Selasa, 08 September 2009

Neraka Lembah Tengkorak

 (021)
Karya Bastian Tito
Pendekar Kapak Nagageni 212
SERIAL WIRO SABLENG

1
      SAAT ITU MEMASUKI permulaan musim semi. 

Pohon-pohon yang dulu gundul tak berdaun kini
kelihatan mulai menghijau segar kembali. Dibagian barat daratan Madiun yang leas menjulanglah
pegunungan gunung Lawu dengan lebih dari setengah lusin puncakpuncaknya
yang tinggi. Sebegitu jauh hanya satu dua saja dari puncak pegunungan ini yang
pernah diinjak kaki manusia.
     Pegunungan Lawu membujur dari barat ke timur. Diapit disebelah utara oleh
daerah Gondang dan pegunungan Kendeng. Disebelah selatan terletak daerah Jatisrana,
Purwantara dan pegunungan Kidul serta dataran tinggi Tawangmangu.
Pegunungan Lawu bukan saja dikenal sebagai sebuah pegunungan terbesar di
Madiun, namun juga merupakan pusat satu partai silat terkenal dan disegani pada
masa itu yakni partai Lawu Megah.
     Sejak Resi Kumbara mengundurkan diri lima tahun yang lalu maka tampuk jabatan
ketua dipegang oleh adiknya yang juga merupakan adiknya seperguruan Resi Tumbal
Soka. Adapun pengunduran diri Resi Kumbara, selain usianya yang sudah amat lanjut
yakni hampir mencapai 100 tahun, paderi ini sudah jemu dengan segala macam urusan
partai yang menyangkut 1001 macam masalah keduniaan.
     Kalau Resi Kumbara dulu sempat dan berhasil mengangkat nama partai Lawu
Megah menjadi satu partai besar yang dihormati dan disegani, maka agaknya tidak
demikian dengan Resi Tumbal Soka. Sejak dia memegang jabatan ketua, banyak
perobahan-perobahan yang dilakukannya di dalam partai. Keluarpun dia kurang
mendapat tempat yang baik karena tindakan-tindakannya yang tidak tepat. Akibatnya
partai Lawu Megah pernah berselisih faham dengan partai-partai silat-besar lainnya.
Bahkan satu telah terjadi bentrokan yang membawa korban dengan partai Merapi
Indah.
Beberapa orang paderi tua pernah menemui Resi Kumbara di ruangan samadinya.
Mereka melaporkan keadaan di dalam dan di luar partai dan meminta agar Resi
Kumbara suka memegang jabatan ketua kembali. Sekurang-kurangnya untuk sementara
sampai kemendungan selama ini bisa dipulihkan.
Cuma sayang Resi Kumbara menolak. Orang tua ini berkata, "Apa yang sudah
kuserahkan pada orang lain tak boleh kuminta kembali. Demikian juga dengan jabatan
ketua partai. Adik-adikku, sebenarnya kalian datang ke alamat yang salah. Bukan aku
yang harus kalian temui, tapi kakak kalian, Resi Tumbal Soka. Bukankah kalian bisa
berembuk dengan dia? Bukankah kalian pembantu-pembantunya? Temui dia dan
carilah jalan yang sebaik-baiknya. Cuma satu hal aku ingin tekankan. Aku tidak suka
melihat adanya keretakan di antara kalian. Tak ada yang paling baik dari pada
musyawarah danpersatuan. Nah, sekarang kalian pergilah. Aku tak ingin diganggu lebih
lama."
     Kelanjutannya tak ada seorangpun diantara paderi-paderi tua itu yang menemui
Resi Tumbal Soka. Mereka tahu sifat ketua mereka ini. Selain mempunyai pribadi yang
tertutup, juga sulit untuk diajak berunding. Dia merasa bahwa hitam putih segala
sesuatunya dalam partai adalah di tangannya. Dia bisa saja mendengarkan pendapatpendapat
para pembantunya, namun apa maunya juga yang kelak akan dijalankan.
Akibatnya dalam tubuh para pimpinan partai terjadi kelompok-kelompok yang saling
bertolak belakang.
     Kelompok pertama dipimpin oleh Resi Permana yang ingin melihat partai Lawu
Megah kembali seperti masa sewaktu dipimpin oleh Resi Kumbara. Kukuh di dalam
dan mempunyai hubungan baik diluar dalam kalangan persilatan.
Kelompok kedua dipimpin oleh Resi Godra. Ketidaksenangan paderi ini terhadap
ketuanya lebih banyak ditimbulkan oleh hal-hal pribadi. Sesudah Resi Kumbara
mengundurkan diri maka dengan usianya yang sudah 90 tahun paderi Resi Godra
merupakan orang yang paling tua di partai Lawu Megah. Dengan sendirinya dia merasa
mempunyai hak untuk menduduki jabatan ketua. Namun dia menjadi kecewa sekati
ketika jabatan itu diserahkan pada Resi Tumbal Soka, padahal paderi ini 10 tahun
lebih muda dari dia. Rupanya sang ketua yang lama lebih mementingkan hubungan
darah Resi Tumbal Soka adik kandung Resi Kumbara dari pada tata cara yang berlaku.
Ditambah dengan sikap dan salah urus dari Resi Tumbal Soka, maka semakin tidak
sukalah paderi yang satu ini terhadap ketuanya itu.
Kelompok ketiga ialah kelompok Resi Tumbal Soka sendiri bersama pendukungpendukungnya.
Meskipun di luaran paderi tiga kelompok tersebut masih menunjukkan sikap rukun
dan saling hormat, namun diam-diam laksana api dalam sekam mereka saling
bertentangan.
     Pada pagi hari itu hujan rintik-rintik turun di puncak gunung Lawu. Menyaksikan
keadaan puncak ini nyatalah bahwa ada satu peristiwa besar tengah terjadi di pusat
partai terkenal ini.
     Para pucuk pimpinan dan anak-anak murid partai semua berkumpul disebuah
lapangan besar. Pada tengah-tengah lapangan ini berdiri sebuah tiang kayu setinggi tiga
meter, lengkap dengan seutas tambang besar. Salah satu ujung tambang ini dibuhul
demikian rupa membentuk lingkaran sedang ujungnya yang lain terikat kukuh pada
palang kayu diatas tiang. Sebuah kursi terletak dekat tiang itu. Sekali memandang saja
jelaslah bahwa benda-benda itu dipersiapkan untuk menggantung seseorang!
Sejak berdirinya Partai Lawu Megah hampir 200 tahun yang silam, tak pernah hal
seperti ini berlangsung. Baru waktu Resi Tumbal Soka menjabat ketualah peristiwa ini
terjadi. Gerangan siapakah yang hendak digantung pada pagi hari itu?
Ketua partai berdiri bersama pembantu-pembantunya sekitar dua puluh langkah
sebelah kanan tiang gantungan. Disamping Resi Tumbal Soka tegak seorang dara
berpakaian biru. Rambutnya kusut dan wajahnya yang cantik kelihatan mendung.
Sebentar-sebentar dia pergunakan sehelai sapu tangan untuk menyapu air mata yang
jatuh membasahi pipinya.

"Sularwasih! Hentikan tangismu! Mana ketabahan hatimu sebagai seorang murid
Partai Lawu Megah?" Resi Tumbal Soka berkata pada gadis berpakaian biru. Gadis ini
adalah murid kesayangannya.
"Guru⁄ kalau guru mengizinkan, murid lebih suka mati bunuh diri saat ini juga... "
Sularwasih tiba-tiba menyahut dengan suara parau.
"Jangan ngacol" Ketua Partai Lawu Megah kelihatan marah. "Bukan kau yang harus
mati, tapi bangsat terkutuk itu! Kau akan saksikan sendiri kematiannya di tiang
gantungan sebentar lagi!"
Resi 'Tumbal Soka memandang berkeliling kemudian berseru, "Bawa pemuda laknat
itu ke tiang gantungan!"
Suara teriakan sang ketua yang disertai hawa amarah den tenaga dalam amat tinggi
laksana geledek menggetari seantero puncak gunung Lawu. Bila getaran teriakan itu
sirna, kesunyian mencengkam menegangkan.
Dari arah rumah besar kelihatan seorang pemuda berkulit coklat keluar digiring
oleh dua orang anak murid partai tingkat tertinggi.
Di sebelah depannya mendahului seorang Resi.
     Pemuda berkulit coklat itu, memiliki rambut gondrong sampai ke bahu. Kedua
tangannya diikat di sebelah belakang dengan sehelai benang aneh yang bagaimanapun
diusahakannya tak sanggup diputuskan. Tampangnya tolol, tapi sikapnya gagah bahkan
dia melangkah cengar cenqir. Seolah-olah tengah dalam perjalanan ke satu tempat yang
bagus, bukan tengah menuju ke tiang gantungan yang telah disediakan untuk dirinya!
Murid-murid partai berkerumun di ssbelah timur menyeruak memberi jalan.
Pemuda asing den pengiringnya sampai di depan tiang gantungan. Ketegangan semakin
memuncak. Kesunyian tambah tidak enak.
Resi Tumbal Soka menganggukkan kepala pada paderi yang menyertai pemuda
berambut gondrong itu. Dan sang paderi lantas membalikkan diri, berpaling pada si
pemuda.
     "Orang asing yang mengaku bernama Wiro Sableng!" katanya dengan suara lantang
hingga terdengar ke segenap penjuru. "Kami orang-orang Partai Lawu Megah masih
bersedia memberikan sedikit kelonggaran padamu sebelum kau menjalani hukuman
mati di tiang gantungan . . . ."
Tawanan yang hendak dihukum mati itu ternyata adalah Pendekar 212 Wiro
Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari gunung Gede yang sejak beberapa tahun
belakangan ini bertualang di daratan Tiongkok. Wiro tersenyum mendengar ucapan
paderi itu.
"Terima kasih. Kelonggaran apakah yang kalian hendak berikan padaku...?!"
bertanya Wiro acuh tak acuh tanpa memandang pada paderi yang tadi berkata padanya.
"Sebelum menjalani hukuman mati kau diperkenankan mengajukan satu
permintaan atau menyampaikan pesan terakhir."
Kembali Wiro Sableng tertawa cengar cengir.
"Aku tak punya karib kerabat apa lagi sanak saudara disini. Pesan apa dan kepada
siapa pula aku kusampaikan... ?"
"Kalau begitu permintaan terakhir saja," kata paderi itu.
"Permintaan terakhir . . . ?" Wiro kerenyitkan kening. "Kalian sudah memutuskan
untuk membunuhku secara biadab, kini kenapa meributkan segala soal tetek bengek
begini rupa. Gantung saja aku detik ini juga habis perkara!"
Mendengar kata-kata Wiro itu, Resi Tumbal Soka menjadi marah wajahnya dan
berkata lantang, "Kau dihukum gantung secara biadab karena kau telah melakukan
kekejian yang biadab! Itu sudah pantas menjadi bagianmu! Jika kau tidak ada kata-kata
atau permintaan terakhir, itu lebih baik. Kau akan lebih cepat kami singkirkan dari
puncak Gunung Lawu ini!"
"Resi Tumbal Soka, mulut dan pendapat manusia itu tidak selamanya bisa dijadikan
hakim yang adil. Kudengarkan kau banyak melakukan hal-hal yang sembrono sebagai
ketua partai. Itu sebabnya ada yang tidak menyukaimu di pihak orang dalam sendiri
dan juga di dunia persilatan!" Habis berkata begitu Wiro tertawa mengekeh.
Marahlah ketua Partai Lawu Megah. Dia berteriak, "Gantung dia sekarang juga!"
Diam-diam dingin juga tengkuk Pendekar 212 dan bergetar juga dadanya. Ketika
bahulan tali hendak dilingkarkan ke lehernya lewat kepala, tiba-tiba dia berteriak,
"Tunggu dulul Aku ingin mengajukan satu permintaan terakhir!"
"Kurang ajar! Lekas katakan apa permintaanmu!" teriak Resi Tumbal Soka jengkel

dan marah sekali. Dia memberi isyarat. Paderi yang hendak menjeratkan tali ke leher
Wiro menurunkan tangannya kembali.
Sepasang mata Wiro Sableng bergerak ke arah gadis berpakaian biru yang masih
sibuk menyeka air matanya. Dia goyangkan kepalanya pada gadis ini seraya berkata:
"Aku ingin bicara dengan gadis itu!"
Semua orang saling pandang. Tentu saja mereka tidak menduga sang tawanan akan
mengajukan permintaan demikian. Semua orang memandang pada Resi Tumbal Soka,
menunggu keputusannya. Ketua partai ini sendiri kelihatan bergerak-gerak pelipisnya.
Dia berusaha menekan amarahnya dan kemudian berkata, "Kau kami beri kesempatan
untuk bicara dengan gadis itu. Tapi cepat dan singkat!"
"Adik, kau kemarilah mendekat!." Wiro berseru.
Sularwasih memandang melotot. Mulutnya terbuka, "Manusia terkutuk! Aku tidak
sudi bicara denganmu!"

2
---
selanjutnya download aja di link ini ya :Neraka Puncak Lawu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar