terdiri dari sebuah rumah besar yang pada kedua
ujungnya terdapat sebuah bangunan bertingkat berbentuk
menara. Bangunan ini adalah sebuah pesantren yang
dipimpin oleh seorang Kyai bernama Suhudilah. Karena
itulah pesantren ini dinamakan Pesantren Suhudilah.
Disamping ilmu agama Kyai Suhudilah juga
mengajarkan ilmu silat dan ilmu kesaktian kepada
murid2nya. Karena Kyai Suhudilah lama sekali bermukim
di Turki, maka jurus2 ilmu silatnya banyak
dipengaruhi oleh jurus2 silat Turki. Dengan sendirinya
ilmu silat tersebut disamping aneh juga hebat
sekali. Pada masa itu nama Pesantren Suhudilah telah
terkenal didelapan penjuru angin Pulau Andalas
bahkan juga sampai2 ketanah Jawa.
Saat itu telah rembang petang. Satu dua jam
dimuka sang surya segera akan tenggelam, kembali
masuk keperaduannya dan baru akan muncul lagi
esok pagi. Dibawah menara timur kelihatan dua orang
berjubah. Keduanya sama2 tua dan sama2 berjanggut
putih. Mereka sedang asyik bermain dam. Yang seorang
menyodorkan buah damnya kedepan membuat satu
perangkap yang tak bisa dihindarkan oleh lawannya.
“Celaka!" kata Iaki2 tua yang kena dijebak sambil
menepuk keningnya. Buah dam yang disodorkan
lawannya mau tak mau harus dimakannya dan akibatnya
dia akan kehilangan empat biji dam sekaligus!
Lawannya tertawa mengekeh sambil mengelus-elus
janggutnya yang putih.
"Mana bisa kau mau mengalahkan aku lagi",
katanya, "tadi kuberi kau menang hanya untuk memberi
semangat saja. Ayo makanlah
"Tak ada jalan lain" kata sijanggut putih yang terjebak.
Diulurkannya tangan kanannya. Jari telunjuk dan ibu jari
hendak memindahkan buah dam. Tapi aneh! Buah dam
yang kecil dan terbuat dari kayu itu tak bergerak
sedikitpun! Dicobanya sekali lagi mengangkat buah itu,
tapi tak sanggup! Buah dam itu laksana sebuah benda
yang sangat berat!
"Heh, kenapa? Ayo jalan!"
"Buah dam ini ... . tak bisa bergerak! Tak bisa
.kuangkat"
Kawan Iaki2 itu menyangka dia ber-olok2. Dan
mengulurkan tangan kanan menyentuh buah dam!
Terkejutlah dia.! Memang betul! buah dam itu tak
sanggup digeser, apalagi diangkat. Diam? dia kerahkan

setengah bagian tenaga dalam dan mencoba lagi
mengangkat buah dam! Tetap seperti sedia kala ketika
dicobanya mengangkat buah2 dam yang lain, benda2
itupun ternyata tak bisa terangkat! Laki2 ini memandang
berkeliling.
"Aneh desisnya. Dan dikerahkannya kini
seluruh tenaga dalamnya. Tangannya tergetar hebat.
Keringat dingin memercik dikeningnya dan dadanya
terasa sakit!
"Agaknya ada seseorang berilmu tinggi tengah
mempermainkan kita "
"Tapi siapa ?".
Keduanya memandang berkeliling. Suasana
sunyi sepi, jangankan manusia, seekor lalatpun tak
engkaukelihatan! Laki2 itu kerahkan lagi tenaga
dalamnya.
Tiba2 papan dam mencelat menta! ke udara! Buah2
nya berhamburan! Kedua laki2 tua berjanggut putih
tersentak kaget dan berdiri cepat sewaktu kesunyian
dirobek oleh gelak tertawa yang hebat, menggetarkan
liang telinga dan memukul-mukul dada serta menyendatkan
jaian darah ditubuh mereka!
Sesaat kemudian entah dari mana datangnya
tahu2 sesosok tubuh sudah berdiri dua tombak dihadapan
mereka. Orang yang datang ini berpakaian
ungu berdestar tinggi dan juga berwarna ungu! Pada
bagian muka destar ini terdapat lukisan dua buah
rencong kuning yang saling bersilangan! Manusia ini
bertampang ganas. Dibavvah hidungnya melintang
kumis tebal. Bajunya tidak terkancing, mungkin disengaja
demikian untuk memperlihatkan dadanya
yang bidang dan berbulu! Pada kedua tangan dan
kakinya terdapat gelang akar bahar. Dan dari mulutnya
masih terdengar suara tertawanya yang hebat!
Meskipun rasa geram menyelimuti hati kedua
orang tua itu namun mereka tak mau bertindak gegabah.
Suara tertawa yang begitu hebat cukup menjadi
peringatan bagi keduanya bahwa manusia berbaju
ungu berdestar tinggi itu memiliki ilmu kesaktian
yang tinggi.
Salah seorang dari penghuni Pesantren Suhudilah
ini menjura hormat dan melayangkan senyum. Lalu
menegur:
"Tamu dari manakah yang datang ini, tanpa
memberi tahu lebih dulu sehingga kami tidak menyambut
sepatutnya?"
Orang yang ditegur tak segera menjawab, melainkan
tertawa dengan lebih hebat hingga tanah yang
dipinjak oleh kedua orang tua berjanggut putih terasa
bergetar! Dan mereka mulai merasa tidak enak.
Perbuatan sang tamu yang tadi secara diam-diam telah mengerahkan
tenaga dalam menahan buah2 dan yang
tengah mereka mainkan sesungguhnya sudah sangat
menyakitkan hati, apalagi setelah ditegur hormat
begitu rupa sang tamu masih bersikap seenaknya dan
penuh kecongkakan!
"Saudara, harap beritahukan siapa kau! Juga
maksud kedatanganmu kemari ....!"
Sang tamu bertolak pinggang.
"Apakah ini Pesantren Suhudilah?" tanyanya
dengan suara berat dan serak.
"Betul
"Kalau begitu lekas panggil Pemimpinmu dan
bawa kehadapanku!" memerintahkan sang tamu.
“Ah, lebih dulu harap terangkan nama dan maksud
kedatanganmu, baru kami bisa menjalani sebagai-mana
mestinya".
Sang tamu pelototkan mata.
"Benar2 Kalian berdua masih belum tahu berhadapan
dengan siapa?!"
"Ya..ya kami belum tahu siapa sebenarnya
saudara?".
Laki2 berpakaian ungu menyeringai.
"Aku adalah manusia yang bakal menguasai
seluruh pulau besar ini, dari utara keselatan, dari
barat sampai ke timur! Apa kalian masih belum men
dengar gelar Raja Rencong dari Utara?!"
"Ah" kedua orang tua berpakaian putih sama2
menjura mesti hati mereka terkejut dan ter getar hebat
sewaktu sang tamu kenalkan gelarnya
"Nama itu sudah seringkali kami dengar. Tapi karena
kami orang pesantrenan jarang mengurus soal2 diluaran
harap dimaafkan kalau tadi kami tidak tahuengkautengah
berhadapan dengan siapa.
Sementara itu yang seorang diam2 memberi
peringatan dengan ilmu menyusupkan suara: "Hati2 dan
waspadalah. Manusia ini adalah bangsa iblis terkutuk
yang kekejamannya tiada tara!"
"Raja Rencong Dari Utara, sekarang harap terangkan
maksud kedatanganmu kemari "
"Kalian tidak layak bertanya!" sentak Raja
Rencong Dari Utara. "Lekas panggil pemimpin kalian!"
"Menyesal sekali! Sebelum kami tahu angin apa
gerangan yang membawa Raja Rencong kemari,
tak bisa kami memenuhi permintaanmu. Lagi pula
pemimpin kami sedang keluar ".
"Kurang ajar! Kau berani dusta?!"
"Kami orang agama mana berani berdusta? Kyai
Suhudilah pergi sejak pagi tadi
"Aku tidak percaya! Aku akan geledah seluruh
pesantren ini!". Raja Rencong melangkahkan kaki
menuju kepintu dikaki menara tapi kedua orang tua
berpakaian putih menghalangi.
"Harap kau menghormati aturan kami. Tak se

orangpun boleh masuk tanpa mendapat izin . . . !"
"Kurang ajar! Terhadap Raja Rencong Dari
Utara tak berlaku segala macam aturan! Masakan
untuk masuk kebangunan sarang tikus ini saja perlu
minta izin? Persetan!"
Tapi kedua orang tua itu kembali menghalangi
langkah Raja Rencong. Maka marahlah Raja Rencong
dan dorongkan tangan kanannya! Gerakannya acuh
tak acuh dan kelihatannya Iemah2 saja! Tapi tahu2
suatu angin pukulan yang dahsyat sudah menghantam
,kedua orang dihadapannya!
Karena tak menyangka akan diserang mendadak
begitu rupa kedua orang tua berjubah putih itu tak
sanggup menangkis atau berkelit. Tak ampun lagi
tubuh mereka dilanda angin pukulan Raja Rencong
Dari Utara. Keduanya mencelat mental sampai beberapa
tombak. Yang satu begitu terhampar ditanah tak
berkutik lagi. Yang seorang lainnya masih mencoba
bangun terhuyung-huyung. Tubuhnya terbungkuk
ke depan, dadanya sakit dan sewaktu dirasakannya
seperti mau batuk, yang keluar dari mulutnya ternyata
adalah muntahan darah kental berbuku buku!
Laki ini kesaktiannya cum? dua tingkat di bawah
Kyai Suhudilah tapi Raja Rencong merubuhkannya
dalam satu kali pukulan saja! Namun sebelum meregang
nyawa dia masih sempat berteriak memberi tanda
bahaya!
Sesaat kemudian dua puluh orang anak murid
Pesantren Suhudilah sudah berada ditempat itu.
Rata2 mereka memiliki kepandaian silat yang tak bisa
dianggap enteng, bahkan tiga diantaranya adalah
kakek2 tua renta yang tingkat kepandaiannya sama
dengan Iaki2 yang berteriak tadi sebelum sampai ajalnya.
Ketiganya disamping berguru pada Suhudilah
juga merupakan tenaga pengajar murid2 yang masih
muda.
Melihat dua orang kawan mereka menggeletak
dikaki menara tanpa nyawa, semuanya terkejut dan
dengan segera mengurung Raja Rencong Dari Utara.
Salah seorang dari mereka maju menegur:
"Tamu tak dikenal, alasan apakah yang membuat
kau menjatuhkan korban ditempat suci ini?"
Raja Rencong memandang berkeliling dengan
pandangan merendahkan semua orang itu.
"Mana pemimpinmu?!" tanya Raja Rencong.
engkau"Jawab dulu pertanyaanku, saudara tamu . . .".
"Heh apakah kau dan kawan2mu hendak menyusul
yang dua orang itu?!" belalak Raja Rencong.
Dengan tenang orang tua tadi menjawab: "Musuh tidak
dicari, kalaupun datang mana mungkin kami berpangku
tangan? Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.
Kawan2 mari tangkap pembunuh ini!  Serempak dengan

itu dua puluh orang segera melompat kemuka.
Serangan2 bersiuran laksana hujan!
Raja Rencong Dari Utara ganda tertawa. Kedua
tangannya dipukulkan kemuka menyongsong serangan.
Dua gelombang angin menderu. Lima orang disebelah kiri
dan lima orang disebelah kanan menjerit lalu tergelimpang
rubuh! Delapan diantaranya tiada berkutik lagi. Yang dua
menggerang kesakitan muntah2 darah!
Kejut para toa Pesantren Suhudilah bukan alang
kepalang! Segera mereka menghunus pedang panjang
berkeluk dan menyerbu kembali!! Dengan senjata
ditangan maka meski jumlah mereka kini tinggal sepuluh
orang tapi daya serang mereka jauh lebih hebat
Dan berbahaya dari pada pertama kali tadi!
Raja Rencong Dari Utara diserang demikian rupa
masih cengar-cengir tertawa se-akan2 serangan itu
adalah satu permainan yang menyenangkannya!
"Manusia2 tak berharga berani melawan Raja
Rencong Dari Utara terimalah mampus!"
Mendengar seruan itu, mengetahui bahwa manusia yang
tengah mereka gempur adalah Raja Rencong
Dari Utara, tercekatlah hati orang2 Pesantren Suhudilah!
Untuk sesaat lamanya mereka tak jadi teruskan
serangan. Namun salah seorang dari mereka berseru :
engkau
"Saudara2ku, kalau betul bangsat ini Raja Rencong
Dari Utara mari kita berebut pahala membunuhnya! Kita
balaskan sakit hati saudara2 kita dan tokoh2 silat yang
telah dimusnahkannya!"
Mendengar ini keberanian yang tadi menciut kini
berkobar kembali dan kesepuluh orang itu dengan
serentak teruskan serangan mereka secara lebih
hebat lagi! Sepuluh pedang menderu. Tiga menusuk,
empat membabat dan tiga lainnya membacok dari
atas kebawah! Dapat dibayangkan bagaimana tubuh
Raja Rencong akan tersatai dan terkutung-kutung dilanda
serangan sepuluh pedang itu!
Raja Rencong membentak garang. Tanah bergetar!
Tubuhnya lenyap dalam satu gerakan yang luar biasa
cepatnya. Kemudian terdengar satu suara keluhan yang
disusul dengan suara "trang trang .trang2 sampai
beberapa kali! Jeritan terdengar susul menyusul. Tiga
batang pedang mental keudara, lima buah tangan
terbabat putus!
Apakah yang sesungguhnya telah terjadi?!
Pada waktu sepuluh pedang berkiblat. Raja Rencong
dengan jurus silat yang luar biasa cepat dan hebatnya,
menyelinap diantara tusukan, bacokan dan babatan
pedang. Kaki kanan menghantam kesamping
menendang seorang penyerang yang paling dekat dan
berlaku lengah! Begitu tendangan mendarat begitu
Raja Rencong rampas pedang ditangan laki2 itu dan

pergunakan senjata itu untuk menangkis serangan
sembilan pedang lainnya dalam satu jurus ilmu pedang
yang teramat lihay! Tiga buah pedang ditangan
tua2 Pesantren Suhudilah yang berkepandaian tinggi
mental sedang lima orang lainnya menjerit keras
karena tangan masing2 terbabat buntung! Meski tahu
bahwa Raja Rencong bukanlah tandingan mereka
engkautapi ketiga orang tua itu bukanlah manusia2
pengecut. Lebih baik mati daripada lari atau menyerah!
Setelah saling memberi syarat ketiganya menyerang
lagi dari kiri kanan dan depan!
Raja Rencong melintangkan pedang yang berlumuran
darah dimuka dada. Sengaja ditunggunya
sampai tiga serangan lawan berada dekat sekali
ketubuhnya baru dia menggerakkan' tangan kanan
menyelundupkan pedangnya dalam tiga tusukan
berantai yang cepat laksana kilat dan sukar diduga!
Ketiga tua Pesantren itu terhuyung bermandikan darah.
Yang seorang segera roboh tak berkutik lagi karena
tusukan pedang Raja Renconq tepat menembus
jantungnya. Yang dua lagi terhuyung2 nanar,
perut robek usus menjela2 dan akhirnya roboh pula
menyusul kawan2nya!, Raja Rencong tertawa gelak2
sambil bertolak tangan kiri kepinggang. Tiba2 Raja
Rencong Dari Utara hentikan tertawanya. Satu suara
laksana ngiangan nyamuk menyelusup ditelinganya:
"Demi Tuhan! Pesantren yang begini suci telah
jadi korban keganasan! Bangunan suci hendak dimusuhi
Padahal disini tidak terdapat harta berharga emas
berbungkah! Sungguh diluar perikemanusiaan!".
Belum lagi Raja Rencong sempat berpaling .
tahu2 sesosok tubuh berjubah putih melompat turun
dari jendela menara sebelah barat! Gerakan orang ini
enteng seringan kapas!

DUA
ORANG BERJUBAH PUTIH INI berbadan sangat
pendek hingga jubahnya menjelajela ditanah. Dibahu
kanannya terselempang sehelai selendang putih
berumbai-umbai. Sorbannya besar sekali. Melihat kepada
keadaan tubuhnya yang masih tegap itu orang akan
menaksir dia baru berusia sekitar setengah abad. Tapi
sesungguhnya dia telah hidup tujuh puluh tahun lebih
diatas dunia ini!
"Kau Kyai Suhudilah?!" bentak Raja Rencong
Dari Utara. Orang pendek berjubah putih tidak menjawab.
Diputarnya kepalanya memandang mayat2 yang
bergelimpangan hanya seorang yang masih hidup yaitu
yang pedangnya tadi dirampas Raja Rencong, namun
keadaannya juga tak ada harapan karena tendangan
Raja Rencong telah mematahkan tulang pinggangnya!
Paras Iaki2 pendek itu mula2 tenang sekali.
Namun melihat mayat yang demikian banyaknya tak
dapat iamenyembunyikan gelora darahnya. Wajahnya
yang tertutup kumis dan janggut putih itu kelihatan
kelam membesi!
"Demi Tuhan", katanya seakan-akan pada
dirinya sendiri, "dosa apakah yang telah kami buat
hingga menerima cobaan yang begini besar?!".
Sejak pertanyaannya tadi tidak dijawab, Raja
Rencong merasa dianggap remeh dan menjadi marah
sekali. Dan mendengar ucapan sijubah putih Raja
Rencongpun berkata dengan suara lantang : "Manusia
katai tolol! Ini bukan cobaan! Orang2 itulah yang
sengaja mencari mati sendiri karena keliwat berani
melawan Raja Rencong Dari Utara!"
"Alasan yang tidak beralasan!" jawab sijubah
putih masih tanpa memandang pada Raja Rencong.
"Nyawa manusia bukan milik manusia! Kenapa ada
manusia yang berani berbuat se-wenang2 begini
rupa?!"
"Katai! Jangan bicara ngelantur terus2anl Katakan kau
Kyai Suhudilah apa bukan?!"
"Ada apakah kau mencari Kyai itu?!"
"Tak perlu bertanya! Kalau kau bukan Kyai
Suhudilah lekas katakan dimana dia berada "
"Apakah ada dendam kesumat lama yang kau
bawa datang kemari? Kyai Suhudilah tak ada disini!
Aku wakilnya! Kalau ada keperluan katakan saja
nanti kusampaikan!"
Raja Rencong Dari Utara menimang sejenak. Dia
percaya kalau orang dihadapannya tidak berdusta
bahwa Kyai Suhudilah tak ada di Pesantren saat itu.
"Sebagai wakil di Pesantren ini, disamping harus
menyampaikan pesanku pada Kyai Suhudilah kurasa

ada baiknya kau mengetahui maksud kedatanganku
kemari! Katakan pada Suhudilah bahwa pada tanggal
satu bulan dimuka dia harus datang ke Bukit Toba
membawa lima puluh keping uang emas sebagai tanda
tunduk padaku dan masuk kedalam sebuah partai
besar yaitu Partai Topan Utara yang bakal kudirikan
dan kuresmikan! Katakan juga padanya kalau dia
berani menolak, lebih baik bunuh diri saja!"
Paras laki2 berjubah putih itu tambah kelam membesi.
"Kalau aku boleh bertanya, hak apakah yang
membuat kau memaksa orang untuk tunduk dan
tnaiuk kedalam partai yang hendak kau dirikan?!"
Raja Rencong Dari Utara tertawa tawar.
"Itu akan kuterangkan nanti pada hari peresmian
berdirinya Partai Topan Utaral Dan jangan lupa,
adalah juga menjadi kewajibanmu untuk mematuhi
pesanku tadi dan datang ke Bukit Toba!"
Kini sijubah putihlah yang tertawa rawan.
"Hendak mendirikan partai dengan main paksa?
Hendak mendirikan partai dengan menempuh jalan
berlumuran darah? Sungguh keji!"
"Jadi kau menolak untuk tunduk dan datang?!"
tanya Raja Rencong. Nada suaranya membayangkan
ancaman.
"Aku Kyai Hurajang sebagai wakil pemimpin pesantren
Suhudilah berhak menolak permintaanmu yang secara
memaksa itu, apalagi mengingat apa yang telah kau
lakukan disini! Pembicaraan tentang segala macam
partai, tentang segala macam tanggal dan tahun,
tentang segala macam peresmian kita tutup
Sampai disini! Sekarang yang patut dibicarakan ialah
tentang pertanggung jawabmu atas dua puluh korban
yang berhamparan itu!"
Raja Rencong Dari Utara meneliti paras Kyai
Hujarang sejenak lalu tertawa ge!ak2.
“Kukira dengan melihat dua puluh mayat didekatmu
Kukira hidungmu akan menjadi satu. Peringatan Bagimu
untuk tidak bicara apalagi bertindak gegabah! Tapi dasar
manusia tidak tahu tingginya Gunung Leuser tak tahu
dalamnya danauToba! Dikasih anggur malah meminta
racun”.
Kyai Hujarang menghela nafas dalam
“ Betapapun tingginya gunung lebih bagus tingginya
budi. Betapapun dalamnya Danau lebih baik dalamnya
jalan Pikiran dan kemanusiaan. Terserahlah kalau disitu
menganggap ini suatu penantangan Bagaimanapun aku
tak dapat menerima permintaanmu! Sekarang ulurkan
tangan kananmu yang telah menebar maut disini!"
"Kalau kuulurkan tangan, kau mau berbuat apakah?!"
tanya Raja Rencong Dari Utara ingin tahu.
"Siapa yang membunuh hukumannya harus dibunuh!
Tapi aku masih memberi ampun padamu CUKUP hanya
dengan memotong tangan kananmu sebatas siku!"

Kembali Raja Rencong Dari Utara tertawa
gelak2.
"Kyai tak tahu diuntung!" dampratnya, "jika kau
sanggup menahan seranganku sampai lima jurus
aku bersumpah untuk bunuh diri dihadapanmu!"
"Ajaran agamaku mengatakan balaslah kebaikan
dengan kebaikan, tapi balaslah kejahatan dengan
keadilan! Akan kulaksanakan keadilan namun sengaja
kau minta hukuman yang lebih berat! Ah ... . mungkin
sudah takdir aku harus turun tangan menyelamatkan
dunia dari angkara murka yang kau timbulkan!"
"Sudah jangan ngelantur! Terima jurus yang pertama
ini!" bentak Raja Rencong Dari Utara. Tangan
kanannya dipukulkan kemuka! Satu angin dahsyat
menderu dengan kekuatan setengah tenaga dalam!
Melihat datangnya serangan ini Kyai Hurajang
salurkan tiga perempat tenaga dalamnya kelengan
jubah lalu kebutkan lengan jubah itu! Selarik angin
putih menyambar. Tapi betapa terkejutnya Kyai Hurajang
sewaktu tenaga dalam mereka saling bentrokan,
tubuhnya terjajar kebelakang samai dua tombak!
Nyatalah tenaga dalam lawan jauh lebih hebat! Dan
sang Kyai sama sekali tidak tahu kalau Raja Rencong
baru cuma mengandalkan setengah bagian saja dari
tenaga dalamnya!
Melihat sekali hantam saja lawan sudah huyung
begitu rupa dengan tertawa Raja Rencong lipat gandakan
tenaga dalamnya! Jika saja Kyai Hurajang tidak
engkaulekas melompat pastilah tubuhnya akan kena
disapu dan terlempar jauh!
Menyadari tenaga dalam lawan lebih hebat maka
Kyai Hurajang begitu melompat diudara segera
menyambar selendang berumbai-umbai yang
terselempang dibahunya! Dan serentak turun ketanah
kembali selendang itu dikebutkannya kearah lawan!
Raja Rencong terkejut sekali sewaktu merasakan
bagaimana kebutan selendang berumbai-umbai itu
mendatangkan angin keras yang dingin menyembilu
tulang2 sekujur badannya! Tubuhnya tergontai-gontai.
Tapi cepat dia menguasai diri dan membuka jurus
kedua dengan satu serangan yang luar biasa cepatnya!
Kyai Hurajang putar selendangnya sekeliling
tubuh melindungi diri dari gempuran dua tendangan
dan dua jotosan lawan! Laksana disapu topan layaknya
serangan Raja Rencong menemui kegagalan total!
Tergetar juga hati Raja Rencong. Tidak disangkanya
selendang lawan mempunyai kehebatan demikian
rupa! Tidak menunggu lebih lama dia segera pentang
tangan kanan dan kembangkan kelima jari.
"Aku mau lihat apakah kau sanggup menerima
pukulan ilmu kuku api ini?" hardiknya. Kelima jari
tangan dijentikkan kemuka. Dari kuku2 jari tanganitu menderulah lima larik sinar merah!
Kyai Hurajang kerahkan seluruh tenaga dalam
dan menangkis dengan selendangnya!
"Wuss!"
Kyai Hurajang berseru kaget dan lepaskan selendangnya
yang dalam kejap itu telah berubah menjadi kepulan api
dilanda pukulan kuku api yang dilepaskan Raja Rencong!
Muka Kyai ini berubah pucat laksana kertas! Raja
Rencong Dari Utara tertawa mengekeh.
"Apakah cuma itu satu2nya senjata yang kau
andalkan hingga kau demikian pucatnya?!" ujar Raja
Rencong mengejek!
"Aku masih belum kalah" kata Kyai Hurajang.
"Dalam Dua jurus mendatang jangan harap kau bisa
lepas dari tanganku!"
Kyai Hurajang rangkapkan kedua tangan dimuka dada,
mata meram dan mulut komat kamit Sesaat kemudian
wajahnya berubah menjadi biru.
"Haha ... . ilmu siluman apakah yang
hendak kau keluarkan Kyai?!" ejek Raja Rencong
Dari Utara.
Kyai Hurajang usapkan telapak tangannya kemuka.
Warna biru diwajahnya lenyap dan sebagai gantinya kini
kedua tangannya sampai pergelangan berubah menjadi
biru legam dan bersinar!
"Bersiaplah untuk menerima kematian!" desis
Kyai Hurajang lalu tutup ucapannya dengan hantamkan
kedua tangannya kemuka! Dua larik sinar biru
menderu kearah Raja Rencong Dari Utara! Inilah
ilmu pukulan kelabang biru yang pernah dituntut
Kyai Hurajang dari seorang sakti di Pulau Jawa!
Jangankan manusia, batu karang yang bagaimanapun
atosnya akan hancur lebur dilanda dua larik sinar biru
itu. Jika dipukulkan kepohon besar, maka pohon itu
akan menciut mati detik itu juga akibat racun dahsyat
yang terkandung dalam larikan sinar biru itu!
Raja Rencong Dari Utara juga sudah pernah
mendengar tentang ilmu pukulan kelabang biru dan
sudah maklum akan kehebatannya. Karenanya
begitu lawan lepaskan pukulan tersebut tak ayal lagi
dia segera gerakkan tangan kanan kepinggang! Sekejap
kemudian sewaktu dua larik sinar biru itu akan
melandanya, selarik sinar kuning yang terang berkelebat
kedepan dan terdengarlah satu letusan yang keras sekali
sewaktu kedua sinar itu saling beradu diudara!
Kyai Hurajang terjajar kebelakang, tersandar kekaki
menara. Dadanya sakit, nafasnya sesak sedang
parasnya pucat tiada berdarah. Dilain pihak kelihatan
kedua kaki Raja Rencong Dari Utara melesak ketanah
sedalam satu setengah dim. Tangan kanannya yang
memegang sebilah Rencong Emas masih diacungkan
ke udara! senjata inilah tadi yang telah mengeluarkan
sinar kuning dan bertubrukan dengan sinar biru
pukulan Kyai Hurajang! Perlahan-lahan Raja Rencong
turunkan tangan kanannya dan masukkan Rencong
Emas itu kebalik baju ungunya. Dan memandang
kemuka. Kyai Hurajang telah melosoh ketanah. Ketika
kepalanya terkulai kesamping, nyawanyapun lepaslah!
Raja Rencong Dari Utara tertawa mengekeh.
Dari dalam saku pakaiannya dikeluarkannya sebuah
benda dan dilemparkannya kearah kepala Kyai Hurajang!
Benda itu menancap tepat dikening sang Kyai
dan ternyata adalah sebuah bendera kecil berbentuk
segitiga berwarna ungu, pada tengah2nya terdapat
gambar dua buah rencong kuning saling bersilangan.
Pada tiang bendera kecil terikat segulung kertas!
Raja 'Rencong terus juga mengumbar tertawanya.
Setelah memandang berkeliling akhirnya ditinggalkannya
tempat itu!



00--00--00--
 Selanjutnya download di : Raja Rencong Dari Utara