Kamis, 23 Juni 2011

WIRO SABLENG _ EMPAT BREWOK DARI GOA SANGRENG

WIRO SABLENG
EPISODE 001
EMPAT BREWOK DARI GOA SANGRENG
Empat Brewok dari Goa Sanggreng

SATU
“Ini!” kata laki-laki berkumis melintang itu dengan suara kasar. ”Berikan sama dia!
Aku harus terima jawaban hari ini juga, Kalingundil!! Kau dengar!?” Orang yang bernama
Kalingundil mengangguk. Diambil surat yang disodorkan.
”Kalau dia banyak bacot.....,” kata laki-laki berkumis melintang itu pula, ”bikin beres
saja. Berangkat sekarang, jika perlu bawa Saksoko!” Kalingundil berdiri dan meninggalkan
ruangan itu. Dan bila Kalingundil baru saja lenyap di balik pintu maka menggerendenglah
Suranyali, laki-laki yang berkumis tebal itu.
”Betul-betul perempuan laknat! Perempuan haram jadah!” Dibulatkannya tinju
kanannya dan dipukulkannya meja kayu jati di hadapannya.
”Brakk!!”
Papan meja pecah. Keempat kaki meja amblas sampai tiga senti ke dalam lanci ubin
dan ubin sendiri retak-retak! Kemudian dia berdiri. Tubuhnya menggeletar oleh amarah
yang
hampir tak bisa dikendalikannya lagi. Dan mulutnya terbuka kembali. Dia memaki-maki
seorang diri.
”Perempuan keblinger! Ditinggal satu tahun tahu-tahu kawin! Bunting malah dan
punya anak malah! Keparat!” Suranyali berdiri dengan nafas menghempas-hempas di
muka
jendela lalu dia melangkah ke meja lain yang juga terdapat di ruangan itu. Dari dalam
sebuah
kendi diteguknya air putih dingin. Tapi baru dua teguk air melewati tenggorokannya, isi
kendi
itu sudah habis.
”Keparat!” maki Suranyali lagi. Dibantingkannya kendi itu ke tanah hingga pecah
berantakan. Seorang perempuan paruh baya memunculkan kepalanya di pintu sebelah
sana
namun melihat Suranyali yang lagi beringasan ia cepat-cepat diam menghilang kembali.
Akhirnya, Suranyali letih sendiri memaki-maki dan marah-marah seperti itu.
Dibantingkannya badannya ke sebuah kursi. Dan kini terasa olehnya betapa letih
badannya.
”Ludjeng!” teriak Suranyali.
Perempuan separuh baya yang tadi memunculkan diri di pintu masuk bergegas.
”Ya, Denmas Sura....”.
”Kau juga keparat!” damprat Suranyali pada perempuan itu. Ludahnya menyemprot
dan Wilujeng tak berani menyeka ludah yang membasahi mukanya.
”Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku dengan nama itu! Apa kau sudah
Wiro Sableng : Versi TV dengan pemeran Ken -Ken
gila hingga lupa terus-terusan?!? Kau gila ya, hah?!!.” Wilujeng terdiam dengan tubuh
menggigil ketakutan. Lagi-lagi dia lupa. Lagi-lagi dia memanggil dengan Sura padahal
sudah
sering Suranyali memerintahkan agar dia memanggil dengan nama Mahesa Birawa.
”Perempuan monyong! Aku tanya kau sudah gila? Jawab!”
”Tidak, Denmas Su....., eh Mahesa Birawa.....”
”Kalau tidak gila kau musti sinting! Ambilkan aku air, lekas!”
Wilujeng putar tubuh. Sebentar kemudian dia sudah kembali membawa segelas air
putih. Air yang dingin itu menyejukkan hati Suranyali sedikit. Kemudian dia duduk tenangtenang
di kursi itu dan bila matanya dipicingkannya, maka kembali terbayang saat setahun
yang lewat.
Waktu itu dia sudah lama berkenalan dengan Suci. Dia tahu bahwa gadis itu tidak suka
terhadapnya, tapi dengan menemui Suci terus-terusan di tepi kali tempat mencuci, dia
berharap lama-lama akan dapat juga melunakkan hati gadis itu. Memang akhirnya Suci
mau
juga bicara-bicara melayani Suranyali, tapi ini bukanlah karena dia suka terhadap Sura
melainkan karena kasihan belaka. Tapi celakanya Suranyali salah tafsir. Dia menduga
bahwa
kini Suci sudah terpikat kepadanya.
Satu ketika Sura dipanggil oleh seorang sakti di gunung Lawu. Sebelum pergi, Sura
menemui Suci dan berkata, ”Suci, aku akan pergi ke Gunung Lawu. Mungkin satu tahun
lagi
aku baru kembali. Kuharap kau mau menunggu dengan sabar. Jika aku kembali aku akan
mengawini kau.....”
”Tapi Kangmas Sura.....”
Suci menghentikan kata-katanya karena saat itu dilihanya Suranyali melangkah ke
hadapannya dan mengulurkan tangan untuk memeluknya.
Suci mundur.
”Jangan, Kangmas. Nanti kelihatan orang.....”
Kemudian Suranyali pergi tanpa ada lagi kesempatan bagi Suci untuk menerangkan
bahwa dia tidak suka laki-laki itu, bahwa dia menolak lamaran tadi! Dan dalam kepergian
Suranyali itu maka Suci kemudian kawin dengan Ranaweleng seorang pemuda yang
dicintainya dan juga mencintainya. Bagi Suci perkawinannya dengan Ranaweleng itu sama
sekali bukan pengkhianatan atas diri Suranyali karena memang dia tidak mencintai
Suranyali
dan juga tak pernah menyatakan cintanya.
Demikianlah, bila hari itu Suranyali kembali dari perjalanannya maka kabar yang
pertama yang didengarnya, yang begitu menyentakkan darah amarahnya ialah bahwa Suci
telah kawin dengan Ranaweleng. Kedua suami istri itu bahkan sudah mempunyai seorang
anak laki-laki. Kehidupan mereka meski sederhana tapi bahagia dan kini Ranaweleng
sudah
menjadi Kepala Kampung Djatiwalu.
Jika Suranyali seorang manusia punya muka dan punya harga diri, sebenarnya
mengetahui perkawinan Suci itu dia musti bersikap mundur karena adalah memalukan
sekali
bila dia terus-terusan menginginkan Suci sedang Suci tidak mencintainya apalagi kini
sudah
bersuami dan beranak pula. Tapi dasar Suranyali bukan manusia berpikiran jernih, lekas
kalap
dan naik darah membabi buta, maka hari itu juga dikirimkannya anak buahnya ke
Djatiwalu
untuk membawa sepucuk surat ancaman kepada Ranaweleng.
Suranyali yang kini memakai nama Mahesa Birawa bangkit dari kursinya ketika
didengar suara gemuruh kaki-kaki kuda di halaman. Dia melangkah ke jendela dan
memperhatikan kepergian kedua orang anak buahnya. Jari-jari tangannya mencengkeram
sanding jendela.
”Suci musti dapat..... musti dapat!” katanya dalam hati yang dikecamuk amarah itu.
”Kalau tidak.....,” Mahesa Birawa tak meneruskan kata-katanya. Sebagai gantinya tangan
kirinya bergerak memukul dinding jendela. Dan kayu sanding itu pecah berantakan!!

DUA
Keduanya menghentikan kuda di hadapan seorang laki-laki tua yang tengah mencabuti
rumput halaman. Tanpa turun dari kudanya, Kalingundil bertanya dengan membentak
kasar,
”Ini rumahnya Ranaweleng?!”
Orang tua berdiri perlahan-lahan dari jongkoknya. Ketika berdiri nyatalah bahwa
tubuhnya pendek dan bongkok. Ditengadahkannya kepalanya dan dikeataskannya topi
bambu
yang menutupi keningnya untuk dapat melihat orang yang telah bicara kepadanya. Orang
tua
ini tak segera berikan jawaban melainkan melirik kepada Saksoko yang duduk di atas
pungung kuda di sisi kanan Kalingundil.
”Orang tua bego!” maki Kalingundil. Laki-laki bertubuh langsing ini memang bersifat
tidak sabaran. ”Aku tanya ini rumahnya Ranaweleng?!”
”Ya!” jawab Kalingundil.
”Ada keperluan apa Saudara?”
Si gemuk pendek Saksoko kini yang buka suara. Suaranya parau dan tidak enak
didengar. ”Tak perlu tanya keperluan kami. Kamu orang tua pikun minggirlah!”
Saksoko menyentakkan tali kekang kudanya. Sekali kuda itu menghambur ke depan
maka terpelantinglah si orang tua kena terajakan kaki binatang yang ditunggangi Saksoko
itu!
Orang tua itu bangun dengan perlahan-lahan. Matanya yang mengabur dimakan umur
kelihatannya menyorot. Dengan kaki kirinya ditendangnya secara acuh tak acuh topi
bambunya yang tergeletak di tanah.
Topi itu melesat ke muka laksana anak panah cepatnya dan menghantam kemaluan
kuda yang ditunggangi oleh Saksoko. Kuda jantan itu meringkik dahsyat. Kedua kaki
depannya melonjak ke atas tinggi-tinggi dan Saksoko terpelanting ke tanah!
Si orang tua diam-diam merasa puas. Dengan sikap seperti tidak terjadi apa-apa dia
memutar tubuh jongkok kembali dan mulai lagi mencabuti rerumputan di halaman!
Bola mata laki-laki gemuk pendek itu berpijar-pijar. Untuk beberapa lamanya segala
sesuatunya menjadi guram dalam pemandangannya.
”Saksoko, ada apa dengan kau?!” tanya Kalingundil terkejut dan heran.
”Aku sendiri tidak tahu,” sahut Saksoko seraya bangun dengan menepuk-nepuk pantat
celananya. Dia memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa kecuali orang tua yang tadi
tengah mencabuti rumput. Kemudian mata laki-laki itu membetnur topi bambu yang
tergeletak tak berapa jauh dari tanah. Hatinya curiga. Tapi bila dilihatnya lagi orang tua
kurus
dan bongkok itu kecurigaannya menjadi sirna. Tak mungkin, pikirnya. Tak mungkin kalau
kakek-kakek pikun itulah yang telah melemparkan topi bambu itu ke kuda tunggangannya.
Kalingundil juga memandang berkeliling dengan hati bertanya-tanya. Dilihatnya orang
tua itu. Dilihatnya topi itu. Kemudian dia berkata, ”Kurasa orang tua kerempeng itu.....”
Kalingundil memang lebih tajam penglihatannya dan perasaannya. Dalam ilmu silatpun dia
lebih tinggi dua tingkat di atas Saksoko.
”Mana mungkin,” kata Saksoko pula tidak percaya.
”Coba kita lihat.”
Kalingundil turun dari kudanya. Diambilnya topi yang tergeletak di tanah.
Diperhatikannya topi bambu ini seketika. Matanya melirik pada orang tua yang masih
jongkok dan mencabuti rumput dekat pagar halaman. Kalingundil menggerakkan tangan
kanannya. Topi terlepas dari tangan itu dan melesat deras ke arah kepala si orang tua.
Begitu acuh tak acuh sekali, orang tua yang jongkok membelakangi itu gerakkan
tangan kanannya untuk menggaruk bagian belakang kepalanya. Dan adalah mengejutkan
kedua orang anak buah Mahesa Birawa atau Suranyali ketika melihat bagaimana topi
bambu
itu melesat ke samping dan menggelinding di tanah!
Kalingundil dan Saksoko saling pandang.
”Apa kataku, kau lihat?” desis Kalingundil.
Melihat kenyataan ini maka geramlah si gemuk pendek Saksoko.
”Orang tua edan!” makinya. ”Punya sedikit ilmu saja sudah mau kasih pamer!” Dia
membungkuk dan meraup pasir. Raupan pasir itu dilemparkannya ke arah si orang tua.
Meski
hanya pasir namun karena diisi dengan tenaga dalam maka pasir itu melesat hebat dan
dapat
melukakan kulit membutakan mata!
Si orang tua tiba-tiba berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ditepuk-tepuknya pakaian
hitamnya seperti seseorang yang sedang membersihkan debu dari pakaiannya. Tapi
gerakannya ini sekaligus membuat berhamburannya pasir-pasir halus yang menyerang ke
arahnya!
”Kurang ajar betul!” damprat Saksoko karena merasa semakin ditantang dan
dipermainkan. Dia menerjang ke muka. Dalam jarak beberapa tombak dilepaskannya
pukulan
tangan kosong. Orang tua itu memutar badannya yang bungkuk ke samping.
”Apa-apaan ini?!” tanyanya dengan suaranya yang halus melengking, ”ada apa kau
serang aku?!”
Namun gerakannya tadi sekaligus telah melewatkan angin pukulan Saksoko hanya
beerapa jengkal saja di depan hidungnya.
Saksoko kertak rahang.
”Orang tua gelo! Siapa kau sebetulnya?!”
Orang tua itu menyeringai menunjukkan gusinya yang tidak bergigi barang
sepotongpun.
”Aku sudah tua, tak usah bicara memaki!,” katanya dan didorongkannya telapak
tangan kanannya ke depan. Setiup angin dahsyat melanda tubuh Saksoko. Kalau tidak
cepatcepat
menghindar pastilah si gemuk pendek ini akan mendapat celaka.
Begitu melompat ke samping segera dia kirimkan satu jotosan kepada orang tua itu.
Pada saat inilah dari pintu rumah terdengar seruan keras:
”Ada apa di sini?! Tahan!!”
Saksoko tarik pulang tangannya dan berpaling. Seorang laki-laki muda berparas gagah
dilihatnya keluar dari rumah dan berdiri di tangga langkan. Kemudian dilihatnya Kalingundil
memberi isyarat agar datang mendekatinya. Meski hatinya masih diselimuti amarah
terhadap
si orang tua tapi melihat isyarat kawannya itu segera dia datang juga. Keduanya
melangkah ke
hadapan langkan rumah.
”Kau Ranaweleng?” tanya Kalingundil membentak.
Selama menjadi Kepala Kampung di Jatiwalu, baru ini harilah Ranaweleng dibentak
orang demikian rupa dan oleh orang asing pula! Dari tampang-tampang serta sikap kedua
tamunya itu Ranaweleng segera maklum bahwa mereka tentu datang bukan membawa
maksud baik. Namun demikian, dengan suara ramah dia menjawab:
”Betul, Saudara, aku memang Ranaweleng,” lalu tanyanya kemudian, ”Saudarasaudara
datang dari mana dan ada keperluan apakah?”
Kalingundil cabut gulungan surat dari balik pakaiannya.
”Ini! Silahkan dibaca!” katanya.
Gulungan surat itu dilemparkannya ke hadapan Ranaweleng. Karena lemparan itu
disertai dengan aliran tenaga dalam maka surat tersebut melesat berdesing dan ujung
kayu di
mana surat itu disepit menancap pada tiang langkan!
Ranaweleng kaget. Ditekannya rasa kaget itu dan dicabutnya surat yang menancap
dari tiang langkan lalu dibacanya. Kalingundil dan Saksoko memperhatikannya dengan
bertolak pinggang.
Ranaweleng keparat!
Aku kasih tempo satu hari untukmu agar angkat kaki
dari Jatiwalu ini! Bawa anakmu tapi tinggalkan
istrimu! Ini adalah perintah! Kalau kau tidak patuhi,
jangan harap kau bisa melihat matahari tenggelam
esok hari! Ini adalah perintah!
Mahesa Birawa
Bergetar tubuh Ranaweleng. Dadanya panas dikobari luapan hawa amarah. Dia tak
pernah kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu, bahkan juga tak pernah
dengar nama atau riwayat manusia itu sebelumnya.
Matanya memandang melotot pada kedua tamunya. ”Mahesa Birawa ini siapa?” tanya
Ranaweleng.
Kalingundil meludah dahulu ke tanah sebelum menjawab. ”Laki-laki yang kau rampas
kekasihnya dan yang kini menjadi istrimu!”
Kaget Ranaweleng bukan alang kepalang. Belum dia sempat bicara Saksoko sudah
mendahului. ”Mahesa Birawa inginkan jawabanmu hari ini juga Ranaweleng!”
Kalingundil menyambungi, ”Dan sebaiknya..... apa yang tertulis di surat itu kau ikuti
saja.”
”Kalau tidak?,” tanya Ranaweleng menindih rasa geramnya.
Kalingundil tertawa mengekeh. Gigi-giginya kelihatan besar-besar dan coklat
kehitaman.
Ranaweleng tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Diremasnya dan dipatahpatahkannya
kayu penyepit surat lalu dilemparkannya ke kepala Kalingundil, tepat
mengenai
mulut yang sedang tertawa mengekeh itu!
”Bangsat rendah!” hardik Kalingundil. Dia meloncat ke muka. ”Kau berani berlaku
kurang ajar terhadapku, huh?!”
”Tak usah jual lagak di sini, setan!” balas menghardik Ranaweleng. ”Kalian budakbudak
sinting kembalilah kepada majikan kalian! Bilang sama itu manusia Mahesa Birawa
agar lekas-lekas pergi mencari dukun untuk mengobati otaknya yang tidak waras!”
”Betul-betul anjing budak yang tidak tahu diri!” semprot Saksoko. Dari tadi dia
memang sudah beringasan gara-gara si orang tua yang telah mempermainkan dan
setengah
menantangnya tadi. Sekali dia ayunkan langkah maka satu tendangan yang didahului oleh
angin hebat melanda ke bawah perut Ranaweleng.
Melihat musuh yang inginkan jiwanya ini Ranaweleng menggeram dan kertakkan
rahang. Dia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan.
Saksoko
bukan manusia yang baru belajar ilmu silat kemarin. Sambil melompat ke atas lututnya
ditekuk dan disorongkan ke kepala lawan. Ranaweleng merunduk dan lompat ke samping.
Sebelum dia berbalik untuk mengirimkan pukulan ke punggung lawan yang saat itu masih
belum menginjak lantai langkan maka terdengarlah suara seseorang.
”Ah, Raden Ranaweleng, mengapa musti mengotori tangan terhadap kunyuk kesasar
ini?! Biar aku si tua bangka Jarot Karsa yang kasih sedikit pelajaran sopan santun
terhadapnya!”
Ternyata yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi
mencabuti rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala Kampung Jatiwalu.
Mendengar dirinya dimaki sebagai kunyuk kesasar maka marahlah Saksoko. Dia
membalik dan menyerang orang tua itu kini dengan satu pukulan jarak jauh yang
menimbulkan angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke pusat jantung di dada Jarot
Karsa. Dengan begitu Saksoko berkehendak untuk mencabut nyawa si orang tua detik itu
juga!
Tapi Jarot Karsa ganda tertawa.
Sekali dia gerakkan tangan kanannya yang kurus maka setiup angin dahsyat memapaki
serangan si gemuk pendek Saksoko. Angin pukulan Saksoko menyungsang balik
menyerang
Saksoko sendiri. Ditambah dengan dorongan angin pukulan si orang tua maka
kedahsyatannya bukan olah-olah!
Tubuh Saksoko mencelat keluar langkan rumah sampai tiga tombak dan
menggelinding di tanah. Dicobanya bangun kembali. Tapi tubuhnya itu segera rebah lagi
setelah terlebih dahulu dari mulut Saksoko menyembur darah kental dan segar!
Kaget Kalingundil bukan kepalang. Mukanya hitam membesi. Laki-laki ini menerjang
ke depan. Terjangan ini disertai dengan bentakan yang keras menggeledek membuat
langkan
rumah dan tanah menjadi bergetar!
Jarot Karsa merunduk cepat. Gerakannya ini disusul dengan cepat oleh Kalingundil.
Serangkum angin keras dan dingin menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh orang tua.
Pasir
menderu beterbangan, debu menggebu.
Jarot Karsa cepat-cepat dorongkan tangan kanannya ke muka. Maka dua angin
pukulan bertemu di udara menimbulkan suara berdentum seperti letusan meriam! Tubuh
Jarot
Karsa kelihatan bergoyang gontai sedang Kalingundil terdampar ke tanah tapi cepat
bangun
lagi.
Keringat dingin memercik di kening anak buah Mahesa Birawa ini. Nyalinya menciut
kecil. Tak nyana si orang tua memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya sama
sekali
kalau tenaga dalamnya ada di bawah angin berhadapan dengan tenaga dalam Jarot Karsa!
Tapi laki-laki ini, yang menjadi buta matanya dan tumpul pikirannya karena amarah
dan kebencian yang meluap, tidak memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang tua
bukan
tandingannya.
Kedua tangannya dipentang ke muak. Tangan itu kelihatan bergetar. Jarot Karsa dan
juga Ranaweleng memperhatikan gerak gerik manusia itu dengan tajam. Kelihatan kini
bagaimana sepasang lengan Kalingundil sampai ke jari-jari tangannya berwarna
kehitaman.
”Ha.....ha....,” terdengar kekehan si tua Jarot Karsa, ”Kau hendak pamerkan ilmu
lengan tangan baja?!”
Kalingundil terkejut. Terkejut karena belum apa-apa musuh sudah mengetahui ilmu
simpanan yang paling diandalkannya. Tapi ini tidak diperlihatkannya, bahkan dia pentang
mulut.
”Bagus, penglihatanmu masih tajam juga, huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu
pukulan lengan tangan baja ini?!”
”Kau tak perlu banyak bacot, Kalingundil, majulah!” tantang Jarot Karsa.
Kalingundil menggeram. Kebetulan saat itu dia berdiri di dekat langkan rumah. Sekali
ayunkan tangan kanannya maka: brak!! Tiang langkan yang besarnya hampir menyamai
paha
manusia patah. Atap rumah menurun miring!
Sebenarnya Jarot Karsa kagum juga dengan kehebatan ilmu lawannya itu. Tapi
sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan masakan dia
jerih
menghadapi ilmu pukulan macam begitu saja!
”Ayo monyet kesasar, majulah!” katanya dengan terbungkuk-bungkuk.
Kedua telapakan kaki Kalingundil menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke muka, sedikit
miring. Kaki kiri dan kanan mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu kemudian
menyusul sepasang lengannya yang menghitam oleh aji ’lengan tangan baja.’ Angin yang
ditimbulkan oleh serangan dua lengan ini dahsyatnya bukan alang kepalang, tajam dan
memerihkan mata. Lengan kiri membabat ke pinggang Jarot Karsa, kalau kena pastilah
pinggang orang tua itu akan terkutung dua. Lengan kanan menghantam dari atas ke
bawah
mengincar batok kepala Jarot Karsa. Dapat dibayangkan bagaimana dalam sekejapan mata
lagi kepala si orang tua akan hancur berantakan!
Pekikan setinggi langit yang hampir merupakan lolongan serigala haus darah
melengking menegakkan bulu roma! Kalingundil melingkar di tanah. Nafasnya sesak,
lidahnya menjulur keluar seperti orang yang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya
bergerak-gerak beberapa lamanya kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya,
tubuh
itu pun tak bergerak-gerak lagi! Kalingundil pingsan menyusul kawannya yang terdahulu.
Ranaweleng menghela nafas dalam. Dipandanginya kedua manusia yang melingkar di
tanah itu. Kemudian dia berpaling pada si orang tua. ”Bapak Jarot Karasa, kau kenal
dengan
manusia yang bernama Mahesa Birawa itu?”
Jarot Karsa menggeleng.
”Siapa dia tak penting Raden. Yang penting ialah mulai saat ini kita musti waspada
karena cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat perhitungan
dengan
kita!”
Ranaweleng mengangguk.
”Aku tak ingin melihat kdua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan mereka,
pak Jarot.”
Si orang tua tertawa mengekeh.
”Tak usah khawatir...... tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan
hidungmu, Raden.”
Dua kali kaki kanan Jarot Karsa yang kurus kering itu menendang. Tubuh Kalingundil
dan Saksoko mencelat seperti bola, dan angsrok di luar pagar halaman.


......


Bastian Tito
Wiro Sableng adalah Karya Legenda dari Bastian Tito

Minggu, 19 Juni 2011

Candi klero

Candi Klero
Keindahan yang benar benar tersembunyi dan terlupakan….. miris!
 Jumat, 17 Juni 2011 setelah shalat Jumat , sekitar Jam satu, saya meluncur dari Ungaran menuju ke Tengaran, tepatnya saya menuju candi Klero. Jam 2 lebih 15 meniit saya sampai di Klero, setelah beristirahat sejanak untuk beli minum di salah satu minimarket yang ada di situ akhirnya saya melanjutkan tujuan utama saya….
Papan tanda dimana Candi Klero dimana....
Gang Masuk ke Candi Klero
Tidak adanya petunjuk sama sekali, sedikit menyulitkan saya untuk menemukan kebedaraan candi, dengan berbekal informasi dari sebuah blog, letak Candi Klero ada di Jl. Solo-Semarang Km.12 saya nekat memperkirakan saja, sambil sesekali bertanya pada masyarakat yang saya temui. (sampai 17 Juni 2011 belum ada petunjuk yang saya maksud)
 reruntuhan batu, di halaman candi
bringin putih
Agar sahabat tidak tersesat saya mencoba membuat petunjuk dimana candi itu berada… bila sampai di Km 12 Tengaran pelan-pelan saat mengendari tranportasi yang sahabat gunakan,  apabila sahabat dari arah Semarang, lihat  papan warna merah  disebelah kanan (apabila dari solo berarti papan warna merah ini berada disebelah kiri) agar mempermudah saya mencarikan penanda yang terlihat jelas.
Kemudian, (masih dari arah Semarang) di sebelah kirinya akan sahabat temui gang desa yaitu Dusun Ngentak Klero. Masuk saja ke gang menyusuri jalan gang tersebut, mohon berhati-hati (saat saya kesana) kondisi jalan rusak,  kurang lebih 100meter disebelah kiri nanti sahabat temui gapura kecil ditengah kebun sebelah kanan. Dari Gapura tersebut akan terlihat Candi Klero.
Candi Klero berdampingan dengan kompleks makam desa yang keberadaannya cukup dikeramatkan,  ada juga 2 pohon beringin yang cukup besar dan menjulang tinggi, memberi keteduhan makan dan Candi Klero Ini. Jangan lupa berdoa dulu sebelum masuk ke Candi ini, juga jangan "neko-neko' bila berada di candi ini... 




Tidak ada petugas satupun di Candi ini, hanta ada beberapa orang muda yang asik nongkrong dikawasan ini. (---sayangnya tidak ada yang bisa dikorek keterangan tentang candi ini…. L----) disekeliling candi sudah dibangun pagar yang relatif tinggi, aman sic, tapi malah menutup keindahan candi (menurut saya), jadi tidak bebas menikmati Candi dari kejauhan. Setelah membuka pintu gerbang yang tidak terkunci, mulailah saya meng”eksplor keindahan Candi Klero….
Yoni di Candi Klero
 Candi “Kecil’ yang tidak sungguh-sungguh kecil kalau kita bisa membayangkan bagaimana para pendahulu kita menyusun ‘puzzle’ bebatuan menjadi mahakarya ini. Candi Klero adalah candi hindu terbukti dengan adanya yoni dan Arca Siwa. namun yang tersisa hanya yoni yang berada didalam candi ini, arca siwa sudah tidak berada di Candi ini. menurut sumber, arca tersebut kini disimpan di museum purbakawa Jateng. Di bagian  depan candi ada pahatan / prasasti tulisan kuno, yang belum dimengerti artinya.
Setiap hari raya agama Buddha, khususnya Waisak, tempat itu dikunjungi oleh banyak orang yang datang untuk bersembahyang. Biasanya mereka juga membawa bunga dan lilin yang menyertai doa ritual mereka. 
Di luar itu, tempat itu dikunjungi orang pada setiap Selasa Kliwon dan jumat Kliwon. Mereka kebanyakan berasal dari luar kota dan biasanya datang untuk berdoa. Tidak sedikit dari mereka yang menginap di bagian dalam candi tersebut.  terbukti di sekitar yoni banyak bekas pembakaran dupa, bunga maupun brbagai sesajen, di pintu masuk ke dalam candi juga di beri tirai dari bambu.
Stupa Atap candi Klero
Bangunan Candi Induk Klero mirip dengan Candi Sambisari namun tidak ada dinding yang mengelilinginya. Selain itu hanya terdapat satu candi induk tanpa ada candi perwara. namun banyak reruntuhan bebatuan disekitar candi, ada pula alat alat pertanian di depan bangunan Candi Klero ini. Sedikitnya informasi berkaitan dengan candi ini menjadikan saya mengambil gambar ornamen candi yang membuat saya tertarik saja, seperti relief di tangga pintu masuk candi
tangga di candi Klero
Candi Klero
arca Siwa dimana dulu ada di bagian ini
Batu Kotak Berlubang di setiap sisi Candi
Candi tersebut pernah direnovasi  dari BPPP, bangunan badan candi tersebut dinaikkan dan dirapikan. Beberapa bagian dari candi yang batunya hilang telah diganti dengan yang baru. terlihat dari beberapa ornamen yang sudah tidak asli lagi, dalam proses rekontruksi ini terlihat pula menggunakan semen. walaupun mengurangi keindahan, tetapi harus pula diapresiasi usaha melestarikan candi klero ini. Tinggi candi  sekitar 3,5 meter, sedang panjang bangunan candi itu sekitar 12 meter. diatas candi ada stupa, dan menurut saya menjadi bagian paling menarik  dari candi ini. Sementara itu, disekeliling bangunan candi ada 12 batuan berbentuk kotak yang ditengahnya ada lubangnya. untuk fungsi dan kegunaan belum diketahui..
Mbah Lumpang Kentheng merupakan nama batu yang ditemukan berbentuk lumpang dan alu di samping candi. Lumpang dan alu tersebut terbuat dari batu andesit. 

Berpose di Lumpang Candi Klero
 tak terasa, 2 jam sudah saya menikmati Candi Klero ini. sungguh puas. di antara keheningan Candi Klero ini tegak melawan arus perubahan Zaman, walau sudah terlupakan tapi tetap menghirupkan nafas keagungan seni budaya masa lalu bangsa indonesia..
Candi Klero tersenyum bisu di pinggir keramaian Jalan Solo Semarang
 sampai jumpa lagi di petualangan selanjutnya..... salam...

Rabu, 15 Juni 2011

RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT

( Sirna Ilang Kretaning Bumi )
Wilayah Majapahit

Kehancuran Kerajaan Majapahit, yang di sertai tumbuhnya negara-negara Islam di Bumi Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang sangat menarik untuk diungkap kembali. Sebagai kerajaan Hindu terbesar di tanah Jawa, Majapahit bukan saja menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, sudah menjadi bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengah islamisasi pada masa peralihan. Keruntuhan Kerajaan Majapahit banyak mengantarkan suatu peradaban bagi orang China dalam proses islamisasi di Nusantara. Stigma yang kecenderungan para sejarawan dalam mengungkapkan bahwa kedatangan Islam di Indonesia lebih pada kecenderungan orang Arablah yang berjasa sebagai penyebar Islam, sehingga tidak pernah melirik, orang China pernah andil dalam membangun peradaban Islam.
Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat nusantara. Catatan sejarah dari China, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.
Peristiwa keruntuhan Majapahit yang berpusat di Mojokerto diyakini terjadi tahun 1478, namun sering diceritakan dalam berbagai versi, antara lain:
Raja terakhir adalah Brawijaya. Ia dikalahkan oleh Raden Patah dari Demak. Brawijaya mengundurkan diri dan pindah ke gunung Lawu, kemudian masuk agama Islam melalui Sunan Kalijaga, dimana pengikut setianya yaitu Sabdapalon dan Noyogenggong sangat menentang kepindahan agamanya.Sehingga, dikenal adanya semacam sumpah dari Sabdopalon dan Noyogenggong, yang salah satunya mengatakan bahwa sekitar Teori ini muncul berdasarkan penemuan Kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong. 500 tahun kemudian, akan tiba waktunya, hadirnya kembali agama budi, yang kalau ditentang, akan menjadikan tanah Jawa hancur lebur luluh lantak.
Ada pula yang mengisahkan Brawijaya melarikan diri ke Bali. Meskipun teori yang bersumber dari naskah-naskah babad dan serat ini uraiannya terkesan tidak masuk akal, namun sangat populer dalam masyarakat Jawa.
Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya. Teori ini muncul berdasarkan penemuan prasasti Petak yang mengisahkan peperangan antara keluarga Girindrawardhana Dyah melawan Majapahit.
Raja terakhir adalah Bhre Pandansalas yang dikalahkan oleh anak-anak Sang Sinagara. Teori ini muncul karena Pararaton tidak menyebutkan secara tegas apakah Bhre Kertabhumi adalah raja terakhir Majapahit. Selain itu kalimat sebelumnya juga terkesan ambigu, apakah yang meninggalkan istana pada tahun 1390 Saka (1468 M) adalah Pandansalas, ataukah anak-anak Sang Sinagara. Teori yang menyebut Pandansalas sebagai raja terakhir mengatakan kalau pada tahun 1478, anak-anak Sang Sinagara kembali untuk menyerang Majapahit. Jadi, menurut teori ini, Pandansalas mati dibunuh Bhre Kertabhumi dan sudara-saudaranya.
Majapahit runtuh tahun 1478, ketika Girindrawardhana memisahkan diri dari Majapahit dan menamakan dirinya sebagai raja Wilwatikta Daha Janggala Kediri. Tahun peristiwa tersebut di tulis dalam Candrasangkala yang berbunyi “Hilang sirna kertaning bhumi”. Pendapat lain menjelaskan Majapahit runtuh karena diserang oleh Demak yang dipimpin oleh Adipati Unus tahun 1522. Kenyataan sejarah kadang-ka-dang terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu pedas dirasakan. Sejarah adalah kaca benggala yang memuat berbagai fakta yang pernah terjadi pada masa silam. Segala hal yang telah tergores dalam kaca sejarah tak lagi bisa terhapus. Orang yang tidak senang mungkin akan berusaha untuk menyelubungi atau melupakannya, tetapi tidak akan mampu melenyapkannya. Orang dapat membuat berbagai macam tafsir, tetapi fakta sejarah yang ditafsirkan tak akan berubah.
Begitu pula sejarah keruntuhan Majapahit, yang diiringi pertumbuhan negara-negara Islam di Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang menarik diungkit kembali. Sebagai kerajaan tertua di Jawa, Majapahit bukan cuma menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, melainkan juga bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengan Islamisasi pada masa peralihan menjelang dan sesudah keruntuhannya.
Ada beberapa pendapat yang menjelaskan bagaimana Kerajaan Majaphit yang begitu besar akhirnya runtuh. Pendapat-pendapat tersebut kami uraikan sebagai berikut:
1.    Penyebaran Agama Islam
Sebelum 1450, agama Islam telah memperoleh tempat berpijak di istana Majapahit di Jawa Timur. Van Leur memperkirakan hal ini ditolong oleh adanya disintegrasi budaya Brahma di India. Surabaya (Ampel) menjadi pusat belajar Islam dan dari sana para pengusaha Arab yang terkenal meluaskan kekuasaan mereka. Jatuhnya kerajaan Jawa yaitu kerajaan Majapahit pada tahun 1468 dikaitkan dengan intrik dalam keluarga raja karena fakta bahwa putra raja, Raden Patah masuk Islam.
Tidak seperti pemimpin-pemimpin Hindu, para misionaris Islam mendorong kekuatan militer supaya memperkuat kesempatan-kesempatan mereka. Memang tidak ada tentara asing yang menyerbu Jawa dan memaksa orang untuk percaya. Namun dipergunakan kekerasan untuk membuat para penguasa menerima iman Muhammad. Baik di Jawa Timur maupun Jawa Barat, pemberontakan dalam keluarga-keluarga raja digerakkan oleh tekanan militer Islam. Ketika para bangsawan berganti keyakinan, maka rakyat akan ikut. Meskipun demikian, kita harus mengingat apa yang ditunjukkan Vlekke bahwa perang-perang keagamaan jarang terjadi di sepanjang sejarah Jawa.
Kedatangan Islam ke Jawa Di Gresik (daerah Leran) ditemukan batu bertahun 1082 Masehi berhuruf Arab yang menceritakan bahwa telah meninggal seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang beragama Islam. Lalu disekitar tahun 1350 saat memuncaknya kebesaran Majapahit, di pelabuhan Tuban dan Gresik banyak kedatangan para pedagang Islam dari India dan dari kerajaan Samudra (Aceh Utara) yang juga awalnya merupakan bagian dari Majapahit, disamping para pedagang Majapahit yang berdagang ke Samudra. Juga menurut cerita, ada seorang putri Islam berjuluk Putri Cempa dan Putri Cina yang menjadi isteri salah satu raja Majapahit.
Sangat toleransinya Majapahit terhadap Islam terlihat dari banyaknya makam Islam di desa Tralaya, dalam kota kerajaan, dengan angka tertua di batu nisan adalah tahun 1369 (saat Hayam Wuruk memerintah).
Yang menarik, walau kuburan Islam tetapi bentuk batu nisannya seperti kurawal yang mengingatkan kala-makara, berangka tahun huruf Kawi, yang berarti bahwa di abad XIV Islam walau agama baru bagi Majapahit tetapi sebagai unsur kebudayaan telah diterima masyarakat. Diketahui pula bahwa para pendatang dari barat maupun orang-orang Tionghoa ternyata sebagian besar beragama Islam, yang terus berkembang dan mencapai puncaknya di abad XVI saat kerajaan Demak.
Wali Sanga (9) Mereka yang dianggap sebagai penyiar terpenting yang sangat giat menyebarkan agama Islam diberi julukan Wali-Ullah dan di Jawa dikenal sebagai Wali Sanga (9), yang merupakan dewan Dakwah/Mubaligh. Kelebihan mereka dibanding kepercayaan/agama penduduk lama adalah tentang kekuatan bathin yang lebih, ilmu yang tinggi dan tenaga gaib. Sehingga mereka selalu dihubungkan dengan tasawwuf serta sangat kurang dalam pengajaran fiqh ataupun qalam. Mereka tidak hanya berkuasa dalam agama, tapi juga dalam hal pemerintahan dan politik.
Syeh Siti Jenar adalah wali serba kontroversial, dari mulai asal muasal yang muncul dengan berbagai versi, ajarannya yang dianggap menyimpang dari agama Islam tapi sampai saat ini masih dibahas di berbagai lapisan masyarakat, masih ada pengikutnya, sampai dengan kematiannya yang masih dipertanyakan caranya termasuk dimana ia wafat dan dimakamkan. Sunan Tembayat atau adipati Pandanarang yang menggantikan Syeh Siti jenar yang wafat (bunuh diri atau dihukum mati).
2. Perang antara Majapahit dan Demak
Pada umumnya, perang antara Majapahit dan Demak dalam naskah babad dan serat hanya terjadi sekali, yaitu tahun 1478. Perang ini terkenal sebagai Perang Sudarma Wisuta, artinya perang antara ayah melawan anak, yaitu Brawijaya melawan Raden Patah.
Babad dan serat tidak mengisahkan lagi adanya perang antara Majapahit dan Demak sesudah tahun 1478. Padahal menurut catatan Portugis dan Kronik Cina Kuil Sam Po Kong, perang antara Demak melawan Majapahit terjadi lebih dari satu kali. Dikisahkan, pada tahun 1517 Pa-bu-ta-la bekerja sama dengan bangsa asing di Moa-lok-sa sehingga mengundang kemarahan Jin Bun. Yang dimaksud bangsa asing ini adalah orang-orang Portugis di Malaka. Jin Bun pun menyerang Majapahit. Pa-bu-ta-la kalah namun tetap diampuni mengingat istrinya adalah adik Jin Bun.
Perang ini juga terdapat dalam catatan Portugis. Pasukan Majapahit dipimpin bupati Tuban bernama Pate Vira, seorang muslim. Selain itu Majapahit juga menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik. Namun, serangan ini gagal di mana panglimanya akhirnya masuk Islam dengan gelar Kyai Mutalim Jagalpati. Sepeninggal Raden Patah alias Jin Bun tahun 1518, Demak dipimpin putranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor sampai tahun 1521. Selanjutnya yang naik takhta adalah Sultan Trenggana adik Pangeran Sabrang Lor.
Menurut Kronik Cina, pergantian takhta ini dimanfaatkan oleh Pa-bu-ta-la untuk kembali bekerja sama dengan Portugis. Perang antara Majapahit dan Demak pun meletus kembali. Perang terjadi tahun 1524. Pasukan Demak dipimpin oleh Sunan Gudung, anggota Wali Sanga yang juga menjadi imam Masjid Demak. Dalam pertempuran ini Sunan Ngudung tewas di tangan Raden Kusen, adik tiri Raden Patah yang memihak Majapahit .
Perang terakhir terjadi tahun 1527. Pasukan Demak dipimpin Sunan Kudus putra Sunan Ngudung, yang juga menggantikan kedudukan ayahnya dalam dewan Wali Sanga dan sebagai imam Masjid demak. Dalam perang ini Majapahit mengalami kekalahan. Raden Kusen adipati Terung ditawan secara terhormat, mengingat ia juga mertua Sunan Kudus. Menurut kronik Cina, dalam perang tahun 1527 tersebut yang menjadi pemimpin pasukan Demak adalah putra Tung-ka-lo (ejaan Cina untuk Sultan Trenggana), yang bernama Toh A Bo.
Dari berita di atas diketahui adanya dua tokoh muslim yang memihak Majapahit, yaitu Pate Vira dan Raden Kusen. Nama Vira mungkin ejaan Portugis untuk Wira. Raden Kusen adalah paman Sultan Trenggana raja Demak saat itu. Raden Kusen pernah belajar agama Islam pada Sunan Ampel, pemuka Wali Sanga. Dalam perang di atas, ia justru memihak Majapahit.
Berita ini membuktikan kalau perang antara Demak melawan Majapahit bukanlah perang antara agama Islam melawan Hindhu sebagaimana yang sering dibayangkan orang, melainkan perang yang dilandasi kepentingan politik antara Sultan Trenggana melawan Ranawijaya demi memperebutkan kekuasaan atas Pulau Jawa. Menurut Kronik Cina, Pa-bu-ta-la meninggal dunia tahun 1527 sebelum pasukan Demak merebut istana. Peristiwa kekalahan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ini menandai berakhirnya riwayat Kerajaan Majapahit . Para pengikutnya yang menolak kekuasaan Demak memilih pindah ke Pulau Bali.
3. Serbuan Keling pimpinan Girindrawardhana

"Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.
Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit. Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan Demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak dijaman pemerintahan Sultan Trenggano 1527.
Penyerbuan Sultan Trenggano ini dilakukan karena Kediri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.
Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu. Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana.
Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya "Gajah Mada" juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V raja Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah. Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka.
Penuturan buku "Dari Panggung Sejarah" terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya "Ying Yai Sheng Lan" menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.
Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi'ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru.Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).
Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.
P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873. L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota. Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.
Satu situs kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni di Desa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391 Masehi). Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam dimakam panjang (Kubur Dawa).
Pintu Gerbang ini merupakan peninggalan kerajaan Mojopahit yang di angkat oleh Kebonyabrang sebagai persyaratan untuk diakui sebagai Putra Sunan Muria, namun setelah sampai di Desa Rondole, Kebonyabrang tidak kuat melanjutkan perjalanan. Akhirnya Sunan Muria memerintahkan bahwa perjalanan tidak usah diteruskan dan Kebonyabrang disuruh menunggu pintu gerbang tersebut sampai meniggal dunia Lokasi Desa Muktiharjo Kec Margorejo, sejauh 4 km dari kota Pati Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu. Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan.
Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa. Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.
Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja'far Sodiq menyebarkan ajaran Islam disana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untuk menghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi. Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu
4. Keruntuhan Majapahit versi Serat Darmagatul
Prabu Brawijaya adalah raja terakhir Majapahit dan menikah dengan Putri Campa yang beragama Islam. Putri inilah yang membuat Brawijaya tertarik Islam. Ketika sedang bersama, sang putri selalu membeberkan keutamaan agama islam. Ketika dekat sang prabu, tiada kata lain yang terucap dari Putri Campa kecuali kemuliaan agama Islam. Tak lama kemudian datanglah kemenakan Putri Campa bernama Sayid Rahmad. Ia mohon izin menyebarkan ajaran Islam di Majalengka.
Sang Prabu mengabulkan. Sayid Rahmad tinggal di desa Ngampeldenta- Surabaya. Sayid Kramat adalah maulana Arab keturunan Nabi Mohammad Rasulullah. Orang-orang Jawa banyak yang tertarik kepadanya. Penduduk Jawa yang tinggal di pesisir Barat sampai Timur meninggalkan agama Budha dan memeluk agama Islam. Agama Buddha telah mengakar di tanah Jawa lebih 1.000 tahun. Menyembah kepada Budi Hawa.
Budi adalah Dzat Tuhan. Sedangkan Hawa adalah minat hati. Di wilayah Blambangan sampai ke arah Barat menuju Banten pun banyak yang mengikuti ajaran Islam. Banyak ulama dari seberang datang ke Majalengka. Menghadap sang prabu mohon izin tinggal di wilayah pesisir. Permohonan itu dikabulkan. Akhirnya berkembang dan banyak orang Jawa memeluk agama Islam.
Prabu Brawijaya mempunyai seorang putra bernama Raden Patah. Ia lahir di Palembang dari rahim seorang Putri Campa. Ketika Raden Patah dewasa, ia menghadap kepada ayahnya bersama saudara lain ayah tetapi masih sekandung, bernama Raden Kusen (Husein ). Sang Prabu bingung memberi nama putranya. Diberi nama dari jalur ayah, beragama Buddha, keturunan raja yang lahir di pengunungan. Dari jalur ibu disebut Kaotiang. Sedangkan menurut orang Arab, ia harus dinamakan Sayid atau Sarib.
Sang Prabu memanggil patih dan abdi lain untuk dimintai pertimbangan. Sang patih pun berpendapat, bila mengikuti leluhur kuno, putra sang Prabu itu dinamakan Bambang. Tetapi karena ibunya orang Cina, lebih baik dinamakan Babah, yang artinya lahir di tempat lain. Pendapat patih ini disetujui abdi yang lain. Sang Prabu pun berkata kepada seluruh pasukan bahwa putranya diberi nama Babah Patah. Sampai saat ini, keturunan pembauran antara Cina dan Jawa disebut Babah. Meski tidak menyukai nama pemberian ayahnya itu, Raden Patah takut untuk menentangnya. Babah Patah kemudian diangkat menjadi Bupati di Demak. Ia memimpin para bupati di sepanjang pantai Demak ke Barat. Ia dinikahkan dengan cucu Kyai Ageng Ngampel.
Babah Patah tinggal di desa Bintara, Demak. Babah Patah telah beragama Islam sejak di Palembang. Di Demak ia diminta untuk menyebarkan agama Islam. Raden Kusen diangkat menjadi Adipati di Terung, dengan nama baru Raden Arya Pecattanda. Ajaran Islam makin berkembang. Banyak ulama berpangkat mendapat gelar Sunan. Sunan artinya budi. Sumber pengetahuan tentang baik dan buruk. Orang yang berbudi baik patut dimintai ajarannya tentang ilmu lahir batin. Pada waktu itu para ulama baik budinya. Belum memiliki kehendak yang jelek. Banyak yang mengurangi makan dan tidur. Sang Prabu Brawijaya berpikir, para ulama bersarak Budha itu mengapa disebut Sunan. Mengapa juga masih mengurangi makan dan tidur.
Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Benang di daerah Kediri mendapatkan tantangan dari Ki Buta Locaya penguasa di daerah tersebut. Kemudian Sunan Benang menuju ke desa Bogem, dan merusak arca kuda berkepala dua karya Prabu Jayabaya. Perusakan arca tersebut mendapatkan tentangan Ki Buta Locaya yang mendesak agar Sunan Benang pergi dari daerah itu. Patih Majapahit menghadap Prabu Brawijaya dan memberitahukan bahwa tanah Kertasana rusak akibat perbuatan Sunan Benang. Akhirnya, Prabu Brawijaya memerintahkan agar mengusir kaum Islam dari daerah Majapahit, kecuali kaum muslimin yang tinggal di Ngampelgading dan Demak.
Sunan Benang dan Sunan Giri menyingkir ke Tuban dan berlindung ke Demak. Pada waktu itu sunan Bonang akan pergi ke Kediri, diantar dua sahabatnya. Di utara Kediri, yakni di daerah Kertosono, rombongan terhalang air sungai Brantas yang meluap. Sunan Bonang dan dua sahabatnya menyeberang. Tiba di timur sungai, Sunan Bonang menyelidiki agama penduduk setempat. Ternyata, kata Ki Bandar, masyarakat daerah itu beragama Kalang, memuliakan Bandung Bondowoso. Menganggap Bandung Bondowoso sebagai nabi mereka. Hari Jumat Wage wuku wuye, adalah hari raya mereka.
" Kalau begitu, orang disini semua beragama Gedhah. Artinya, tidak hitam, putih pun tidak. Untuk itu tempat ini kusebut Kota Gedhah." Sejak itu, daerah di sebelah utara Kediri ini bernama Kota Gedhah.
Waktu sholat dhuhur tiba. Sunan Bonang ingin mengambil air wudlu. Namun karena sungai banjir dan airnya keruh, maka Sunan Bonang meminta salah satu sahabatnya untuk mencari air simpanan penduduk. Salah satu sahabatnya pergi ke desa untuk mencari air yang dimaksud. Sesampai di desa Patuk ada sebuah rumah. Tak terlihat laki-laki di sini. Hanya ada seorang gadis berajak dewasa sedang menenun. Perawan itu terkejut. Ia menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki. Ia salah paham. Menyangka lelaki itu bermaksud menggodanya.
Gadis itu tidak mau memberikan air dan mengusir pemuda tersebut. Pemuda tersebut langsung pergi dan melaporkan kejadian tersebut kepada Sunan Bonang. Mendengar penuturan itu Sunan Bonang naik pitam. Keluarlah kata-kata keras. Sunan mengutuk tempat itu akan sulit air.
Gadis-gadisnya tidak akan mendapat jodoh sebelum usianya tua. Begitu juga dengan kaum jejakanya. Akibat kutukan Sunan Bonang aliran sungai Brantas menyusut dan berbelok arah. Membanjiri desa-desa, hutan, sawah, dan kebun. Sampai kini daerah Gedhah sulit air, perempuan-perempuan nya menjadi perawan tua, begitu juga kaum laki-lakinya.
Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya ke Kediri. Di daerah ini ada demit (mahluk halus) bernama Nyai Plencing. Menempati sumur Tanjungtani dan sedang dikerumuni anak cucunya. Mereka melapor, bahwa ada orang bernama Sunan Bonang suka mengganggu kaum mahluk halus dan menonjolkan kesaktian.
Anak cucu Nyai Plencing mengajak Nyai Plencing membalas Sunan Bonang. Caranya dengan meneluh dan menyiksanya sampai mati agar tidak suka mengganggu lagi. Mendengar usul itu Nyai Plencing langsung menyiapkan pasukan, dan berangkat menemui Sunan Bonang. Tetapi anehnya, para mahluk alus tersebut tidak bisa mendekati Sunan Bonang. Badannya terasa panas seperti dibakar. Karena usahanya gagal Nyai Plecing kemudian pergi ke Kediri menemui rajanya yang bernama Buta Locaya, tinggal di Selabale, di kaki Gunung Wilis. Buta Locaya semula adalah patih raja Sri Jayabaya, bernama Kyai Daha. Ia dikenal sebagai cikal bakal Kediri. Ketika Raja Jayabaya memerintah daerah ini, namanya diminta untuk nama negara. Ia diberi nama Buta Locaya dan diangkat patih Prabu Jayabaya. Buta sendiri artinya bodoh. Lo bermakna kamu. Dan Caya dapat dipercaya. Bila disambung, maka Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat dipercaya.
Ketika Nyai Plencing datang, Buta Locaya sedang duduk di kursi emas beralas kasur babut dihias bulu merak. Ia sedang ditemani patihnya, Megamendung dan anaknya, Paji Sektidiguna dan Panji Sarilaut. Ia amat terkejut melihat Nyai Plencing yang datang sambil menangis. Ia melaporkan kerusakan-kerusakan di daerah utara Kediri yang disebabkan ulah orang dari Tuban bernama Sunan Bonang. Nyai Plencing juga memaparkan kesedihan para mahluk halus dan penduduk daerah itu.
Mendengar laporan Nyai Plencing Buta Locaya murka. Tubuhnya bagaikan api Ia memanggil anak cucu dan para jin untuk melawan Sunan Bonang. Para mahluk halus bersiap berangkat. Lengkap dengan peralatan perang.Mengikuti arus angin, mereka pun sampai di desa Kukum. Di tempat ini Buta Locaya menjelma menjadi manusia, berganti nama Kyai Sumbre.
Sementara mahluk halus yang beribu-ribu jumlahnya tidak menampakkan diri.Menghadang perjalanan Sunan Bonang yang datang dari utara. Sebagai orang sakti, Sunan Bonang tahu ada raja mahluk halus sedang menghadang perjalanannya. Tubuh Sunan yang panas menjelma bagai bara api. Para mahluk halus yang beribu-ribu itu menjauh. Tidak tahan menghadapi wibawa Sunan Bonang.
Namun tatkala berhadapan dengan Kyai Sumbre, Sunan Bonang juga merasakan hawa panas. Dua sahabatnya pingsan. Akhirnya terjadi perdebatan sengit antara Buta Locaya dengan Sunan Bonang. Buta Locaya mengancam akan mengadukan perbuatannya tersebut kepada Raja Majalengka. Sunan Bonang tidak takut akan ancaman tersebut dan tidak takut pada Raja Majalengka.
lambang majapahit
Ketika Buta Locaya mendengar kata-kata itu, ia pun marah. Buta Locaya kemudian memuntahkan kemarahannya dengan mengumbar segala kejelekan dari Sunan Bonang. Akhir kata Buta Locaya meminta kepada Sunan Bonang untuk mengembalikan keadaan desa Gedah dan sungai Brantas seperti semula. Dengan ancaman jika hal tersebut tidak dipenuhi maka semua orang Jawa yang beragama Islam akan diteluh sampai mati. Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Bonang menyadari kesalahannya. Namun sebagai seorang sunan kata kata yang telah diucapkan akan terjadi dan tidak bisa ditarik kembali. Sunan Bonang hanya bisa membatasi saja, Kelak, bila telah berlangsung 500 tahun, sungai ini dapat kembali seperti semula.
Buta Locaya tidak bisa menerima hal tersebut dan minta keadaan tersebut harus dikembalikan sekarang juga. Akhirnya karena tidak adanya penyelesaian Sunan Bonang mohon diri untuk berjalan kearah timur.
Buah Sambi ini kunamakan cacil karena keadaan ini seperti anak kecil yang sedang berkelahi. Mahluk halus dan manusia saling berebut kebenaran tentang kerusakan yang ada di daerah. Kumohonkan kepada Tuhan, buah sambi menjadi dua macam, daging buahnya menjadi asam. Bijinya mengeluarkan minyak sebagai lambang muka yang masam. Tempat perjumpaan ini kuberi nama Singkal di sebelah utara dan di sini bernama Desa Sumbre. Sedangkan tempat kawan-kawanmu di selatan kuberi nama Kawanguran."
Sunan Bonang meloncat ke arah Timur sungai. Sampai saat ini di Kota Gedah ada desa yang bernama Singkal, Sumbre dan Kawanguran. Kawanguran artinya pengetahuan, Singkal artinya susah kemudian menemukan akal.Buta Locaya mengikuti kepergian Sunan Bonang, yang menyaksikan arca Kuda yang berkepala dua di bawah pohon Trenggulun. Banyak buah trenggulun yang berserakan. Sunan Bonang kemudian memegang parang dan kepala arca Kuda itu dipenggalnya. Ketika Buta Locaya melihat Sunan Bonang memenggal kepala arca itu, semakin bertambahlah kemarahannya. Buta Locaya marak karena arca tersebut adalah peninggalan Raja Jayabaya dan arca tersebut sebagai lambang tekad wanita. Kelak di zaman Nusa Srenggi, barang siapa yang melihat arca itu, akan mengetahui tekat para wanita Jawa.
landskape kerajaan majapahit
Sunan Bonang kemudian melanjutkan perjalanan kearah utara Sesampai di desa Nyahen, ada patung raksasa perempuan berada di bawah pohon dadap yang berbunga. Sangat banyak dan berguguran di sekitarnya. Patung raksasa itu kelihatan merah menyala, marak oleh bunga yang berjatuhan. Melihat patung itu, Sunan Bonang keheranan. Patung itu berukuran sangat besar. Arca itu tampak duduk ke arah Barat setinggi 16 kaki. Lingkar pinggulnya 10 kaki. Jika dipindahkan tidak akan terangkat oleh 800 orang
 kecuali dengan alat. Bahu kanannya dipatahkan, dan dahinya dirusak.
Sikap Sunan Bonang yang usil dengan merusak patung tersebut menimbulkan kemarahan Buta Locaya. Menurut Sunan Bonang patung itu dirusak agar tidak disembah banyak orang dan tidak diberi sesaji serta diberi kemenyan. Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin." Buta Locaya menjawab bahwa Orang Jawa sudah tahu bahwa itu patung dari batu dan tidak berwujud Tuhan . Patung diberi nyala kemenyan, diberi sesaji, agar para mahluk halus tidak menempati tanah dan kayu yang dapat menghasilkan untuk manusia. Dengan diberi sesajen dan bau-bau yang harum mahluk halus akan merasa nyaman karena alam mahluk halus berbeda dengan alam manusia. Buta Locaya kemudian meluapkan kemarahannya dengan mengungkapkan sisi buruk Sunan Bonang dan mempersilahkan untuk angkat kaki dari daerah Kediri. Sunan Bonang yang kalah berdebat dengan Buta Locaya akhirnya memutuskan untuk pulang kembali keBonang

Prabu Brawijaya amat murka ketika mendapat laporan sang patih tentang adanya surat dari Tumenggung di Kertosono, yang memberitahukan bahwa telah terjadi kerusakan di wilayah itu akibat ulah Sunan Bonang. Segera ia mengutus Patih ke Kertosono, meneliti keadaan sebenarnya. Setelah tiba, sang patih melaporkan semua yang telah terjadi. Namun, ia tak bisa menemukan Sunan Bonang, karena telah mengembara tak tahu kemana.

Saking murkanya, Prabu Brawijaya memutuskan bahwa semua ulama Arab yang ada di Pulau Jawa akan diusir. Hanya di Demak dan Ngampelgading saja yang diperbolehkan tinggal dan menyebarkan agama Islam. Sang Patih juga melaporkan bahwa ulama Giripura telah tiga tahun tidak menghadap untuk menyampaikan upeti, bahkan mendirikan kerajaan sendiri. Sedang ulama santri Giri punya gelar yang melebihi sang Prabu.

Prabu Brawijaya kemudian menyiapkan pasukannya untuk menyerang Giri. Pada penyerangan tersebut giri berhasil dihancurkan sehingga Sunan Bonang dan Sunan giri memutuskan meminta perlindungan dari Raden Patah Bupati Demak.
Sunan Giri

Sunan Bonang kemudian menghasut Raden Patah untuk memerangi Majapahit melawan ayahnya sendiri. Raden Patah pada awalnya bimbang akan hal tersebut. Bagaimanapun Prabu Brawijaya sebagai ayahnya telah banyak memberikan kebahagian dan memberikan kedudukan sebagai Bupati Demak serta kebebasan menyebarkan agama Islam. Raden Patah juga ingat pesan kakeknya di ampelgading untuk tidak berani melawan orang tua walaupun orang tuanya tersebut kafir.Namun karena para nabi terus menyakinkan dengan mengungkap sisi buruk Prabu Brawijaya kepada Raden Patah diantaranya pemberian nama babah yang artinya tidak baik dan melawan ayahnya yang kafir tersebut bukanlah suatu dosa maka luluhlah hati Raden Patah. Para Nabi juga meyakinkan bahwa Raden Patahlah yang berhak menjadi Raja menggantikan Prabu Brawijaya.

Para Nabi memberikan saran untuk melaksanakan penyerbuan tersebut dengan cara yang halus. Raden Patah diminta untuk menghadap ayahnya pada acara grebeg dengan mengajak seluruh Bupati , para sunan dan pasukan Demak.
Raden Patah kemudian mengumpulkan para Bupati dan Sunan di pesisir utara datang semua ke Demak Sunan Bonang berkata kepada semua yang hadir di situ, bahwa Bupati Demak akan dinobatkan sebagai raja dan akan menggempur Majapahit. Semua sunan dan bupati setuju hanya Syech Siti Jenar yang tidak setuju. Raja baru itu bergelar Prabu Jimbuningrat atau Sultan Syah Alam Akbar Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak, atau Sultan Adi Surya Alam di Bintoro. Pasukannya berjumlah tiga puluh ribu lengkap dengan senjata perang..

Patihnya dari atas angin bernama Patih Mangkurat. Esok harinya, Senopati Jimbuningrat bergegas dengan perangkat senjata perang berangkat menuju Majapahit diiringkan para sunan dan bupati. Berjalan berarakan seperti Grebeg Maulud. Semua pasukan tak ada yang mengetahui tujuan itu selain para tumenggung, para sunan dan para ulama. Sunan Bonang dan Sunan Giri tidak ikut karena telah lanjut usia. Sepulang dari Giri, sang patih melaporkan hasil penyerbuannya terhadap Giri yang dipimpin oleh orang Cina muslim bernama Setyasena. Giri berhasil ditaklukkan dan. Senapati Setyasena menemui ajal. Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung. Sebagian juga berlayar dan lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan Majapahit. Sunan Giri dan Sunan Bonang yang ikut dalam perahu itu dikira melarikan diri ke Arab dan tidak kembali ke Majapahit.

Maka Sang Prabu memerintahkan patih untuk mengutus ke Demak lagi, memburu Sunan Giri dan Sunan Bonang karena Sunan Bonang telah merusak tanah Kertosono. Sedangkan Sunan Giri telah memberontak, tidak mau menghadap raja, bertekat melawan dengan perang. Sang Patih keluar dari hadapan Raja untuk kemudian memanggil duta yang akan dikirim ke Demak.

Tetapi, tiba-tiba datang utusan dari Bupati Pati menyerahkan surat, mengabarkan bahwa Adipati Demak Babah Patah telah menobatkan diri sebagai Raja Demak Setelah membaca surat tersebut Kyai Patih sedih sekali, menggeram sambil mengatupkan giginya. Sangat heran kepada orang Islam yang tidak menyadari kebaikan sang raja. Selanjutnya, kyai patih melapor kapada raja untuk menyampaikan isi surat itu. Mendengan laporan patih, Sang Prabu sangat terkejut. Diam membisu, lama tak berkata. Dalam hatinya sangat heran kepada putranya dan para Sunan yang memiliki kemauan seperti itu. Mereka diberi kedudukan akhirnya malah memberontak dan merusak Majapahit.

Sang raja tak habis pikir, alasan apa yang mendasari perbuatan mereka. Dicarinya penalaran-penalaran tetapi tidak tercapai lahir batin. Tidak masuk akal akan perbuatan jelek mereka itu. Pikiran sang raja sangat gelap. Kesedihan itu dikiaskan bagaikan hati kerbau yang habis dimakan kutu babi hutan. Sang Prabu juga bertanya kepada sang Patih, apa alasan Adipati Demak dan para ulama serta bupati tega melawan Majapahit. Kemudian, Sang Prabu berkata bahwa, kejadian itu akibat kesalahannya sendiri. Yang meremehkan agama yang telah berlaku turun-temurun dan begitu mudah terpikat kata-kata Putri Campa, sehingga mengizinkan para ulama menyeberkan agama Islam.

Tentang kedatangan musuh, yaitu santri yang akan merebut kekuasaan, Sang Prabu meminta pertimbangan dari Patih. Sang Prabu kecewa, mengapa hanya untuk menguasai Majapahit harus dengan cara peperangan. Seumpama diminta dengan cara baik-baik pun tentu akan diberikan karena Raja telah lanjut usia. Patih menjawab, lebih baik menyongsong musuh dengan pasukan secukupnya saja. Jangan sampai merusak bala pasukan. Patih diminta memanggil Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga karena putra yang ada di Majapahit belum saatnya maju berperang.

Karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya eloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia yaitu Sabdopalon dan Nayagenggong. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak.

Perlawanan antara pasukan Prabu Brawijaya dengan Sultan DemakDengan pertempuran sengit itu tentara Majapahit hancur, Kemudian orang-orang Majapahit yang takluk kepada Demak diperintahkan masuk agama Islam. Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam diperlengkapi dengan senjata sakti "Keris Makripat" pemberian Sunan Giri yang bisa mengeluarkan hama kumbang dan "Badhong" anugerah Sunan Cirebon yang bisa mendatangkan angin ribut. Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam.

Setelah Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar "Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama"

Raden Patah yang didukung oleh para wali pergi ke Ngampeldenta untuk menghadap neneknya. Neneknya Nyai Ngampeldenta sangat menyesali perbuatan yang dilakukan oleh Raden Patah melawan ayahnya. Ia mempermasalahkan Raden Patah beserta para wali yang tidak baik budi kepada Prabu Brawijaya. Setelah mendengar nasehat dari neneknya tadi, maka Raden Patah sangat sedih dan menyesal atas segala perbuatannya. Akhirnya Sunan Kalijaga diutus untuk mencari Prabu Brawijaya dan memohon kepadanya agar bersedia kembali menjadi raja Majapahit.

Sekembalinya Raden Patah ke Demak, ia disambut dengan gembira. Ia menceritakan hal itu kepada Sunan Benang, akhirnya Sunan Benang memberikan penjelasan secara panjang lebar bahwa perlawanannya terhadap ayahnya itu tidak berdosa, karena ayahnya seorang kafir.

Sunan Kalijaga menjumpai Prabu Brawijaya di Blambangan untuk menyampaikan tugasnya. Dijelaskan pula, bahwa sebenarnya Sultan Demak merasa menyesal atas penyerbuannya ke Kerajaan Majapahit. Ia merasa berdosa melawan ayahnya. Bahkan ia merasa pula bahwa pengangkatannya sebagai Sultan Demak itu juga dari ayahnya. Akan tetapi semuanya telah terjadi, maka Sultan Demak dengan bersedih hati kembali ke Demak.

Karena kepandaian Sunan Kalijaga maka bersedialah Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit. Ia sangat tertarik atas keterangan Sunan sehingga prasangka buruk akan agama Islam sedikit banyak hilang.

Bahkan ia bermaksud untuk masuk agama Islam secara lahir maupun batin. Tawaran masuk agama Islam kepada penasehat Prabu Brawijaya, yakni Sabdapalon dan Nayagenggong, berakhir dengan penolakan. Sabdapalon menilai bahwa Prabu Brawijaya telah menyimpang dari para pendahulunya yang melestarikan agama Budha. Menurut Sabdo Palon agama yang ada di Jawa lebih cocok bagi orang Jawa dan orang Jawa tidak selayaknya merasuk agama yang bukan berasal dari Jawa karena agama Jawa tidaklah lebih rendah dari agama Islam. Prabu Brawijaya tidak kuasa melawan bantahan dari Sabdopalon yang ternyata adalah jelmaan mahkluk halus penguasa tanah Jawa yang telah berumur 2300 tahun.

Prabu Brawijaya menyesal bahwa telah terbujuk Sunan Kalijaga untuk berpindah agama, namun karena semuanya telah terjadi, Sabdo Palon berpesan agar Prabu Brawijaya tetap menjalankan apa yang telah menjadi pilihannya tersebut. Sabdo Palon juga memberitahukan bahwa kelak penguasa tanah Jawa akan beralih kepada orang yang menjadi asuhan Sabdo Palon. Sabdo Palon kemudian pergi meninggalkan Prabu Brawijaya.

Prabu Brawijaya sangat sedih sepeninggal penasehatnya tersebut namun Sunan Kalijaga berusaha menghibur hati Prabu Brawijaya dgn mengatakan bahwa ajaran agama Islam itu baik dan diridhoi Tuhan. Sunan bersabda bahwa air telaga itu berbau wangi dan terjadilah demikian. Prabu Brawijaya memerintahkan agar mengambil bumbung untuk membawa air wangi tersebut sebagai bekal dalam perjalanan. Perjalanan Prabu Brawijaya diiringi oleh Sunan Kalijaga telah sampai di Sumber waru dan bermalam disana. Pagi harinya air dalam bumbung tersebut masih berbau wangi. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Penarukan dan bermalam disana. Pagi harinya air dalam bumbung masih berbau wangi.

Sesampainya di Besuki bermalam pula disana, namun pada pagi harinya air dalam bumbung tidak lagi berbau wangi tetapi berbau banger, oleh karena itu Prabalingga juga dinamakan Bangerwarih. Prabalingga juga sebagai pertanda bahwa Prabu Brawijaya masuk agama Islam karena terpengaruh tangan orang lain. Setelah selama seminggu dalam perjalanan yang melewati Panarukan, Besuki dan Prabalingga akhirnya sampailah di Ngampeldenta. Sesampainya di Ngampeldenta Prabu Brawijaya memerintahkan agar membuat surat yang ditujukan kepada Sultan Demak supaya datang ke Ngampel Gading.

Prabu Brawijaya juga memerintahkan untuk membuat surat untuk anaknya yaitu Adipati Andayaningrat dan Adipati Ponorogo Bhatara Katong yang meminta kepada mereka tidak menuntut bela atas jatuhnya Kerajaan Majapahit.
Prabu Brawijaya sangat sedih atas jatuhnya Kerajaan Majapahit sehingga menderita sakit yang sangat parah. Menjelang kepergiannya Prabu Brawijaya meminta kepada Sunan Kalijaga untuk menjaga keturunan Raja, dan terhadap Raden Patah yang belum juga datang memenuhi panggilan ayahnya Prabu Brawijaya hanya akan memberi ijin memerintah kepada Sultan demak tersebut sampai dua keturunan saja. Hal tersebut terbukti bahwa setalah Raden Parah memerintah maka pemerintahan tersebut hanya sampai di dua keturunannya saja yaitu :

1. Adipari Unus/ Pangeran Sabrang Lor (1518)
2. Pangeran Trenggono (1548)

Setelah wafatnya Pangeran Trenggono terjadi perebutan kekuasaan antara adiknya dan putranya bernama pangeran Prawoto yang bergelar Sunan Prawoto (1549). Sang adik berjuluk pangeran Seda Lepen terbunuh di tepi sungai dan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh anak dari pangeran Seda Lepen yang bernama Arya Panangsang.

Tahta Demak dikuasai Arya Penangsang yang terkenal kejam dan tidak disukai orang, sehingga timbul kekacauan dimana-mana. Apalagi ketika adipati Japara yang mempunyai pengaruh besar dibunuh pula, yang mengakibatkan si adik dari adipati japara berjuluk Ratu Kalinyamat bersama adipati-adipati lainnya menentang Arya Panangsang, yang salah satu dari adipati itu bernama Hadiwijoyo berjuluk Jaka Tingkir, yaitu putra dari Kebokenongo sekaligus menantu Trenggono. Jaka Tingkir, yang berkuasa di Pajang Boyolali, dalam peperangan berhasil membunuh Arya Penangsang. Dan oleh karena itu ia memindahkan Karaton Demak ke Pajang dan ia menjadi raja pertama di Pajang. Dengan demikian, habislah riwayat kerajaan Islam Demak