Rabu, 05 Agustus 2009

Dendam Orang-orang Sakti

---003---
Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Dendam Orang-orang Sakti
Karya: Bastian Tito

SATU

LUKA besar di bekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin
lama semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar
setan dia melarikan diri dari pekuburan Djatiwalu itu, maka kini jangankan lari, berjalan
melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megapmegap
seperti mau sekarat!
Saat itu dia berada di tepi sebuah jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan
lagi ke mana tujuannya sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarang
didatangi manuisia. Sunyi senyap mencengkam menegakkan bulu roma. Matanya yang
berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang sudah
habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok ke dalam jurang
ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang menonjol di tepi jurang.
Masih untun jurang itu bukanlah jurang batu, tapi jurang yang penuh ditumbuhi semak
belukar. Tubuhnya menggelinding ke bawah membentur semak belukar mengait rantingranting
pepohonan rendah. Sakit tubuhnya bukan main, apalagi bekas luka kutungan di tangan
kanannya. Ketika dia terhampar di dasar jurang, dia tiada sadarkan diri lagi!
Bila dia sadarkan diri maka saat itu matahari sudah hamper tenggelam. Keadaan di
dasar jurang sunyi itu gelap dan dingin karena pantulan sinar matahari yang terakhir tidak
sampai menyaputi dasar jurang di mana dia berada. Dia berpikir-pikir di mana dia terbujur
saat itu. Kemudian denyutan rasa sakit yang amat sangat pada bahu kanannya yang bunting
dan masih melelehkan darah itu, membuat dia ingat segala sesuatunya apa yang telah terjadi.
Dia – Kalingundil – beberapa jam yang lalu telah bertempur melawan seorang pemuda
sakti bernama Wiro Sableng. Dalam pertempuran itu bukan saja dia terpaksa melarikan diri
tapi juga terpaksa kehilangan tangan kanannya karena telah dibetot puntung oleh lawannya!
Dan mengingat ini, diantara rasa sakit yang tiada terkirakan, memerih pula rasa dendam
kesumat yang amat sangat. Walau bagaimanapun dia musti dapat meneruskan hidupnya,
meski cuma bertangan sebelah. Meski bagaimanapun dia harus dapat membalaskan dendam
kesumat akibat perbuatan pemuda Wiro Sableng yang telah membuat dia cacat seumur hidup
itu.
Ketika kedua matanya melihat bintang-bintang yang bermunculan di langit di atasnya
barulah disadarinya bahwa hari sudah menjadi malam. Kalingundil tahu bahwa semalammalaman
itu dia tak akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan.
Hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan.
Kemudian dipalingkannya pula kepalanya ke samping kiri. Mula-mula juga hanya kegelapan
yang dilihat lelaki itu. Namun samar-samar kemudian diantara semak belukar dalam
kegelapan itu matanya masih dapat melihat satu legukan batu di dasar jurang. Jaraknya
dengan tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di tempat
terbuka begitu, Kalingundil berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan batu itu.
Tapi dengan keadaan dan kekuatan badan seperti itu tidak mudah bagi Kalingundil
untuk berpindah tempat. Jangankan untuk berdiri, merangkakpun tidak bisa. Jangankan utnuk
beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, tulang-tulang
anggotanya serasa bertanggalan! Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan
diri, dengan mengumpulkan segala sisa tenaga yang masih ada, seingsut demi seingsut
akhirnya berhasil juga Kalingundil mencapai legukan batu itu. Ternyata legukan ini adalah
mulut sebuah goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya
Kalingundil jatuh pingsan kembali.
Kalingundil sadarkan diri pada keesokan paginya. Beberapa jam sesudah matahari
terbit. Anehnya tubuhnya terasa lebih mendingan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin.
Kalingundil tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan
badan dirasakannya kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir kini
mulai berangsur kembali. Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah dirasakannya
bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang lembab ngilu-ngilu kuku. Hawa inilah
agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Kalingundil yang telah memberikan
kepulihan kekuatan kepadanya.
Kemudian sewaktu dia memandang meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samarsamar,
tertutup oleh debu yang menebal, tergugus oleh ketuaan zaman, Kalingundil melihat
banyak sekali tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur, tapi bila dibaca dan
disambung satu persatu, akan merupakan rentetan kalimat yang memberi pengertian pelajaran
ilmu silat! Semakin lebar Kalingundil membuka kedua matanya. Apa yang dibaca olehnya itu
memang sulit dimengerti mula-mula, ini lain tidak karena tulisan itu menerangkan tentang
pelajaran silat yang memang mempunyai dasar-dasar aneh serta tak diketahui dari cabang
aliran mana. Semakin naik matahari, semakin baikan terasa oleh Kalingundil keadaan
badannya.
Dengan mebungkuk-bungkuk dan tertatih-tatih, setelah habis dibacanya sekalian apa
yang tertulis dibagian goa sebelah luar itu maka Kalingundil memasuki goa lebih jauh.
Semakin ke dalam semakin terasa hawa lembab yang hangat-hangat ngilu-ngilu kuku tadi.
Menghirup udara itu Kalingundil merasakan tubuhnya segar, dadanya lega. Dan semakin ke
dalam semakin banyak banyak dilihat Kalingundil tulisan-tulisan. Apa yang tertulis kini
adalah mengenai pelajaran ilmu pedang yang aneh dan tak pernah didengar oleh Kalingundil
sebelumnya. Tapi sayang sebagian besar tulisan-tulisan yang bersifat pelajaran itu sudah tidak
kelihatan atau kabur tak dapat dibaca lagi.
Hawa hangat ngilu-ngilu kuku semakin santar terasa. Kalingundil terus juga masuk ke
dalam goa itu sampai akhirnya langkahnya terhenti pada satu pemandangan yang hampir tak
dapat dipercayainya.
Goa itu berakhir pada sebuah telaga kecil. Telaga ini lebih tepat disebut kolam karena
tepinya dikelilingi oleh batu-batu. Air telaga berwarna biru gelap dan mengepulkan asap
kebiruan. Asap inilah yang berhawa hangat ngilu-ngilu kuku dam mempunyai kekuatan ajaib
yang menyegarkan tubuh Kalingundil! Di tengah kolam itu terdapat sebuah batu licin yang
juga berwarna biru dan diatas batu ini terletak sebuah pedang yang telah buntung, yang
panjangnya cuma dua jengkal. Seperti air kolam dan batu licin, senjata ini juga berwarna dan
memancarkan sinar biru. Mengapa pedang itu tinggal buntung sedemikian rupa, kemana
bagian yang lancip lainnya? Dan mengapa sampai benda itu berada di situ?
Berdiri beberapa lama di tepi kolam itu Kalingundil merasakan badannya semakin
segar. Sedang ketika diteliti luka di bahu kanannya yang buntung itu, luka itupun
kelihatannya lebih sembuhan dari saat-saat sebelumnya.
“Air kolam ini mengandung khasiat yang hebat..,” pikir Kalingundil. Dia
membungkuk untuk menyiduknya dan sekaligus untuk melihat lebih dekat pedang buntung
yang di atas batu. Namun setengah membungkuk, gerakannya terhenti. Di dinding goa di
sebelah belakang kolam, di balik kepulan asap samar-samar terlihat barisan huruf-huruf yang
sudah agak sukar untuk dibaca tapi masih dapat dikira-kirakan oleh Kalingundil.
Di situ tertulis:
GOA INI “GOA SILUMAN BIRU”
KOLAM INI “KOLAM SILUMAN BIRU,”
PEDANG DI ATAS BATU “PEDANG SILUMAN BIRU,”
CUMA SAYANG KINI HANYA TINGGAL HULU DAN BUNTUNG,
SIAPA BISA MENDAPATKAN UJUNG PEDANG YANG HILANG DAN
MENYAMBUNGNYA,
SIAPA YANG MEMPELAJARI ILMU PEDANG DALAM GOA INI, AKAN
MENJADI “RAJA PEDANG” SEUMUR HIDUPNYA.
Membaca rangkaian kalimat itu, Kalingundil kemudian memandang berkeliling. Apaapa
yang telah dibacanya tadi sejak dari mulut goa sampai ke tepi kolam yaitu tulisan-tulisan
di dinding goa semuanya memang merupakan suatu ilmu silat dan ilmu pedang yang aneh.
Segala sesuatu yang ditemuinya di dalam goa itu memberikan kenyataan kepada Kalingundil
bahwa dulunya goa itu adalah tempat kediaman seorang sakti yang bersenjatakan pedang
bernama “Pedang Siluman Biru” itu. Tapi kenapa pedang itu kini hanya tinggal begitu rupa,
dan ke mana buntungnya yang lain?
Untuk keda kalinya Kalingundil membungkuk. Dengan tangan kirinya dijangkaunya
pedang Siluman Biru. Pada detik jari-jari tangannya memegang hulu senjata itu maka aneh
sekali mengalirlah suatu aliran yang membuat kekuatan Kalingundil dan keadaan tubuhnya
benar-benar pulih seperti sediakala! Bahkan bukan itu saja, kini tubuhnya juga terasa lebih
enteng. Dan ketika dicobanya menyiduk air kolam, lebih banyak kekuatan-kekuatan dan
keanehan-keanehan baru yang dialaminya!
Kalingundil gembira sekali.
Tanpa menunggu lebih lama dia berlutut di tepi kolam dan berkata: “Pemilik Goa
Siluman Biru, dimanapun kau berada, siapapun kau adanya, aku Kalingundil mengucapkan
terima kasih karena apa yang ada dalam goamu ini telah menyembuhkan aku dari sakit dan
luka yang aku alami. Hari ini aku – Kalingundil – mengharapkan segala kerelaanmu untuk
sudi mengangkat kau sebagai guru. Apa-apa yang tertulis di goamu ini akan kupelajari dengan
tekun…”
Demikianlah mulai hari itu dengan seorang diri dia menekuni setiap apa yang tertulis
di dinding goa. Ilmu silat dan ilmu pedang yang coba dipelajarinya seorang diri itu yang
hilang dan tak terbaca sehingga dari keseluruhan Ilmu Pedang Siluman yang dipelajari
Kalingundil, hanya sepertiganya saja yang berhasil didapat dan difahami oleh Kalingundil.
Namun demikian itupun sudah luar biasa sekali. Sehingga empat bulan kemudian ketika dia
keluar dari Goa Siluman itu, maka Kalingundil yang kini sudah berobah seratus delapan puluh
derajat dalam ilmu persilatan! Dan ini menambah keyakinan Kalingundil bahwa dia akan
berhasil menuntutkan sakit hatinya terhadap pendekar 212, Wiro Sableng!
-- == 0O0 == --
DUA
MENCARI seorang musuh di daratan pulau Jawa yang luas bukan suatu pekerjaan
mudah. Ratusan kilometer harus dijalani, puluhan bukit harus didaki dan dituruni, belasan
sungai musti diarungi, diseberangi belasan rimba belantara harus dimasuki dan diantara
semua itu puluhan halangan harus dihadapi. Halangan atau bahaya yang ditimbulkan alam
sendiri serta yang ditimbulkan oleh manusia-manusia yang hidup dalam itu, terutama sekali
dalam rimba dunia persilatan! Mungkin berbulan-bulan, mungkin pula bertahun-tahun baru
musuh besar itu berhasil dicari. Tapi sebaliknya mungkin pula itu tak pernah berhasil,
mungkin si pencari musuh besar itu akan tertimpa bahaya lebih dahulu dalam perjalanan dan
meregang nyawa sebelum dendam kesumat terbalaskan.
Kalingundil tahu semua itu. Tapi dia tidak khawatir. Dengan ilmu baru yang kini
dimilikinya, meski tidak sempurna, dia yakin akan sanggup untuk menghadapi segala sesuatu
dalam perjalanannya mencari Wiro Sableng pendekar 212, musuh besar yang telah membuat
tangannya buntung, yang telah membuat dia cacat seumur hidup! Disamping itu Kalingundil
memang sudah punya rencana tersendiri untuk menjelaskan persoalan dendamnya dengan
pendekar 212. Dia yakin akan dapat menemui pemuda sakti itu dan dia yakin pula bahwa
rencana besarnya untuk menuntut balas akan berhasil!
Pertama sekali ditemuinya Mahesa Birawa atau Suranyali di Pajajaran karena terakhir
sekali diketahuinya bekas pemimpin dan guru silatnya itu tengah berada di kerajaan itu.
Namun sampai di sana Kalingundil kecewa besar. Bahkan juga dendam yang ada di dalam
hatinya jadi tiada terkirakan bahwa Mahesa Birawa telah menemui ajalnya, mati ditangan
Wiro Sableng, sewaktu terjadi pemberontakan besar-besaran tempo hari.
Dengan segala dendam kesumat yang semakin dalam berurat berakarnya itu
Kalingundil meninggalkan Pajajaran. Diseberanginya sungai Kendang, diteruskannya
perjalanan ke bukit Siharuharu yang terletak tak berapa jauh dari kaki gunung.
Pada masa itu di puncak bukit Siharuharu terdapat sebuah perguruan silat yang
bernama Perguruan Teratai Putih. Perguruan ini baru tiga tahun berdiri tapi sudah
mendapat nama tenar di di sapanjang daerah perbatasan Jawa barat dan Jawa Timur. Bukan
saja karena Perguruan Teratai Putih ini didirikan untuk menolong kaum yang lemah dan
menghancurkan golongan hitam penimbul segala kebejatan dan malapetaka serta kemaksiatan
tapi juga adalah karena perguruan silat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang sejak sepuluh
tahun belakangan ini mendapat nama tenar dalam dunia persilatan. Tokoh ini ialah
Wirasokananta, seorang tokoh silat yang berumur lebih dari setengah abad.
Pada saat itu Wirasokananta berada di puncak Gunung Galunggung tengah bertapa
memperdalam ilmu bathin dan dan mempersuci diri dari segala kekhilafan-kekhilafan dan
dosa-dosa yang pernah dibuatnya selama hidupnya. Pimpinan perguruan diserahkannya pada
murid tertua, terpandai dan yang paling dipercayainya yaitu Gagak Kumara.
Perguruan Teratai Putih saat itu kelihatan diselimuti suasana ketenangan. Di dalam
rumah besar murid-murid perguruan yang berjumlah delapan orang, enam laki-laki dan dua
perempuan duduk bersila dengan khidmat mendengarkan apa uyang tengah dibacakan oleh
Gagak Kumara yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh guru mereka, mengenai sastra hidup,
kerohanian, kebathinan dan keduniaan.
Suara Gagak Kumara terang dan jelas, sedap didengarnya sehinga setiap nasihat dan
pelajaran yang dibacakannya dapat segera dimengerti oleh saudara-saudara seperguruannya
yang tujuh orang itu.
“Dalam hidup ini…,” membaca Gagak Kumara, “setiap manusia akan dan musti
melalui tiga tahap kehidupan. Pertama saat atau dimana dia dilahirkan dari rahim ibunya ke
atas dunia ini. Kedua tahap selama umur kehidupannya di dunia dan ketiga tahap dia
meninggalkan dunia ini, kembali pada asalnya atau mati….”.
Samapi di situ pembacaan Gagak Kumara maka di luar rumah besar terdengar suara
tertawa bergelak yang disusul dengan ucapan: “Tepat… tepat… sekali! Lahir, hidup dan mati!
Dibrojotkan ke duni malang melintang di dunia ini, dan akhirnya mampus! Ha… ha… ha….”.
Tentu saja suara yang lantang mengumandang berisi tenaga dalam yang tinggi dan
yang bernada menghina ini mengejutkan semua anak murid Perguruan Teratai Putih,
termasuk Gagak Kumara sendiri! Semuanya sama memalingkan kepala ke pintu pada saat
mana seorang laki-laki berpakaian lusuh, kotor, bermuka angker dan tangna kanannya
buntung berdiri diambang pintu.
“Sasudara, kau siapa…?” Tanya Gagak Kumara sesudah meneliti sebentar diri tamu
tak dikenal itu. Dia tetap duduk tenang di tempatnya dengan kitab masih terus di atas
pangkuannya.
“Tak perlu tanya dulu!,” menyahuti laki-laki diambang pintu seraya menyeringai
buruk. “Bicaraku belum habis…!”
Beberapa orang diantara murid-murid Perguruan Teratai Putih kelihatan menjadi
penasaran dan menggeser duduk mereka. Namun dengan membrei isyarat diam-diam Gagak
Kumara memberi kisikan agar jangan bertindak dulu.
Dan orang yang diambang pintu meneruskan ucapannya. Terlebih dahulu dengan jari
telunjuk tangan kirinya ditunjukkannya kitab yang ada dipangkuan Gagak Kumara. “Apa
yang tertulis di sana, apa yang kau baca tadi betul sekali! Lahir, hidup, mati! Tapi apa kalian
di sini tahu bahwa segala apa yang tertulis dan apa yang dibaca tadi itu hari ini akan kalian
alami sendiri…?”
“Apa maksudmu saudara?,” tanya Gagak Kumara. Masih tetap dengan tenang dan
tidak beringasan.
Si tangan buntung tertawa mengekeh. “Percuma saja kalau kalian memiliki kitab itu,
percuma saja kalian memilikinya kalau kalian tidak tahu apa mkasud kata-kataku! Kalian
sudah dilahirkan, kalian sudah pernah hidup malang melintang di dunia ini, tapi kalian masih
belum pernah merasakan kematian, belum pernah mencoba mampus! Nah… hari ini, untuk
membuktikan kebenaran isi kitab butut itu, aku –Kalingundil – akan bersedia menolong
kalian untuk mengetahui bagaimana rasanya mampus itu! Ha… ha… ha…!”
Maka kini berdirilah Gagak Kumara dari duduknya. Kitab yang dipangkuannya dilipat
dan diserahkan pada salah seorang saudara seperguruannya.
“Saudara,” kata Gagak Kumara pula. “Di dunia ini memang banyak orang-orang yang
berotak miring. Aku khawatir kau adalah salah seorang dari mereka dan kesasar datang ke
sini!”
Kekehan Kalingundil terhenti. Mukanya membesi. Rahang-rahangnya bergemeletuk.
Tangan kirinya bergerak ke pinggang dan sekejapan mata kemudian tangan itu telah
memegang sebilah pedang buntung yang memancarkan sinar biru. Pedang Siluman Biru!
Sekali lihat saja, meski senjata itu buntung, namun murid-murid Perguruan Teratai
Putih sama memaklumi bahwa pedang yang ditangan manusia tak dikenal dan mengaku
bernama Kalingundil itu adalah sejenis senjata sakti, sekalipun puntung tapi tetap berbahaya!
Tiba-tiba Kalingundil berteriak nyaring. Tubuhnya melompat ke muka, pedang
buntung bergerak, sinar biru membabat ke samping dan kini tidak sungkan-sungkan lagi
melepaskan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang tinggi. Namun
betapa terkejutnya Gagak Kumara ketika sambaran pedang buntung di tangan lawannya
membuat angin pukulan tenaga dalamnya terpental ke samping!
“Saudara-saudara!,” seru salah seorang anak murid Perguruan Teratai Putih. “Manusia
kesasar macam begini tak perlu dihadapi satu demi satu. Mari kita tumpas beramai-ramai!”
“Semuanya tetap ditempat!,” teriak Gagak Kumara. “Walau bagaimanapun kita harus
jaga naman Perguruan dan jangan mencemarkan nama guru! Pegang teguh sifat ksatria dunia
per…”. Kata-kata Gagak Kumara tak dapat diteruskan karena saat itu Kalingundil kembali
datang menyerang dalam satu jurus yang aneh. Bagaimanapun Gagak Kumara yang sudah
berilmu tinggi ini mengelak namun tetap saja ujung yang buntung dari pedang biru di tangan
lawan berhasil membabat pakaiannya dan menggores kulit dadanya! Pada detik goresan itu
maka Gagak Kumara merasakan badannya menjadi panas.
Kalingundil terkekeh.
“Pedang buntung ini Pedang Siluman Biru… mengandung racun yang jahat. Dalam
tiga jam nyawamu akan melayang! Ha… ha… ha…!”.
Terkejutlah Gagak Kumara. Demikian juga saudara-saudara seperguruannya yang
lain. Gagak Kumara cabut sebilah keris dari pingganngnya. Saudara-saudara seperguruannya
yang lainpun segera cabut keris pula dan kali ini Gagak Kumara tidak berkata apa-apa lagi.
Maka delapan anak murid Perguruan Teratai Putih dengan sebilah keris di tangan masingmasing
mengurung Kalingundil yang bersenjatakan sebilah pedang buntung sakti itu!
Kalingundil hanya tertawa buruk melihat hal ini.
“Sebaiknya kalian bunuh diri saja dari pada mampus di ujung patahan Pedang
Siluman-ku ini!”
“Pedang Siluman…,” desis anak-anak murid Perguruan Teratai Putih dalam hati.
Mereka pernah mendengar tentang kehebatan pedang ini dari guru mereka. Tapi dikabarkan
sejak beberapa tahun yang silam pedang itu lenyap dan kini muncul dalam keadaan buntung,
tapi benar-benar tidak mempengaruhi kehebatannya! Namun apapun senjata yang di tangan
lawan saat itu anak-anak murid Wirasokananta tidak mempunyai rasa gentar atau kecut
sedikitpun!
Kedelapannya menyerbu ke muka. Delapan keris berkiblat kearah delapan bagian dari
tubuh Kalingundil! Yang diserang menyeringai lalu membentak keras. Tubuhnya berkelebat,
sinar biru dari pedangnya menderu seputar badan! Tiga jeritan terdengar hampir bersamaan
dan tiga saudara seperguruan Gagak Kumara roboh mandi darah, nyawanya putus di situ juga!
Gagak Kumara kertakkan geraham. Darahnya mendidih oleh amarah. Namun goresan
luka telah membuat tubuhnya menjadi kehilangan tenaga. Dikerahkannya seluruh tenaga
dalam yang ada di tubuhnya. Dan mengamuklah gagak Kumara dengan segala kehebatannya.
Namun permainan pedang lawan benar-benar hebat, sulit dan sukar diduga jurus-jurusnya.
Satu jurus dimuka, dua orang saudara seperguruannya lagi roboh tanpa nyawa. Melihat ini
Gagak Kumara segera berseru pada dua orang saudara seperguruannya yang perempuan.
“Wurnimulan, Nyiratih… kalian segeralah tinggalkan tempat ini! Cepat lari
selamatkan diri…!”
Tapi kedua gadis itu meski betina adalah betina yang berhati jantan! Wurnimulan
menyahuti: “Hidup mati kita bersama kakak Gagak Kumara!.” Gadis ini itu berkelebat cepat
dan kirimkan satu tusukan cepat ke leher lawan.
Kalingundil tertawa. Dielakkannya tusukan keris itu dengan miringkan badan dan di
saat itu pula kaki kirinya bergerak.
“Bluk!”
Saudara seperguruan Gagak Kumara laki-laki yang terakhir terpelanting ke dinding.
Tulang dadanya melesak ke dalam dihantam tendangan Kalingundil. Jantung dan paruparunya
pecah! Nyawanya lepas!
Gagak Kumara sendiri saat itu sudah kehabisan tenaga. Luka di dadanya dan racun
pedang siluman sangat mempengaruhi keadaan tubuhnya ke segenap pembuluh darah! Dia
tahu sebentar lagi dia pasti akan menyusul saudara-saudara seperguruannya yang lain. Karena
itu sekali lagi dia berseru memberi ingat: “Wurnimulan! Nyiratih! Larilah sebelum
terlambat!”
“Gadis-gadis caritik ini tak akan bisa pergi jauh! Nasib kematian kalian sudah ada di
ujung Pedang Siluman-ku! Tapi sebelum mati keduanya akan kuhadiahkan dunia terlebih
dahulu!”
Kalingundil tertawa mengekeh! Gagak Kumara yang tahu maksud dan arti kata-kata
lawannya itu untuk kesekian kalinya berteriak memberi ingat namun kedua gadis itu tak mau
ambil perduli malahan menyerang dengan hebat! Kalingundil mengelak gesit beberapa kali.
Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, dengan mempergunakan hulu belakang senjata
di tangan kirinya laki-laki itu menotok Wurnimulan dan Nyiratih! Keduanya kini kaku tak
bergerak. Tahu malapetaka apa yang bakal menimpa kedua saudara seperguruannya itu,
dengan sisa tenaga yang ada, dengan segala kehebatan yang masih dimilikinya Gagak
Kumara menyerbu Kalingundil dari samping.
Yang diserang sambil putar badan berkata: “Ajalmu sudah di depan mata, maut sudah
di depan hidung! Baiknya bunuh diri saja…!”
“Terima kerisku lebih dulu, manusia durjana! Kami tidak ada permusuhan dengan
kau. Kenapa kekejamanmu lewat takaran macam begini…?!”
“Akh… sudahlah! Biar mulutmu kututup saja saat ini!,” kata Kalingundil pula.
Pedang Siluman Biru membabat ke perut Gagak Kumara, dialakkan dengan melompat
oleh murid Wirasokananta itu namun begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih
cepat, kini menderu ke muka Gagak Kumara, tak sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini!
-- == 0O0 == --

Tidak ada komentar:

Posting Komentar