Sabtu, 08 Agustus 2009


NERAKA LEMBAH TENGKORAK

BASTIAN TITO

PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
WIRO SABLENG

SATU
Hujan lebat dan kabut tebal menutupi keseluruhan Gunung Merapi
mulai dari puncak hingga ke kaki. Dinginnya udara tiada terkirakan. Dari
malam tadi hujan mencurah lebat dan sampai dinihari itu masih juga terus
turun. Suaranya menderu menegakkan bulu roma. Halilintar bergelegaran.
Kilat sabung menyabung. Dunia laksana hendak kiamat layaknya.
Untuk kesekian puluh kalinya kilat menyambar dan untuk kesekian
puluh kalinya pada suasana di kaki sebelah Timur Gunung Merapi menjadi
terang benderang beberapa detik lamanya. Dalam keterangan yang singkat
itu maka kelihatanlah satu pemandangan yang mengerikan tetapi juga sangat
aneh.
Pada sebelah Timur kaki Gunung Merapi itu terdapat sebuah lembah
tak bertuan yang tak pernah dijejaki kaki manusia. Tapi disaat hujan deras
kabut tebal dan udara dingin luar biasa itu, di tengah-tengah lembah
kelihatanlah empat sosok tubuh manusia! Keempatnya berdiri dengan tidak
bergerak-gerak seakan-akan tiada mau perduli dengan buruknya cuaca saat
itu. Bahkan mungkin juga tidak merasakan sama sekali suasana disaat itu.
Keempatnya menghadap ke satu arah yaitu mulut sebuah goa yang
terletak sekitar sepuluh tombak di hadapan mereka. Meski kabut tebal dan
hujan lebat, namun mata mereka yang berpemandangan tajam dapat melihat
mulut goa itu dengan jelas.
Keempat manusia ini nyatanya adalah gadis-gadis berparas jelita
rupawan. Yang pertama mengenakan pakaian ringkas warna merah darah.
Yang kedua biru, yang ketiga hitam pekat dan yang terakhir berpakaian
putih.
Di seluruh permukaan lembah berhamparan tulang belulang dan
tengkorak-tengkorak kepala manusia yang memutih laksana salju! Keempat
gadis-gadis itu sendiri berdiri di atas tumpukan tulang belulang dan
tumpukan tengkorak-tengkorak kepala manusia.
Dan sikap mereka berdiri itu juga sama sekali tidak acuh dan tak
ambil perduli. Sepasang mata mereka masing-masing terus saja memandangi
mulut goa tanpa berkedip!
Tiba-tiba dari mulut goa selarik sinar hijau menyambar ke arah
keempat gadis itu. Kemudian menyusul puluhan kalajengking hijau beracun
dengan japit-japit terbuka menyerang keempatnya. Satu jengkal lagi
binatang-binatang pembawa maut itu mencapai sasarannya tiba-tiba dengan
serentak keempat gadis menghembus ke muka. Puluhan kalajenking hijau
mental dan jatuh bergelepakan di antara tulang belulang serta tengkoraktengkorak
manusia!
Pada saat sinar hijau dari mulut goa lenyap maka secepat kilat
keempat gadis itu memasang sebuah kedok tipis ke muka masing-masing!
Dan kini berubahlah muka yang cantik rupawan itu menjadi muka tengkorak
yang ngeri menegakkan bulu roma!
Dan dari mulut goa melesatlah sesosok bayangan hijau! Keempat
gadis muka tengkorak serentak menjura dan serentak pula berseru: "Guru!"
Manusia yang ke luar dari goa ini nyatanya adalah juga seorang gadis
bermuka tengkorak dan berpakaian ringkas hijau. Dia berdiri di atas
setumpuk tulang belulang manusia. Sesudah menyapu keempat paras dan
sosok tubuh di hadapannya maka perempuan berpakaian hijau ini
menengadah ke langit dan tertawa mengekeh panjang sekali!
"Sepuluh tahun mendidik kalian! Sepuluh tahun memendam cita-cita.
Nyatanya kalian tidak mengecewakan!" Si Muka Tengkorak berpakaian
hijau kembali mengekeh lama-lama. Lalu melanjutkan
"Hari ini adalah merupakan ambang pintu ke arah mencapai cita-cita
bersama! Hari ini kita berpisah! berpisah untuk kelak membangun cita-cita
yaitu cita-cita besar mendirikan Partai Lembah Tengkorak yang bakal dan
musti menguasai dunia persilatan! Sekarang kalian pergilah! Tapi apa kalian
ingat semua pesanku. ..?"
"Tentu guru!" jawab keempat gadis muka tengkorak berbarengan.
"Bagus! Laksanakan tugas kalian dengan baik! Nah pergilah ... !"
"Guru ..." berkata gadis berpakaian merah.
"Ada sesuatu yang kau hendak tanyakan Kala Merah?!"
"Murid dan saudara-saudara seperguruan sebelum pergi menghaturkan
terima kasih kepada guru yang telah mendidik kami selama sepuluh
tahun, Sepuluh tahun bersama guru, satu kalipun kami belum pernah melihat
paras guru! Sudilah, sebelum kami pergi, guru suka memperlihatkan paras
guru yang asli ...."
Manusia muka tengkorak berpakaian hijau tertawa gelak-gelak.
"Belum saatnya, muridku. Belum saatnya! Kelak di satu ketika kau
akan melihatnya juga. Sekarang ayo pergi, cepat!" Keempat gadis itu
menjura hormat. Sekali mereka berkelebat maka lenyaplah keempatnya dari
pemandangan, lenyap dengan diiringi suara kekehan memanjang dari guru
mereka, Dewi Kala Hijau!.
Dua bulan kemudian maka dunia persilatan dibikin gegerlah oleh
munculnya empat dara ganas bermuka tengkorak yang teramat saki! Dengan
hanya bersenjatakan ilmu "Kala Hijau" keempatnya telah memusnahkan dua
partai persilatan yang dianggap kuat dan membunuh hampir selusin tokohtokoh
persilatan dari kalangan putih! Bahkan tokoh-tokoh silat golongan
hitam pun merasa gentar dengan munculnya empat gadis iblis ini! Selama
beberapa bulan sejak munculnya keempat murid Dewi Kala Hijau itu maka
dunia persilatan diselimuti ketegangan.
Jika empat dara ganas itu sanggup memusnahkan dua partai persilatan
kuat dan membunuh selusin tokoh silat lihay maka sukar dijajaki kehebatan
dan sampai dimana ketinggian ilmu keempat manusia itu!
***
Pada suatu hari di tanggal 1 bulan 2 terlihatlah satu pemandangan
baru di tepi Telaga Wangi yang terletak di sebelah Selatan Gunung Ungaran.
Di tepi telaga saat itu ada sebuah panggung besar yang diberi bergaba-gaba
aneka wama.
Di depan panggung berderet-deret puluhan buah kursi yang diduduki
oleh tamu-tamu yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang
tak dapat disangsikan lagi kelihayannya.
Hari itu adalah menjadi satu hari penting dalam catatan lembaran
dunia persilatan karena saat dan di tempat itulah akan diresmikan berdirinya
satu partai baru di dunia persilatan yang telah mengambil nama Partai
Telaga Wangi.
Partai yang baru muncul ini banyak mendapat perhatian dan sorotan
partai-partai serta tokoh-tokoh persilatan lainnya karena Ketua Partai Telaga
Wangi ini adalah seorang tokoh silat termashur di Jawa Tengah yang
memegang gelar sebagai Dewa Pedang. Dewa Pedang atau yang nama
aslinya Brajaguna adalah tokoh silat aliran putih dan mempunyai kelihayan
mengagumkan dalam permainan pedang sehingga tak percuma dunia
persilatan meletakkan gelar "Dewa Pedang" kepadanya!
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tiupan terompet. Puluhan
pasang mata dari para tamu yang hadir dilayangkan ke atas panggung.
Ketua Partai Telaga Wangi memunculkan diri diiringi oleh isteri, tiga orang
anak laki-lakinya dan keseluruhan anak-anak murid Partai yang membawa
panji-panji serta lambang partai yaitu sebuah bendera yang disulam dengan
gambar sebuah pedang serta bunga mawar putih.
Dewa Pedang seorang Iaki-laki separuh baya bertampang gagah.
Sikapnya tenang, langkahnya enteng sedang pedangnya tergantung di
pinggang kiri. Keseluruhan sikap dan gerak geriknya membayangkan
wibawa yang besar.
Isteri Dewa Pedang yang berpakaian ringkas dan bemama Suwita
adalah juga seorang yang berpengetahuan silat tinggi. Meskipun tidak
selihay suaminya tapi dalam ilmu pedang perempuan ini tidak bisa dianggap
remeh. Pada parasnya yang cantik jelita itu kelihatan bayangan kejantanan,
keras hati dan berani.
Di belakang menyusul tiga pemuda berparas keren. Ketiganya adalah
anak-anak Dewa Pedang yang dengan sendirinya tentu pula memiliki
kepandaian silat yang tinggi. Anak yang tertua bemama Indrajaya, yang
tengah Jayengrana dan yang bungsu yang menjadi kesayangan Dewa Pedang
dan isteri ialah Brajasastra.
Dewa Pedang dan isteri serta ketiga putera mereka duduk di belakang
panggung di kursi yang sudah disediakan. Sedangkan anggota Partai berdiri
berderet di belakang mereka. Sementara suara terompet masih terus
menggema maka sepasang mata Ketua Partai Telaga Wangi menyapu ke
arah puluhan tamu.
Brajaguna seorang yang berpemandangan tajam. Sekali saja matanya
menyapu ke arah para hadirin maka segeralah dia dapat menyimpulkan
bahwa para tamunya itu terbagi dalam tiga golongan.
Pertama ialah golongan atau aliran putih yang berhati polos dan
menjadi sahabat-sahabat terbaik dari Partai yang hendak didirikannya.
Golongan kedua yakni tokoh-tokoh silat yang dulunya pernah menjadi
musuhnya dan tentu saja kehadiran mereka dalam peresmian berdirinya
Partai Telaga Wangi saat itu diragukan itikat baiknya.
Golongan yang ketiga ialah tokoh-tokoh silat baru tapi yang sudah
agak dapat nama dalam kalangan persilatan namun tak dapat dipastikan
digolongan mana mereka berdiri sebenamya.
Suara terompet berhenti.
Begitu suara tiupan terompet berhenti maka Ketua Partai baru diikuti
oleh keseluruhan anggota partai yang ada di atas panggung mendongak ke
atas. Tangan kiri lurus-lurus ke bawah sedang tangan kanan dimelintangkan
di dada. Maka serentak dengan itu mereka pun berseru dengan suara gegap
gempita.
Hari satu bulan doa
Peristiwa besar dan penting di tepi telaga
Partai baru membuka lembaran sejarah
Partai Telaga Wangi ialah namanya!
Keempat baris kalimat itu diserukan sampai tiga kali berturut-turut.
Sesudah itu maka bangkitlah Ketua Partai dari kursinya dan melangkah ke
muka panggung. Dengan muka berseri-seri Dewa Pedang memandang pada
para hadirin lalu menjura memberi hormat.
"Saudara-saudara sekalian yang kami muliakan. Pertama sekali saya
selaku Ketua dari Partai yang baru muncul ini, atas nama keseluruhan
anggota Partai mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat yang
setinggi-tingginya karena saudara-saudara sekalian telah sudi meringankan
langkah untuk datang ke mari."
Suara Ketua Partai Telaga Wangi ini keras dan lantang penuh wibawa
dan nadanya teratur demikian rupa enak didengar sehingga seluruh mata
yang hadir ditujukan kepadanya. Setelah menyapu sekilas paras tamunya
dengan sepasang matanya yang tajam maka Dewa Pedang pun meneruskan
bicaranya.
"Dalam pasang surutnya dunia persilatan dewasa ini, kami bersama
telah memberanikan diri untuk mendirikan sebuah partai baru yang kami
namakan Partai Telaga Wangi. Sesuai dengan namanya maka kami benarbenar
berusaha dan menginginkan agar kelak Partai kami ini menjadi harum
dalam merintis segala sesuatu yang baik di dunia persilatan. Kami percaya
bahwa hanya dengan usaha yang betul-betul, dengan segala kesungguhan
hati dan ditambah pula dengan bantuan saudara-saudara sekalian disini
terutama dari saudara-saudara golongan putih, maka pastilah dunia
persilatan akan diliputi ketentraman dan perdamaian abadi ...."
Sesudah mengakhiri pidatonya itu maka Ketua Partai Telaga Wangi
memperkenalkan istri dan ketiga puteranya pada para hadirin. Empat
anggota partai yang menduduki jabatan penting juga diperkenalkan.
Keempatnya ialah Jambakrogo, Pengurus Partai untuk daerah Utara,
Klabangsongo, Pengurus Partai daerah Selatan lalu Rah Gundala Pengurus
Partai daerah Barat dan yang keempat Suralangi, Pengurus Partai Daerah
Timur.
Dewa Pedang mengakhiri perkenalan tokoh-tokoh Partai Talaga
Wangi itu dengan kata-kata penutup
"Akhirul kalam, sekedar untuk pelepas dahaga dan penangsal perut
saudara-saudara sekalian, maka kami persilahkan saudara-saudara untuk
menikmati minuman serta hidangan selayaknya. Disamping itu jika ada
kekurangan atau kekhilafan dalam bentuk apapun sudi kiranya saudarasaudara
memberi maaf."
Dewa Pedang menjura lalu memutar tubuh Namun sudut matanya
menangkap acungan tangan seorang tamu yang duduk di sebelah Timur
panggung
"Ketua Partai Telaga Wangi! Sebagai Partai baru aku Si Bayangan
Setan ingin menjajaki sampai dimana kehebatan kalian! Jangan-jangan
Partaimu ini hanya bagus nama saja tapi tak ada isi! Jangan-jangan Partaimu
yang memakai nama Telaga Wangi hanya merupakan Telaga Busuk yang
tak mampu menghadapi pasang surut dunia persilatan! Sebagai Ketua Partai
apakah kau bisa sedikit memberikan bukti di hadapan para hadirin bahwa
Partaimu adalah satu Partai yang memang patut diberojotkan ... ?!"
Semua kepala para hadirin yang ada segera dipalingkan ke arah
Timur. Dewa Pedang sendiri juga memandang ke jurusan itu. Yang telah
buka suara tadi ternyata adalah seorang tokoh silat berjubah hitam berbadan
tinggi langsing, berkepala lonjong dan kedua pipinya sangat cekung. Dialah
tokoh yang digelari Si Bayangan Setan. Dan dari gelamya ini saja sudah
dapat diketahui bahwa dia adalah tokoh dari kalangan hitam.
Dewa Pedang yang tajam pemandangan diam-diam sudah maklum
bahwa maksud kedatangan serta ucapan Si Bayangan Setan tadi adalah satu
tantangan atau penghinaan atau sekurang-kurangnya menganggap remeh
Partainya dan dirinya selaku Ketua!
Namun dengan tenang dan bijaksana Dewa Pedang buka mulut
hendak menjawab. Tapi dari panggung sebelah Barat tiba-tiba terdengar
seseorang berseru. Suaranya keras menggeledek!
“Bayangan Setan! Apakah kau buta atau masih belum membuka mata
lebih lebar sehingga kau berbicara begitu terhadap Partai Telaga Wangi?
Jika kau kenal julukan Ketuanya tak bakal kau anggap remeh!"
Kini
semua kepala serentak diputar ke panggung sebelah Barat.
Namun tak seorangpun, termasuk Dewa Pedang yang mengetahui siapa
adanya manusia yang telah bicara tadi. Ini memberi kenyataan bahwa siapa
pun adanya orang itu maka dia pastilah memiliki tenaga dalam yang tinggi
dan ilmu memindahkan suara yang lihai.
Meskipun orang itu berada di sebelah Selatan atau Utara namun
suaranya bisa dipindahkan sehingga kedengarannya dari arah Barat atau
Timur!. Karena tak mengetahui siapa yang bicara maka Si Bayangan Setan
dengan penasaran berseru.
"Nama Dewa Pedang memang cukup dikenal karena permainan
pedangnya yang yah boleh juga! Tapi aku bertanya dan bicara tadi bukan
ditujukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk keseluruhan Partai Telaga
Wangi! Atau mungkin semua anggota Partai baru ini sekaligus memiliki
gelar sebagai Dewa Pedang;:.?!"
Terdengar suara mengekeh yang mengandung ejekan. Lagi-lagi suara
ini datangnya dari jurusan Baraf dan lagi-lagi tak satu orang pun yang tahu
siapa yang mengeluarkan suara tertawa itu.
"Kau terlalu sembrono dalam bicara Bayangan Setan. Apa kau tak
tahu bahwa ucapanmu itu menghina langsung nama Ketua serta seluruh
anggota Partai Telaga Wangi? Tak satu tokoh silat dan Partai persilatan pun
yang bisa menelan kata-katamu itu! Entah Dewa Pedang dan Partai
barunya!"
Diam-diam Ketua Paitai Telaga Wangi segera maklum bahwa di
antara para hadirin ada yang mulai memasukkan jarum-jarum perangsang
untuk menghangat dan mengacaukan suasana.
Dengan sikap tenang dan bijaksana dia menjawab. Waktu bicara ini
dia sama sekali tidak menghadap kepada Si Bayangan Setan secara langsung
namun memandang ke tengah-tengah hadirin. Sekaligus ini merupakan satu
balasan yang cukup menyakiti Si Bayangan Setan meskipun datangnya
secara halus.
“Saudara-saudara sekalian! Tadi
kami sudah menyatakan bahwa
maksud dari didirikannya Partai Telaga Wangi ini ialah untuk berusaha
menenterakan dan mendamaikan dunia persilatan. Sebagai Partai baru kami
memang belum punya nama. Tetapi justru bukan namalah yang ingin.dikejar
oleh Partai kami. Apa perlu nama hebat kalau kehebatan itu artinya hanya
untuk merusak belaka ... ?!"
Untuk kedua kalinya maka Si Bayangan Setan merasa disakitkan
hatinya oleh kata-kata Dewa Pedang itu. Dia berprasangka bahwa
gelarnyalah (Si Bayangan Setan) yang dimaksudkan oleh Ketua Partai
Telaga Wangi sebagai sesuatu nama yang hanya untuk merusak! Mulut Si
Bayangan Setan komat kamit. Dan dia angkat bicara kembali.
"Dunia sejuta arah, ucapan seribu kalimat lidah bersilat kata namun
dunia persilatan tetap dunia persilatan yang tiada mengenal adanya Satu
Partai baru tanpa diketahui partai yang macam mana kelasnya! Apakah kelas
keroco saja, atau bunglon, atau kadal, atau kunyuk? Setiap Partai baru wajib
menghadapi batu ujian!"
"Betul ... betul ... betul!" menyambung suara yang dari panggung
sebelah Barat.
"Partai baru musti diuji. Tapi apakah kau sanggup melakukan ujian
itu, Bayangan Setan? Jangan kau hanya bicara besar saja tak tahu isinya
cuma gemblong!" Marahlah Si Bayangan Setan mendengar kata-kata itu.
"Siapa takut melakukan ujian?!" katanya membentak, sekali tubuhnya
berkelebat maka melesatlah ia ke atas panggung! Sedikit pun gerakannya ini
tiada menimbulkan suara! Salah seorang tokoh silat dari aliran putih yang
ada di antara para tamu berbisik pada seorang kawan di sebelahnya.
"Bayangan Setan memang dikenal kehebatannya. Tapi kalau untuk
menghadapi Dewa Pedang dia akan sia-sia saja. .. !" kawan yang diajak
bicara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mari kita saksikan saja," katanya sambil memandang kembali ke atas
panggung Sementara itu dalam suasana yang hangat itu. mulai terdengar
suitan-suitan dan sorak sorai sebagian Yang hadir untuk memberi semangat
pada Si Bayangan Setan. Dan Si Bayangan Setan menjadi pongah. Sambil
memandang kepada para tamu dia. berkata:
"Kalian semua silahkan buka mata lebar-lebar. Hari ini aku Si
Bayangan Setan akan menguji satu Partai baru!”
Tiga Putera Ketua Partai Telaga Wangi menggertakkan geraham dan
mengepalkan tinju. Bahkan putera tertua yaitu Indrajaya segera berdiri dari
kursinya!.
***

DUA
Melihat
bangkit berdirinya putera Ketua Partai Telaga Wangi ini
maka sorak dari suara-suara membakar semangat berbagai rupa semakin
santar kedengaran di kalangan para hadirin, Dewa Pedang menyipitkan mata
kepada lndrajaya putera tertua yang melihat isyarat ini segera hentikan
gerakannya. Kemudian dengan segala kegeraman yang ada terpaksa duduk
ke kursinya kembali.
"Ha ha ha!" terdengar suara tertawa bergelak Si Bayangan Setan.
"Apakah aku datang ke panggung ini hanya untuk dianggurkan saja?"
ujarnya mengejek. Dengan tenang Ketua Partai Telaga Wangi memutar
kepalanya ke ujung paling kanan di mana berdiri seorang pemuda
berpakaian ringkas berbadan tegap dan berkumis kecil. Dia adalah Candra
Masa seorang murid atau anggota Partai tingkat muda yang paling pandai.
Tahu bahwa Si Bayangan Setan adalah seorang tokoh yang lihai dan
banyak pengalaman maka Dewa Pedang sengaja anggukkan kepala memberi
isyarat pada Candra Masa. Melihat anggukan ini, Candra Masa segera
melangkah ke muka. Dia menjura terlebih dahulu di hadapan Dewa Pedang
lalu memutar tubuh menghadapi Si Bayangan Setan.
”Bayangan Setan, atas izin Ketua kami, kuharap kau yang tua sudi
memberi sedikit pelajaran pada yang lebih muda...."
Si Bayangan Setan memandang dengan kerenyit kulit kening pada
Candra Masa lalu tertawa gelak-gelak sampai ke luar air mata.
"Ketua Partai Telaga Wangi" katanya pada Dewa Pedang sambil
mengucak-ucak matanya.
"Kau ini mau main badut-badutan atau apa sampai menyuruh bocah
yang masih bau air tetek ini menghadapi aku?!" Semua pihak Partai Telaga
Wangi gusar sekali menerima penghinaan dan perendahan begini rupa,
terlebih-lebih Candra Masa. Kedua rahangnya kelihatan bertonjolan.
Sebaliknya sang Ketua sendiri dengan tenang dan suara sabar menjawab;
"Bayangan Setan justru. Karena dia bau air teteklah maka kusuruh
menghadapi kau! Bukankah maksudmu hendak menguji Partai kami? Dan
bukankah yang lebih pandai itu biasanya menguji yang lebih bodoh? Nah
silahkan dimulai ”
Ucapan yang sabar serta tenang tapi berwibawa itu sekaligus
merupakan satu tempelak bagi Si Bayangan Setan. Mukanya merah sedang
para hadirin kedengaran lagi bersorak-sorak membakar semangat!
"Kalau memang tak ada muridmu yang lebih pandai dari yang satu ini
tak apalah ... !" kata Si Bayangan Setan pula. Kemudian dengan congkaknya
dia menambahkan.
"Untuknya kuberi kesempatan bertahan sampai tiga jurus! Kalau
dalam tiga jurus tubuhnya tidak terpelanting ke luar panggung jangan
panggil aku Si Bayangan Setan dan aku akan mengaku kalah padanya!" Si
Bayangan Setan tepukkan kedua telapak tangannya.
"Ayo, mulailah!" katanya.
"Ah, aku yang muda mana berani mulai lebih dahulu. Menurut aturan
yang lebih tua dan yang mengujilah yang musti maju lebih dahulu ...." jawab
Candra masa. Si Bayangan Setan menyeringai buruk.
"Baik, bila kau punya senjata keluarkanlah!" Candra Masa tersenyum.
"Selama lawan bertangan kosong, aku murid Partai Telaga Wangi
tetap akan menghadapinya juga dengan tangan kosong!"
"Kalau begitu terimalah jurus pertama ini?" kata Si Bayangan Setan
gusar. Sekali tubuhnya berkelebat maka diapun lenyap dan kini yang
kelihatan hanyalah sesosok bayangan hitam menyambar laksana kilat ke
arah Candra Masa sedang angin bersiuran turut menyerangnya dengan pesat!
Dengan maksud hendak memamerkan kehebatannya dan hasrah
hendak merubuhkan lawan dalam satu jurus saja, maka dijurus pertama itu
Si Bayangan Setan sudah mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat yaitu
ciptaannya sendiri yang bemama: "Bayangan Hitam Menjulang Langit"!
Candra Masa terkejut melihat lenyapnya tubuh lawan dan kini hanya
bayangan hitam serta angin pesat menyambar ke arahnya!
Namun dalam terkejutnya murid yang sudah terdidik ini tetap berlaku
tenang dan tidak kehilangan akal. Dengan cepat dijatuhkannya dirinya ke
lantai. Begitu tubuh lawan dilihatnya lewat di atasnya, pemuda ini segera
lancarkan pukulan tangan kosong!
Tapi pada detik itu pula Si Bayangan Setan bergerak memutar dan
laksana badai kaki kanannya menyambar kearah tangan yang memukul.!
Walau bagaimanapun kehebatannya tangan tak akan menang melawan
kaki! Sambil tarik pulang tangannya Candra Masa bergulingan di lantai.
Tendangan lawan menghantam angin kosong! Jurus pertama yang cukup
mendebarkan berlalu sudah!
Dan dari panggung arah sebelah Barat terdengar suara tertawa
manusia yang tadi:
"Ah .... Bayangan Setan.. nyatanya namamu kosong belaka! Bocah
yang katamu masih bau air tetek itu tak sanggup kau hadapi!” Hati Si
Bayangan Setan laksana dibakar
“Pemuda . . .! " Suaranya bergetar tanda amarah.
“Giliran kau sekarang untuk memulai ... !" Candra Masa tersenyum
jumawa.
"Terima kasih katanya. Tangan kanannya diacungkan ke muka seperti
sikap seseorang yang tengah memegang pedang.
”Lihat perut!" teriak Candra Masa tiba-tiba dan pada kejapan itu pula
tubuhnya melesat ke muka. Tangan menyambar ke perut Si Bayangan Setan.
Tanpa banyak cerita si Bayangan Setansegera menyongsong serangan
lawan ini dengan pukulan tangan kanan karena dia tahu bahwa tenaga
dalamnya jauh lebih tinggi dari si pemuda! .. . .
Sedetik lagi kedua lengan meieka akan beradu maka pada saat itu pula
terdengar kembali seruan Candra Masa.
"Lihat dada!" Dan laksana pedang lengan kanan anak murid Partai
Telaga Wangi itu menusuk ke arah dada Si Bayangan Setan!
Geram serta penasaran sekali maka Bayangan Setan menggerakkan
kedua tangannya sekaligus dalam ilmu pukulan yang disebut "Menabas
Gunung Mengepit Sungai".
Dengan ilmu silat ini Si Bayangan Setan bermaksud menjapit lengan
kanan lawan kemudian mematahkannya!
Tapi lagi-lagi Si Bayangan Setan tertipu karena begitu dia merasa
ilmu silatnya tadi akan berhasil mencelakai lawan tiba-tiba Candra Masa
berseru keras.
"Awas leher!" Dan laksana pedang lengan kanannya berkiblat
menyaput dan menderu ke batang leher Si Bayangan Setan.
"Heyyah!" Si Bayangan Setan membentak nyaring sehingga lantai
panggung yang terbuat dari papan menjadi bergetar sedang tubuhnya sendiri
lenyap dari pemandangan. Dengan ilmu meringankan tubuh. Candra Masa
meskipun kalah pengalaman masih dapat melayani lawan dalam jurus kedua
yang hampir tamat dan mencapai puncaknya itu.
"Jaga kepala!" seru murid Partai Telaga Wangi itu. Sewaktu lengan
lawan menebas ke arah leher Si Bayangan Setan berhasil mengelakkan dan
kini begitu terdengar seruan lawan maka tak ayal lagi dia segera merunduk
cepat dan laksana kilat menyodokkan ke muka dua jotosan sekaligus. Satu
menyerang dada satu menyerang ulu hati!
Namun cara mengelak dan menyerang yang dilancarkan oleh Si
Bayangan Setan ini terlalu kesusu dan sembrono sekali. Lengan lawan yang
,memang disangkanya hendak menetak kepalanya tiba-tiba dengan
kecepatan yang luar biasa berputar ke bawah dan naik lagi ke atas di antara
kedua lengannya dan.....
"Buk!"
Tubuh Si Bayangan Setan terjajar ke belakang. Tangan kanannya
mengusap-usap dada yang kena terpukul. Sorak sorai para hadirin tiada
terlukiskan. Banyak di antara mereka yang benar-benar mengagumi
kegesitan dan kecepatan serta kehebatan permainan silat Candra Masa.
Meski muda belia dan baru muncul di dunia persilatan namun telah
berhasil melayani nama besar Si Bayangan Setan, bahkan mengalahkannya
dalam dua jurus pertandingan!
Candra Masa menjura kepada para hadirin. Dan karena merasa bahwa
pertandingan tersebut sudah selesai dimana dia berhasil memukul lawan
dalam jurus kedua tadi maka Candra Masa memutar tubuh dan siap-siap
untuk menjura ke hadapan guru atau Ketua Partai Telaga Wangi untuk
kemudian kembali ke tempatnya. Namun di saat itu pula terdengar Sentakan
Si Bayangan Setan.
"Orang muda, tunggu dulu! Aku masih belum kalah!" Pihak Partai
Telaga Wangi lebih-lebih Candra masa sendiri jadi terkejut dan heran.
Demikian pula para hadirin.
"Bayangan Setan, apakah maksudmu. ..? " tanya Candra Masa pula.
"Aku belum kalah! Aku sama sekali tidak mengaku kalah!" Candra
Masa hendak menyahuti namun dari deretan hadirin sebelah Barat lagi-lagi
terdengar suara manusia yang tak dikenal tadi.
"Bayangan Setan, apakah kau betul-betul punya
hati setan dan
bermuka tembok? Sudah kena Digebuk dalam dua jurus masih mau
menantang? Sesuai dengan janjimu mustinya kau sudah minggat dari atas
panggung dan tak perlu memakai gelar Si Bayannan Setan lagi!"
"Keparat bangsat rendah!" hardik Si Bayangan Setan sambil memutar
badannya ke arah Barat. Pandangan matanya liar dan memancarkan amarah
yang meluap.
"Jika punya nyali harap unjukkan diri dan naik ke atas panggung!"
Jawaban dari panggung sebelah Barat adalah suara tertawa mengekeh yang
membuat. Semakin meluapnya amarah Si Bayangan Setan.
"Pemuda yang katamu masih bau air tetek itu saja belum sanggup kau
hadapi, apalagi mau menantang aku!" Si Bayangan Setan benar-benar
kehilangan muka diejek demikian rupa di hadapan sekian banyak tokohtokoh
persilatan.
"Bocah bau air tetek ini masih mending dari kau yang tak punya nyali
untuk naik ke atas panggung!" Kemudian dengan cepat Si Bayangan Setan
memutar tubuh menghadapi Candra Masa kembali. Tangan kanannya
bergerak ke balik jubah dan sesaat kemudian dia sudah memegang sebuah
senjata berbentuk pendayung yang terbuat dari besi hitam legam!
"Orang muda harap keluarkan kau punya senjata dan mari hadapi lagi
aku barang satu dua jurus!" kata Si Bayangan Setan pula.
Melihat gelagat yang tidak baik ini sedang dipihak hadirin ada yang
terus bersorak membakar semangat Si Bayangan Setan dan ada pula yang
memaki manusia ini maka Ketua Partai Telaga Wangi segera berkata:
"Saudara Bayangan Setan, kuharap kau sudah menuruti segala aturan
yang kau buat sendiri tadi dan mohon supaya meninggalkan panggung.
Bukankah maksudmu untuk menguji terhadap Partaiku sudah kesampaian...
Dan kami berterima kasih atas kesediaanmu untuk mau melakukan ujian itu
tadi “.
"Jika aku bisa buat aturan, aku bisa pula melanggamya!" jawab Si
Bayangan Setan dengan suara keras lantang.
"Betul!" ujar Dewa Pedang dengan suara mengandung kesabaran.
Diusahakannya agar dalam suasana panas ini tidak sampai terjadi kerincuhan
dan kekeruhan.
"Tapi karena saat ini kau berada di tempat kami maka kau juga wajib
mengikuti segala aturan kami, sekurang-kurangnya kau harus menghormat
kepada aturan kalangan persilatan ...."
"Aku datang ke sini bukan untuk mengikuti dan menghormat kepada
segala macam aturan apapun! Kalau muridmu tidak punya nyali, kau sendiri
pun maju akan lebih baik Kelamlah paras keseluruhan anggota Partai Telaga
Wangi, lebih-lebih ketiga putera Dewa Pedang serta Suwita isteri Dewa
Pedang mendengar ucapan Si Bayangan Setan yang mengandung
penghinaan itu. Namun Dewa Pedang sendiri anehnya masih tetap bisa
berlaku tenang-tenang duduk di kursinya.
"Ketua!" seru Candra Masa pula.
"Harap kau memberi izin padaku untuk menghadapi lagi manusia
yang tidak tahu aturan dan tak tahu peradatan serta tak tahu diri ini!"
"Baik Candra, tapi kali ini hati-hatilah ...." jawab Ketua Partai Telaga
Wangi pula.
Mendengar ini maka tak menunggu lebih lama Candra Masa segera
cabut pedangnya yang terbuat dari perak mumi sehingga sinar matahari
membuat senjata itu berkilauan!
***
Selanjutnya downlod sendiri ya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar