Sabtu, 15 Agustus 2009

TIGA SETAN DARAH DAN CAMBUK API ANGIN

 
 WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Karya: BASTIAN TITO

SATU

PEMUDA baju biru itu berdiri dengan gagahnya di puncak
bukit. Angin dari timur bertiup melambai-lambaikan rambutnya yang
gondrong menjela bahu. Sepasang matanya sejak tadi hampir tiada
berkesip memandang lekat-lekat ke arah utara di mana berdiri
dengan megahnya pintu gerbang Kotaraja.
Sudah hampir setengah hari dia berada di puncak bukit itu.
Sudah jemu dan letih matanya memandang terus-terusan ke arah
pintu gerbang. Namun manusia-manusia yang ditunggunya belum
juga kelihatan muncul.
Sebetulnya dia bisa menuruni bukit itu dan langsung
memasuki Kotaraja. Tapi dia ingat pesan gurunya, di Kotaraja penuh
dengan hulubalang-hulubalang Baginda, bahkan tokoh-tokoh silat
kelas satu pentolan-pentolan Istana, banyak orang sakti berilmu
tinggi sehingga menyelesaikan perhitungan di dalam Kotaraja sama
saja mencemplungkan diri ke dalam jebakan dimana dia tak mungkin
lagi akan keluar. Kalaupun ada jalan ke luar maka itu ialah jalan
kepada kematian!
Dia menunggu lagi.
Sekali-sekali dia memandang ke jurusan lain untuk
menghilangkan kejemuan dan kelesuan matanya. Kemudian bila dia
memandang pada dirinya sendiri, memperhatikan tangan kirinya
yang buntung sebatas siku maka disaat itu ingatlah dia akan ucapan
gurunya sewaktu dia hendak meninggalkan pertapaan.
“Hari ini kuperbolehkan kau meninggalkan tempat ini,
Pranajaya. Tapi kelak dikemudian hari kau musti kembali kemari
untuk menuntut satu ilmu baru yang sekarang ini kugodok. Kau
pergi dari sini dan musti berhasil mencari ketiga manusia yang telah
membunuh kau punya bapak.... Tempo hari aku sudah pernah
terangkan. Kau masih ingat siapa nama julukan ketiga manusia itu?”
“Mereka adalah Tiga Setan Darah, guru,” jawab Pranajaya.
“Betul,” kata sang guru. “Ketiganya berada di Kotaraja. Sudah
sejak lama kuketahui hidup di sana sabagai bergundal-bergundalnya
Baginda. Tapi ingat Prana! Sekali-kali jangan selesaikan perhitunganmu
dengan mereka di dalam Kotaraja. Itu barbahaya besar karena Kotaraja
penuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu yang menjadi kaki tangan
Baginda…“
“Dengan bekal ilmu yang guru, wariskan serta pedang Ekasakti
yang guru berikan tak satu lawanpun yang saya takutkan di atas bumi
ini. Apalagi saya tahu bahwa saya berada di atas kebenaran!”
Empu Blorok tersenyum dan rangkapken kedua tangannya dimuka
dada.
“Aku sedang mendengar ucapan jantanmu,” kata Empu Blorok
pula. “Tapi walau bagaimanapun membuat kegaduhan di dalam
Kotaraja sangat berbahaya bagi keselamatan jiwamu. Di samping itu aku
mengingat pula akan tugas yang hendak kuberikan padamu. Jadi Prana,
ringkas kata kau musti membereskan Tiga Setan Darah di luar Kotaraja,
bagaimana caranya terserah kau.”
Sang murid manggut-manggutkan kepalanya. “Tadi guru
menyebutkan satu tugas untukku… Mohon penjelasan lebih lanjut,” kata
Pranajaya. “Bila perhitunganmu dengan Tiga Setan Darah telah selesai
maka kau harus pergi ke Pulau Seribu Maut.”
Pranajaya tak pernah mendengar tentang pulau itu dan tidak pula
tahu di mana letaknya. Maka diapun menanyakannya.
“Pulau itu,” menjawab Empu Blorok, “terletak diujung timur
pulau Jawa. Di situ bercokol seorang manusia bernama Bagaspati.
Dulunya dia adalah kawan baikku. Tapi kemudian mencuri sebuah
senjata mustikaku dan melarikan diri. Dengan senjata mustika itu dia
membuat keonaran di mana-mana dan berbuat kejahatan! Kau harus
mengambil senjata muutika itu kembali dari tangannya Pranajaya. KaIau
dia banyak rewel, kau tahu apa, yang musti dilakukan!”
“Baik guru,” kata Pranajaya lalu tanyanya. “Senjata apakah yang
telah dicuri oleh Bagaspati itu?”
“Sebuah cambuk, Prana. Cambuk Api Angin namanya!”
“Tugas dari guru akan aku jalankan. Mohon doa restu,” kata
Pranajaya.
Ketika dia hendak pamitan Empu Blorok berkata, “Tunggu
sebentar Prana. Masih ada yang hendak kuterangkan padamu.”
”Soal apa guru?.”
“Soal dirimu. Kau lihat tangan kirimu yang buntung itu...?”
Prana memperhatikan tangan kirinya lalu mengangguk. Aneh
terasa baginya kalau saat itu gurunya bicara soal tangan itu, padahal
sudah sejak belasan tahun dia berada bersama Empu Blorok dan sang
guru tak pernah bicara apa-apa soal tangannya yang buntung itu.
“Waktu bapakmu dibunuh,” berkata Empu Blorok. “Dia
sedang tidur di atas balai-balai di sampingmu. Tiga Setan Darah
menyerbu masuk dan salah seorang diantara mereka segera
membacokkan sebilah pedang! Bapakmu seorang yang berilmu
tinggi. Begitu dia merasakan sambaran angin senjata maut itu
dia segera melompat. Dia berhasil mengelakkan bacokan pedang
namun akibatnya ujung pedang terus menyambar lenganmu dan
membabat putus sikumu. Kau saat itu masih orok, Prana…
Bapakmu kemudian dikeroyok bertiga dan menemui ajalnya.
Sebelum Tiga Setan Darah mencincangmu, kakakku Empu
Krapel berhasil menyelamatkanmu dan menyerahkanmu
kepadaku. Sayang kakakku itu sudah menutup mata, kalau
tidak tentu dia gembira melihat kau sudah dewasa dan gagah
begini!”
Pranajaya terdiam seketika. Dendam membara di lubuk
hatinya. Lalu tanyanya. “Yang manakah diantara Tiga Setan
Darah yang telah membacok bapakku sewaktu beliau sedang
tidur itu. Empu…?”
“Aku kurang tahu, Prana” sahut Empu Blorok.
“Keterangan kakakkku waktu membawa kau ke sini kurang
jelas.”
Karena tak ada lagi yang akan dibicarakan maka
Pranajaya berkata, ”Murid minta diri, guru. Muhon, doa
restumu....”
Empu Blorok mengangguk. Dipandanginya muridnya itu
sambil akhirnya Pranajaya hilang dikejauhan.
Pranajaya memandang lagi untuk kesekian kalinya ke
arah pintu gerbang Kotaraja. Suasana tidak berubah seperti
tadi-tadi. Dua pengawal berdiri di sisi-sisi pintu gerbang,
masing-masing memegang sebatang tombak. Tak ada yang lalu
lalang. Pintu gerbang itu diselimuti kesunyian.
“Sampai berapa lama lagi aku musti menunggu?” tanya
Pranajaya pada dirinya sendiri. Hatinya kesal. Sebenarnya dia
tidak takut memasuki Kotaraja untuk lekas-lekas membuat
perhitungan dengan Tiga Setan Darah. Malah ini adalah satu
permulaaan baginya untuk menjajaki sampai di mana ketinggian
ilmu silat dan kesaktiannya ysng dimilikinya serta sampai di
mana pula kehebatan tokoh-tokoh silat di Kotaraja itu! Namun
dia musti patuh pada pesan gurunya dan tidak boleh bertindak
gegabah. Empu Blorok lebih berpemandangan luas. Dan dia
musti menunggu terus. Manunggu sampai Tiga Setan Darah
keluar dari pintu gerbang Kotaraja.
Menurut keterangan yang didapat Pranajaya dari seorang
pengawal istana yang disogoknya dengan sekeping emas, hari
itu Tiga Setan Darah akan meninggalkan Kotaraja, pergi ke satu
tempat di selatan untuk satu keperluan penting. Atau mungkin
pengawal istana itu telah menjual keterangan dusta kepadanya?
Letih berdiri akhirnya Pranajaya duduk di tanah,
bersandar ke sebatang pohon. Sepasang matanya senantiasa
ditujukan ke pintu gerbang Kotaraja itu.
SEMENTARA itu di Kotaraja ..........
Orang itu berdiri di halaman belakang istana. Dia telah
menyelidik ke kandang kuda dan tiga ekor kuda yang kulit serta
bulu tengkuk dan ekornya dicelup merah telah dilihatnya di
dalam kandang kuda istana yang besar itu. Hatinya lega. Ini
satu pertanda bahwa Tiga Setan Darah masih berada di dalam
istana. Orang ini menunggu siambil membayangkan hadiah apa
yang kira-kira bakal diberikan Tiga Setan darah kepadanya
kelak.
Dua pengawal di pintu belakang Istana menjura hormat
sewaktu tiga orang berjubah merah, berambut dan bermuka
yang dicat merah melewati pintu itu, melangkah cepat menuju
kandang kuda.
Orang laki-laki tadi segera mendekati Tiga Setan Darah.
Setelah menjura dia berkata, “Bolehkah aku bicara dengan
kalian…?”
Tiga Setan Darah yang paling tua menghentikan
langkahnya dan hendak mendamprat. Saat itu bersama dua
orang kawannya dia hendak berangkat untuk satu urusan
panting tapi kini ada seseorang yang mengganggu. Ini sangat
menggusarkannya. Sewaktu melihat bahwa laki-laki yang
berkata tadi itu adalah seorang pengawal Istana yang
dikenalnya, Tiga Setan Darah tertua ini surut jugs sedikit
amarahnya.
“Ada perlu apa kau?!” tanyanya kasar.
“Ada keterangan panting yang bakal kusampaiken Tiga
Setan Darah.”
“Hemm... Coba katakan cepat,” kata Setan Darah tertua
sambil mengerling pada dua orang kawannya.
“Seorang asing hendak berbuat jahat tarhadap kalian
bertiga....”
“Hah... apa?!”
“Malam tadi aku tengah makan di kedai,” menuturkan
pegawai Istana itu. Namanya Camar Pawang. “Lalu ada seorang
asing mendekatiku dan berkata jika aku bisa kasih keterangan
tentang Tiga Setan Darah dia akan memberikan hadiah sekeping
emas. Aku segera maklum bahwa orang asing itu bukan
bermaksud baik-baik terhadap kalian bertiga. Kuambil emas itu
dan kuberikan sedikit keterangan kepadanya. Keterangan
palsu!”
“Apa yang itu orang asing tanya dan apa yang kau
terangkan padanya?” tanya Tiga Setan Darah kedua.
“Dia tanya kalau-kalau aku tahu bila kalian bertiga
meninggalkan Istana dan keluar dari Kotaraja.”
“Apa, jawabmu?” tanya Setan Darah Ketiga. “Kuberikan
keterangan dusta. Kukatakan bahwa Tiga Setan Darah hari ini
akan pergi ke satu tempat di selatan untuk satu urusan
penting...“
Setan Darah pertama melototkan mata. Saat itu dia dan
kawan-kawannya memang hendak berangkat ke satu tempat
untuk menjalankan tugas Baginda, tapi bukan ke selatan
melainkan ke daerah barat Kotaraja.
“Aku tidak percaya!” kata Setan Darah pertama, “Coba,
mana emas itu, aku mau Iihat!”
Camar Pawang mengeruk sakunya dan mengeluarkan
sekeping kecil emas yang diterimanya dari orang asing itu.
Setan Darah pertama mengambil kepingan emas itu,
memperhatikannya lalu sambil menimang-nimang emas itu dia
bertanya, “Bagaimana ciri-ciri orang asing itu?!”
“Dia masih muda, Tampangnya cakap, berbaju biru dan
tangan kirinya buntung. Di balik baju birunya, di sebelah
punggung menyembul ujung gagang pedang....”
“Hem…” Setan Darah pertama menggumam. Dia anggukanggukkan
kepala beberapa kali. “Ada lagi yang hendak kau
katakana?”
Camar Pawang menggeleng.
“Kalau begitu kau tunggu apa lagi?! Cepat berlalu dari
hadapan kami!” bentak Setan Darah pertama.
Camar Pawang mundur satu langkah dan memandang pada
kepingan emas yang masih ditimang-timang Setan Darah Pertama.
“Emas itu..,” kata Camar Pawang.
“Emas bapak moyangmu!” semprot Setan Darah Kedua, “Sudah
untung kau tidak kami gebuk, masih mau minta emas! Pergi!”
Camar Pawang memandang pada Setan Darah Pertama.
Manusia bermuka merah ini tertawa mengekeh daw membalikkan
badannya sambil memasukkan kepingan emas ke dalam saku
jubahnya.
Camar Pawang menelan ludah. Sudah dibayangkannya dia
bakal mendapat hadiah dari Tiga Setan Darah, tapi malah emas yang
diterimanya dari si orang asing kini diambil oleh manusia bermuka
merah itu! Camar Pawang menyumpah habis-habisan dalam hatinya
dan meninggalkan tempat itu.
Di depan pintu kandang kuda, Setan Darah Pertama hentikan
langkah dan bertanya pada kedua orang kawannya.
“Apa pendapat kalian?” tanyanya.
Setan Darah kedua mengusap dagunya lalu berkata, “Jika
keterangan kunyuk kepala dua itu betul pastilah orang asing itu
menunggu kita di satu tempat di daerah selatan...”
“Aku merasa heran juga,” membuka mulut Setan Darah Ketiga,
“seingatku kita tak pernah bikin urusan dengan seorang pemuda
bertangan buntung. Apa maksud manusia itu mencari keterangan
tentang kita sebenarnya?”
Setan Darah Pertama merenung sejenak. “Kalau mau, kita
masih ada waktu untuk menyelidik ke selatan.” Dua orang kawannya
menyetujui hal itu. Ketiganya segera mengambit kudanya masingmasing.

-- == 0O0 == --

Dua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar