Jumat, 04 September 2009

Pendekar Dari Gunung Naga


Bastian Tito
Pendekar Kapak Nagageni 212
WIROSABLENG


LEMBAH MERAK HIJAU yang terletak di propinsi
Ciat-kang merupakan sebuah lembah subur
dengan pemandangan yang indah. Lebih-lebih
karena di sebelah timur lembah ini terdapat daerah
persawahan yang luas dan pada saat itu padi yang
ditanam telah masak menguning hingga kemanapun
mata memandang, seolah-olah hamparan permadani
emaslah yang kelihatan. Bila angin bertiup, padi-padi
masak menguning itu bergoyang melambai-lambai
mengalun lemah gemulai
Dipagi yang cerah ini diantara desau tiupan
angin lembah yang segar terdengarlah suara tiupan
seruling yang merdu sekali. Barang siapa yang
mendengarnya, pastilah akan tertegun dan memasang
telinga baik-baik menikmati suara seruling itu.
Siapakah gerangan yang meniup seruling tersebut?
Tentunya seorang seniman pandai yang dapat menggambarkan
keindahan pemandangan alam sekitarnya
lewat hembusan napas yang disalurkannya ke
dalam lobang seruling.
Tetapi adalah diiuar dugaan karena kenyataannya
si peniup seruling bukanlah seorang seniman,
bukan pula seorang dewasa. Melainkan seorang
anak gembala yang baru berusia tujuh tahun dan
duduk di atas punggung seekor kerbau besar tegap
berbulu bersih dan berkilat.
Perlahan-lahan kerbau besar itu melangkah menyusur
tepi sawah, memasuki lembah Merak Hijau,
kemudian mendaki bibir lembah di sebelah selatan.
Di atas punggungnya bocah berusia tujuh tahun itu
demikian asyiknya meniup seruling hingga dia tidak
perduli lagi ke mana pun kerbaunya membawanya.
Akan tetapi ketika binatang itu sampai di atas
lembah sebelah selatan serta rnerta si bocah menghentikan
permainan serulingnya. Mulutnya ternganga
dan sepasang matanya yang bening melotot begitu
dia menyaksikan pemandangan di hadapannya. Dua
sosok tubuh yang hanya merupakan bayang-bayang
hitam dan putih dilihatnya berkelebat hebat, terlibat
dalam suatu perkelahian yang gencar dan seru.
Adalah aneh... memikir anak itu... di tempat yang
begini indah dan segar, ada orang berkelahi. Memperhatikan
dengan mata tak berkesip lama-lama
membuat si bocah menjadi pusing sendiri. Beberapa
kali dia memejamkan matanya, dibuka kembali, dipejamkan
lagi, dibuka lagi. Ketika dia membuka
sepasang matanya untuk yang kesekian kalinya,
dilihatnya bayangan hitam mendesak bayangan putih
dan tahu-tahu satu tendangan dahsyat dilancarkan
oleh sosok tubuh bayangan hitam. Tapi bayangan
putih dapat mengelak. Tendangan maut itu tak
sengaja terus melabrak kepala kerbau yang ditunggangi
anak tadi.
Terdengar lenguhan keras. Kerbau besar itu
mencelat sampai beberapa tombak, angsrok di tanah,
mati dengan kepala pecah. Anak lelaki tadi
terpelanting dan nyangsrang dalam semak-semak.
Pakaiannya habis koyak-koyak dan kulitnya baret
luka-luka. Tapi suling Kesayangannya masih tergenggam
di tangan kanannya. Dengan susah payah
dia keluar dari semak-semak itu sambil mengomel
marah ketika mengetahui apa yang terjadi dengan
kerbau tunggangannya.
Di depan sana akibat kejadian yang tak disangka-
sangka itu, dua orang yang tadi berkelahi
mati-matian sama melompat mundur. Perkelahian
terhenti dan keduanya memandang ke arah si bocah
dan kerbaunya.
Kini barulah anak lelaki itu dapat melihat dengan
jelas sosok tubuh dan tampak kedua bayangan hitam
dan putih tadi.
Di depan sebelah kanan tegak seorang kakekkakek
berjubah hitam berkepala botak plontos yang
kilat-kilat ditimpa sinar matahari. Sepasang alisnya
tebal, kumisnya jarang tapi tebal-tebal dan panjang.
Tampangnya persis seperti anjing air!
Di sebelah kiri berdiri pula seorang kakek-kakek
berpakaian putih. Rambutnya panjang putih meriap
bahu. Dia memelihara kumis serta janggut lebat yang
juga berwana putih. Sepasang matanya memandang
tajam pada bocah yang memegang suling
sedang kulit keningnya berkerut seolah-olah dia
tengah memikirkan sesuatu.
Meskipun tadi hanya melihat bayangannya saja.
namun bocah pengembara itu yakin kakek berjubah
hitam itulah yang telah melepaskan tendangan hingga
mematikan kerbaunya. Bocah ini memang mempunyai
dasar watak yang berani. Dengan mata melotot
dan air muka menunjukkan kemarahan dia
membentak pada kakek jubah hitam :
“Tua bangka botak! Kau telah membunuh kerbauku!
Aku pasti akan dirajam oleh majikanku! Kau
harus menggantinya kalau tidak...."
Seumur hidupnya baru kali itu kakek berjubah
hitam dimaki begitu rupa oleh seorang lain. apalagi
anak-anak yang masih ingusan pula! Tentu saja
darahnya naik ke kepala
"Pergi kau dari sini. kalau tidak kepalamu akan
kupecahkan seperti binatang itu!"
"Tidak! Kau harus ganti dulu kerbau yang mati itu!'
"Bocah sundal! Kau mampuslah!' teriak kakek
jubah hitam marah sekali. Tangan kanannya dipukulkan
ke depan. Serangkum angin menderu dahsyat.
Jangankan seorang anak kecil seperti pengembala
itu, batu karang atos sekalipun kalau sampai dilabrak
pukulan jarak jauh yang berkekuatan tenaga dalam
Suar biasa itu pasti akan hancur lebur.
Tapi sebelum pukulan tangan kosong itu menghantam
anak gembala, dari samping menderu angin
pukulan lain, menggempur angin pukulan yang pertama
hingga berantakan dan punah!
Ternyata kakek berpakaian putihlah yang telah
menolong bocah itu!
Si anak yang tidak sadar kalau dirinya baru saja
terlepas dari bahaya maut. dengan marah mengangkat
sulingnya tinggi-tinggi dan lari ke arah kakek
berjubah hitam.
"Tua bangka botak! Kugebuk kau dengan sulingku
kalau kau tak mau ganti kerbau yang mati!"
Anak yang berani ini tidak menyadari sama
sekali kalau perbuatannya itu bakal merenggut nyawa
sendiri karena dalam kemarahannya kakek jubah
hitam memang sudah berniat membunuh anak itu.
Tapi lagi-lagi orang tua berpakaian putih menyelamatkannya
Sekali bergerak, kakek yang satu ini
tahu-tahu sudah telah mencengkram kerah pakaian
bocah itu dan menariknya ke tempat yang aman!
"Budak! Keberanianmu luar biasa dan mengagumkanku!
Tapi si kepala botak itu bukan lawanmu!

Biar aku yang mewakilimu untuk menggebuknya!'
Sesaat anak gembala itu terdiam. Kemudian
dengan merengut dia berkata : "Kalian tua-tua bangka
tak tahu diri.-Berkelahi macam anak-anak!"
Kakek berjanggut putih tertawa gelak gelak. Tapi
sebaliknya si jubah hitam kepala botak membentak
garang dan menyerbu. Kembali kedua orang ini bertempur
hebat Kembali tubuh mereka menjadi bayangbayang
hitam putih dan kembali pula si bocah menjadi
sakit mata dan pening kepalanya menyaksikan. Namun
dia memaksakan untuk memperhatikan kejadian hebat
itu sambi! tiada hentinya berteriak : Janggut putih, ayo
kau hajar kepala botak pembunuh kerbauku itu! Sikat!
Pecahkan kepalanya seperti dia memecahkan kepala
binatang gembalaanku!"
Teriakan-teriakan anak ini seolah-olah memberi
semangat pada kakek berpakaian pulih, sebaliknya
membuat si botak jadi penasaran setengah mati!
Dari batik jubah hitamnya si botak ini keluarkan
senjatanya berupa tongkat kayu berwarna hitam
legam dan memancarkan sinar menggidikkan. Setelah
bertempur hampir dua ratus jurus ternyata dia
tak dapat merubuhkan lawan dengan iangan kosong
maka kini dengan senjata itu dia berharap bakai
dapat mengalihkan kakek janggut putih.
Diiain pihak lawannya begitu melihat musuh pegang
senjata tidak pula menunggu lebih lama, segera
keluarkan senjatanya yakni sebatang tombak pendek
terbuat dari baja putih yang kedua ujungnya bercagak.
Sesaat kemudian keduanya sudah bertempur
kembali dengan hebatnya. Kini bayangan pakaian
mereka yang putih dan hitam dibuntali oleh sinar
dari senjata masing-masing dan menderu-deru dengan
dahsyatnya.
Bocah gembala yang berdiri jauh dari tempat itu
merasakan bagaimana sambaran kedua senjata tersebut
membuat lututnya guyah dan tubuhnya bergetar
menggigil Terpaksa dia menjauh sampai satu
tombak dari kalangan pertempuran sementara mata
dan kepalanya semakin sakit menyaksikan.
Dalam satu gebrakan hebat kakek janggut putih
berhasil mendesak lawan dan setelah mengirimkan
tusukan-tusukan gencar ke arah tawan tiba-tiba robah

gerakan tongkatnya dengan satu kemplangan
yang tidak terduga.
Kakek botak berseru kaget. Buru-buru dia melintangkan
senjatanya di atas kepala. Tombak baja dan
tongkat kayu mustika beradu dengan keras, me
ngeluarkan suara nyaring. Tongkat kayu mental
patah dua sedang tombak baja terlepas dari tangan
kakek janggut putih! Nyatalah kedua kakek-kakek
itu sama tangguh meskipun si janggut putih unggul
sedikit dari lawannya.
Selagi kakek janggut putih melompat mengambil
tongkatnya, si kepala botak rangkapkan dua
tangan di depan dada, kaki terkembang dan kedua
matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit. Dari
ubun-ubun kepalanya mengepul asap hitam. Kemudian
terdengar kekehannya.
"Manusia keparat! Jangan harap kali ini kau bisa
bernapas lebih lama!"
Kepulan-kepulan asap hitam itu sedetik kemudian
berobah menjadi delapan buah tangan yang
amat besar, berbulu dan berkuku-kuku panjang laksana
cakar burung garuda dan mulai menggapaigapai
ke arah kakek janggut putih.
"Ilmu hoatsut!" teriak si janggut putih dengan
wajah berobah. (Hoatsut ilmu sihir hitam). Hatinya
tercekat. Segala macam senjata sakti dan ilmu silat
hebat bagaimana pun dia tidak gentar. Tapi menghadapi
ilmu siluman mau tak mau hatinya berdebar
juga. Dia mengambil keputusan nekad. Menghajar
si kepala botak itu lebih dulu sebelum ilmu hitamnya
melancarkan serangan. Dengan memutar tombak
bajanya sekeliling tubuh, dia menyusup diantara
kepulan asap hitam!
AKAN TETAPI SEBELUM tongkat baja berkepala dua
itu mampu mendekati kakek jubah hitam sampai jarak
tiga jengkal, tiba-tiba delapan buah tangan mengerikan
telah berserabutan menyerang kakek janggut putih!
Si kakek tersentak dan buru-buru menghindarkan
diri. Tapi empat tangan berkuku panjang itu masih
memburunya dengan ganas. Si kakek kiblatkan tombak
bajanya, sekaligus melabrak empat buah tangan yang
menyerang. Aneh, meskipun jelas dia berhasil
menghantam empat tangan mengerikan itu namun
tombaknya lewat begitu saja seolah-olah menghantam
udara kosong! Dan dalam pada itu salah satu tangan
tersebut telah berkelebat dengan cepat dan bret!
Pakaian dibagian dada si kakek robek besar.
Kuku-kuku yang panjang masih sempat membuat
baret daging dadanya dan kontan orang tua ini
merasakan tubuhnya panas dingin. Buru-buru dia
salurkan tenaga dalamnya kebagian dada yang cedera
dan rasa sakit panas dingin berangsur-angsur
berkurang.
Dalam pada itu di depan sana kakek jubah hitam
kembali keluarkan suara tawa mengekeh dan delapan
tangan siluman kembali menyerbu!
Kakek janggut putih maklum bahwa segala pukulan
sakti dan tombaknya tak akan mampu meng
hadapi ilmu sihir yang ganas itu. Dia hanya sanggup
bertahan dengan mengandalkan ginkangnya yang
sudah amat tinggi. Tapi sampai berapa lama dia bisa
berbuat begitu? Seratus, dua ratus atau katakanlah
sampai tiga ratus jurus di muka? Dalam umurnya
yang sudah demikian lanjut, apakah dia mampu
melaksanakannya? Cepat atau lambat dia bakal
celaka juga! Hal ini membuat dia nekad dan mengamuk
dengan hebat. Tapi ilmu siluman musuh betulbetul
luar biasa. Dalam tempo beberapa jurus saja
dia sudah didesak habis-habisan!
Bocah penggembala yang mengharapkan agar
kakek janggut putih bisa menghajar si botak yang
telah membunuh kerbaunya itu, jadi kecewa dan
penasaran ketika menyaksikan bagaimana justru
kakek janggut putih itu terdesak hebat bahkan terancam
jiwanya karena saat itu beberapa kali tangantangan
iblis berkuku panjang telah memukul dan
mencakar tubuhnya hingga dalam tempo singkat
kakek ini mandi darah akibat luka-luka yang dideritanya!
Dengan marah anak laki-laki itu mulai mengumpulkan
batu-batu sebesar kepalan dan melempari
kakek jubah hitam dari belakang. Tapi semua batubatu
yang dilemparkan jangankan mengenai, mendekati
tubuhnya saja pun tidak karena batu-batu itu
mental kembali akibat hawa sakti yang keluar dari
tubuh si jubah hitam kepala botak!
Hebatnya kakek janggut putih itu meskipun
sadar bahwa dirinya bakal celaka dan kematiannya
sudah ditentukan saat itu, namun dia masih saja
bertahan dan melawan mati-matian, sama sekali
tidak mau menyerah apalagi lari selamatkan dirinya!
Melihat keadaan kakek berjanggut putih itu dan
khawatir kalau tangan-tangan siluman itu bakal menyerangnya
pula, timbullah rasa takut dalam diri anak
penggembala. Tetapi anehnya dia sama sekali tidak
pula melarikan diri dari tempat ini. Malah untuk
menghilangkan rasa takut itu, anak ini ambil serulingnya
dan mulai meniup. Lagu yang dimainkannya
sama sekali tak menentu. Rasa takut dan
khawatir melihat keselamatan si kakek janggut putih
terancam membuat tiupan serulingnya melengkinglengking
tak karuan. Tetapi justru tiupan seruling
inilah yang mendadak sontak merubah keadaan di
dalam kalangan perkelahian hidup mati itu!
Delapan tangan iblis yang mengerikan kini kelihatan
berserabutan dalam gerakan-gerakan kacau.
semakin lama semakin mengecil akhirnya berubah
menjadi asap hitam. Kakek jubah hitam tersentak
kaget. Dia berkeras memusatkan pikirannya guna
mengumpulkan kekuatan bathin yang tercerai berai
namun tak berhasil bahkan tangan-tangan siluman
itu telah berubah jadi kepulan asap hitam dan lenyap.
"Celaka!" seru kakek botak ini. Dia buka kedua
matanya justru disaat itu musuhnya yang telah luka
parah laksana banteng terluka mengamuk melihat
perubahan yang mendadak dan adanya kesempatan
untuk menyerang, tanpa tunggu lebih lama lancar
kan gerakan mematikan yang bernama "Joan hun-kigwat"
atau "menyusup awan mengambil rembulan."
Tongkat baja bermata dua itu menusuk laksana
kilat ke dada si jubah hitam dan tanpa dapat dielakkan
lagi tepat menembus jantungnya hingga tanpa
suara sedikit pun kakek berkepala botak itu minggat
nyawanya ketika itu juga!
Melihat si pembunuh kerbaunya mati, anak gembala
tadi bersorak gembira dan jingkrak-jingkrakan.
"Syukur! Mampuslah pembunuh kerbau! Baru
aku puas sekarang!" Tapi bila ingat apa yang akan
dikatakannya nanti pada majikannya akan ini lantas
jadi termenung murung.
Sementara itu si janggut putih yang tubuhnya
penuh luka-luka, dalam keadaan megap-megap segera
bersila di tanah. Atur jalan darah dan napas
serta salurkan hawa sakti tenaga dalam keseluruh
bagian tubuhnya. Beberapa saat kemudian dia keluarkan
dua macam obat yakni beberapa butir pel
dan sebungkus obat bubuk. Pel itu ditelannya sampai
habis sedang obat bubuk dituangkannya pada
luka-luka sekujur tubuhnya. Kemudian kembali dia
bersila. Sekitar seperminuman teh berlalu. Perlahanlahan
orang tua ini membuka kedua matanya dan
berdiri. Meski kini dia telah selamat dari kematian
namun kesehatannya belum pulih keseluruhannya.
ternyata cakar dari jari-jari tangan siluman yang
telah membuat dia cedera itu mengandung racun
yang berbahaya. Untung saja dia membawa persediaan
obat, kalau tidak meskipun dia berhasil
membunuh musuh namun racun, yang mengendap
bukan mustahil bakal membuat dia menemui ajalnya
pula dalam satu dua hari dimuka.
Orang tua ini kemudian ingat pada anak gembala
itu yang kini tengah duduk termangu-mangu di
bawah sebatang pohon. Meskipun kerbau gembalaannya
mati bukan karena kesalahannya dan si pembunuh
sudah pula menemui ajal namun majikannya
pasti tak mau perduli. Masih mending kalau dia
diberhentikan dari pekerjaan, kalau disuruh ganti?
Selagi dia termenung sudah begitu rupa tiba-tiba
satu bayangan putih berkelebat. Dia merasakan
tengkuk pakaiannya dicekal orang dan kemudian
dirasakannya tubuhnya laksana terbang. Memandang
ke samping ternyata dia telah dipanggul oleh
kakek berjanggut putih dan membawa lari dengan
kecepatan yang luar biasa, membuat dia gamang
dan ngeri.
"Orang tua kau mau bawa aku ke mana?!" seru
si bocah dengan suara gemetar.
"Budak... kau diam sajalah. Tak usah banyak
tanya!"
"Tapi aku harus kembali pada majikanku. Memberi
tahu tentang kerbau yang mati itu...."
Si kakek tertawa.
Kau anak baik yang tahu apa artinya tanggung
jawab. Tapi lupakan saja majikanmu dan kerbaumu
itu! Persetan! Potongan tubuh dan ruas tulangmu
kulihat bagus sekali! Sayang... sayang kalau disiasiakan!
Aku akan bawa kau ke puncak Liongsan!
Kau dengar? Puncak Liongsan!"
"Aku... aku...."
Si kakek mempercepat larinya dan kerena ngeri
si bocah tak berani lagi banyak bicara, malah kini
dia pejamkan kedua matanya. Tanpa sadar akhirnya
dia tertidur di atas pundak kakek yang membawanya
"terbang" itu!
Siapakah adanya kakek berambut putih ini?
Siapa pula musuh berjubah hitam itu dan apa tujuannya
sampai anak gembala tersebut hendak dibawanya
ke puncak Gunung Naga yang selama ini
dianggap angker dan jarang didatangi oleh manusia?
Kakek-kakek jubah hitam yang menemui ajalnya
itu dalam dunia persilatan di daratan Tongkok dikenal
dengan julukan angker Raja Setan Gunung Utara
atau Pak-san Kwi-ong. Pada masa itu diantara tokohtokoh
silat golongan hitam yang sesat Pak-san
Kwi-ong dianggap tokoh terlihay dan secara tidak
resmi dijadikan sebagai pimpinan. Dengan sendirinya
dia menjadi musuh nomor wahid dari orang
persilatan golongan putih.
Sekitar tiga tahun yang lalu antara Pak-san
Kwi-ong dengan kakek-kakek janggut putih yang
membawa lari anak gembala tadi, telah terjadi bentrokan.
Dalam perkelahian satu lawan satu yang seru
dan berlangsung seratus jurus, kakek janggut putih
berhasil mengalahkan Pak-san Kwi-ong. Kekalahan
bibit pangkal dendam kesumat sakit hati. Selama
tlya tahun Pak-san Kwi-ong melatih diri memperdalam
ilmu silat, tenaga dalam dan gingkangnya.
Disamping itu dia meyakini pula satu ilmu baru yakni
ilmu hitam atau sihir. Setelah dia merasa cukup
sanggup untuk melakukan penuntutan balas, maka
dicarinyalah kakek janggut putih tadi. Ternyata Paksa
n Kwi-ong memang berhasil menghadapi musuh
besarnya itu, bahkan ilmu hitamnya dia hampir saja
dapat membunuh lawan. Namun tiada disangkasangka,
ilmu sihirnya musnah berantakan hanya
karena tiupan seruling bocah penggembala kerbau.
Dan akhirnya secara penasaran dia terpaksa serahkan
jiwanya pada musuh!
Lalu siapa pulakah kakek janggut putih itu?

----
Selanjutnya download di.. : Pendekar Dari Gunung Naga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar