Sabtu, 22 Agustus 2009

Mawar Merah Menuntut Balas


BASTIAN TITO
Pendekar Nagageni 212
 Wiro Sableng

1
ANAK perempuan berumur delapan tahun itu berlari-lari kecil sambil tiada
hentinya menyanyi. Di tangan kanannya tergenggam lebih dari
selusin tangkai bunga yang baru dipetiknya di dalam hutan. Saat itu
matahari pagi telah naik tinggi. Si anak mempercepat larinya. Dia takut
kalau kalau orang tuanya mengetahui bahwa dia telah pergi ke hutan lagi.
Tentu dia akan dilecut seperti kemarin.
Baru saja dia memasuki jalan kecil yang akan menuju keperkampungan, anak perempuan ini
dikejutkan oleh derap kaki kuda yang banyak dan riuh sekali. Dia tak ingin mendapat celaka
diterjang kaki-kaki kuda. Cepat-cepat dia menepi dan berlindung di balik sebatang pohon.
Tak lama kemudian serombongan penunggang kuda lewat dengan cepat. Si anak tak tahu
berapa jumlah mereka semuanya, tapi yang jelas amat banyak dan semua berpakaian serba hitam,
rata-rata memelihara kumis melintang serta cambang bawuk yang lebat. Tampang-tampang
mereka buas bengis. Dan masing-masing membawa sebilah golok besar di pinggang. Meski
rombongan penunggang kuda itu telah berlalu jauh namun debu jalanan masih beterbangan
menutupi pemandangan. Setelah debu itu sirna barulah si anak keluar dari balik pohon dan berlari
sepanjangjalan menuju ke kampungnya.
Kampung itu terletak di sebuah lembah subur yang dialiri sungai kecil berair jernih. Sekeliling
perkampungan terbentang sawah ladang yang luas. Saat itu padi tengah menguning hingga
kemanapun mata memandang warna keemasan yang kelihatan.
Anak perempuan itu terus lari. Dia harus lewat kebun di belakang rumah agar tidak kelihatan
oleh orang tuanya. Kemudian dia akan masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan bunga-bunga
itu dibawah kolong tempat tidur. Kemudiannya lagi ....
Jalan pikiran si kecil itu terhenti dengan serta sewaktu dari arah kampungnya terdengar suara
hiruk pikuk. Suara itu bercampur aduk. Ada suara ringkikan kuda, suara teriakan orang laki-laki,
pekik jerit orang-orang perempuan dan anak-anak, lalu suara beradunya senjata yang sekali-kali
diseling oleh suara ringkik kuda yang membuat kecutnya hati anak perempuan itu.
Ada apakah di kampung? Begitu si anak berpikir. Hatinya yang kecut membuat larinya
terhenti-henti. Satu perasaan takut memperingatkannya agar jangan pergi ke kampung, jangan
pulang. Namun kaki-kaki yang kecil itu terus juga bergerak meskipun dalam langkah-langkah
perlahan.
Dilewatinya kebun di belakang rumah dan sampai di sebuah gubuk reyot. Gubuk ini adalah
tempat ayahnya menyimpan segala barang-barang rongsokan.
Justru di sini anak tersebut menghentikan langkahnya. Sekujur tubuhnya gemetaran, parasnya
yang tadi kemerahan karena berlari saat itu berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan. Dia
ingin berteriak, dia ingin menangis tapi mulutnya terkancing oleh rasa takut yang amat sangat.
Di samping rumah dilihatnya ayah serta kakak laki-lakinya tengah berkelahi melawan dua
orang berpakaian serba hitam. Agaknya kedua orang berpakaian hitam itu tidak sanggup
menghadapi ayah dan kakaknya karena dalam waktu yang singkat keduanya roboh mandi darah,
Namun pada saat itu muncullah tiga orang penunggang kuda bertubuh kekar bertampang ganas.
Salah seorang dari ketiganya memaki dan melompat dari punggung kuda, langsung menyerang
ayahnya. Dua kawannya yang lain menyusul dan saat itu juga terjadilah perkelahian dua lawan tiga.
Tiga manusia bertampang ganas itu ternyata amat tinggi ilmu silatnya karena tak berapa lama
kemudian si anak mendengar jeritan ayahnya. Senjata di tangan salah seorang lawan telah
membabat dada ayahnya hingga laki-laki itu tersungkur dan tak bisa bergerak lagi, diperhatikannya
bagaimana kakaknya menjadi kalap oleh kematian ayahnya lalu mengamuk hebat. Tapi nasibnya
juga malang karena dua senjata lawan berbarengan mampir di perut serta di pundak kakaknya.
Salah seorang dari manusia-manusia jahat itu lalu membakar rumah orang tuanya. Pada saat api
berkobar hebat, dari pintu belakang keluar dua orang perempuan. Mereka lari ke arah kebun.
Keduanya adalah ibu dan kakak perempuan anak kecil yang berdiri disamping gubuk. Si anak
hendak berteriak memanggil ibunya tapi tak jadi. Salah seorang dari tiga manusia jahat itu rupanya
berhasil melihat kakak perempuan dan ibunya, lalu berseru keras dan mengejar.
"Ha-ha! Ternyata ada isinya juga rumah ini!" Mendengar seruan itu salah seorang kawannya
berpaling. Begitu melihat dua orang perempuan melarikan diri dia segera ikut menyusul mengejar.
"Bagianku yang muda, Tunjung!" seru laki-laki yang paling depan. Sebentar saja dia berhasil
mengejar si gadis, merangkulnya dan menciuminya dengan penuh nafsu. Gadis itu menjerit dan
meronta. Ibunya coba memberikan pertolongan namun tubuhnya sendiri kemudian tenggelam
dalam dekapan tangan-tangan kasar. Seperti anaknya, diapun diciumi secara buas!
"Bagus sekali perbuatan kalian!" satu bentakan terdengar. Yang membentak ternyata adalah
laki-laki ketiga yang tadi telah membunuh ayah anak perempuan kecil di dekat gubuk reyot. "Aku
sudah bilang setiap perempuan cantik di kampung ini menjadi milikku dan tak boleh diganggu!"
Kedua laki-laki itu berpaling, seorang diantaranya membuka mulut. "Bayunata! Sudah lebih
dari selusin perempuan di kampung ini kau nyatakan milikmu! Masakan pada sobat sendiri yang
dua ini masih hendak kau ambil?!"
"Heh, sejak kapan kau berani bicara membangkang terhadapku, Sawier Tunjung?!" gertak lakilaki
yang bernama Bayunata. Sepasang bola matanya yang merah menyorot garang. Mau tak mau
Sawer Tunjung terpaksa melepaskan rangkulannya dari tubuh padat si gadis. Begitu lepas si gadis
hendak melarikan diri tapi Bayunata cepat mencengkeram bahunya, memutar tubuh gadis itu
hingga paras mereka saling berhadap-hadapan dekat sekali.
"Sawer Tunjung! Ini adalah gadis yang tercantik di seluruh kampung! Dan kau hendak
mengambilnya!" ujar Bayunata menyeringai dan tertawa gelak-gelak. Kawannya yang bemama
Sawer Tunjung memencongkan mulut lalu meludah ke tanah.
"Kalau tidak dia biar yang ini saja untukku!" kata Sawer Tunjung seraya menunjuk pada
perempuan berumur sekitar tigapuluh lima tahun yang tengah didekap oleh kawannya yang
bemama Singgil Murka.
"Tidak bisa!" Singgil Murka memberi reaksi. "Ini punyaku! Sampai saat ini aku belum dapat
satu perempuanpun!"
"Kalian berdua tak perlu berbantahan! Perempuan itupun harus menjadi milikku!" kata
Bayunata. Memang Bayunata adalah seorang laki-laki bernafsu besar yang tak boleh melihat
perempuan berwajah cantik. Semuanya ingin dimilikinya sekalipun saat itu lebih selusin dari
perempuan-perempuan kampong telah diambilnya.
Singgil Murka dan Sawer Tunjung menggerutu habis-habisan. Bayunata sebaliknya malah
tertawa.
"Kelak kalau aku sudah mencicipi mereka, kalian bakal mendapat bagian yang lumayan. Jadi
tak perlu menggerutu!"
"Kau keterlaluan, Bayunata!" ujar Sawer Tunjung.
"Diam!" Bayunata membentak marah. "Bawa perempuan itu ke kuda dan awas kalau kau
berani mengganggunya!" Bayunata kemudian berpaling pada gadis dalam dekapannya yang saat itu
masih menjerit dan meronta.
"Kau ikut aku, gadis molek. Tak usah menjerit, apalagi meronta. Kau bakal hidup senang!
Mari ...!"
"Tidak, lepaskan aku! Kau menusia jahanam!"
"Jangan bikin aku marah," kata Bayunata. Tapi si gadis terus meronta dan memaki.
"Kau ingin aku berbuat kasar sebelum waktunya?! Baik!" Tangan kanan Bayunata bergerak
dan bret! Robeklah baju yang dipakai si gadis. Dadanya tersingkap lebar. Memuncaklah birahi
Bayunata melihat dada yang padat putih itu. Dilumatnya dada itu dengan ciuman bertubi-tubi
sedang dari mulutnya keluar ucapan, "Dada bagus .... dada bagus ... uh ... uh!"
"Lepaskan aku! Manusia dajal ....!"
Bayunata tertawa mengekeh dan memanggul tubuh si gadis lalu melompat ke atas kuda.
Pada saat itulah anak kecil yang berdiri di samping gubuk berteriak.
"Ibu .... kakak!" Namun suara teriakannya itu sama sekali tidak keluar karena satu telapak
tangan berwarna amat hitam dan berkeringatan menutup mulutnya!
"Jangan berteriak anak, jangan berteriak! Kalau mereka melihatmu, pasti kau dibunuh! Kau
tahu tak satu anak kecilpun yang mereka biarkan hidup di kampung ini!"
Gadis kecil itu berpaling dan dia hampir jatuh pingsan sewaktu melihat paras orang yang
menekap mulutnya. Paras itu menyeramkan sekali. Seperti paras setan-setan yang pernah
diceritakan oleh kakaknya jika dia mau tidur! Paras itu cuma punya satu mata yaitu di sebelah
kanan sedang mata yang kiri hanya merupakan lobang hitam yang dalam. Manusia bermuka hitam
itu cekung sekali kedua pipinya sedang hidungnya melesak penyet!
"Jangan takut anak, jangan takut!" kata manusia bermuka seram. Ketika dilihatnya ketiga
penunggang kuda itu sudah berlalu maka baru dilepaskannya tangannya yang menekap mulut si
gadis cilik.
"Mari ikut aku, anak! Kau anak manis, tulang-tulangmu bagus. Anak perempuan yang
sepertimu ini yang kucari-cari!"
'Tidak!" si gadis cilik meronta ketakutan dan melejang-lejangkan kedua kakinya.
"Kalau kulepaskan kau mau lari ke mana, anak?!"
"Ibu ... ibu ... aku akan mengejar ibu!" jawab si anak.
"Ah ... akan mengejar ibumu dan melawan perampok-perampok jahat itu?!"
"Ya!"
Manusia bermuka hitam seram yang temyata adalah seorang nenek-nenek itu tertawa
mengekeh.
"Sekecil ini kau telah menunjukkan hati jantan! Bagus! Memang calon muridku harus bersifat
demikian! Dan sampai saat ini kau tidak menangis! Hebat!"
Si muka hitam lalu mendukung gadis cilik itu dan berkelebat meninggalkan tempat tersebut.
Tapi satu bayangan putih memapas larinya dan satu bentakan mengumandang keras!
"Perempuan muka hitam! Anak itu sudah ditakdirkan menjadi muridku!"
Sang nenek terkejut bukan main dan menghentikan larinya.
"Bangsat! Setan alas dari mana yang berani mengumbar mulut seenaknya terhadapku?!"

00--00

selanjutnya download link ini ya :Mawar Merah Menuntut Balas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar