Sabtu, 22 Agustus 2009

Hancurnya Istana Darah

 
BASTIAN TITO
Pendekar Nagageni 212
Wiro Sableng

DEBUR OMBAK memecah di pantai dan memukul lamping batu-batu karang terdengar abadi di udara pagi yang segar cerah. Kira-kira lima ratus tombak dari pantai
tampaklah berdiri sebuah bangunan besar dikelilingi tembok tinggi sepuluh tombak. Baik-bangunan maupun temboknya seluruhnya berwarna merah. Di daerah pantai seperti itu biasanya hampir tak pernah ditumbuhi pohon-pohon lain selain pohon kelapa. Namun
adalah satu kenyataan aneh karena di Iuar tembok yang mengelilingi bangunan besar tadi tumbuh berkeliling dua puluh satu pohon beringir raksasa. Bila angin bertiup dari
laut, daun-daun pohon beringin bergemerisik keras, akar-akar gantungnya bergoyang-goyang deras. Semua ini menimbulkan suasana yang menyeramkan. Di samping itu,
setiap angin bertiup maka menebarlah bau busuk dan anyir dari jurusan bangunan berwarna merah itu. Bila seseorang mendekati tembok dan bangunan di tepi pantai sunyi itu, pastilah dia akan terkejut dan berdiri bulu tengkuknya. Akan goyah lututnya lalu akan lekas-lekas mengambil langkah seribu. Betapakan tidak! Warna merah pada atap, tembok dan setiap sudut bangunan besar bukanlah warna cat atau kapur, tetapi darah! Lapisan darah inilah yang menjadi sumber bau busuk dan amis menjijikkan serta mengerikan, menebar di sekitar situ sampai puluhan bahkan ratusan tombak jauhnya!
Matahari pagi mulai naik. Air laut kelihatan berkilau-kilau. Darah merah di tembok dan di bangunan
besar di tepi pantai berkilat-kiiat sedang bau busuk amis semaki menjadi-jadi. Kira-kira sepenanakan nasi
berlalu, dari arah timur, berpapasan dengan tiupan angin laut, terdengarlah suara derap kaki-kaki kuda. Tak
selang berapa lama di sebuah liku-liku jalan kecil yang terletak di antara bukit-bukit karang tinggi dan
runcing tampaklah dua penunggang kuda memacu binatang tunggangan masing masing ke jurusan tembok
bangunan merah.Baik bulu kuda maupun pakaian kedua penunggangnya, keseluruhannya berwarna merah
basah agak bermninyak-minyak. Sengaja dibasahi ... dengan darah.
Mereka mengenakan topi berkuncir seperti tarbus, yang juga dibacahi dengan darah. Dan di bawah topitopi
itu paras masing-masing teramat mengerikan untuk dipandang karena telah dipupuri dengan darah yang
telah membeku!
Salah seorang dari kedua penunggang kuda itu membawa sesosok tubuh berpakaian hitam yang dimelintangkan
di punqqung kuda dalam keadaan pingsan dan siapa pula orang yang menggeletak tak berdaya
berpakaian hitam ini!
Kuda-kuda merah lewat di antara dua pohon beringin raksasa dan akhirnya sampai di hadapan sebuah
pintu besar di tembok bangunan. Pada bagian atas pintu merah ini terdapat tiga deretan huruf-huruf yang
terbuat dari tulang-tulang manusia yang telah dicat merah dan berbunyi. "Pintu Gerbang Darah"
Salah seorang dari penunggang kuda yang berhenti di hadapan pintu gerbang mengangkat tangan
kanannya tinggi-tinggi lalu dari mulutnya terdengar situ pekik aneh yang disusul dengan suara lantang,
"Atas nama Raja Darah, bukalah pintu gerbang!"
Untuk beberapa lamanya suara pekik serta seruan marwsia itu masih mengiang-ngiang di udara pantai
yang mengandung garam tanda bahwa orang itu telah mengeluarkan suara dengan disertai tenaga dalam yang
tinggi.
Sesaat kemudian dari belakang "Tembok Darah" demikian nama tembok merah yang mengelilingi
bangunan besar itu terdengar suara pekik balasan dan disusul oleh satu pertanyaan yang membentak keras,
"Siapa yang datang!"
"Hulubalang Keempat dan Kelima!"
"Kalian habis dari mana?"
"Menjalankan tugas Raja!"
Tak lama kemudian terdengar suara berkereketan. Pintu Gerbang Darah terbuka. Bersamaan dengan itu
dari bagian bawah pintu menjorok keluar sebuah jambatan kayu besi yang juga penuh dengan darah dan
bertuliskan "Jembatan Darah."
Ternyata antara Pintu Gerbang Darah dan bangunan besar di seberangnya dipisahkan oleh sebuah parit
selebar lima belas tombak dan dalamnya lebih dari sepuluh tombak. Parit ini dibuat sedemikian rupa
mengelilingi bangunan besar, dialiri dengan air yang telah menjadi merah karena bercampur darah dan di
dalamnya berenanglah ratusan ular berbisa dari berbagai jenis yang panjangnya mulai dari satu jengkal
sampai lima meter! Semua orang di situ mengenal parit itu dengan sebutan "Parit Kematian."
Kedua orang yang mengaku Hulubalang tadi melewati Jembatan Darah dengan cepat dan sampai di
tangga bangunan besar. Di belakang mereka Jembatan Darah masuk kembali ke tempatnya sedang Pintu
Gerbang Darah menutup dengan sendirinya.
Dengan memanggul tubuh manusia berpakaian hitam itu, Hulubalang Keempat diikuti Hulubalang
Kelima menaiki anak tangga bangunan besar yang pada sebelah atasnya terdapat tulisan, "ISTANA
DARAH." Huruf-huruf tulisan inipun dibuat dari tulang belulang manusia yang diberi warna merah dengan
darah!
Setelah melewati beberapa ruangan, kedua Hulubalang sampai di satu ruangan besar yang pada bagian
tengahnya terdapat sebuah kolam yang airnya berwarna merah dan busuk. Di tengah-tengah kolam berdirilah
sebuah patung raksesi dalam keadaan telanjang bulat dan dari bagian di antara kedua pangkal pahanya
senantiasa memancur cairan warna merah.
Di depan sana terdapat sebuah gordeng besar yang basah oleh darah. Tetesan-tetesan darah jelas kelihatan
berjatuhan ke lantai ruangan. Ruangan itu bukan saja busuk luar biasa hawanya tetapi juga pengap membuat
seseorang yang tak biasa akan sesak bernafas. Namun anehnya kedua Hulubalang Darah itu tenang-tenang
saja seolah-olah udara macam begitu tidak mengganggu jalan pernafasan mereka barang sedikitpun.
Di hadapan "Tirai Darah" mereka berdiri dengan sikap keren, lalu membuka topi masing-masing dan
menjura.
"Paduka Yang Mulia Raja Darah," kata Hulubalang Keempat. "Kami berdua Hulubalang Keempat dan
Kelima, datang menghadap guna melaporkan hasil tugas yang telah dibebankan kepada kami!"
Sunyi sesaat.
Lalu dari ruangan di belakang Tirai Darah terdengar satu suara laki-laki yang parau sember dan perlahan
namun hebatnya suara yang parau serta perlahan ini sanggup membuat dinding-dinding ruangan berwarna
merah jadi bergetar. Tirai Darah bergoyang-goyang sedang cairan merah di dalam Kolam Darah tampak
bergelombang-gelombang. Nyatalah bahwa siapapun adanya manusia di belakang Tirai Darah itu memiliki
tenaga dalam yang luar biasa hebatnya!
"Beri tahu hasil tugas kalian!" tiba-tiba terdengar satu suara.
Mendengar ini Hulubalang Darah Keempat membuka mulut memberi jawaban.
"Kami berdua telah berhasil menangkap hidup-hidup tokoh silat gotongan hitam daerah timur yang
bergelar Sepuluh Jari Maut! Sekarang dia berada dalam keadaan pingsan dan ditotok!"
"Bagus!" memuji orang di balik Tirai Darah lalu terdengar suara kekehannya. "Jebloskan dia dalam
tahanan. Gantung kaki ke atas kepala ke bawah dan nyalakan api di bawah batok kepalanya! Biar dia tahu
rasa!" Ucapan itu ditutup dengan suara tertawa mengekeh seperti tadi lalu menyusul caci maki kutuk serapah
aneh. "Keparat… sialan! Laknat …. haram jadah! Terkutuk ... ! Mampuslah semua! Semua…!"
Ucapan kotor itu masih terus terdengar sampai kira-kira sepeminuman teh. Bila kutuk serapah itu
berhenti maka Hulubalang Darah Kelima cepat-cepat membuka mulut.
"Perintah Paduka Yang Mulia segera kami laksanakan!"
Setelah menjura hormat, kedua Hulubalang tadi beserta tawanannya segera meninggalkan tempat
tersebut!
***
2
HULUBALANG Darah Keempat dan Kelima memasuki sebuah lorong menurun. Di kiri kanan lorong ini
banyak sekali cabang cabang lorong yang kesemuanya diterangi dehgan lampu minyak. Dimana-mana
kelihatan warna merah darah dan di sini udara jauh lebih pengap dan lebih busuk dari ruangan ruangan lain
dalam Istana Darah.
Mereka sampai di hadapan sebuah pintu merah terbuat dari besi dan dijaga oleh dua orang Hulubalang
Darah yang memiliki tampang seram bengis. Betapapun bengis gelaknya kedua pengawal pintu besi itu,
namun melihat siapa yang datang keduanya segera memberi hormat.
"Atas nama Raja Darah harap kalian buka pintu Penjara Darah!" kata Hutubalang Kelima.
Kedua Hulubalang pengawal meneliti orang berbaju hitam yang dipangqil Hulubalang Keempat. Salah
salah seorang dari mereka bertanya.
"Siapa dia?"
"Sepuluh Jari Maut," jawab Hulubalang Keempat dan pengawal yang bertanya ladi lalu memperhatikan
sepuluh jari orang yang dipanggul. Kesepuluh jari itu berkuku panjang dan berwarna hitam legam. Sementara
itu pengawal yang satu lagi dari dalam sabuknya mengeluarkan seuntai anak anak kunci. Dengan salah satu
anak kunci dibukanya pintu besi lalu masuk lebih dulu sedang Hulubalang Keempat dan Kelima menyusul
mengikutinya.
"Dia adalah tahanan yang keempat sampai." kata pengawal penjara sambil berjalan. Ruangan yang
rnereka lewati merupakan sebuah gang selebar tiga tombak dari batu karang atos yang dicat dengan darah.
Pada dinding kiri kanan terdapat deretan pintu-pintu besi merah. Deretan-deretan pintu sebelah kiri diberi
berangka ganjil sedang deretan sebelah kanan berangka genap. Inilah ruangan Penjara Darah yang terletak di
bawah tanah dan memiliki enam puluh buah kamar tahanan.
Di depan pintu yang bertuliskan angka 24 pengawal itu berhenti dan mengeluarkan untaian anak kunci
lalu membuka pintu besi. Begitu pintu terbuka dari dalam ruangan menyambarlah hawa dingin lembab yaag
busuk luar biasa. Lantai dan dinding serta langit-langit ruangan tahanan merah oleh darah, sebagian masih
merupakan cairan sebagian lagi telah kering membeku.
"Nyalakan lampu!" perintah Hulubalang Darah Kelima.
Pengawal segera menyalakan lampu minyak dan kamar tahanan itu kini menjadi cukup terang. Pada
dinding sebelah kiri terdapat sebuah rak batu. Di atas rak ini terletak berbagai macam benda penyiksa.
Pada langit-langit ruangan tampak sebuah kerekan lengkap dengan tali kawat yang besarnya dua kali ibu
jari. Dengan tali kawat ini sepasang kaki tawanan diikat erat-erat lalu tubuhnya dikerek hingga kini jadi
tergantung kaki ke atas kepala ke bawah.
Dari rak batu Hulubalang Kelima mengambil sebuah benda berbentuk pendupaan besi yang berisi
potongan-potongan benda hitam sebentuk batu bara. Ketika disulut dengan api benda hitam ini langsung
terbakar menyala.
"Kita tunggu sampai dia siuman," berkata Hulubalang Darah Keempat.
Tak berapa lama kemudian tawanan yang bergelar Sepuluh Jari Maut itu kelihatan membuka sepasang
matanya perlahan-lahan. Mata itu terbuka semakin lebar sewaktu keterkejutan menguasai dirinya. Sepuluh
Jari Maut melihat dunia ini terbalik. Kepalanya seperti mau karena jalan darahnya menyungsang sedang di
sekelilingnya tampak tiga orang berpakaian serba merah bertampang bengis. Rongga hidungnya sementara
itu disambar oleh bau busuk luar biasa.
"Di mana aku ...?" desis Sepuluh Jari Maut. Dicobanya menggerakkan anggota-anggota tubuhnya tapi tak
bisa. Sekujuar tubuhnya kaku tegang, sedikitpun tak dapat digerarkkan. Sadarlah Sepuluh Jari Maut bahwa
dirinya berada di bawah pengaruh totokan. Dicobanya mengalirkan tenaga dalam untuk memusnahkan
totokan tersebut namun sia-sisa. Totokan yang menguasai dirinya bukan totokan sembarangan.
Sepuluh Jari Maut memandang ke atas dilihatnya sebuah roda kerekan besi yang tergantung di langitlangit
ruangan, diganduli kawat besar. Ujung kawat itulah yang telah mengikat kedua kakinya dan sakitnya
bukan main. Dia memandang kembali pada tiga manusia berpakaian merah basah dan bau itu. Akhirnya dia
ingat. Sebelumnya dia telah bertempur dengan dua di antara tiga manusia tersebut. Dalam jurus kedua puluh
tiga dia terpaksa harus menerima satu jotosan keras dari lawan yang tepat mengenai pelipisnya. Selagi dia
berdiri nanar dengan pandanyan berbinar-binar, musuhnya yang lain telah menotoknya hingga dia tidak
berdaya. Lalu kepalanva dipukul hingga akhirnya dalam keadaan tertotok begitu rupa dia jatuh pirgsan.
Nyatalah bahwa kedua musuh tak dikenalnya itu telah membawanya ke tempat tersebut dan menawannya.
Dendam dan marah memuncak dalam diri Sepuluh Jari Maut. Rahang-rahangnya menonjol bergemeletukan.
"Tempat celaka apa ini namanya….?!" Sentak Sepuluh Jeri Maut.
Hulubalang Darah Kelima dan Keempat datang mendekat. Di tampang masing-masing menyungging
seringai bengis.
"Celaka bagimu, bukan bagi kami!" ujar Hulubalang Darah Kelima.
"Jahanam! Kalian mau bikin apa terhadapku? Aku tidak punya permusuhan apa-apa dengan kalian!"
Plaak!
Satu hantaman tamparan yang keras mendarat di pipi Sepuluh Jari Maut. Untuk beberapa lamanya dia
terbuai-buai dan berputar-putar sedang pemandangannya mulai gelap.
"Tak tahu diri. Sudah hampir mampus masih berani bicara memaki!" sentak Hulubalang Darah Keempat.
"Puaah!" Sepuluh Jari Maut meludahi muka Hulubalang Darah Keempat. "Beraninya terhadap musuh
yang tidak berdaya!"
"Setan alas!" teriak Hulubalang Darah Keempat. Tinju kiri kanannya menghujani muka tokah silat berbaju
hitam itu. Darah mengucur dari hidung, mulut dan matanya. "Seret pendupaan itu kemari!"
Hulubalang pengawal menyeret pendupaan yang dikobari api lalu melekkannya tepat di bawah kepala
Sepuluh Jari Maut.
"Tadi kau bertanya di mana kau berada," ujar Hulubalang Darah Kelima, ''Ketahuilah bahwa saat ini kau
telah dijebloskan ke dalam neraka dunia bernama Penjara Darah!"
Sepuluh Jari Maut kertakkan rahang. Mulutnya dikatupkan rapat-rapat menahan panasnya kobaran api
yang menjilat-jilat di bawah kepalanya. Hanya seketika saja dia dapat menahan rasa sakit. Sesaat kemudian
dari mulutnya mulai keluar raungan kesakitan yang menggidikkan. Di lain pihak tiga orang Hulubalang yang
ada di situ tertawa gelak-gelak.
"Manusia-manusia bejat!" teriak Sepuluh Jari Maut. "Jika aku mati di tangan kalian, kelak aku akan
menjelma menjadi setan dan mencekik kalian semua!"
"Kalau begitu biar kupercepat niatmu untuk jadi setan itu!" kata Hulubalang Darah Keempat. Lalu kawat
kerekan diulurkannya ke bawah hingga kepala tawanan itu semakin dekat dengan kobaran api dalam
pendupaan besi. Rambutnya yang menjulai mulai terbakar dan menebar bau sangit di ruangan itu. Dari mulut
Sepuluh Jari Maut tiada hentinya terdengar jeritan yang mengerikan hingga suaranya menjadi parau. Saat itu
dirasakannya kulit kepala dan tulang tengkoraknya seperti meleleh! Kemudian nafas laki-laki ini mulai
megap-megap. Darah yang keluar dari hidung, mulut, mata dan telinganya menetes-netes di atas api dalam
pendupaan besi, menimbulkan suara "cees" yang tiada hentinya.
"Sudah tiba seatnya memanggil tukang-tukang darah itu," kata Hulubalang Darah Keempat pada
kawannya Hulubalang Darah Kelima.
Hulubalang Darah Kelima mengangguk lalu melangkah ke pintu. Pada sanding pintu sebelah atas
terdapat sebuah tombol merah. Tombol ini selalu terdapat dalam setiap kamar tahanan yang sekaligus
merangkap ruang penyiksaan.
Tak lama setelah Hulubalang Darah Kelima menekan tombol itu maka masuklah dua laki-laki yang
membawa ember-ember besar, masing-masing mengenakan jubah merah. Salah seorang dari mereka, yang
barusan mengeluarkan sebuah pisau kecil tajam berpaling pada Hulubalang Darah Keempat dan Kelima.
"Laksanakan tugas kalian cepat!" Kata Hulubalang Darah Keempat. Lalu bersama Hulubalang Darah
Kelima dia meninggalkan ruangan tersebut.
Yang tinggal di dalam ruangan tahanan itu kini adalah Hulubalang pengawal dan kedua laki-laki berjubah
merah. Ember diletakkan di lantai. Orang berjubah di sisi kiri keluarkan segulung pipa karat warna merah.
Dia menggoyangkan kepalanya pada kawannya yang memegang pisau. Si pemegang pisau ini segera
mendekati Sepuluh Jari Maut, lalu craass …! Dengan pisau kecil itu diputusnya urat nadi di leher Sepuluh
Jari Maut. Darah menyembur. Pipa karet cepat dihubungkan dengan nadi yang putus. Darah dari tubuh
Sepuluh Jari Maut mengalir melewati pipa karet terus masuk ke ember sedang Sepuluh Jari Maut sendiri saat
itu megap-megap dan akhirnya meregang nyawa dengan cara mengenaskan.
3
LAKSANA anak-anak panah yang lepas dari busurnya, dua ekor kuda coklat itu berlari
kencang membawa penunggangnya masing-masing. Penunggang kuda yang pertama adalah seorang pemuda
berusia dua puluh tahunan, berpakaian biru sedang kawannya seorang dara berkulit hitam manis dan
mengenakan pakaian ringkas kuning muda.
"Bisakah kita sampai sebelum malam ke tempat guru?" bertanya sang dara tanpa memalingkan
kepalanya.
"Kurasa bisa. Tapi agaknya kita bakal mendapat kesiangan di tengah jalan, adikku," menjawab si
pemuda.
"Halangan apa maksudmu?"
"Lihatlah ke langit ... "
Gadis itu mendongak ke atas. Seat itu baru disadarinya bahwa iangit di atas sana telah gelap oleh
gumpalan-gumpaian awan hitam. Kemendungan meliputi hampir seluruh tempat.
"Kalau hanya hujan itu tidak menjadi halangan bukan?" ujar sang dara.
"Memang bukan halangan. Tapi jalan yang bakal kita tempuh, yang mendaki dan berbatu licin berlumut,
serta diapit oleh jurang-jurang terjal ... Itulah halangan yang kumaksudkan."
"Mudah-mudahan saja hujan tidak turun dalam waktu cepat," kata si gadis lalu menyentakkan tali kekang
kudanya. Binatang itu mendongakc ke depan dan mempercepat larinya. Pohon-pohon yang dilalui laksana
terbang ke belakang.
Kira-kira sepenanakan nasi berlalu ternyata hujan belum juga turun walau angin bertiup keras menderuderu.
Sewaktu si gadis mendongak lagi ke atas dilihatnya gumpalan-gumpalan awan hitam mulai pupus
sekelompok demi sekelompok. Udara yang tadi mendung kini berangsur cerah.
"Nah, apa kataku! Kita beruntung. Hujan tak jadi turun," kata gadis itu pula.
Si pemuda hanya tersenyum mendengar ucapan adik seperguruannya itu, lalu berkata, "Kalau begitu kita
memang bisa sampai sebelum malam turun. Berarti kau bakal bertemu dengan orang yang kau kasihi lebih
cepat. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Sang dara cemberut. Kedua pipinya kelihatan menjadi merah. Pemuda yang berkuda disampingnya
tersenyum. Namun laksana direnggutkan setan demikianlah pupusnya senyuman si pemuda sewaktu di
hadapan mereka tiba-tiba berkelebat dua bayangan merah dan dua sosok tubuh manusia aneh sesaat
kemudian sudah berdiri menghadang di tengah jalan.
Kedua saudara seperguruan itu sama-sama terkejut bukan main dan serta merta menghentikan kuda
masing-masing. Bau busuk menyambar dari tubuh para penghadang yang mengenakan pakaian merah basah
sedang wajah masing-masing ditutupi oleh cairan yang setengah membeku.
Salah seorang penghadang bertolak pinggang dan maju mendekati.
"Supaya tidak banyak susah, lekas kalian serahkan diri dan jangan melawan!" katanya.
"Kalian siapa dan punya maksud apa?" bertanya pemuda baju biru dengan nada tinggi dan sikap gagah.
"Kami adalah Hulubalany-Hulubalang Istana Darah!" jaweb orang yang bertolak pinggang.
"Istana Darah?!" mengulang si pemuda dengan terkejut.
Kedua Hulubalang Darah tertawa mengekeh. "Kalau sudah tahu kenapa tidak lekas turut perintah?"
"Turut perintahmu? Siapa yang sudi. Lekas minggir. Kami mau meneruskan perjalanan!" membentak
gadis berbaju kuning.
"Ohoo ... galaknya!" jawab Hulubalang Darah yang menghadang dengan bertolak pinggang.
"Kami tidak punya waktu banyak untuk bicara segala pepesan kosong. Beri jalan. Kalau tidak kalian akan
menyesal!" Kini pemuda baju biru berikan perlingatan.
"Pemuda sombong tekebur! Kau tak akan kuberi hidup lebih lama!" Hulubalang Darah yang tegak di
sebelah kanan menerjang ke depan dengan gerakan cepat sekali.
Tak ayal si pemuda segera cabut pedang di pinggangnya. Sinar putih mencuat memapas serangan
Hulubalang Darah. Tapi percuma. Di lain kejap terdengar jerit pemuda baju biru itu. Tubuhnya mencelat
mental dari atas punggung kuda yang ditungganginya, sedang pedangnya ikut terlepas mental.
"Manusia rendah! Matilah!"
Satu bentakan datang dari samping yang disusul dangan sembaran pedang ke arah batang leher
Hulubalang Darah. Yang diserang cukup dibikin kaget namun tidak menjadi gugup. Di Istana Darah dia
adalah Hulubaiang Darah Ketujuh yang mempunyai kepandaian tidak rendah. Sekali berkelit dia berhasil
mengelakkan sambaran pedang, kemudian dengan satu gerakan kilat dia berhasil memukul mental pedang di
tangan lawan. Si gadis mengeluh kesakitan sambil pegangi lengannya yang menjadi merah bengkak.
Hulubalang Darah Ketujuh menyeringai mengejek.
"Gadis manis sepertimu ini tidak seharusnya berlaku begitu galak terhadapku. Nah sekarang kalian mau
menyerah baik-baik atau bagaimana?"
"Baik, aku akan menyerah," jawab si gadis, "tapi…" digerakkannya tangannya.
"Tapi apa?" tanya Hulubalang Darah Ketujuh.
"Makan dulu jarumku ini!" seru sang dara baju kuning dan sesaat kemudian begitu dia gerakkan tangan
kanan puluhan jarum berwarna kuning melesat tanpa suara ke arah dua belas jalan darah di tubuh Hulubalang
Darah Ketujuh!
"Gadis binal!" hardik Hulubalang Darah Ketujuh marah. Dikebutkannya lengan pakaiannya. Puluhan
jarum yang menyerang serja merta mental dilanda angin dahsyat yang keluar dari ujung lengan pakaian itu!
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, pemuda baju biru berseru. "Mia! Larilah! Lari lekas! Biar
aku yang menghadapi begundal-begundal jahat ini." Dari pertempuran yang baru berjalan beberapa gebrakan
itu si pemuda sudah menyadari bahwa walau bagaimanapun tidak mungkin bagi mereka untuk menghadapi
kedua lawan yang memiliki kepandaian begitu tinggi. Karenanya demi keselamatan adik seperguruannya dia
bersedia korbankan nyawa.
"Tidak kangmas! Mati bersama di tempat ini adalah lebih baik daripada lari!" jawab Miani yang
membuat kakak seperguruannya menjadi kaget. Gadis ini rupanya juga sudah menyadari nasib apa yang
bakal dihadangnya namun sedikitpun tidak merasa gentar. Dengan sepasang tangan kosong terpentang Miani
maju ke hadapan Hulubalang Darah Ketujuh,
Yang ditantang ganda tertawa dan berpaling pada temannya. "Hulubalang Sebelas, kau bereskan pemuda
itu. Aku akan tangkap hidup-hidup perawan galak ini dan membawanya ke Istana!"
Hulubalang Darah Kesebelas maju ke hadapan pemuda baju biru. Pemuda ini berada dalam keadaan
terluka parah di sebelah dalam akibat jotosan Hulubalang Ketujuh tadi. Namun demikian dengan sisa
kekuatan yang ada dan penuh keberanian si pemuda melangkah ke hadapan Hulubalang Kesebelas. Tangan
kirinya tiba-tiba melepaskan dua puluh jarum biru sedang tangan kanan diayunkan ke batok kepala lawan.
Serangan ini disertai dengan satu loncatan cepat sehingga Hulubalang Kesebelas tidak berani bertindak
sembrono.
Dengan berkelit ke samping dan seraya melepaskan satu pukulan tangan kosong ke udara, seranganserangan
jarum biru berhasil dilewatkan oleh Hulubalang Darah Kesebelas. Untuk menghadapi serangan
lawan yang kedua yaitu jotosan keras pada batok kepalanya, Hulubalang Darah Kesebelas memukulkan
tangannya ke atas dengan mengandalkan setengah bagian tenaga dalamnya.
Dalam keadaan terluka begitu rupa bentrokan lengan adalah sangat berbahaya bagi pemuda baju biru.
Walaupun tenaga dalamnya lebih tinggi sekalipun belum tentu keselamatan dirinya akan terjamin. Karenanya
begitu lawan memukulkan lengannya ke atas, pemuda baju biru menjejak tanah dan melompat satu tombak.
Bersamaan dengan itu kaki kanannya menderu ke dada lawan!
Hulubalang Darah Kesebelas tidak menyangka kalau bakal mendapat serangan hebat begitu rupa. Saat itu
dia tengah memusatkan perhatian dan sebagian tenaga dalamnya untuk melakukan bentrokan lengan.
Tubuhnya telah mendongak ke atas dan dalam kedudukan seperti itu cukup sulit untuk menyelamatkan
dadanya dari tendangan si pemuda. Namun adalah percuma dia menjabat kedudukan Hulubalang di Istana
Darah kalau serangan begitu saja dia tidak sanggup menghadapinya.
Dengan berteriak keras dahsyat Hulubalang Darah Kesebelas berkelebat. Tubuhnya hanya merupakan
bayangan merah dan sebelum pemuda baju biru dapat memastikan di sebelah mana lawannya berada, tahutahu
satu pukulan menghantam dadanya, tepat di bekas jotosan Hulubalang Ketujuh sebelumnya. Tak ampun
lagi pemuda itu muntah darah dan tersungkur ke tanah!
"Kangmas Widura!" pekik Miani.
"Mia! Lari! Selamatkan dirimu!" seru pemuda baju biru yang bernama Widura sementara nafasnya mulai
megap-megap.
Bukannya lari sebaliknya Miani malah menubruk kakak seperguruannya. Namun sebelum dia sempat
berbuat suatu apa, satu totokan telah bersarang di punggungnya membuat gadis ini melosoh tak berkutik lagi.
Hanya mulutnya saja yang masih bisa mengeluarkan suara memaki dan mengutuki kedua manusia berbaju
merah itu.
Hulubalang Darah Ketujuh membungkuk merangkul tubuh Miani lalu memanggulnya di bahu kiri. Dia
berpaling pada kawannya dan menggoyangkan kepala. "Lekas selesaikan pekerjaanmu."
Dari balik pakaiannya Hulubalang Darah Kesebeias mengeluarkan sebuah kantong karet yang pada salah
satu ujungnya terdapat pipa sepanjang tiga jengkal. Setelah mengeluarkan pula sebilah pisau kecil yang amat
tajam dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari maka diapun melangkah mendekati tubuh Widura yang saat
itu tidak berkutik dan menggeletak di tanah tengah meregang nyawa.
Hulubalang Darah Kesebelas membungkuk. Tangannya yang memegang pisau bergerak ke pangkal leher
Widura.
"Manusia biadab! Laknat terkutuk! Apa yang kau lakukan itu?!" teriak Miani sewaktu menyaksikan
bagaimana Hulubalang Darah Kesebelas memutus urat nadi di leher Widura dengan pisau kecil lalu
menghubungkan ujung pipa karet dengan urat nadi yang menyemburkan darah. Sesaat kemudian kantong
karet itu kelihatan mulai menggembung tanda darah korban telah mengalir masuk.
Hulubalang Darah Ketujuh menepuk-nepuk pinggul Miani sambil tertawa gelak-gelak.
"Gadis molek. Kau tenang sajalah. Bagusnya berhenti berteriak agar suaramu yang merdu tidak menjadi
parau!"
"Kalian manusia-manusia terkutuk! Lebih kejam dan lebih buas dari binatang!" teriak Miani lalu berulang
kali diludahinya muka Hulubalang Darah Ketujuh.
"Sialan! Kalau kau bukan gadis manis sudah tadi-tadi kuremas hancur mulutmu!" hardik Hulubalang
Darah Ketujuh marah. Ditdriknya pakaian kuning si gadis dan disekanya mukanya yang penuh ludah.
"Seharusnya kau merasa gembira dan bangga karena darah kawanmu itu mendapat kehormatan untuk dipakai
sebagai cat istana Darah!"
Tiga perempat kantong karet telah penuh dengan darah Widura. Ketika tak ada lagi darah yang mengalir
masuk ke dalam kantong itu Hulubalang Darah Kesebelas mencabut pipa lalu membuhulnya. Dia berdiri dan
memanggul kantong berisi darah itu.
"Atas semua hasil ini kita pasti mendapat pahala besar dari Raja," kata Hulubalang Darah Kesebelas
dengan tertawa lebar.
"Yang jelas," menyahuti Hulubalang Darah Ketujuh. "Gadis manis ini akan dihadiahkan padaku. Dia
menelentang di tempat tidurku sebelum keputusan Raja datang untuk mencabut nyawanya!"
Merinding bulu roma Miani mendengar ucapan ;tu. Dia berteriak keras. "Lepaskan aku! Jangan bawa ke
Istana Darah! Kalian jahanam! Lepaskan aku!"
Hulubalang Darah Ketujuh cuma tersenyum. Diciumnya tengkuk gadis itu penuh nafsu lalu bersama
kawannya meninggalkan tempat itu dengan cepat.
 
***
Selanjutnya download di  sini ya :link : HancurnyaIstanaDarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar