Kamis, 23 Mei 2019

Menengok Sejenak Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen

Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen

Kamis, 24 Mei 2019. Beberapa bulan lalu, pak Nanang memberikan titik koordinat watu lumpang yang berukuran cukup lumayan. "Pulang dari rumah teman, tak sengaja lihat watu Lumpang ini", kata Pak Nanang waktu itu. Saya kemudian menyimpan di database destinasi tersebut. Sementara, hari ini seperti yang kami rencanakan beberapa waktu lalu saat penelusuran ke Petirtaan Gonoharjo, jadwal kami adalah reresik sebuah situs di daerah Jambu. Beberapa rekan sudah bersedia, bahkan seorang pamong budaya serta satu jupel candi juga tertarik turut serta.
Saya pribadi malah 5 hari lobi 'istri', untuk blusukan sekalian bukber. Yang diluar dugaan acc tanpa syarat, alias lampu hijau. Dan sepertinya rencana akan berjalan lancar seperti harapan kami.
Namun, bagai petir menyambar ... Satu screenshoot dikirim lewat WA ke saya, pak Nanang menambahi pesan. "Gawe Reresik dibatalkan", gara gara situs tersebut ternyata keduluan orang membersihkan. Walaupun sebenarnya tidak secara tuntas, dugaan saya dibersihkan hanya untuk melihat penampang atas....  Saya gelo sekali, bagaimana tidak.... Rencana gawe Reresik batal, benda cagar budaya itu urung dibersihkan.
Karena saya terlanjur membuat planning, anak juga sudah dirumah rewang,  saya menguatkan hati untuk mencari destinasi alternatif yang bisa saya telusuri sendiri. Karena pak Nanang sepertinya saking gelo ne, beliau melampiaskan dengan  berburu di alas gunung, (saya tahu setelah ketemu istri beliau) dan tak merespon  WA saya.
Saya juga mencoba WA mas Seno, barangkali bisa jadi guide namun karena WA masih down (efek pendemo tak mau ngaku kalah=maksa harus menang) nampaknya tak terkirim.
Awalnya mau nekat lintas antar kota : Candi Bongkotan Wonosobo, yang sudah lama sekali saya impikan, namun sampai di Karangjati ada ragu dalam hati saya, sadar diri dengan kondisi fisik, slogan "Ngelih-Ngelak .... Wani!", saya kesampingkan dulu, akhirnya saat berhenti di SPBU Galpanas isi Pertalite, kemudian saya malah teringat titik koordinat yang diberikan pak Nanang. Jadilah memantapkan hati yang dekat saja.
Dusun Klowoh Lemahireng, Bawen
Untung sisa kuota kasih bisa berikan petunjuk arah di Gmaps. Saya ikuti panah dalam peta..., Sampai kemudian masuk di gerbang dusun Kluwoh Desa Lemahireng Kec. Bawen.
Dari kejauhan, Watu Lumpang sudah terlihat...
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Tak ada cerita yang saya dapat hari ini tentang watu lumpang ini, selain asal mula ditemukan oleh pekerja proyek perumahan tersebut. Kemudian beruntungnya, alat Beghu yang mengangkat tak meremukkan watu Lumpang ini. Apresiasi tinggi, saya sampaikan kepada Pimpro Perum Punsae 3... Yang masih peduli dengan memindahkan ke lokasi yang sekarang.
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Tinggal pihak desa yang ditunggu gerakannya. Watu lumpang ini bisa menjadi tetenger, sumber sejarah desa. Watu Lumpang pada masa lalu menjadi bagian tak pisahkan dari kehidupan religius masyakarakat. Salah satu fungsi lumpang digunakan sebagai sarana ritual menyiapkan sesaji untuk persembahan kepada para dewa-dewi. Lekat di daerah yang agraris. Subur.
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Dan yang paling memungkinkan untuk menangani ya pemdes dengan seluruh sumber daya yang ada termasuk Anggaran.
Saya berkhusnudzon saja, ketika Pimpro menaruh Watu Lumpang ini tepat dipinggir jalan dusun, tepat di jalan masuk bakal perumahan (Saat saya kesini masih tahap meratakan tanah). 
Tujuannya pasti ingin menarik perhatian, barangkali pihak terkait berinisiatif merawat benda cagar budaya ini. 
Atau malah pihak pengembang akan menjadikan semacam tetenger (=baca ‘monumen’) yang bisa menjadi ciri khas perumahan ini. semoga..
Terlihat lumayan besar, dan tebal Watu Lumpang Klowoh Lemahireng ini, dan relatif kondisinya masih baik. Tak berlumut, menandakan baru saja diangkat dari dalam tanah.
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Seperti Watu Lumpang yang berada di Tambakboyo Ambarawa, warga bersama-sama membangunkan khusus tempat yang layak, didekat pos kamling warga dengan taman minimalis. Ini Gambar dari Watu LumpangTambakboyo, ijin model... (semoga beliau berkenan... apa kabar kawan?)
Watu Lumpang Tambakboyo Ambarawa
Tapi, lumayan lah ketika warga masih peduli. Semoga pihak pengembang perumahan Punsae 3 ini bijaksana….
Watu Lumpang sangat mencolok,
Tapi tentu saja warga kebanyakan pasti tidak sama seperti saya/ kami para pecinta situs… Namun Harapan kami tetap ada pihak yang nguri-uri…
Semoga ada pembaca yang tahu legenda, mitos atau kepercayaan warga tentang Watu Lumpang ini dan berkenan berbagi kepada saya, agar bisa saya bagikan lewat kisah sederhana ini...
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Sampai ketemu di perjalanan selanjutnya,
#hobikublusukan
Nb :
Esok paginya saya ternyata kesini lagi… Setelah acara, saya janjian dengan Mas Eka Budi, pemilik Blog sesama Pecinta Situs : Ini Link Naskahnya.. https://jelajahkarungrungan.blogspot.com

7 komentar:

  1. Itu daerah saya. Dan itu memang sementara di situ. Besuk kalau sudah selesai pengerjaan proyek akan di kembalikan di tempat semula

    BalasHapus
  2. Trimakasih sudah sampai di dusun saya tercinta ini,,
    dan saya perjelas batu tersebut tidak di temukan.Dari awal sudah kelihatan dan jelas terlihat keberadaan batu tersebut di Dusun klowoh . Dan tentunya sudah ada kesepakatan warga dengan pengembang PUNSAE3, untuk penempatan batu tersebut. sementara menunggu tempat yang semula batu di ambil dan akan di kembalikan lagi dalam proses penataan. Maka sementara di taruh di pingir jalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maturnuwun atas pencerahanipun. semoga saya bisa dikabari lagi bila sudah dikembalikan ke tempat asal yang layak..
      Salam Pecinta situs dan watu candi

      Hapus
  3. Terima kasih mas Bambang sudah dimasukan blog dan keberadaanya selalu dipantau oleh teman2 dari Randugunting ayo kawan2 dAri Lemah Ireng kita buka kawasan dari Randugunting dan Lemah Ireng situs2 yg ada disana bersama kita lindungi peninggalan situs purbakala salam hormat dari Randugunting Aman johani dari Komunitas peduli budaya Randugunting

    BalasHapus