Sabtu, 15 Agustus 2009

Sepasang Iblis Betina

--014--
BASTIAN TITO
Pendekar Kapak Nagageni 212
WIRO SABLENG

MATAHARI yang tadi bersinar amat terik kini sinarnya itu pupus di telan awan hitam
yang datang berarak dari arah timur. Sesaat kemudian langitpun mendung hitam. Hujan
rintik-rintik mulai turun disertai sambaran kilat dan gelegar guntur. Sekali lagi kilat
menyabung. Sekali lagi pula guntur menggelegar membuat seantero bumi
bergetar. Dan hujan rintik-rintik kini berganti dengan hujan lebat. Demikian
lebatnya hingga tak beda seperti dicurahkan saja layaknya dari atas langit.
Sekejap saja segala apa yang ada di bumi menjadi basah. Laut menggelombang,
sungai menderas arusnya, sawah-sawah tergenang air. Selokan-selokan kecil banjir.
Di antara semua itu bertiup angin dingin yang mencucuk sampai ke tulang-tulang sungsum.
Di kala setiap orang berada di tempat kediamarn masing-masing, di kala semua orang
berusaha mencari tempat berteduh guna menghindari hujar; lebat itu, maka di samping sebuah
bukit batu kelihatanlah dua sosok bayangan kuning berkelebat lari dengan amat cepatnya.
Seolah-olah kedua orang itu tidak memperdulikan lebatnya hujan, tidak mengacuhkan deras
dinginnya tiupan angin. Juga sama sekali tidak mau ambil perhatian terhadap batu-batu licin yang
mereka lompati dalam lari mereka yang laksana terbang cepatnya.
Dan adalah lebih mengherankan lagi karena kedua orang berpakaian kuning itu nyatanya dua
orang gadis cantuk jelita. Dari paras mereka yang hampir bersamaan itu jelas keduanya
bersaudara atau satu kakak satu adik. Saat itu mereka berhenti di satu bagian bukit yang terjal.
Pakaian mereka yang bagus dan panjang menjela sudah basah kuyup oleh siraman air hujan.
Demikian pula rambut hitam panjang yang tersanggul rapi di atas kepala masing-masing. 
Pakaian yang basah itu melekat ketat ke tubuh mereka hingga jelas kelihatan membayang keluar potongan
badan mereka yang bagus ramping.
Keduanya memandang berkeliling. Mata mereka yang tajam berusaha menembus tabir hujan
dan kabut yang tebal.
"Heran," kata salah seorang dari mereka. "Kemana kaburnya pemuda itu…."
"Kalau dia sampai bertemu dengan lain orang, dan menuturkan apa yang diketahuinya
tentang diri kita sebelum kita berhasil merungkusnya, celakalah kita, kakak!"
Gadis baju kuning yang dipanggilkan kakak menggigit bibirnya. Di wajahnya yang bulat
telur itu jelas terlihat rasa cemas yang amat sangat.
"Kurasa dia belum lari jauh, adikku. Mari!"
Maka kedua gadis itupun berkelebat dan di lain kejap sudah lenyap dari tempat itu.
Kemudian kelihatan keduanya berlari cepat di dalam lebatnya hujan ke arah kaki bukit sebelah
timur. Meski tiupan angin keras sekali memampasi lari mereka, namun itu tidak mengurangi
kecepatan lari masing-masing! Di kaki bukit keduanya melompati sebuah anak sungai. Kilat tibatiba
menyambar lagi. Gadis baju kuning yang berlari di sebelah belakang berseru, "Kakak!
Tunggu!"
"Hai ada apakah, Dewi?" tanya gadis yang lari di depan seraya menghentikan larinya dan
berbalik!
"Waktu kilat menyambar tadi, kulihat di sebelah sana ada sebuah pondok. Siapa tahu ..."
"Mari kita selidiki,"ujar sang kakak yang bernama Nilamaharani sambil menarik lengan
adiknya yang bernama Nilamahadewi.
Dalam waktu yang singkat kedua gadis itu telah sampai di pondok yang tadi terlihat di
kejauhan dalam terangnya sembaran kilat. Di ambang pintu pondok yang tertutup berdiri seorang
tua berkerudung kain sarung yang telah kumal dan apak baunya.
Si orang tua kelihatan terkejut sekali karena tahu-tahu di hadapannya berdiri dua orang gadis
berparas jelita.
"Ka . . . kalian . . . siapa?" tanya orang tua ini gugup. Dia kawatir kalau dua gadis itu bukan
manusia sungguhan.
Bukannya menjawab, sebaliknya Nilamahadewi bertanya membentak, "Orang tua! Apa kau
lihat seorang pemudi baju putih lewat di sini?"
"Ti .., tidak," jawab si orang tua masih gugup.
"Jangan dusta!" Nilamaharani membentak dengan melototkan kedua matanya.
"Sungguh aku tidak dusta . . . ".
"Kita geledah pondoknya!" kata Nilamaharani lalu menggerakkan tangan kirinya dan si
orang tua terpelanting jatuh.
"Jangan!" seru orang tua itu. Dia cepat berbangkit dan hendak menghalangi.
"Tua bangka tidak tahu diri!" bentak Nilamaharani dan menendang pinggul si orang tua
hingga mencelat mental dan melingkar pingsan di halaman pondok di bawah siraman hujan lebat.
Dengan kakinya yang lain Nilamaharani menendang pintu pondok hingga bobol. Begitu
pintu hancur dan terpentang lebar sesosok tubuh berpakaian putih kelihatan menghambur lewat
jendela samping.
"Itu dia!" teriak Nilamahadewi.
"Kau mau lari ke mana hah?" ujar Nilamaharani seraya mengulurkan tangannya mencekal
leher pakaian si pemuda. Tapi pemuda ini lebih cepat lagi. Dengan satu gerakan kilat dia
membungkuk lalu memutar larinya ke lain jurusan. Tapi justru dia salah tindak karena arah
larinya itu memapasi Nilamahadewi yang datang dari samping. Kini dia terkurung di tengahtengah.
"Kalian ini manusia-manusia macam apakah?!" si pemuda berkata dengan suara keras.
"Sesudah menipu aku kalian inginkan jiwaku pula!" Pemuda ini berumur sekitar dua puluh tahun.
Wajahnya cakap dan kulitnya kuning.
Nilamaharani tertawa bergumam. Ada bayangan yang aneh di balik tawanya itu. Dan
bayangan aneh ini membuat si pemuda merasa ngeri.
"Orang muda, jangan banyak mulut. Sudah menjadi ketentuan bahwa kau harus mati di
tangan kami!"
"Tapi aku tidak punya kesalahan apa-apa terhadap kalian. Bahkan aku telah turutkan
kemauan kalian. Tapi ketika aku tahu bahwa kalian ..."
"Plaak!"
"Heh, kuat juga kau ya?!" kata Nilamaharani. Dia melompat, membungkuk menangkap
salah satu kaki si pemuda lalu melemparkan pemuda itu ke arah sebatang pohon waru. Tak
ampun lagi kepala pemuda itu hancur, otaknya berhamburan. Nyawanya putus sebelum tubuhnya
jatuh melingkar di akar pohon!
"Baru lega hatiku sekarang," kata Nilamaharani. Di betulkannya gelungan rambutnya. Dia
berpaling pada adiknya dan saat itu Nilamahadewi berkata.
"Mari kita tinggalkan tempat ini."
Keduanya segera meninggalkan tempat tersebut tapi belum jauh tiba-tiba Nilamaharani
menghentikan larinya.
"Astaga!"
"Ada apa?" tanya Nilamahadewi.
"Orang tua itu."
"Kenapa dia?"
"Mungkin pemuda itu telah membuka rahasia padanya."
"Kalau begitu …" ujar Nilamahadewi seraya membalikkan tubuh. Sesaat kemudian dia
sudah berada kembali di depan pondok.
"Lekas bereskan dia, adikku. Aku sudah tak tahan dinginnya udara gila ini!"
Nilamahadewi tak perlu disuruh dua kali. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.
Kepala orang tua yang masih menggeletak pingsan itu ditendangnya hingga rengkah.
***
2
HUTAN Bintaran terkenal sebagai hutan yang banyak binatang perburuannya. Mulai dari kelinci
sampai pada rusa-rusa muda yang amat jinak. Karena itulah Adipati-adipati di Jawa Tengah dan
setiap orang yang gemar berburu, kerap kali melakukan perburuan di hutan tersebut.
Sekali waktu putera Adipati Muntilan bersama dua orang pembantunya berangkat ke hutan
Bintaran untuk berburu. Menjelang tengah hari mereka telah berhasil membunuh tiga ekor
kelinci, menjebak hidup-hidup seekor tupai berbulu merah. Tepat sewaktu matahari mencapai
titik tertingginya, putera Adipati itu duduk melepaskan lelahnya di tepi sebuah telaga.
"Sejuk sekali air telaga ini," kata putera Adipati itu sambil merendamkan kedua kakinya ke
dalam air telaga. "Telaga apakah ini namanya paman?"
Salah seorang pembantu yang sudah agak lanjut usianya menjawab, "Kalau saya tidak salah,
ini Telaga Puteri Intan Dewi." Lalu dituturkannya sedikit cerita tentang sampai bagaimana telaga
itu diberi nama demikian.
Baru saja pembantu itu menyelesaikan ceritanya, di tepi telaga yang terletak di seberang
mereka muncullah seekor anak rusa. Binatang ini memandang kian kemari lalu melangkah lebih
dekat ke tepi telaga dan mencelupkan mulutnya ke dalam air.
Cepat-cepat Aryo Darmo, putera Adipati Muntilan itu, mengambil busurnya. Ketika anak
panah hendak dilepaskannya, selintas pikiran timbul dalam hatinya. Anak rusa itu bagus sekali
bulunya. Coklat berbintik-bintik putih besar-besar. Hatinya pun tak tega untuk membunuh
binatang itu. Karena kelihatannya anak rusa ini cukup jinak, maka Aryo Damar akhirnya
memutuskan untuk menangkapnya hidup-hidup.
Aryo Darmo berdiri dan mengambil jalan memutar. Sesaat kemudian dia sudah mengendapendap
di belakang anak rusa itu. Pemuda ini pernah belajar ilmu silat dari ayahnya. Karenanya
dia bisa bergerak cepat. Begitulah, ketika tinggal beberapa langkah lagi, Aryo Darmo laksana
seekor harimau melompat menerkam anak rusa itu.
Tapi si anak rusa lebih cepat lagi. Dengan gesit dia melompat ke samping hingga Aryo
Darmo menangkap angin. Kalau dia tidak mempergunakan kedua tangannya untuk jungkir balik
pasti tubuhnya akan terjun ke dalam telaga!

Yang membuat Aryo Darmo menjadi penasaran ialah anak rusa itu tidak lari jauh, tapi
berdiri sekitar enam tujuh langkah dari hadapannya, memandang kepadanya dengan mengendipendipkan
sepasang matanya, seolah-olah menantang putera Adipati Muntilan itu untuk
menangkapnya. Untuk kedua kalinya Aryo Darmo melompat. Hampir pemuda ini berhasil
menangkap tengkuk binatang itu, si anak rusa melompat binal dan lari ke dekat serumpun semak
belukar yang terletak sepuluh langkah dari si pemuda.
"Sialan!" maki Aryo Darmo dengan kesal. "Kau mau lari ke mana hah?! Kau musti dapat
kutangkap hidup-hidup!" Maka dikejarnya binatang itu.
Demikianlah kejar mengejar terjadi hingga tanpa disadari Aryo Darmo telah berada jauh
dalam rimba belantara yang lebat. Penuh lelah dan juga kesal pemuda ini akhirnya mendudukkan
dirinya di satu akar pohon. Sewaktu dia memandang ke kiri dilihatnya anak rusa tadi berdiri pula
tak berapa jauh darinya dan mengedip-ngedipkan sepasang matanya. Ini membuat hati Aryo
Darmo tambah kesal.
"Binatang celaka! Kalau tak dapat kutangkap hidup-hidup bangkaimupun tak jadi apa!" Lalu
dicabutnya kerisnya dan dilemparkannya ke arah binatang itu.
Si anak rusa yang rupanya tahu bahaya, siang-siang sudah melompat berpindah tempat
hingga keris yang dilemparkan luput dan menancap di sebatang pohon.
Benar-benar kini Aryo Darmo menjadi naik darah. "Binatang celaka! Ke manapun akan
kukejar kau!" Setelah mengambil kerisnya dikejarnya kembali anak rusa itu. Dengan demikian
semakin jauhlah dia masuk ke dalam rimba belantara yang lebat. Sementara itu tanpa setahu
Aryo Darmo, dua pasang rata sejak tadi mengikuti gerak geriknya.
Di satu tempat yang agak gelap karena rapatnya pohon-pohon dan semak belukar yang
tumbuh tiba-tiba anak rusa yang dikejar Aryo Darmo lenyap dari pemandangan. Pemuda ini
menghentikan larinya dan memandang berkeliling. Kemudian didengarnya suara lengking
binatang itu. Di lain kejap pemuda ini menjadi terkejut sewaktu di hadapannya muncul dua orang
dara jelita berpakaian kuning. Salah seorang dari mereka memegang anak rusa yang sejak tadi di
kejar-kejarnya.
"Saudara, apakah kau menginginkan binatang ini?" tanya dara yang memegang rusa. Di
bibirnya terlukis sekuntum senyum.
"Betul," jawab Aryo Darmo. Lalu tanyanya, "Kalian berdua siapa? Kenapa berada dalam
rimba belantara begini rupa?"
"Aku Nilamaharani dan ini adikku Nilamahadewi," jawab sang dara masih dengan
senyumnya yang memikat, "Kalau kami berikan anak rusa ini padamu, sebagai gantinya kau mau
berikan apa?"
"Ah, kau baik sekali saudari. Beri tahu di mana rumahmu, kelak akan kusuruh orangorangku
untuk mengantarkan baju-baju bagus dan perhiasan-perhiasan indah kepada kalian
berdua, Eh, kalian ini kakak beradik, bukan?"
Nilamaharani mengangguk. "Tempat kediaman kami mungkin sukar dicari oleh orang-orang
suruhanmu. Kecuali kalau kau tak berkeberatan ikut bersama kami untuk mengetahuinya."
"Tentu saja aku tidak keberatan," jawab Aryo Darmo. Sudah barang tentu mana ada pemuda
yang ; menolak begitu saja ajakan dara berparas secantik ' Nilamaharani itu?
"Tapi", kata Nilamahadewi, "tempat kami buruk, hanya sebuah goa batu".
"Itu bukan soal", sahut Aryo Darmo.
"Kalau begitu kau peganglah anak rusa ini dan mari kita berangkat", kata Nilamaharani pula.
Aryo Darmo menerima anak rusa yang diberikan Nilamaharani lalu ketiganyapun
meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan mereka tak hentinya bercakapcakap. Demikian
gernbiranya Aryo Darmo dapat berkenalan dengan dua dara jelita itu hingga boleh dikatakan dia
hampir tak perduli dengan si anak rusa. Kalau saja anak rusa itu bukan ditangkap dan diberikan
oleh Nilamaharani, mungkin sudah sejak tadi-tadi dilepas dilemparkannya.
Mereka tiba di luar rimba belantara. Di hadapan mereka kini terbentang satu daerah
berbukit-bukit. Kedua dara itu berlari menuju ke sebuah bukit di sebelah barat, diikuti oleh Aryo
Darmo. Memperhatikan cara lari kedua dara kakak beradik itu maklumlah si pemuda bahwa
keduanya orang-orang berilmu. Dengan mengandalkan ilmu lari yang diajarkan ayahnya,
dicobanya menyamai lari keduanya, namun siasia belaka. Dan diam-diam Aryo Darmo jadi
tambah tertarik pada dara-dara ini.
Setibanya di lereng bukit yang di tuju. Nilamaharani menyibakkan serumpun semak belukar
lebat. Maka kelihatanlah sebuah goa batu yang amat, bersih dan luas.
"Inilah tempat kediaman kami. Harap kau jangan . . . ".
"Ah, tempat kalian bersih dan bagus", kata
Aryo Darmo memotong. Lalu setelah dipersilahkan dia pun masuk. Ruangan yang
dimasukinya harum semerbak, diterangi oleh sebuah pelita aheh yaitu sepotong kayu yang
ujungnya berapi dan memancarkan sinar kehijauan, tertancap kedinding. Ternyata di situ ada dua
buah ruangan dan keduanya sama sekali tidak seperti ruangan dalam goa.
"Silahkan duduk", kata Nilamaharani. Ketika Aryo Darmo duduk membelakanginya, dara ini
mengedipkan matanya pada adiknya.
Melihat isyarat ini Nilamahadewi berkata, "Saudara kau duduklah terus. Aku hendak keluar
sebentar"
Aryo Darmo mengangguk. Belum sempat dia bertanyakan mau ke mana gadis itu,
Nilamahadewi sudah lenyap di mulut goa. Aryo Darmo tinggal sendirian di ruangan itu karena
sebelumnya Nilamaharani sudah masuk ke ruangan yang satu lagi.
Pemuda ini memandang berkeliling. Kemudian pandangannya di tujukan pada pelita kayu
aneh yang tertancap di dinding. Dia tak habis mengerti bagaimana ada sepotong kayu yang
dibakar terang begitu rupa tanpa habis-habisnya yang apinya mengeluarkan sinar kehijauan dan
berbau harum pula. Selagi dia memperhatikan begitu rupa dilihatnya sinar api tiba-tiba mengecil.
Sebaliknya bau harum bertambah-tambah, membuat pemuda ini merasa adanya aliran hawa aneh
di dalam darah di sekujur tubuhnya. Semakin lama semakin santar juga bau harum itu dan detik
demi detik Aryo Darmo semakin terangsang dibuatnya.
Dari ruangan dalam Nilamaharani muncul. Aryo Darmo berpaling dan… Untuk beberapa
saat lamanya nafasnya terasa terhenti. Kedua matanya menyipit. Lalu cepat-cepat dipalingkannya
kepalanya. Terdengar suara tertawa kecil. Dan Nilamaharani melangkah ke hadapan pemuda itu.
Aryo Darmo masih memandang ke jurusan lain, tak berani melihat kepada dara ini.
Sewaktu Nilamaharani muncul tadi, bukan saja nafas pemuda itu serasa terhenti tapi dadanya
ikut berdebar dan darahnya bergejolak. Betapakan tidak! Dara itu telah berganti pakaian dengan
sehelai pakaian sutera kuning yang amat tipis hingga jelas kelihatan potongan tubuh dan pakaian
dalamnya. Senyum yang dilayangkannyapun lain dan aneh. Ini dirasakan betul oleh Aryo Darmo,
membuat rangsangan aneh yang menjalari tubuh pemuda itu semakin menjadi-jadi.
"Kau melamun agaknya, saudara Aryo," ujar Nilamaharani.
Pemuda itu memalingkan kepalanya sedikit. "Adikmu pergi ke manakah?" tanya putera
Adipati Muntilan itu.
"Ah, dia kenapa dipikirkan? Biar saja dia pergi ke manapun tak usah kita ributkan."
Aryo Darmo terdiam. Dia tak mengerti mengapa si dara harus bicara begitu.
"Aku telah menyediakan minuman untukmu di ruangan dalam," kata Nilamaharani.
"Terima kasih. Kenapa musti susah??"
"Jangan pakai peradatan segala. Mari kita masuk ke dalam," ajak Nilamaharani.
Aryo Darmo hendak menjawab agar minuman itu dibawa saja ke tempat itu. Namun
sebelum itu terucapkan Nilamaharani telah menarik lengannya dan membawanya masuk ke
ruangan dalam. Di ruangan ini ada pelita kayu yang aneh yang sinarnya lebih suram dari ruangan
sebelumnya. Segala sesuatunya kelihatan samar-samar. Dan dalam kesamar-samaran itu Aryo
Darmo masih dapat melihat kalau saat itu dirinya dibawa ke arah sebuah pembaringan.
"Maharani, apakah maksudmu membawaku ke sini?" tanya Aryo Darmo dengan suara
bergetar.
"Aryo, kau tahu apa maksudku", jawab Nilamaharani berbisik ke telinga si pemuda hingga
hembusan nafasnya terasa hangat di pipi Aryo Darmo. Kemudian pemuda ini merasakan lengan
kiri sang dara melingkar di pinggangnya.
"Maharani kau …"
Ucapan itu tidak terteruskan oleh Aryo Darmo karena saat itu Nilamaharani mendekatkan
parasnya ke wajahnya dengan amat berani. Kemudian dirasakannya bibir gadis itu menempel di
atas bibirnya.
"Maharani, aku …"
Lagi-lagi Aryo Darmo tak bisa meneruskan kalimatnya. Kedua lututnya goyah,karena
diberati tubuh gadis itu. Akhimya keduanya terguling ke atas pembaringan.
"Kau tahu apa maksudku, Aryo. Kau laki-laki, aku perempuan. Jangan jadi orang bodoh!"
"Tapi …"
"Tidak ada tapi-tapian Aryo."
Dan sikap malu serta pikir panjang Aryo Darmo cukup cuma sampai di situ. Laksana seekor
ular besar yang kelaparan pemudaa itu menggeliat atas pembaringan dan nmerangkul tubuh
Nilamaharani sekeras-kerasnya seperti mau melunyahkan dara itu sampai ke tulang-tulangny.
Desau nafas panas dan tertawa berguman Nilamaharani membakar darah Aryo Darmo, membuat
dia berlaku lebih berani lagi. Pada puncak keberanian yang dilakukan Aryo Darmo, tiba-tiba
terdengarlah suara teriakan pemuda itu laksana geledek.
"Maharani, kau ... !"
Teriakan yang menggetarkan empat dinding ruangan itu dibarengi pula dengan pekik
Nilamaharani.
Aryo Darmo tidak menunggu lebih lama. Disambamya pakaiannya lalu melompat dari
pembaringan.
"Aryo! Kembali!" teriak Nilamaharani.
Mana pemuda itu mau kembali! Apa yang dilihat dan diketahuinya tak akan membuat dia
kembali meski didepannya saat itu, menghadang setan kepala sepuluh sekalipun! Malah pemuda
ini memaki beringas.
"Manusia keparat! Terkutuklah kau jadi puntung neraka!" Dia terus menghambur ke pintu
goa.
Tapi baru saja dia berada di luar, di sampingnya terdengar satu suara bentakan,
"Pemuda bangsat! Kau berani bermulut kotor terhadap saudaraku. Terimalah kematianmu!"'
"Wuuut"!
Selarik angin deras menyambar ke arah Arya Darmo!
***
Selanjutnya downlod di :SepasangIblisBetina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar