Jumat, 07 Agustus 2009

Keris Tumbal Wilayuda

Keris Tumbal Wilayuda
 IV
WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Karya: BASTIAN TITO
PROLOG

SUARA beradunya berbagai macam senjata, suara bentakan garang ganas yang
menggeledek di berbagai penjuru, suara pekik jerit kematiansera suara mereka
yang merintih
dalam keadaan terluka parah dan menjelang meregang nyawa, semuanya menjadi
satu
menimbulkan suasana maut yang menggidikkan!
Di mana-mana darah membanjir! Di mana-mana bertebaran sosok-sosok tubuh tanpa
nyawa! Bau anyir darah memegapkan nafas, menggerindingkan bulu roma!
Pertempuran itu
berjalan terus, korban semakin banyak yang bergelimpangan, mati dalam cara
berbagai rupa.
Ada yang terbabat putus batang lehernya. Ada yang robek besar perutnya sampai
ususnya
menjela-jela. Kepala yang hampir terbelah, kepala yang pecah, dada yang
tertancap tombak.
Kutungan-kutungan tangan serta kaki!
Di dalam istana keadaan lebih mengerikan lagi. Mereka yang masih setia dan
berjuang
mempertahnkan tahta kerajaan, yang tak mau menyerah kepada kaum pemberontak
meski
jumlah mereka semakin sedikit, terpaksa menemui kematian, gugur dimakan
senjata lawan!
Istana yang pagi tadi masih diliputi suasana ketenangan dan keindahan, kini
tak beda
seperti suasana dalam neraka! Mayat dn darah kelihatan di mana-mana. Pekik
jerit kematian
tiada kunung henti. Perabotan istana yang serba mewah porak poranda. Pihak
yang bertahan
semakin terdesak. Agaknya dalam waktu sebentar lagi mereka akan tersapu rata
dengan lantai
yang dulu licin berkilat tapi kini dibanjiri oleh darah!
“Wira Sidolepen dan Braja Paksi, menyerahlah!,” teriak seorang laki-laki
berbadan
kekar dan berkumis melintang. Seperti kedua orang yang dibentaknya itu diapun
mengenakan
pakaian perwira kerajaan.
Bradja Paksi -- kepala balatentara Banten -- menggerang dan balas membentak.
"Bangsat pemberontak! Meski nyawaku lepas dari tubuh, terhadapmu aku tak akan
menyerah!” Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
Parit Wulung -- laki-laki yang berkumis melintang itu -- tertawa bergelak.
Sebelumnya
dia adalah perwira pembantu atau wakil kepala balatentara Banten tapi yang
hari itu telah
tersesat dan memberontak terhadap kerajaan !
"Mengingat hubungan kita sebagai ipar, aku masih mau tawarkan keselamatan
buat roh
busukmu! Tapi jika kau sendiri yang hendaki kematian, jangan menyesal!”
Parit Wulung menerjang ke muka. Pedangnya menyambar mengirimkan satu serangan
yang cepat dan dahsyat. Tapi dengan sebat Bradja Paksi menangkis dengan
Pedangnya pula.
“Trang!”
Bunga api berkilauan.
Tangan Parit Wulung tergetar hebat. Dia mundur selangkah namun lawan
menyusuli
dengan dua rangkai serangan berantai yang membuat gembong pemberontak ini
terdesak ke
tiang besar di ujung kanan. Sebagai kepala Balatentara Banten maka ilmu silat
dan kesaktian
Bradja Paksi lebih tinggi dari wakilnya yang memberontak itu. Bagaimanapun
cepat dan
sebatnya Parit Wulung putar pedang tetap saja dia tak bisa ke luar dari
serangan-serangan
lawan, apalagi ketika dengan kalap Bradja Paksi sertai serangan-serangan
pedangnya dengan
pukulan-pukulan tangan kosong. Namun itu tak berjalan lama.
Seorang berbadan kate, berselempang kain putih yang kulit mukanya sangat
hitam dan
berkilat serta berambut awut-awutan berkelebat ke muka. Tampangnya seperti
singa.
"Parit Wulung! Biar aku yang bereskan bangsat ini!"
Melihat siapa yang berkata itu maka Parit Wulung dengan tidak menunggu lebih
lama
segera ke luar dari kalangan pertempuran. "Resi Singo Ireng, rnemang dia
pantas sekali untuk
jadi korbanmu! Cepat rampaslah nyawanya!"
Manusia muka hitam berbadan kate yang bernama Resi Singo Ireng tertawa buruk.
Tangan kanannya dihantamkan ke muka. Secarik sinar putih melesat ke arah
kepala
balatentara Banten.
Bradja Paksi lompat tiga tombak ke atas. "Bergundal pemberontak!". makinya.
"Nyawamu di ujung pedangku!,” Bradja Paksi menukik ke bawah. Pedangnya
berkelebat
cepat sekali.
"Bret !"
Robeklah pakaian putih Singo Ireng !
Maka marahlah Resi ini. "Manusia hina dina!. Kalau kau punya Tuhan
berteriaklah
menyebut nama Tuhanmu! Ajalmu hanya sampai di sini!".
Tangan kiri Singo Ireng terangkat tinggi-tinggi ke atas dan kini berwarna
hitam legam. Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
"Bradja Paksi awas! Itu pukulan wesi item!,” terdangar teriakan seseorang
yang tengah
bertempur dengan segala kehebatannya dekat pintu besar yang menuju ke ruang
tengah istana.
Umurnya sudah agak lanjut namun gerakannya benar-benar tangguh dan
enteng gesit
mengagumkan! Dia adalah Wira Sidolepen, Patih Kerajaan Banten !
Terkejutlah Bradja Paksi mendangar teriakan peringatan itu. Seluruh tenaga
dalam
segera dikerahkan. Pada saat tangan kiri Resi Singo Ireng turun cepat ke
bawah maka sinar
hitam menyambar ke muka. Dan di saat itu pula Bradja Paksi melompat ke
samping, putar
pedang dan hantamkan tangan kiri ke depan.
Namun meskipun berilmu tinggi, untuk saat itu Bradja Paksi masih belum
sanggup
menerima pukulan wesi item lawan. Tubuhnya mencelat kena disambar sinar
hitam, terlempar
ke dinding istana lalu terhampar di lantai penuh darah tanpa bisa berkutik
lagi. Sekujur
pakaian dan tubuhnya hangus hitam!
Resi singo Ireng tertawa senang menjijikkan untuk dipandang!
Melihat kematian Bradja Paksi maka kalaplah patih Wira Sidolepen. Sekali dia
menerjang, tiga prajurit pemberontak yang menyerangnya berpelantingan dengan
tubuh patahpatah!
Sebagai patih kerajaan, tingkat kepandaian Wira Sidolepen memang sudah
sempurna
dan hampir setingkat dengan Singo Ireng. Gesit sekali maka tubuhnya sudah
berada di
hadapan Resi itu.
"Ha… ha… kau juga mau antarkan nyawa, Wira Sidolepen…”
"Tak perlu banyak mulut. Terima ini…!" hardik sang patih. Pedangnya bergulung
dengan sebat. Putaran pedang mengeluarkan angin bersiuran yang melanda tubuh
Resi Singo
Ireng. Terkejutlah Resi ini. Cepat-cepat dia gerakkan badan berkelit. Tahu
bahwa tingkat
kepandaian lawan tidak berada di bawahnya rnaka pagi-pagi Singo Ireng segera
keluarkan
pukulan "wesi ireng"-nya.
Melihat lawan keluarkan ilmu yang ampuh itu, Wira Sidolepen segera pindahkan
pedang ke tangan kiri. Mulutnya komat kamit dan jari tangannya mendadak
sontak berubah
rnenjadi putih berkilau. Inilah ilmu pukulan "mutiara penabur nyawa!" Parit
Wulung yang
tahu kehebatan ilmu pukulan ini segera pergunakan ilmu menyusupkan suara
memberi
peringatan pada Singo Ireng.
"Awas, itu pukulan mutiara penabur nyawa, Resi Singo Ireng !"
Mendengar ini maka sang Resi lipat gandakan tenaga dalamnya. Dua bentakan
nyaring
sama-sama terdangar menggeledek dari mulut Singo Ireng dan Wira Sidolepen.
Sinar hitam
dan sinar putih berkiblat saling papas.
.
“Akh....”
Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
Tubuh patih itu terlempar keras ke tiang istana. Sampai di lantai tubuhnya
berkelojotan
seketika lalu diam tak bergerak tanda nyawanya sudah lepas meninggalkan
tubuh.
Sambil gosok-gosok tangan kirinya. Singo Ireng putar kepala ke pintu di
sampingnya.
Di situ melangkah ke arahnya seorang berselempang kain biru. Mukanya coreng
moreng
berbelang tiga yaitu hitam, kuning dan merah. Rambutnya tersisir licin-lincin
ke belakang.
Inilah dia Resi Macan Seta, kakak kandung Resi Singo Ireng. Kalau Singo Ireng
memiliki
tampang seperti singa maka kakaknya sesuai dengan namanya, memiliki tampang
persis
seperti macan!
"Kau tak bakal kuat menerima pukulan mutiara penabur nyawa itu Singo Ireng,
sekalipun kau pergunakan ilmu wesi item! Sekurang-kurangnya kau akan terluka
di dalam
Singo Ireng tertawa buruk! Dia tak berkata apaapa karena maklum bahwa ucapan
kakaknya itu adalah betul. Dan diam-diam dia bersyukur karena Macan Seta
telah
menolongnya dengan pukulan "sinar surya tenggelam" tadi!
-- == 0O0 == --

SATU
PADA abad ke 15, Kerajaan Demak diperintah oleh Baginda Trenggono. Di bawah
Trenggono maka Demak mencapai puncak kejayaannya. Di masa itu pula adik
perempuan
Trenggono kawin dengan Fatahillah.
Untuk meluaskan daerah perdagangan serta kekuasaan Demak maka Trenggono
merasa perlu untuk menduduki Banten. Maka pada tahun 1527, di bawah pimpinan
Fatahillah
menyerbulah balatentara Demak. Banten jatuh, pelabuhan Sunda Kelapa diduduki
dan sebagai
wakil Demak memerintahlah Fatahillah di Banten. Sebenarnya kurang tepat kalau
dikatakan
bahwa Fatahillah bertindak sebagai wakil Trenggono atau wakil kerajaan Demak
karena luas
lingkup kekuasaan serta pengaruh Fatahillah tak ubahnya seperti Raja.
Disamping itu, terlepas
dari Demak, Fatahillah membentuk balatentara tersendiri. Nama Fatahillah
menjadi besar dan
dihormati. Namun demikian kesetiaannya terhadap kerajaan induk yaitu Demak
tetap seperti
sediakala. Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
Sultan Hasanuddin dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan Banten dibantu
oleh penasihat utama seorang tua bijaksana bernama Mangkubumi Mitra serta
patih Wira
Sidolepen. Disamping itu bantuan kepala balatentara Banten yang bernama
Bradja Paksi patut
pula disebutkan karena segala sesuatu yang bersangkutan dengan keamanan dan
keselamatan
kerajaan terletak pada tanggung jawabnya sepenuhnya. Apalagi mengingat pada
masa itu
sering kali terjadi bentrokan-bentrokan dengan pihak Pajajaran. Bradja Paksi
tadinya adalah
seorang prajurit biasa di kerajaan Demak. Tapi karena keberanian, kejujuran
dan
kepandaiannya maka dia menjadi orang kesayangan Fatahillah. Ketika Fatahillah
pindah ke
Banten, Bradja Paksi ikut serta. Kemudian dia diangkat jadi kepala
balatentara Banten.
Pangkat itu terus dijabatnya sampai pada suatu hari di mana dia terpaksa
mengorbankan
jiwanya sendiri untuk keselamatan kerajaan dan demi kesetiaan pengabdiannya
pada atasan!
Saat itu belum lagi satu bulan Hasanuddin yang muda belia dinobatkan sebagai
Sultan
atau Raja Banten. Baik patih Wira Sidolepen, maupun penasihat tua Mangkubumi
Mitra serta
kepala balatentara Bradja Paksi, ataupun Sultan sendiri, mereka tak satupun
yang tahu kalau di
batang tubuh kerajaan saat itu terdapat musuh dalam selimut yang berbahaya,
yang bergerak
secara diam-diam!
Dan siapa yang akan menyangka kalau musuh dalam selimut itu adalah Parit
Wulung,
perwira yang menjadi wakil langsung dari kepala balatentara kerajaan!
Hubungan Parit
Wulung dengan Bradja Paksi bukan saja sebagai bawahan dengan atasan, tetapi
juga sebagai
ipar karena adik perempuan Bradja Paksi kawin dengan Parit Wulung.
Tapi Parit Wulung telah tersesat. Lupa dia bahwa jabatan yang dipangkunya itu
adalah
berkat diangkat atas kebijaksanaan Bradja Paksi. Lupa dia bahwa kerajaan yang
telah memberi
pangkat kedudukan serta kehormatan dan kehidupan mewah. Nafsu hendak berkuasa
sendiri,
nafsu hendak duduk ditakhta kerajaan sebagai Raja telah merangsang segenap
hati dari jiwa
raganya!
Dalam mencapai usahanya merebut takhta Kesultanan Banten itu sudah barang
tentu
dia tak bisa bergerak sendiri. Disamping itu dia tahu pula bahwa untuk
mencari pengikutpengikut
dari kalangan pihak dalam yaitu perwira-perwira dan menteri-menteri
istana tidak
mungkin karena semua perwira dan menteri, apalagi patih Wira Sidolepen
sangatlah setianya
kepada Kerajaan dan Sultan Hasanuddin. Karenanya maka perwira pengkhianat
itupun
mencari sekutu di luar Banten. Peluang yang sangat baik dilihatnya datang
dari kerajaan
tetangga yaitu Pajajaran. Beberapa perwira Pajajaran secara diam-diam
ditemuinya dan Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
perwira-perwira itu sesudah diberikan janji yang muluk-muluk bersedia
mengirimkan ratusan
prajurit untuk membantu pemberontakan bila saatnya sudah tiba kelak.
Ratusan prajurit masih belum dirasa mencukupi bagi Parit Wulung. Pengkhianat
ini
kemudian mendatangi seorang sakti yaitu Resi Singo Ireng yang berdiam di
pantai selatan.
Resi ini bukan saja mau membantu maksud busuk Parit Wulung karena dijanjikan
akan
dilimpahkan harta kekayaan yang tiada terkira banyaknya, tapi juga mengikut
sertakan kakak
kandungnya yang juga seorang Resi yaitu Resi Matjan Seta. Matjan Seta diam di
Teluk
Keletawar. Tokoh silat ini baru saja membentuk satu partai silat yang
dinamainya Partai Api
Selatan. Meski keduanya adalah Resi namun mereka telah terperangkap oleh
kesenangan
duniawi sehingga masuk ke datam golongan hitam!
Pada hari yang telah ditentukan maka pecahlah pemberontakan menggulingkan
kerajaan itu! Ratusan pasukan dari Pajajaran menyerbu. Pertempuran hebat
terjadi di seantero
Kotaraja dan yang paling hebat adalah sekitar halaman istana.
Sebentar saja kaum pemberontak sudah membobolkan pertahanan Banten. Istana
dikepung, prajurit-prajurit pemberontak di bawah pimpinan Parit Wulung, Singo
Ireng dan
Matjan Seta menyerbu ke dalam istana. Menteri-menteri dan orang-orang cerdik
pandai yang
terkurung dan tak dapat diselamatkan semuanya menemui ajal dipancung secara
kejam.
Kepala balatentara Banten, patih Wira Sidolepen dan beberapa orang penting
lainnya turut
serta menjadi korban keganasan kaum pemberontak itu !
Banten jatuh sebelum hari rembang petang. Prajurit-prajurit Banten yang masih
hidup
dan terpaksa menyerah bersama-sama rakyat disuruh membersihkan semua mayatmayat
yang
bergeletakan di setiap pelosok. Sedangkan di satu ruangan dalam istana Banten
terjadi
pertemuan panting. Pertemuan penting ini diketuai oleh Parit Wulung. Yang
hadir ialah Resi
Singo Ireng, Resi Matjan Seta, Karma Dipa dan Djuanasuta. Kedua orang
terakhir ini adalah
penrwira-perwira Pajajaran sekutu Parit Wulung !
"Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta dan saudara-saudara Karma Dipa,
Djuapasuta.
Kalian lihat sendiri, berkat kerjasama kita maka apa yang kita rencanakan
telah berhasil. Kini
Banten adalah milik kita bersama. Namun ada beberapa hal yang mengecewakan
dilaporkan
oleh seorang perwira penghubung pihak kita. Sultan Hasanuddin lenyap tak
diketahui ke mana
perginya. Kemungkinan besar bersama penasihat tua Mangkubumi Mitra karena
orang tua
inipun tak diketahui di mana dia berada saat ini…".
Sampai di situ maka Karma Dipa buka suara. "Kalau mereka hendak melarikan
diri
dari Banten adalah mustahil. Seluruh perbatasan dijaga ketat oleh prajuritprajurit
kita!" Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
"Itu betul sekali,” jawab Parit Wulung. "Disamping orang-orang kita terus
melakukan
penyelidikan atas jejak kedua orang itu maka kita juga telah menangkap tiga
orang yang
diduga keras mengetahui di mana bersembunyinya Sultan!"
Parit Wulung bertepuk tiga kali. Pintu ruangan perundingan terbuka. Seorang
pengawal masuk. "Bawa ke sini Said Ulon !,” kata Parit Wulung pada pengawal
itu.
Pengawal ke luar dengan cepat. Sesaat kemudian masuk lagi bersama seorang
kawannya membawa seorang laki-laki tua berambut putih. Dialah Said Ulon,
kepala rumah
tangga istana. Kedua pengawal ke luar lagi.
"Said Ulon, kau tahu dimana Sultan sembunyi, bukan?!" ujar Parit Wulung.
Orang tua itu memandang ke muka sebentar. Hatinya geram sekali melihat
tampang
Parit Wulung. Dua orang anaknya telah menjadi korban akibat pemberontakan
manusia itu.
Seperti hendak ditelannya bulat-bulat tubuh Parit Wulung saat ini. Kedua
tangannya berusaha
melepaskan ikatan tali tapi tak
berhasil.
Melihat ini Parit Wulung segera berkata. "Jangan khawatir, kau akan
kulepaskan dan
kujamin keselamatanmu bila memberi keterangan di mana Sultan berada...!"
"Ya… memang aku tahu...” berkata Said Ulon.
"Haaaa…” Parit Wulung tertawa lebar. "Di mana?," tanyanya.
Orang tua itu maju ke hadapan Parit Wulung. "Di sini," katanya. Dan habis
mengucapkan perkataan itu maka diludahinya muka Parit Wulung!
"Jahanam hina dina!" suara Parit Wulung menggeledek.
"Sret!" Pedangnya dicabut dan "cras!” maka putuslah leher Said Ulon.
Kepalanya
menggelinding di lantai tepat di muka pintu. Darah muncrat membasahi
permadani yang
menutupi sebagian dari lantai ruangan !
Resi Matjan Seta tertawa mengekeh melihat peristiwa itu.
Karma Dipa berkata dengan suara datar. "Seharusnya kita tak perlu membunuh
sekaligus manusia itu, Parit Wulung. Kita bisa siksa dia sampai mengaku di
mana adanya
Sultan Hasanuddin!"
Parit Wulung tak menjawab. Noda darah dipedangnya disapukannya kepakaian Said
Ulon lalu dimasukkannya ke dalam sarungnya kembali. Kemudian Parit Wulung
bertepuk lagi
tiga kali.
Pintu terbuka. Pengawal yang masuk tergagau melihat adanya kepala manusia di
muka
pintu. "Bawa masuk tukang kuda itu!" kata Parit Wulung.
Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
Tak lama kemudian pengawal membawa masuk seorang pemuda bermuka pucat pasi.
Baik Parit Wulung maupun pemuda ini sebelumnya sudah saling mengenal.
"Siman Tjonet, kau lihat mayat dan kepala di lantai itu?!"
Siman Tjonet si tukang urus kuda-kuda milik istana mengangguk.
"Tentunya kau tak ingin bernasib demikian, bukan? Nah coba terangkan di mana
Sultan bersembunyi...!”
"Aku tak tahu…".
"Ah kau musti tahu. Mungkin sekali Sultan telah melarikan diri bersama
beberapa
orang dengan menunggangi kuda. Betul..."
"Aku tidak tahu..," jawab Siman Tjonet lagi seperti tadi.
Maka
marahlah Parit Wulung. "Dangar Siman…,” desisnya. "Aku tahu bahwa
beberapa bulan di muka kau akan kawin. Kalau kau tetap ingin merasakan
kenikmatan
perkawinanmu itu, cepat beri tahu di mana Sultan berada…”
"Kalau kau kasih keterangan...," menyambung Djuanasuta, "kami akan berikan
uang
serta perhiasan! Kau akan beruntung seumur hidup…"
"Aku tidak tahu…"
"Betul-betul tidak tahu...?!"
"Kalaupun tahu aku tidak akan kasih keterangan pada bergundal pemberontak dan
pengkhianat macam kau!"
Parit Wulung tertawa buruk. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanannya
bersitekan
pada hulu pedang. "Jangan jadi orang tolol Siman Tjonet!" berkata Karma Dipa
sementara
Resi Matjan Seta dan adiknya asyik-asyik makan buah anggur yang terhidang di
atas meja.
"Bicaralah, kau akan selamat dan jadi orang kaya!"
Siman Tjonet diam saja.
"Agaknya kau lebih suka mati daripada hidup senang. Siman…?" tanya Parit
Wulung.
"Disangkanya kalau dia mati akan masuk surga dan ketemu bidadari!" berkata
Resi
Matjan Seta sambil tertawa dan mengunyah buah anggur dalam mulutnya.
"Aku masuk surga atau tidak itu bukan urusan kalian! Sebaliknya kalian semua
kelak
akan menjadi puntung api neraka!" jawab Siman Tjonet dengan beraninya.
"Wah… kau benar-benar tidak takut mati, anak muda. Tapi bagaimana kalau
sebelum
mati aku siksa kau lebih dahulu, heh?!"
"Kalian boleh siksa aku tapi di mana Sultan berada tetap kalian tak bisa
tahu!"
.Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
"He... he... he..,” Resi Matjan Seta berdiri dari duduknya. Mulutnya masih
mengunyah
buah anggur. Dia melangkah ke hadapan Siman Tjonet, Tangan kanannya
diletakkannya di
atas kepala pemuda itu.
"Manusia bermuka setan, pergi!" hardik Siman Tjonet. Pemuda ini pergunakan
kaki
kanannya untuk menendang tulang kering Resi Matjan Seta. Tapi aneh! Kedua
kakinya terasa
sangat berat dan sukar digerakkan. Sementara itu kepalanya yang dipegang
terasa panas bukan
main. Disamping panas kepalanya juga terasa seperti dicucuki oleh ratusan
jarum! Dari kepala
rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh si pemuda.
Pemuda ini merintih kesakitan. Bila rasa sakit tak tertahankan lagi maka
mulailah dia
menjerit-jerit setinggi langit. Betapa mengerikan suara jeritan itu
terdangarnya. Peluh dingin
membasahi seluruh tubuh Siman Tjonet.
"Masih belum mau bicara?!" bentak Parit Wulung.
"Pengkhianat terkutuk! Pembalasan akan datang untuk kalian semua!".
"Bikin mampus dia Resi Matjan Seta!,” perintah Parit Wulung.
Sang Resi mengekeh, telapak tangannya semakin keras menekan batok kepala
pemuda
tukang kuda. Asap mengepul dari telapak tangan laki-laki sakti itu.
Jeritan Siman Tjonet terdangar semakin keras dan berubah menjadi suara
erangan.
Dari telinga, dari mata dan dari lubang hidung serta mulutnya mengalir darah
kental. Kedua
lututnya terlipat dan sesaat kemudian tubuh pemuda itu terhempas ke lantai,
nyawanya lepas!
Resi Matjan Seta mengekeh lagi!
Dan Parit Wulung bertepuk lagi. Maka tawanan yang ketigapun dibawa masuklah.
Tawanan ini ternyata seorang perempuan muda berparas rupawan.
Begitu dia masuk ke, ruangan itu maka menjeritlah dia. Kedua tangannya yang
tidak
terikat dipakai untuk menutupi muka dan matanya. Kengerian membuat tubuhnya
gemetar
ketika menyaksikan kepala dan tubuh Said Ulon serta tubuh pemuda tukang kuda!
Resi Singo Ireng menunda anggur yang hendak disuapkannya ke dalam mulut.
Matanya menjalari si perempuan muda mulai dari ujung rambut sampai ke kaki.
"Ah... ah... ah…! Yang satu ini tak boleh dibunuh, Parit Wulung. Dia cukup
pantas
untuk jadi peliharaanku!,” kata Resi bertampang singa itu.
Parit Wulung tak ambil perhatian ucapan itu. Dia berkata pada si perempuan
muda.
"Suri Intan, kau tak usah khawatir atau takut. Tidak ada yang akan menyakiti
kau…”
"Aku tak percaya pada kalian! Keluarkan aku dari sini!,” teriak perempuan
itu. Suri
Intan adalah istri Braja Paksi kepala balatentara Banten yarig telah gugur
dalam Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
mempertahankan kerajaan. Karena adik Bradja Paksi kawin dengan si pemberontak
Parit Wulung
maka dengan sendirinya antara Parit Wulung dengan Suri Intan terdapat
hubungan
keluarga yang dekat.
Parit Wulung coba tersenyum mendangar ucapan perempuan itu. "Suri, apakah kau
tahu di mana Sultan Hasanuddin bersembunyi? Juga penasihat tua Mangkubumi
Mitra...?!"
Si perempuan tiada peduli dengan pertanyaan itu. "Keluarkan aku dari sini!"
teriaknya.
"Dewiku manis...!"kata Singo Ireng mengetengahi. "Kau akan ke luar dari sini,
aku
yang akan bawa kau dan kita berdua akan senang-senang di tempatku di pantai
utara. Tapi apa
salahnya sebelum pergi kau suka kasih penuturan apa yang kau ketahui mengenai
Sultan…"
"Aku tidak tahu apa-apa mengenai Sultan. Yang aku tahu ialah bahwa kalian
semua
manusia-manusia pengkhianat terkutuk! Balasan Tuhan akan datang kelak atas
diri kalian!"
"Ah... ah... ah! Bicaramu hebat sekali manisku...!" kata Singo Ireng. Dia
berdiri dari
kursinya. Sambil melangkah mendekati Suri Intan dia meneruskan. "Aku suka
pada
peremppan-perempuan yang pandai bicara…". Dia berdiri dua langkah di hadapan
Suri Intan.
Bola matanya berkilat-kilat memandangi perempuan berparas rupawan itu lalu
dia berpaling
pada Parit Wulung. "Aku yakin betul," katanya pada Parit Wulung. "perempuan
ini pasti tidak
dusta dengan keterangannya. Dia tak tahu apa-apa tentang Sultan. Parit
Wulung, biar aku
minta diri saja siang-siang untuk membawa dia ke kamar sebelah.... he...
he... he…!"
"Singo Ireng! Jangan ribut soal lampiaskan nafsu saja. Kita harus cari dulu
Sultan
Hasanuddin sampai dapat...!" Yang bicara ini adalah Matjan Seta, kakak Singo
Ireng.
"Ladalah..," menyahuti Singo Ireng. "Itu urusan kalian. Aku sudah letih.
Tubuhku
pegal-pegal. Perempuan ini pasti lihay sekali memijit. Bukankah begitu
dewiku…?" Dan
Singo Ireng mencubit dagu Suri Intan.
"Tua bangka hidung belang!" memaki Suri Intan. Tangannya bergerak hendak
mencakar muka Singo Ireng. Tapi sekali cekal saja maka perempuan itu sudah
tak bisa
berdaya lagi!
"Lepaskan aku, lepaskan!,” Suri Intan meronta sekuat tenaga. Entah cekalan
Singo
Ireng yang kemudian agak kurang ketat, entah karena rontakan Suri Intan yang
memang
sangat keras maka perempuan itu berhasil melepaskan diri dari cekalan Singo
Ireng. Kemudian
secepat kilat dia lari ke pintu. Tapi nyatanya pintu dikunci dari luar
oleh pengawal.
Dalam bingung dan ketakutan sementara itu Suri melihat Singo Ireng
mendatanginya dengan
menyeringai dan bola mata berkilat-kilat sedang hidung kembang kempis.
"Singo Ireng! Biarkan dulu perempuan itu!" bentak Matjan Seta. Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
"Sudah diam sajalah Seta!,” menggerendang Singo Ireng. "Sekarang kau terlalu
banyak ribut, nanti kalau aku lagi asyik kau dobrak pintu kamar dan minta
diberi bagian!
Puh...!"
Singo Ireng maju ke muka dan ulurkan tangan. "Jangah jamah aku!,” teriak Suri
Intan.
Dia lari seputar ruangan dan Singo Ireng mengejarnya. Mengejar dengan tertawa
terkekehkekeh.
"Manisku, kenapa musti main kucing-kucingan? Tampangku memang buruk.
Tapi
nantilah, kalau kau sudah rasakan bagaimana pandainya aku di atas tempat
tidur, kau akan
ketagihan… ha... ha... ha...!"
Suri Intan semakin kepepet ke sudut ruangan.Tiba-tiba terjadilah hal yang
tidak diduga
oleh Singo Ireng dan siapapun yang ada di ruangan itu.
Suri Intan melompat ke samping, membenturkan kepalanya ke dinding ruangan!
Semua orang yang ada di ruangan itu sudah biasa dengan segala macam
pemandangan maut,
sudah biasa melihat kematian manusia. Tapi mendangar suara beradunya kepala
perempuan
itu dengan dinding yang keras, menyaksikan bagaimana kemudian Suri lntan
terkapar di lantai
dengan kepala rengkah berlumuran darah, semuanya sama menjadi merinding bulu
tengkuknya! Suasana di ruangan itu seperti di pekuburan sunyinya!
Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh suara Matjan Seta. "Aku bilang apa,
Singo
Ireng! Kau lihat sendiri sekarang. Apa kau masih bernafsu terhadap perempuan
itu?!"
Singo Ireng tak menjawab. Diputarnya badannya. Dia duduk kembali ke
tempatnya.
Dan seperti tak ada apa-apa dia mulai lagi mengunyah buah anggur yang
terhidang di atas
meja!
Sesudah para pengawal diperintahkan menyeret ketiga mayat itu maka Parit
Wulung
melanjutkan pertemuan dengan membuka pembicaraan.
"Kurasa mengenai Sultan tak perlu kita bicarakan panjang lebar. Cepat atau
lambat
orang-orang kita akan segera menangkapnya. Tapi apa yang menjadi pikiranku
ialah
lenyapnya keris pusaka kerajaan Tumbal yang menjadi syahnya kedudukanku
sebagai seorang
Raja, nanti!"
"Keris itu pasti dibawa kabur oleh Sultan Hasanuddin!" kata Resi Matjan Seta
pula.
"Mungkin, tapi mungkin pula dicuri atau dilarikan oleh seorang lain!"
Singo Ireng mengetengahi. "Tanpa keris Tumbal Wilayuda itupun tak akan
seorang
yang bisa menolak penobatanmu sebagai Raja Banten, Parit Wulung! Kecuali
kalau mereka
mau terima nasib digerogoti cacing di liang kubur!" Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Keris Tumbal Wilayuda
"Soal itu aku tak khawatir. Tapi dalam hal ini kita berhadapan dengan rakyat.
Rakyat
hanya akan mengakui aku sebagai raja, bila keris Tumbal Wilayuda ada di
tanganku!"
"Kenapa ambil pusing dengan rakyat?,” tukas Singo Ireng. Mereka mau terima
atau
tidak, mereka mau mampus sekalipun, kita tak perlu ambil peduli! Rakyat tidak
lebih dari
domba-domba yang bisa kita halau sesuka hati !"
"Tapi, disamping itu keris Tumbal Wilayuda adalah satu senjata sakti dan
keramat…,”
ujar Parit Wulung.
"Sakti aku percaya, tapi kalau dikatakan keramat itu adalah takhyul!,”
menyahut Singo
Ireng. Parit Wulung tak berkata apa-apa namun dalam hati dia merasa tidak
senang. Maka
berkatalah dia. "Aku minta pada kalian, terutama Resi Matjan Seta dan Singo
Ireng untuk
mencari Sultan dan menemukan keris Tumbal Wilayuda itu sampai dapat!"
Singo Ireng mengunyah anggurnya lambat-lambat lalu berkata. "Ini tak termasuk
dalam hitungan kita Parit Wulung. Tempo hari kau hanya minta aku dan kakakku
membantu
pemberontakan sampai terlaksana. Kini Banten sudah jatuh dan berada di
tangamu, perjanjian
kita beres dan kami sudah saatnya menerima balas jasa!"
"Mengenai soal balas jasa Resi berdua tak usah cemas, kalian berdua boleh
membawa
segala harta kekayaan apa saja dari Banten ini sebanyak yang kalian bisa
bawa. Tapi bila
kalian bersedia pula membantu mencari dan menangkap Sultan serta menemukan
keris pusaka
Tumbal kerajaan itu, maka bagian kalian tentu akan lipat ganda !"
Singo Ireng manggut-manggut. "Baiklah,” katanya. "Soal harta aku tidak begitu
temahak. Tapi setiap perempuan cantik di Banten ini adalah milikku!"
-- == 0O0 == --

selengkapnya downlod di :
http://www.ziddu.com/download/1465739/KerisTumbalWilayuda-WiroSableng212-kz.pdf.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar