Kamis, 15 Januari 2009

RAHASIA LUKISAN TELANJANG


BASTIAN TITO
Wirosableng
Pendekar Kapak Nagageni 212

LANGIT terang cerah tiada berawan. Matahari bersinar
megah. Serombongan burung-burung pipit berarak
dari arah tenggara lalu lenyap di langit sebelah barat.
Seorang pemuda gagah berjalan lenggang kangkung
seenaknya di satu lamping gunung. Keterikan sinar mata–
hari tiada diperdulikannya. Bahkan sambil berjalan itu dia
bersiul-siul entah membawakan lagu apa. Suara siulannya
menggema sepanjang jalan seantero lamping gunung. Bila
seorang tokoh silat dunia persilatan mendengar suara
siulan yang keras tiada menentu itu, segera dia akan
maklum bahwa orang yang mengeluarkan siulan itu bukan
lain daripada Wiro Sableng, pemuda gagah yang bergelar
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.
Di satu tempat Wiro hentikan langkahnya. Dia meman–
dang ke bawah. Luar biasa sekali keindahan alam yang
dilihatnya. Pohon-pohon menghijau di kejauhan. Di utara
dua buah gunung menjulang tinggi laksana raksasa pen–
jaga negeri. Di barat sebuah sungai laksana seekor ular
besar meliuk-liuk memantulkan cahaya putih perak karena
ditimpa sinar matahari.
Wiro menyeka peluh yang mencucur di keningnya
dengan ujung sapu tangan putih penutup kepalanya.
Setelah puas menikmati pemandangan yang indah itu dia
melanjutkan perjalanan kembali dan kali ini dengan
mempergunakan ilmu lari Seribu Kaki sehingga dalam
sekejap saja puluhan tombak sudah dilewatinya. Dia
berharap akan sampai sesenja-senjanya hari, ke tempat
tujuan yaitu Goa Belerang. Kiai Bangkalan telah menyuruhnya datang. Orang tua sakti itu telah menjanjikan akan
menurunkan semacam ilmu pengobatan kepadanya.
Memasuki satu tikungan jalan di dekat kaki gunung,
Wiro memperlambat larinya. Jalan di tikungan itu sempit
sekali. Di sebelah kanan terdapat jurang batu yang curam
terjal serta luas dan dalam. Seseorang yang jatuh ke sana
jangan harap akan hidup sampai di dasar jurang. Kalaupun
dia hidup, ke luar dari dasar jurang pasti akan sia-sia!
Dari memperlambat larinya, tiba-tiba Wiro Sableng
berhenti. Tepat di tikungan jalan itu dilihatnya duduk men–
cangkung seorang laki-laki tua berambut putih. Badannya
kurus sekali. Demikian kurusnya hingga keadaannya tak
ubah seperti tengkorak atau jerangkong hidup!
Yang membuat Wiro Sableng heran ialah apa yang
tengah dikerjakan si orang tua tak dikenal itu. Sambil
duduk mencangkung, orang tua ini menghadapi sebuah
pigura kain putih yang lebarnya satu meter sedang pan–
jangnya hampir satu setengah meter. Pigura kain putih itu
disandarkan pada sebuah batu. Di atas terletak sehelai
daun pisang. Di sebuah daun pisang ini terdapat cairan
kental berkelompok-kelompok beraneka ragam warnanya.
Si orang tua membetulkan letak pigura kain putih di
hadapannya. Kemudian dengan ujung jari telunjuk tangan
kanan diaduk-aduknya kelompok-kelompok cairan berwar–
na di atas daun pisang. Dengan jari yang berselomotan
cairan berwarna itu, si orang tua mulai menggurat-gurat di
atas kain putih. Demikian asyiknya sehingga dia tidak me–
ngetahui agaknya bahwa dia tidak sendirian berada di situ.
Wiro terus memperhatikan dengan tak bersuara.
Guratan-guratan yang dibuat si orang tua kelihatannya
dilakukan seenaknya dan asal-asalan saja. Tapi betapa
terkejutnya Pendekar 212. Lewat setengah jam kemudian
di atas kain putih itu, meski belum begitu jelas, terlihat
gambaran seorang perempuan tengah berbaring di atas
tempat tidur dalam sebuah kamar yang bagus. Ternyata si
orang tua adalah seorang pelukis yang lihai tetapi juga
aneh! Lihai dan aneh karena dia melukis dengan ujung jari
telunjuk, dengan cairan-cairan berwarna yang diletakkan di
atas daun pisang dan di tempat sepi begitu rupa, di bawah
teriknya sinar matahari!
Agar bisa memperhatikan lebih jelas, tapi juga untuk
tidak mengganggu si orang tua, maka Wiro Sableng
melompat ke satu batu tinggi dan duduk di situ. Si orang
tua berdiri dan mundur beberapa langkah untuk meneliti
lukisannya.
“Ah... bagus sekali... bagus sekali! Bocah itu tentu akan
senang melihatnya!” Suara orang tua ini kecil halus seperti
perempuan.
Wiro Sableng leletkan lidahnya. Ternyata si orang tua
telah melukis seorang perempuan telanjang yang berbaring
di atas sebuah tempat tidur dalam kamar yang bagus.
Perempuan itu cantik sekali, rambutnya panjang menjela
ke lantai kamar yang ditutupi permadani. Tubuhnya yang
tiada tertutup pakaian demikian bagus dan mulusnya. Mau
tak mau berdebar juga hati Pendekar 212 melihat lukisan
itu. Aneh orang yang demikian tua mempunyai daya cipta
yang merangsang begitu rupa. Dan siapa pula bocah yang
dimaksudnya dalam ucapannya tadi, yang katanya akan
senang melihat lukisan itu? Seorang bocah hendak melihat
lukisan perempuan telanjang? Betul-betul keblinger, pikir
Wiro. Dalam pada itu siapakah manusia ini?
Sementara itu si orang tua kelihatan menambah
beberapa guratan pada lukisannya. Wiro Sableng memper–
hatikan terus. Si orang tua tengah menuliskan serangkaian
kalimat pada sudut kanan sebelah bawah lukisannya.
Karena jauh Wiro tak dapat membacanya. Penuh rasa ingin
tahu akan apa yang ditulis si orang tua, Wiro Sableng
hendak melompat turun. Tapi niatnya dibatalkan karena di
kejauhan didengarnya suara gemeletak roda kereta
meningkahi derap kaki-kaki kuda.
Sesaat kemudian kelihatanlah sebuah kereta putih
yang ditarik oleh dua ekor kuda meluncur ke arah tikungan.
Di bagian depan dan sisi kereta ada empat penunggang
kuda yang berpakaian keprajuritan. Mendekati tikungan
rombongan itu bergerak perlahan.
Si orang tua masih juga asyik dengan lukisannya.
Apakah dia tidak mendengar suara kedatangan kereta dan
derap kaki-kaki kuda itu? Bahkan ketika rombongan
tersebut berhenti di tikungan, si orang tua masih saja tidak
berpaling. Apakah dia tuli?
Penunggang kuda di sebelah muka kereta turun dari
kudanya. Dia memandang sejenak pada lukisan yang
tersandar di batu lalu dengan sikap hormat menegur si
orang tua.
“Bapak, kuharap kau sudi ke pinggir sedikit agar kereta
bisa lewat.”
Orang tua itu mencelupkan jari telunjuk tangan kanan–
nya ke cairan berwarna putih di daun pisang lalu melan–
jutkan menulis rentetan kalimat di sudut bawah sebelah
kanan lukisan.
Prajurit itu menduga si orang tua tuli. Maka dia
melangkah ke samping dan menegur lagi lebih keras
disertai isyarat-isyarat tangan. Tapi tetap saja si orang tua
tidak mau perduli, bahkan palingkan kepala sedikitpun
tidak!
Dari dalam kereta terdengar suara seseorang.
“Pengawal, ada apakah kereta berhenti?”
“Kita mendapat sedikit rintangan Raden Mas Cokro,”
jawab prajurit yang turun dari kuda.
Dari jendela kereta kemudian keluar kepala seorang
laki-laki berparas gagah, berkumis rapi dan mengenakan
belangkon yang bagus. Begitu sepasang mata laki-taki ini
membentur lukisan di tepi jalan di tikungan itu, maka
tertariklah hatinya. Dengan segera dia turun dari kereta.
Digeleng-gelengkan kepalanya.
“Lukisanmu luar biasa bagusnya, orang tua,” kata lakilaki
ini.
Untuk pertama kalinya orang tua bertubuh jerangkong
itu palingkan kepala. Dia tersenyum sedikit pada laki-laki
berpakaian dan berbelangkon bagus lalu meneruskan lagi
pekerjaannya.
“Orang tua, aku tertarik sekali dengan lukisanmu ini.
Apakah kau sudi menjualnya?”
Meski pekerjaannya belum selesai, tapi melihat sikap
orang demikian jumawa maka si orang tua hentikan
pekerjaannya, menyeka ujung jarinya lalu berdiri dan
tersenyum lagi.
“Terima kasih atas rasa kagummu Raden Mas. Tapi
sayang, lukisan ini bukan untuk dijual...”
Raden Mas Cokro menatap paras orang tua itu.
“Aku sanggup membayar mahal. Kau tetapkan saja
harganya...”
Orang tua itu gosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
“Mohon dimaafkan Raden Mas. Lukisan ini tidak dijual.
Kalau kau sudi, aku bersedia buatkan yang lain.”
“Tapi aku sangat tertarik pada yang satu ini,” kata
Raden Mas Cokro.
“Menyesal sekali...”
“Akan kubeli lima puluh ringgit.”
“Maaf Raden Mas...”
“Seratus ringgit!”
“Ah... sungguh penghargaanmu besar sekali. Namun
tak dapat kukabulkan Raden Mas...”
“Kalau begitu biar kubeli dua ratus ringgit!”
Raden Mas Cokro mengeluarkan sebuah kantong kain
dari sakunya sementara keempat pengawalnya saling
pandang dan kerenyitkan alis keheranan. Meski lukisan itu
bagus luar biasa tapi dua ratus ringgit belul-betul harga
yang gila! Dan bila mereka ingat gaji mereka yang tak
sampai setengah ringgit satu minggu, menciut hati
keempat prajurit itu! Gilanya pula ditawar semahal itu si
orang tua kurus kering tidak mau menjual lukisannya!
“Ini terimalah.” kata Raden Mas Cokro seraya
mengacungkan kantong yang dipegangnya. Dua ratus uang
ringgit di dalam kantong itu bergemerincingan suaranya.
Tapi lagi-lagi si orang tua gelengkan kepala.
“Walau dibeli seberapa mahalpun, lukisan ini tak dapat
kujual Raden Mas. Mohon maafmu...”
Raden Mas Cokro kelihatan kurang senang dengan
sikap si orang tua. Maka berkatalah dia, “Apa dengan
harga semahal itu kau tetap tak mau menjualnya pada
Adipati Pamekasan?”
“Ah...” Si orang tua menjura dalam-dalam. “Tak tahunya
aku tengah berhadapan dengan Adipati Pamekasan,”
katanya. Dihelanya nafas panjang lalu sambungnya,
“Benar-benar ini satu kehormatan besar bagiku Adipati
Cokro. Namun benar-benar pula aku mohon dimaafkan,
lukisan ini kubuat bukan untuk mau dijual. Aku akan
buatkan lukisan lain yang lebih bagus untukmu. Dan kau
tak perlu membayar mahal... Kau pasti tak akan kecewa
Raden Mas...”
Tapi Raden Mas Cokro memang sudah kecewa.
Dibalikkannya tubuhnya lalu melangkah masuk kembali ke
dalam kereta.
“Lain kali kalau ada kesempatan aku akan temui kau,
orang tua. Di mana tempat tinggalmu?” tanya Raden Mas
Cokro lewat jendela kereta.
Si orang tua menghela nafas lagi. Sambil tersenyum dia
menjawab, “Aku seorang pengembara luntang lantung,
Raden Mas. Aku tak punya tempat kediaman yang tetap.
Bila lukisan yang kubuat untukmu nanti sudah selesai, aku
akan antarkan sendiri ke Pamekasan...”
Raden Mas Cokro betul-betul kecewa dan juga penasa–
ran. Ditutupkannya tirai jendela kereta. Lalu diperintah–
kannya anak buahnya melanjutkan perjalanan!
Si orang tua kembali duduk mencangkung melanjutkan
pekerjaannya.
Di atas batu tinggi Wiro Sableng tak habis pikir dan
garuk-garuk kepalanya. Dua ratus ringgit! Bukan sedikit!
Harga tawaran yang semahal itu ditolak oleh si orang tua.
Betul-betul manusia ini aneh sekali!
Mendadak Wiro Sableng mendengar suara kaki yang
berlari cepat. Belum lagi sempat dia berpaling sesosok
tubuh tahu-tahu telah berdiri di samping si orang tua.
Hebat sekali gerakan orang ini. Begitu terdengar suaranya
begitu dia muncul di depan mata. Karena manusia ini
tentunya memiliki kepandaian tinggi, maka Wiro Sableng
memperhatikan dengan seksama.
Orang ini berbadan sangat gemuk tapi pendek.
Demikian gemuknya hingga dagu dan dadanya menjadi
satu. Manusia tak berleher ini berambut gondrong yang
dikuncir ke atas. Pakaiannya bagus dan di bagian dada
terdapat sebuah saku besar empat persegi. Yang tidak
sedap dipandang ialah wajahnya. Mukanya yang berminyak
itu bermata lebar merah, hidung besar, bibir tebal dan tak
bisa mengatup hingga gigi-giginya yang besar serta kuning
kelihatan menjorok ke luar.
“Ha... ha... ha. Ini betul-betul satu lukisan yang bagus
luar biasa!” berkata si gemuk yang baru datang ini. Bola
matanya yang merah berkilat-kilat meneliti lukisan yang
tersandar di batu.
Si orang tua yang tengah meneruskan pekerjaannya
tidak berpaling. Terus saja dia menuliskan rentetan katakata
pada bagian bawah kanan lukisan itu.
“Orang tua! Lukisan ini harus kau berikan padaku!” kata
si gemuk dengan suara keras lantang hingga menguman–
dang di seantero lamping gunung dan memantul ke dalam
jurang batu. Hebat sekali tenaga dalam manusia ini!
Namun kehebatan ini seperti tiada terasa dan tiada diper–
dulikan oleh si orang tua. Si gemuk pendek melangkah
mendekati orang tua itu. Dia gusar karena kemunculannya
di situ dianggap sepi. Bahkan apa yang dikatakannya tadi
tiada diambil perhatian oleh si orang tua!
“Orang tua! Apa kau tidak dengar ucapanku tadi?!”
bentak si gemuk.
Barulah orang tua itu berpaling.
Sepasang alis matanya yang putih dan agak jarang naik
ke atas. Ketika kedua alis itu turun maka sekelumit
senyum tersungging di bibirnya.
“Ah, kalau mataku tak salah lihat... bukankah saat ini
aku tengah berhadapan dengan salah seorang Dua Iblis
Dari Selatan?”

00--00--

Selanjutnya Donlod di : Rahasia Lukisan Telanjang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar