Tampilkan postingan dengan label kab Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kab Semarang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2022

Jejak Peradaban Candi Dampu, Kalongan Ungaran Timur

Yoni Situs Candi Dampu, Kalongan Ungaran Timur : sumber foto wiyono

        Kamis, 26 Mei 2022. 

      Berat. Kata kunci blusukan kali ini. Menulis cerita blusukan yang berat memang sungguh berat. Bingung? Berat yang pertama... Saya sudah menulis 50% di catatan hp eh karena salah pencet menghilang. Padahal susah payah saya nulis cerita versi sebelum ini.. sungguh pengalaman pahit namun terulang terus. Jadi berat yang pertama adalah berat menulis ulang, dengan mencoba lagi memunculkan kembali ide butuh usaha lebih banyak. : adalah sakit tak berdarah.

Pie kabare Lek? 

     Berat yang kedua, cerita ini sungguh berat dalam arti sesungguhnya. Selama blusukan baru kali ini sangat berat drama menuju lokasi penelusuran. Semoga tak mengecewakan hasil nya terutama bagi diri saya pribadi. 

         Okelah, semoga pembaca bisa menikmati. 

      Dimulai ketika salah seorang Sahabat DS share informasi lama yang direpost ulang, tentang sebuah jejak keberadaan kampung kuno bernama Candi di Ungaran timur. Ms Wiyono rekan yang membagikan foto Yoni di sebuah aliran sungai. 

     Singkat cerita, kami kemudian janjian di Alun -alun lama ungaran, tanpa saya duga sebelumnya, 2 dedengkot tokoh persilatan DS turun gunung, Mas Dhany yang biasanya punya seribu alasan melewatkan blusukan bareng padahal cuma 1 penyebabnya, dia lupa jemur keset... Wakakak. Mas Eka WP pun sebelas dua belas. 

tombo kangen DS
      Padahal hujan sangat deras, saya datang paling akhir, Mas Wiyono, Mas Dhany dan Mas Eka sudah ngumpul di Gerobak nasi kucing yang belum buka di depan perpustakaan. 

menuju sanggar Condro Winoto
       Ngobrol, sebentar sambil nunggu hujan berhenti, setelah mereda kami berencana mampir silaturahmi ke eks rekan blusukan watu yang sudah 'tobat' , sayangnya beliau entah kebetulan atau tidak gagal kami temui, hahaha. Ya sudah kami lanjut ke tujuan blusukan. 

     Lewat Kalirejo, di jalur alternatif menuju Dampu, masuk terowongan di bawah jalan tol, kemudian lewat kantor perkebunan tak berapa jauh dengan jalan aspal rusak, sekitar 2 km kemudian sampailah kami di Dampu. 

     Sebelum Kantor Desa Kalongan ada sebuah sanggar seni budaya. Posisi di gang sebelah kiri, mas wiyono ternyata telah janjian dengan warga lokal dan berkenan menjadi pemandu penelusuran kami.

      Hujan sudah reda saat kami start dari sanggar. Namun mas Eka tetap bawa payung yang menulari saya, endingnya saya bawa jas hujan saya salah prediksi pula, pakai sandal yang tak cocok... hehe. Oia dekat  sanggar sebenarnya ada watu kuno, namun karena bukan tujuan kali ini saya lewati dulu saja. Saya simpan untuk blusukan tipis2 kapan kapan. 

      Tanah yang berlumpur bekas hujan, dicampur cairan hijau (kanan kiri di awal perjalanan banyak kandang sapi... Weeek), awalnya daya menetapkan untuk tetap pakai sandal kondangan. Tapi lama kelamaan, berlumpur. Menjadikan ide mas Dhany untuk mengembunyikan sandal di tumpukan rumput disamping pohon pisang kutrima. Jalan tanah cukup licin, beberapakali terpeleset menjadi bahan candaan. 

      Jadilah kami bertelanjang kaki, awalnya biasa saja... Namun beberapasaat berjalan kaki mulai menyusuri jalan setapak yang tertutupi ilalang perasaan mulai was was. Ilalang mulai terasa agak tajam, kadang duri putri malu menusuk ujung kaki, juga perasaan kawatir disela sela rumput ada yang menjulurkan lidah merayap pelan... Imajinasi kemana mana. Sambil bercerita, tak terasa berubah vegetasinya,yang sebelumnya tanaman palawija dan buah buahan kini berganti alas Jati. 

      Jalan masih banyak curam, rasa takut bertambah, tumpukan daun jati membuat mata saya tak bisa berhenti mengawasi. Mungkin saja ada yang meringkuk, melingkar di bawah daun, ketika saya injak balas menyakiti. 

Wiyono , Dhany , Eka Wp , saya : Pose lengkap meuju Candi Dampu kalongan 

      Sampai kemudian berganti lagi menjadi rumput yang sangat lebat, kadang rumput berduri yang ditempat saya di kenal ridrendet. Jika kena kulit menancap dan berderet2 sangat sakit. Tiba tiba terdengar celetukan, "Jalannya tertutup semua, nampak berubah" guide lokal bingung. Kami semakin nelangsa. Sudah segini berat medan, eh ditambah tersesat. Mau balik kanan kepalang tanggung, cukup lama kami memutar tak jelas, tujuannya menemukan jalur ke sungai, berulangkali menerabas rumput berduri, akar, sulur, namun yang kami temui lagi lagi tebing curam. Bila diumpamakan indikator baterai, mungkin hanya tinggal 5 % saja. Energi sudah terkuras ditambah ketidakpastian lokasi. 

      Setelah berhasil turun di sungai, tantangan berbeda menghadang kami, teringat pesan ibu warung tadi kadang sungai tiba tiba banjir walau panas karena hulu sungai hujan deras. Ternyata butiran tanah berbatu yang kami pijak pun sangat tajam mirip pecahan batu wungkal. Belum lagi kalau diinjak ambles dan bergerak. Di sepanjang aliran sungai batuan besar dan tajam, belum lagi tebing rawan longsor. Komplit pokoknya. 

     Akhirnya, teriakan khas Mas Dhany menggema, kami sudah sampai , 

Yoni Situs Candi Dampu, Kalongan Ungaran Timur

     Konon ini dulu berada dari atas bukit, longsor kemudian sedikit terbawa arus, 

Yoni Situs Candi Dampu, Kalongan Ungaran Timur

       Gerimis mulai berubah deras, saat kami sampai di lokasi. namun tak menyurutkan kami untuk segera mengabadikan, eksplor peninggalan kuno yang merupakan jejak peradaban. Bukti cerita legenda yang mungkin mendekati kebenaran. bahwa nama daerah candi memang berasal dari keberadaan bangunan pemujaan jaman Hindu klasik.

Yoni Situs Candi Dampu, Kalongan Ungaran Timur

      Kondisi Yoni sudah sudah tak utuh lagi. di beberapa bagian nampak aus dimakan hujan dan panas. Pertanda belum tersentuh pelestarian. 

     Lubang Lingga berbentuk kotak persegi, penampang atas sudah rusak total, dimana yang biasanya bagian atas Yoni terdapat pola memutar (sedikit menonjol untuk mengarahkan air suci agar keluar dari lubang cerat sudah rusak total tak nampak. 

     Begitupula cerat sudah tak berbentuk lagi. Namun dari bekas dupa, masih terlihat jejak orang yang 'menghargai', dan tahu ini benda apa. Walaupun memang kadang bukan sesuai peruntukkan ketika jaman dahulu Yoni dibuat. 

Dari cerita guide, dulu pernah ada diambil orang tak bertanggungjawab, namun kemudian dikembalikan lagi. Sebelumnya memang pernah ada seseorang yang berusaha menguri-uri Yoni ini. Namun karena terkendala beberapa hal urung dilaksanakan. Dari cerita-cerita beliau, semoga akan ada perhatian dari masyarakat. Terutama pemerintah desa.     

      Versi video lengkap petualangan ada di channel youtube

      Maturnuwun para rekan dan bapak guide lokal. Maturnuwun Pak, mohon maaf sampai saya pulang belum tahu nama beliau, saking lelahnya....

Mas Dhany, Guide dan saya di Candi Dampu, Kalongan Ungaran Timur

         Beberapa saat kemudian, setelah merasa cukup kami kemudian kembali, walaupun  lelah namun bagaimanapun blusukan terus berlanjut. Yang bikin ketawa kecut, kami mencoba jalan lain. Yang ternyata tembus sangat dekat. Hanya selemparan tangan saja. hahahahahhaha. biarlah... pengalaman ini.... -----
   Sampai ketemu dipenelusuran berikutnya.

Saya di Situs Candi Dampu, Kalongan Ungaran Timur
      Salam Pecinta Situs dan watu candi

      #hobikublusukan

Rabu, 16 Juni 2021

Arca Ngampin Ambarawa, Masih Terjaga dengan Baik.


Arca Ngampin Ambarawa
      Rabu 16 Juni 2021. Disela PPKM darurat, saat WFO 50% tiba tiba teringat pengalaman blusukan penelusuran situs beberapa tahun silam. Dimana hasil blusukan ada yang melarang untuk mem-publish, bahkan dengan ancaman... padahal saya belum melakukan apa apa di medsos baik IG, FB maupun twitter, naskah di blog juga belum kepikir. Waktu itu blusukan di area Ngampin Ambarawa, dua destinasi. Pertama di salah satu penginapan dan yang kedua dikebun warga. Oknum tersebut katanya juga memiliki penginapan tersebut (penginapan keluarga---).
     Eh ditambah orang lain yang ternyata dibelakang saya ngrasani bahwa blog saya ini banyak menyebabkan hilangnya situs... Heheheh ... Padahal biasanya sebelum saya datang banyak yang sudah posting di medsos.... Entahlah.... Mungkin maruk, pingin dikuasai sendiri, padahal jika bergerak bersama sama akan terasa mudah. Itu pikiran saya. Tapi Karena sudah ilfill dengan para pelaku itu, ya sudah saya skip, akhinya foto dan video hasil penelusuran itu saya simpan di folder dengan judul ada ancaman.
       Berlalu-nya waktu, karena lama tak blusukan, kangen nulis pula di blog, saya ingin membagikan kisah blusukan itu, walaupun kisahnya ada pahitnya 'tentang sebuah arca di dekat kolam ikan Ngampin  Kulon Ambarawa'. Sialnya.. foto dan video sampai tulisan ini saya buat tak ketemu. Ya sudah....
     Serba kebetulan, saat bertugas di Ambarawa, terlintas dibenak untuk WA rekan blusuker aktif Ambarawa. Bu Noorhayati, guide dan jadi teman bincang2 di lokasi situs. Rencana saya bikin podcast ringan di lokasi. Eh gayung bersambut, beliau berkenan menemani.
     Link podcast di channel youtube mampir yaaa!!!... :

      Ngampin sendiri mempunyai jejak peninggalan masa lalu yang spesial, beberapa masih dapat dilihat. Seperti : Candi Ngentak, Lumpang, Kala. Lapik di Situs penginapan Ngampin, kemudian pasti banyak lagi yang disembunyikan. 
    Menuju lokasi kurang dari lima menit,, petunjuknya disebrang SPBU, di jalan gang tepat di samping kolam renang, ikuti jalan tersebut. Menyeberangi Rel KA, Arca Berada di samping rumah warga dekat kolam ikan.
      Sayangnya saat sampai di lokasi kami tak ketemu beliau yang punya rumah. Terakhir saat blusukan beberapa waktu lalu, orangnya super ramah, walaupun sekilas kebetulan hanya berpapasan saat beliaunya mau pergi. Namun kesan 'monggo' nya tulus dan ramah beda 180derajat dengan destinasi sebelumnya.

       Kedatangan kali ini juga ingin mengungkap secara jelas rasa penasaran saya, tentang ini arca apa. Dulu saat kesini diskusi belum secara detail. Tapi dengan obrolan dengan Bu Noorhayati di Podcast memnuat sedikit terang. Dugaan saya bisa : arca AwalokiteĊ›wara, salah satu Bodhisatwa yang paling dimuliakan. Selain satu kaki dibawah, ciri lain ada bunga teratai (=juga di beri gelar padmapani). Mencoba compare ddengan arca di Candi Mendut : sumber https://www.sasadaramk.com/2011/11/candi-mendut-peninggalan-bersejarah.html
Sumber foto dari blog ini juga
       Sementara Mungkin Juga arca ini adalah Manjusri. Dalam agama Buddha Manjusri dekenal sebagai Bodisattwa yang mempunyai sifat bijaksana, atau dikenal sebagai “yang mengajarkan kebijaksanaan”. Manjusri selalu digambarkan sebagai anak muda, sehingga tidak pernah digambarkan mempunyai sakti. Ia merupakan Bodisattwa yang populer dan dipuja di seluruh negeri yang menganut agama Buddha. Foto perbandingan dengan Arca Manjusri sumber dari : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng
       Arca Manjusri temuan dari Ngemplak Simongan : sumber http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya

     Sayangnya ciri-ciri antara Awalokistwara ataupun Manjusri yang memang mirip sudah hampir musnah perbadaannya, terutama kepala arca yang raib. 
      
   Sampai saya tulis cerita ini saya masih diliputi Keraguan, walaupun  menjadikan saya mencari tahu...
      Kondisi Arca masih sangat baik, walau tentu butuh perhatian, baik dari masyarakat sekitar maupun pemerintah. Pujian tulus kepada pemilik lahan yang tetap menempatkan arca dilokasi asli 'insitu', lewat tulisan ini saya coba mengetuk warga sekitar atau pemerintah untuk membuatkan tempat yang layak tanpa memindah ke lokasi lain, Kami dari Komunitas Dewa Siwa pun siap bila dijawil, apapun baik urun rembug, turut menyumbang tenaga dan masih banyak lagi. 
      Beberapa foto arca Ngampin Ambarawa :


Arca Ngampin Ambarawa dari belakang

Arca Ngampin Ambarawa  dari Atas

    Maturnuwun senior Bu Noorhayati, pencerahannya menakjubkan.
Bu Noorhayati Dewa Siwa
      Sampai ketemu di penelusuran berikutnya :
     Salam pecinta situs dan watu candi
#hobikublusukan

Jumat, 12 Februari 2021

Misteri Makam Penden Penawangan : Jejak Peninggalan Lumpang dan Alu yang Hilang

       Sabtu, 13 Februari 2021. Kali ini sebenarnya menjadi destinasi diluar dugaan saat Gowes Bersama Komunitas ALibs (Arsip Library Sepedaan) 'Gowes Goes to Penawangan". Awalnya inceran saya adalah informasi dari Mas Seno adanya sebuah OCB yang berada di Dusun Mranak. Tepatnya Lapik arca yang menjadi umpak teras warga. Cluenya dekat Tugu Suharto Penawangan. 

Tugu Suharto, Penawangan
     Sayangnya kondisi tak memungkinkan, walaupun saya sempat survai dahulu saat start gowes, Lapik arca Mranak dekat tugu suharto, 

    Rencana awal gowes pulang saya mampir, tapi kondisi berkata lain. Hujan sangat deras, jadi Lapik Mranak next penelusuran. Selain keberadaan situs, ada watu lain yang cukup unik, dari penamaan watu tersebut, konon bentuknya mirip yang memang bikin penasaran.. hahahha.... 

Menuju Watu Penthil, Penawangan
        Pemandangan di Watu Penthil memang Joss Gandos, potensi untuk wisata alam yang menakjubkan. Yang mungkin saat ini masih terbatas pada komunitas Trabas.

Pemandangan di Watu Penthil

      Penampakan Patu Penthil masih menunggu kiriman foto rekan, saking terpesonanya saya terlupa untuk foto watu penthil yang di tanam warga dekat gardu pandang. konon watu pentil, dinamai demikian karena memang mirip bentiknya dengan penthil. Yang berada di terbing terjal dan menjadi jalur pintas warga untuk ngurusi ladang, beri makan ternak. "Warga memanjat tebing dengan nggragap-ngraggap batu yang menonjol di beberapa bagian menjadi jalur naik itulah yang karena mirip bentuknya akhirnya dinamakan sama.".

     Saat ngobrol dan beristirahat di Gardu Pandang Watu Penthil inilah, saya dapat cerita dari Kapten Alibs, Mas Didik bahwa di Makam Punden ada Watu Lumpang dan Alu yang telah hilang. Singkat cerita saya duluan, dan mampir di Makam Punden Tersebut.  


sasadaramk.com

   Di pintu gerbang masuk tertulis Nama Makam Ki  Ageng R. Sudjono.  untuk siapa beliau terus terang saya tak punya informasi.

      Setelah mencari beberapa saat di area makam, ketemu juga. Dibawah pohon menjadi satu dengan satu makam. 

    Sayang sekali saya terlalu susah untuk mendapatkan sedikit cerita perihal Watu Lumpang di makam Punden ini, sang kaptenpun tak berani bercerita, sementara salah satu warga yang saya tanyai lewat WA, mensyaratkan untuk ketemu langsung jika ingin tahu sejarahnya. Terus terang karena jarak yang cukup jauh, jadi ya saya jawab lain kali... heheh.

    Hanya yang saya dapat, kepercayaan warga sekitar bahwa untuk ke makam harus ke Sendang Nggandul Temetes terlebih dahulu. 

     Dokumentasi Watu Lumpang Makam Punden Penawangan







   Semoga ada sahabat yang memberikan pencerahan narasi cerita sejarah Makam Punden Penawangan ini, 

   Video Penelusuran Situs Makam Punden Penawangan :

     Foto bersama Teman Komunitas Alibs, saya yang berdiri ditengah :

Komunitas ALIBS, Perpusda Kab. Semarang

   Sambil rehat di Warung Ngelo, Penawangan. Kami konsolidasi kembali untuk perjalanan pulang. tak lupa tentu mengisi pertut karena jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.

       Salam Pecinta Situs dan Watu Candi, 

#hobikublusukan

Senin, 14 September 2020

Jejak Peradaban di Plumutan Bancak Kabupaten Semarang : Situs Yoni


Yoni Plumutan
      Selasa 15 September 2020. Penelusuran kali ini sungguh beruntung. Sebelunya beberapa hari lalu saya di beri gambar Mas Agus Suradi (Rekan Pegiat Literasi founder Joglo Pintar Lebu Bancak) tentang situs yang berada di bancak. Saya tentu gerak cepat merespon. Kebetulan hari ini ada tugas ke Bancak, bersama rekan kerja, jadi sekalian saya mencoba menghubungi Mas Agus untuk jadi guide. yang ternyata menyanggupi. 

      Setelah sebelumnya sempat mengisi dulu energi dengan Mie Ayam di Bringin, ritual sebelum atau sesudah blusukan tentu andalan adalah Mie Ayam. hehehe. 
      Kemudian kami janjian di Dekat Kantor Desa Wonokerto Bancak, setelah ngobrol sejenak sambil nglinting kami kemudian mengekor mas Agus. Parkir di pinggir jalan tepat di Batas Desa Jlumpang dan Desa Plumutan.

Batas Desa Plumutan
     Kami kemudian jalan menyusuri sawah tadah hujan yang kering. Cuaca cukup panas dan saya terlupa bawa topi/ slayer, jadila helm-nya mas agus saya paksa pinjam saja... hehehe. Beberapa saat berjalan, kami kemudian sampai di lokasi dimana adaa 6 pohon jeruk ditengah sawah.

foto saya ambil dari tugu Batas Desa

     Setelah beberapa saat sampailah kami,


yoni Plumutan, Bancak

       Mas Agus menceritakan dongeng atau legenda yang berkembang di warga : Batu Purbakala ini konon pernah dibuang ke jurang sebelah sana, akan tetapi balik lagi. Kemudian dibiarkan oleh warga", jelas Mas Agus.
         Sayang sekali saat kesini, Kondisi yoni sudah Terbelah! hanya tinggal separuh saja!


Channel Youtube :



       Maturnuwun Para Partner,


Saya Mas Agus Joglo Pintar Dan Didik Ariyanto

      Salam Pecinta Situs dan Watu Candi

Sampai ketemu di penelusuran berikutnya
#hobikublusukan

Senin, 10 Agustus 2020

Temuan Batu Bata Kuno dan Gerabah di Kolam Lele Dusun Tulung, Doplang Bawen

Perbandingan Batu Bata Kuno dan Batu bata masa kini
Batu Bata Kuno Doplang
            Selasa 11 Agustus 2020. Ketika dapat kabar seorang warga menggali tanah untuk dibuat Kolam Lele. Warga tersebut menemukan batu bata berukuran besar (=banon). Tentu pecinta situs dan watu candi macam Pak Nanang losss doll langsung gass ke lokasi, saya kebagian beruntung karena dikabari dan diajak. Sangat kebetulan hari ini jadwal saya free (Kerja terus kapan dolane?). Janjian setelah jam 2, membuat waktu memang sangat terbatas. Tapi tentu saya tak akan menyia-nyiakan waktu untuk turut serta menjadi saksi penemuan kepingan sejarah Bawen. 
       Bagi saya, ini menjadi sebuah potongan kecil puzzle yang nanti bisa disusun menjadi sebuah fakta sejarah peradaban kuno di kawasan ini. Sangat antusias sekali, bila harus menggambarkan bagaimana perasaan saya (asli bukan lebay), “Bagaimana tak antusias, jika warga menemukan biasanya berlomba-lomba menjual kepada mafia kolektor, eh ini Bapak Sukardi malah menghubungi Pak Nanang yang sudah terkenal malang melintang di dunia perWatuan kuno melalui Komunitas Dewa Siwa. 
      Dari markas komunitas yang terletak di Berokan Bawen, tepatnya di bakso Pak Keman Bawen (Sebelah masjid Berokan), kami ; Saya, Mas Seno, Mas Artdi dan tentu saja Pak Nanang dan Bu Wahyuni segera meluncur ke lokasi. Kurang dari 5 menit kemudian kami sampai. 
      “Sudah beberapa batu bata berukuran besar yang saya temukan, namun sudah pecah. Juga pecahan gerabah”, cerita Bapak Sukardi membuka percakapan. 
     "Sempat pula menemukan gerabah berbentuk kendi, namun saat ini saya lupa naruh dimana”, sesal beliau. 
      Lokasi bakal kolam lele yang berada tepat di bawah sendang (juga keberadaan pohon besar) plus kontur daerah berupa pinggiran gumuk (bagian sisi belakang rumah diatas berupa makam, menjadi penguat dugaan kami bahwa dulu di lokasi ini pernah ada sebuah bangunan. Bisa berupa petirtaan, bisa malah sebuah bangunan suci atau malah pemukiman. 
     Sambil menunjuk bagian belakang, bapak Sukardi (tepatnya di bagian septic tank) beliau berkata, “Dulu saat menggali kedalaman kira-kira 2m, ada tatanan batu bata yang ditata mirip lantai. Namun tak saya ambil karena ternyata batu bata itu masih tertata menumpuk sampai dalam”, tambah beliau. 
Beberapa Batu Bata Kuno yang dikumpulkan Pak Sukardi :
Banon Doplang
Juga pecahan kecil gerabah 
Potongan Gerabah
      
Sementara berubah fungsi dulu :

           Semoga penemuan Batu bata di Tulung Doplang Bawen ini menjadi pintu masuk penemuan-penemuan jejak sejarah yang lain …. 
      Titip untuk masyarakat dan generasi muda Dusun Tulung (Tulung adalah bahasa jawa yang berarti Tolong) … Save our herritage jejak peradaban Dusun Tulung Doplang ini” 
Link Youtube : 

      Foto bersama di lokasi :
Bapak Sukardi, Seno, Ardi, Nanang K, Bu Wahyuni di Tulung Doplang Bawen

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi 
#hobikublusukan