Selasa, 08 September 2009

Neraka Lembah Tengkorak

 (021)
Karya Bastian Tito
Pendekar Kapak Nagageni 212
SERIAL WIRO SABLENG

1
      SAAT ITU MEMASUKI permulaan musim semi. 

Pohon-pohon yang dulu gundul tak berdaun kini
kelihatan mulai menghijau segar kembali. Dibagian barat daratan Madiun yang leas menjulanglah
pegunungan gunung Lawu dengan lebih dari setengah lusin puncakpuncaknya
yang tinggi. Sebegitu jauh hanya satu dua saja dari puncak pegunungan ini yang
pernah diinjak kaki manusia.
     Pegunungan Lawu membujur dari barat ke timur. Diapit disebelah utara oleh
daerah Gondang dan pegunungan Kendeng. Disebelah selatan terletak daerah Jatisrana,
Purwantara dan pegunungan Kidul serta dataran tinggi Tawangmangu.
Pegunungan Lawu bukan saja dikenal sebagai sebuah pegunungan terbesar di
Madiun, namun juga merupakan pusat satu partai silat terkenal dan disegani pada
masa itu yakni partai Lawu Megah.
     Sejak Resi Kumbara mengundurkan diri lima tahun yang lalu maka tampuk jabatan
ketua dipegang oleh adiknya yang juga merupakan adiknya seperguruan Resi Tumbal
Soka. Adapun pengunduran diri Resi Kumbara, selain usianya yang sudah amat lanjut
yakni hampir mencapai 100 tahun, paderi ini sudah jemu dengan segala macam urusan
partai yang menyangkut 1001 macam masalah keduniaan.
     Kalau Resi Kumbara dulu sempat dan berhasil mengangkat nama partai Lawu
Megah menjadi satu partai besar yang dihormati dan disegani, maka agaknya tidak
demikian dengan Resi Tumbal Soka. Sejak dia memegang jabatan ketua, banyak
perobahan-perobahan yang dilakukannya di dalam partai. Keluarpun dia kurang
mendapat tempat yang baik karena tindakan-tindakannya yang tidak tepat. Akibatnya
partai Lawu Megah pernah berselisih faham dengan partai-partai silat-besar lainnya.
Bahkan satu telah terjadi bentrokan yang membawa korban dengan partai Merapi
Indah.
Beberapa orang paderi tua pernah menemui Resi Kumbara di ruangan samadinya.
Mereka melaporkan keadaan di dalam dan di luar partai dan meminta agar Resi
Kumbara suka memegang jabatan ketua kembali. Sekurang-kurangnya untuk sementara
sampai kemendungan selama ini bisa dipulihkan.
Cuma sayang Resi Kumbara menolak. Orang tua ini berkata, "Apa yang sudah
kuserahkan pada orang lain tak boleh kuminta kembali. Demikian juga dengan jabatan
ketua partai. Adik-adikku, sebenarnya kalian datang ke alamat yang salah. Bukan aku
yang harus kalian temui, tapi kakak kalian, Resi Tumbal Soka. Bukankah kalian bisa
berembuk dengan dia? Bukankah kalian pembantu-pembantunya? Temui dia dan
carilah jalan yang sebaik-baiknya. Cuma satu hal aku ingin tekankan. Aku tidak suka
melihat adanya keretakan di antara kalian. Tak ada yang paling baik dari pada
musyawarah danpersatuan. Nah, sekarang kalian pergilah. Aku tak ingin diganggu lebih
lama."
     Kelanjutannya tak ada seorangpun diantara paderi-paderi tua itu yang menemui
Resi Tumbal Soka. Mereka tahu sifat ketua mereka ini. Selain mempunyai pribadi yang
tertutup, juga sulit untuk diajak berunding. Dia merasa bahwa hitam putih segala
sesuatunya dalam partai adalah di tangannya. Dia bisa saja mendengarkan pendapatpendapat
para pembantunya, namun apa maunya juga yang kelak akan dijalankan.
Akibatnya dalam tubuh para pimpinan partai terjadi kelompok-kelompok yang saling
bertolak belakang.
     Kelompok pertama dipimpin oleh Resi Permana yang ingin melihat partai Lawu
Megah kembali seperti masa sewaktu dipimpin oleh Resi Kumbara. Kukuh di dalam
dan mempunyai hubungan baik diluar dalam kalangan persilatan.
Kelompok kedua dipimpin oleh Resi Godra. Ketidaksenangan paderi ini terhadap
ketuanya lebih banyak ditimbulkan oleh hal-hal pribadi. Sesudah Resi Kumbara
mengundurkan diri maka dengan usianya yang sudah 90 tahun paderi Resi Godra
merupakan orang yang paling tua di partai Lawu Megah. Dengan sendirinya dia merasa
mempunyai hak untuk menduduki jabatan ketua. Namun dia menjadi kecewa sekati
ketika jabatan itu diserahkan pada Resi Tumbal Soka, padahal paderi ini 10 tahun
lebih muda dari dia. Rupanya sang ketua yang lama lebih mementingkan hubungan
darah Resi Tumbal Soka adik kandung Resi Kumbara dari pada tata cara yang berlaku.
Ditambah dengan sikap dan salah urus dari Resi Tumbal Soka, maka semakin tidak
sukalah paderi yang satu ini terhadap ketuanya itu.
Kelompok ketiga ialah kelompok Resi Tumbal Soka sendiri bersama pendukungpendukungnya.
Meskipun di luaran paderi tiga kelompok tersebut masih menunjukkan sikap rukun
dan saling hormat, namun diam-diam laksana api dalam sekam mereka saling
bertentangan.
     Pada pagi hari itu hujan rintik-rintik turun di puncak gunung Lawu. Menyaksikan
keadaan puncak ini nyatalah bahwa ada satu peristiwa besar tengah terjadi di pusat
partai terkenal ini.
     Para pucuk pimpinan dan anak-anak murid partai semua berkumpul disebuah
lapangan besar. Pada tengah-tengah lapangan ini berdiri sebuah tiang kayu setinggi tiga
meter, lengkap dengan seutas tambang besar. Salah satu ujung tambang ini dibuhul
demikian rupa membentuk lingkaran sedang ujungnya yang lain terikat kukuh pada
palang kayu diatas tiang. Sebuah kursi terletak dekat tiang itu. Sekali memandang saja
jelaslah bahwa benda-benda itu dipersiapkan untuk menggantung seseorang!
Sejak berdirinya Partai Lawu Megah hampir 200 tahun yang silam, tak pernah hal
seperti ini berlangsung. Baru waktu Resi Tumbal Soka menjabat ketualah peristiwa ini
terjadi. Gerangan siapakah yang hendak digantung pada pagi hari itu?
Ketua partai berdiri bersama pembantu-pembantunya sekitar dua puluh langkah
sebelah kanan tiang gantungan. Disamping Resi Tumbal Soka tegak seorang dara
berpakaian biru. Rambutnya kusut dan wajahnya yang cantik kelihatan mendung.
Sebentar-sebentar dia pergunakan sehelai sapu tangan untuk menyapu air mata yang
jatuh membasahi pipinya.

"Sularwasih! Hentikan tangismu! Mana ketabahan hatimu sebagai seorang murid
Partai Lawu Megah?" Resi Tumbal Soka berkata pada gadis berpakaian biru. Gadis ini
adalah murid kesayangannya.
"Guru⁄ kalau guru mengizinkan, murid lebih suka mati bunuh diri saat ini juga... "
Sularwasih tiba-tiba menyahut dengan suara parau.
"Jangan ngacol" Ketua Partai Lawu Megah kelihatan marah. "Bukan kau yang harus
mati, tapi bangsat terkutuk itu! Kau akan saksikan sendiri kematiannya di tiang
gantungan sebentar lagi!"
Resi 'Tumbal Soka memandang berkeliling kemudian berseru, "Bawa pemuda laknat
itu ke tiang gantungan!"
Suara teriakan sang ketua yang disertai hawa amarah den tenaga dalam amat tinggi
laksana geledek menggetari seantero puncak gunung Lawu. Bila getaran teriakan itu
sirna, kesunyian mencengkam menegangkan.
Dari arah rumah besar kelihatan seorang pemuda berkulit coklat keluar digiring
oleh dua orang anak murid partai tingkat tertinggi.
Di sebelah depannya mendahului seorang Resi.
     Pemuda berkulit coklat itu, memiliki rambut gondrong sampai ke bahu. Kedua
tangannya diikat di sebelah belakang dengan sehelai benang aneh yang bagaimanapun
diusahakannya tak sanggup diputuskan. Tampangnya tolol, tapi sikapnya gagah bahkan
dia melangkah cengar cenqir. Seolah-olah tengah dalam perjalanan ke satu tempat yang
bagus, bukan tengah menuju ke tiang gantungan yang telah disediakan untuk dirinya!
Murid-murid partai berkerumun di ssbelah timur menyeruak memberi jalan.
Pemuda asing den pengiringnya sampai di depan tiang gantungan. Ketegangan semakin
memuncak. Kesunyian tambah tidak enak.
Resi Tumbal Soka menganggukkan kepala pada paderi yang menyertai pemuda
berambut gondrong itu. Dan sang paderi lantas membalikkan diri, berpaling pada si
pemuda.
     "Orang asing yang mengaku bernama Wiro Sableng!" katanya dengan suara lantang
hingga terdengar ke segenap penjuru. "Kami orang-orang Partai Lawu Megah masih
bersedia memberikan sedikit kelonggaran padamu sebelum kau menjalani hukuman
mati di tiang gantungan . . . ."
Tawanan yang hendak dihukum mati itu ternyata adalah Pendekar 212 Wiro
Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari gunung Gede yang sejak beberapa tahun
belakangan ini bertualang di daratan Tiongkok. Wiro tersenyum mendengar ucapan
paderi itu.
"Terima kasih. Kelonggaran apakah yang kalian hendak berikan padaku...?!"
bertanya Wiro acuh tak acuh tanpa memandang pada paderi yang tadi berkata padanya.
"Sebelum menjalani hukuman mati kau diperkenankan mengajukan satu
permintaan atau menyampaikan pesan terakhir."
Kembali Wiro Sableng tertawa cengar cengir.
"Aku tak punya karib kerabat apa lagi sanak saudara disini. Pesan apa dan kepada
siapa pula aku kusampaikan... ?"
"Kalau begitu permintaan terakhir saja," kata paderi itu.
"Permintaan terakhir . . . ?" Wiro kerenyitkan kening. "Kalian sudah memutuskan
untuk membunuhku secara biadab, kini kenapa meributkan segala soal tetek bengek
begini rupa. Gantung saja aku detik ini juga habis perkara!"
Mendengar kata-kata Wiro itu, Resi Tumbal Soka menjadi marah wajahnya dan
berkata lantang, "Kau dihukum gantung secara biadab karena kau telah melakukan
kekejian yang biadab! Itu sudah pantas menjadi bagianmu! Jika kau tidak ada kata-kata
atau permintaan terakhir, itu lebih baik. Kau akan lebih cepat kami singkirkan dari
puncak Gunung Lawu ini!"
"Resi Tumbal Soka, mulut dan pendapat manusia itu tidak selamanya bisa dijadikan
hakim yang adil. Kudengarkan kau banyak melakukan hal-hal yang sembrono sebagai
ketua partai. Itu sebabnya ada yang tidak menyukaimu di pihak orang dalam sendiri
dan juga di dunia persilatan!" Habis berkata begitu Wiro tertawa mengekeh.
Marahlah ketua Partai Lawu Megah. Dia berteriak, "Gantung dia sekarang juga!"
Diam-diam dingin juga tengkuk Pendekar 212 dan bergetar juga dadanya. Ketika
bahulan tali hendak dilingkarkan ke lehernya lewat kepala, tiba-tiba dia berteriak,
"Tunggu dulul Aku ingin mengajukan satu permintaan terakhir!"
"Kurang ajar! Lekas katakan apa permintaanmu!" teriak Resi Tumbal Soka jengkel

dan marah sekali. Dia memberi isyarat. Paderi yang hendak menjeratkan tali ke leher
Wiro menurunkan tangannya kembali.
Sepasang mata Wiro Sableng bergerak ke arah gadis berpakaian biru yang masih
sibuk menyeka air matanya. Dia goyangkan kepalanya pada gadis ini seraya berkata:
"Aku ingin bicara dengan gadis itu!"
Semua orang saling pandang. Tentu saja mereka tidak menduga sang tawanan akan
mengajukan permintaan demikian. Semua orang memandang pada Resi Tumbal Soka,
menunggu keputusannya. Ketua partai ini sendiri kelihatan bergerak-gerak pelipisnya.
Dia berusaha menekan amarahnya dan kemudian berkata, "Kau kami beri kesempatan
untuk bicara dengan gadis itu. Tapi cepat dan singkat!"
"Adik, kau kemarilah mendekat!." Wiro berseru.
Sularwasih memandang melotot. Mulutnya terbuka, "Manusia terkutuk! Aku tidak
sudi bicara denganmu!"

2
---
selanjutnya download aja di link ini ya :Neraka Puncak Lawu

Sabtu, 05 September 2009

Hidung Belang Berkipas Sakti


 BASTIAN TITO
Pendekar Kapak Nagageni 212
Wiro Sableng

1
Matahari bersinar terik membakar jagat. Pemuda berpakaian sederhana itu melangkah
menyusuri jalan berdebu. Di hadapan sebuah pintu gerbang yang dikawal oleh dua
orang prajurit bersenjatakan tombak dia berhenti. Sesaat dengan sepasang matanya
yang disipitkan diperhatikannya bangunan pintu gerbang yang kokoh itu. Lalu dia berpaling
pada salah seorang pengawal yang berdiri di situ.
”Apakah ini gedung kediaman Adipati Kebo Panaran?” bertanya si pemuda.
Pengawal yang ditanya tidak segera menjawab. Dia memandang penuh curiga, meneliti
pemuda itu dari kepala sampai ke kaki. Segera dia tahu kalau Si pemuda adalah seorang desa
yang baru saja turun ke kota.
Dengan sikap meremehkan pengawal itu menjawab.
“Betul. Kau ada keperluan apa orang desa?!”
“Aku ingin bertemu Adipati,” jawab si pemuda.
“Ingin bertemu dengan Adipati Kebo Panaran? Heh....” Pengawal yang satu ini berpaling
pada kawannya. Lalu tertawa bergelak. “Sobat,” katanya pada kawannya. “Kau dengar ucapan
pemuda ini?”
Prajurit yang satu ikut-ikutan tertawa dan berkata. “Sebelum kami muak melihatmu,
sebaiknya lekas pergi dari sini!”
“Tapi… aku ingin bertemu Adipati,” sahut Si pemuda pula.
“Heh, memaksa rupanya. Apa maumu sebenarnya?!” prajurit pertama maju selangkah
sambil menggenggam tombaknya.
“Mau cari pekerjaan,” jawab si pemuda tanpa ragu-ragu.
“Buset! Tak ada pekerjaan untuk manusia macammu di sini. Adipati sudah punya tukang
kebun. Sudah punya penjaga kuda....”
“Bukan pekerjaan macam begitu yang aku inginkan,” memotong pemuda desa tadi.
“Ahai! Lalu pekerjaan macam apa yang kau inginkan? Jadi juru masak barangkali?!”
Sepasang mata pemuda itu semakin menyipit. Tiba-tiba dia tersenyum.
“Prajurit pengawal pintu!” kata pemuda itu dengan suara tandas. “Kau dengar baik-baik.
Namaku Dipasingara. Katakan pada Adipatimu bahwa aku datang untuk mencari pekerjaan!”
“Sekalipun namamu Bapak Moyang Setan aku tidak perduli. Menyingkir dari sini atau
batang tombak ini akan membuat kepalamu jadi benjol besar!”
Si pemuda masih saja tersenyum mendengar ancaman itu. Malah dia menyambuti dengan
ucapan: “Rupanya suasana di kota benar-benar harus memakai segala macam kekerasan.
Sobat, aku minta tolong padamu agar memberi tahu Adipati, kalau tidak..”
“Kalau tidak kau mau apa?” Si prajurit jadi berang.
“Aku terpaksa nyelonong sendiri masuk ke dalam gedung!”
“Pemuda desa kurang ajar! Kau betul-betul minta digebuk!”
Tombak besi di tangan pengawal pintu gerbang menyambar ke arah pemuda yang mengaku
bernama Dipasingara itu. Sesaat lagi pastilah remuk atau paling tidak benjol besar kepalanya.
Tapi apa yang terjadi kemudian membuat terkejut kawan prajurit yang satu ini.
Hampir sama sekali tidak kelihatan bergerak, tahu-tahu pengawal yang mengemplangkan
tombak telah terpental ke atas untuk kemudian jatuh bergedebuk di tanah tanpa sadarkan diri
lagi. Tombak yang tadi dipakainya untuk memukul kini berpindah tangan digenggam
Dipasingara!
marah sekali. Dia melompat dan tusukkan mata tombaknya ke dada pemuda desa itu.
Dipasingara ulurkan tangan kirinya. Tahu-tahu bagian belakang mata tombak berhasil
dicekalnya lalu disentakkan kuat-kuat. Tak ampun lagi pengawal yang menyerang terbetot
kencang ke depan, terguling di tanah dengan muka berkelukuran! Meski dia tidak jatuh pingsan
namun luka-luka yang mengeluarkan darah memenuhi tubuhnya, sakitnya bukan kepalang. Dia
terduduk di tanah tanpa bisa berbuat apa-apa selain mengerang kesakitan.
Dipasingara menimang-nimang dua batang tombak yang barusan dirampasnya. Satu demi
satu tombak itu kemudian ditancapkannya di tanah tepat diantara kedua kaki prajurit
Kadipaten itu. Kemudian dia melangkah ke pintu gerbang. Baru saja dia menggerakkan tangan
untuk membuka pintu, Sebuah kereta yang dikawal oleh serombongan penunggang kuda yang
rata-rata berbadan kekar herbenti di situ.
Penunggang kuda paling depan yang berkumis melintang membentak dari punggung kuda
tunggangannya.
“Apa yang terjadi di sini?!”
Bola matanya yang besar menyorot si pemuda. Kembali dia membentak: “Siapa kowe?!”
Dengan tenang pemuda itu menjawab. “Namaku Dipasingara. Aku ingin bertemu dengan
Adipati Kebo Panaran. Untuk maksud baik. Mau cari pekerjaan. Aku sudah minta izin dan tolong
kedua pengawal ini. Tapi tanpa alasan mereka malah menurunkan tangan kasar terhadapku.
Cuma sayang mereka terlalu kesusu!”
“Pemuda edan! Anak-anak tangkap pemuda ini!” teriak si kumis melintang. Rupanya dia
yang jadi pimpinan.
Empat lelaki berpakaian seragam, bertubuh besar tegap melompat turun dari punggung
kuda lalu serempak menyerbu Dipasingara untuk meringkusnya hidup-hidup.
Namun mereka cuma bisa menangkap angin. Karena pada detik itu Si pemuda telah lenyap
dan tahu-tahu sudah berdiri di samping kereta.
Justru saat itu pula tirai kereta disingkapkan orang dari dalam. Sebuah kepala laki-laki
kemudian muncul. Di sampingnya tampak kepala seorang perempuan muda berparas cantik
luar biasa.
“Sura... ada apa ribut-ribut?” tanya lelaki dalam kereta. Suaranya besar parau, tak sedap
didengar.
Suramanik, demikian nama lelaki berkumis melintang yang tadi berikan perintah untuk
menangkap Dipasingara cepat menjawab:
“Tidak ada apa-apa Adipati. Tak perlu khawatir. Cuma seekor kecoak sinting kesasar kemari
dan berbuat sedikit kerusuhan. Mohon maafmu. Kami akan segera mengenyahkannya dari
sini!”
Dipasingara memalingkan kepalanya ke jendela kereta. Dilihatnya seorang lelaki berpakaian
bagus, berkopiah tinggi, bermuka putih. Menurut taksirannya paling tidak orang ini berusia
setengah abad. Di sebelahnya duduk seorang perempuan berparas rupawan yang membuat
Dipasingara sejenak tertegun. Namun menyadari bahwa orang di dalam kereta itu pastilah
Adipati Kebo Panaran dan istrinya maka cepat-cepat Dipasingara membuka mulut.
“Adipati Kebo Panaran. Mohon dimaafkan segala tindakanku. Semuanya terjadi karena
terpaksa. Aku harus mempertahankan diri dari orang-orangmu yang menyerang secara
sewenang-wenang. Aku datang dari jauh. Sengaja hendak menemuimu untuk minta pekejaan.
Bolehkah aku tolong membukakan pintu gerbang agar keretamu bisa lewat...?”
Sesaat Kebo Panaran menatap tampang pemuda itu. Wajahnya cakap. Sikapnya sederhana
tetapi hormat tanda dia bukan seorang pemuda gelandangan tak karuan,
“Orang muda, kau siapa?” bertanya sang Adipati.
Sepasang mata Dipasingara mengerling sekilas pada perempuan yang duduk dalam kereta
di samping Adipati. Cuma sekilas, tetapi pandangan mata tajam pemuda ini membuat bergetar
hati serta dada Galuh Resmi, istri Kebo Panaran.
“Namaku Dipasingara” menjawab si pemuda. “Sengaja datang dari jauh untuk cari
pekerjaan.”
“Hemmm.. begitu?” ujar Kebo Panaran. Dia mengerling pada dua pengawal pintu gerbang
yang terkapar di tanah.
“Apakah menghantam dua prajurit Kadipaten itu salah satu pekerjaan yang kau
inginkan...?!”
“Mohon maaf Adipati. Bukan maksudku untuk berbuat kurang ajar. Tapi mana mungkin aku
berdiam diri jika yang satu dari mereka hendak mengemplang kepalaku, yang satu lagi hendak
menembus dadaku dengan tombak?!”
Kebo Panaran terdiam.
Sebaliknya Suramanik yang sejak tadi menahan amarah kini membentak: “Adipati, biar
kuhajar pemuda hina dina ini!”
Tapi sang Adipati melambaikan tangannya. Mencegah kepala pengawalnya untuk
melaksanakan maksudnya.
“Aku akan bukakan pintu gerbang untukmu,” kata Dipasingara tanpa mengacuhkan
Suramanik. Lalu didorongnya daun pintu gerbang lebar-lebar.
Kusir kereta memandang pada pemuda itu dengan air muka tidak senang. Tetapi Adipati
Kebo Panaran memberi isyarat agar kereta segera dimasukkan ke dalam.
Ketika Dipasingara ikut-ikutan hendak masuk ke dalam Suramanik mengusirnya dengan
beringas.
“Biarkan dia masuk Sura,” terdengar suara Adipati dari dalam kereta.
Dengan amat penasaran Suramanik terpaksa membiarkan Dipasingara memasuki halaman
Kadipaten.

-- << 1 >> --

2
Adipati dan istrinya turun dari kereta. Dipasingara berdiri dekat tangga Kadipaten.
Sepasang matanya yang sipit menatap paras perempuan itu. Ketika itu Galuh Resmi
mengerling pula, sesaat pandangan mata mereka saling bertemu. Galuh Resmi
palingkan wajahnya dan cepat-cepat menaiki tangga lalu masuk ke dalam gedung. Bentrokan
pandangan ini sama sekali tidak diketahui Adipati Kebo Panaran. Sebaliknya Suramanik sempat
melihatnya sehingga semakin besar kegusarannya terhadap Dipasingara.
Kusir membawa kereta ke halaman samping. Kebo Panaran memberi isyarat pada
Dipasingara untuk mengikutinya ke langkan Kadipaten, sementara Suramanik dan anak
buahnya tetap berdiri di anak tangga sebelah bawah. Dua orang prajurit sebelumnya sudah
disuruhnya untuk menggotong dua pengawal pintu gerbang yang cidera.
“Nah sekarang katakan pekerjaan apa yang kau inginkan,” kata Adipati. Tapi dia tak
menunggu jawaban malah menambahkan: “Untuk mengurus kandang kuda aku sudah punya
orang. Tukang kebun juga sudah ada. Pengawal banyak. Kau mau kujadikan sebagal perawat
kuda-kuda kesayanganku?”
“Terima kasih Adipati. Terima kasih atas kepercayaanmu. Namun bukan pekerjaan macam
itu yang aku inginkan.”
Di bawah langkan gedung Suramanik menggertakkan rahangnya tanda marah. Sudah diberi
pekerjaan menolak pula. Dasar manusia kampung tidak tahu diri. Demikian kepala pengawal
Kadipaten itu mengumpat dalam hati.
“Lantas pekerjaan yang bagaimana yang kau inginkan?” tanya Adipati pula.
“Aku ingin menjadi kepala pengawal di Kadipaten ini, Adipati!”
Kebo Panaran tersentak kaget mendengar ucapan Dipasingara. Dia mulai berpikir apakah
pemuda ini sehat otaknya atau bagaimana. Suramanik sendiri sampai melotot kedua matanya.
Saat itu dia adalah kepala pengawal Kadipaten. Dan justru pekerjaan itulah yang diinginkan Si
pemuda sialan itu! Benar-benar membuat Suramanik menjadi panas dingin menahan amarah.
Kalau saja Adipati Kebo Panaran tidak ada di situ sudah sejak tadi dilabraknya pemuda lancang
mulut itu!
Kebo Panaran batuk-batuk beberapa kali. “Tentunya kau tidak bicara bertele-tele atau
ngaco, orang muda. Aku sudah memiliki kepala pengawal. Tak mungkin jabatan itu kuberikan
padamu.”
“Rasanya tak ada yang tak mungkin di dunia ini, Adipati,” jawab Dipasingara.
“Disamping itu untuk jadi kepala pengawal tidak sembarangan. Ada syarat-syaratnya.”
“Apakah syarat-syarat itu Adipati?”
Kebo Panaran merasa didesak dan jadi jengkel.
“Sudahlah orang muda. Aku tak punya waktu lama untuk bicara denganmu. Juga tak ada
pekerjaan lowong di sini untukmu. Kecuali jika kau mau bekerja sebagai perawat kuda-kudaku.
Kalau tidak silahkan pergi dan cari pekerjaan di tempat lain!”
Dipasingara terdiam sejenak. Lalu angkat bahu. Dia menjura “Jika begitu katamu baiklah
Adipati. Aku minta diri....”
Pemuda itu membalikkan tubuh dan siap untuk pergi. Tapi di belakangnya terdengar Kebo
Panaran berkata:
“Tunggu dulu!”
“Ada apa Adipati?” tanya Dipasingara.
Saat itu sang Adipati teringat akan dua pangawal pintu gerbang yang telah dipreteli
Dipasingara. Tak dapat tidak tentu pemuda ini memiliki kepandaian silat yang diandalkan.
Kalau tidak mana dia mampu dan punya keberanian untuk berbuat begitu. Dan jika dia
menginginkan jabatan kepala pengawal Kadipaten pasti dia tidak main-main.
“Dengar orang muda,” kata Kebo Pananan. “Aku akan memberikan jabatan yang cukup
layak untukmu. Asal saja kau mau menerangkan kepandaian apa saja yang kau miliki!”
“Maaf Adipati. Rahasia diriku tak mungkin kuberitahu. Aku hanya menginginkan jabatan
kepala pengawal. Lain tidak....”
Suramanik yang sejak tadi sudah kelangsangan dilanda amarah, serasa terbakar tubuhnya.
Dia merasa dihina oleh pemuda desa itu. Suramanik melompat ke langkan Kadipaten dan
berkata lantang:
“Adipati, aku bersedia menyerahkan jabatanku pada pemuda kurang ajar ini jika dia
sanggup menerima pukulanku satu kali saja pada dadanya!”
Suramanik memang bukan sembarang orang. Jika tidak memiliki kepandaian tinggi tentu
dia tak akan menjabat kepala pengawal Kadipaten.
Kebo Panaran terkesiap mendengar ucapan kepala pengawalnya itu. Urusan jadi ruwet jika
pemuda desa itu sampai kena dihantam tinju Suramanik apa jadinya? Sebaliknya dengan
tenang Dipasingara menyahuti:
“Kalau aku sanggup menahan pukulanmu, kau akan kehilangan jabatanmu, kepala
pengawal!”
“Mari kita buktikan!” bentak Suramanik dengan mata melotot dan amarah meluap. Dalam
hatinya dia berkata: “Sekali jotosanku mendarat di dadamu kau akan terbang ke neraka!”
Dipasingara berpaling pada Adipati Kebo Panaran.
“Adipati, apakah kau izinkan kami menjalankan pertaruhan ini?”
“Itu urusan kalian. Tapi kunasihatkan agar kau jangan menantang Suramanik. Lebih bagus
kau mencari selamat dan tinggalkan tempat ini!” Begitu jawaban Kebo Panaran karena dia tahu
kehebatan kepala pengawalnya.
“Karena aku tetap menginginkan jabatan kepala pengawal Kadipaten, mohon maafmu
Adipati kalau aku terpaksa melayani tantangannya.”
Dipasingara turun ke halaman. Di belakangnya menyusul Suramanik. Kebo Panaran yang
juga ingin menyaksikan adu tanding itu ikut turun sementara beberapa prajurit berdiri
membentuk lingkaran besar. Ditengah-tengah lingkaran Suramanik dan Dipasingara saling
berhadap-hadapan.
Di belakang tirai jendela depan gedung Kadipaten sepasang mata mengintai dengan hati
berdebar. Yang mengintip ini adalah Galuh Resmi, istri Kebo Panaran. Diam-diam dia telah
mendengar percakapan orang-orang itu dan kini ingin melihat apa yang bakal terjadi.
Entah mengapa dia sangat menyesalkan ketololan pemuda bertampang gagah itu yang mau
saja melayani tantangan Suramanik. Dia tahu Suramanik berilmu tinggi dan kabarnya memiliki
pukulan sakti.
“Dia pasti mati begitu pukulan Suramanik menghantam dadanya!” membathin Galuh Resmi.
Aneh. Perempuan ini merasa kawatir. Mengkawatirkan keselamatan pemuda yang tidak
dikenalnya itu.
“Sudah siapkah kau menerima pukulanku?!” terdengar suara Suramanik. Rahangrahangnya
tampak menonjol.
“Sebentar sobat,” jawab Dipasingara. “Biar kubuka dulu bajuku agar kau bisa mencari
bagian yang empuk untuk kau pukul!”
“Manusia takabur! Sebentar lagi akan kau rasakan akibat tingkahmu yang sembrono!” tukas
Suramanik.
Dengan tenang Dipasingara membuka bajunya. Kini dia berdiri bertelanjang dada.
Tubuhnya kelihatan bersih ramping.
“Nah kau carilah sasaran yang empuk!” kata pemuda itu pada Suramanik disertai senyum
sinis.
Seorang prajurit Kadipaten memaki dalam hatinya:
“Pemuda gendeng! Sudah mau mati masih saja bicara sombong!”
Dengan menyeringai geram Suramanik mengepalkan jari-jari tangan kanannya. Seluruh
tenaga dalamnya dialirkan ke situ. Dia sengaja mengerahkan keseluruhan kekuatannya karena
ingin melihat pemuda kurang ajar itu meregang nyawa dalam sekali pukul!
Sebagai kepala pengawal Kadipaten Suramanik memiliki beberapa pukulan sakti. Yang
paling hebat adalah pukulan “Wesi Ireng”. Selama lima tahun dia telah melatih diri untuk
menguasai ilmu pukulan dahsyat tersebut. Dan kini pukulan itulah yang akan dihadiahkannya
pada Dipasingara.
Perlahan-lahan tangan kanan Suramanik sampai sebatas pergelangannya berubah menjadi
kehitaman. Semua orang termasuk Dipasingara melihat perubahan yang mengerikan itu.
Adipati Kebo Panaran maklum kalau kepala pengawalnya benar-benar ingin menghabiskan
riwayat pemuda desa itu dengan pukulan Wesi Ireng. Dia tahu, jangankan dada manusia,
tembok tebal sekali pun akan hancur luluh dihantam pukulan itu. Dan yang mencengangkan
sang Adipati ialah bahwa si pemuda itu masih saja tenang-tenang bahkan selalu
menyunggingkan senyum mengejek terhadap Suramanik.
“Kasihan...” kata Kebo Panaran dalam hati. “Dia tak sadar kalau sebentar lagi akan
menemui kematian!”
Suramanik mundur selangkah. Tangan kanannya diangkat sebatas kepala.
“Kau sudah siap untuk mampus orang muda?” ujar Suramanik.
“Cepatlah, aku sudah siap sejak tadi!”
“Kalau begitu kau terimalah detik kematianmu!”
Didahului satu bentakan garang Suramanik menghantamkan tinju kanannya ke dada
Dipasingara.
“Buk!”
Tinju keras tepat menghantam dada Dipasingara di bagian jantung. Dan terdengarlah satu
pekikan dahsyat!
 
-- << 2 >> --

3
Tubuh Dipasingara sedikit pun tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Didepannya
Suramanik terbungkuk-bungkuk memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri.
Belasan kerut kesakitan muncul di kulit mukanya yang beringas. Semua orang kini
menyaksikan bagaimana tangan kanan Suramanik yang tadi sebatas pergelangan berwarna
hitam, kini menjadi gembung lecet. Dari mulut kepala pengawal ini tiada hentinya terdengar
suara rintihan.
Terkejutlah Adipati Kebo Panaran. Juga semua orang. Termasuk Galuh Resmi yang
mengintip di balik tirai jendela. Semula semua orang sudah sama memastikan bagaimana
pemuda itu akan terjengkang dilanda jotosan sakti Wesi Ireng, menggeletak di tanah tanpa
nyawa. Apa yang kemudian terjadi hampir tak dapat mereka percaya.
Suramanik masih mengerang. Lututnya terasa goyah. Dia coba bertahan tapi tak mampu.
Dia jatuh berlutut. Tangan kanannya tampak semakin merah. Dari bagian-bagian yang lecet
darah mulai membersit. Kebo Panaran geleng-gelengkan kepala. Setelah menarik nafas dalam
dia berkata:
“Suramanik, ternyata pemuda itu sanggup menahan pukulanmu....”
Rahang Suramanik menggembung. “Aku tahu maksud ucapanmu Adipati. Tak usah kawatir.
Aku bukan bangsa manusia yang tidak memegang janji. Kau terimalah pemuda hina dina itu
menjadi kepala pengawal Kadipaten!”
Habis berkata begitu Suramanik memutar tubuh untuk berlalu.
“Tunggu!” seru Dipasingara. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya satu kantong kertas
kecil. Di dalam kantong ini terdapat sejenis obat mujarab.
“Taburkan obat ini di tanganmu. Lukamu pasti akan sembuh dalam waktu cepat!”
Suramanik mendengus dan menampik kantong kertas yang dilemparkan padanya.
“Aku tak butuh obatmu! Apa yang kau lakukan hari ini kelak akan kubalas berikut
bunganya! Bersiaplah dari sekarang. Karena aku pasti datang menemuimu!”
Suramanik membalikkan tubuh dan berlalu cepat. Ketika dia lenyap dikejauhan semua mata
kini ditujukan pada Dipasingara. Pada dasarnya prajurit-prajurit Kadipaten itu diam-diam
mengagumi kehebatan si pemuda. Namun masing-masing mereka juga merasa kurang senang
terhadap sikap dan tindak tanduk Dipasingara yang mereka anggap ombong.
Setelah beberapa lama kesunyian menggantung, akhirnya Kebo Panaran membuka mulut:
“Orang muda, sesuai perjanjianmu dengan Suramanik dan dengan kepergiannya dari sini
maka mulai saat ini jabatan kepala pengawal menjadi hakmu. Namun sebelum jabatan itu
kuberikan padamu, satu ujian lagi harus kau lewati....”
“Adipati, apa maksudmu?” tanya Dipasingara,
Sebagai jawaban Kebo Panaran melemparkan sebilah golok pada Dipasingara. Lalu pada
enam orang prajurit Kadipaten dia berseru:
“Cabutlah golok kalian dan serang dia!” Pada Dipasingara Kebo Panaran menambahkan
“Kau harus sanggup merobohkan mereka dalam waktu tiga jurus. Tapi ingat, tak satu pun
harus terluka!”
Dipasingara menyambut golok yang dilemparkan sambil tersenyum sementara enam
prajurit dengan golok terhunus menyebar berkeliling, mengurungnya!
Di belakang jendela Galuh Resmi yang masih mengintip kembali merasa cemas. Dikeroyok
oleh enam prajurit-prajurit kelas satu apakah pemuda itu sanggup bertahan?
Enam golok serentak berkelebat menyerang.
Dipasingara menekuk kedua lututnya. Golok di tangan kanannya dibabatkan ke atas dalam
bentuk lingkaran. “Trang... trang... trang....” Terdengar suara beradunya senjata sampai enam
kali berturut-turut. Lalu suara bergedebukan dan pekik kesakitan susul menyusul.
Dengan mata kepalanya sendiri Adipati Kebo Panaran menyaksikan bagaimana setelah
menangkis serangan enam golok si pemuda lantas pergunakan kaki dan tangan kirinya serta
gagang golok untuk menghajar ke enam pengeroyoknya hingga tiga orang terpelanting roboh,
dua kena di totok dan satu berdiri sambil pegangi hidungnya yang mengucurkan darah.
Di belakang jendela Galuh Resmi sampai ternganga takjub melihat kejadian itu.
Kebo Panaran memegang bahu Dipasingara. “Kau ternyata tidak mengecewakan. Kau
memang pantas menjadi kepala pengawal Kadipaten. Mulai hari ini kau menjalankan tugas di
Kadipaten Gombong!”
Dipasingara tersenyum dan menjura dalam-dalam.
“Terima kasih Adipati. Terima kasih.” Katanya seraya mengembalikan golok yang tadi
diberikan Kebo Panaran.
Ketika Adipati itu berlalu Dipasingara memalingkan kepalanya ke arah jendela. Meski cuma
sekilas tapi masih sempat dilihatnya wajah Galuh Resmi. Galuh Resmi merasakan wajahnya
bersemu merah dan bergegas masuk ke dalam kamar. Sesaat dia tegak di depan kaca menatap
wajahnya sendiri. Pemuda itu tahu kalau dia mengintip. Betapa malunya. Tetapi kenapa dia
begitu merasa tertarik padanya?
Kebo Panaran, Adipati yang berusia setengah abad itu menaruh kepercayaan penuh pada
kepala pengawalnya yang baru. Namun dia tidak menduga sama sekali kalau justru Dipasingara
sebenarnya adalah manusia biang racun yang bakal merusak rumah tangganya.
Tanpa setahu siapa pun di gedung Kadipaten itu, diam-diam Dipasingara mulai main api
dengan Galuh Resmi. Banyak hal yang membuat istri Adipati Gombong itu melayani kedipan
mata, lirikan nakal dan senyum berbisa Dipasingara. Pertama Dipasingara seorang pemuda
bertampang gagah. Pertemuan pertama dulu dengan ketinggian ilmunya telah mendatangkan
rasa kagum dalam diri Galuh Resmi. Kedua, karena kehidupan rumah tangga perempuan itu
dengan Kebo Panaran tidak berbahagia. Sebagai seorang lelaki berusia 50 tahun Kebo Panaran
tidak mungkin mempunyai kesanggupan untuk menjalankan kewajiban badaniah terhadap istri
yang cantik jelita dan baru berusia delapan belas tahun itu. Ketidak sanggupan ini ditambah
pula dengan seringnya sang Adipati melakukan kunjungan kerja ke desa-desa. Lalu pergi
menghadap pembesar-pembesar di Kotaraja untuk memberi laporan. Semua ini membuat
Galuh Resmi seperti terasing jauh dalam kesunyian.
Ketika Dipasingara muncul dengan keberaniannya yang nakal berbisa Galuh Resmi tak
kuasa untuk mengelak bahkan tanpa disadari dia sendiri senantiasa membalas setiap
senyuman kepala pengawalnya yang gagah itu.
Meskipun tidak merupakan kebiasaan tapi pada umumnya setiap pembesar di masa itu
mempunyai dua buah kamar tidur. Satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk istrinya.
Demikian pula dengan Kebo Panaran. Setiap malam dia selalu tidur di kamar besar di sebelah
depan gedung Kadipaten sedang istrinya di kamar lain yang bersebelahan. Antara kedua kamar
itu dihubungkan dengan sebuah pintu. Dengan adanya dua kamar inilah Dipasingara
mempunyal kesempatan untuk berbuat lebih berani.
Suatu malam, ketika seluruh gedung Kadipaten diselimuti kesunyisenyapan Dipasingara ke
luar dari kamarnya di bagian belakang gedung Kadipaten. Malam itu dia telah menyusun
rencana untuk melaksanakan niat terkutuk yang selama ini masih ditahan-tahannya. Dia yakin
Galuh Resmi tidak akan menolak. Kalau pun ternyata nanti perempuan cantik itu tidak bersedia
melayaninya akan dipaksanya dengan kekerasan, lalu menyingkir dari Gombong. Habis
perkara! Bukankah maksudnya meminta jabatan kepala pengawal Kadipaten itu sebenarnya
hanyalah kedok belaka? Karena yang diintainya bukan lain adalah istri Adipati Gombong yang
muda belia dan cantik rupawan itu!
Di hadapan pintu kamar yang diketahuinya adalah kamar tidur Galuh Resmi, kepala
pengawal itu berhenti, tegak sejenak memasang telinga. Semuanya serba sunyi. Dia
melangkah mendekati pintu satu lagi. Di sini didengarnya suara dengkur Adipati Kebo Panaran.
Dipasingara kembali ke pintu pertama dan mulai mengetuk daun pintu perlahan-lahan. Tak
selang beberapa lama didengarnya suara orang turun dari ranjang, disusul suara langkahlangkah
kaki. Lalu pintu di depannya terbuka sedikit. Wajah Galuh Resmi menyeruak di celah
pintu. Perempuan ini tampak agak kaget melihat Dipasingara.
“Ada apakah...?” tanya Galuh Resmi.
“Adipati telah tidur?”
“Ya, kenapa?”
“Boleh aku masuk?” tanya Dipasingara. Matanya memandang tajam. Lalu tanpa menunggu
jawaban dia mendorong daun pintu dan menyelinap masuk ke dalam. Sampai di dalam daun
pintu ditutupnya dengan cepat.
“Kepala pengawal, tindakanmu masuk ke dalam kamar dan malam-malam begini sangat
diluar kesopanan!” Suara Galuh Resmi bergetar.
Dipasingara tersenyum.
“Kau tau mengapa aku datang kemari, Galuh?” ujar Dipasingara pula. Suaranya setengah
berbisik dan senyum masih terus menyungging di bibirnya.
Galub Resmi merasakan dadanya berdebar. Pemuda yang selama ini selalu memanggilnya
dengan sebutan “jeng” kini langsung menyebut namanya.
“Kau ingin bertemu dengan Adipati?”
Dipasingara menggeleng.
“Aku hanya ingin menemuimu. Bukankah pertemuan ini sudah sejak lama sama kita
nantikan?”
“Kepala pengawal. Jaga mulutmu..”
“Namaku Dipasingara.”
“Jika Adipati tahu kau masuk malam-malam ke sini, kau bisa celaka!”
“Dan agar suamimu tidak tahu boleh kukunci pintu yang menghubungkan kamar ini dengan
kamar sebelah?”
“Tidak! Kau harus ke luar dan sini Dipasingara. Saat ini juga!”
Kembali si pemuda tersenyum. Dia melangkah ke arah pintu penghubung lalu menguncinya.
“Kau...! Apa-apaan ini? Apa maksudmu Dipasingara?”
Kepala pengawal itu melangkah ke hadapan Galuh Resmi, membuat perempuan ini tersurut
mundur.
“Kalau kau berani melakukan sesuatu terhadap ku, aku akan menjerit!” Galuh mengancam.
sanubarimu. Apakah layangan senyum dan lirikan mata mesramu selama ini hendak kau
musnahkan dengat satu teriakan yang akan membangunkan seluruh isi gedung Kadipaten ini?”
“Tapi….”
“Aku menyukaimu. Dan kau menyukaiku. Kita sama-sama tau hal itu. Atau masihkah kau
hendak berpura-pura?”
“Kalau semua itu terjadi tidak kuinginkan sampai sejauh ini. Kau berani masuk ke
kamarku!”
“Lagi-lagi kau menipu dirimu Galuh. Aku yakin bahwa kau sepenuhnya menyadari bahwa
satu saat pertemuan seperti ini pasti akan terjadi. Aku telah masuk ke mari menemuimu, orang
yang kukagumi kecantikannya, yang ku... yang kukasihi. Apakah semua itu hendak kau
hancurkan...?”
Gauh Resmi tundukkan kepala. Dadanya yang kencang bergoyang turun naik.
“Masih banyak kesempatan untuk bertemu Dipa. Jika memang kau inginkan. Bukan malammalam
begini. bukan di kamar....”
“Jadi kau inginkan aku keluar dari kamar ini?” tanya Dipasingara.
Galuh Resmi tak menjawab. Disadarinya bahwa diam-diam dia memang menyukai
Dipasingara pada saat pertama kali melihat pemuda ini. Tetapi tindakan Dipasingara masuk ke
dalam kamar seperti itu sangat berbahaya. Namun untuk menyuruh si pemuda ke luar dari
kamarnya hatinya terasa sangat berat. Sesaat dia hanya bisa berdiam diri. Kemudian
dirasakannya nafas pemuda itu menghembus hangat di wajahnya. Lalu terasa pegangan jarijari
tangan Dipasingara pada kedua bahunya.
“Kau izinkan aku bersamamu malam ini di sini Galuh?”
Pemuda itu mengusap dagu Galuh Resmi. Perlahan-lahan diangkatnya hingga perempuan
itu menengadah. Sepasang mata mereka saling bertatapan.
“Dipa, kau terlalu berani Dipa. Terlalu berani.” desis Galuh Resmi.
“Semuanya karena kau. Demi kau Galuh...” balas berbisik Dipasingara.
Perempuan itu menggeliat sewaktu lehernya disentuh ciuman Dipasingara. Ah, betapa
tubuhnya menjadi menggigil panas dingin tetapi nikmat. Betapa darahnya menyentak-nyentak.
Betapa lainnya terasa peluk dan ciuman pemuda itu dibanding dengan rangkulan suaminya
yang berusia setengah abad itu!
“Jangan di sini Dipa. Jangan di sini...” kata Galuh Resmi waktu pemuda itu membimbingnya
ke tempat tidur.
Tapi Dipasingara menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi pada pangkal lehernya.
Membuat perempuan itu bergelinjang, menggeliat dan mengeluarkan suara lirih. Nafasnya
memburu tetapi tersendat-sendat.
“Tidak di sini Dipa. Aku khawatir suamiku bangun....”
“Semua pintu telah kukunci. Tak ada yang harus kau takutkan,” kata Dipasingara. Dia
membungkuk, membenamkan hidungnya di celah antara kedua buah dada Galuh Resmi,
membuat perempuan itu mencengkeramkan kuku-kuku jarinya ke punggung Dipasingara.
Ketika tubuhnya diangkat, Galuh menggelungkan tangannya ke leher si pemuda.
Kini dia terbaring di atas tempat tidur. Dipa yang membaringkannya. Galuh memejamkan
matanya. Tak berani menatap wajah Dipasingara. Sesaat kemudian dirasakannya jari-jari
tangan Dipasingara menyelinap di balik pakaiannya. Galuh Resmi tersentak, menggeliat
kelangsangan. Selama ini hanya jari-jari tangan lelaki tua bernama Kebo Panaran yang
menggerayangi tubuhnya. Betapa lainnya dengan rabaan seorang pemuda.
Galuh Resmi menggeliat lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya tiba-tiba dia membalikkan tubuh
dan menggigit dada Dipasingara. Pemuda itu mengeluh kesakitan tapi sekaligus menimbulkan
gelegak rangsangan. Tangan Dipasingara menggerayang lebih berani. Galuh Resmi merasa
seperti pembuluh-pembuluh darahnya meletus sewaktu pemuda itu mulai membuka
pakaiannya. Tidak berani dia membuka matanya. Tak berani dia membuka mulut. Desau
nafasnya membara. Dirasakannya tubuh Dipasingara meneduhi tubuhnya. Tubuh kukuh itu
dipeluk Galuh Resmi kuat-kuat.
Demikianlah malam itu telah terjadi hubungan gelap dan mesum antara Dipasingara dengan
Galuh Resmi. Antara seorang kepala pengawal dengan perempuan yang menjadi istri Adipati
atasannya sendiri! Apa yang terjadi malam itu baru merupakan permulaan saja dari
serangkaian panjang perbuatan mesum terkutuk diantara mereka berdua.

-- << 3 >> --

selanjutnya download ya... di link :Hidung Belang Berkipas Sakti

Jumat, 04 September 2009

Pendekar Dari Gunung Naga


Bastian Tito
Pendekar Kapak Nagageni 212
WIROSABLENG


LEMBAH MERAK HIJAU yang terletak di propinsi
Ciat-kang merupakan sebuah lembah subur
dengan pemandangan yang indah. Lebih-lebih
karena di sebelah timur lembah ini terdapat daerah
persawahan yang luas dan pada saat itu padi yang
ditanam telah masak menguning hingga kemanapun
mata memandang, seolah-olah hamparan permadani
emaslah yang kelihatan. Bila angin bertiup, padi-padi
masak menguning itu bergoyang melambai-lambai
mengalun lemah gemulai
Dipagi yang cerah ini diantara desau tiupan
angin lembah yang segar terdengarlah suara tiupan
seruling yang merdu sekali. Barang siapa yang
mendengarnya, pastilah akan tertegun dan memasang
telinga baik-baik menikmati suara seruling itu.
Siapakah gerangan yang meniup seruling tersebut?
Tentunya seorang seniman pandai yang dapat menggambarkan
keindahan pemandangan alam sekitarnya
lewat hembusan napas yang disalurkannya ke
dalam lobang seruling.
Tetapi adalah diiuar dugaan karena kenyataannya
si peniup seruling bukanlah seorang seniman,
bukan pula seorang dewasa. Melainkan seorang
anak gembala yang baru berusia tujuh tahun dan
duduk di atas punggung seekor kerbau besar tegap
berbulu bersih dan berkilat.
Perlahan-lahan kerbau besar itu melangkah menyusur
tepi sawah, memasuki lembah Merak Hijau,
kemudian mendaki bibir lembah di sebelah selatan.
Di atas punggungnya bocah berusia tujuh tahun itu
demikian asyiknya meniup seruling hingga dia tidak
perduli lagi ke mana pun kerbaunya membawanya.
Akan tetapi ketika binatang itu sampai di atas
lembah sebelah selatan serta rnerta si bocah menghentikan
permainan serulingnya. Mulutnya ternganga
dan sepasang matanya yang bening melotot begitu
dia menyaksikan pemandangan di hadapannya. Dua
sosok tubuh yang hanya merupakan bayang-bayang
hitam dan putih dilihatnya berkelebat hebat, terlibat
dalam suatu perkelahian yang gencar dan seru.
Adalah aneh... memikir anak itu... di tempat yang
begini indah dan segar, ada orang berkelahi. Memperhatikan
dengan mata tak berkesip lama-lama
membuat si bocah menjadi pusing sendiri. Beberapa
kali dia memejamkan matanya, dibuka kembali, dipejamkan
lagi, dibuka lagi. Ketika dia membuka
sepasang matanya untuk yang kesekian kalinya,
dilihatnya bayangan hitam mendesak bayangan putih
dan tahu-tahu satu tendangan dahsyat dilancarkan
oleh sosok tubuh bayangan hitam. Tapi bayangan
putih dapat mengelak. Tendangan maut itu tak
sengaja terus melabrak kepala kerbau yang ditunggangi
anak tadi.
Terdengar lenguhan keras. Kerbau besar itu
mencelat sampai beberapa tombak, angsrok di tanah,
mati dengan kepala pecah. Anak lelaki tadi
terpelanting dan nyangsrang dalam semak-semak.
Pakaiannya habis koyak-koyak dan kulitnya baret
luka-luka. Tapi suling Kesayangannya masih tergenggam
di tangan kanannya. Dengan susah payah
dia keluar dari semak-semak itu sambil mengomel
marah ketika mengetahui apa yang terjadi dengan
kerbau tunggangannya.
Di depan sana akibat kejadian yang tak disangka-
sangka itu, dua orang yang tadi berkelahi
mati-matian sama melompat mundur. Perkelahian
terhenti dan keduanya memandang ke arah si bocah
dan kerbaunya.
Kini barulah anak lelaki itu dapat melihat dengan
jelas sosok tubuh dan tampak kedua bayangan hitam
dan putih tadi.
Di depan sebelah kanan tegak seorang kakekkakek
berjubah hitam berkepala botak plontos yang
kilat-kilat ditimpa sinar matahari. Sepasang alisnya
tebal, kumisnya jarang tapi tebal-tebal dan panjang.
Tampangnya persis seperti anjing air!
Di sebelah kiri berdiri pula seorang kakek-kakek
berpakaian putih. Rambutnya panjang putih meriap
bahu. Dia memelihara kumis serta janggut lebat yang
juga berwana putih. Sepasang matanya memandang
tajam pada bocah yang memegang suling
sedang kulit keningnya berkerut seolah-olah dia
tengah memikirkan sesuatu.
Meskipun tadi hanya melihat bayangannya saja.
namun bocah pengembara itu yakin kakek berjubah
hitam itulah yang telah melepaskan tendangan hingga
mematikan kerbaunya. Bocah ini memang mempunyai
dasar watak yang berani. Dengan mata melotot
dan air muka menunjukkan kemarahan dia
membentak pada kakek jubah hitam :
“Tua bangka botak! Kau telah membunuh kerbauku!
Aku pasti akan dirajam oleh majikanku! Kau
harus menggantinya kalau tidak...."
Seumur hidupnya baru kali itu kakek berjubah
hitam dimaki begitu rupa oleh seorang lain. apalagi
anak-anak yang masih ingusan pula! Tentu saja
darahnya naik ke kepala
"Pergi kau dari sini. kalau tidak kepalamu akan
kupecahkan seperti binatang itu!"
"Tidak! Kau harus ganti dulu kerbau yang mati itu!'
"Bocah sundal! Kau mampuslah!' teriak kakek
jubah hitam marah sekali. Tangan kanannya dipukulkan
ke depan. Serangkum angin menderu dahsyat.
Jangankan seorang anak kecil seperti pengembala
itu, batu karang atos sekalipun kalau sampai dilabrak
pukulan jarak jauh yang berkekuatan tenaga dalam
Suar biasa itu pasti akan hancur lebur.
Tapi sebelum pukulan tangan kosong itu menghantam
anak gembala, dari samping menderu angin
pukulan lain, menggempur angin pukulan yang pertama
hingga berantakan dan punah!
Ternyata kakek berpakaian putihlah yang telah
menolong bocah itu!
Si anak yang tidak sadar kalau dirinya baru saja
terlepas dari bahaya maut. dengan marah mengangkat
sulingnya tinggi-tinggi dan lari ke arah kakek
berjubah hitam.
"Tua bangka botak! Kugebuk kau dengan sulingku
kalau kau tak mau ganti kerbau yang mati!"
Anak yang berani ini tidak menyadari sama
sekali kalau perbuatannya itu bakal merenggut nyawa
sendiri karena dalam kemarahannya kakek jubah
hitam memang sudah berniat membunuh anak itu.
Tapi lagi-lagi orang tua berpakaian putih menyelamatkannya
Sekali bergerak, kakek yang satu ini
tahu-tahu sudah telah mencengkram kerah pakaian
bocah itu dan menariknya ke tempat yang aman!
"Budak! Keberanianmu luar biasa dan mengagumkanku!
Tapi si kepala botak itu bukan lawanmu!

Biar aku yang mewakilimu untuk menggebuknya!'
Sesaat anak gembala itu terdiam. Kemudian
dengan merengut dia berkata : "Kalian tua-tua bangka
tak tahu diri.-Berkelahi macam anak-anak!"
Kakek berjanggut putih tertawa gelak gelak. Tapi
sebaliknya si jubah hitam kepala botak membentak
garang dan menyerbu. Kembali kedua orang ini bertempur
hebat Kembali tubuh mereka menjadi bayangbayang
hitam putih dan kembali pula si bocah menjadi
sakit mata dan pening kepalanya menyaksikan. Namun
dia memaksakan untuk memperhatikan kejadian hebat
itu sambi! tiada hentinya berteriak : Janggut putih, ayo
kau hajar kepala botak pembunuh kerbauku itu! Sikat!
Pecahkan kepalanya seperti dia memecahkan kepala
binatang gembalaanku!"
Teriakan-teriakan anak ini seolah-olah memberi
semangat pada kakek berpakaian pulih, sebaliknya
membuat si botak jadi penasaran setengah mati!
Dari batik jubah hitamnya si botak ini keluarkan
senjatanya berupa tongkat kayu berwarna hitam
legam dan memancarkan sinar menggidikkan. Setelah
bertempur hampir dua ratus jurus ternyata dia
tak dapat merubuhkan lawan dengan iangan kosong
maka kini dengan senjata itu dia berharap bakai
dapat mengalihkan kakek janggut putih.
Diiain pihak lawannya begitu melihat musuh pegang
senjata tidak pula menunggu lebih lama, segera
keluarkan senjatanya yakni sebatang tombak pendek
terbuat dari baja putih yang kedua ujungnya bercagak.
Sesaat kemudian keduanya sudah bertempur
kembali dengan hebatnya. Kini bayangan pakaian
mereka yang putih dan hitam dibuntali oleh sinar
dari senjata masing-masing dan menderu-deru dengan
dahsyatnya.
Bocah gembala yang berdiri jauh dari tempat itu
merasakan bagaimana sambaran kedua senjata tersebut
membuat lututnya guyah dan tubuhnya bergetar
menggigil Terpaksa dia menjauh sampai satu
tombak dari kalangan pertempuran sementara mata
dan kepalanya semakin sakit menyaksikan.
Dalam satu gebrakan hebat kakek janggut putih
berhasil mendesak lawan dan setelah mengirimkan
tusukan-tusukan gencar ke arah tawan tiba-tiba robah

gerakan tongkatnya dengan satu kemplangan
yang tidak terduga.
Kakek botak berseru kaget. Buru-buru dia melintangkan
senjatanya di atas kepala. Tombak baja dan
tongkat kayu mustika beradu dengan keras, me
ngeluarkan suara nyaring. Tongkat kayu mental
patah dua sedang tombak baja terlepas dari tangan
kakek janggut putih! Nyatalah kedua kakek-kakek
itu sama tangguh meskipun si janggut putih unggul
sedikit dari lawannya.
Selagi kakek janggut putih melompat mengambil
tongkatnya, si kepala botak rangkapkan dua
tangan di depan dada, kaki terkembang dan kedua
matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit. Dari
ubun-ubun kepalanya mengepul asap hitam. Kemudian
terdengar kekehannya.
"Manusia keparat! Jangan harap kali ini kau bisa
bernapas lebih lama!"
Kepulan-kepulan asap hitam itu sedetik kemudian
berobah menjadi delapan buah tangan yang
amat besar, berbulu dan berkuku-kuku panjang laksana
cakar burung garuda dan mulai menggapaigapai
ke arah kakek janggut putih.
"Ilmu hoatsut!" teriak si janggut putih dengan
wajah berobah. (Hoatsut ilmu sihir hitam). Hatinya
tercekat. Segala macam senjata sakti dan ilmu silat
hebat bagaimana pun dia tidak gentar. Tapi menghadapi
ilmu siluman mau tak mau hatinya berdebar
juga. Dia mengambil keputusan nekad. Menghajar
si kepala botak itu lebih dulu sebelum ilmu hitamnya
melancarkan serangan. Dengan memutar tombak
bajanya sekeliling tubuh, dia menyusup diantara
kepulan asap hitam!
AKAN TETAPI SEBELUM tongkat baja berkepala dua
itu mampu mendekati kakek jubah hitam sampai jarak
tiga jengkal, tiba-tiba delapan buah tangan mengerikan
telah berserabutan menyerang kakek janggut putih!
Si kakek tersentak dan buru-buru menghindarkan
diri. Tapi empat tangan berkuku panjang itu masih
memburunya dengan ganas. Si kakek kiblatkan tombak
bajanya, sekaligus melabrak empat buah tangan yang
menyerang. Aneh, meskipun jelas dia berhasil
menghantam empat tangan mengerikan itu namun
tombaknya lewat begitu saja seolah-olah menghantam
udara kosong! Dan dalam pada itu salah satu tangan
tersebut telah berkelebat dengan cepat dan bret!
Pakaian dibagian dada si kakek robek besar.
Kuku-kuku yang panjang masih sempat membuat
baret daging dadanya dan kontan orang tua ini
merasakan tubuhnya panas dingin. Buru-buru dia
salurkan tenaga dalamnya kebagian dada yang cedera
dan rasa sakit panas dingin berangsur-angsur
berkurang.
Dalam pada itu di depan sana kakek jubah hitam
kembali keluarkan suara tawa mengekeh dan delapan
tangan siluman kembali menyerbu!
Kakek janggut putih maklum bahwa segala pukulan
sakti dan tombaknya tak akan mampu meng
hadapi ilmu sihir yang ganas itu. Dia hanya sanggup
bertahan dengan mengandalkan ginkangnya yang
sudah amat tinggi. Tapi sampai berapa lama dia bisa
berbuat begitu? Seratus, dua ratus atau katakanlah
sampai tiga ratus jurus di muka? Dalam umurnya
yang sudah demikian lanjut, apakah dia mampu
melaksanakannya? Cepat atau lambat dia bakal
celaka juga! Hal ini membuat dia nekad dan mengamuk
dengan hebat. Tapi ilmu siluman musuh betulbetul
luar biasa. Dalam tempo beberapa jurus saja
dia sudah didesak habis-habisan!
Bocah penggembala yang mengharapkan agar
kakek janggut putih bisa menghajar si botak yang
telah membunuh kerbaunya itu, jadi kecewa dan
penasaran ketika menyaksikan bagaimana justru
kakek janggut putih itu terdesak hebat bahkan terancam
jiwanya karena saat itu beberapa kali tangantangan
iblis berkuku panjang telah memukul dan
mencakar tubuhnya hingga dalam tempo singkat
kakek ini mandi darah akibat luka-luka yang dideritanya!
Dengan marah anak laki-laki itu mulai mengumpulkan
batu-batu sebesar kepalan dan melempari
kakek jubah hitam dari belakang. Tapi semua batubatu
yang dilemparkan jangankan mengenai, mendekati
tubuhnya saja pun tidak karena batu-batu itu
mental kembali akibat hawa sakti yang keluar dari
tubuh si jubah hitam kepala botak!
Hebatnya kakek janggut putih itu meskipun
sadar bahwa dirinya bakal celaka dan kematiannya
sudah ditentukan saat itu, namun dia masih saja
bertahan dan melawan mati-matian, sama sekali
tidak mau menyerah apalagi lari selamatkan dirinya!
Melihat keadaan kakek berjanggut putih itu dan
khawatir kalau tangan-tangan siluman itu bakal menyerangnya
pula, timbullah rasa takut dalam diri anak
penggembala. Tetapi anehnya dia sama sekali tidak
pula melarikan diri dari tempat ini. Malah untuk
menghilangkan rasa takut itu, anak ini ambil serulingnya
dan mulai meniup. Lagu yang dimainkannya
sama sekali tak menentu. Rasa takut dan
khawatir melihat keselamatan si kakek janggut putih
terancam membuat tiupan serulingnya melengkinglengking
tak karuan. Tetapi justru tiupan seruling
inilah yang mendadak sontak merubah keadaan di
dalam kalangan perkelahian hidup mati itu!
Delapan tangan iblis yang mengerikan kini kelihatan
berserabutan dalam gerakan-gerakan kacau.
semakin lama semakin mengecil akhirnya berubah
menjadi asap hitam. Kakek jubah hitam tersentak
kaget. Dia berkeras memusatkan pikirannya guna
mengumpulkan kekuatan bathin yang tercerai berai
namun tak berhasil bahkan tangan-tangan siluman
itu telah berubah jadi kepulan asap hitam dan lenyap.
"Celaka!" seru kakek botak ini. Dia buka kedua
matanya justru disaat itu musuhnya yang telah luka
parah laksana banteng terluka mengamuk melihat
perubahan yang mendadak dan adanya kesempatan
untuk menyerang, tanpa tunggu lebih lama lancar
kan gerakan mematikan yang bernama "Joan hun-kigwat"
atau "menyusup awan mengambil rembulan."
Tongkat baja bermata dua itu menusuk laksana
kilat ke dada si jubah hitam dan tanpa dapat dielakkan
lagi tepat menembus jantungnya hingga tanpa
suara sedikit pun kakek berkepala botak itu minggat
nyawanya ketika itu juga!
Melihat si pembunuh kerbaunya mati, anak gembala
tadi bersorak gembira dan jingkrak-jingkrakan.
"Syukur! Mampuslah pembunuh kerbau! Baru
aku puas sekarang!" Tapi bila ingat apa yang akan
dikatakannya nanti pada majikannya akan ini lantas
jadi termenung murung.
Sementara itu si janggut putih yang tubuhnya
penuh luka-luka, dalam keadaan megap-megap segera
bersila di tanah. Atur jalan darah dan napas
serta salurkan hawa sakti tenaga dalam keseluruh
bagian tubuhnya. Beberapa saat kemudian dia keluarkan
dua macam obat yakni beberapa butir pel
dan sebungkus obat bubuk. Pel itu ditelannya sampai
habis sedang obat bubuk dituangkannya pada
luka-luka sekujur tubuhnya. Kemudian kembali dia
bersila. Sekitar seperminuman teh berlalu. Perlahanlahan
orang tua ini membuka kedua matanya dan
berdiri. Meski kini dia telah selamat dari kematian
namun kesehatannya belum pulih keseluruhannya.
ternyata cakar dari jari-jari tangan siluman yang
telah membuat dia cedera itu mengandung racun
yang berbahaya. Untung saja dia membawa persediaan
obat, kalau tidak meskipun dia berhasil
membunuh musuh namun racun, yang mengendap
bukan mustahil bakal membuat dia menemui ajalnya
pula dalam satu dua hari dimuka.
Orang tua ini kemudian ingat pada anak gembala
itu yang kini tengah duduk termangu-mangu di
bawah sebatang pohon. Meskipun kerbau gembalaannya
mati bukan karena kesalahannya dan si pembunuh
sudah pula menemui ajal namun majikannya
pasti tak mau perduli. Masih mending kalau dia
diberhentikan dari pekerjaan, kalau disuruh ganti?
Selagi dia termenung sudah begitu rupa tiba-tiba
satu bayangan putih berkelebat. Dia merasakan
tengkuk pakaiannya dicekal orang dan kemudian
dirasakannya tubuhnya laksana terbang. Memandang
ke samping ternyata dia telah dipanggul oleh
kakek berjanggut putih dan membawa lari dengan
kecepatan yang luar biasa, membuat dia gamang
dan ngeri.
"Orang tua kau mau bawa aku ke mana?!" seru
si bocah dengan suara gemetar.
"Budak... kau diam sajalah. Tak usah banyak
tanya!"
"Tapi aku harus kembali pada majikanku. Memberi
tahu tentang kerbau yang mati itu...."
Si kakek tertawa.
Kau anak baik yang tahu apa artinya tanggung
jawab. Tapi lupakan saja majikanmu dan kerbaumu
itu! Persetan! Potongan tubuh dan ruas tulangmu
kulihat bagus sekali! Sayang... sayang kalau disiasiakan!
Aku akan bawa kau ke puncak Liongsan!
Kau dengar? Puncak Liongsan!"
"Aku... aku...."
Si kakek mempercepat larinya dan kerena ngeri
si bocah tak berani lagi banyak bicara, malah kini
dia pejamkan kedua matanya. Tanpa sadar akhirnya
dia tertidur di atas pundak kakek yang membawanya
"terbang" itu!
Siapakah adanya kakek berambut putih ini?
Siapa pula musuh berjubah hitam itu dan apa tujuannya
sampai anak gembala tersebut hendak dibawanya
ke puncak Gunung Naga yang selama ini
dianggap angker dan jarang didatangi oleh manusia?
Kakek-kakek jubah hitam yang menemui ajalnya
itu dalam dunia persilatan di daratan Tongkok dikenal
dengan julukan angker Raja Setan Gunung Utara
atau Pak-san Kwi-ong. Pada masa itu diantara tokohtokoh
silat golongan hitam yang sesat Pak-san
Kwi-ong dianggap tokoh terlihay dan secara tidak
resmi dijadikan sebagai pimpinan. Dengan sendirinya
dia menjadi musuh nomor wahid dari orang
persilatan golongan putih.
Sekitar tiga tahun yang lalu antara Pak-san
Kwi-ong dengan kakek-kakek janggut putih yang
membawa lari anak gembala tadi, telah terjadi bentrokan.
Dalam perkelahian satu lawan satu yang seru
dan berlangsung seratus jurus, kakek janggut putih
berhasil mengalahkan Pak-san Kwi-ong. Kekalahan
bibit pangkal dendam kesumat sakit hati. Selama
tlya tahun Pak-san Kwi-ong melatih diri memperdalam
ilmu silat, tenaga dalam dan gingkangnya.
Disamping itu dia meyakini pula satu ilmu baru yakni
ilmu hitam atau sihir. Setelah dia merasa cukup
sanggup untuk melakukan penuntutan balas, maka
dicarinyalah kakek janggut putih tadi. Ternyata Paksa
n Kwi-ong memang berhasil menghadapi musuh
besarnya itu, bahkan ilmu hitamnya dia hampir saja
dapat membunuh lawan. Namun tiada disangkasangka,
ilmu sihirnya musnah berantakan hanya
karena tiupan seruling bocah penggembala kerbau.
Dan akhirnya secara penasaran dia terpaksa serahkan
jiwanya pada musuh!
Lalu siapa pulakah kakek janggut putih itu?

----
Selanjutnya download di.. : Pendekar Dari Gunung Naga

Pendekar Pedang Akhirat


Oleh : Bastian Tito
Pendekar Kapak Nagageni 212
WIRO SABLENG

1
Mungkin ini adalah malam yang paling mengerikan bagi
Wiro Sableng selama dia menginjakkan kaki dalam rimba
persilatan Tiongkok. Segala sesuatunya gelap, hitam
memekat. Hujan turun dengan lebat, angin bertiup
dingin mengeluarkan suara aneh tiada hentinya. Sekalisekali
guntur menggeledek dan di kejauhan terkadang
terdengar suara lolongan liar serigala hutan.
Dalam keadaan basah kuyup Wiro berusaha mencari
perlindungan. Saat itu dia berada di lereng sebuah bukit
gundul, sekitar 100 lie dari tembok besar.
"Hujan gila!" memaki Wiro. Dia lari terus. Dalam
kepekatan itu di kejauhan dilihatnya satu bayangan hitam
sebuah bangunan. Dia tak dapat memastikan bangunan
apa adanya itu, namun Wiro segera menuju ke sana.
Sesaat kemudian, bila dia sampai ke tempat tersebut
ternyata klenteng yang sudah tidak terpakai lagi, Wiro
mendekam di bawah atap klenteng yang miring. Hawa
dingin baginya bukan apa-apa tetapi perut yang kosong keroncongan betul-betul merupakan siksaan.
Sekilas kilat menyambar. Bumi sekejapan terang lalu gelap lagi. Ketika sekali lagi kilat berkiblat tibatiba
sepasang mata Wiro yang tajam melihat sebuah batu empat persegi yang tebalnya hampir tiga
jengkal, lebar dua meter dan panjang tiga meter. Batu ini menutupi hampir separuh dari bagian depan
klenteng itu.
Meskipun dia tak mengerti mengapa batu itu sampai berada di tempat tersebut, dan kelihatannya di
sana, semula Wiro tak mau ambil perduli. Namun ketika sekali lagi pula kilat menyambar menerangi
tempat itu. Tepat di atas batu besar itu menggeletak sebuah tengkorak kepala manusia. Sepasang
matanya yang merupakan dua buah lobang besar, memandang menyorot mengerikan pada Wiro sedang
mulutnya seolah-olah melontarkan seringai maut ke arah pendekar ini. Pada batu besar itu, tepat di
bawah tengkorak tadi, terdapat tulisan yang agaknya dibuat dengan darah berbunyi: Liang Se-thian
(Liang Akhirat).
"Gila betul! Apa-apaan ini?" membatin Wiro. Meskipun bulu kuduknya agak merinding juga,
Created by syauqy_arr@yahoo.co.id
Weblog, http://hanaoki.wordpress.com
namun dia melangkah maju mendekati batu besar itu.
Tangannya diulurkan menjamah tengkorak. Batok tulang kepala itu terasa dingin. Jari-jari tangan
Wiro Sableng bergetar. Wiro garuk-garuk kepala dengan tangan kiri. Tangan kanannya kemudian
mengangkat tengkorak tersebut. Maksudnya hendak ditelitinya. Namun mendadak sontak kelihatan dua
larik sinar hijau yang busuk membersit dari sepasang rongga mata yang seram dari tengkorak,
menyambar ke muka Wiro. Dari warna dan baunya sinar tersebut Wiro serta merta dapat memastikan
bahwa sinar ini mengandung semacam racun yang amat jahat. Sebenarnya dengan memiliki Kapak Naga
Geni 212 yang dapat memusnahkan segala macam racun itu, Wiro Sableng tak usah kawatir. Akan tetapi
saking kagetnya, pemuda ini secepat kilat meloncat sambil memaki membantingkan tengkorak itu hingga
hancur berkeping-keping.
Secara tak sengaja tengkorak yang dibantingkan Wiro membentur sebuah tombol kecil yang terletak
di saiah satu sudut batu besar. Dan belum lagi pemuda ini habis kejutnya tiba-tiba pula batu besar di
hadapannya bergeser ke samping. Sebuah lobang gelap terbentang dan dari lobang ini tiba-tiba sekali
melesat sesosok bayangan disertai mengumbarnya suara tertawa bekakakan yang amat dahsyat.
Angin kelebatan bayangan tadi demikian hebatnya hingga membuat Pendekar 212 Wiro Sableng
terhuyung-huyung ke samping, Wiro cepat berpaling.
Sesosok tubuh yang berpakaian compang camping kurus kering tiada beda dengan jerangkong
hidup dan di bawah rambutnya yang panjang awut-awutan terdapat wajahnya yang menyeramkan
macam iblis ganas. Dia masih terus mengumbar tertawanya yang seram menggetarkan itu. Sedang
sepasang matanya yang cekung memandang tidak berkedip pada Pendekar 212.
Wiro Sableng tetapkan hati mengusir rasa ngeri dan berseru, "Siapa kau?! Manusia apa bangsa setan
pelayangan!"
Orang yang ditanya tidak menjawab. Malah dia mendongak dan kembali menghamburkan suara
tertawanya yang lantang menyeramkan. Dia tertawa sepuas-puasnya. Dan bila tawanya itu berhenti tibatiba
dia membuka mulut.
'"Tiga tahun dipendam tidak membuat aku mati! Tiga tahun disekap tidak membuat aku mampus!
Tiga tahun dikubur tidak menjadikan aku modar! Betapa tingginya kekuasaan Thian!"
Wiro yang tak mengerti makna kata-kata orang aneh itu jadi garuk-garuk kepala. Siapakah adanya
manusia yang ada di depannya itu, kalau dia memang manusia? Apakah dia telah terkurung atau
dipendam dalam liang batu itu selama tiga tahun? Tanpa makan dan minum tapi toh bisa hidup." Hanya
satu hal yang dapat dipastikan oleh Wiro yakni orang bermuka hampir seperti muka tengkorak itu
memiliki ilmu yang tinggi. Ini terbukti dengan angin kelebatannya waktu keluar dari liang tadi, yang telah
membuat Wiro Sableng terhuyung!
"Budak! Kau kemarilah!" Tiba-tiba orang itu berseru dan melambaikan tangannya ke arah Wiro.
Aneh! Seolah-olah ada satu kekuatan gaib yang menariknya, Wiro kemudian melangkah ke hadapan
orang itu. Dia memperhatikan pendekar kita dengan matanya yang cekung seram.
"Heh, kau orang asing? Bukan orang sini! Tapi sudah, aku tak perduli! Katakan siapa namamu!"
Wiro sebutkan namanya.
"Locianpwe sendiri siapakah kalau siauwte boleh tanya?"
"Saat ini kau belum layak mengetahui siapa diriku. Tapi budak, ketahuilah. Kau telah
menyelamatkanku. "Ujarnya mengatakan. "hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati.
Membawa mati budi itulah yang aku tidak sudi. Karena kau telah selamatkan jiwaku dari liang neraka
keparat ini maka aku akan memberikan tiga jurus ilmu pedang!"
Wiro Sableng jadi kaget.
"Locianpwe..." katanya. "Aku tak merasa menolongmu, apalagi menyelamatkan jiwamu?"
"Tidak merasa...?" Orang aneh bermuka dan bertubuh tengkorak itu kembali tertawa gelak-gelak.
"Kau telah menggeser batu besar itu hingga kini aku bebas. Tiga tahun lamanya aku disekap di liang
jadah ini! Kalau tidak ada kau mungkin sampai mati aku akan mendekam terus di situ! Bukankah itu
berarti kau telah menyelamatkan diriku? Menolong jiwaku!?"
"Kurasa semua itu terjadi dengan tidak Sengaja. Hari hujan dan aku tersesat kemari...."
"Sengaja atau tidak tapi tetap kau adalah tuan penolongku, budak! Nah sekarang kau bersiap-siaplah
untuk menerima tiga jurus ilmu pedang dariku!"
"Aku tanya dulu, Locianpwe!" memotong Wiro.
"Tanya apa?"
"Tiga tahun dipendam di dalam liang batu ini, bagaimana Locianpwe masih bisa hidup?"
"Bukan cuma masih bisa hidup, malah menambah ilmu kesaktianku."
"Ah, itu hebat sekali! Tapi cobalah Locianpwe terangkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Manusia
biasa tak bakal bisa terus hidup. Kecuali kalau Locianpwe ini sebangsa jin...!"
Sesaat orang tua bermuka tengkorak itu mendelik dan mimiknya seperti hendak menelan Wiro
bulat-bulat. Tapi sesaat kemudian kembali suara tertawanya yang dahsyat terdengar.
"Terhadap orang yang telah menolong jiwaku tiada beda seolah-olah aku telah meminjam nyawamu
sendiri. Karenanya apa pun yang kau bilang aku tak akan marah!"
"Ah, kau terlalu berlebih-lebihan, Locianpwe..."
"Mungkin... mungkin. Sekarang bersiaplah untuk menerima pelajaran ilmu dariku. Tapi..." Orang
itu sejenak berpikir-pikir.
"Sebelum pelajaran ilmu pedang, sebaiknya lebih dulu kuberikan sepertiga iwekangku padamu!"
"Locianpwe, sebenarnya untuk satu pertolongan yang tidak sengaja itu aku tidak meminta balas jasa
apa...."
"Perduli apa, toh aku memberikannya dengan sukarela."
"Walaupun begitu aku tetap tak layak menerimanya."
"Sudahlah, jangan banyak mulut. Lekas duduk bersila dan hadapkan punggungmu padaku. Aku
akan buka jalan darah tay hwi hiat di bagian tubuhmu itu!"
Wiro tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti dan duduk bersila. Si muka tengkorak kemudian
berlutut di belakang Wiro dan letakkan kedua telapak tangannya pada punggung pemuda ini. Sesaat
kemudian Wiro merasakan punggungnya menjadi hangat. Hawa hangat itu terus mengalir menembus
kulit dan daging di punggungnya, mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Sekira seperempat jam
kemudian dengan butiran-butiran keringat di kening dan pakaiannya yang compang-camping basah
kuyup, si orang tua itu buka kedua matanya dan berdiri. Dia menghela nafas lega.
"Berdirilah!"
Ketika berdiri Wiro merasakan betapa tubuhnya kini terasa amat mantap dan enteng. Sebagai
seorang pendekar sakti mandraguna sebelumnya Wiro Sableng telah memiliki iwekang (tenaga dalam)
yang amat tinggi. Ini ditambah pula dengan sepertiga bagian tenaga dalam baru dari seorang sakti
misterius itu, dengan sendirinya dapat dibayangkan bagaimana hebat dan luar biasanya tenaga dalam
yang sekarang dimiliki oleh Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung
Gede itu.
"Sekarang kau perhatikan baik-baik. Aku akan mainkan tiga jurus ilmu pedang yang dahsyat.
Sesudah itu kau menirukannya."
Orang sakti aneh itu rentangkan kedua kakinya. "Ini jurus pertama. Bernama Cip hian-jay-hong (Tibatiba
muncul pelangi). Perhatikan baik-baik!" Kemudian, "Jurus kedua Lo han Ciang-yau (Malaikat
Menundukkan Siluman)" Setelah itu, "Dan ini jurus terakhir kunamai: Kui-gok-sin-ki atau Setan Meratap
Malaikat Menangis! Nah sekarang kumainkan sekali lagi satu persatu dan kau menirukannya."
Wiro manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala dan sepasang matanya memperhatikan dengan
teliti. Bila orang tua tak dikenal ini selesai memainkan jurus pertama yang disebut "Tiba-tiba Muncul
Pelangi" maka Wiro pun menirukannya. Demikian seterusnya.
Si orang tua tertawa lebar dan usap-usap janggutnya yang panjang acak-acakan. "Budak, ternyata
kau memiliki dasar ilmu silat yang tinggi dan meskipun tampangmu tolol tapi otakmu cerdas. Hanya dua
kali melihat, kau sudah dapat menirukan masing-masing jurus ilmu pedang tadi tanpa salah sedikitpun!
Dan dalam gelapnya cuaca begini, kau betul-betul hebatl Asal kau rajin melatih diri, pasti kau tak akan
dapat dirubuhkan oleh jago pedang dari negeri mana punl"
Wiro garuk-garuk kepala.
"Nah, untuk sementara segala hutang budi kurasa sudah terbayar. Cuma hutang nyawa yang masih
belum impas. Di lain hari kelak aku akan datang membayarnya berikut bunganya. Selamat tinggal
budak.... "
"Locianpwe, tunggu!" Wiro berseru cepat.
"Ada apa pula, budak?!"
"Sudilah Locianpwe mengatakan siapa adanya manusia jahat yang telah mencelakakan dan
memendam Locianpwe dalam liang batu itui"
"Memangnya kenapa, budak?"
"Aku akan mencarinya guna membalaskan sakit hati Locianpwe sebagai tanda terima kasih atas
budi baik yang Locianpwe berikan hari ini padakul"
Si orang tua tertawa gelak-gelak. "Budak, ternyata kau seorang yang punya hati polos, budi luhur
dan tahu peradatan. Tapi ketahuilah, soal dendam kesumat dengan orang yang telah menjebloskan diriku
dalam liang akhirat ini biarlah tetap menjadi urusanku dan tanggung jawabku!"
"Satu pertanyaan lagi, Locianpwe," kata Wiro. Tapi astaga! Padahal kata-kata terakhir orang itu
masih ternigiang di telinga Wiro, tapi sosok tubuhnya sendiri sudah berkelebat lenyap dari hadapannya.
Tadi dia hendak menanyakan bagaimana selama tiga tahun terpendam di liang batu itu si orang tua
masih bisa hidup. Tapi yang hendak ditanya sudah melesat pergi. Wiro melangkah mendekati lobang
batu itu. Gelap. Dia berlutut dan meluruskan tangannya meraba-raba. Aneh, dinding liang itu
dirasakannya basah dan berlapis semacam benda lembut. Ketika dikorek dan diteliti ternyata adalah
sejenis lumut yang dapat dimakan.
"Hemm..." menggumam Wiro. Kini dia mengerti. Liang batu tersebut ditumbuhi oleh lumut dan
lumut inilah yang menjadi satu-satunya makanan yang menjadi pengisi perut orang misterius tadi selama
tiga tahun dipendam di situ!
Perlahan-lahan Wiro berdiri. Di luar hujan telah mulai reda. Tiba-tiba sepasang telinga Wiro yang
tajam mendengar suara berdesir, di belakangnya lima pisau terbang menderu ke arah lima bagian tubuh
pendekar ini. Tahu bahaya mengancam secepat kilat Wiro jatuhkan diri dan berguling ke sudut ruang ini.
Lima pisau melabrak dinding, sebuah menancap, empat lainnya jatuh berkerontangan di lantai.
"Pembokong pengecut! Coba perlihatkan tampangmu!" teriak Wiro marah.
Dua sosok tubuh kemudian melesat masuk ke ruangan itu.
***
2
DUA orang yang barusan melesat masuk itu bertampang garang dan seram. Rambut merah panjang
awut-awutan, kumis dan janggut berangasan. Mereka mengenakan jubah hitam. Pada leher masingmasing
tergantung sebuah kalung emas yang mata kalungnya merupakan kepala seekor harimau tengah
mengangakan mulutnya.
"Aku tidak kenal siapa kalian! Sama sekali tidak ada permusuhan di antara kita. Kenapa kalian
menyerangku?" Wiro menghardik.
Kedua orang itu tidak menjawab. Yang satu melangkah mendekati liang batu dan memandang
tajam ke dalam. Sesaat kemudian dia berpaling pada kawannya dan dengan paras berubah kaget dia
berseru, "Liang batu ini kosong!"
"Hah?!" sang kawan tampaknya juga kaget sekali dan dengan satu gerakan kilat tahu-tahu sudah
berada di tepi lobang batu. Memandang ke bawah dilihatnya liang batu itu benar-benar kosong.
"Pasti bangsat inilah yang telah melepaskannya!"
Sesaat kedua orang itu memandang melotot pada Wiro. Salah seorang dari mereka mendengus, dan
buka mulut, "Mengaku! Bukankah kau yang telah menggeser batu besar ini dan melepaskan orang yang
dipendam di dalamnya?!"
Wiro Sableng paling benci pada manusia-manusia yang kasar dan galak serta memandang rendah
orang lain seenak perutnya. Apalagi barusan kedua orang tak dikenal itu telah membokongnya dengan
satu serangan maut. Maka pemuda ini pun menjawab.
"Datang dengan baik, berkata dengan baik, bertanya dengan baik itulah peradatan dunia kangouw!"
"Kurang ajar! Budak hina dina macammu ini hendak memberi kuliah pada kami? Apakah tidak
melihat gunung Thay-san di depan mata?!"
Sebenarnya Wiro telah jengkel melihat dua manusia-manusia di hadapannya itu. Namun ditindasnya
rasa jengkel itu dan sebelum dia menghajar mereka, ingin terlebih dahulu hendak dipermainkannya. Dia
garuk-garuk kepala, mendelikkan mata dan kerenyitkan kening lalu memandang berkeliling celingukan.
"Gunung Thay-san, katamu heh! Aku tak mellihatnyal Kau tentu sudah keblinger sobat! Gunung
Thay-san jauh dari sini. Ribuan lie, mana aku bisa melihat? Apalagi malam gelap gulita begini!"
"Bangsat gila! Berani kau mempermainkan Siang-mo-kiam! Kepalamu menggelinding detik ini
juga!"
Habis membentak begitu, tak tahu kapan dia mencabut pedang, tiba-tiba saja sinar putih bertabur
di depan hidung Wiro Sableng. Untung saja pendekar ini waspada dan buru-buru menyurut tiga langkah.
Kalau tidak niscaya lehernya tersambar putus dan kepalanya benar-benar dibikin menggelinding oleh
pedang lawan.
"Siang mo-kiam? Sepasang Pedang Iblis?! Hem, tampang kalian memang pantas disebut iblis
kesiangan!"
Di hadapan Wiro kini kedua orang berjubah hitam itu masing-masing telah mencekal sepasang
pedang perak. Keduanya berputar-putar mengelilingi Wiro. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak
nyaring dan detik itu juga empat bilah pedang berkiblat bersuitan menggempur empat bagian tubuh
Pendekar 212 Wiro Sableng!
Wiro jadi terkesima. Memandang berkeliling dia tak dapat lagi melihat kedua musuhnya. Di
sekitarnya kini hanya terlihat gulungan-gulungan sinar putih yang membuntal-buntal menyelubungi
dirinya. Tak satu jalan keluar pun tampak, sedang buntalan gulungan-gulungan sinar pedang musuh
detik demi detik semakin menyempit. Pakaian dan rambut Wiro sampai berkibar-kibar oleh kerasnya
deru angin sambaran empat pedang lawanl
"Hebat!" mengagumi Wiro dalam hati. Seumur hidupnya baru hari itu dia melihat ilmu pedang yang
demikian luar biasanya.
Pendekar ini bersuit nyaring dan lepaskan satu pukulan sakti. Segulung angin menerpa ke depan
memapasi sinar pedang yang bergulung-gulung.
Terdengar dua seruan tertahan dan kedua penyerang merasakan tubuh mereka terdorong, pedang
masing-masing menyibak tak karuan. Mau tak mau keduanya cepat mundur. Namun serentak kemudian
mereka menyerang kembali. Dan kali ini permainan pedang mereka berubah amat ganas hingga dalam
waktu singkat terdengar "bret... bret...!" Dua bagian pakaian putih Pendekar 212 kena dirobek!
Wiro menggerung marah. Dia bersult nyaring dan lepaskan pukulan sakti bernama "Benteng Topan
Melanda Samudera". Dia cuma kerahkan sepertiga bagian tenaga dalamnya, tetapi karena tadi
sebelumnya dia telah menerima tambahan iwekang dari si orang tua misterius maka kini daya kekuatan
tenaga dalam itu hebatnya bukan main.
Siang-mo-kiam terpental hampir setengah tombak.
Memikir sampai di situ maka Wiro kerahkan ginkangnya yang tinggi dan berkelebat lenyap.
Sebelum kedua musuh tahu di mana dia berada tahu-tahu salah seorang dari mereka merasakan pedang
di tangan kirinya terbetot lepas! Dan di lain kejap bila dia memandang ke depan dilihatnya Wiro telah
berdiri dengan dua kaki terpentang dan pedang melintang di depan dada!
Saking kagetnya, kedua orang itu sesaat jadi kesima. Betapa tidak. Selama 20 tahun malang
melintang dalam dunia kangouw belum ada satu lawan pun yang mampu berbuat demikian terhadap
sepasang Pedang Iblis. Jangankan untuk merampas pedang, lolos dari kepungan empat bilah senjata
maut itu pun tiada yang sanggup. Hari ini Sepasang Pedang Iblis atau Siang-mokiam betul-betul dibuat
mendelik mata masingmasing.
"Orang asing, siapakah kau sebenarnya?!"
Wiro ganda tertawa.
"Kalian berlututlah minta ampun di depanku, baru aku kasih tahu nama tuan besarmu ini!"
Wajah kedua orang itu tegang membesi. Mata mereka laksana dikobari api, saking marahnya.
Penghinaan begini rupa tak pernah mereka terima sebelumnya.
"Anjing liar! Lekas sebutkan namamul Siang-mokiam tak pernah membunuh musuh yang tak
bernama!"
Kembali Wiro perdengarkan suara tertawa. Kali ini bernada mengejek.
"Jika kau tidak mau kasih tahu nama tidak apa. Berarti kau bakal mati dengan penasaran! Sekarang
beri tahu cepat ke mana perginya orang yang dipendam di dalam liang sini?!"
"Katakan dulu apa sangkut paut kalian dengan dia?!" balik bertanya Wiro.
"Budak keparat ini terlalu banyak bacot! Lebih bagus kita bereskan saja cepat-cepat dan bawa
kepalanya ke hadapan Dewi sebagai pertanggungan jawab!" Habis berkata begitu salah seorang dari dua
manusia berjubah itu mendahului menyerang, tapi kawannya pun kemudian menyusul pula dalam satu
gerakan kilat. Kini hanya tiga pedang yang datang menggempur, tapi kehebatannya tetap tiada kepalang
dan sedikit saja Wiro lengah pastilah akan terkutung-kutung bagian tubuhnya!
Di lain pihak Wiro memang sudah tunggu dan mengharapkan serangan ini. Tiga pedang bertaburan
di depan matanya. Dengan tenang Wiro mainkan jurus pertama ilmu pedang yang baru diterimanya
yakni "Cip-hian jay hong" atau "Tibatiba Muncul Pelangi". Pedang perak di tangannya bersuit ke udara
menimbulkan sinar berkilauan hampir selebar satu tombak dan melengkung!
"Jurus Tiba-tiba Muncul Pelangi!" salah seorang dari Siang-mo-kiam berseru kaget dan melompat
mundur.
Tapi "tring... tring!"
Pedang kedua orang mental patah ke udara. Yang satu terhuyung sambil pegangi dadanya yang
koyak besar. Lalu tergelimpang mandi darah. Kawannya mengerang terduduk di pojok kiri ruangan
sambil pegang lengan kirinya yang buntung dan berkucuran darah!
Sesaat Wiro sendiri jadi melotot, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Dia barusan telah
memainkan jurus pertama dari ilmu pedang aneh yang dipelajarinya, bahkan jurus pertama itu pun
belum rampung keseluruhannya dan tahu-tahu kedua lawannya telah roboh demikian rupa!
Melihat kawannya mati si jubah hitam yang lengan kirinya buntung menggembor marah. Mukanya
ganas sekali.
"Keparat! Ada hubungan apa kau dengan Pendekar Pedang Akhirat Long-sam-kun?!"
"Aku mana tahu segala macam akhiratl Sebaiknya nanti saja kau lihat sendiri bagaimana keadaan di
akhirat itu!"
"Setan! Jika kau bukan muridnya tua bangka Long-sam-kun itu tak nanti kau memiliki ilmu pedang
itu! Tapi jangan kira aku takut padamu! Hari ini aku mengadu jiwa denganmu! Nyawa kawanku harus
kau bayar dengan nyawa anjingmu!"
Orang itu melompat. Meskipun lengannya luka parah, buntung dan masih mengucurkan darah serta
cuma memegang satu pedang di tangan kanan, namtjn masih saja serangan yang dilancarkannya itu
hebat berbahaya.
Wiro berkelebat ke samping dan siap membalas kembali dengan ilmu pedang yang baru dikuasainya,
namun tiba-tiba serangan itu ditariknya kembali. Dia tak ingin musuh kedua ini menemui
kematian pula. Lebih penting bila dia bisa mendapatkan keterangan mengapa mereka begitu bernafsu
menginginkan jiwanya dan siapakah sebenarnya Pendekar Pedang Akhirat Long-sam-kun itu, apakah
orang tua yang dipendam dalam liang batu dan ditolongnya itu?
Pada saat tebasan pedang lawan lewat, Wiro kirimkan satu serangan susupan ke arah iga musuh.
Namun ini cuma satu tipuan saja, karena begitu lawan berkelit dan hendak membacok ganas, Wiro
sudah selundupkan kaki kanannya. Tendangannya tepat menghantam pinggul orang itu dan membuat
musuh terpekik melintir dan pedangnya lepas dari genggaman.
Selagi dia terhuyung-huyung, Wiro jambak rambutnya yang merah dengan tangan kiri.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu inginkan jiwaku?!"
"Tidak ada yang menyuruhl"
"Keparat, jangan dusta! Jika kau tak mau bicara...." Wiro Sableng pelintir kepala orang itu hingga
dia merintih kesakitan. "Kau masih ingin hidup?"
"Percuma saja. Kau sudah bunuh kawanku.
Dan kalaupun aku hidup tiada gunanya."
"Kenapa tiada guna?"
"Pemimpinku akan menghukumku dengan kematian juga!"
"Hem... sekarang kau nyerocos sendiri. Ayo katakan siapa pemimpin kalian!" sentak Wiro.
"Baik, aku akan bicara. Tapi lepaskan dulu jambakanmul" jawab orang itu.
Wiro lalu lepaskan jambakannya pada rambut musuh. Namun baru saja jambakan dilepaskan, tibatiba
sekali, di luar dugaan Wiro, orang itu angkat tangan kanannya dan "brak!" Dia berjibaku.
Kepalanya dipukul sendiri hingga rengkah! Nyawanya putus detik itu juga!
"Keparat, aku kena ditipu! Manusla tolol! Diberi hidup inginkan mampus!"
Wiro bantingkan pedang perak ke lantai. Setelah merenung sejenak dia mendekati mayat Siang-mokiam
dan menanggalkan kalung emas berkepala harimau itu dari leher keduanya.
***
3
WIRO SABLENG Sableng lenggang kangkung memasuki kota Khay-hong tanpa memperdulikan orang
yang memperhatikannya. Di hadapan sebuah kedai kecil dia berhenti. Masuk ke sana didapatinya sudah
ada beberapa orang tamu asyik makan bubur ayam dan meneguk teh hangat. Wiro mengambil tempat
duduk dan sebagaimana biasa pandangan mata orang kemudian tertuju penuh perhatian padanya. Selesai
mengisi perut Wiro bermaksud untuk melanjutkan perjalanan. Dia ingin buru-buru mencari tahu siapa
adanya kedua orang berkalung emas yang semalam berniat membunuhnya di bekas reruntuhan klenteng.
Karenanya, setelah membayar harga makanan dan minuman, segera dikeluarkannya kalung harimau
emas dan diperlihatkannya pada pemilik kedai.
"Lopek, mungkin kau mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan kalung ini...?"
Sesaat matanya melihat kalung harimau emas yang digoyang-goyangkan Wiro di tangan kanannya,
paras pemilik kedai serta merta berubah pucat pasi. Tetamu lain yang juga ada di kedai itu kelihatan
menjadi ketakutan, beberapa di antaranya segera menyingkir.
"He...?" Wiro tentu saja menjadi heran.
Di hadapannya pemilik kedai jatuhkan diri berlutut dan menjura berulang kali.
"Mohon dimaafkan aku si orang tolol ini yang tidak mengetahui gunung Thay-san di depan mata."
"Lagi-lagi gunung Thay-san!" menggerutu Wiro di dalam hati.
"Ampunilah selembar jiwaku yang tiada berharga ini karena aku sebelumnya tidak mengetahui kalau
tayhiap adalah anggota dari Hun-tiong Houw mo yang termasyur itu."
Habis berkata demikian pemilik kedai itu lantas keruk sakunya, mengeluarkan beberapa tail perak
yang barusan diterimanya dari Wiro dan mengembalikannya pada pemuda itu seraya berkata, "Harap
tayhiap sudi menerimanya kembali. Untuk segala hidangan yang tak seberapa itu masakan aku berani
meminta bayaran pada tayhiap. Kehadiran tayhiap di sini sesungguhnya satu kehormatan besar
bagiku...."
"Eh, lopek. Jadi aku ini tak usah membayar...?"
"Betul... betul...."
Wiro garuk-garuk kepala dan memasukkan kembali beberapa tail perak itu ke dalam pakaiannya.
Diam-diam dia semakin heran.
"Jika sekiranya tayhiap ingin anggur atau arak yang baik untuk di perjalanan, aku segera akan
menyediakannya...."
"Tak usah... tak usah," kata Wiro pula seraya geleng-geleng kepala. Sebenarnya Wiro ingin
menanyakan apa yang dinamakan Hun-tiong Houw-mo (Siluman Harimau Dari Hun Tiong) itu. Siapa
pemimpinnya dan di mana letak markasnya. Di samping itu apakah kalung harimau tersebut merupakan
tanda bagi setiap anggota Hun-tiong Houw-mo. Namun tentu saja saat ini dia menjadi kebingungan
karena si pemilik kedai telah menganggapnya sebagai salah seorang anggota dari Hun-tiong Houw-mo.
Tampaknya nama Hun-tiong Houw-mo begitu ditakuti di Khay-hong. Dan ini berarti Hun-tiong Houwmo
bukanlah sesuatu yang baik. Setelah merenung sejenak akhirnya sambil garuk-garuk kepala Wiro
putar tubuh dan tinggalkan kedai itu. Kalung emas dimasukkannya kembali ke dalam pakaiannya.
Pada saat dia keluar dari kedai, matahari telah mulai naik. Wiro memandang berkeliling di mans
kira-kira dia bisa mendapatkan keterangan tentang spa yang dinamakan Hun-tiong Hauw-mo itu. Di
ujung jalan sebelah kanan dilihatnya dua orang pemuda berjalan kaki ke arahnya Wiro menunggu sampai
kedua orang pemuda itu sampai ke dekatnya. Namun tiba-tiba dari ujung lain sebelah kiri terdengar
gemeletak roda gerobak yang ditingkah oleh derap kaki-kaki kuda berisik sekali.
Wiro berpaling ke kiri! Sebuah gerobak yang ditarik oleh dua ekor kuda besar lewat dengan
cepatnya. Di sebelah depan duduk dua orang lelaki bermuka bengis. Di bagian belakang yang terbuka
duduk pula dua lelaki yang juga bermuka ganas.
Masing-masing memanggul golok besar pada punggungnya. Di atas gerobak terdapat sebuah peti
mati berwarna hitam.
Di belakang gerobak ini mengikuti seorang lelaki separuh bays berpakaian ungu. Di balik pinggang
pakaiannya tersembul gagang sebilah senjata. Orang ini menunggang seekor kuda coklat. Sebenarnya tak
ada yang menarik perhatian Wiro atas lewatnya rombongan pembawa peti mati ini, jika saja sepasang
matanya yang tajam tidak melihat seuntai kalung emas berkepala harimau yang tergantung pada leher
penunggang kuda coklat itu.
Wiro memandang berkeliling. Di seberang jaIan sana dilihatnya tertambat seekor kuda putih di
depan sebuah toko kecil. Tanpa pikir panjang lagi Wiro segera lari ke seberang jalan, membuka ikatan
kuda pada tiang lalu melompat ke punggung binatang ini. Baru saja dia menarik tali kekang kuda tibatiba
dari toko keluarlah seorang dara berbaju merah. Parasnya yang jelita serta merta berubah marah.
"Pencuri kuda kurang ajar! Berhentilah jika tidak kepingin mampus!"
Namun mana Wiro mau perduli. Menoleh pun tidak. Niatnya sudah bulat untuk mengejar
rombongan pembawa peti mati tadi dengan cepat.
Melihat teriakannya tidak diacuhkan, dara baju merah tadi keruk saku pakaiannya dan sesaat
kemudian dua puluh jarum beracun berwarna hijau melesat menyebar, hampir tak kelihatan saking
cepatnya, menderu ke arah 20 jalan darah di tubuh Wiro Sableng.
Di antara kerasnya derap kaki kuda putih yang sedang dipacunya itu, Wiro mendengar suara
bersiuran di belakang punggungnya yang disertal sambaran angin halus. Sebelumnya dia sudah
mendengar bentakan seorang perempuan. Semua itu sudah jelas menunjukkan bahwa dia tengah
diserang dengan piauw secara ganas.
Tingkat kepandaian murid Eyang Sinto Gendeng yang tengah merantau di negeri orang itu seperti
diketahui sudah mencapal tingkat tinggi. Karenanya meskipun diserang dari belakang demikian rupa,
cukup tanpa menoleh dia lambaikan tangan melepas pukulan "Angin Puyuh".
20 piauw beracun yang dilemparkan dara berbaju merah serta merta mental dan luruh ke tanah.
Sang dara kaget bukan kepalang. Dia menggembor marah dan melompat sampai tiga tombak ke depan
untuk mengejar Wiro. Namun tentu saja dia tak dapat mengejar kuda besar yang larinya cepat luar biasa
itu. Baru saja dia membuat lompatan, Wiro dan kuda putihnya sudah lenyap di balik tikungan jalan. Dara
ini mengomel setengah mati. Namun apakah yang bisa dibuatnya...?
Setelah menempuh jarak lebih dari 80 lie, rombongan yang dibuntuti oleh Wiro Sableng berhenti di
sebuah telaga kecil. Sebenarnya Wiro sudah gatal untuk buru-buru turun tangan terhadap rombongan
tersebut. Pertama untuk menyelidiki apa sebenarnya rahasia yang ada di balik kalung emas berkepala
harimau itu. Apa dan siapa sebenarnya Hun-tiong Hauw-mo itu dan di mana markasnya. Apa tujuan
komplotan Siluman Harimau tersebut jika memang dia merupakan satu komplotan. Lalu apa sangkut
pautnya dengan tua renta aneh yang secara tak sengaja telah ditolongnya ke luar dari Hang akhirat
malam tadi. Namun karena memikir mungkin sekali rombongan pembawa peti mati itu tengah menuju
ke markas Hun-tiong Hauw-mo maka Wiro mempersabar diri dan terus melakukan penguntitan secara
diam-diam.
Memperhatikan peti mati di atas gerobak dari tempat persembunyiannya di balik semak-semak,
Wiro jadi berpikir-pikir kembali. Apakah peti mati itu kosong atau ada isinya? Jika kosong apa gunanya
dibawa demikian jauh. Kalaupun untuk penguburan jenazah, adalah terlalu mencapaikan diri harus
memesan peti mati dari tempat yang amat jauh. Sebaliknya jika dalam peti mati itu memang ada
jenazahnya, kenapa rombongan membawanya dengan amat tergesa-gesa? Tidak lazim sama sekali mayat
diangkut begitu sembrono, di atas gerobak yang dipacu kencang terus menerus, apalagi jalan demikian
buruknya.
Sementara orang-orang dalam rombongan itu beristirahat sambil meneguk arak, Wiro Sableng
cuma bisa leletkan lidah membasahi bibir.
Tak lama kemudian rombongan itu dilihatnya bersiap-siap hendak berangkat kembali. Dan kembali
pula Wiro bersama kuda curiannya mengikuti orang-orang itu.
Beberapa jam kemudian di ufuk barat sang surya telah mulai merosot ke titik tenggelamnya.
Warnanya yang tadi putih menyilaukan dan terik kini kelihatan menjadi redup kemerah-merahan. Pada
saat itulah rombongan pembawa peti mati memasuki kota Ci-bun. Mereka langsung menuju sebuah
hotel. Dua orang jongos keluar menyambut kedatangan mereka. Namun keduanya serta merta tersurut
langkah ke belakang dan pucat pasi wajah masing-masing. Mata mereka mendelik memandang kalung
kepala harimau yang tergantung pada leher penunggang kuda berpakaian ungu. Seolah-olah kedua
jongos hotel ini telah melihat setan kepala sepuluh yang mengerikan!
Orang yang dipandang dengan mimik ketakutan itu kelihatan menyeringai. Dia membuka mulut
dan bicara dengan nada keras. "Untuk malam ini semua kamar hotel kami sewa. Ini hadiah dua tail perak
untuk kalian. Tapi ingat! Awas jika kalian berani memberikan satu kamar saja buat siapa pun!"
Habis berkata demikian lelaki baju ungu lantas lemparkan dua tail perak pada kedua jongos.
Meskipun tadi ketakutan setengah mati, namun diberi uang dua jongos hotel itu ulurkan tangan
menyambut.
"Loya, apakah peti mati ini perlu diturunkan juga?" salah seorang dari empat lelaki bertampang
bengis yang mengawal gerobak bermuatan peti mati bertanya begitu lelaki berpakaian serba ungu loncat
turun dari atas kuda.
Yang ditanya menjawab sambil memandang sekeliling halaman hotel. "Gotong ke kamar tidurku.
Kau dan tiga kawanmu harus berjaga-jaga di luar kamar. Perjalanan kita masih cukup jauh dan aku tidak
ingin terjadi kesulitan mendadak."
"Perintahmu akan kami jalankan, Loya. Dan kau tak usah kawatir soal keamanan peti mati itu.
Serahkan saja kepada kami Empat Golok Kematian...."
Orang itu kemudian putar tubuh dan bersama tiga kawannya dia menggotong peti mati ke kamar
yang disediakan jongos hotel untuk lelaki berbaju ungu. Empat Golok Kematian adalah empat
perampok berkepandaian tinggi yang sering malang melintang di daerah barat. Rata-rata memiliki tenaga
dalam yang besar. Namun dari cara mereka mengangkat peti mati tersebut kentara sekali bahwa peti
tersebut amat berat. Apakah sebenarnya isinya? Bahkan Empat Golok Kematian sendiri pun tidak
mengetahui. Mereka cuma dibayar untuk mengawal gerobak tersebut ke satu tempat yang mereka tidak
tahu. Sepanjang perjalanan antara mereka saling bisik-bisik menduga-duga apa isi peti misterius tersebut.
Hendak menanyakan pada lelaki baju ungu mereka tidak berani. Mereka tahu betul salah-salah mulut
dan tingkah bukan mustahil nyawa mereka imbalannya. Meskipun mereka berjumlah lebih banyak dan
rata-rata berkepandaian tinggi, namun terhadap si baju ungu berkalung harimau itu mereka laksana
kelinci dengan singa!
Setelah peti mati dimasukkan ke dalam kamarriya, lelaki berpakaian ungu lantas kunci pintu dan
jendela kamar, memeriksa keadaan tempat itu lalu duduk bersila di lantai. Di luar kamar Empat Golok
Kematian berjaga-jaga sedang di pintu halaman dua jongos hotel tegak pula melakukan penjagaan.
Seekor kelelawar menggelepar di puncak sebuah pohon, ketika dua jongos yang mengawal di pintu
halaman hotel melihat seorang penunggang kuda putih mendatangi. Acuh tak acuh orang ini hendak
masuk melewati pintu halaman begitu saja. Kedua jongos serta merta menahannya.
"Bukankah bangunan di dalam halaman ini sebuah rumah penginapan," penunggang kuda putih
bertanya. Dia bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.
Saat itu hari sudah gelap. Dua jongos hotel tidak begitu jelas melihat wajah penunggang kuda putih.
Namun dari logat bicaranya kentara sekali kalau orang itu adalah orang asing.
"Betul dugaanmu cuwi. Tapi harap dimaafkan. Jika kau bermaksud bermalam di sini ketahuilah
semua kamar hotel telah penuh."
"Penuh? Tak satu pun yang ketinggalan?"
"Tak satu pun!"
"Tapi barusan kalau aku tak salah lihat serombongan yang terdiri dari lima orang telah datang
kemari. Masakan untuk mereka berlima ada, untuk aku yang sendiri tidak ada!"
"Mereka... mereka memborong semua kamar dalam hotel ini. Harap cuwi mau cari rumah
penginapan yang lain."
"Tubuhku letih, perutku lapar. Aku perlu buru-buru istirahat. Harap kalian beri jalan!"
"Kami sudah bilang semua kamar penuh. Harap cuwi mengerti dan jangan kelewat memaksa?"
"Aku bisa tidur di dapur!"
"Itu tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?" sentak Wiro lantas gebrak kudanya dan menerobos masuk ke dalam
halaman. Kedua jongos hotel cepat memburu. Satu menahan tali kekang kuda putih, satu lagi menarik
ekor binatang itu.
Wiro jadi jengkel. Jelas sudah ada apa-apa yang tak semestinya. "Kalian minta digebuk!" desis
pendekar ini lalu melompat turun dan hadiahkan masing-masing satu tamparan pada kedua jongos
tersebut.
Karena tamparan cukup keras, kedua jongos itu melolong kesakitan dan rubuh ke tanah. Wiro
putar tubuh untuk melangkah ke pintu depan hotel. Baru maju dua tindak, sesosok bayangan hitam
berkelebat. Satu bentakan terdengar, "Bangsat rendah dari mana yang berani mengacau di sini?!"
***
selanjutnya download sendiri ya.... di link :Pendekar Pedang Akhirat