Jumat, 04 September 2009

Si Iblis dari Nanking


Oleh : Bastian Tito
Pendekar Kapak Nagageni 212
WIROSABLENG

1
DI BAWAH pemerintahan Cu Goan Ciang yang
berhasil mengusir kaum penjajah Mongol didirikanlah
kerajaan Tiongkok baru yang diberi nama Kerajaan
Beng. Sebagai raja Cu Goan Ciang lebih dikenal
dengan sebutan Kaisar Thaycu.
Ibukota kerajaan yang dulu terletak di Peking
(Ibukota Utara) dipindahkan ke Nanking (Ibukota
Selatan). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah segala
kemungkinan serangan tak terduga dari bangsa
Mongol.
Di samping itu sejumlah balatentara besar
ditempatkan di Peking dan sebagai panglima tertinggi
di Peking merangkap wakil langsung Kaisar di
Nanking, oleh Kaisar Thaycu diangkatlah putera
kandungnya yang bernama Cu Yung Lo.
Sebelum meninggal dunia Kaisar Thaycu yang bertahta di istana Nanking mengangkat Hui Ti
sebagai penggantinya. Hui Ti adalah cucu yang amat disayangi Kaisar, merupakan putera dari anak
sulungnya, jadi adalah keponakan langsung Pangeran Yung Lo.
Pengangkatan Hui Ti sebagai Kaisar baru inilah yang kemudian menjadi pangkal silang sengketa
dan malapetaka dalam Kerajaan Beng. Sebagai anak kandung atau putera Kaisar Thaycu, Pangeran
Yung Lo merasa lebih berhak untuk menjadi Kaisar dibanding dengan Hui Ti yang hanya seorang
cucu. Hal ini kemudian berubah menjadi pertentangan dan perpecahan dan pada puncaknya
mengakibatkan perang saudara yang hebat.
Pangeran Yung Lo dengan sejumlah balatentara besar menyerbu Nanking. Peperangan tak dapat
dihindar dan peperangan ini bertambah dahsyat karena tidak saja melibatkan balatentara kedua belah
pihak tetapi juga melibatkan banyak tokoh-tokoh dunia kangouw (persilatan)
Pihak Selatan dengan mati-matian berusaha mempertahankan diri dari serbuan yang hebat itu.
Namun segala upaya sia-sia belaka. Balatentara Pangeran Yung Lo laksana air bah. Selatan kalah,
Nanking jatuh dan Kaisar Hui Ti tertawan hidup-hidup. Dia dijebloskan ke dalam penjara, masih
untung tidak dijatuhi hukuman gantung atau pancung.
Meskipun kemudian perang sudah lama berakhir, tetapi keamanan negeri tidak keseluruhannya
dapat ditanggulangi. Di mana-mana sisa-sisa pasukan yang masih setia pada Kaisar Hui Ti
mengadakan kekacauan, menimbulkan kerusuhan-kerusuhan, perampokan dan pembunuhan. Pospos
tentara yang tak begitu kuat dan terutama yang terletak di tempat terpencil menjadi korban
penyerbuan.
Dalam suasana Kerajaan Beng seperti scat itulah terjalinnya kisah silat ini.
***
SUATU HARI, sebulan setelah Kaisar Hui Ti ditumbangkan, serombongan pasukan Kerajaan di
bawah pimpinan seorang perwira muda berkepandaian tinggi tampak bergerak meninggalkan
Nanking. Mereka tengah mengawal sebuah kereta berisi emas milik bekas Kaisar Hui Ti untuk di
bawa ke Peking atas perintah Kaisar Yung Lo.
Dua hari berlalu. Rombongan telah jauh meninggalkan Nanking namun Peking yang menjadi
tujuan masih amat jauh di sebelah Utara.
Karena matahari tidak bersinar terlalu terik dan angin sejuk bertiup sepanjang perjalanan, kusir
kereta memegang tali les sambil bernyanyi kecil. Di sebelahnya duduk seorang, pengawal berusia agak
lanjut tetapi memiliki ilmu silat bukan sembarangan, bahkan kepandaiannya setingkat lebih tinggi dari
perwira muda yang menjadi pimpinan rombongan itu. Pengawal tua ini bernama Thian Gay dan
dikenal dengan julukan Thian Gay Si Tangan Baja.
Di sebelah depan kereta yang membawa emas dan juga di sebelah belakang terdapat masingmasing
enam orang pengawal hingga keseluruhan rombongan berjumlah 15 orang. Karena mereka
membawa emas yang tak ternilai harganya maka keberangkatan rombongan ini sangat dirahasiakan.
Sampai hari ke tiga perjalanan berjalan lancar tanpa suatu halangan. Akan tetapi pada hari ke
empat, sewaktu rombongan mengambil jalan memotong terdekat memasuki sebuah hutan di kaki
bukit terjadilah hal yang mengejutkan. Jalan di hadapan perwira muda pemimpin rombongan tibatiba
saja runtuh amblas! Ternyata di situ telah digali sebuah lobang besar yang diganjal dengan
ranting-ranting kecil dan kemudian ditutup kembali baik-baik dengan tanah serta dedaunan.
Tak ampun lagi kuda yang ditunggangi sang perwira, termasuk enam pengawal di belakangnya
terperosok dan terjebak masuk ke dalam lobang yang dalamnya hampir lima kaki. Jika enam
pengawal berseru kaget kalang kabut maka perwira muda tadi masih dapat menguasai diri. Dengan
sikap tenang tapi gesit danmengandalkan gingkangnya (ilmu meringankan tubuh) yang lihay dia
melesat dari punggung kuda. Sebelum kedua kakinya menginjak tanah, tiba-tiba telinganya
menangkap suara berdesing. Menyusul kemudian terdengar jerit kematian yang mengerikan!
Enam pengawal yang barusan berhamburan masuk lobang bersama beberapa ekor kuda
tunggangan mereka, menggapai-gapai mencoba keluar dari lobang tersebut. Ada yang patah tulang
bahu, tulang kaki atau tangan. Dalam keadaan seperti itu, belum mampu mereka keluar dari lobang,
selusin golok terbang menderu, menancap di dada, ada yang di leher atau perut, bahkan ada yang
menancap di kening, membuat ke enam pengawal itu roboh, mengerang sebentar lalu mati!
Kuda-kuda yang meringkik hingar bingar juga ikut menjadi korban golok-golok terbang yang
ganas itu.
Akan keadaan kereta pembawa emas, bila saja kusir tidak cepat menahan tali kekang, pastilah
kereta itu akan ikut menghambur terperosok masuk ke dalam lobang.
Orang tua di samping kusir kelihatan kerenyitkan kulit kening. Lalu dia keluarkan seruan keras.
"Semua siap sedia! Ada tangan-tangan jahat yang menjebak kita di tempat ini!" Selesai berteriak
tangan kanannya lalu dihantamkan ke atas, ke arah sebatang pohon besar.
"Bangsat yang berani berlaku kurang ajar tunjukkan tampang-tampang kalian!"
Serangkum angin menderu keluar dari tangan Thian Gay Si Tangan Baja dan krak! Batang
pohon di sebelah atas patah. Cabang dan ranting-ranting serta dedaunan melayang gugur. Detik itu
pula terdengar suara tertawa bekakakan yang menggetarkan seantero hutan dan membuat
bergemetarnya mereka yang mendengar.
Lima sosok tubuh berkelebat dari atas pohon yang tumbang dan serentak dengan itu enam
batang golok terbang bersiuran ke arah Thian Gay!
Karena tidak menduga akan mendapat serangan mendadak begitu rupa sedangkan dia baru saja
melepas pukulan, Thian Gay menjadi cukup kaget. Dua golok terbang dihantamnya dengan tangan
kanan. Begitu tangan kanannya beradu dengan golok-golok olah dua golok tadi melabrak baja dan
patah. Tak percuma dia mendapat julukan Si Tangan Baja.
Dengan menjatuhkan diri ke samping dua buah golok lainnya berhasil dielakkan. Golok kelima
dapat ditangkis dengan tendangan tepat pada gagang golok. Namun serangan golok ke enam agak
terlambat dikelitnya. Bret! Bagian tajam golok merobek bahu pakaiannya, melukai daging tubuh di
bagian itu. Paras Thian Gay berubah. Jika dia masih dapat dihantam oleh senjata lawan yang keenam
sudah dapat dipastikannya bahwa penyerang bukan manusia tingkat rendahan.
Mengingat tanggung jawabnya dalam pengawalan kereta Thian Gay tak mau berlaku ayal. Dia
melirik pada perwira muda di sampingnya yang saat itu sudah cabut pedang dan tengah menghadapi
lima manusia yang baru saja melayang turun dari atas pohon. Kelimanya berjubah hitam. Empat
berambut gondrong awut-awutan Sedang yang kelima berkepala botak berkilat. Tampang mereka
buas seperti singa lapar, penuh berewok dan menyeramkan. Pandangan mata mereka membersitkan
kegarangan, haus darah dan maut!
Lelaki gondrong yang tegak paling ujung sebelah kanan keluarkan suara tertawa. Tubuhnya
tinggi kurus. Seputar pinggang jubahnya melilit belasan golok terbang. Bila dia bergerak senjatasenjata
itu bergesekan dan mengeluarkan suara gemerisik menggidikkan. Manusia ini dikenal dengan
panggilan Gui-kun Kui-to alias Gui Kun Si Golok Iblis. Dialah tadi yang telah melemparkan golokgolok
terbang merenggut nyawa enam pengawal dan juga menyerang Thian Gay.
Di sebelah Gui-kun Kui-to berdiri kambratnya yang memiliki rambut merah gondrong paling
panjang menyela sampai ke punggung. Rambut ini bukan sembarang rambut karena bisa
dipergunakan sebagai senjata maut! Rambutnya inilah yang membuat dia mendapat julukan Iblis
Rambut Merah atau Ang-mo It-kui.
Orang yang ketiga berdiri sambil rangkapkan tangan di depan dada. Kepalanya botak licin dan
berkilat. Tubuhnya pendek gemuk. Dia terkenal dengan panggilan Tiat-thou-kui atau Iblis Kepala
Besi. Kalau kawannya tadi mengandalkan rambut sebagai senjata maka yang satu ini mengandalkan
kepalanya sebagai senjata maut. Boleh dikatakan sebagian besar musuhnya menemui kematian di
tanduk atau disodok dengan kepalanya yang botak keras laksana bola besi itu!
Manusia berjubah hitam yang keempat tegak dengan sikap angker, lebih seram dari yang lainlainnya.
Tubuhnya paling tinggi dan paling besar. Dialah yang dikenal dengan gelaran Nan-king Kuiong
atau Raja Iblis dari Nanking. Dan dialah yang menjadi pimpinan dari semua manusia-manusia
seram itu.
Orang terakhir berdiri di ujung kiri. Dia bertubuh katai. Sepuluh kuku tangannya panjangpanjang
dan berwarna hitam. Inilah Tui-hun Hui-mo alias Iblis Pengejar Maut!
Thian Gay Si Tangan Baja memandang dengan mata terpentang lebar pada kelima manusia
berjubah itu. Dia berusaha menekan debaran jantungnya.
"Nan-king Ngo-kui ... " desisnya membisiki perwira muda yang tegak di sebelahnya.
Mendengar bisikan itu berubahlan paras si perwira yang bernama Ex Cu Liong. Sedang enam
pengawal lainnya begitu mendengar siapa manusia-manusia yang ada di depan mereka jadi bergetar
lutut masing-masing dan paras mereka laksana kain kafan.
Siapa yang tidak kenal dengan Nan-king Ngo-kui atau Lima Iblis dari Nanking. Lima datuk iblis
golongan hitam yang berkepandaian tinggi. Pada masa perang saudara dulu mereka dikenal sebagai
pembantu utama Kaisar Hui Ti. Begitu perang berakhir dan Hui Ti ditawan, kelimanya melenyapkan
diri. Tahu-tahu kini muncul dalam keadaan begitu rupa. Melihat cara mereka muncul dengan
menyebar maut, jelas kelimanya mempunyai maksud jahat dan keji.
Diam-diam Thian Gay mengeluh. Meskipun perwira Cu Liong berkepandaian tidak rendah akan
tetapi menghadapi lima manusia iblis itu sama saja dengan usaha hendak lolos dari lubang jarum. Jago
tua Thian Gay sudah mencium maut kematiannya sendiri!
***
2
KALAU tadi perwira muda Cu Liong hendak naik pitam melihat kematian enam anak buahnya, kini
setelah mengetahui siapa adanya lawan yang dihadapi mau tak mau dia harus menekan amarah dan
tidak boleh bertindak gegabah. Cu Liong membuka mulut.
"Sungguh tidak disangka hari ini kami akan bertemu dengan Nan-king Ngo-Kui yang terkenal.
Mengingat perang telah lama usai dan pihak Pemerintah juga tidak pernah mengutik-utik diri ngo-wi
locianpwe sekalian meskipun dulu diketahui ngo-wi membantu pemberontak Hui Ti, maka adalah
menjadi tanda tanya bagi kami mengapa hari ini begitu muncul ngo-wi langsung menjatuhkan tangan
maut pada anak-anak buahku yang tidak berdosa?"
Gui-kun Kui-to, orang ke lima dalam urutan lima manusia iblis itu batuk-batuk beberapa kali
lalu menyahuti.
"Perwira anjing peliharaan Yung Lo! Kau dengarlah baik-baik. Perang memang sudah lama selesai
tetapi akibatnya masih tetap akan terasa, malah mungkin lebih hebat dari peperangan itu sendiri!
Kau menyebut Kaisar Hui Ti sebagai pemberontak. Kotor dan lancang sekali mulutmu. Kaisar
Thaycu sendiri yang mengangkatnya untuk menduduki tahta kerajaan Beng. Dan si Yung Lo yang
temahak busuk itulah yang telah melakukan pengkhianatan, memberontak! Sekarang kalian sebagai
kaki tangan Yung Lo keparat itu boleh merasa menang. Tapi ingat, akan datang harinya kalian akan
menerima pembalasan!"
Merah paras perwira Cu Liong yang dimaki anjing.
"Memandang nama besar ngo-wi sekalian aku masih mau memberi maaf atas kata-kata yang
bersifat menghina diriku. Tapi penghinaan kurang ajar terhadap Kaisar Yung Lo benar-benar tak bisa
diberi ampun!"
"Oh begitu?" ujar Gui-kun Kui-to.
Si botak Tiat-thou-kui menimpali. "Kalau tak bisa diberi ampun, lalu apakah kau akan
menangkap kami berlima?" Habis bertanya begitu si botak lantas tertawa mengejek.
"Rasanya belum terlambat bagi kalian berlima untuk kembali ke jalan benar. Bila kalian bersedia
ikut ke Kotaraja menghadap Kaisar Yung Lo, aku bersedia memintakan ampun bagi kalian dan
bukan mustahil Kaisar mau mengambil kalian-kalian sebagai pembantu-pembantunya... "
"Dijadikan anjing peliharaannya seperti dirimu?" tukas Tiat-thou-kui pula dan bersama kawankawannya
dia tertawa gelak-gelak.
Thian Gay Si Tangan Baja yang sejak tadi bungkam mendehem beberapa kali lalu berkata,
"Memang tak mungkin bagi kami memaksa ngo-wi ikut ke Kotaraja. Sebaiknya lupakan saja apa yang
barusan kita perbincangkan dan sekarang masing-masing kita sama meninggalkan tempat ini dengan
aman."
Cu Liong hendak membuka mulut membantah ucapan Thian Gay itu. Mana mungkin kematian
enam anak buahnya dapat dilupakan begitu saja. Bagaimana pertanggunganjawabnya nanti terhadap
atasannya di Kotaraja? Namun ketika melihat isyarat mata yang diberikan Thian Gay terpaksalah
perwira muda ini membatalkan niatnya.
"Tua bangka Thian Gay, kau memang pandai bicara," berkata Nan-king Kui-ong, pentolan
kepala lima manusia iblis itu. "Tetapi kenapa kau dan orang-orangmu buru-buru hendak pergi?"
Saat itu Thian Gay sudah membalikkan diri melangkah mendekati kereta. Langkahnya tertahan.
Dalam batin dia bertanya apakah manusia-manusia iblis itu sudah mengetahui apa isi kereta? Di
dengarnya suara Nan-king Kui-ong kembali, "Bagus kalau kau mau melupakan apa yang telah terjadi.
Sekarang bagaimana kalau kau dan perwira muda ini masuk saja ke pihak kami?!"
"Siapa sudi!" bentak Cu Liong dengan keras.
Sebaliknya Thian Gay menjawab dengan bijaksana. "Tawaranmu itu biarlah kupertimbangkan
dulu. Nanti kukirim orang untuk menemui kalian berlima."
"Eh, mana bisa begitu aturannya," kata Ang-mo It-kui, orang keempat dari Lima Iblis. "Tanya
sekarang harus jawab sekarang!"
Thian Gay jadi serba salah. "Maaf, kalau kalian keliwat memaksa, mana mungkin ... "
Ang-mo It-kui berpaling pada Nan-king Kui-ong. "Kalau begitu kita tak perlu bicara panjang
lebar lagi dengan cecunguk-cecunguk ini!"
Nan-king Kui-ong menyeringai lalu mengangguk dan berkata:
"Bunuh mereka. Semua!"
Maka Ang-mo It-kui lantas maju menerjang Cu Liong sedang Gui-kun Kui-to menyerbu ke arah
Thian Gay Si Tangan Baja.
"Hai apakah kalian tidak akan membantu tuan-tuan besar kalian?" berteriak Tui hun Hui mo
pada enam pengawal yang masih tegak tertegun di depan kereta.
Para pengawal mengerti kalau mereka tak bakal hidup lama. Memikir sampai di situ rasanya saat
itu mereka mau ambil langkah seribu. Namun mengingat tugas dan pengabdian terhadap Kaisar,
keenamnya memutuskan untuk cabut senjata dan bergerak maju membantu Cu Liong serta Thian
Gay.
Sambil tertawa mengekeh Tui-hun Hui-mo jentikkan kuku-kuku jarinya yang panjang dan berwarna
hitam. Lima pengawal menjerit lalu roboh bergelimpangan kena sambaran lima larik sinar
hitam yang keluar dari ujung-ujung kuku Tui-hun Hui-mo alias Iblis Pengejar Maut. Pengawal yang
keenam bernasib lebih buruk. Tubuhnya mencelat dimakan tendangan manusia iblis itu hingga
dadanya hancur. Sementara itu perkelahian antara Gui-kun Kui-to Si Golok Iblis berkecamuk
melawan Thian Gay dengan hebatnya. Satu kali lengan mereka saling beradu keras. Thian Gay Si
Tangan Baja tersurut empat langkah sedang Gui-kun Kui-to terpental tiga langkah dan lengannya
terasa seperti hancur. Daging lengan di bagian yang beradu kelihatan membengkak merah kebiruan.
Nyatanya julukan Si Tangan Baja yang dimiliki Thian Gay bukan julukan kosong. Pukulannya datang
bertubi-tubi membuat Gui-kun Kui-to jago kelima dari Nan-king Ngo-kui harus mengeluarkan
kegesitannya berkelebat kian kemari untuk mengelakkan serangan lawan. Menangkis kini dia tak
berani. Sekali salah satu bagian tubuhnya kena dihantam tangan lawan pasti celaka.
Setelah dua puluh jurus masih saja dia menjadi bulan-bulanan serangan lawan, Gui-kun Kui-to
jadi penasaran. Tanpa malu-malu dia menghunus golok besar yang terselip di pinggang kirinya. Sekali
dia memutar senjata itu, anginnya saja membuat Thian Gay harus bertindak waspada.
Dengan golok di tangan tampaknya Gui-kun Kui-to berhasil menahan serangan tangan kosong
lawan. Merasa mulai berada di atas angin manusia iblis ini lancarkan serangan-serangan ganas.
Namun satu kali sewaktu tubuhnya kehilangan keseimbangan karena begitu bernafsu membacok dan
ternyata hanya menghantam tempat kosong, dari samping Thian Gay memukul badan golok hingga
senjata itu terlepas mental dan patah dua!
Gui-kun Kui-to bersurut mundur.
Melihat hal ini Nan-king Kui-ong segera berteriak, "Tiat-thou-kui! Kau bantulah Gui Kun!"
Tiat-thou-kui, orang ketiga dari Nan-king Ngo-kui yang berkepala botak itu menggerang. Dia
usap-usap botaknya sambil bergerak memasuki kalangan perkelahian. Di saat yang sama Gui-kun
Kui-to kembali maju. Dan kini terjadilah perkelahian dua lawan satu. Dikeroyok begitu rupa mulamula
Thian Gay bisa bertahan beberapa jurus. Namun kemudian dia mulai tampak terdesak.
Selain memiliki pukulan-pukulan tangan kosong yang deras Iblis Kepala Besi itu ternyata amat
berbahaya kepalanya yang botak. Thian Gay sudah pasang tekad. Kalaupun dia menemui ajal di
tangan pengeroyok, paling tidak salah satu lawannya harus ikut mati bersamanya. Namun tekadnya
itu sama sekali tidak menjadi kenyataan. Karena beberapa saat kemudian, dalam satu jurus yang
hebat, selagi dia berusaha mengelakkan pukulan dan tendangan Gui-kun Kui-to, tahu-tahu dari
samping Tiat-thou-kui kirimkan satu serangan ganas. Kepalanya yang lebih keras dari besi melesat ke
dada Thian Gay. Jago Kaisar ini berusaha mengelak sambil memukul kepala lawan dengan tangan
kanannya. Dia begitu yakin bahwa tangannya yang atos akan sanggup menghancurkan kepala lawan.
Mana mungkin besi bisa menang lawan baja!
Tetapi sesaat lagi ubun-ubun Tiat-thou-kui akan kena digeprak, seperti seekor ular kobra tahutahu
kepala manusia iblis itu melesat ke bawah, menyelusup menghantam perut Thian Gay.
Thian Gay Si Tangan Baja terdengar menjerit. Tubuhnya mencelat jauh. Terhampar di tanah
tanpa bergerak dan tak bernyawa lagi. Mati dengan perut pecah!
Sambil bersihkan darah yang mengotori kepala botaknya Tiat thou kui tertawa gelak-gelak.
Sementara itu perkelahian antara Iblis Rambut Merah alias Ang-mo It-kui melawan perwira
muda Cu Liong telah memasuki jurus ke 29. Meski sang perwira memegang pedang dan mengurung
lawan dengan serangan menderu-deru namun sebegitu jauh pedangnya masih belum mampu
menyentuh tubuh lawan. Sebaliknya setiap kali Ang-mo It-kui menggoyangkan rambutnya maka
menghamburlah angin serangan yang berbahaya dan rambut panjang manusia iblis ini seolah-olah
berubah menjadi pedang yang memapas atau menusuk dan membuat Cu Liong terkesiap.
"Ang-mo It-kui!" terdengar seruan Nan-king Kui-ong, pimpinan dari lima manusia iblis itu.
"Jangan beri malu nama besar Nan-king Ngo-kui. Masakan menghadapi cacing tanah yang masih
ingusan begitu saja kau tak sanggup membereskannya dengan cepat?"
Mendengar teguran itu Ang-mo It-kui menjawab, "Harap maafkan pangcu. Bukan maksudku
untuk main-main. Tapi tubuh ini sudah lama tidak bergerak badan. Aku ingin mencari sedikit
kesegaran. Tapi baiklah. Kau lihatlah ini!" (pangcu = ketua/pemimpin)
Habis berkata begitu Ang-mo It-kui mengeluarkan suara tertawa aneh. Kepalanya digoyangkan.
Sebagian rambutnya yang menyela bahu melesat ke depan membelit pedang Cu Liong yang datang
menyambar. Perwira Kerajaan ini coba menarik pedangnya. Dia jadi terkejut. Karena semakin ditarik,
semakin kuat libatan rambut merah itu!
Ang-mo It-kui menyentakkan rambutnya. Cu Liong berusaha mempertahankan pedang. Tapi dia
kalah kuat. Tubuhnya terbetot ke depan. Detik itu pula gerombolan rambut yang lain dari Ang-mo
It-kui menyambar ke depan, menghantam tepat kening perwira muda itu.
Cu Liong hanya dapat keluarkan rintihan pendek. Di keningnya kelihatan lobang besar yang
mengeluarkan darah dari kepalanya yang rengkah!
***
3
BUKIT kecil itu terletak dua hari perjalanan kuda dari Hankouw. Di sebuah peladangan gandum
yang subur seorang lelaki berusia 40 tahun sibuk menyiapkan hasil ladangnya karena dua hari di muka
seorang pembeli dari Hankouw bakal datang memborong seluruh gandumnya.
Di tepi ladang seorang anak lelaki berumur 8 tahun asyik membuat puput dari gulungan daun
kelapa. Dia adalah Sun Bi anak pemilik ladang gandum itu sedang sang ayah adalah Ki Hok Bun.
Tiba-tiba Hok Bun menghentikan pekerjaannya. Dia berdiri tenang-tenang. Sepasang telinganya
yang tajam mendengar derap kaki kuda di kejauhan. Dia berpaling ke arah bukit. Di lereng tampak
lima orang penunggang kuda bergerak menuruni bukit, diikuti oleh tiga ekor kuda yang membawa
barang.
"Ada orang datang ayah," kata Sun Bi seraya berlari mendapatkan ayahnya.
Ki Hok Bun mengangguk. Hatinya tiba-tiba saja merasa tidak enak. Makin dekat rombongan ke
lima orang itu makin tidak enak perasaannya. Kelima penunggang kuda berseragam jubah hitam.
Di hadapan rumah Ki Hok Bun lima penunggang kuda berhenti dan turun dari kuda masingmasing.
Ingat akan istrinya yang ada di rumah. Ki Hok Bun cepat-cepat keluar dari balik kerimbunan
pohon-pohon gandum. Sun Bi berlari kecil mengikutinya dari belakang.
Sepuluh langkah dari langkan rumah, orang berjubah hitam yang tubuhnya paling tinggi dan
paling besar mengangkat kedua tangannya, tertawa bergelak dan berseru, "Hok Bun ciangkun!"
Sesaat Ki Hok Bun tertegun dan kaget. Sudah sekian lama tak seorang pun pernah lagi
memanggilnya dengan sebutan ciangkun itu. Sebuah sebutan terhormat yang hanya diberikan pada
perwira tinggi Kaisar. Dan kini ada orang yang memanggilnya dengan sebutan itu. Namun ketika dia
mengenali siapa adanya si tinggi besar itu maka diapun berseru gembira.
"Bu ceng enghiong! Kukira siapa. Sungguh pertemuan yang tidak disangka!" Keduanya
kemudian saling rangkul.
Ki Hok Bun lalu berpaling pada empat orang berjubah lainnya dansatu demi satu mereka
merangkul pemilik ladang gandum itu.
"Lima sahabat lama berada di sini. Benar-benar membuat aku gembira."
Karena suara ribut-ribut di luar, The Cun Giok, istri Ki Hok Bun meninggalkan masakannya di
dapur dan menjenguk keluar.
"Ini anak ciangkun ...?" orang berjubah tinggi besar yang bukan lain adalah Nan-king Kui-ong
bertanya sambil memandang pada Sun Bi.
"Betul."
"Dan gadis itu ... ?" lelaki berambut merah Ang-mo It-kui menunjuk ke arah pintu. Mendengar
disebutnya "gadis" yang lain-lain ikut berpaling.
"Dia istriku," menerangkan Ki Hok Bun. "Waktu perang ibunya Sun Bi meninggal dunia. Hidup
sendirian di peladangan begini sepi sekali. Aku lalu mencari pengganti ibunya Sun Bi."
Bola mata lima manusia iblis itu bersinar-sinar seolah-olah hendak menelanjangi sekujur tubuh
Cun Giok. Perempuan yang cantik jelita yang tadinya mereka sangka adalah seorang gadis itu ternyata
adalah istrinya Hok Bun.
Nan-king Kui-ong basahi bibir dengan ujung lidah lalu berkata,
"Ah, sungguh nasibmu jauh lebih beruntung dari kami, ciangkun. Kau kini hidup tenteram,
punya anak, punya ladang luas dan punya istri muda cantik sekali!" Kui-ong basahi bibirnya kembali
dengan uiung lidah dantenggorokannya tampak turun naik.
Diam-diam Hok Bun merasa tidak senang melihat sikap dan cara memandang kelima orang itu
terhadap istrinya.
Cepat-cepat dia berkata, "Cun Giok masuklah. Hidangkan anggur harum. Lalu atur meja.
Sahabatsahabatku ini tentu dahaga dan lapar."
Cun Giok segera masuk ke dalam sementara Hok Bun mempersilahkan kelima orang itu masuk
ke rumah danmengambil tempat duduk. Sambil berkipas-kipas sesekali Nan-king Kui-ong yang nama
aslinya adalah Bu Ceng melirik ke ruang dalam mengintai istri Hok Bun. "Kau beruntung sekali
ciangkun. Beruntung sekali ... " ujar Nan-king Kui-ong.
Hok Bun tersenyum. "Antara kita tak ada lagi ikatan atau hubungan ketentaraan. Karenanya tak
usah menyebutku dengan panggilan ciangkun itu ... "
"Ah, kau terlalu merendah. Kau tahu dalam waktu singkat kau akan dikembalikan pada jabatan
lamamu sebagai perwira tinggi. Bahkan mungkin sebagai seorang jenderal. Dan orang-orang kembali
akan memanggilmu dengan sebutan ciangkun. Kau tak usah sungkan-sungkan. Bukankah begitu
sahabatku?"
Empat orang yang ditanyai sama mengangguk menanggapi ucapan Nan-king Kui-ong itu.
"Bu Ceng enghiong," kata Hok Bun, "kulihat kau habis mengadakan perjalanan jauh bersama
teman-teman. Di luar sana ada tiga kuda membawa peti-peti besar. Apa isi peti-peti itu kalau aku
boleh tahu?"
"Begini ciangkun. Eh, kalau kau tak sudi dengan sebutan itu bagaimana jika kami panggil dengan
sebutan twako saja?" yang berkata adalah si gundul Tiat-thou-kui. Twako artinya kakak dan memang
di antara mereka Hok Bun berusia paling tua. "Kami berlima beberapa hari lalu telah menghadang
anjing-anjing Kaisar Yung Lo di luar kota Nanking. Memang sedang hoki, rombongan anjing Kaisar
itu ternyata membawa sebuah kereta berisi tiga peti emas. Semua anggota rombongan kami bunuh.
Dan kini tiga peti emas itu menjadi milik kita bersama!"
"Kita?" ujar Hok Bun tak mengerti. "Kita siapa maksudmu?"
"Ya kita! Kami dan kau twako!" yang menjawab adalah Ang-mo It-kui.
Hok Bun berpaling pada Bu Ceng alias Nan-king Kui-ong. Sesaat kemudian dia berkata, "Bu
Ceng enghiong, sakit hati kita terhadap mereka yang kini berkuasa memang tak mungkin bisa dihapus
lenyap untuk selama-lamanya. Namun adalah terlalu berbahaya bagi kau dan teman-teman melakukan
perampokan. Apalagi disertai membunuh prajurit Kerajaan dan dua orang perwira. Tokoh-tokoh silat
yang berpihak pada pemerintah sekarang, dibantu ratusan perajurit Kerajaan pasti akan mencari cuwi
sekalian. Kita semua bisa celaka. Termasuk istri dan anakku."
"Siapa takutkan mereka?" tukas Gui-kun Kui-to seraya betulkan letak golok-golok terbangnya
yang berisikan seputar pinggang.
"Memang aku tahu betul para enghiong di sini tidak menaruh takut terhadap mereka. Tetapi
alat-alat Kerajaan bisa bikin susah kita semua dan membuat hidup jadi tidak tenterarn. Perlu diingat,
keadaan sekarang sudah berbeda Bu Ceng enghiong."
"Berbeda bagaimana?" tanya Nanking Kui Ong.
Hok Bun tak menjawab. Setelah menghela nafas panjang dia kemudian bertanya, "Apa gunanya
para enghiong di sini melakukan perampokan itu?"
"Karena perang sebenarnya belum berakhir twako dan kita perlu biaya untuk meneruskan
peperangan," sahut Bu Ceng pula.
"Ah, lagi-lagi aku tidak mengerti jalan pikiranmu," ujar Hok Bun. "Perang sudah lama berakhir.
Sejak lebih dari satu bulan lalu. Sejak jatuhnya Nanking ke tangan orang-orang Kaisar Yung Lo. Sejak
Kaisar Hui Ti yang kita hormati dijebloskan dalam penjara. Apakah kau dan kawan-kawan tidak
melihat kenyataan ini, sobatku?"
Bu Ceng memandang pada keempat kawannya. Sesaat kemudian kelimanya sama tertawa gelak--
gelak. Bu Ceng geleng-gelengkan kepala.
"Kau salah twako. Salah besar. Apakah kau tidak melihat kenyataan bahwa di mana-mana sisasisa
prajurit Kaisar Hui Ti kini tengah melakukan perang gerilya di bawah pimpinan perwira-perwira
yang masih setia. Mereka berusaha menumbangkan kekuasaan Kasiar Yung Lo yang kini mengangkat
diri sebagai Kaisar Kerajaan Beng, di atas darah dan nyawa, di atas pengkhianatan keji. Inilah yang
disebut kenyataan, twako."
"Memang itu adalah kenyataan," jawab Hok Bun pula. "Tapi kenyataan yang tak mungkin bertahan
lama. Jumlah mereka yang bergerilya terlalu sedikit dan kekuatan mereka terpencar-pencar, tak
mungkin menghadapi balatentara Kerajaan, apalagi hendak menumbangkan Kaisar Yung Lo. Mereka
semua akan mati konyol dan perjuangan akan sia-sia. Saat ini di mana musuh berada dalam puncak
kekuatan, adalah bunuh diri kalau kita berani angkat senjata."
"Lantas apakah akan dibiarkan begitu saja anjing besar bernama Yung Lo itu bertahta sebagai
Kaisar yang bukan haknya? Dirampas secara keji?" ujar orang kedua dari Nan-king Ngo-kui yakni
Tui-hun Hui-mo.
"Sudah barang tentu tak dapat dibiarkan. Tetapi juga tidak mungkin untuk menumbangkan
kekuasaannya pada saat sekarang ini. Mereka terlalu kuat. Perajurit-perajuritnya saja berjumlah jutaan,
belum terhitung perwira-perwira tinggi dan pembantu-pembantu dari kalangan kangouw."
(kangouw=dunia persilatan)
Bu Ceng kelihatan beringas. Dia bangkit dari kursinya danmelangkah mundar mandir. Cun Giok
saat itu keluar membawa enam gelas berikut beberapa guci kecil anggur, lalu masuk kembali ke dalam
diikuti sorot mata liar Nan-king Ngo-kui. Tiat-thou-kui menelan liurnya melihat telapak kaki nyonya
rumah yang begitu putih.
"Apa yang aku katakan semuanya benar twako, "terdengar suara Bu Ceng. "Dan justru karena
keadaan yang demikianlah membuat kami datang kemari. Orang-orang terlalu sedikit dan terpencar.
Senjata kurang pula. Di samping itu rakyat kurang membantu karena takut terhadap pemerintah.
Namun walau bagaimanapun perjuangan ini harus dilanjutkan. Menumbangkan Yung Lo dan
mengangkat kembali Kaisar Hui Ti. Perjuangan ini bukan saja memerlukan tenaga tetapi juga biaya.
Dan biaya itu rasanya sudah mulai kita dapatkan. Yakni dengan adanya tiga peti besar berisi emas
yang tak ternilai harganya itu. Ini baru sebagian kecil saja dari modal kita untuk menghimpun orangorang
yang masih setia terhadap Kaisar Hui Ti. Kita akan mempersenjatai mereka, melatih mereka
untuk perang. Dengan kekayaan yang kita miliki bahkan kita dapat membeli orang-orang berkepandaian
tinggi untuk menyingkirkan Yung Lo, kaki-kaki tangannya serta cecungukcecungguknya!"
"Semua rencanamu itu sama saja dengan mimpi siang bolong, Bu Ceng enghiong. Jika kau
terbangun musnahlah mimpi itu. Jika kau nekad untuk meneruskannya maka celaka akan
menghadang."
"Setiap perjuangan harus dengan pengorbanan. Kami berlima tidak takut mati, entah twako,"
tukas Ang- mo It-kui dengan nada pedas.
"Kau betul sekali," menyahuti Hok Bun. "Perjuangan harus dengan pengorbanan. Tapi
pengorbanan yang sia-sia apa gunanya? Harap kalian merenungkan hal itu baik-baik."
Nanking Kui Ong menghentikan langkah mundar-mandir. Nadanya agak geram ketika berkata,
"Aku dan kawan-kawan datang kernari bukan membawa persoalan untuk direnungkan. Kami datang
membawa rencana guna dilaksanakan. Dan kau harus ikut bersama kami twako!"
Hok Bun usap-usap dagunya.
"Maafkan aku. Itu tidak mungkin kulakukan. Aku tidak mau melibatkan diri dengan kalian. Aku
sudah muak dengan peperangan."
Nan-king Kui-ong danempat kawannya terkejut mendengar ucapan Hok Bun itu dan saling
pandang. Mereka tidak menyangka kalau kata-kata seperti itu bakal keluar dari mulut Ki Hok Bun.
Seorang bekas perwira tinggi yang semasa perang dulu menjadi atasan dan pimpinan mereka.
"Ki Hok Bun twako," kata Nanking Kui Ong dengan suara bergetar. "Kau yang dulu dijuluki
Kim-hong Kiam-khek atau Pendekar Pedang Pelangi, terkenal dimana-mana, ditakuti lawan di segala
penjuru dandisegani serta dihormati teman seperjuangan, apakah kini telah berubah menjadi macan
kertas yang paling pengecut di muka bumi ini? Tinggal nama belaka?"
Wajah Hok Bun tampak menjadi merah kelam mendengar kata-kata bekas anak buahnya itu.
Lalu dengan menahan emosi dia berkata, "Aku tak akan bicara panjang lebar mengenai rencana
ataupun perjuangan kalian. Jika kalian berlima masih menghormatiku sebagai bekas pimpinan maka
dengarlah nasihatku. Untuk sementara lupakan segala sesuatu yang berbau perjuangan. Jauhkan
keterlibatan dengan perang. Cobalah menempuh hidup yang damai tenteram. Dengan bermodalkan
tiga peti emas itu kalian bisa memulai hidup baru yang bahagia bahkan mewah. Bukankah itu lebih
baik dari harus mengorbankan diri menantang bahaya api peperangan?"
Ang-mo It-kui geleng-geleng kepala dan menoleh pada Nan-king Kui-Ong. "Pangcu, percuma
saja. Ki Hok Bun yang di depan kita ini agaknya sudah bukan lagi manusia gagah yang berjuluk Kimhong
Kiam-khek seperti dulu. Sekarang dia telah berubah menjadi manusia pengecut, banci bahkan
mungkin sudah jadi tikus!"
"Tutup mulutmu Ang-mo It-kui! Jangan kurang ajar!" hardik Ki Hok Bun dan plak!
Tamparannya dengan keras mendarat di pipi Ang-mo It-Kui. Demikian kerasnya hingga orang
keempat dari Nan-king Ngo-kui ini terjajar beberapa langkah, menyeringai kesakitan.
Sebenarnya rasa sakit itu tidak begitu dirasakan oleh Ang-mo It-kui. Namun marah dan malu
membuat dia jadi kalap mata gelap. Dia berteriak garang. Lalu sambil menggembor seperti harimau
luka dia melompat ke depan, menyerang Ki Hok Bun bekas perwira tinggi Kerajaan itu dengan satu
jotosan maut ke arah dada di bagian jantung!

***

untuk membaca cerita ini selanjutnya download di : Iblis dari Nanking

Tidak ada komentar:

Posting Komentar