Kamis, 23 Juni 2011

WIRO SABLENG _ EMPAT BREWOK DARI GOA SANGRENG

WIRO SABLENG
EPISODE 001
EMPAT BREWOK DARI GOA SANGRENG
Empat Brewok dari Goa Sanggreng

SATU
“Ini!” kata laki-laki berkumis melintang itu dengan suara kasar. ”Berikan sama dia!
Aku harus terima jawaban hari ini juga, Kalingundil!! Kau dengar!?” Orang yang bernama
Kalingundil mengangguk. Diambil surat yang disodorkan.
”Kalau dia banyak bacot.....,” kata laki-laki berkumis melintang itu pula, ”bikin beres
saja. Berangkat sekarang, jika perlu bawa Saksoko!” Kalingundil berdiri dan meninggalkan
ruangan itu. Dan bila Kalingundil baru saja lenyap di balik pintu maka menggerendenglah
Suranyali, laki-laki yang berkumis tebal itu.
”Betul-betul perempuan laknat! Perempuan haram jadah!” Dibulatkannya tinju
kanannya dan dipukulkannya meja kayu jati di hadapannya.
”Brakk!!”
Papan meja pecah. Keempat kaki meja amblas sampai tiga senti ke dalam lanci ubin
dan ubin sendiri retak-retak! Kemudian dia berdiri. Tubuhnya menggeletar oleh amarah
yang
hampir tak bisa dikendalikannya lagi. Dan mulutnya terbuka kembali. Dia memaki-maki
seorang diri.
”Perempuan keblinger! Ditinggal satu tahun tahu-tahu kawin! Bunting malah dan
punya anak malah! Keparat!” Suranyali berdiri dengan nafas menghempas-hempas di
muka
jendela lalu dia melangkah ke meja lain yang juga terdapat di ruangan itu. Dari dalam
sebuah
kendi diteguknya air putih dingin. Tapi baru dua teguk air melewati tenggorokannya, isi
kendi
itu sudah habis.
”Keparat!” maki Suranyali lagi. Dibantingkannya kendi itu ke tanah hingga pecah
berantakan. Seorang perempuan paruh baya memunculkan kepalanya di pintu sebelah
sana
namun melihat Suranyali yang lagi beringasan ia cepat-cepat diam menghilang kembali.
Akhirnya, Suranyali letih sendiri memaki-maki dan marah-marah seperti itu.
Dibantingkannya badannya ke sebuah kursi. Dan kini terasa olehnya betapa letih
badannya.
”Ludjeng!” teriak Suranyali.
Perempuan separuh baya yang tadi memunculkan diri di pintu masuk bergegas.
”Ya, Denmas Sura....”.
”Kau juga keparat!” damprat Suranyali pada perempuan itu. Ludahnya menyemprot
dan Wilujeng tak berani menyeka ludah yang membasahi mukanya.
”Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku dengan nama itu! Apa kau sudah
Wiro Sableng : Versi TV dengan pemeran Ken -Ken
gila hingga lupa terus-terusan?!? Kau gila ya, hah?!!.” Wilujeng terdiam dengan tubuh
menggigil ketakutan. Lagi-lagi dia lupa. Lagi-lagi dia memanggil dengan Sura padahal
sudah
sering Suranyali memerintahkan agar dia memanggil dengan nama Mahesa Birawa.
”Perempuan monyong! Aku tanya kau sudah gila? Jawab!”
”Tidak, Denmas Su....., eh Mahesa Birawa.....”
”Kalau tidak gila kau musti sinting! Ambilkan aku air, lekas!”
Wilujeng putar tubuh. Sebentar kemudian dia sudah kembali membawa segelas air
putih. Air yang dingin itu menyejukkan hati Suranyali sedikit. Kemudian dia duduk tenangtenang
di kursi itu dan bila matanya dipicingkannya, maka kembali terbayang saat setahun
yang lewat.
Waktu itu dia sudah lama berkenalan dengan Suci. Dia tahu bahwa gadis itu tidak suka
terhadapnya, tapi dengan menemui Suci terus-terusan di tepi kali tempat mencuci, dia
berharap lama-lama akan dapat juga melunakkan hati gadis itu. Memang akhirnya Suci
mau
juga bicara-bicara melayani Suranyali, tapi ini bukanlah karena dia suka terhadap Sura
melainkan karena kasihan belaka. Tapi celakanya Suranyali salah tafsir. Dia menduga
bahwa
kini Suci sudah terpikat kepadanya.
Satu ketika Sura dipanggil oleh seorang sakti di gunung Lawu. Sebelum pergi, Sura
menemui Suci dan berkata, ”Suci, aku akan pergi ke Gunung Lawu. Mungkin satu tahun
lagi
aku baru kembali. Kuharap kau mau menunggu dengan sabar. Jika aku kembali aku akan
mengawini kau.....”
”Tapi Kangmas Sura.....”
Suci menghentikan kata-katanya karena saat itu dilihanya Suranyali melangkah ke
hadapannya dan mengulurkan tangan untuk memeluknya.
Suci mundur.
”Jangan, Kangmas. Nanti kelihatan orang.....”
Kemudian Suranyali pergi tanpa ada lagi kesempatan bagi Suci untuk menerangkan
bahwa dia tidak suka laki-laki itu, bahwa dia menolak lamaran tadi! Dan dalam kepergian
Suranyali itu maka Suci kemudian kawin dengan Ranaweleng seorang pemuda yang
dicintainya dan juga mencintainya. Bagi Suci perkawinannya dengan Ranaweleng itu sama
sekali bukan pengkhianatan atas diri Suranyali karena memang dia tidak mencintai
Suranyali
dan juga tak pernah menyatakan cintanya.
Demikianlah, bila hari itu Suranyali kembali dari perjalanannya maka kabar yang
pertama yang didengarnya, yang begitu menyentakkan darah amarahnya ialah bahwa Suci
telah kawin dengan Ranaweleng. Kedua suami istri itu bahkan sudah mempunyai seorang
anak laki-laki. Kehidupan mereka meski sederhana tapi bahagia dan kini Ranaweleng
sudah
menjadi Kepala Kampung Djatiwalu.
Jika Suranyali seorang manusia punya muka dan punya harga diri, sebenarnya
mengetahui perkawinan Suci itu dia musti bersikap mundur karena adalah memalukan
sekali
bila dia terus-terusan menginginkan Suci sedang Suci tidak mencintainya apalagi kini
sudah
bersuami dan beranak pula. Tapi dasar Suranyali bukan manusia berpikiran jernih, lekas
kalap
dan naik darah membabi buta, maka hari itu juga dikirimkannya anak buahnya ke
Djatiwalu
untuk membawa sepucuk surat ancaman kepada Ranaweleng.
Suranyali yang kini memakai nama Mahesa Birawa bangkit dari kursinya ketika
didengar suara gemuruh kaki-kaki kuda di halaman. Dia melangkah ke jendela dan
memperhatikan kepergian kedua orang anak buahnya. Jari-jari tangannya mencengkeram
sanding jendela.
”Suci musti dapat..... musti dapat!” katanya dalam hati yang dikecamuk amarah itu.
”Kalau tidak.....,” Mahesa Birawa tak meneruskan kata-katanya. Sebagai gantinya tangan
kirinya bergerak memukul dinding jendela. Dan kayu sanding itu pecah berantakan!!

DUA
Keduanya menghentikan kuda di hadapan seorang laki-laki tua yang tengah mencabuti
rumput halaman. Tanpa turun dari kudanya, Kalingundil bertanya dengan membentak
kasar,
”Ini rumahnya Ranaweleng?!”
Orang tua berdiri perlahan-lahan dari jongkoknya. Ketika berdiri nyatalah bahwa
tubuhnya pendek dan bongkok. Ditengadahkannya kepalanya dan dikeataskannya topi
bambu
yang menutupi keningnya untuk dapat melihat orang yang telah bicara kepadanya. Orang
tua
ini tak segera berikan jawaban melainkan melirik kepada Saksoko yang duduk di atas
pungung kuda di sisi kanan Kalingundil.
”Orang tua bego!” maki Kalingundil. Laki-laki bertubuh langsing ini memang bersifat
tidak sabaran. ”Aku tanya ini rumahnya Ranaweleng?!”
”Ya!” jawab Kalingundil.
”Ada keperluan apa Saudara?”
Si gemuk pendek Saksoko kini yang buka suara. Suaranya parau dan tidak enak
didengar. ”Tak perlu tanya keperluan kami. Kamu orang tua pikun minggirlah!”
Saksoko menyentakkan tali kekang kudanya. Sekali kuda itu menghambur ke depan
maka terpelantinglah si orang tua kena terajakan kaki binatang yang ditunggangi Saksoko
itu!
Orang tua itu bangun dengan perlahan-lahan. Matanya yang mengabur dimakan umur
kelihatannya menyorot. Dengan kaki kirinya ditendangnya secara acuh tak acuh topi
bambunya yang tergeletak di tanah.
Topi itu melesat ke muka laksana anak panah cepatnya dan menghantam kemaluan
kuda yang ditunggangi oleh Saksoko. Kuda jantan itu meringkik dahsyat. Kedua kaki
depannya melonjak ke atas tinggi-tinggi dan Saksoko terpelanting ke tanah!
Si orang tua diam-diam merasa puas. Dengan sikap seperti tidak terjadi apa-apa dia
memutar tubuh jongkok kembali dan mulai lagi mencabuti rerumputan di halaman!
Bola mata laki-laki gemuk pendek itu berpijar-pijar. Untuk beberapa lamanya segala
sesuatunya menjadi guram dalam pemandangannya.
”Saksoko, ada apa dengan kau?!” tanya Kalingundil terkejut dan heran.
”Aku sendiri tidak tahu,” sahut Saksoko seraya bangun dengan menepuk-nepuk pantat
celananya. Dia memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa kecuali orang tua yang tadi
tengah mencabuti rumput. Kemudian mata laki-laki itu membetnur topi bambu yang
tergeletak tak berapa jauh dari tanah. Hatinya curiga. Tapi bila dilihatnya lagi orang tua
kurus
dan bongkok itu kecurigaannya menjadi sirna. Tak mungkin, pikirnya. Tak mungkin kalau
kakek-kakek pikun itulah yang telah melemparkan topi bambu itu ke kuda tunggangannya.
Kalingundil juga memandang berkeliling dengan hati bertanya-tanya. Dilihatnya orang
tua itu. Dilihatnya topi itu. Kemudian dia berkata, ”Kurasa orang tua kerempeng itu.....”
Kalingundil memang lebih tajam penglihatannya dan perasaannya. Dalam ilmu silatpun dia
lebih tinggi dua tingkat di atas Saksoko.
”Mana mungkin,” kata Saksoko pula tidak percaya.
”Coba kita lihat.”
Kalingundil turun dari kudanya. Diambilnya topi yang tergeletak di tanah.
Diperhatikannya topi bambu ini seketika. Matanya melirik pada orang tua yang masih
jongkok dan mencabuti rumput dekat pagar halaman. Kalingundil menggerakkan tangan
kanannya. Topi terlepas dari tangan itu dan melesat deras ke arah kepala si orang tua.
Begitu acuh tak acuh sekali, orang tua yang jongkok membelakangi itu gerakkan
tangan kanannya untuk menggaruk bagian belakang kepalanya. Dan adalah mengejutkan
kedua orang anak buah Mahesa Birawa atau Suranyali ketika melihat bagaimana topi
bambu
itu melesat ke samping dan menggelinding di tanah!
Kalingundil dan Saksoko saling pandang.
”Apa kataku, kau lihat?” desis Kalingundil.
Melihat kenyataan ini maka geramlah si gemuk pendek Saksoko.
”Orang tua edan!” makinya. ”Punya sedikit ilmu saja sudah mau kasih pamer!” Dia
membungkuk dan meraup pasir. Raupan pasir itu dilemparkannya ke arah si orang tua.
Meski
hanya pasir namun karena diisi dengan tenaga dalam maka pasir itu melesat hebat dan
dapat
melukakan kulit membutakan mata!
Si orang tua tiba-tiba berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ditepuk-tepuknya pakaian
hitamnya seperti seseorang yang sedang membersihkan debu dari pakaiannya. Tapi
gerakannya ini sekaligus membuat berhamburannya pasir-pasir halus yang menyerang ke
arahnya!
”Kurang ajar betul!” damprat Saksoko karena merasa semakin ditantang dan
dipermainkan. Dia menerjang ke muka. Dalam jarak beberapa tombak dilepaskannya
pukulan
tangan kosong. Orang tua itu memutar badannya yang bungkuk ke samping.
”Apa-apaan ini?!” tanyanya dengan suaranya yang halus melengking, ”ada apa kau
serang aku?!”
Namun gerakannya tadi sekaligus telah melewatkan angin pukulan Saksoko hanya
beerapa jengkal saja di depan hidungnya.
Saksoko kertak rahang.
”Orang tua gelo! Siapa kau sebetulnya?!”
Orang tua itu menyeringai menunjukkan gusinya yang tidak bergigi barang
sepotongpun.
”Aku sudah tua, tak usah bicara memaki!,” katanya dan didorongkannya telapak
tangan kanannya ke depan. Setiup angin dahsyat melanda tubuh Saksoko. Kalau tidak
cepatcepat
menghindar pastilah si gemuk pendek ini akan mendapat celaka.
Begitu melompat ke samping segera dia kirimkan satu jotosan kepada orang tua itu.
Pada saat inilah dari pintu rumah terdengar seruan keras:
”Ada apa di sini?! Tahan!!”
Saksoko tarik pulang tangannya dan berpaling. Seorang laki-laki muda berparas gagah
dilihatnya keluar dari rumah dan berdiri di tangga langkan. Kemudian dilihatnya Kalingundil
memberi isyarat agar datang mendekatinya. Meski hatinya masih diselimuti amarah
terhadap
si orang tua tapi melihat isyarat kawannya itu segera dia datang juga. Keduanya
melangkah ke
hadapan langkan rumah.
”Kau Ranaweleng?” tanya Kalingundil membentak.
Selama menjadi Kepala Kampung di Jatiwalu, baru ini harilah Ranaweleng dibentak
orang demikian rupa dan oleh orang asing pula! Dari tampang-tampang serta sikap kedua
tamunya itu Ranaweleng segera maklum bahwa mereka tentu datang bukan membawa
maksud baik. Namun demikian, dengan suara ramah dia menjawab:
”Betul, Saudara, aku memang Ranaweleng,” lalu tanyanya kemudian, ”Saudarasaudara
datang dari mana dan ada keperluan apakah?”
Kalingundil cabut gulungan surat dari balik pakaiannya.
”Ini! Silahkan dibaca!” katanya.
Gulungan surat itu dilemparkannya ke hadapan Ranaweleng. Karena lemparan itu
disertai dengan aliran tenaga dalam maka surat tersebut melesat berdesing dan ujung
kayu di
mana surat itu disepit menancap pada tiang langkan!
Ranaweleng kaget. Ditekannya rasa kaget itu dan dicabutnya surat yang menancap
dari tiang langkan lalu dibacanya. Kalingundil dan Saksoko memperhatikannya dengan
bertolak pinggang.
Ranaweleng keparat!
Aku kasih tempo satu hari untukmu agar angkat kaki
dari Jatiwalu ini! Bawa anakmu tapi tinggalkan
istrimu! Ini adalah perintah! Kalau kau tidak patuhi,
jangan harap kau bisa melihat matahari tenggelam
esok hari! Ini adalah perintah!
Mahesa Birawa
Bergetar tubuh Ranaweleng. Dadanya panas dikobari luapan hawa amarah. Dia tak
pernah kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu, bahkan juga tak pernah
dengar nama atau riwayat manusia itu sebelumnya.
Matanya memandang melotot pada kedua tamunya. ”Mahesa Birawa ini siapa?” tanya
Ranaweleng.
Kalingundil meludah dahulu ke tanah sebelum menjawab. ”Laki-laki yang kau rampas
kekasihnya dan yang kini menjadi istrimu!”
Kaget Ranaweleng bukan alang kepalang. Belum dia sempat bicara Saksoko sudah
mendahului. ”Mahesa Birawa inginkan jawabanmu hari ini juga Ranaweleng!”
Kalingundil menyambungi, ”Dan sebaiknya..... apa yang tertulis di surat itu kau ikuti
saja.”
”Kalau tidak?,” tanya Ranaweleng menindih rasa geramnya.
Kalingundil tertawa mengekeh. Gigi-giginya kelihatan besar-besar dan coklat
kehitaman.
Ranaweleng tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Diremasnya dan dipatahpatahkannya
kayu penyepit surat lalu dilemparkannya ke kepala Kalingundil, tepat
mengenai
mulut yang sedang tertawa mengekeh itu!
”Bangsat rendah!” hardik Kalingundil. Dia meloncat ke muka. ”Kau berani berlaku
kurang ajar terhadapku, huh?!”
”Tak usah jual lagak di sini, setan!” balas menghardik Ranaweleng. ”Kalian budakbudak
sinting kembalilah kepada majikan kalian! Bilang sama itu manusia Mahesa Birawa
agar lekas-lekas pergi mencari dukun untuk mengobati otaknya yang tidak waras!”
”Betul-betul anjing budak yang tidak tahu diri!” semprot Saksoko. Dari tadi dia
memang sudah beringasan gara-gara si orang tua yang telah mempermainkan dan
setengah
menantangnya tadi. Sekali dia ayunkan langkah maka satu tendangan yang didahului oleh
angin hebat melanda ke bawah perut Ranaweleng.
Melihat musuh yang inginkan jiwanya ini Ranaweleng menggeram dan kertakkan
rahang. Dia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan.
Saksoko
bukan manusia yang baru belajar ilmu silat kemarin. Sambil melompat ke atas lututnya
ditekuk dan disorongkan ke kepala lawan. Ranaweleng merunduk dan lompat ke samping.
Sebelum dia berbalik untuk mengirimkan pukulan ke punggung lawan yang saat itu masih
belum menginjak lantai langkan maka terdengarlah suara seseorang.
”Ah, Raden Ranaweleng, mengapa musti mengotori tangan terhadap kunyuk kesasar
ini?! Biar aku si tua bangka Jarot Karsa yang kasih sedikit pelajaran sopan santun
terhadapnya!”
Ternyata yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi
mencabuti rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala Kampung Jatiwalu.
Mendengar dirinya dimaki sebagai kunyuk kesasar maka marahlah Saksoko. Dia
membalik dan menyerang orang tua itu kini dengan satu pukulan jarak jauh yang
menimbulkan angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke pusat jantung di dada Jarot
Karsa. Dengan begitu Saksoko berkehendak untuk mencabut nyawa si orang tua detik itu
juga!
Tapi Jarot Karsa ganda tertawa.
Sekali dia gerakkan tangan kanannya yang kurus maka setiup angin dahsyat memapaki
serangan si gemuk pendek Saksoko. Angin pukulan Saksoko menyungsang balik
menyerang
Saksoko sendiri. Ditambah dengan dorongan angin pukulan si orang tua maka
kedahsyatannya bukan olah-olah!
Tubuh Saksoko mencelat keluar langkan rumah sampai tiga tombak dan
menggelinding di tanah. Dicobanya bangun kembali. Tapi tubuhnya itu segera rebah lagi
setelah terlebih dahulu dari mulut Saksoko menyembur darah kental dan segar!
Kaget Kalingundil bukan kepalang. Mukanya hitam membesi. Laki-laki ini menerjang
ke depan. Terjangan ini disertai dengan bentakan yang keras menggeledek membuat
langkan
rumah dan tanah menjadi bergetar!
Jarot Karsa merunduk cepat. Gerakannya ini disusul dengan cepat oleh Kalingundil.
Serangkum angin keras dan dingin menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh orang tua.
Pasir
menderu beterbangan, debu menggebu.
Jarot Karsa cepat-cepat dorongkan tangan kanannya ke muka. Maka dua angin
pukulan bertemu di udara menimbulkan suara berdentum seperti letusan meriam! Tubuh
Jarot
Karsa kelihatan bergoyang gontai sedang Kalingundil terdampar ke tanah tapi cepat
bangun
lagi.
Keringat dingin memercik di kening anak buah Mahesa Birawa ini. Nyalinya menciut
kecil. Tak nyana si orang tua memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya sama
sekali
kalau tenaga dalamnya ada di bawah angin berhadapan dengan tenaga dalam Jarot Karsa!
Tapi laki-laki ini, yang menjadi buta matanya dan tumpul pikirannya karena amarah
dan kebencian yang meluap, tidak memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang tua
bukan
tandingannya.
Kedua tangannya dipentang ke muak. Tangan itu kelihatan bergetar. Jarot Karsa dan
juga Ranaweleng memperhatikan gerak gerik manusia itu dengan tajam. Kelihatan kini
bagaimana sepasang lengan Kalingundil sampai ke jari-jari tangannya berwarna
kehitaman.
”Ha.....ha....,” terdengar kekehan si tua Jarot Karsa, ”Kau hendak pamerkan ilmu
lengan tangan baja?!”
Kalingundil terkejut. Terkejut karena belum apa-apa musuh sudah mengetahui ilmu
simpanan yang paling diandalkannya. Tapi ini tidak diperlihatkannya, bahkan dia pentang
mulut.
”Bagus, penglihatanmu masih tajam juga, huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu
pukulan lengan tangan baja ini?!”
”Kau tak perlu banyak bacot, Kalingundil, majulah!” tantang Jarot Karsa.
Kalingundil menggeram. Kebetulan saat itu dia berdiri di dekat langkan rumah. Sekali
ayunkan tangan kanannya maka: brak!! Tiang langkan yang besarnya hampir menyamai
paha
manusia patah. Atap rumah menurun miring!
Sebenarnya Jarot Karsa kagum juga dengan kehebatan ilmu lawannya itu. Tapi
sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan masakan dia
jerih
menghadapi ilmu pukulan macam begitu saja!
”Ayo monyet kesasar, majulah!” katanya dengan terbungkuk-bungkuk.
Kedua telapakan kaki Kalingundil menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke muka, sedikit
miring. Kaki kiri dan kanan mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu kemudian
menyusul sepasang lengannya yang menghitam oleh aji ’lengan tangan baja.’ Angin yang
ditimbulkan oleh serangan dua lengan ini dahsyatnya bukan alang kepalang, tajam dan
memerihkan mata. Lengan kiri membabat ke pinggang Jarot Karsa, kalau kena pastilah
pinggang orang tua itu akan terkutung dua. Lengan kanan menghantam dari atas ke
bawah
mengincar batok kepala Jarot Karsa. Dapat dibayangkan bagaimana dalam sekejapan mata
lagi kepala si orang tua akan hancur berantakan!
Pekikan setinggi langit yang hampir merupakan lolongan serigala haus darah
melengking menegakkan bulu roma! Kalingundil melingkar di tanah. Nafasnya sesak,
lidahnya menjulur keluar seperti orang yang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya
bergerak-gerak beberapa lamanya kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya,
tubuh
itu pun tak bergerak-gerak lagi! Kalingundil pingsan menyusul kawannya yang terdahulu.
Ranaweleng menghela nafas dalam. Dipandanginya kedua manusia yang melingkar di
tanah itu. Kemudian dia berpaling pada si orang tua. ”Bapak Jarot Karasa, kau kenal
dengan
manusia yang bernama Mahesa Birawa itu?”
Jarot Karsa menggeleng.
”Siapa dia tak penting Raden. Yang penting ialah mulai saat ini kita musti waspada
karena cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat perhitungan
dengan
kita!”
Ranaweleng mengangguk.
”Aku tak ingin melihat kdua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan mereka,
pak Jarot.”
Si orang tua tertawa mengekeh.
”Tak usah khawatir...... tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan
hidungmu, Raden.”
Dua kali kaki kanan Jarot Karsa yang kurus kering itu menendang. Tubuh Kalingundil
dan Saksoko mencelat seperti bola, dan angsrok di luar pagar halaman.


......


Bastian Tito
Wiro Sableng adalah Karya Legenda dari Bastian Tito

Tidak ada komentar:

Posting Komentar