Senin, 17 Agustus 2009

Raja Rencong dari Utara

--011--
BASTIAN TITO
Pendekar Kapak nagageni 212
WIRO SABLENG

SATU

DISAMPING BUKIT KARANG YANG curam itu
terletak sebuah bangunan batu yang dikelilingi tembok
setinggi sepuluh tombak. Diluar tembok berderet-deret
barisan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai
ditiup angin laut. Bangunan yang terletak didekat pantai ini
terdiri dari sebuah rumah besar yang pada kedua
ujungnya terdapat sebuah bangunan bertingkat berbentuk
menara. Bangunan ini adalah sebuah pesantren yang
dipimpin oleh seorang Kyai bernama Suhudilah. Karena
itulah pesantren ini dinamakan Pesantren Suhudilah.
Disamping ilmu agama Kyai Suhudilah juga
mengajarkan ilmu silat dan ilmu kesaktian kepada
murid2nya. Karena Kyai Suhudilah lama sekali bermukim
di Turki, maka jurus2 ilmu silatnya banyak
dipengaruhi oleh jurus2 silat Turki. Dengan sendirinya
ilmu silat tersebut disamping aneh juga hebat
sekali. Pada masa itu nama Pesantren Suhudilah telah
terkenal didelapan penjuru angin Pulau Andalas
bahkan juga sampai2 ketanah Jawa.
Saat itu telah rembang petang. Satu dua jam
dimuka sang surya segera akan tenggelam, kembali
masuk keperaduannya dan baru akan muncul lagi
esok pagi. Dibawah menara timur kelihatan dua orang
berjubah. Keduanya sama2 tua dan sama2 berjanggut
putih. Mereka sedang asyik bermain dam. Yang seorang
menyodorkan buah damnya kedepan membuat satu
perangkap yang tak bisa dihindarkan oleh lawannya.
“Celaka!" kata Iaki2 tua yang kena dijebak sambil
menepuk keningnya. Buah dam yang disodorkan
lawannya mau tak mau harus dimakannya dan akibatnya
dia akan kehilangan empat biji dam sekaligus!
Lawannya tertawa mengekeh sambil mengelus-elus
janggutnya yang putih.
"Mana bisa kau mau mengalahkan aku lagi",
katanya, "tadi kuberi kau menang hanya untuk memberi
semangat saja. Ayo makanlah
"Tak ada jalan lain" kata sijanggut putih yang terjebak.
Diulurkannya tangan kanannya. Jari telunjuk dan ibu jari
hendak memindahkan buah dam. Tapi aneh! Buah dam
yang kecil dan terbuat dari kayu itu tak bergerak
sedikitpun! Dicobanya sekali lagi mengangkat buah itu,
tapi tak sanggup! Buah dam itu laksana sebuah benda
yang sangat berat!
"Heh, kenapa? Ayo jalan!"
"Buah dam ini ... . tak bisa bergerak! Tak bisa
.kuangkat"
Kawan Iaki2 itu menyangka dia ber-olok2. Dan
mengulurkan tangan kanan menyentuh buah dam!
Terkejutlah dia.! Memang betul! buah dam itu tak
sanggup digeser, apalagi diangkat. Diam? dia kerahkan

setengah bagian tenaga dalam dan mencoba lagi
mengangkat buah dam! Tetap seperti sedia kala ketika
dicobanya mengangkat buah2 dam yang lain, benda2
itupun ternyata tak bisa terangkat! Laki2 ini memandang
berkeliling.
"Aneh desisnya. Dan dikerahkannya kini
seluruh tenaga dalamnya. Tangannya tergetar hebat.
Keringat dingin memercik dikeningnya dan dadanya
terasa sakit!
"Agaknya ada seseorang berilmu tinggi tengah
mempermainkan kita "
"Tapi siapa ?".
Keduanya memandang berkeliling. Suasana
sunyi sepi, jangankan manusia, seekor lalatpun tak
engkaukelihatan! Laki2 itu kerahkan lagi tenaga
dalamnya.
Tiba2 papan dam mencelat menta! ke udara! Buah2
nya berhamburan! Kedua laki2 tua berjanggut putih
tersentak kaget dan berdiri cepat sewaktu kesunyian
dirobek oleh gelak tertawa yang hebat, menggetarkan
liang telinga dan memukul-mukul dada serta menyendatkan
jaian darah ditubuh mereka!
Sesaat kemudian entah dari mana datangnya
tahu2 sesosok tubuh sudah berdiri dua tombak dihadapan
mereka. Orang yang datang ini berpakaian
ungu berdestar tinggi dan juga berwarna ungu! Pada
bagian muka destar ini terdapat lukisan dua buah
rencong kuning yang saling bersilangan! Manusia ini
bertampang ganas. Dibavvah hidungnya melintang
kumis tebal. Bajunya tidak terkancing, mungkin disengaja
demikian untuk memperlihatkan dadanya
yang bidang dan berbulu! Pada kedua tangan dan
kakinya terdapat gelang akar bahar. Dan dari mulutnya
masih terdengar suara tertawanya yang hebat!
Meskipun rasa geram menyelimuti hati kedua
orang tua itu namun mereka tak mau bertindak gegabah.
Suara tertawa yang begitu hebat cukup menjadi
peringatan bagi keduanya bahwa manusia berbaju
ungu berdestar tinggi itu memiliki ilmu kesaktian
yang tinggi.
Salah seorang dari penghuni Pesantren Suhudilah
ini menjura hormat dan melayangkan senyum. Lalu
menegur:
"Tamu dari manakah yang datang ini, tanpa
memberi tahu lebih dulu sehingga kami tidak menyambut
sepatutnya?"
Orang yang ditegur tak segera menjawab, melainkan
tertawa dengan lebih hebat hingga tanah yang
dipinjak oleh kedua orang tua berjanggut putih terasa
bergetar! Dan mereka mulai merasa tidak enak.
Perbuatan sang tamu yang tadi secara diam-diam telah mengerahkan
tenaga dalam menahan buah2 dan yang
tengah mereka mainkan sesungguhnya sudah sangat
menyakitkan hati, apalagi setelah ditegur hormat
begitu rupa sang tamu masih bersikap seenaknya dan
penuh kecongkakan!
"Saudara, harap beritahukan siapa kau! Juga
maksud kedatanganmu kemari ....!"
Sang tamu bertolak pinggang.
"Apakah ini Pesantren Suhudilah?" tanyanya
dengan suara berat dan serak.
"Betul
"Kalau begitu lekas panggil Pemimpinmu dan
bawa kehadapanku!" memerintahkan sang tamu.
“Ah, lebih dulu harap terangkan nama dan maksud
kedatanganmu, baru kami bisa menjalani sebagai-mana
mestinya".
Sang tamu pelototkan mata.
"Benar2 Kalian berdua masih belum tahu berhadapan
dengan siapa?!"
"Ya..ya kami belum tahu siapa sebenarnya
saudara?".
Laki2 berpakaian ungu menyeringai.
"Aku adalah manusia yang bakal menguasai
seluruh pulau besar ini, dari utara keselatan, dari
barat sampai ke timur! Apa kalian masih belum men
dengar gelar Raja Rencong dari Utara?!"
"Ah" kedua orang tua berpakaian putih sama2
menjura mesti hati mereka terkejut dan ter getar hebat
sewaktu sang tamu kenalkan gelarnya
"Nama itu sudah seringkali kami dengar. Tapi karena
kami orang pesantrenan jarang mengurus soal2 diluaran
harap dimaafkan kalau tadi kami tidak tahuengkautengah
berhadapan dengan siapa.
Sementara itu yang seorang diam2 memberi
peringatan dengan ilmu menyusupkan suara: "Hati2 dan
waspadalah. Manusia ini adalah bangsa iblis terkutuk
yang kekejamannya tiada tara!"
"Raja Rencong Dari Utara, sekarang harap terangkan
maksud kedatanganmu kemari "
"Kalian tidak layak bertanya!" sentak Raja
Rencong Dari Utara. "Lekas panggil pemimpin kalian!"
"Menyesal sekali! Sebelum kami tahu angin apa
gerangan yang membawa Raja Rencong kemari,
tak bisa kami memenuhi permintaanmu. Lagi pula
pemimpin kami sedang keluar ".
"Kurang ajar! Kau berani dusta?!"
"Kami orang agama mana berani berdusta? Kyai
Suhudilah pergi sejak pagi tadi
"Aku tidak percaya! Aku akan geledah seluruh
pesantren ini!". Raja Rencong melangkahkan kaki
menuju kepintu dikaki menara tapi kedua orang tua
berpakaian putih menghalangi.
"Harap kau menghormati aturan kami. Tak se

orangpun boleh masuk tanpa mendapat izin . . . !"
"Kurang ajar! Terhadap Raja Rencong Dari
Utara tak berlaku segala macam aturan! Masakan
untuk masuk kebangunan sarang tikus ini saja perlu
minta izin? Persetan!"
Tapi kedua orang tua itu kembali menghalangi
langkah Raja Rencong. Maka marahlah Raja Rencong
dan dorongkan tangan kanannya! Gerakannya acuh
tak acuh dan kelihatannya Iemah2 saja! Tapi tahu2
suatu angin pukulan yang dahsyat sudah menghantam
,kedua orang dihadapannya!
Karena tak menyangka akan diserang mendadak
begitu rupa kedua orang tua berjubah putih itu tak
sanggup menangkis atau berkelit. Tak ampun lagi
tubuh mereka dilanda angin pukulan Raja Rencong
Dari Utara. Keduanya mencelat mental sampai beberapa
tombak. Yang satu begitu terhampar ditanah tak
berkutik lagi. Yang seorang lainnya masih mencoba
bangun terhuyung-huyung. Tubuhnya terbungkuk
ke depan, dadanya sakit dan sewaktu dirasakannya
seperti mau batuk, yang keluar dari mulutnya ternyata
adalah muntahan darah kental berbuku buku!
Laki ini kesaktiannya cum? dua tingkat di bawah
Kyai Suhudilah tapi Raja Rencong merubuhkannya
dalam satu kali pukulan saja! Namun sebelum meregang
nyawa dia masih sempat berteriak memberi tanda
bahaya!
Sesaat kemudian dua puluh orang anak murid
Pesantren Suhudilah sudah berada ditempat itu.
Rata2 mereka memiliki kepandaian silat yang tak bisa
dianggap enteng, bahkan tiga diantaranya adalah
kakek2 tua renta yang tingkat kepandaiannya sama
dengan Iaki2 yang berteriak tadi sebelum sampai ajalnya.
Ketiganya disamping berguru pada Suhudilah
juga merupakan tenaga pengajar murid2 yang masih
muda.
Melihat dua orang kawan mereka menggeletak
dikaki menara tanpa nyawa, semuanya terkejut dan
dengan segera mengurung Raja Rencong Dari Utara.
Salah seorang dari mereka maju menegur:
"Tamu tak dikenal, alasan apakah yang membuat
kau menjatuhkan korban ditempat suci ini?"
Raja Rencong memandang berkeliling dengan
pandangan merendahkan semua orang itu.
"Mana pemimpinmu?!" tanya Raja Rencong.
engkau"Jawab dulu pertanyaanku, saudara tamu . . .".
"Heh apakah kau dan kawan2mu hendak menyusul
yang dua orang itu?!" belalak Raja Rencong.
Dengan tenang orang tua tadi menjawab: "Musuh tidak
dicari, kalaupun datang mana mungkin kami berpangku
tangan? Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.
Kawan2 mari tangkap pembunuh ini!  Serempak dengan

itu dua puluh orang segera melompat kemuka.
Serangan2 bersiuran laksana hujan!
Raja Rencong Dari Utara ganda tertawa. Kedua
tangannya dipukulkan kemuka menyongsong serangan.
Dua gelombang angin menderu. Lima orang disebelah kiri
dan lima orang disebelah kanan menjerit lalu tergelimpang
rubuh! Delapan diantaranya tiada berkutik lagi. Yang dua
menggerang kesakitan muntah2 darah!
Kejut para toa Pesantren Suhudilah bukan alang
kepalang! Segera mereka menghunus pedang panjang
berkeluk dan menyerbu kembali!! Dengan senjata
ditangan maka meski jumlah mereka kini tinggal sepuluh
orang tapi daya serang mereka jauh lebih hebat
Dan berbahaya dari pada pertama kali tadi!
Raja Rencong Dari Utara diserang demikian rupa
masih cengar-cengir tertawa se-akan2 serangan itu
adalah satu permainan yang menyenangkannya!
"Manusia2 tak berharga berani melawan Raja
Rencong Dari Utara terimalah mampus!"
Mendengar seruan itu, mengetahui bahwa manusia yang
tengah mereka gempur adalah Raja Rencong
Dari Utara, tercekatlah hati orang2 Pesantren Suhudilah!
Untuk sesaat lamanya mereka tak jadi teruskan
serangan. Namun salah seorang dari mereka berseru :
engkau
"Saudara2ku, kalau betul bangsat ini Raja Rencong
Dari Utara mari kita berebut pahala membunuhnya! Kita
balaskan sakit hati saudara2 kita dan tokoh2 silat yang
telah dimusnahkannya!"
Mendengar ini keberanian yang tadi menciut kini
berkobar kembali dan kesepuluh orang itu dengan
serentak teruskan serangan mereka secara lebih
hebat lagi! Sepuluh pedang menderu. Tiga menusuk,
empat membabat dan tiga lainnya membacok dari
atas kebawah! Dapat dibayangkan bagaimana tubuh
Raja Rencong akan tersatai dan terkutung-kutung dilanda
serangan sepuluh pedang itu!
Raja Rencong membentak garang. Tanah bergetar!
Tubuhnya lenyap dalam satu gerakan yang luar biasa
cepatnya. Kemudian terdengar satu suara keluhan yang
disusul dengan suara "trang trang .trang2 sampai
beberapa kali! Jeritan terdengar susul menyusul. Tiga
batang pedang mental keudara, lima buah tangan
terbabat putus!
Apakah yang sesungguhnya telah terjadi?!
Pada waktu sepuluh pedang berkiblat. Raja Rencong
dengan jurus silat yang luar biasa cepat dan hebatnya,
menyelinap diantara tusukan, bacokan dan babatan
pedang. Kaki kanan menghantam kesamping
menendang seorang penyerang yang paling dekat dan
berlaku lengah! Begitu tendangan mendarat begitu
Raja Rencong rampas pedang ditangan laki2 itu dan

pergunakan senjata itu untuk menangkis serangan
sembilan pedang lainnya dalam satu jurus ilmu pedang
yang teramat lihay! Tiga buah pedang ditangan
tua2 Pesantren Suhudilah yang berkepandaian tinggi
mental sedang lima orang lainnya menjerit keras
karena tangan masing2 terbabat buntung! Meski tahu
bahwa Raja Rencong bukanlah tandingan mereka
engkautapi ketiga orang tua itu bukanlah manusia2
pengecut. Lebih baik mati daripada lari atau menyerah!
Setelah saling memberi syarat ketiganya menyerang
lagi dari kiri kanan dan depan!
Raja Rencong melintangkan pedang yang berlumuran
darah dimuka dada. Sengaja ditunggunya
sampai tiga serangan lawan berada dekat sekali
ketubuhnya baru dia menggerakkan' tangan kanan
menyelundupkan pedangnya dalam tiga tusukan
berantai yang cepat laksana kilat dan sukar diduga!
Ketiga tua Pesantren itu terhuyung bermandikan darah.
Yang seorang segera roboh tak berkutik lagi karena
tusukan pedang Raja Renconq tepat menembus
jantungnya. Yang dua lagi terhuyung2 nanar,
perut robek usus menjela2 dan akhirnya roboh pula
menyusul kawan2nya!, Raja Rencong tertawa gelak2
sambil bertolak tangan kiri kepinggang. Tiba2 Raja
Rencong Dari Utara hentikan tertawanya. Satu suara
laksana ngiangan nyamuk menyelusup ditelinganya:
"Demi Tuhan! Pesantren yang begini suci telah
jadi korban keganasan! Bangunan suci hendak dimusuhi
Padahal disini tidak terdapat harta berharga emas
berbungkah! Sungguh diluar perikemanusiaan!".
Belum lagi Raja Rencong sempat berpaling .
tahu2 sesosok tubuh berjubah putih melompat turun
dari jendela menara sebelah barat! Gerakan orang ini
enteng seringan kapas!

DUA
ORANG BERJUBAH PUTIH INI berbadan sangat
pendek hingga jubahnya menjelajela ditanah. Dibahu
kanannya terselempang sehelai selendang putih
berumbai-umbai. Sorbannya besar sekali. Melihat kepada
keadaan tubuhnya yang masih tegap itu orang akan
menaksir dia baru berusia sekitar setengah abad. Tapi
sesungguhnya dia telah hidup tujuh puluh tahun lebih
diatas dunia ini!
"Kau Kyai Suhudilah?!" bentak Raja Rencong
Dari Utara. Orang pendek berjubah putih tidak menjawab.
Diputarnya kepalanya memandang mayat2 yang
bergelimpangan hanya seorang yang masih hidup yaitu
yang pedangnya tadi dirampas Raja Rencong, namun
keadaannya juga tak ada harapan karena tendangan
Raja Rencong telah mematahkan tulang pinggangnya!
Paras Iaki2 pendek itu mula2 tenang sekali.
Namun melihat mayat yang demikian banyaknya tak
dapat iamenyembunyikan gelora darahnya. Wajahnya
yang tertutup kumis dan janggut putih itu kelihatan
kelam membesi!
"Demi Tuhan", katanya seakan-akan pada
dirinya sendiri, "dosa apakah yang telah kami buat
hingga menerima cobaan yang begini besar?!".
Sejak pertanyaannya tadi tidak dijawab, Raja
Rencong merasa dianggap remeh dan menjadi marah
sekali. Dan mendengar ucapan sijubah putih Raja
Rencongpun berkata dengan suara lantang : "Manusia
katai tolol! Ini bukan cobaan! Orang2 itulah yang
sengaja mencari mati sendiri karena keliwat berani
melawan Raja Rencong Dari Utara!"
"Alasan yang tidak beralasan!" jawab sijubah
putih masih tanpa memandang pada Raja Rencong.
"Nyawa manusia bukan milik manusia! Kenapa ada
manusia yang berani berbuat se-wenang2 begini
rupa?!"
"Katai! Jangan bicara ngelantur terus2anl Katakan kau
Kyai Suhudilah apa bukan?!"
"Ada apakah kau mencari Kyai itu?!"
"Tak perlu bertanya! Kalau kau bukan Kyai
Suhudilah lekas katakan dimana dia berada "
"Apakah ada dendam kesumat lama yang kau
bawa datang kemari? Kyai Suhudilah tak ada disini!
Aku wakilnya! Kalau ada keperluan katakan saja
nanti kusampaikan!"
Raja Rencong Dari Utara menimang sejenak. Dia
percaya kalau orang dihadapannya tidak berdusta
bahwa Kyai Suhudilah tak ada di Pesantren saat itu.
"Sebagai wakil di Pesantren ini, disamping harus
menyampaikan pesanku pada Kyai Suhudilah kurasa

ada baiknya kau mengetahui maksud kedatanganku
kemari! Katakan pada Suhudilah bahwa pada tanggal
satu bulan dimuka dia harus datang ke Bukit Toba
membawa lima puluh keping uang emas sebagai tanda
tunduk padaku dan masuk kedalam sebuah partai
besar yaitu Partai Topan Utara yang bakal kudirikan
dan kuresmikan! Katakan juga padanya kalau dia
berani menolak, lebih baik bunuh diri saja!"
Paras laki2 berjubah putih itu tambah kelam membesi.
"Kalau aku boleh bertanya, hak apakah yang
membuat kau memaksa orang untuk tunduk dan
tnaiuk kedalam partai yang hendak kau dirikan?!"
Raja Rencong Dari Utara tertawa tawar.
"Itu akan kuterangkan nanti pada hari peresmian
berdirinya Partai Topan Utaral Dan jangan lupa,
adalah juga menjadi kewajibanmu untuk mematuhi
pesanku tadi dan datang ke Bukit Toba!"
Kini sijubah putihlah yang tertawa rawan.
"Hendak mendirikan partai dengan main paksa?
Hendak mendirikan partai dengan menempuh jalan
berlumuran darah? Sungguh keji!"
"Jadi kau menolak untuk tunduk dan datang?!"
tanya Raja Rencong. Nada suaranya membayangkan
ancaman.
"Aku Kyai Hurajang sebagai wakil pemimpin pesantren
Suhudilah berhak menolak permintaanmu yang secara
memaksa itu, apalagi mengingat apa yang telah kau
lakukan disini! Pembicaraan tentang segala macam
partai, tentang segala macam tanggal dan tahun,
tentang segala macam peresmian kita tutup
Sampai disini! Sekarang yang patut dibicarakan ialah
tentang pertanggung jawabmu atas dua puluh korban
yang berhamparan itu!"
Raja Rencong Dari Utara meneliti paras Kyai
Hujarang sejenak lalu tertawa ge!ak2.
“Kukira dengan melihat dua puluh mayat didekatmu
Kukira hidungmu akan menjadi satu. Peringatan Bagimu
untuk tidak bicara apalagi bertindak gegabah! Tapi dasar
manusia tidak tahu tingginya Gunung Leuser tak tahu
dalamnya danauToba! Dikasih anggur malah meminta
racun”.
Kyai Hujarang menghela nafas dalam
“ Betapapun tingginya gunung lebih bagus tingginya
budi. Betapapun dalamnya Danau lebih baik dalamnya
jalan Pikiran dan kemanusiaan. Terserahlah kalau disitu
menganggap ini suatu penantangan Bagaimanapun aku
tak dapat menerima permintaanmu! Sekarang ulurkan
tangan kananmu yang telah menebar maut disini!"
"Kalau kuulurkan tangan, kau mau berbuat apakah?!"
tanya Raja Rencong Dari Utara ingin tahu.
"Siapa yang membunuh hukumannya harus dibunuh!
Tapi aku masih memberi ampun padamu CUKUP hanya
dengan memotong tangan kananmu sebatas siku!"

Kembali Raja Rencong Dari Utara tertawa
gelak2.
"Kyai tak tahu diuntung!" dampratnya, "jika kau
sanggup menahan seranganku sampai lima jurus
aku bersumpah untuk bunuh diri dihadapanmu!"
"Ajaran agamaku mengatakan balaslah kebaikan
dengan kebaikan, tapi balaslah kejahatan dengan
keadilan! Akan kulaksanakan keadilan namun sengaja
kau minta hukuman yang lebih berat! Ah ... . mungkin
sudah takdir aku harus turun tangan menyelamatkan
dunia dari angkara murka yang kau timbulkan!"
"Sudah jangan ngelantur! Terima jurus yang pertama
ini!" bentak Raja Rencong Dari Utara. Tangan
kanannya dipukulkan kemuka! Satu angin dahsyat
menderu dengan kekuatan setengah tenaga dalam!
Melihat datangnya serangan ini Kyai Hurajang
salurkan tiga perempat tenaga dalamnya kelengan
jubah lalu kebutkan lengan jubah itu! Selarik angin
putih menyambar. Tapi betapa terkejutnya Kyai Hurajang
sewaktu tenaga dalam mereka saling bentrokan,
tubuhnya terjajar kebelakang samai dua tombak!
Nyatalah tenaga dalam lawan jauh lebih hebat! Dan
sang Kyai sama sekali tidak tahu kalau Raja Rencong
baru cuma mengandalkan setengah bagian saja dari
tenaga dalamnya!
Melihat sekali hantam saja lawan sudah huyung
begitu rupa dengan tertawa Raja Rencong lipat gandakan
tenaga dalamnya! Jika saja Kyai Hurajang tidak
engkaulekas melompat pastilah tubuhnya akan kena
disapu dan terlempar jauh!
Menyadari tenaga dalam lawan lebih hebat maka
Kyai Hurajang begitu melompat diudara segera
menyambar selendang berumbai-umbai yang
terselempang dibahunya! Dan serentak turun ketanah
kembali selendang itu dikebutkannya kearah lawan!
Raja Rencong terkejut sekali sewaktu merasakan
bagaimana kebutan selendang berumbai-umbai itu
mendatangkan angin keras yang dingin menyembilu
tulang2 sekujur badannya! Tubuhnya tergontai-gontai.
Tapi cepat dia menguasai diri dan membuka jurus
kedua dengan satu serangan yang luar biasa cepatnya!
Kyai Hurajang putar selendangnya sekeliling
tubuh melindungi diri dari gempuran dua tendangan
dan dua jotosan lawan! Laksana disapu topan layaknya
serangan Raja Rencong menemui kegagalan total!
Tergetar juga hati Raja Rencong. Tidak disangkanya
selendang lawan mempunyai kehebatan demikian
rupa! Tidak menunggu lebih lama dia segera pentang
tangan kanan dan kembangkan kelima jari.
"Aku mau lihat apakah kau sanggup menerima
pukulan ilmu kuku api ini?" hardiknya. Kelima jari
tangan dijentikkan kemuka. Dari kuku2 jari tanganitu menderulah lima larik sinar merah!
Kyai Hurajang kerahkan seluruh tenaga dalam
dan menangkis dengan selendangnya!
"Wuss!"
Kyai Hurajang berseru kaget dan lepaskan selendangnya
yang dalam kejap itu telah berubah menjadi kepulan api
dilanda pukulan kuku api yang dilepaskan Raja Rencong!
Muka Kyai ini berubah pucat laksana kertas! Raja
Rencong Dari Utara tertawa mengekeh.
"Apakah cuma itu satu2nya senjata yang kau
andalkan hingga kau demikian pucatnya?!" ujar Raja
Rencong mengejek!
"Aku masih belum kalah" kata Kyai Hurajang.
"Dalam Dua jurus mendatang jangan harap kau bisa
lepas dari tanganku!"
Kyai Hurajang rangkapkan kedua tangan dimuka dada,
mata meram dan mulut komat kamit Sesaat kemudian
wajahnya berubah menjadi biru.
"Haha ... . ilmu siluman apakah yang
hendak kau keluarkan Kyai?!" ejek Raja Rencong
Dari Utara.
Kyai Hurajang usapkan telapak tangannya kemuka.
Warna biru diwajahnya lenyap dan sebagai gantinya kini
kedua tangannya sampai pergelangan berubah menjadi
biru legam dan bersinar!
"Bersiaplah untuk menerima kematian!" desis
Kyai Hurajang lalu tutup ucapannya dengan hantamkan
kedua tangannya kemuka! Dua larik sinar biru
menderu kearah Raja Rencong Dari Utara! Inilah
ilmu pukulan kelabang biru yang pernah dituntut
Kyai Hurajang dari seorang sakti di Pulau Jawa!
Jangankan manusia, batu karang yang bagaimanapun
atosnya akan hancur lebur dilanda dua larik sinar biru
itu. Jika dipukulkan kepohon besar, maka pohon itu
akan menciut mati detik itu juga akibat racun dahsyat
yang terkandung dalam larikan sinar biru itu!
Raja Rencong Dari Utara juga sudah pernah
mendengar tentang ilmu pukulan kelabang biru dan
sudah maklum akan kehebatannya. Karenanya
begitu lawan lepaskan pukulan tersebut tak ayal lagi
dia segera gerakkan tangan kanan kepinggang! Sekejap
kemudian sewaktu dua larik sinar biru itu akan
melandanya, selarik sinar kuning yang terang berkelebat
kedepan dan terdengarlah satu letusan yang keras sekali
sewaktu kedua sinar itu saling beradu diudara!
Kyai Hurajang terjajar kebelakang, tersandar kekaki
menara. Dadanya sakit, nafasnya sesak sedang
parasnya pucat tiada berdarah. Dilain pihak kelihatan
kedua kaki Raja Rencong Dari Utara melesak ketanah
sedalam satu setengah dim. Tangan kanannya yang
memegang sebilah Rencong Emas masih diacungkan
ke udara! senjata inilah tadi yang telah mengeluarkan
sinar kuning dan bertubrukan dengan sinar biru
pukulan Kyai Hurajang! Perlahan-lahan Raja Rencong
turunkan tangan kanannya dan masukkan Rencong
Emas itu kebalik baju ungunya. Dan memandang
kemuka. Kyai Hurajang telah melosoh ketanah. Ketika
kepalanya terkulai kesamping, nyawanyapun lepaslah!
Raja Rencong Dari Utara tertawa mengekeh.
Dari dalam saku pakaiannya dikeluarkannya sebuah
benda dan dilemparkannya kearah kepala Kyai Hurajang!
Benda itu menancap tepat dikening sang Kyai
dan ternyata adalah sebuah bendera kecil berbentuk
segitiga berwarna ungu, pada tengah2nya terdapat
gambar dua buah rencong kuning saling bersilangan.
Pada tiang bendera kecil terikat segulung kertas!
Raja 'Rencong terus juga mengumbar tertawanya.
Setelah memandang berkeliling akhirnya ditinggalkannya
tempat itu!



00--00--00--
 Selanjutnya download di : Raja Rencong Dari Utara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar