Sabtu, 15 Agustus 2009

Banjir Darah Di Tambun Tulang


---010---
BASTIAN TITO
Pendekar Kapak Nagageni 212
 Wiro Sableng

Kiai Bangkalan menggeletak di lantai batu dalam Goa
Belerang. Sedikit pun tubuh itu tidak bergerak lagi karena
nafasnya sudah sejak lama meninggalkan
tubuh!
Orang tua itu menggeletak menelentang. Dua buah
keris kecil yang panjangnya hanya tiga perempat jengkal
berhulu gading menancap di tubuh Kiai Bangkalan.
Darah bercucuran menutupi seluruh wajahnya.
Dalam jari-jari tangan kiri Kiat Bangkalan tergenggam
secarik kertas tebal empat persegi. Sedang tepat di
ujung jari telunjuk tangan kanannya, yaitu pada lantai
batu tergurat tulisan:
TAMBUN TULANG
Pendekar 212 Wiro Sableng yang berdiri di dekat tubuh
tak bernyawa Kiai Bangkalan tidak mengetahui apa arti dua
buah kata itu. Apakah nama seseorang yaitu manusia yang
telah membunuh orang tua itu, ataukah nama sebuah
tempat. Yang diketahuinya ialah bahwa si orang tua telah
menuliskan dua buah kata itu pada saat-saat menjelang
detik kematiannya karena ujung jari tangan yang dipakai
menulis masih terletak kaku di atas huruf terakhir kata
yang kedua.
Diam-diam Wiro Sableng memaki dirinya sendiri.
Seharusnya dia datang lebih cepat ke Goa Belerang itu
sehingga nasib malang begitu tidak terjadi atas diri si orang
tua. Kiai Bangkalan tempo hari telah menyuruhnya datang
dan menjanjikan akan memberi pelajaran tentang ilmu
pengobatan. Kini dia datang terlambat Kiai Bangkalan
hanya tinggal tubuh kasarnya saja lagi!
Perlahan-lahan pendekar muda ini berlutut di samping
tubuh Kiai Bangkalan. Diperhatikannya kertas tebal empat
persegi yang tergenggam di tangan kiri Kiai Bangkalan.
Ternyata kertas tebal ini adalah robekan kulit sebuah
buku. Dan pada kertas itu tertulis:
SERIBU MACAM ILMU PENGOBATAN
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 3
Wiro Sableng tarik nafas panjang yang mengandung
penyesalan. Satu kesimpulan lagi dapat ditarik oleh
pendekar ini. Yaitu bahwa Kiai Bangkalan menemui
kematiannya dalam mempertahankan sebuah buku
ciptaannya. Buku tentang pengobatan itu tentulah sebuah
buku yang sangat berguna bagi dunia persilatan hingga
seseorang telah mengambilnya dengan jalan kekerasan.
Dan Wiro lalu ingat kembali janji Kiai Bangkalan yang
hendak mengajarkan ilmu pengobatan kepadanya.
Rupanya orang tua itu telah membukukan seluruh macam
cara pengobatan yang diketahuinya.
Sepasang mata Wiro Sableng kemudian berputar
memperhatikan dua buah keris kecil yang menancap di
tubuh Kiai Bangkalan. Menurutnya kedua keris itu pasti
mengandung racun jahat karena seseorang yang ditusuk
bahkan yang dicungkil kedua matanya belum tentu,
menemui kematian. Tak pernah dia sebelumnya melihat
keris semacam itu. Kiai Bangkalan bukan seorang berilmu
rendah dan melihat pada keanehan bentuk senjata yang
menancap itu Wiro sudah dapat menduga, siapapun
pembunuh Kiai Bangkalan adanya, manusianya pastilah
bukan orang sembarangan! Dan siapakah kira-kira yang
telah melakukan perbuatan terkutuk ini?
Untuk beberapa lamanya Pendekar 212 masih berlutut
di situ. Akhirnya dia sadar bahwa dia harus menguburkan
jenazah Kiai Bangkalan: Didukungnya tubuh tiada bernyawa
itu dan melangkah menuju ke pintu. Untuk terakhir kalinya,
sebelum meninggalkan ruangan itu, Wiro memandang
berkeliling. Dan saat itulah sepasang matanya membentur
sebuah benda. Benda itu tadi tidak kelihatan karena
tertindih oleh tubuh Kiai Bangkalan yang menggeletak di
lantai. Wiro melangkah mendekatinya. Benda yang mulanya
disangkanya cabikan pakaian ternyata adalah kulit
harimau. Bulunya bagus berkilat, kuning berbelang-belang
hitam. Apakah Kiai Bangkalan telah bertempur melawan
harimau? Mana mungkin seekor harimau bisa
menancapkan dua buah keris aneh di mata orang tua itu?
Atau mungkin harimau siluman? Kulit Itu kering dan bersih.
Ini membawa pertanda,bahwa itu bukan kulit harimau
hidup! Pendekar 212 Wiro Sableng masukkan robekan kulit
harimau, itu ke dalam saku pakaian lalu meninggalkan
ruangan batu tersebut dengan cepat.
Langit di ufuk timur mulai terang disorot sinar merah
kekuningan sang matahari yang hendak ke luar dari
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 4
peraduannya Katulistiwa detik demi detik kelihatan dengan
jelas. Di bawah sorotan sinar matahari air laut laksana
hamparan permadani yang indah sekali. Kemudian
mataharipun ke luarlah tersembul di ufuk timur itu
merupakan sebuah bola raksasa seolah-olah muncul
dari dalam lautan luasi
Sepasang mata Pendekar 212 tiada berkedip memandang
ke arah timur itu. Telah lima kali dia melihat kemunculan
sang surya di lengah lautan. Betapa indahnya.
Sukar dilukiskan dengan kata-kata. Dan setiap dia memperhatikan
keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa
itu, teringatlah dia pada Si Pelukis Aneh. Dengan keahliannya
melukis, tentu orang tua itu akan sanggup menuang
segala keindahan yang ada di depan mata itu ke
atas kain lukisannya.
Perahu besar itu meluncur laju di lautan yang tenang,
dihembus angin barat. Ke manapun mata memandang
hanya air laut yang kelihatan. Itulah batas kemampuan
penglihatan manusia yang menandakan bahwa
sesungguhnya dia hanyalah makhluk lemah belaka
dibandingkan dengan kehebatan alarn!
Angin dari barat bertiup lagi dengan keras. Layar perahu
besar menggembung dan perahu meluncur lebih
pesat. Di.kejauhan kelihatan serombongan burung terbang
di udara. Ini satu pertanda bahwa terdapat daratan di
sekitar situ. Namun demikian daratan itu agaknya masih
terlalu jauh hingga pandangan mata tak kuasa
menangkapnya. Puas memandangi keindahan laut di waktu
pagi itu maka Wiro Sableng memutar tubuh. Dia melangkah
ke buritan. Seorang laki-laki berbaju hitam berdiri di
buritan itu dan memandang tajam-tajam ke arah langit di
sebelah tenggara, Wiro tak tahu apa yang tengah diperhatikan
laki-laki pemilik perahu ini.
''Ada apakah, bapak?" tanya Wiro.
Tanpa alihkan pandangan matanya pemilik perahu
menjawab. "Orang muda, perhatikan baik-baik. Adakah
terlihat olehmu sekumpulan awan kelabu dr kejauhan
sana...?"
"Awan semacam itu biasanya membawa pertanda
tidak baik."
"Tidak baik bagaimana?" tanya Wiro yang tak tahu
apa-apa segala soal pelayaran ataupun keadaan di laut.
"Akan timbul angin ribut," kata pemilik perahu pula.
Latu dia pergi kehaluan dan menyuruh anak buahnya
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 5
merubah arah menjauhi awan kelabu itu.
Wiro Sableng angkat bahu. Awan kelabu itu sangat jauh
sekali. Udara sekitar mereka bagus dan indah. Perlu apa
dikhawatirkan awan kelabu itu? Kalaupun terjadi angin
ribut, tentu terjadinya di sebelah tenggara itu! . Maka
karena, segala sesuatunya dianggap tak perlu dikhawatirkan
oleh Wiro, diapun duduk di buritan itu sambil
bersiul-siul. Tapi menjelang tengah hari kecemasan mulai
membayangi hati pemuda ini.
Di sebetah tenggara, awan yang tadinya kelabu kini
kelihatan menjadi hitam dan bergerak cepat sekali ke arah
perahu. Dan awan itu bukan hanya satu kelompok saja lagi
melainkan berkelompok-kelompok dan menyebar di manamana.
Pemandangan yang serba indah kini menjadi
diselimuti kemendungan. Angin pun bertiup keras dan tak
tentu arahnya. Kelompok awan hitam semakin banyak dan
semakin lebaL Cuaca semakin buruk. Air laut bergelombang
dan berputar-putar tak menentu. Jalannya perahu tersendatsendat.
Kemudian hujan rintik-rintik mulai turun.
"Arahkan perahu ke pulau itu!" teriak pemilik perahu
pada pemegang kemudi.
Jauh di sebelah barat kelihatan sebuah titik hitam.
Kemudi diputar. Perahu menjurus ke barat, ke arah titik
hitam itu. Didahului oleh sabungan kilat, yang disusul
oleh gelegar guntur maka hujan yang tadinya rintik-rintik
kini berubah menjadi hujan lebat yang mendera seluruh
perahu! Angin seperti suara ribuan seruling yang ditiup
bersama karena derasnya, laut marah menyabung gelombang,
menghempaskan perahu kian ke mari sementara
udara telah berubah laksana malam hari, gelap pekat!
Sekali-sekali kilat menyambar menerangi perahu.
Tapi ini hanya menambah rasa ketakutan orang-orang
yang ada di dalam perahu itu.
"Gulung layar besar!" teriak pemimpin perahu.
Namun baru saja perintahnya itu diucapkan satu
angin dahsyat menerpa,perahu.,
"Kraak!" ,
Tiang layar utama perahu patah. Perahu condong
tajam mengikuti arah tumbangnya bagian atas tiang layar.
Dalam pada itu dari samping datang pula satu gelombang
yang luar biasa besarnya. Perahu yang tidak berdaya itupun
ditelan bulat-bulat. Di antara deru angin dan deru hujan, di
antara sambaran kilat dan di antara menggeledeknya suara
guntur, di antara semua itu maka terdengarlah suara jerit
pekik manusia yang mengerikan. Tapi suara jerit pekik itu
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 6
hanya sebentar saja karena sedetik kemudian perahu itu
telah amblas digulung gelombang!
Sewaktu perahu itu muncul kembali maka keadaannya
hanya merupakan hancuran dan kepingan-kepingan papan
dan balok-balok belaka yang tersebar kiah ke mari untuk
kemudian dipermainkan gelombang lagi secara ganas.
Setiap manusia yang ada dalam perahu itu, dengan
segala, daya yang ada berusaha menyelamatkan diri.
Tapi apakah daya manusia dalam melawan keganasan
alam yang maha dahsyat itu?!
Pendekar 212 Wiro Sableng bergulat sekuat tenaga
untuk ke iuar dari bencana maut yang mengerikan itu.
Dia berusaha berenang mencapai kayu pecahan-pecahan
perahu namun mana mungkin berenang dalam gelombang
yang menggila seperti itu. Baru saja kepalanya muncul telah
disapu kembali oleh air laut!
Wiro mulai megap-megap kehabisan nafas sewaktu dia
melihat sebuah papan besar kira-kira dua belas tombak
dihadapannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang terakhir
pemuda ini berusaha berenang mencapai benda itu. Baru
saja satu tombak, sebuah gelombang mendera tubuhnya.
Pendekar itu amblas lagi masuk ke dalam laut.
Sewaktu kepalanya muncul lagi papan besar tadi telah
lenyap!
"Celaka! Tamatlah riwayatku!" kata Pendekar 212
dalam hati. Baru saja dia mengeluh begitu sebuah
gelombang datang dengan ganas dari muka. Dia menyelam
dengan cepat untuk menghindarkan pukulan gelombang.
Namun tetap saja tubuhnya diterpa sampai puluhan tombak
membuat pemandangannya menjadi gelap!
Ketika dia memunculkan kepalanya kembali di
permukaan air laut dalam keadaan setengah hidup
setengah mati, sesuatu melanda keningnya dengan'keras.
Kulit keningnya robek dan mengucurkan darah! Wiro tak
tahu benda apa yang telah menghajar keningnya itu karena
dia tak bisa membuka kedua matanya. Namun demikian
otaknya masih terang untuk berpikir. Apapun benda itu
adanya mungkin bisa dipakai untuk menyelamatkan
jiwanya! Maka dalam mata terpejam dan muka berlumuran
darah dengan membabi buta Wiro Sableng gerakkan
tangannya untuk menangkap benda itu. Pertama kali dia
cuma menangkap angin. Yang kedua kali dia cuma
menampar air laut di sampingnya. Ketiga kalinya juga tak
berhasil apa-apa namun kali yang keempat baru dia
berhasil menangkap benda itu dan dipegangnya erat-erat.
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 7
Beberapa saat kemudian ketika kedua matanya sudah
bisa dibuka ternyata benda itu adalah sebuah balok pendek
yang terpaku pada sepotong papan yang lumayan besarnya.
Wiro Sableng bersyukur. Dengan benda itu dia bisa
mempertahankan diri agar tidak tenggelam untuk
kemudian berusaha berenang mencari daratan. Belum
lama pemuda ini berpegang pada papan itu, terombang
ambing dipermainkan ombak, satu benda meluncur
dihadapannya, sebentar timbul sebentar tenggelam. Ketika
diperhatikan ternyata tubuh seorang anak kecil. Wiro tahu
betul anak kecil itu adalah anak laki-laki yang dibawa oleh
seorang penumpang perahu, Ditangkapnya tangannya.
Sewaktu diperiksa ternyata anak itu dalam keadaan
pingsan, perutnya gembung.
Wiro Sableng menyadari bahwa papan yang di dapatnya
tidak cukup besar untuk menolong mereka berdua
sekaligus! Berarti kalau dia mau selamat terus, dia musti
meninggalkan anak kecil itu! Pertentangan terjadi di lubuk
hati Pendekar 212. Akhirnya pemuda itu membuka
bajunya. Dengan baju itu diikatnya anak yang pingsan pada
papan lalu didorongnya ke tempat yang agak tenang.
"Mudah-mudahan kau selamat anak," kata Wiro dalam
hati.
Dia memandang berkeliling. Tak sepotong papan atau
balokpun yang kelihatan. Laut yang tadi menggila kini mulai
tenang sedikit. Wiro mengeluh dalam hati. Rupanya sudah
ditakdirkan bahwa dia harus mati hari itu, di tengah lautan!
Berdiri bulu kuduknya! Inilah untuk pertama kalinya dia
merasa ngeri! Ngeri menghadapi kematiannya sendiri! Ingin
dia memekik, berteriak setinggi langit. Namun siapa yang
akan mendengar? Siapa yang akan menolongnya? Lagi pula
mulutnya serasa terkancing. Dicobanya berenang. Namun
kekuatannya sudah sampai ke batas terakhir. Kaki dan
tangannya kaku tak sanggup digerakkan lagi. Sedikit demi
sedikit, perlahan-lahan tetapi pasti, tubuhnya mulai
tenggelam. Sebelum kepalanya lenyap ditelan air laut
pemuda ini merasa seperti melihat sesuatu jauh
dihadapannya, meluncur di atas air laut menuju ke arahnya.
Dia tak tahu benda apa itu. Kelihatannya seorang, manusia
berjubah putih, tapi mungkin juga malaekat maut yang
hendak mencabut nyawanya! Pada detik dia menyebut
nama Tuhan dan memanggil nama gurunya pada detik
itupula tubuh pendekar 212 lenyap keseluruhannya dari
permukaan air laut.
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 8
Ketika dia siuman tubuhnya terasa panas. Kepalanya
berdenyut sakit. Matanya berat sekali untuk dapat dibuka.
Di manakah aku sekarang, apakah sudah berada di alam
akhirat, berada di neraka?!
Wiro Sableng membuka kedua matanya dengan
perlahan, Yang pertama sekali dilihatnya ialah atap rumbia.
Dia berusaha memutar bola matanya dan memandang
berkeliling. Sesungguhnya sudah mati atau masih hidup aku
ini, pikir Wiro. Ingatannya merayap pada saat dia berada di
atas perahu tengah menyeberangi Selat Sunda,
meninggalkan Pulau Jawa menuju ke Pulau Andalas!
Kemudian datang angin topan dan hujan lebat. Perahunya
amblas ditelan gelombang. Lalu setelah mengikatkan
seorang anak laki-laki pada sebuah papan, tubuhnya
tenggelam di dalam laut dan tak tahu apa-apa lagi!
Tapi kini dilihatnya atap rumbia itu. Dilihatnya dinding
kayu, dilihatnya isi pondok kecil itu, bermimpikah dia?!
Digigitnya bibirnya. Terasa sakit. Tidak, dia tidak bermimpi!
Tapi sukar untuk bisa menerima kenyataan yang ada
dihadapannya saat itu. Untuk memastikan dicobanya
bangun dan duduk di tepi balai-balai kayu dimana dia
terbaring. Tapi tubuhnya yang lemah tiada berdaya itu
terhempas kembali ke atas balai-balai. Wiro mengeluh
kesakitan: Dan dia pingsan lagi.
Kedua kali dia sadarkan diri, hawa panas dari demam
yang menyerangnya telah berkurang tapi tubuhnya masih
lemas, tenggorokannya kering dan sendat. Lapat-lapat
didengarnya suara anak kecil. Tapi mungkin itu cuma
desau angin yang meniup telinganya. Rasa haus
menyerarig tenggorokannya. Tapi kepada siapa dia minta
air, sedang untuk mengeluarkan suarapun dia tiada
sanggup?
Didengarnya suara berkeretekan di belakang
kepalanya. Dia lak bisa berpaling. Dia tak tahu suara apa
itu. Namun kemudian seorang laki-laki tua berpakaian putih
tahu-tahu sudah berdiri di samping balai-balai. Rambutnya
jarang sekali hingga kulit kepalanya kelihatan jelas.
Orang tua ini memelihara kumis dan janggut. Baik rambut
maupun kumis serta janggutnya, seluruhnya berwarna
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 9
putih. Yang membuat Wiro jadi menahan nafas ialah
sewaktu menyaksikan keangkeran muka orang tua tak
dikenal ini!
Manusia ini berpipi dan bermata yang sangat lebar dan
cekung. Mukanya tiada beda dengan tengkorak karena
tiada berdaging. Hanya selembar kulit pucat saja yang
menutupi parasnya. Hidungnya kecil, panjang dan bengkok
seperti paruh burung kakak tua. Dia tersenyum, tapi
senyumnya ini justru lebih menambah keangkeran pada
parasnya. Diam-diam Wiro Sableng merasa bulu kuduknya
berdiri. Manusia atau setankah yang berdiri dihadapannya
itu? Kalau manusia, tak pernah dia menyaksikan yang
seseram ini tampangnya. Si orang tua mengedipkan
matanya yang lebar luar biasa dan menyeringai.
"Sudah sadar hah?!" bentaknya menggeledek. Wiro
terkejut. Dirasakannya balai-balai di mana dia terbaring
bergetar hebat dan pondok itu mengeluarkan suara
berkereketan.
"Empat hari empat malam mendengkur terus-terusan.
Enak betul!" orang tua bermuka angker itu berkata lagi.
Wiro membuka mulut hendak berkata. Tapi tak sedikit
suarapun yang sanggup dikeluarkannya. Dalam kengerian
melihat orang tua itu dia masih terus berpikir siapa adanya
manusia ini. Dilihatnya timbul kepastian bahwa orang tua
itu adalah orang yang telah menyelamatkan jiwanya. Tapi
setelah menolong mengapa sikapnya demikian keras serta
menunjukkan hati jahat?!
"Apa yang kau pikirkan!" tiba-tiba orang tua itu
membentak lagi. Balai-balai serta pondok kembali
bergetar. ,
Hebat sekali tenaga dalam orang tua ini.
Wiro buka lagi mulutnya. Kali ini dia bisa bersuara
meskipun perlahan; "Air..."
"Apa?!"
"Air.:." desis Wiro.
"Air?! Kau minta air?! Kau kira aku ini pelayanmukah?!
Sialan betul!" Kedua mata si orang kelihatan tambah lebar.
Wiro terkesiap mendengar jawaban,orang tua
bertampang angker itu. Diam-diam dia menggerutu dalam
hati. Dicobanya meminta air kembali. Dan kembali si orang
tua mendampratnya.
Tiba-tiba seorang anak kecil masuk ke dalam pondok itu.
"Ah... anakku!" kata si orang tua seraya mendukung anak
yang baru masuk. Wiro terkejut. Anak yang dalam
dukungan orang tua itu bukan lain daripada anak kecil yang
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 10
tempo hari ditolongnya di tengah laut sewaktu badai
mengamuk. Semakin jelas bahwa orang tua itulah yang
telah menolongnya dan juga menolong anak laki-laki itu.
Tapi mengapa sikapnya demikian aneh dan galak?
"Anakku, apakah kau dengar si tukang tidur ini minta
air...? Gila betul dia! Disangkanya bapakmu ini budaknya!"
Habis berkata begitu si orang tua tertawa gelak-gelak. Tibatiba
dia hentikan tawanya dan membentak si anak: "Hai!
Kau dengar apa tidak?!"
Dibentak keras begitu, si anak berumur dua tahun
menangis dan meluncur turun dari dukungan si orang tua,
lalu meninggalkan tempat itu. Si orang tua kembali tertawa
gelak-gelak. "Orang gila," katanya kemudian pada Wiro.
"Kalau kau mau minum, itu di atas meja ada kendi berisi
air. Ambil sendiri. Aku bukan pelayanmu! Bukan budak,
bukan kacung!" Lalu dia ke luar dari pondok. !
"Edan!" desis Wiro.
"Eh, apa?! Kau memakiku edan?! Kau yang edan!"
Tiba-tiba si orang tua bertampang angker masuk kembali.
Meskipun cuma mendesis tapi ucapan Wiro tadi telah
didengarnya.
"Braak!"
Orang tua aneh itu tendang kaki balai-balai yang ditiduri
Wiro Sableng. Tak ampun lagi balai-balai itu roboh dan Wiro
terguling ke lantai, lalu pingsan lagi! Si orang tua tertawa
gelak-gelak, lalu mendengus dan tinggalkan pondok itu.
Pagi itu Wiro merasakan badannya berangsur baik dan
segar. Sesudah duduk bersila mengatur jalan nafas serta
darah dan mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian-bagian
tubuh yang perlu maka dia turun dari balai-balai. Di atas
meja reyot di sudut pondok ada sebuah kendi berisi air
putih. Diteguknya air ini beberapa kali. Terasa dingin dan
segar. Dengan air itu juga dicucinya mukanya. Kemudian
sewaktu.rnelihat sepiring ubi rebus di atas meja, tanpa pikir
lagi Wiro segera menyambarnya.
Mendadak di luar didengarnya suara si orang tua.
"Ah... salah! Salah! Kaki kananmu majukan lagi..: nah.
Eee... itu tangan kananmu musti begini. Bagus.... Sekarang
coba memukul ke muka... ah salah! Salah! Dasar bocah
geblek!"
Sedang mengapa orang tua itu, pikir Wiro Sableng.
Dia bergerak ke pintu pondok. Langkahnya berat dan pemandangannya
berkunang waktu dibawa berjalan itu. Di
pintu pondok dia berdiri dengan bersandar dan memandang
ke halaman. Orang tua berwajah angker itu dilihatnya
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 11
tengah berjongkok di hadapan anak laki-laki yang
berumur dua tahun. Dari gerak gerik dan apa-apa yang
dikatakannya nyatalah bahwa dia tengah mengajarkan
ilmu pukulan tangan kosong pada anak itu. Wiro Sableng
tertawa geli. Mana mungkin anak sekecil itu diajar ilmu
silat langsung disuruh memukul! Dan si anak sendiri
kelihatannya tidak senang dipaksa-paksa seperti itu.
Kelihatan dia menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa?!" bentak si orang tua, "Kau tak mau diajar silat?!
Bocah geblek! Kalau besar kau mau jadi apa?! Mau jadi
laki-laki banci pengecut?!"
Si anak menangis. Dan Wiro bukan cuma sekali itu
mendengar anak itu menangis. Sebaliknya melihat anak
tersebut menangis si orang tua menjadi marah dan
memaki-maki. Tapi kemudian dia sendiri ikut-ikutan nangis!
Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. "Aneh sekali
orang tua ini," katanya dalam hati. "Mungkin otaknya
kurang waras. Tapi agaknya kepandaiannya tinggi sekali.
Dan Wiro lantas ingat pada gurunya yaitu Eyang Sinto
Gendeng. Sifatnya hampir sama dengan orang tua ini.
"Bocah tolol! Kalau kau tak mau belajar silat pergilah
sana main-main! Nanti kalau ada yang mengatakan kau
laki-laki pengecut jangan salahkan aku!" Habis berkata
demikian si orang tua pukul-pukul keningnya sendiri sambil
membalikkan badan dan melangkah ke pondok.
Mendadak dia hentikan langkahnya dan memandang
mendelik ke pintu pondok.
"Orang edan! Siapa yang suruh kau bangun dan berdiri di
situ?!" bentak si orang tua begitu melihat Wiro Sableng. Dia
marah sekali dan banting-banting kedua kakinya di tanah.
Dan bukan main terkejutnya Wiro Sableng sewaktu melihat
bagaimana tanah yang kena bantingan kaki orang tua itu
amblas sampai setengah jengkal!
Tiba-tiba Wiro ingat bahwa siapapun adanya orang tua
bertampang angker itu dia adalah orang yang telah
menyelamatkan jiwanya. Maka dengan segera Pendekar
212 menjura dalam-dalam.
"Betut-betut kau sudah gila!" sentak si orang tua.
"Apa-apaan menjura segala?!"
"Orang tua aku berhutang nyawa padamu, juga berhutang
budi. Aku...."
"Hutang nyawa?! Hutang budi...?! Kau gila!"
"Bukankah kau yang telah menolongku sewaktu perahu
yang kutumpangi tenggelam di tautan? Kemudian
merawatku di sini?!" '
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 12
Orang tua itu urut-urut keningnya. Mimiknya seperti
seorang yang tengah berpikir-pikir atau mengingat-ingat.
"Tidak!" katanya kemudian dengan keras. "Aku tak
pernah menolong orang gila macam kau!"
Meski Wiro menjadi gusar karena dimaki orang gila
namun dia bertanya juga: "Lantas bagaimana aku bisa
berada di tempatmu ini?"
"Maha aku tahu! Tanya dirimu sendiri!" menyahuti
orang tua bertampang angKer.
"Meski kau tak mau mengakui terus terang tapi aku
yakin bahwa engkaulah yang telah menyelamatkan diriku,
juga anak kecil tadi. Aku mengucapkan terima kasih.
Di lain waktu kuharap akan bisa membalas hutang jiwa
dan budi kebaikan itu. Sudilah kau memberitahukan
namamu, orang tua...."
"Buat apa?!"
"Agar dapat kuingat selama hidupku," jawab Wiro pula.
"Hanya sekedar diingat?" tukas orang tua itu.
Wiro tak tahu harus berkata apa. Orang tua itu kemudian
dilihatnya duduk di bawah sebuah pohon kelapa
dan bernyanyi. Wiro tak tahu apa yang dinyanyikannya,
bahasanya sama sekali tidak dimengerti. Bahkan suara
menyanyinya itu tak ubahnya seperti suara orang mengigau!
Tiba-tiba orang tua itu hentikan nyanyiannya dan
pukulkan tangan kanan ke atas pohon kelapa. Terdengar
suara berkeresek lalu suara benda meluncur. Ternyata
pukulan tadi telah menjatuhkan sebuah kelapa muda.
Dua tombak lagi kelapa itu akan jatuh menimpa tubuh si
orang tua, tiba-tiba orang tua ini ambil sebutir kerikil dan
melemparkannya ke arah kelapa yang melayang turun!
Buah kelapa itu berlubang dan dari lubang itu
memancurlah airnya. Si orang tua buka mulutnya. Air
kelapa memancur masuk ke mulut orang tua sampai
akhirnya habis!
Wiro sampai ternganga dan, melotot melihat hal ini.
Luar biasa hebatnya apa yang disaksikannya itu. Gurunya
sendiri belum tentu sanggup berbuat seperti itu. Dan
sementara itu buah kelapa yang airnya sudah habis itu
terkatung-katung di udara seperti ada tangan yang tak
terlihat memegangnya!
Orang tua itu gerakkan tangan kanannya.
"Wuuut!"
Kelapa itu tiba-tiba sekali melesat ke arah pintu pondok
dalam kecepatan yang luar biasa! Wiro melompat ke
samping. Tubuhnya hampir tersungkur karena masih lemah.
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 13
Dan di dalam pondok didengarnya suara pecah berantakan.
Buah kelapa telah menghantam kendi air terus
membobolkan dinding pondok!
Wiro memaki dalam hati habis-habisan.
Sebaliknya orang tua itu malah tertawa gelak-gelak
sampai ke luar air mata!
"Orang gila! Kemari kau!" Orang tua itu memanggil
Wiro. Dia melototkan mata sewaktu Wiro dilihatnya tak
bergerak di tempatnya. Sebaliknya Wiro juga memandang
tak berkedip pada orang tu.a itu. Maka menggeramlah si
tampang angker ini. "Bah, kau berani menantangku nah?!"
Dari balik pakaiannya orang tua ini mengambil sesuatu.
Saking cepatnya Wiro tak mengetahui benda apa itu dan
tiba-tiba benda itu sudah dilemparkan ke, arahnya. Untuk
kedua kalinya Pendekar 212 dipaksa melompat dalam
keadaan tubuh, lemah demikian rupa. Kali ini dia tak
sanggup lagi mengimbangi dirinya. Meski benda yang
dilemparkan itu lewat di atas kepalanya namun tubuhnya
tersungkur di tanah dan keningnya yang baru saja sembuh
lukanya kini berdarah kembali!
Pendekar 212 kaget sekali karena sewaktu dia
berpaling ternyata benda yang dilemparkan orang tua tadi
adalah senjata miliknya sendiri yaitu Kapak Maut Naga Geni
212! Pantas saja anginnya membuat tubuhnya laksana
dilanda badai! Senjata itu menancap di tiang pondok
sebelah kiri.
Sambil menyeka darah yang mengalir turun ke dekat
alisnya Wiro berdiri. Dia melangkah untuk mengambil
Kapak Naga Geni, tapi baru saja tangan kanannya diulurkan
dari samping datang serangkum angin halus. Ketika dia
berpaling dilihatnya sebuah benang aneh berwarna putih
dan berkilauan melayang ke arah tangannya. Wiro cepatcepat
tarik tangan kanannya tapi terlambat. Benang putih
itu telah melibat! lengannya!
Si orang tua tertawa gelak-gelak. Sekali dia
menyentakkan benang tersebut maka Wiro tertarik keras
ke arahnya. Wiro merasakan tangannya seperti mau copot!
Dia memaki lagi. Kalau saja tidak mengingat bahwa orang
tua itu telah menyelamatkan jiwanya maulah dia
mengirimkan sebuah serangan biar si orang tua tahu rasa!
"Ha... ha! Orang, gila macam begini yang hendak
membangkang kepadaku?!" ejek orang tua itu begitu Wiro
sampai dihadapannya. Wiro coba lepaskan lipatan benang
tapi sukar sekali.
"Orang gila siapa namamu?!"
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 14
"Orang tua, kuharap kau jangan panggil aku orang gila
terus-terusan!" kata Wiro dengan kesal. ,
"Ah... kau memang gila!" tukas si muka angker.
"Ayo katakan siapa namamu!"
"Wiro," sahut Pendekar 212 meskipun dengan hati agak
gusar.
"Wiro apa?!" bertanya lagi si muka angker.
Pendekar 212 katupkan rahang rapat-rapat menahan
kesal.
"Hai! Apa kau tuli?! Wiro apa?!"
"Wiro Sableng," menyahuti juga pemuda itu akhirnya.
"Wiro Sableng?! Nah... itu buktinya kau memang
orang gila. Kalau bukan orang gila mana ada manusia
yang memakai nama Sableng! Sableng sama saja artinya
dengan edan alias gila!"
"Tapi itu bukan mauku memakai nama demikian...."
"Aku tahu, orang tuamu yang memberikan nama itu
padamu...."
"Bukan, tapi guruku!" potong Wiro Sableng.
"Ah... kalau begitu berarti gurumu juga Sableng alias
keblinger!"
Marahlah Pendekar 212. Dia melangkah kehadapan
si muka angker dan menghardik: "Orang tua, jangan hina
guruku!" Wiro kerahkan tenaga dalamnya dan menyentak
dengan keras. Selain tubuhnya masih lemah, benang aneh
yang melibat lengannya kuat sekali hingga tak sanggup
diputuskan oleh sentakan itu!
Si muka angker sebaliknya tertawa mefihat perbuatan
Wiro dan berkata: "Jangankan kau! Gurumu dan nenek
gurumu sekalipun belum tentu sanggup memutuskan
benang kayangan ini! Eh orang gila! Aku sudah tahu
namamu, sekarang lekas beri tahu kau punya gelar!"
“Aku tak punya gelar apa-apa," jawab Wiro. Tangannya
yang tadi disentakkan untuk melepaskan libatan benang
kayangan terasa sakit dan pedas.
"Jangan berani dusta terhadapku orang gila! Sekali
kusentakkan benang ini dalam Jurus Kilat Menyambar
Puncak Gunung pasti lenganmu akan putus!"
"Kalau hatimu memang jahat begitu rupa mengapa
tidak segera dilaksanakan?!" tukas Wiro Sableng
menantang.
Orang tua itu mendelikkan matanya sehingga kelopaknya
yang merah membuka lebar dan tampangnya
jadi tambah mengerikan! Tiba-tiba dia tertawa gelakBanjir
Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 15
gelak.
"Orang gila! Kau memang pandai bicara! Pertanyaanku
tadi anggap saja-tidak ada. Tapi sebagai gantinya lekas kau
beri tahu nama gurumu!"
"Aku bukan seorang yang suka agul-agulkan nama guru.,"
"Jadi kau tidak mau beri tahu?!"
"Tidak," jawab Wiro Sableng tegas.
Si muka angker mendelik, "Hidup delapan puluh tahun,
kau adalah orang yang kedua yang pernah membangkang
terhadap perintah si Tua Gila ini!"
Habis berkata begitu si muka angker yang menyebut
dirinya Tua Gila itu goyangkan benang kayangan yang
dipegangnya. Pendekar 212 menjerit kesakitan dan
tubuhnya mencelat ke atas sampai beberapa tombak!
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 16
Tua Gila tertawa gelak-gelak dah diam-diam perhatikan
gerakan jungkir balik yang dibuat Wiro Sableng sewaktu
melayang turun dan menjejakkan kedua kakinya di tanah.
"Ah gerakan kincir padi memutar yang belum sempurna
hendak dipamerkan di depan hidungku!" ejek Tua Gila lalu
tertawa lagi gelak-gelak.
Wiro Sableng terkesiap kaget. Baru hari itulah seseorang
mengenali gerakan yang dibuatnya. Memang sewaktu dia
jungkir balik tadi dia telah mengeluarkan gerakan yang
dinamakan kincir padi memutar yaitu yang dipelajarinya
dari Eyang Sinto Gendeng sewaktu dia digembleng di
puncak Gunung Gede. Sebenarnya gerakan tersebut sudah
dikuasai Wiro dengan sempurna namun karena gugup,
terkejut dan ditambah dalam keadaan tubuh lemah maka
gerakannya itu menjadi tidak sempurna. Jika sekiranya Tua
Gila menyusul dengan satu serangan lagi pastilah Pendekar
212 Wiro Sableng akan mendapat celaka. Untung saja si
muka angker itu hanya terus duduk dan tertawa gelakgelak.
Wiro berdjri dengan nafas sesak dan muka pucat.
Matanya tiada berkesip memandang si Orang tua. Jika dia
diperlakukan begitu terus-terusan, dicaci maki, diserang
dan ditertawakan, sampai berapa lama dia akan sanggup
menahan kesabarannya? Sampai berapa lama dia akan
menghormati orang tua itu sebagai tuan penolongnya?
Kepada siapa dia telah berhutang budi dan nyawa?!
"Kau masih mau membangkang?!"
Wiro tak menjawab.
Tua Gila berkata: "Mengingat bahwa kau telah menyelamatkan
seorang anak laki-laki yang bakal kuambil
jadi muridku maka kuampuni jiwamu, orang gila."
"Orang tua, aku tak bisa menerima perlakuanmu yang
keterlaluan...."
"Perlakuanku apa yang keterlaluan?!" bentak Tua Gila
marah sekali. "Manusia tidak tahu diri! Sudah diampuni
jiwanya malah mengomel! Ayo lekas katakan siapa nama
gurumu!"
"Kau buhuhpun aku tak akan memberi tahu!"
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 17
"Apa kau tidak takut mati?!"
"Kenapa musti takut?!" jawab Wiro pula.
Tua Gila tertawa pendek dan berkata: "Apa di dunia
ini betul-betul ada manusia yang tidak takut mati?!"
"Semua manusia akan mati, orang tua. Juga kau!"
Tua Gila tersentak oleh ucapan Wiro Sableng itu. Selama
puluhan tahun hidup tak pernah dia ingat tentang kematian
sekalipun sudah berpuluh kali melihat manusia-manusia
lain menemui ke matian. Ucapan Wiro tadi menyentakkan
hati dan mengingatkan pikirannya pada hal kematian itu.
Betapa mengerikannya kematian itu dan tiada terasa dua
butir air mata menuruni kelopak matanya yang lebar, turun
menetes pipinya yang cekung!
Wiro Sableng merasa heran melihaPhal ini! Si orang, tua
yang begitu keras adat, galak, tertawa tak karuan dan aneh
itu nyatanya juga bisa menangis keluarkan air mata.
Suasana menjadi sunyi untuk beberapa lamanya.
Tiba-tiba Tua Gila acungkan telunjuk tangan kirinya
ke dada kanan Pendekar 212 Wiro Sableng.
"Apa arti angka 212 di dadamu itu?!" '
Wiro baru sadar bahwa waktu itu dia cuma mengenakan
celana panjang saja sedang tubuhnya bagian atas tiada
berbaju karena sewaktu peristiwa perahu terbalik dia telah
mempergunakan bajunya untuk mengikat anak laki-laki
yang ditolongnya.
"Guruku yang menuliskannya," kata Wiro.
"Dasar tolol! Aku tanya apa,arti angka itu! Bukan siapa
yang menulisnya. Sekalipun,setan atau jin yang menulisnya
aku tak perduli!"
"Tak bisa kuterangkan orang tua," jawab Wiro.
Paras Tua Gila tampak kembali menjadi marah.
"Pembangkanganmu sudah keterlaluan! Kau betul-betul
tidak memandang sebelah mata terhadapku! Kau akan
kubunuh saat ini juga." Lalu Tua Gila tarik benang yang
dipegangnya, ffiro tersentak ke muka. "Bersiaplah untuk
mati, orang gila!"
Dan Tua Gila lalu angkat tangan kirinya. Begitu tangan
hendak dipukulkan, tiba-tiba djtariknya kembali. Dia
menyeringai. "Ah... sebetulnya aku sudah muak melihat
kematian! Orang gila, jika kau bisa menjawab sebuah
pertanyaanku aku akan ampunkan jiwamu. Tapi kalau kau
tak bisa menjawabnya, terpaksa kau kubunuh juga!"
Wiro Sableng kertakkan rahang.
Dan Tua Gila-lanfas ajukan pertanyaan"
"Menurutmu oang tua manakah yang paling celaka
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 18
hidupnya di dunia ini?!"
Wiro terkesiap dan merenung. Pertanyaan aneh yang
sukar dijawab kata hati pendekar ini. Ditatapnya wajah
angker orang tua itu. ,
"Kalau kau tak bisa menjawab kau akan kubunuh!"
Tua Gila menyeringai. Dia lalu menunjuk ke atas pohon
kelapa dan berkata: "Aku akan jatuhkan sebuah kelapa.
Sebelum buah itu mencapai tanah kau musti sudah bisa
menjawab pertanyaanku tadi!"
Tua Gila memukul ke atas.
Wiro kerutkan kening.
Terdengar suara berkeresekan dan sebuah kelapa
lepas dari tangkainya lalu melayang turun dengan cepat!
"Bumm!"
Buah kelapa jatuh dan pecah di atas tanah!
Tua Gila menghela nafas panjang dan tertawa rawan.
"Jiwamu kuampuni, orang gila," katanya. "Jawabanmu
memang betul." Kemudian dari balik pakaian putihnya Tua
Gila mengeluarkah sebuah benda dan diacungkannya
dihadapan Wiro. ''Benda ini kutemui di dalam saku
pakaianmu yang dibuat pengikat anak laki-laki yang kau
tolong itu. Dari mana kau dapatkan benda ini?!"
Ketika diperhatikan ternyata benda itu adalah potongan
kulit harimau yang tempo hari ditemui Wiro di Goa Belerang
di mana Kiai Bangkalan menemui ajalnya dibunuh. Saat itu
ternyatalah di hati Wiro untuk meminta beberapa
keterangan kepada Tua Gila. Maka diapun menuturkan
riwayat Kiai Bangkalan sampai peristiwa terbunuhnya orang
lua itu.
"Jadi perjalananmu itu adalah untuk mencari buku
Seribu Macam Pengobatan Ha?"
Wiro mengangguk.
"Kalau kau berhasil menemuinya apakah buku itu akan
kau ambil sebagai milikmu?! Berarti kau maling besar
karena Kiai Bangkalan tak pernah mengatakan bahwa buku
itu akan diwariskannya kepadamu!"
"Aku tidak mengatakan hendak mengambil atau
memiliki buku itu. Tapi aku merasa punya kewajiban untuk
mencarinya dan merampasnya kembali dari manusia yang
telah mencuri buku itu"
"Kau tak punya hak melakukan itu, orang gila. Kau
bukan muridnya Kiai Bangkalan!"
"Sekalipun demikian buku itu tidak layak berada di
tangan orang yang bukan pemiliknya."
"Lalu kalau sudah kau temui kau mau bikin apa dengan
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 19
buku itu?"
"Aku akan pelajart isinya,...",
"Berarti kau mencuri ilmu kepandaian orang lain!"
potong Tua Gila.
"Mana mungkin! Kiai Bangkalan pernah mengatakan
bahwa dia akan mengajarkan ilmu pengobatan padaku. Kini
dia sudah tiada dan kalau aku mempelajari ilmu
pengobatan itu dari bukunya bukan berarti aku mencuri
kepandaian orang lain!"
Tua Gila tertawa.
"Apapun alasannya, mempelajari ilmu orang lain dari
buku tulisannya, tanpa izin orang itu sama saja dengan
mencuriKiai Bangkalan berkata akan memberikan
pelajaran ilmu pengobatan padamu. Langsung dari dia
sendiri, bukan dari bukunya. Jangan mengada-ada,
orang gila!"
Wiro Sableng menjadi penasaran sekali.
Dalam pada itu Tua Gila berkata lagi: "Karenanya kau lak
usah teruskan perjalananmu mencari buku itu. Pulang saja.
Kau akan sia-sia mengerjakan apa-apa yang bukan jadi
hakmu!"
"Apakah menjadi hakmu melarang aku?!" tukas Wiro.
Tua Gila usut-usut janggutnya yang putih dan panjang.
"Perjalananku semata-mata bukan cuma untuk mencari
buku itu. Tapi juga sekaligus mencari manusia yang telah
membunuh Kiai Bangkalan!"
"Kau bukan muridnya. Kau tak berhak menuntut balas!
Kau dengar orang gila?!"
"Tapi aku berhutang budi yang besar padanya. Hutang
budi itu tak akan lunas sebelum aku berhasil membekuk si
pencuri dan si pembunuh!"
"Kau mau membunuh orang yang telah membunuh Kiai
Bangkalan...?" ejek Tua Gila. '
"Kalau keadaan memaksa," sahut Wiro. Tapi di hatinya
dia yakin bahwa dia kelak betul-betul akan membunuh
manusia itu.
"Dasar gila! Apa kau kira nyawa orang lain itu milikmu
hingga kau bisa main bunuh seenaknya?!"
Wiro sunggingkan senyum sinis dan. menjawab:
"Tadi kaupun berniat membunuhku. Apa nyawaku milikmu?!"
Tua Gila tertegun. Lalu tertawa membahak. "Kau
meskipun gila nyatanya pintar bicara! Sekarang kau
kembalilah masuk ke dalam pondok. Lama-lama aku jadi
muak melihat tampangmu!"
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 20
Wiro mehggerendeng.
Tua Gila gerakkan tangan kanannya. Dan hebat sekali,
satu aliran angin aneh menjalar di benang yang mengikat
lengan Wiro terus memukul tubuhnya dengan hebat!
Laksana sebuah bola yang diikat dan dilemparkan, tubuh
Pendekar 212 mencelat masuk ke dalam pondok!
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 21
Dari Tua Gila, Wiro berusaha mendapat keterangan di
mana letaknya bukit Tambun Tulang. Dulu sewaktu
berangkat meninggalkan Pulau Jawa, dari seorang pelaut
dia mendapat tahu bahwa Tambun Tulang adalah nama
sebuah bukit yang terletak di Pulau Andalas.
Namun Tua Gila mengejeknya, malah mendamprat dan
memaki-makinya.
"Orang gila! Bagusnya kau tak usah pergi ke situ.
Kalaupun kau berhasil sampai ke sana, kau cuma datang
mengantar nyawa...."
"Setiap bahaya maut adalah tantangan hidup yang harus
kita hadapi," kata Wiro pula.
Tua Gila tertawa sinis. "Jangan bicara sombong. Orang
gila, apa kau tahu artinya Tambun Tulang? Kalau aku kasih
tahu baru bulu kudukmu merinding. Kalau tidak pingsan
pasti kau terkencing-kencing karena ketakutan.
"Kalau aku begitu pengecutnya masakan aku berani
ambil keputusan untuk mengadakan perjalanan," sahut
Wiro karena merasa dihina sekali.
Tua Gila membelai janggutnya sebentar lalu berkata:
"Nyalimu memangbesar, orang gila. Tapi percuma Saja
keberanian yang luar biasa kalau kau tidak punya ilmu yang
diandalkanl"
Wiro Sableng tertawa. Untuk kesekian kalinya, meskipun
Tua Gila marah-marah dan mendampratnya, namun Wiro
mengucapkan terima kasih kepada orang tua aneh
berwajah angker itu dan minta diri.
"Apa?! Kau mau pergi?! Tidak bisa! Kau tetap berada
dipulau ini sampai kau ada kemampuan untuk membuat
urusan di Tambun Tulang."
Dua hal membuat Wiro Sableng terkejut.
Yang pertama ucapan Tua Gila yang mengatakan
bahwa dia tak boleh meninggalkan pulau itu. Selama berhari-
hari bersama si orang tua aneh, baru hari itu dia tahu
kalau dia berada di sebuah pulau. Pantas saja seringkali
didengarnya suara menderu seperti ombak sedang angin
keras sekali. Hal kedua yang mengejutkan Pendekar 212
ialah bahwa dia musti tinggal di pulau itu sampai dia ada
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 22
kemampuan untuk ini, berarti bahwa Tua Gila si orang aneh
bertampang angker itu hendak memberinya pelajaran ilmu
silat? Melihat sikap dan ucapan-ucapannya agaknya Tua
Gila mengetahui banyak hal tentang Tambun Tulang!
Tengah Pendekar 212 Wiro Sableng berpikir-pikir begitu
rupa tiba-tiba Tua Gila membentaknya: "Coba perlihatkan
beberapa jurus ilmu silatmu yang kau anggap paling hebat!"
"Apa maksudmu sebenarnya, orang tua?" tanya Wiro
Sableng dengan hati meragu.
“Tak usah banyak tanya! Lekas perlihatkan!" bentak Tua
Gila.
Wiro Sableng yang saat itu sudah sembuh dan berada
dalam keadaan normal seperti sedia kala segera maklum
bahwa orang tua aneh itu mempunyai maksud tertentu
terhadapnya. Maka dia segera mainkan beberapa jurus ilmu
silat tangan kosong yang dipelajarinya dari Eyang Sinto
Gendeng!
Mula-mula dikeluarkannya jurus yang dinamakan
"Segulung Ombak Menerpa Karang", menyusul "Ular
Naga Menggelung Bukit", lalu Wiro balikkan badan dan
lancarkan jurus "Dibalik Gunung Memukul Halilintar"
dan yang keempat kalinya jurus yang dinamai "Membuka
Jendela Memanah Rembulan". Semua gerakan itu
dilakukannya dengan cepat hingga dalam sesaat saja dia
sudah menyelesaikannya.
Tua Gila tertawa gelak-gelak. Sambil batuk-batuk
kemudian dia berkata: "Coba kau ulangi lagi keempat jurus
itu." Lalu dia mematahkan sebatang ranting dan berdiri
empat langkah dihadapan Wiro Sableng.
Tahu kalau dirinya hendak diuji maka sewaktu bergerak
kembali Wiro Sableng sengaja lipat gandakan tenaga
dalam dan berkelebat dengan ilmu mengentengi tubuh
yang sudah mencapai tingkat kesempurnaannya! Tubuh
Pendekar 212 Wiro Sableng lenyap ditelan oleh gerakannya
sendiri yang berkelebat merupakan bayang-bayang!
Pada waktu Wiro Sableng mengeluarkan jurus "Segulung
Ombak Menerpa Karang" maka kedua tangannya kiri kanan
memukul sebat sampai mengeluarkan suara angin yang
deras,, betul-betul laksana ombak dahsyat memukul
karang. Debu dan pasir serta batu-batu kerikil beterbangan.
Semak belukar bergoyang-goyang!
Anehnya Si Tua Gila menyerangnya, Wiro Sableng
lipat gandakan daya gerakannya. Jurus yang dinamai
“Segulung Ombak Menerpa Karang" itu mengeluarkan
angin pukulan yang laksana ganas mencari sasaran di
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 23
kepala dan dada Tua Gila.
Tua Gila mendengus. Ranting di tangan kanannya lenyap
dan gerakan memutar sedang tubuhnya sendiri jingkrakjingkrakkan
tak menentu macam monyet terbakar ekor!
Anehnya meski gerakan si orang tua bertampang angker
jingkrak-jingkrakkan tak karuan dan dilakukan sambil
cengar-cengir mengejek namun jurus "Segulung Ombak
Menerpa Karang" secara aneh dapat dielakkannya dengan
mudah!
Wiro Sableng penasaran sekali. Tak pernah selama ini
jurus yang dikeluarkannya itu sanggup dielakkan lawan
demikian mudahnya! Karena dengan satu bentakan keras
Wiro susul dengan jurus "Ular Naga Menggelung Bukit".
Jurus ini didahului oleh satu tendangan dahsyat ke arah
bawah perut. Namun ini hanyalah gerak tipu belaka. Bila
lawan menangkis atau mengelak akan menyusul
sambaran sepasang lengan ke al-ah leher atau pinggang.
Sekali leher atau pinggang kena digelung oleh lengan yang
berisi kekuatan tenaga dalam luar biasa itu, tak ampun lagi
pasti akan putus dan orangnya akan konyol!
Dengan gerakan gerabak-gerubuk Tua Gila hindarkan
tendangan,ke arah bawah perutnya. Juga dengan gerakan
aneh macam begitu dia berhasil pula mengelakkan
gelungan tangan lawan yang mengincar leher lalu turun
ke arah pinggang!
"Edan!" maki Pendekar 212. Dalam lain kejap dia sudah
melompat ke muka dan lancarkan jurus "Membuka
Jendela Memanah Rembulan".
Tapi dia cuma menyerang tempat kosong karena si
orang tua sudah lenyap dihadapannya dan terdengar
suara dengus mengejeknya di belakang!
Wiro bersuit nyaring. Balikkan badan dengan cepat
sambil lancarkan serangan dalam jurus "Dibalik Gunung
Memukul Halilintar!"
Tapi lagi-lagi dengan gerakan aneh gerabak-gerubuk
macam monyet mabuk si orang tua berhasil mengelakkan
jurus serangan terakhir yang dilancarkan Wiro Sableng itu!
Wiro melompat mundur.
"Orang tua, aku mengaku kalah!" kata Wiro sejujurnya.
Dia kagum sekali melihat kelihayan orang tua ini.
Tua Gila tertawa mengekeh dan sambit membuang
ranting kering yang ditangannya dia berkata: "Aku tidak
memikirkan soal menang atau kalah! Hanya tukangtukang
judilah yang memikirkan kalah menang!"
Kemudian dia duduk di bawah pohon kelapa dengan
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 24
masih tertawa mengekeh. "Dengan ilmu silat picisan itu
kau mau pergi ke Tambun Tulang...? He... he... he... he....
Belum sampai mungkin kau sudah kojor!"
Wiro Sableng panas sekali hatinya. Ilmu silat warisan
Eyang Sinto Gendeng yang selama ini dianggapnya hebat
dan lihay kini dikatakan sebagai ilmu silat picisan! Betulbetul
Pendekar 212 jadi mengenas hatinya. Namun
demikian adalah satu kenyataan bahwa dia tak sanggup
menghadapi si orang tua dalam keempat jurus tadi! Ini
membuktikan bahwa sepandai-pandainya manusia, masih
ada manusia lain yang lebih pandai dari dia. Bahwa di luar
langit ada langit lagi! Diam-diam Wiro menggerendeng
sambil tundukkan kepala. Tapi ketika kepalanya
ditundukkan, astaga, membeliaklah matanya karena
terkejut!
Betapakah tidak! Baju putih yang dikenakannya ternyata
robek besar diempat bagian! Wiro angkat kepala dan
memandang tak berkesip pada si orang tua! Kalau saja
benda di tangan Tua Gila tadi adalah sebatang pedang dan
benar-benar dipakai untuk mencelakai dirinya, pastilah
sudah sejak tadi nyawanya melayang ke akhirat! Betul-betul
bahwa di luar langit ada langit lagi!
Tua Gila sementara itu tertawa terkekeh-kekeh sambil
usap-usap janggutnya yang putih panjang.
"Sia-sia orang gila! Sia-sia kalau dengan ilmu yang kau
miliki sekarang iri i kau hendak pergi ke Tambun Tulang!
Kau akan mampus percuma!"
"Kalau begitu aku mohon petunjukmu, orang tua,"
kata Wiro Sableng pula.
"Apa? Siapa sudi kasih petunjuk pada orang gila macam
kau!" damprat Tua Gila membuat Wiro untuk kesekian
kalinya memaki dalam hati!
"Aku sudah lihat jurus-jurus silatmu yang tak berguna
itu!" bicara lagi Tua Gila. "Sekarang coba keluarkan ilmuilmu
pukulan saktimu! Aku mau lihat apakah juga tak ada
artinya?!"
Penasaran sekali Wira menyurut mundur delapan
langkah. Kedua kakinya direnggangkan. Tenaga dalam
segera dialirkan ke lengan kanan.
"Orang tua! Berdirilah)" seru Wiro Sableng ketika dilihatnya
Tua Gila masih duduk di bawah pohon kelapa
sambil cengar cengir seenaknya.
"Ah, untuk menerima.pukulanmu yang tak berguna
kenapa musti berdiri segala?! Silahkan memukul, orang
gila!"
Banjir Darah di Tambun Tulang –Dewi kz 25
Wiro kertakkan rahang dan lipat gandakan tenaga
dalamnya. "Kalau kau mendapat celaka, jangan salahkan
aku!" gerendeng Wiro. Tangan kanannya diangkat tinggitinggi
ke atas. Begitu tinju dihantamkan ke muka maka
kelima jari membuka dan satu gumpalan angin keras
menderu ke arah Tua Gila yang masih saja duduk tertawatawa.
"Ah! Cuma pukulan kunyuk melempar buah! Tak ada
gunanya bagiku!" ejek tua Gila. Tangan kirinya dilambaikan
ke arah gumpalan angin yang hendak melabraknya.
Terdengar suara berdentum, Wiro tersurut. tiga langkah ke
belakang! Ketika dia memandang ke muka, si orang tua
dilihatnya tertawa mengekeh dan masih tetap duduk di
bawah pohon kelapa itu! .
Wiro merutuk setengah mati.
Kedua tangan diangkat ke atas.
"Tua Gila! Terima pukulanku yang kedua ini!" Kemudian
tanpa tunggu lebih lama Wiro putar-putarkan kedua
tangannya di udara. Gelombang angin yang tiada tara
dahsyatnya menderu. Debu dan pasir beterbangan. Batubatu
kerikil mental. Semak belukar luruh, daun-daun pohon
berguguran bahkan banyak cabang-cabang dan rantingnya
yang patah! Pakaian, rambut dan janggut Tua Gila kelihatan
berkibar-kibar! Tapi anehnya dia tetap saja duduk di
tempatnya, malah berkata' "Ah, sejuknya pukulan angin
puyuh ini. Mataku sampai-sampai mengantuk!" Dia
menguap lalu letakkan kepalanya di atas lutut seperti sikap
orang yang hendak tidur mencangkung!
"Edan!" maki Wiro Sableng. Pukulan angin puyuh segera
diganti dengan pukulan angin es. Udara di atas pulau itu
mendadak sontak menjadi dingin tiada terperikan.
Binatang-binatang kecil seperti burung, jatuh menggelepar
kaku. Sebaliknya si orang tua mendongak ke langit dan
berkata seakan-akan pada dirinya sendiri; "Ah, panas sekali
hari ini!.Tubuhku sampai keringatan!" Lalu Tua Gila kibaskibaskan
pakaian putihnya. Dengan serta merta lenyaplah
pengaruh pukulan angin es yang telah dilepaskan oleh Wiro
Sableng!


--00--
lanjutannya download di : BanjirDarahdiTambunTulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar