Minggu, 16 Agustus 2009


--013--
BASTIAN TITO
Pendekar Kapak Nagageni 212


SEJAK dinihari gumpalan awan hitam menggantung
di udara. Paginya walaupun sang surya
telah menampakkan diri namun karena masih
adanya awan hitam itu, suasana kelihatan
mendung sekali. Kokok ayam dan kicau burung
tidak seriuh seperti biasanya, seolah-olah
binatang-binatang itu tidak gembira menyambut
kedatangan pagi yang tiada bercahaya itu.
Di lereng timur Gunung Slamet, seorang
laki-laki tua yang mengenakan kain selempang
putih berdiri di depan teratak kediamannya.
Janggutnya yang putih panjang menjela dada
melambai-lambai ditiup angin pagi. Orang tua
ini menengadah memandang kelangit.
"Mendung sekali pagi ini..." katanya dalam hati. Untuk beberapa lamanya dia masih berdiri di depan teratak itu.
Kemudian terdengarlah suaranya berseru memanggil seseorang.
"Untung! Kau kemarilah . . . "
Meski umurnya hampir mencapai delapan puluh, namun suara yang keluar dari mulut orang tua itu keras lantang dan
berwibawa. Sesaat kemudian seorang pemuda sembilanbelas tahun muncul dari dalam teratak. Parasnya tampan. Dia
mengenakan sehelai celana pendek sedang dadanya yang tidak tertutup kelihatan bidang tegap penuh otot-otot.
"Empu memanggil aku . . .?" pemuda itu bertanya.
Si orang tua yang bernama Empu Bharata, menganggukkan kepalanya. "Keris Mustiko Jagat yang kubikin sudah hampir
siap ..." berkata orang tua itu, "cuma ada beberapa bagian yang harus di pertajam. Pergilah cari kayu-kayu kering untuk api
penempa. Aku kawatir kalau hujan turun kau tak bisa mencari kayu-kayu kering. . . "
"Persediaan kayu yang kukumpulkan dua hari yang lalu sudah habis, Empu?" tanya Untung Pararean.
"Ya, sudah habis. Nah kau pergilah dan cepat kembali."
Untung Pararean segera meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan setumpuk kayu-kayu

kering di bahu kanannya.
"Bawa terus kedalam Untung, dan sekalian nyalakan api. Kalau sudah ambilkan Mustiko Jagat dari dalam lemari."
"Baik Empu", sahut Untung Pararean.
Sementara pemuda itu menyalakan api, Empu Bharata mengisi sebuah mangkok tanah dengan air bening lalu ditaburi
bunga-bunga tujuh rupa. Dari perapian yang telah menyala disiapkannya sebuah perasapan yang ditaburi dengan setanggi dan
kemenyan sehingga suasana di dalam teratak tua itu harum semerbak baunya.
"Kalau Mustiko Jagat sudah siap nanti, berarti kesampaianlah cita-citaku untuk memberikan sumbangan pada Kerajaan..."
"Aku tak mengerti maksud kata-kata Empu," kata Untung Pararean pula sambil menyeka butirbutir keringat yang terbit
dikulit keningnya akibat panasnya perapian.
Orang tua itu mengelus janggutnya yang panjang. Dua bola matanya bersinar-sinar. "Mustiko Jagat adalah sebilah keris
sakti, Untung. Tujuh tahun aku menempanya bukanlah satu masa yang singkat. Seorang yang bodoh dan tak tahu kepandaian
silat apapun, jika memegang keris itu pasti akan dibimbing oleh satu kekuatan aneh tapi sakti hingga ia menjadi seorang jago
yang sukar untuk dikalahkan. Disamping itu, Mustiko Jagat bila direndam dalam air, air itu bisa menjadi obat segala macam
racun jahat. Dan senjata sakti itulah yang bakal kuserahkan pada Sri Baginda untuk mempertahankan Kerajaan dari segala
macam bahaya dan malapetaka. Dan kau Untung ... kaulah nanti yang akan kuutus untuk menyampaikan Mustiko Jagat ke
istana."
"Jadi senjata yang bertahun-tahun Empu buat ini hendak diserahkan pada Kerajaan?" tanya Untung Pararean heran.
"Ya."
"Aku kira tadinya untuk Empu pakai sendiri."
Empu Bharata tertawa pelahan.
"Aku sudah tua, Untung. Sebentar lagi bakal mati. Dan kalau aku mati tak satupun yang akan kubawa ke liang kubur,
Disamping itu apakah sumbangan dan balas jasaku kepada tanah air dan Kerajaan? Keris sakti itu berguna bagi Kerajaan dan
bagi anak-anak cucuku ... termasuk kau."
Untung Pararean berpikir sejenak. Lalu tanyanya, "Apakah Mustiko Jagat boleh dipakai untuk membunuh, Empu... ?"
"Boleh! Memang boleh! Tapi untuk membunuh manusia-manusia jahat. Tegasnya untuk menumpas kejahatan dari muka
bumi ini."
"Dan kalau dipakai untuk membunuh orang baik-baik, bagaimana Empu?" tanya Untung Pararean pula ingin tahu.
"Itu berarti melakukan satu kejahatan besar. Yang melakukannya akan berdosa besar. Dan setiap kejahatan sudah barang
tentu ada pembalasannya," jawab Empu Bharata. "Nah, sekarang kau pergilah ambil keris itu didalam lemari."
"Baik Empu." Untung lalu masuk kedalam sebuah kamar. Di kepala tempat tidur yang terbuat dari jambu terletak satu lemari kayu jati. Ketika lemari dibuka, sinar biru yang amat terang rnerambas keluar. Itulah sinar keris Mustiko Jagat yang
terletak diatas sehelai kain putih. Keris itu sengaja tidak dimasukkan ke dalam sarungnya karena ada beberapa bagian yang
masih belum diperhaluskan dan dipertajam. Untung Pararean pernah mendengar dari Empu Bharata bahwa senjata sakti apa
saja sebelum selesai benar tak boleh dimasukkan kedalam sarungnya. Apa sebabnya Untung Pararean pernah menanyakan pada
orang tua itu, tapi Empu Bharata tak mau menerangkannya.
Meskipun sudah pernah beberapa kali disuruh oleh Empu Bharata untuk mengambil senjata ini tapi saat itupun kedua
tangan Untung Pararean menjadi bergetar sewaktu mengangkat kain putih di mana keris Mustiko jagat terletak. Dirasakannya
ada satu hawa aneh mengalir dari keris sakti kelengannya. Dengan menanting senjata itu di kedua tangannya Untung Pararean
keluar dari Kamar.
Empu Bharata dlihatnya sudah duduk dimuka perapian membelakanginya, tengah mengatur-atur perkakas. Dalam
melangkah mendekati orang tua itu tiba-tiba selintas pikiran jahat muncul di benak pemuda ini. Selintas pikiran jahat itu
datangnya seperti satu bisikan melalui telinga Untung Pararean.
"Untung Pararean, kenapa kau begitu buta hingga tak melihat kesempatan baik di depan matamu? Bukankah sudah sejak
lama terniat di hatimu hendak menjadi pendekar sakti mandraguna, hendak memiliki keris Mustiko Jagat itu? Kau tunggu apa
lagi? Kau punya kesempatan untuk memiliki keris itu sekarang!"
"Tapi Empu Bharata tentu akan marah," jawab kata hati Untung Pararean.
Dan suara aneh jahat berbisik lagi ketelinga pemuda itu. "Tolol, sungguh kau pemuda tolol! Kalau orang tua itu marah
padamu, tusuk saja dia dengan Mustiko Jagat. Bunuh! Dan kalau dia sudah mati, kau bisa memiliki keris itu dan kau akan jadi
pemuda sakti mandraguna, ditakuti di delapan penjuru angin. Disamping itu jika namamu sudah dikenal kau akan mudah
menduduki jabatan Perwira Bala tentara Kerajaan! Perwira ... ! Tidakkah kau inginkan jabatan yang tinggi dan terhormat itu?
Ayolah! Bunuh orang tua tak berguna itu!"
"Kalau aku membunuhnya berarti aku berbuat dosa," kata hati Untung Pararean, "dan aku jadi orang jahat. Lalu kelak aku
bakal menerima pembalasan!"
"Betul-betul kau tolol orang muda! Jika keris itu sudah berada ditanganmu, jika kau sudah menjadi seorang sakti
mandraguna siapa yang sanggup dan berani turun tangan terhadapmu? Kalau tidak kau bunuh si tua renta itu, kau bakal
menjadi manusia tak berharga, jadi hamba sahaja seumur-umurmu!"
Di diri Untung Pararean saat itu seolah-olah terjadi perang tanding antara kejahatan dan kebenaran. Bagaimanapun
pemuda ini berpijak dan bertahan diatas kebenaran namun lama-lama, dalam detik-detik yang mencapai puncak ketegangan itu,
kebenaran yang ada dalam dirinya berhasil ditumbangkan oleh kejahatan yang melanda hati dan jalan pikirannya!
Ketika dia dia cuma tinggal dua langkah dari tubuh Empu Bharata yang duduk bersila menghadapi alat-alatnya dan perapian,

pemuda itu tiba-tiba mengambil keputusan bahwa dia harus membunuh si orang tua! Digenggamnya hulu keris Mustiko Jagat
erat-erat. Sesaat kemudian senjata itu dihunjamkannya ke punggung kiri Empu Bharata. Orang tua itu mengeluh tinggi,
tubuhnya tersungkur di muka perapian, darah cepat membanjiri punggung dan selempang kain putihnya, tapi dia belum lagi
menghembuskan nafas penghabisan. Sepasang matanya yang agak mengabur dimakan umur dan dijelang ajal itu memandang
sayu tapi mengerikan pada Untung Pararean yang berdiri, dengan keris Mustiko Jagat berlumuran darah di tangan kanannya.
"Pemuda dajal ..." desis Empu Bharata diantara nafasnya yang mulai menyengal. "Apakah yang membuat kau sampai
melakukan kejahatan terkutuk ini terhadapku ...?" Tenggorokan orang tua itu turun naik beberapa kali lalu. "Aku tahu . . . aku
ta ... hu. Kau inginkan keris itu bukan?" Empu Bharata menyeringai pucat. "Kau bisa memiliki Mustiko Jagat, manusia jahat.
Tapi apa yang kau lakukan terhadapku kelak akan mendapat balasnya di kemudian hari. Demi para Dewa di Swar ... swargalo ...
ka ... kelak kau bakal mati di ujung Mustiko Jagat juga. Dan .,. se ⁄ sebelum mati hidupmu kukutuk menderita lahir ba . . .
ba..."
Ujung kata-kata yang diucapkan Empu Bharata lenyap oleh suara guntur yang menggelegar dengan tiba-tiba. Di luar
teratak kilat menyambar, lalu suara guntur lagi dan sesaat kemudian hujan lebat turun membasahi bumi, seakan-akan alam
ciptaan dan Kuasa ini turut menyaksikan dan menangisi kematian Empu Bharata. Untuk sesaat lamanya Untung Pararean berdiri
mematung dengan bulu kuduk merinding. Ketika diperhatikannya paras Empu Bharata, kedua mata orang tua itu, sudah
tertutup sedang dari mulutnya membuih darah kental akibat racun keris Mustiko Jagat yang amat berbisa. Keris yang masih
dilumuri darah itu dimasukkan Untung Pararean ke dalam sarungnya. Karena masih ada bagian-bagiannya yang belum
diperhalus, senjata itu tak dapat masuk keseluruhannya kedalam sarung, mengganjal diluar kira-kira setengah senti. Tapi itu tak
diperdulikan Untung Pararean. Dia masuk ke dalam kamarnya, mengemasi pakaian serta barang-barangnya lalu dibawah hujan
lebat yang mencurah bumi pemuda itu berlari menuruni lereng timur Gunung Slamet.
Seminggu sesudah dibunuhnya Empu Bharata kelihatanlah seorang berlari cepat mendaki, Gunung Slamet. Demikian cepat larinya hingga hanya bayangan jubah putihnya saja yang terlihat. Dalam waktu yang singkat orang ini telah mencapai
teratak tua tempat kediaman Empu Bharata. Begitu muncul disitu begitu orang ini berseru, "Dimas Bharata, aku datang!" Suara
seruannya yang keras menggetarkan seantero tempat hanya disahuti oleh gema seruan itu sendiri. "Heran, kenapa sepi-sepi saja."
membathin orang ini. Tubuhnya bungkuk, badannya yang kurus kering macam tengkorak hidup itu tertutup oleh sehelai jubah
putih yang kotor dan bertambal-tambal. Mukanya bopeng buruk sekali. Rambutnya yang awut-awutan tak pernah kena air
mengumbar bau yang tidak sedap, ditambah lagi dengan bau jubahnya yang kotor.
"Dimas Bharata, Untung Pararean, apa kalian tuli hingga tak mendengar kedatanganku?!" seru si muka Bopeng. Dia
melangkah besar-besar ke pintu teratak yang terbuka lebar. Sampai diambang pintu mendadak sontak langkahnya terhenti.
Sepasang kakinya yang kurus kering itu laksana dipantek ke lantai tanah. Tapi hanya sesaat. Sedetik kemudian dia sudah

menghambur masuk dan menjatuhkan diri disamping mayat Empu Bharata. Ada satu keanehan atas diri Empu Bharata. Meski
mayatnya sudah seminggu menggeletak namun masih tetap utuh dan tidak busuk hingga kalau tidak memperhatikan bekuan
darah yang terdapat dipunggung dan di lantai, orang tua itu tak ubahnya seperti seorang yang tengah tidur nyenyak.
"Dimas Bharata! Siapa yang melakukan ini? Siapa yang membunuhmu?!" teriak si muka Bopeng. Namanya Gambir Seta.
Tapi didunia persilatan dia lebih dikenal dengan nama gelaran yaitu Pengemis Sakti Muka Bopeng, dan dia adalah kakak
kandung Empu Bharata. Seperti orang gila Pengemis Sakti Muka Bopeng terus juga berteriak-teriak menanyakan siapa yang
telah membunuh adiknya. Tapi siapakah yang akan memberikan jawaban?! Dengan bercucuran air mata didukungnya mayat
adiknya. Dia hendak meninggalkan teratak itu tapi ia ingat sesuatu dan menghentikan langkan lalu memandang berkeliling
"Untung! Untung Pararean, dimana kau?!" serunya memanggil. Tak ada jawaban. Dia berteriak lagi tetap saja tak ada yang
menyahut karena memang Untung Pararean sudah tidak ada di tempat itu lagi. Hati laki-laki ini menjadi syak wasangka. Dia
masuk ke dalam kamar yang diketahuinya sebagai kamar si pemuda pembantu adiknya dan menggeledah. Tak satu potong
pakaianpun ditemuinya disitu.
Juga dengan masih mendukung mayat adiknya, Pengemis Sakti Muka Bopeng kemudian masuk ke kamar Empu Bharata.
Dia tahu bahwa adiknya pernah membuat sebilah keris sakti bernama Mustika Jagat. Tapi senjata itu tak ditemuinya dikamar,
juyd setelah diperiksa seluruh teratak, keris sakti itu tetap tak bersua.
"Bangsat! Pasti pemuda itu yang membunuh adikku! Pasti dia juga yang mencuri dan melarikan Mustiko Jagat!" Gerahamgeraham
Pengemis Sakti Muka Bopeng bergemeletakan. Dia tak dapat mengendalikan kelakar marahnya. Sambil berteriak-teriak
bahwa dia akan melakukan pembalasan, memecahkan kepala Untung Pararean, orang tua ini mengamuk hebat, menendangi
segala apa yang ada di dalam teratak hingga bangunan itu hancur berpelantingan. Pengemis Sakti Muka Bopeng masih belum
puas. Pohon-pohon dan apa saja yang ada di sekitar tempat itu habis ditendanginya. Ada kira-kira sepeminuman teh dia
mengamuk kalap begitu rupa. Sambil menangis dan kadang-kadang berteriak-teriak kemudian Pengemis Sakti Muka Bopeng lari
menuruni Gunung Slamet dengan membawa jenazah adiknya.

2
KETIKA dia sampai di kaki gunung hujan telah reda. Bajunya dan sekujur tubuhnya basah kuyup. Sambil menggigil
kedinginan dia meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Sepanjang jalan perutnya menggereok minta diisi. Sejak pagi tadi
memang dia belum makan apa-apa sama sekali. Dia berharap dalam waktu yang singkat akan dapat menemui sebuah desa atau
kampung di mana dia bisa membeli makanan untuk pengisi perutnya.
Belum lagi lewat sepeminuman teh berlalu Untung Pararean menemui satu jalan yang sangat becek akibat hujan. Pemuda
ini mengikuti jalan itu ke sebelah tenggara. Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara derap kaki-kaki kuda. Ketika dia berpaling
dilihatnya sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda hitam besar meluncur cepat sekali di jalan yang becek itu,
memancarkan lumpur dan air kotor ke kiri kanan jalan. Pengemudi kereta tiada hentinya mencarnbuk punggung kedua ekor
kuda agar kereta bergerak lebih cepat. Di belakang kereta yang bagus dan tertutup itu ada dua orang penunggang kuda
berpakaian keprajuritan.
"Pemuda gila!" kusir kereta tiba-tiba berteriak memaki Untung Pararean. "Kalau tidak lekas menyingkir kuda-kudaku akan
menerjangmu! Apakah kau ingin tulang-tulangmu hancur berantakan?!"
Untung Pararean merutuk dalam hati lalu menepi. Dan ketika kereta itu lewat disampingnya, lumpur dan air kotor
bermuncratan membasahi muka dan pakaiannya.
"Sialan!" maki Untung Pararean.
Baru saja dia habis memaki begitu satu tendangan mampir di bahunya, membuat dia terpelanting dan jatuh duduk
ditanah!
"Ha . . . ha! Itu bagian untuk manusia kotor yang berani memaki prajurit Kerajaan!" seru salah seorang prajurit yang
mengawal kereta. Dialah yang telah menendang Untung Pararean.
"Keparat! Kelak kau bakal menerima pembalasan dariku!" teriak si pemuda seraya bangun dan membersihkan pakaiannya.
Dengan masih menggerutu Untung Pararean lalu melanjutkan perjalanan. Tapi baru saja menindak beberapa langkah tiba-tiba
dia dikejutkan oleh suara sorak sorai di jalan didepannya, disusul dengan suara ringkik kuda. Ketika dia memandang ke depan
dilihatnya kereta tadi berhenti di tengah jalan. Dari kiri kanan jalan menyerbu kira-kira sepuluh orang berpakaian seragam
hitam, bersenjatakan golok-golok besar. Sebelum Untung Pararean sampai di tempat itu pertempuran antara dua pengawal yang
dibantu oleh kusir kereta melawan kesepuluh orang berseragam pakaian hitam itu telah berlangsung! Tak salah lagi pastilah
orang-orang itu gerombolan rampok hutan Dadakan yang memang sering malang melintang disekitar kaki Gunung Slamet.
Untung Pararean menyelinap kebalik serumpun semak belukar lebat dan menyaksikan jalannya pertempuran dari tempat ini. Kedua prajurit Kerajaan itu masing-masing bersenjatakan sebilah pedang sedang kusir kereta sebilah keris panjang. Dari
gerakangerakan mereka nyatalah bahwa ketiganya memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Sampai sepuluh jurus mereka sanggup
membendung serangan-serangan sepuluh anggota rampok. Tapi walau bagaimanapun jumlah mereka terlalu sedikit untuk
menghadapi lawan yang tiga kali lipat lebih banyak hingga jurus-jurus selanjutnya ketiga orang itupun terdesaklah.
"Prajurit-prajurit Kerajaan yang sombong," kata Untung Pararean dalam hati, "sebentar lagi kalian akan segera mampus!"
Terdengar satu jeritan. Prajurit yang tadi menendang Untung Pararean roboh dengan satu luka besar di dadanya!
"Rasakan!" seringai Untung Pararean.
Tiba-tiba dilihatnya pintu kereta terbuka dan satu suara perempuan mengumandang.
"Atas nama Kerajaan hentikan pertempuan ini!"
Terkejutlah para rampok yang mengeroyok. Untung Pararean sendiri tak kurang kagetnya. Di dalarn kereta itu ternyata ada
seorang dara berpakaian bagus, berkulit hitam manis dan berwajah elok sekali!
Kejut para rampok cuma sebentar. Beberapa orang diantara mereka lantas saja menyerbu ke arah kereta!
Kalau tadi Untung Pararean karena sakit hati terhadap prajurit-prajurit Kerajaan itu tidak mau turun tangan memberikan
bantuan, kini melihat gadis jelita yang didalam kereta terancam keselamatannya, segera melompat keluar dari persembunyiannya.
Keris Mustiko Jagat tergenggam ditangan kanannya, memancarkan sinar biru yang menggidikkan.
"Rampok-rampok rendah! Lekas tinggalkan tempat ini kalau tidak mau mampus!" demikian bentak Untung Pararean gagah
laksana seorang pendekar digjaya meski dia sama sekali tidak tahu satu jurus ilmu silatpun! Tapi dia percaya dengan kesaktian
keris Mustiko Jagat. Sewaktu keris ini dipegangnya pertama kali tadi, satu hawa aneh telah menyelimuti sekujur tubuhnya
hingga tubuhnya terasa sangat enteng sedang satu kekuatan yang luar biasa terpusat di kedua kaki dan kedua tangannya!
"Kurang ajar! Pemuda kesasar dari mana yang mau jadi jago!" teriak salah seorang anggota rampok, lalu menerjang dan
membabatkan golok besarnya ke kepala Untung Pararean.
Seperti telah diketahui Untung Pararean hanyalah seorang pemuda pembantu Empu Bharata yang sama sekali tidak tahu
seluk beluk ilmu silat, apalagi segala macam ilmu kesaktian. Tapi berkat kesaktian yang luar biasa dari keris Mustiko Jagat, pada
saat golok perampok menderu ke kepalanya, secara aneh satu kekuatan gaib yang ada pada keris sakti itu membimbing tangan
Untung Pararean dan membuat satu gerakan yang cepat sekali, menangkis dan keris Mustiko Jagat!
"Trang!!"
Bunga api memercik.
Golok besar ditangan siperampok patah dua dan ke udara. Selarik sinar biru sinar keris Mustiko Jagat menderu lalu
terdengarlah pekik rampok yang goloknya patah mental tadi. Tubuhnya terhujung kebelakang sambil kedua tangannya
memeganggi dadanya yang tertusuk Mustiko Jagat Sesaat kemudian dia roboh ke tanah yang becek tanpa nyawa dan sekujur

kulit tubuhnya berwarna biru gelap akibat racun yang amat hebat dari keris sakti Mustiko Jagat!
Melihat munculnya seorang pemuda yang tak dikenal yang dalam satu gebrakan saja berhasil merobohkan kawan mereka,
rampok-rampok yang lainpun menjadi marah. Niat untuk menyerbu kereta dibatalkan dan tujuh anggota rampok itu lantas
menyerbu Untung Pararean sementara yang dua lainnya masih menghadapi kusir kereta dan prajurit Kerajaan.
Mulanya hati Untung Pararean kecut juga melihat datangnya serbuan itu. Tapi dengan penuh keyakinan dia
menghadapinya. Tubuhnya berkelebat ringan diantara deru senjata-senjata lawan. Sinar biru keris Mustiko Jagat bergulunggulung
dan dalam dua jurus saja enam perampok bergeletakan tanpa nyawa lagi!
Tiga orang yang masih hidup tentu saja tak punya nyali lagi. Tanpa tunggu lebih lama ketiganya segera ambil langkah
seribu dan lenyap dari tempat itu dalam sekejap mata!
Kalau tadi baik si pengemudi kereta maupun prajurit Kerajaan menganggap Untung Pararean pemuda desa hina dina, tapi
sesudah menyaksikan "kehebatan" pemuda itu dan menghadapi kenyataan bahwa Untung Pararean telah menjadi "tuan penolong"
mereka, maka baik kusir kereta maupun prajurit Kerajaan cepat-cepat sama berlutut di hadapan pemuda itu.
"Pendekar gagah," berkata si prajurit, "kami mohon maafmu atas kelancangan kami sebelumnya dan terima kasih atas
pertolonganmu."
Seumur hidupnya baru kali itu Untung Pararean dihormat dan disembah orang demikian rupa. Cuping hidungnya
kembang kempis. Di mulutnya tersungging seringai bangga tapi juga mimik yang mengejek. Dan dalam hatinya pemuda ini
berkata sinis. "Siapa sudi menolong kalian. Aku turun tangan karena keselamatan gadis di dalam kereta terancam. Demi dia,
bukan demi kalian!"
"Sudah, berdirilah!" kata Untung Pararean sesaat kemudian pada kedua orang yang berlutut. Ketika dia memandang ke
arah kereta, dara cantik di atas kendaraan itu kelihatan turun, melangkah kehadapannya, mengangguk memberi hormat dan
tersenyum. Kikuk juga Untung Pararean menerima penghormatan dan senyum si jelita itu.
"Saudara, terima kasih atas pertolonganmu." berkata gadis itu.
"Ah . . . pertolonganku tak ada artinya." jawab Untung Pararean merendah setelah terlebih dulu balas menghormat.
"Kuharap kau sudi ikut ke Ibukota untuk menerima balas jasa dari ayahku."
"Aku menolong tidak mengharapkan balas apa-apa, saudari." jawab Untung Pararean.
Bagaimanapun si gadis memaksa tetap saja pemuda itu tidak mau ikut ke Ibukota. Tapi seandainya Untung Pararean
mengetahui bahwa si gadis adalah keponakan Sri Baginda, niscaya dia tak akan menolak. Bukankah setelah membunuh Empu Bharata pemuda ini memang bermaksud untuk mencari kedudukan di Kerajaan? Akhirnya setelah mengucapkan terima kasih
untuk kesekian kalinya, gadis itu pun berlalu bersama kusir serta pengawalnya. Pengawal yang mati digeletakkan di punggung
kuda, dibawa ke Ibukota. Dengan jalan kaki Untung Pararean meneruskan pula perjalanannya. Sepanjang jalan apa yang

barusan dialaminya seperti terbayang kembali di depan matanya. Betapa mula-mula dia merasa ngeri diserang oleh perampokperampok
hutan Dadakan itu. Bagaimana kemudian dia menghadapi perampok-perampok itu dengan keris Mustiko Jagat dan
membunuh mereka satu demi satu hingga akhirnya tiga orang perampok yang masih hidup lari pontang-panting!
Kemudian ingat pula dia sewaktu kusir kereta dan pengawal itu berlutut di hadapannya, menyebutnya "Pendekar gagah!"
Lalu sewaktu gadis jelita itu datang padanya, tersenyum dan mengucapkan terima kasih!
Menjelang tengah hari Untung Pararean sampai ke sebuah kampung. Sebenamya kurang pantas disebut kampung karena
selain besar dan ramai juga di situ pusat perhentian lalu lintas perdagangan. Di situ terdapat pula sebuah rumah makan yang
merangkap rumah penginapan. Begitu memasuki kampung, Untung Pararean segera menuju kesini. Dan di depan bangunan
rumah makan itu dilihatnya kereta yang ditumpangi gadis jelita yang telah ditolongnya sebelumnya.
Baru saja Untung Pararean sampai di pintu, dari dalam rumah makan seseorang datang menyongsongnya. Ternyata orang
itu adalah si pengawal kereta.
"Ah, sungguh gembira dapat bertemu dengan kau di sini Pendekar," berkata pengawal itu. Kemudian tanpa diminta dia
menerangkan. "Kami terpaksa berhenti dan menginap di sini. Seseorang menerangkan sungai banjir akibat hujan besar yang
turun tadi pagi. Diperkirakan baru besok air akan surut⁄."
Bertiga dengan kusir kereta Untung Pararean kemudian duduk di salah satu bagian rumah makan. Pengawal itu
memesankan makanan yang enak-enak serta tuak harum untuknya.
Selagi menyantap hidangan itu pengawal menerangkan pula bahwa jenazah kawannya telah disuruh kubur di tepi
kampung. Kemudian dia bertanya. "Sesungguhnya siapakah Pendekar ini dan berasal dari mana?"
"Aku cuma orang gunung yang barusan saja turun dari Gunung Slamet," jawab Untung Pararean.
"Oh, pastilah Pendekar murid seorang pertapa sakti."
Untung Pararean tak memberi jawaban. Diteguknya minumannya lalu memandang berkeliling ganti bertanya.
"Dimana gadis itu?"
"Maksud Pendekar Den Ayu Sri Kemuning?" ujar si pengawal.
Kemudian sang kusir kereta menyambungi. "Istirahat di kamarnya. Perjalanan jauh sangat meletihkan Den Ayu."
"Saya tidak mengerti," berkata pengawal kereta, "kenapa Pendekar tidak mau menerima ajakan Den Ayu Sri Kemuning
untuk ikut ke Ibukota. Itu suatu kerugian besar, Pendekar."
"Kerugian besar bagaimana?"
"Pendekar tentu belum tahu siapa gadis itu sebenamya?"
"Aku barusan saja turun gunung, mana tahu siapa dia?" ujar Untung Pararean pula.
Pengawal kereta itu tersenyum lalu didekatkannya mukanya pada si pemuda seraya berkata.

"Den Ayu Sri Kemuning adalah keponakan Sri Baginda . . . "
Terbeliaklah sepasang mata Untung Pararean. Mulutnya ternganga.
"Betul?!" tanyanya ingin meyakinkan.
"Masakan saya berani main-main sama Pendekar."
Dan memang terasa sebagai satu kerugian besar bagi Untung Pararean sesudah dia tahu siapa adanya gadis yang
ditolongnya itu. Dengan ikut ke Ibukota bukankah lebih mudah mendapat jalan untuk mencapai cita-cita yang diidamidamkannya
selama ini yaitu menjadi Perwira Kerajaan?!
Dengan melihat paras si pemuda, pengawal kereta ini dapat membaca isi hati Untung Pararean. Maka berkatalah dia,
"Sekarang masih belum terlambat untuk merobah putusan Pendekar. Jika kau mau, nanti aku akan menemui Den Ayu dan
menerangkan bahwa kau bersedia ikut ke Ibukota."
Meskipun hasratnya meluap-luap tapi Untung Pararean tak segera memberikan jawaban. Diisinya tuak baru ke dalam gelas
lalu diteguknya perlahan-lahan.
Justru pada saat itulah di pintu rumah makan terdengar suara bentakan yang lantang keras hingga bangunan itu bergetar!
"Bangsat muda yang sedang meneguk tuak, lekas berlutut untuk menerima hukuman mampus!"



--00--00--

Lanjutannya download di :KutukanEmpuBharata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar