Sabtu, 05 September 2009

Hidung Belang Berkipas Sakti


 BASTIAN TITO
Pendekar Kapak Nagageni 212
Wiro Sableng

1
Matahari bersinar terik membakar jagat. Pemuda berpakaian sederhana itu melangkah
menyusuri jalan berdebu. Di hadapan sebuah pintu gerbang yang dikawal oleh dua
orang prajurit bersenjatakan tombak dia berhenti. Sesaat dengan sepasang matanya
yang disipitkan diperhatikannya bangunan pintu gerbang yang kokoh itu. Lalu dia berpaling
pada salah seorang pengawal yang berdiri di situ.
”Apakah ini gedung kediaman Adipati Kebo Panaran?” bertanya si pemuda.
Pengawal yang ditanya tidak segera menjawab. Dia memandang penuh curiga, meneliti
pemuda itu dari kepala sampai ke kaki. Segera dia tahu kalau Si pemuda adalah seorang desa
yang baru saja turun ke kota.
Dengan sikap meremehkan pengawal itu menjawab.
“Betul. Kau ada keperluan apa orang desa?!”
“Aku ingin bertemu Adipati,” jawab si pemuda.
“Ingin bertemu dengan Adipati Kebo Panaran? Heh....” Pengawal yang satu ini berpaling
pada kawannya. Lalu tertawa bergelak. “Sobat,” katanya pada kawannya. “Kau dengar ucapan
pemuda ini?”
Prajurit yang satu ikut-ikutan tertawa dan berkata. “Sebelum kami muak melihatmu,
sebaiknya lekas pergi dari sini!”
“Tapi… aku ingin bertemu Adipati,” sahut Si pemuda pula.
“Heh, memaksa rupanya. Apa maumu sebenarnya?!” prajurit pertama maju selangkah
sambil menggenggam tombaknya.
“Mau cari pekerjaan,” jawab si pemuda tanpa ragu-ragu.
“Buset! Tak ada pekerjaan untuk manusia macammu di sini. Adipati sudah punya tukang
kebun. Sudah punya penjaga kuda....”
“Bukan pekerjaan macam begitu yang aku inginkan,” memotong pemuda desa tadi.
“Ahai! Lalu pekerjaan macam apa yang kau inginkan? Jadi juru masak barangkali?!”
Sepasang mata pemuda itu semakin menyipit. Tiba-tiba dia tersenyum.
“Prajurit pengawal pintu!” kata pemuda itu dengan suara tandas. “Kau dengar baik-baik.
Namaku Dipasingara. Katakan pada Adipatimu bahwa aku datang untuk mencari pekerjaan!”
“Sekalipun namamu Bapak Moyang Setan aku tidak perduli. Menyingkir dari sini atau
batang tombak ini akan membuat kepalamu jadi benjol besar!”
Si pemuda masih saja tersenyum mendengar ancaman itu. Malah dia menyambuti dengan
ucapan: “Rupanya suasana di kota benar-benar harus memakai segala macam kekerasan.
Sobat, aku minta tolong padamu agar memberi tahu Adipati, kalau tidak..”
“Kalau tidak kau mau apa?” Si prajurit jadi berang.
“Aku terpaksa nyelonong sendiri masuk ke dalam gedung!”
“Pemuda desa kurang ajar! Kau betul-betul minta digebuk!”
Tombak besi di tangan pengawal pintu gerbang menyambar ke arah pemuda yang mengaku
bernama Dipasingara itu. Sesaat lagi pastilah remuk atau paling tidak benjol besar kepalanya.
Tapi apa yang terjadi kemudian membuat terkejut kawan prajurit yang satu ini.
Hampir sama sekali tidak kelihatan bergerak, tahu-tahu pengawal yang mengemplangkan
tombak telah terpental ke atas untuk kemudian jatuh bergedebuk di tanah tanpa sadarkan diri
lagi. Tombak yang tadi dipakainya untuk memukul kini berpindah tangan digenggam
Dipasingara!
marah sekali. Dia melompat dan tusukkan mata tombaknya ke dada pemuda desa itu.
Dipasingara ulurkan tangan kirinya. Tahu-tahu bagian belakang mata tombak berhasil
dicekalnya lalu disentakkan kuat-kuat. Tak ampun lagi pengawal yang menyerang terbetot
kencang ke depan, terguling di tanah dengan muka berkelukuran! Meski dia tidak jatuh pingsan
namun luka-luka yang mengeluarkan darah memenuhi tubuhnya, sakitnya bukan kepalang. Dia
terduduk di tanah tanpa bisa berbuat apa-apa selain mengerang kesakitan.
Dipasingara menimang-nimang dua batang tombak yang barusan dirampasnya. Satu demi
satu tombak itu kemudian ditancapkannya di tanah tepat diantara kedua kaki prajurit
Kadipaten itu. Kemudian dia melangkah ke pintu gerbang. Baru saja dia menggerakkan tangan
untuk membuka pintu, Sebuah kereta yang dikawal oleh serombongan penunggang kuda yang
rata-rata berbadan kekar herbenti di situ.
Penunggang kuda paling depan yang berkumis melintang membentak dari punggung kuda
tunggangannya.
“Apa yang terjadi di sini?!”
Bola matanya yang besar menyorot si pemuda. Kembali dia membentak: “Siapa kowe?!”
Dengan tenang pemuda itu menjawab. “Namaku Dipasingara. Aku ingin bertemu dengan
Adipati Kebo Panaran. Untuk maksud baik. Mau cari pekerjaan. Aku sudah minta izin dan tolong
kedua pengawal ini. Tapi tanpa alasan mereka malah menurunkan tangan kasar terhadapku.
Cuma sayang mereka terlalu kesusu!”
“Pemuda edan! Anak-anak tangkap pemuda ini!” teriak si kumis melintang. Rupanya dia
yang jadi pimpinan.
Empat lelaki berpakaian seragam, bertubuh besar tegap melompat turun dari punggung
kuda lalu serempak menyerbu Dipasingara untuk meringkusnya hidup-hidup.
Namun mereka cuma bisa menangkap angin. Karena pada detik itu Si pemuda telah lenyap
dan tahu-tahu sudah berdiri di samping kereta.
Justru saat itu pula tirai kereta disingkapkan orang dari dalam. Sebuah kepala laki-laki
kemudian muncul. Di sampingnya tampak kepala seorang perempuan muda berparas cantik
luar biasa.
“Sura... ada apa ribut-ribut?” tanya lelaki dalam kereta. Suaranya besar parau, tak sedap
didengar.
Suramanik, demikian nama lelaki berkumis melintang yang tadi berikan perintah untuk
menangkap Dipasingara cepat menjawab:
“Tidak ada apa-apa Adipati. Tak perlu khawatir. Cuma seekor kecoak sinting kesasar kemari
dan berbuat sedikit kerusuhan. Mohon maafmu. Kami akan segera mengenyahkannya dari
sini!”
Dipasingara memalingkan kepalanya ke jendela kereta. Dilihatnya seorang lelaki berpakaian
bagus, berkopiah tinggi, bermuka putih. Menurut taksirannya paling tidak orang ini berusia
setengah abad. Di sebelahnya duduk seorang perempuan berparas rupawan yang membuat
Dipasingara sejenak tertegun. Namun menyadari bahwa orang di dalam kereta itu pastilah
Adipati Kebo Panaran dan istrinya maka cepat-cepat Dipasingara membuka mulut.
“Adipati Kebo Panaran. Mohon dimaafkan segala tindakanku. Semuanya terjadi karena
terpaksa. Aku harus mempertahankan diri dari orang-orangmu yang menyerang secara
sewenang-wenang. Aku datang dari jauh. Sengaja hendak menemuimu untuk minta pekejaan.
Bolehkah aku tolong membukakan pintu gerbang agar keretamu bisa lewat...?”
Sesaat Kebo Panaran menatap tampang pemuda itu. Wajahnya cakap. Sikapnya sederhana
tetapi hormat tanda dia bukan seorang pemuda gelandangan tak karuan,
“Orang muda, kau siapa?” bertanya sang Adipati.
Sepasang mata Dipasingara mengerling sekilas pada perempuan yang duduk dalam kereta
di samping Adipati. Cuma sekilas, tetapi pandangan mata tajam pemuda ini membuat bergetar
hati serta dada Galuh Resmi, istri Kebo Panaran.
“Namaku Dipasingara” menjawab si pemuda. “Sengaja datang dari jauh untuk cari
pekerjaan.”
“Hemmm.. begitu?” ujar Kebo Panaran. Dia mengerling pada dua pengawal pintu gerbang
yang terkapar di tanah.
“Apakah menghantam dua prajurit Kadipaten itu salah satu pekerjaan yang kau
inginkan...?!”
“Mohon maaf Adipati. Bukan maksudku untuk berbuat kurang ajar. Tapi mana mungkin aku
berdiam diri jika yang satu dari mereka hendak mengemplang kepalaku, yang satu lagi hendak
menembus dadaku dengan tombak?!”
Kebo Panaran terdiam.
Sebaliknya Suramanik yang sejak tadi menahan amarah kini membentak: “Adipati, biar
kuhajar pemuda hina dina ini!”
Tapi sang Adipati melambaikan tangannya. Mencegah kepala pengawalnya untuk
melaksanakan maksudnya.
“Aku akan bukakan pintu gerbang untukmu,” kata Dipasingara tanpa mengacuhkan
Suramanik. Lalu didorongnya daun pintu gerbang lebar-lebar.
Kusir kereta memandang pada pemuda itu dengan air muka tidak senang. Tetapi Adipati
Kebo Panaran memberi isyarat agar kereta segera dimasukkan ke dalam.
Ketika Dipasingara ikut-ikutan hendak masuk ke dalam Suramanik mengusirnya dengan
beringas.
“Biarkan dia masuk Sura,” terdengar suara Adipati dari dalam kereta.
Dengan amat penasaran Suramanik terpaksa membiarkan Dipasingara memasuki halaman
Kadipaten.

-- << 1 >> --

2
Adipati dan istrinya turun dari kereta. Dipasingara berdiri dekat tangga Kadipaten.
Sepasang matanya yang sipit menatap paras perempuan itu. Ketika itu Galuh Resmi
mengerling pula, sesaat pandangan mata mereka saling bertemu. Galuh Resmi
palingkan wajahnya dan cepat-cepat menaiki tangga lalu masuk ke dalam gedung. Bentrokan
pandangan ini sama sekali tidak diketahui Adipati Kebo Panaran. Sebaliknya Suramanik sempat
melihatnya sehingga semakin besar kegusarannya terhadap Dipasingara.
Kusir membawa kereta ke halaman samping. Kebo Panaran memberi isyarat pada
Dipasingara untuk mengikutinya ke langkan Kadipaten, sementara Suramanik dan anak
buahnya tetap berdiri di anak tangga sebelah bawah. Dua orang prajurit sebelumnya sudah
disuruhnya untuk menggotong dua pengawal pintu gerbang yang cidera.
“Nah sekarang katakan pekerjaan apa yang kau inginkan,” kata Adipati. Tapi dia tak
menunggu jawaban malah menambahkan: “Untuk mengurus kandang kuda aku sudah punya
orang. Tukang kebun juga sudah ada. Pengawal banyak. Kau mau kujadikan sebagal perawat
kuda-kuda kesayanganku?”
“Terima kasih Adipati. Terima kasih atas kepercayaanmu. Namun bukan pekerjaan macam
itu yang aku inginkan.”
Di bawah langkan gedung Suramanik menggertakkan rahangnya tanda marah. Sudah diberi
pekerjaan menolak pula. Dasar manusia kampung tidak tahu diri. Demikian kepala pengawal
Kadipaten itu mengumpat dalam hati.
“Lantas pekerjaan yang bagaimana yang kau inginkan?” tanya Adipati pula.
“Aku ingin menjadi kepala pengawal di Kadipaten ini, Adipati!”
Kebo Panaran tersentak kaget mendengar ucapan Dipasingara. Dia mulai berpikir apakah
pemuda ini sehat otaknya atau bagaimana. Suramanik sendiri sampai melotot kedua matanya.
Saat itu dia adalah kepala pengawal Kadipaten. Dan justru pekerjaan itulah yang diinginkan Si
pemuda sialan itu! Benar-benar membuat Suramanik menjadi panas dingin menahan amarah.
Kalau saja Adipati Kebo Panaran tidak ada di situ sudah sejak tadi dilabraknya pemuda lancang
mulut itu!
Kebo Panaran batuk-batuk beberapa kali. “Tentunya kau tidak bicara bertele-tele atau
ngaco, orang muda. Aku sudah memiliki kepala pengawal. Tak mungkin jabatan itu kuberikan
padamu.”
“Rasanya tak ada yang tak mungkin di dunia ini, Adipati,” jawab Dipasingara.
“Disamping itu untuk jadi kepala pengawal tidak sembarangan. Ada syarat-syaratnya.”
“Apakah syarat-syarat itu Adipati?”
Kebo Panaran merasa didesak dan jadi jengkel.
“Sudahlah orang muda. Aku tak punya waktu lama untuk bicara denganmu. Juga tak ada
pekerjaan lowong di sini untukmu. Kecuali jika kau mau bekerja sebagai perawat kuda-kudaku.
Kalau tidak silahkan pergi dan cari pekerjaan di tempat lain!”
Dipasingara terdiam sejenak. Lalu angkat bahu. Dia menjura “Jika begitu katamu baiklah
Adipati. Aku minta diri....”
Pemuda itu membalikkan tubuh dan siap untuk pergi. Tapi di belakangnya terdengar Kebo
Panaran berkata:
“Tunggu dulu!”
“Ada apa Adipati?” tanya Dipasingara.
Saat itu sang Adipati teringat akan dua pangawal pintu gerbang yang telah dipreteli
Dipasingara. Tak dapat tidak tentu pemuda ini memiliki kepandaian silat yang diandalkan.
Kalau tidak mana dia mampu dan punya keberanian untuk berbuat begitu. Dan jika dia
menginginkan jabatan kepala pengawal Kadipaten pasti dia tidak main-main.
“Dengar orang muda,” kata Kebo Pananan. “Aku akan memberikan jabatan yang cukup
layak untukmu. Asal saja kau mau menerangkan kepandaian apa saja yang kau miliki!”
“Maaf Adipati. Rahasia diriku tak mungkin kuberitahu. Aku hanya menginginkan jabatan
kepala pengawal. Lain tidak....”
Suramanik yang sejak tadi sudah kelangsangan dilanda amarah, serasa terbakar tubuhnya.
Dia merasa dihina oleh pemuda desa itu. Suramanik melompat ke langkan Kadipaten dan
berkata lantang:
“Adipati, aku bersedia menyerahkan jabatanku pada pemuda kurang ajar ini jika dia
sanggup menerima pukulanku satu kali saja pada dadanya!”
Suramanik memang bukan sembarang orang. Jika tidak memiliki kepandaian tinggi tentu
dia tak akan menjabat kepala pengawal Kadipaten.
Kebo Panaran terkesiap mendengar ucapan kepala pengawalnya itu. Urusan jadi ruwet jika
pemuda desa itu sampai kena dihantam tinju Suramanik apa jadinya? Sebaliknya dengan
tenang Dipasingara menyahuti:
“Kalau aku sanggup menahan pukulanmu, kau akan kehilangan jabatanmu, kepala
pengawal!”
“Mari kita buktikan!” bentak Suramanik dengan mata melotot dan amarah meluap. Dalam
hatinya dia berkata: “Sekali jotosanku mendarat di dadamu kau akan terbang ke neraka!”
Dipasingara berpaling pada Adipati Kebo Panaran.
“Adipati, apakah kau izinkan kami menjalankan pertaruhan ini?”
“Itu urusan kalian. Tapi kunasihatkan agar kau jangan menantang Suramanik. Lebih bagus
kau mencari selamat dan tinggalkan tempat ini!” Begitu jawaban Kebo Panaran karena dia tahu
kehebatan kepala pengawalnya.
“Karena aku tetap menginginkan jabatan kepala pengawal Kadipaten, mohon maafmu
Adipati kalau aku terpaksa melayani tantangannya.”
Dipasingara turun ke halaman. Di belakangnya menyusul Suramanik. Kebo Panaran yang
juga ingin menyaksikan adu tanding itu ikut turun sementara beberapa prajurit berdiri
membentuk lingkaran besar. Ditengah-tengah lingkaran Suramanik dan Dipasingara saling
berhadap-hadapan.
Di belakang tirai jendela depan gedung Kadipaten sepasang mata mengintai dengan hati
berdebar. Yang mengintip ini adalah Galuh Resmi, istri Kebo Panaran. Diam-diam dia telah
mendengar percakapan orang-orang itu dan kini ingin melihat apa yang bakal terjadi.
Entah mengapa dia sangat menyesalkan ketololan pemuda bertampang gagah itu yang mau
saja melayani tantangan Suramanik. Dia tahu Suramanik berilmu tinggi dan kabarnya memiliki
pukulan sakti.
“Dia pasti mati begitu pukulan Suramanik menghantam dadanya!” membathin Galuh Resmi.
Aneh. Perempuan ini merasa kawatir. Mengkawatirkan keselamatan pemuda yang tidak
dikenalnya itu.
“Sudah siapkah kau menerima pukulanku?!” terdengar suara Suramanik. Rahangrahangnya
tampak menonjol.
“Sebentar sobat,” jawab Dipasingara. “Biar kubuka dulu bajuku agar kau bisa mencari
bagian yang empuk untuk kau pukul!”
“Manusia takabur! Sebentar lagi akan kau rasakan akibat tingkahmu yang sembrono!” tukas
Suramanik.
Dengan tenang Dipasingara membuka bajunya. Kini dia berdiri bertelanjang dada.
Tubuhnya kelihatan bersih ramping.
“Nah kau carilah sasaran yang empuk!” kata pemuda itu pada Suramanik disertai senyum
sinis.
Seorang prajurit Kadipaten memaki dalam hatinya:
“Pemuda gendeng! Sudah mau mati masih saja bicara sombong!”
Dengan menyeringai geram Suramanik mengepalkan jari-jari tangan kanannya. Seluruh
tenaga dalamnya dialirkan ke situ. Dia sengaja mengerahkan keseluruhan kekuatannya karena
ingin melihat pemuda kurang ajar itu meregang nyawa dalam sekali pukul!
Sebagai kepala pengawal Kadipaten Suramanik memiliki beberapa pukulan sakti. Yang
paling hebat adalah pukulan “Wesi Ireng”. Selama lima tahun dia telah melatih diri untuk
menguasai ilmu pukulan dahsyat tersebut. Dan kini pukulan itulah yang akan dihadiahkannya
pada Dipasingara.
Perlahan-lahan tangan kanan Suramanik sampai sebatas pergelangannya berubah menjadi
kehitaman. Semua orang termasuk Dipasingara melihat perubahan yang mengerikan itu.
Adipati Kebo Panaran maklum kalau kepala pengawalnya benar-benar ingin menghabiskan
riwayat pemuda desa itu dengan pukulan Wesi Ireng. Dia tahu, jangankan dada manusia,
tembok tebal sekali pun akan hancur luluh dihantam pukulan itu. Dan yang mencengangkan
sang Adipati ialah bahwa si pemuda itu masih saja tenang-tenang bahkan selalu
menyunggingkan senyum mengejek terhadap Suramanik.
“Kasihan...” kata Kebo Panaran dalam hati. “Dia tak sadar kalau sebentar lagi akan
menemui kematian!”
Suramanik mundur selangkah. Tangan kanannya diangkat sebatas kepala.
“Kau sudah siap untuk mampus orang muda?” ujar Suramanik.
“Cepatlah, aku sudah siap sejak tadi!”
“Kalau begitu kau terimalah detik kematianmu!”
Didahului satu bentakan garang Suramanik menghantamkan tinju kanannya ke dada
Dipasingara.
“Buk!”
Tinju keras tepat menghantam dada Dipasingara di bagian jantung. Dan terdengarlah satu
pekikan dahsyat!
 
-- << 2 >> --

3
Tubuh Dipasingara sedikit pun tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Didepannya
Suramanik terbungkuk-bungkuk memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri.
Belasan kerut kesakitan muncul di kulit mukanya yang beringas. Semua orang kini
menyaksikan bagaimana tangan kanan Suramanik yang tadi sebatas pergelangan berwarna
hitam, kini menjadi gembung lecet. Dari mulut kepala pengawal ini tiada hentinya terdengar
suara rintihan.
Terkejutlah Adipati Kebo Panaran. Juga semua orang. Termasuk Galuh Resmi yang
mengintip di balik tirai jendela. Semula semua orang sudah sama memastikan bagaimana
pemuda itu akan terjengkang dilanda jotosan sakti Wesi Ireng, menggeletak di tanah tanpa
nyawa. Apa yang kemudian terjadi hampir tak dapat mereka percaya.
Suramanik masih mengerang. Lututnya terasa goyah. Dia coba bertahan tapi tak mampu.
Dia jatuh berlutut. Tangan kanannya tampak semakin merah. Dari bagian-bagian yang lecet
darah mulai membersit. Kebo Panaran geleng-gelengkan kepala. Setelah menarik nafas dalam
dia berkata:
“Suramanik, ternyata pemuda itu sanggup menahan pukulanmu....”
Rahang Suramanik menggembung. “Aku tahu maksud ucapanmu Adipati. Tak usah kawatir.
Aku bukan bangsa manusia yang tidak memegang janji. Kau terimalah pemuda hina dina itu
menjadi kepala pengawal Kadipaten!”
Habis berkata begitu Suramanik memutar tubuh untuk berlalu.
“Tunggu!” seru Dipasingara. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya satu kantong kertas
kecil. Di dalam kantong ini terdapat sejenis obat mujarab.
“Taburkan obat ini di tanganmu. Lukamu pasti akan sembuh dalam waktu cepat!”
Suramanik mendengus dan menampik kantong kertas yang dilemparkan padanya.
“Aku tak butuh obatmu! Apa yang kau lakukan hari ini kelak akan kubalas berikut
bunganya! Bersiaplah dari sekarang. Karena aku pasti datang menemuimu!”
Suramanik membalikkan tubuh dan berlalu cepat. Ketika dia lenyap dikejauhan semua mata
kini ditujukan pada Dipasingara. Pada dasarnya prajurit-prajurit Kadipaten itu diam-diam
mengagumi kehebatan si pemuda. Namun masing-masing mereka juga merasa kurang senang
terhadap sikap dan tindak tanduk Dipasingara yang mereka anggap ombong.
Setelah beberapa lama kesunyian menggantung, akhirnya Kebo Panaran membuka mulut:
“Orang muda, sesuai perjanjianmu dengan Suramanik dan dengan kepergiannya dari sini
maka mulai saat ini jabatan kepala pengawal menjadi hakmu. Namun sebelum jabatan itu
kuberikan padamu, satu ujian lagi harus kau lewati....”
“Adipati, apa maksudmu?” tanya Dipasingara,
Sebagai jawaban Kebo Panaran melemparkan sebilah golok pada Dipasingara. Lalu pada
enam orang prajurit Kadipaten dia berseru:
“Cabutlah golok kalian dan serang dia!” Pada Dipasingara Kebo Panaran menambahkan
“Kau harus sanggup merobohkan mereka dalam waktu tiga jurus. Tapi ingat, tak satu pun
harus terluka!”
Dipasingara menyambut golok yang dilemparkan sambil tersenyum sementara enam
prajurit dengan golok terhunus menyebar berkeliling, mengurungnya!
Di belakang jendela Galuh Resmi yang masih mengintip kembali merasa cemas. Dikeroyok
oleh enam prajurit-prajurit kelas satu apakah pemuda itu sanggup bertahan?
Enam golok serentak berkelebat menyerang.
Dipasingara menekuk kedua lututnya. Golok di tangan kanannya dibabatkan ke atas dalam
bentuk lingkaran. “Trang... trang... trang....” Terdengar suara beradunya senjata sampai enam
kali berturut-turut. Lalu suara bergedebukan dan pekik kesakitan susul menyusul.
Dengan mata kepalanya sendiri Adipati Kebo Panaran menyaksikan bagaimana setelah
menangkis serangan enam golok si pemuda lantas pergunakan kaki dan tangan kirinya serta
gagang golok untuk menghajar ke enam pengeroyoknya hingga tiga orang terpelanting roboh,
dua kena di totok dan satu berdiri sambil pegangi hidungnya yang mengucurkan darah.
Di belakang jendela Galuh Resmi sampai ternganga takjub melihat kejadian itu.
Kebo Panaran memegang bahu Dipasingara. “Kau ternyata tidak mengecewakan. Kau
memang pantas menjadi kepala pengawal Kadipaten. Mulai hari ini kau menjalankan tugas di
Kadipaten Gombong!”
Dipasingara tersenyum dan menjura dalam-dalam.
“Terima kasih Adipati. Terima kasih.” Katanya seraya mengembalikan golok yang tadi
diberikan Kebo Panaran.
Ketika Adipati itu berlalu Dipasingara memalingkan kepalanya ke arah jendela. Meski cuma
sekilas tapi masih sempat dilihatnya wajah Galuh Resmi. Galuh Resmi merasakan wajahnya
bersemu merah dan bergegas masuk ke dalam kamar. Sesaat dia tegak di depan kaca menatap
wajahnya sendiri. Pemuda itu tahu kalau dia mengintip. Betapa malunya. Tetapi kenapa dia
begitu merasa tertarik padanya?
Kebo Panaran, Adipati yang berusia setengah abad itu menaruh kepercayaan penuh pada
kepala pengawalnya yang baru. Namun dia tidak menduga sama sekali kalau justru Dipasingara
sebenarnya adalah manusia biang racun yang bakal merusak rumah tangganya.
Tanpa setahu siapa pun di gedung Kadipaten itu, diam-diam Dipasingara mulai main api
dengan Galuh Resmi. Banyak hal yang membuat istri Adipati Gombong itu melayani kedipan
mata, lirikan nakal dan senyum berbisa Dipasingara. Pertama Dipasingara seorang pemuda
bertampang gagah. Pertemuan pertama dulu dengan ketinggian ilmunya telah mendatangkan
rasa kagum dalam diri Galuh Resmi. Kedua, karena kehidupan rumah tangga perempuan itu
dengan Kebo Panaran tidak berbahagia. Sebagai seorang lelaki berusia 50 tahun Kebo Panaran
tidak mungkin mempunyai kesanggupan untuk menjalankan kewajiban badaniah terhadap istri
yang cantik jelita dan baru berusia delapan belas tahun itu. Ketidak sanggupan ini ditambah
pula dengan seringnya sang Adipati melakukan kunjungan kerja ke desa-desa. Lalu pergi
menghadap pembesar-pembesar di Kotaraja untuk memberi laporan. Semua ini membuat
Galuh Resmi seperti terasing jauh dalam kesunyian.
Ketika Dipasingara muncul dengan keberaniannya yang nakal berbisa Galuh Resmi tak
kuasa untuk mengelak bahkan tanpa disadari dia sendiri senantiasa membalas setiap
senyuman kepala pengawalnya yang gagah itu.
Meskipun tidak merupakan kebiasaan tapi pada umumnya setiap pembesar di masa itu
mempunyai dua buah kamar tidur. Satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk istrinya.
Demikian pula dengan Kebo Panaran. Setiap malam dia selalu tidur di kamar besar di sebelah
depan gedung Kadipaten sedang istrinya di kamar lain yang bersebelahan. Antara kedua kamar
itu dihubungkan dengan sebuah pintu. Dengan adanya dua kamar inilah Dipasingara
mempunyal kesempatan untuk berbuat lebih berani.
Suatu malam, ketika seluruh gedung Kadipaten diselimuti kesunyisenyapan Dipasingara ke
luar dari kamarnya di bagian belakang gedung Kadipaten. Malam itu dia telah menyusun
rencana untuk melaksanakan niat terkutuk yang selama ini masih ditahan-tahannya. Dia yakin
Galuh Resmi tidak akan menolak. Kalau pun ternyata nanti perempuan cantik itu tidak bersedia
melayaninya akan dipaksanya dengan kekerasan, lalu menyingkir dari Gombong. Habis
perkara! Bukankah maksudnya meminta jabatan kepala pengawal Kadipaten itu sebenarnya
hanyalah kedok belaka? Karena yang diintainya bukan lain adalah istri Adipati Gombong yang
muda belia dan cantik rupawan itu!
Di hadapan pintu kamar yang diketahuinya adalah kamar tidur Galuh Resmi, kepala
pengawal itu berhenti, tegak sejenak memasang telinga. Semuanya serba sunyi. Dia
melangkah mendekati pintu satu lagi. Di sini didengarnya suara dengkur Adipati Kebo Panaran.
Dipasingara kembali ke pintu pertama dan mulai mengetuk daun pintu perlahan-lahan. Tak
selang beberapa lama didengarnya suara orang turun dari ranjang, disusul suara langkahlangkah
kaki. Lalu pintu di depannya terbuka sedikit. Wajah Galuh Resmi menyeruak di celah
pintu. Perempuan ini tampak agak kaget melihat Dipasingara.
“Ada apakah...?” tanya Galuh Resmi.
“Adipati telah tidur?”
“Ya, kenapa?”
“Boleh aku masuk?” tanya Dipasingara. Matanya memandang tajam. Lalu tanpa menunggu
jawaban dia mendorong daun pintu dan menyelinap masuk ke dalam. Sampai di dalam daun
pintu ditutupnya dengan cepat.
“Kepala pengawal, tindakanmu masuk ke dalam kamar dan malam-malam begini sangat
diluar kesopanan!” Suara Galuh Resmi bergetar.
Dipasingara tersenyum.
“Kau tau mengapa aku datang kemari, Galuh?” ujar Dipasingara pula. Suaranya setengah
berbisik dan senyum masih terus menyungging di bibirnya.
Galub Resmi merasakan dadanya berdebar. Pemuda yang selama ini selalu memanggilnya
dengan sebutan “jeng” kini langsung menyebut namanya.
“Kau ingin bertemu dengan Adipati?”
Dipasingara menggeleng.
“Aku hanya ingin menemuimu. Bukankah pertemuan ini sudah sejak lama sama kita
nantikan?”
“Kepala pengawal. Jaga mulutmu..”
“Namaku Dipasingara.”
“Jika Adipati tahu kau masuk malam-malam ke sini, kau bisa celaka!”
“Dan agar suamimu tidak tahu boleh kukunci pintu yang menghubungkan kamar ini dengan
kamar sebelah?”
“Tidak! Kau harus ke luar dan sini Dipasingara. Saat ini juga!”
Kembali si pemuda tersenyum. Dia melangkah ke arah pintu penghubung lalu menguncinya.
“Kau...! Apa-apaan ini? Apa maksudmu Dipasingara?”
Kepala pengawal itu melangkah ke hadapan Galuh Resmi, membuat perempuan ini tersurut
mundur.
“Kalau kau berani melakukan sesuatu terhadap ku, aku akan menjerit!” Galuh mengancam.
sanubarimu. Apakah layangan senyum dan lirikan mata mesramu selama ini hendak kau
musnahkan dengat satu teriakan yang akan membangunkan seluruh isi gedung Kadipaten ini?”
“Tapi….”
“Aku menyukaimu. Dan kau menyukaiku. Kita sama-sama tau hal itu. Atau masihkah kau
hendak berpura-pura?”
“Kalau semua itu terjadi tidak kuinginkan sampai sejauh ini. Kau berani masuk ke
kamarku!”
“Lagi-lagi kau menipu dirimu Galuh. Aku yakin bahwa kau sepenuhnya menyadari bahwa
satu saat pertemuan seperti ini pasti akan terjadi. Aku telah masuk ke mari menemuimu, orang
yang kukagumi kecantikannya, yang ku... yang kukasihi. Apakah semua itu hendak kau
hancurkan...?”
Gauh Resmi tundukkan kepala. Dadanya yang kencang bergoyang turun naik.
“Masih banyak kesempatan untuk bertemu Dipa. Jika memang kau inginkan. Bukan malammalam
begini. bukan di kamar....”
“Jadi kau inginkan aku keluar dari kamar ini?” tanya Dipasingara.
Galuh Resmi tak menjawab. Disadarinya bahwa diam-diam dia memang menyukai
Dipasingara pada saat pertama kali melihat pemuda ini. Tetapi tindakan Dipasingara masuk ke
dalam kamar seperti itu sangat berbahaya. Namun untuk menyuruh si pemuda ke luar dari
kamarnya hatinya terasa sangat berat. Sesaat dia hanya bisa berdiam diri. Kemudian
dirasakannya nafas pemuda itu menghembus hangat di wajahnya. Lalu terasa pegangan jarijari
tangan Dipasingara pada kedua bahunya.
“Kau izinkan aku bersamamu malam ini di sini Galuh?”
Pemuda itu mengusap dagu Galuh Resmi. Perlahan-lahan diangkatnya hingga perempuan
itu menengadah. Sepasang mata mereka saling bertatapan.
“Dipa, kau terlalu berani Dipa. Terlalu berani.” desis Galuh Resmi.
“Semuanya karena kau. Demi kau Galuh...” balas berbisik Dipasingara.
Perempuan itu menggeliat sewaktu lehernya disentuh ciuman Dipasingara. Ah, betapa
tubuhnya menjadi menggigil panas dingin tetapi nikmat. Betapa darahnya menyentak-nyentak.
Betapa lainnya terasa peluk dan ciuman pemuda itu dibanding dengan rangkulan suaminya
yang berusia setengah abad itu!
“Jangan di sini Dipa. Jangan di sini...” kata Galuh Resmi waktu pemuda itu membimbingnya
ke tempat tidur.
Tapi Dipasingara menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi pada pangkal lehernya.
Membuat perempuan itu bergelinjang, menggeliat dan mengeluarkan suara lirih. Nafasnya
memburu tetapi tersendat-sendat.
“Tidak di sini Dipa. Aku khawatir suamiku bangun....”
“Semua pintu telah kukunci. Tak ada yang harus kau takutkan,” kata Dipasingara. Dia
membungkuk, membenamkan hidungnya di celah antara kedua buah dada Galuh Resmi,
membuat perempuan itu mencengkeramkan kuku-kuku jarinya ke punggung Dipasingara.
Ketika tubuhnya diangkat, Galuh menggelungkan tangannya ke leher si pemuda.
Kini dia terbaring di atas tempat tidur. Dipa yang membaringkannya. Galuh memejamkan
matanya. Tak berani menatap wajah Dipasingara. Sesaat kemudian dirasakannya jari-jari
tangan Dipasingara menyelinap di balik pakaiannya. Galuh Resmi tersentak, menggeliat
kelangsangan. Selama ini hanya jari-jari tangan lelaki tua bernama Kebo Panaran yang
menggerayangi tubuhnya. Betapa lainnya dengan rabaan seorang pemuda.
Galuh Resmi menggeliat lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya tiba-tiba dia membalikkan tubuh
dan menggigit dada Dipasingara. Pemuda itu mengeluh kesakitan tapi sekaligus menimbulkan
gelegak rangsangan. Tangan Dipasingara menggerayang lebih berani. Galuh Resmi merasa
seperti pembuluh-pembuluh darahnya meletus sewaktu pemuda itu mulai membuka
pakaiannya. Tidak berani dia membuka matanya. Tak berani dia membuka mulut. Desau
nafasnya membara. Dirasakannya tubuh Dipasingara meneduhi tubuhnya. Tubuh kukuh itu
dipeluk Galuh Resmi kuat-kuat.
Demikianlah malam itu telah terjadi hubungan gelap dan mesum antara Dipasingara dengan
Galuh Resmi. Antara seorang kepala pengawal dengan perempuan yang menjadi istri Adipati
atasannya sendiri! Apa yang terjadi malam itu baru merupakan permulaan saja dari
serangkaian panjang perbuatan mesum terkutuk diantara mereka berdua.

-- << 3 >> --

selanjutnya download ya... di link :Hidung Belang Berkipas Sakti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar