Tampilkan postingan dengan label makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makam. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2021

Mengungkap jejak Candi Gondang di Gondang Ngisor, Ngadirejo Temanggung

Candi Gondang
           Selasa, 19 Januari 2021, lanjutan Blusukan Silaturahmi di Pecinta Situs Ngadirejo dengan akun IG : @Ahmadfathulmub, Setelah Mampir di Yoni dekat rumah beliau : Yoni Merah Gondang Lor
    Perjalanan dilanjutkan destinasi selanjutnya. Masih membonceng Mas Fathul, saya ngikut saja, ketika berhenti tepat di parkiran Kantor Kelurahan Manggong, pikir saya beliau perlu bikin surat. Eh.. ternyata situs berada di belakang Kantor kelurahan, di makam Gondang Ngisor. Makam ini terapit diantara Kantor Kelurahan dan Masjid Al-Mujahidin.
     Saat Menuju lokasi OCB di foto yang saya tunjukkan di Medsos beliau, saya disajikan, struktur batuan candi di salah satu makam, dmana batu candi tersebut terdapat hiasan pola/ berpelipit. Yang menunjukkan struktur tersebut merupakan bagian tepian bangunan = candi. 
Struktur Candi Gondang
    Kemudian berjalan melewati beberapa makam, sekitar 10m kemudian di dekat Masjid/ berbatasan langsung dengan dinding masjid, sampailah saya di situs dengan OCB yang ditumpuk... hehehehhe...
Candi Gondang
     Dari uraian mas Fathul, untuk posisi paling bawah, beliau mendeskripsikan itu adalah lapik arca. Dengan pelipit yang sangat sederhana, tegas nan indah walaupun tentu saja di beberapa bagian nampak aus, rusak dan berlumut. Untuk arca diatasnya perlu kajian atau mencari literatur terlebih dahulu.
Lapik Candii Gondang
     Sedangkan yang tengah, Yoni dengan ukuran lumayan kecil. dengan kondisi yang kurangn lebih sama.
          Close up leboh dekat badan Yoni, 

     Sementara Batuan berbentuk kotak menjadi bagian struktur Bangunan Candi, 
Struktur Batu Candi Gondang
     Sementara 2 batuan lagi kami duga batu baru bagian dari nisan salah satu makam. 
      Kenapa ditumpuk, saya tak begitu yakin. Tak ada yang bercerita sebenarnya. Hanya dugaan saya biar nampak bagus/ karena untuk menghemat tempat... saya mencoba berpikir memahami jalan pikiran orang yang menumpuk. 
Candi Gondang, Ngadirejo
    Positifnya berada di makam, juga berada dibelakang antor Kelurahan semoga tumpukan OCB ini aman dan terawat. (njawil Kelurahan... semoga diupayakan untuk menguri-uri, lha wong di belakang kantor dan selemparan batu saja kok... eman2!.
     Mencoba mendokumentasikan dengan Vlog, walau grogi karena bersama mas Fathul Vlogger jempolan.. hehehe... monggo channel beliau di : Fathul Ahsanaira
   Kalau saya? tentu saja sangat amatir di : 
(Proses edit)
     Maturnuwun Mas Fathul,
      Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
     Baca juga blusukan sebelum ini di link : Yoni Merah Gondang Lor Desa manggong
     Berlanjut ke destinasi ke tiga Situs 15 Batu Umpak 
#hobikublusukan

Jumat, 13 November 2020

Gowes Mampir Situs Pandean Gunungpati : jejak Demang Jafar, Lurah Gunungpati yang sakti Mandraguna

Situs Pandean Gunungpati
       Sabtu, 14 November 2020. Gowes Blusukan tak terduga. Setelah rencana duet blusukan gowes gagal karena sepeda rekan opname. Saya menguatkan hati untuk gowes sendiri. Apalagi juga masih janjian dengan Bolo United, Bolo Gowes, Bolo Blusukan : Mas Age Boja.
     Saat berhenti nunggu rekan lain (yang ternyata sepedanya opname), eh saya iseng wa rekan 'kang mas Roso Mijen', ada rekomendasi situs tidak, tanpa saya duga beliau memberikan 2 rekomendasi. Beruntungnya 1 rekomendasi tersebut berada di jalur saya Gowes menuju Boja.
blusukan situs #unitedbike
      Tapi setelah tahu, saya terkejut, menyesal, setiap lewat saya selalu menoleh ketika lewat Makam Pandean, perasaan saya selalu ingin menengok. Barangkali ada situs karena lewat makam ada di Gumuk, serta ada pohon Kanthil yang cukup besar. seperti biasa saya kmengesampingkannya.
 

Tapi bagaimanapun bersyukur masih bisa tahu, lewat Kang Mas Roso. Setelah parkir sepeda, kemudian saya mengeksplor.
     Keberadaan sesuWATU yang hanya satu menambah misteri jejak sejarah Makam Mbah Demang Jafar. Selain cerita sejarah yang sangat minim (Semoga pembaca yang paham berkenan membagikan cerita tutur tinular). Dari mas Siswo handoyo, ada jejak folklore tentang Tokoh Sakti, Demang Jafar. 'Watu disunduki, dan ngangsu air memakai dunak adalah salah satu kemampuan beliau yang melegenda', kata mas Siswo.
      Posisi dibawah pohon Kanthil, dugaan saya ini umpak sebuah bangunan masa lalu,  namun keberadaan tinggal satu. Berada di gumuk, dekat dengan aliran air (perkiraan saya sekitar atau tak jauh dari lokasi ini dulu ada sumber mata air).
   Namun saya hanya menduga. 
     Semoga tetap lestari... dan aja penutur sejarah yang berkenan membagi cerita....

     Untuk tahu selengkapnya landscape makam, pohon Kantil juga Watu umpak mampir juga di link video channel Youtube :




Lanjut Gowes Blusukan ... tunggu naskah selanjutnya
#hobikublusukan

Jumat, 28 Agustus 2020

Misteri Makam Dalangan : Struktur Batuan Candi Rentengkah?

Makam Dalangan

         Jumat 28 Agustus 2020. Lanjutan dari PenelusuranCandi Renteng, Tak Jauh dari Candi Renteng di jalan masuk menuju Kawasan Wisata Gunung Telomoyo ada sebuah makam keramat. Dulu dikenal dengan “Makam Dalangan’. Saat bersama anak istri ke Telomoyo beberapa tahun lalu, (sekitar 2014) sempat feeling pingin mampir. Namun karena bawa anak kecil akhirnya saya tunda. Kemudian saya mencoba bertanya di grup FB Komunitas Dewa Siwa waktu itu,  di jawab dengan sebuah dokumentasi dari Mas Hendrie Samosir yang memang benar benar ada.

Seingat saya Batu-batu Candi berbentuk balok berukuran besar. Sayangnya sampai saya nulis cerita ini tak dapat menemukan jejak digital foto unggahan mas Hendrie tersebut. Si Empunya juga kadung delete dari memori hp-nya. Sementara dokumentasi lain di dunia maya juga belum ketemu.

Alhasil Makam ndalangan memang benar-benar misterius. Dari selancar dunia maya yang saya lakukan, hanya ketemu satu cerita, yang cukup menarik (bantuan link berita online dari Legenda hidup blusukan : Pak Nanang Klisdiarto). https://Borobudurnews.com dengan artikel berjudul “Napak Tilas Tragedi Tewasnya Seluruh Kru Pewayangan di Kaki Telomoyo”.

Konon saat pertunjukan Pewayangan di Dusun Sepayung (nama dusun sebelum tragedi ini), ada angin lesus yang sangat besar…. Panggung wayang dan pohon-pohon besar rubuh menimpa seluruh kru pewayangan (Dalang, Sinden dan para Nayaga- Penabuh Gamelan) yang mengakibatkan tragedi memilukan tersebut. Kemudian seluruh korban dimakamkan di Makam yang dikenal dengan Makam Dalangan. Kemudian nama dusun berubah menjadi Dusun Dalangan Desa Pandegan Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Sampai saat ini tak ada yang berani nanggap wayang kulit karena takut kejadian tersebut terulang lagi.

Kembali ke topik keberadaan batu balok di makam Dalangan yang dulu pernah saya lihat melalui foto mas Hendrie, adalah struktur batuan Candi.

Batuan Candi Di makam Dalangan

Setelah saya mencari beberapa literatur yang bisa saya coba telaah. Ketemu satu dari Veerbek “Raporten 1914”, yang hanya membahas Candi Renteng. Jadi dugaan mblawur saya batuan balok itu adalah bagian dari struktur Candi Renteng. Yang kemudian di pindahkan untuk dijadikan pathokan makam.

Jejak Batuan Candi di Makam Dalangan:

Pathok Makam Dalangan : Batuan Candi Renteng?

Pathok Makam Dalangan : Batuan Candi Renteng?

 Yang tersisa hanya beberapa Batu Kotak yang sudah dijadikan Pathokan Makam, sementara yang lain entah dimana. Dugaan saya yang lain menjadi pondasi bangunan di area makam. Bangunan Baru yang mungkin saja dipakai berfungsi untuk pendopo.  Sayang sekali…… mengorbankan jejak Candi Renteng. Padahal Candi Renteng lebih kuno dan lebih nyata sebagai sebuah sejarah bukan hanya legenda asal usul.  Sejarah memerlukan bukti otentik bukan hanya tutur tinular.

Saat ini oleh warga Makam Dalangan diberi Nama Punden Arum. Namun sejarah sisik melik keberadaan dan sejarah makam perlu juga ditambahi sebagai deskripsi singkat agar generasi muda tahu legenda di Makam ini. Legenda tentang asal usul nama Dusun Dalangan. Saya kemudian baru ngeh kenapa di gerbang depan ada gunungan wayang dan tatanan Pakeliran wayang yang membuat awalnya saya berkerut.

Link Channel Youtube : 


Sampai ketemu lagi di enelusuran situs dan candi berikutnya....


Salam Pecinta Situs dan Watu Candi

Nb:

1.Maturnuwun kepada rekan rekan Komunitas Dewa Siwa yang saya repoti ketika mencari literatur jejak Makam Dalangan ini ; Mas Hendri Samosir, Mas Widjatmiko, mas Eka WP dan Pak Nanang Klisdiarto.

2.Dokumentasi dari Pak Nanang di Link Channel Youtube beliau : https://www.youtube.com/watch?v=zxJaDoUJ3ak

3. Sumber bacaan : Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1914. Inventaris der Hindoe-oudheden op den grondslag van Dr. R.D.M. Verbeek’s Oudheden van Java. Samengesteld op het Oudheidkundig Bureau onder Leiding van Dr. N.J. Krom.

 

Kisah Candi Renteng di : Candi Renteng

#hobikublusukan

Kamis, 19 Juli 2018

Mengunjungi Yoni di Makam Keramat Ki Ajar Bontit : Sang Legenda

Yoni di Makam Keramat Ki Hajar Buntit 

Kamis, 19 Juli 2018. Dua hari sebelumnya, postingan informasi mengenai Yoni yang berada di Makam Ki Hajar Buntit dari rekan komunitas yang jarang ketemu tapi sekali memberi infomasi di facebook, langsung mengunci destinasi blusukan. Maturnuwun ‘Kang Mas Roso”, hari ini kami telusuri…
Beberapa rekan saya ajak untuk turut serta, tapi ya itu mungkin mereka sibuk… hehehe. Tapi maklum karena saya memang memilih jam pagi (durasi jam 1)… partner kali ini adalah rekan yang lama absen pula, terakhir nyaris blusukan sebelum putar haluan (baca link cerita ke Situs : Petirtaan Kali Puring, Tengaran)… Semangat golek keringat Mas Eka WP.
Janjian jam 9, start di Perpustakaan Ungaran. Saat saya menuju Lt 1, (ruangan saya ada di Lt2), saya dicegat rekan. Ada orang yang mencari, pikir saya Mas Eka WP, eh ternyata orang lain. 
 Beliau memperkenalkan diri dari pegiat googleMaps , ingin ngobrol tentang blusukan. Tak mau panjang lebar, saya langsung ajak beliau 'Pak Yon'… “Tapi tunggu sebentar ya, ada rekan lain yang tertarik ikut”, jelas Pak Yon.
Singkat cerita, kami kemudian berangkat ber4. Bagi saya dan Mas Eka seperti menemukan semangat lebih, ketika orang diluar komunitas kami tertarik turut serta, bahkan mungkin kami bisa turut numpang tenar pula… siapa tahu,,, wkwkwk.
Blusukan kali ini berempat, kompak dengan motor plat merah (taktik, karena kami nanti akan melewati jalur perkebunan cengkeh, karena sedang panen maka banyak penjaga yang berlalu lalang. Jika memakai plat hitam cenderung susah… heheheheh). Lewat Alun-alun lama arah Kalisidi, setelah sebelumnya singgah terlebih dahulu di Situs Setoyo, tepatnya di Al Madina. Dimana ada 1 Umpak (dugaan sementara) unik.
Kemudian, kami menuju Simeri (letaknya berada di tengah perkebunan Cengkeh - Durian Zansibar, satu jalur dengan Curug Lawe. Setelah melalui daerah Simeri, kemudian langsung menuju Ngumpul, Pasigitan Boja Kendal.
Jalan Melewati aliran air sungai yang sangat jernih dan dingin, (kalau musim hujan ketinggian air lebih tinggi);

Saya sarankan saat kesini hindari musim durian, / panen cengkeh, karena akan banyak tatapan curiga dari penjaga/ bahkan sahabat akan dipersulit. Padahal saya yakin sahabat bukan durian yang menjadi destinasi, tapi pasti dicurigai...hehehehe. --itu mengapa kami pakai plat merah.... untuk memudahkan saja. 
 Tapi tentu saja, tergantung nasibe awak, kadang yo kalau tampang melas pastinya lolos dengan mudah.. hehehehe (intermezzo).
Mengunjungi Yoni di Makam Keramat Ki Hajar Buntit
 “Sekitar dua tahun lalu kesini, kompleks makam belum seperti ini. Dan saya yakin belum ada yoni itu”, terang mas Eka WP. Bagaimana cerita sejarah Ki Ajar Bontit sendiri Sahabat baca di sini ya : https://myimage.id/khoul-ki-ajar-bontit/), Bagi saya pribadi dibanyak versi ini yang paling sesuai logika. --- 
Yoni yang berada di pojokan dekat dengan jalan kearah toilet/ sebelah kiri pintu masuk makam ini nampaknya memang baru diletakkan di lokasi ini. Kami (saya dan mas Eka wp) menduga pindahan dari tempat lain. Juga Lingga dan Yoni bukan pasangan yang asli. Karena nampak tak pas. Saya pribadi menduga dua benda sakral ini dari dua tempat yang berbeda. 
Yoni di Makam Keramat Ki Ajar Bontit
 Bahkan mas Eka WP, yakin Yoni ini berasal dari sebuah kampung kuno yang di akhir 1920-an warganya dipaksa untuk pindah karena desanya dibuat perkebunan. 
     Nama desa Kuno itu Desa Tejomanik, yang kira-kira posisinya ada tak jauh dari Makam Ki Hajar Buntit ini.
Cerat Yoni Makam Ki Ajar Bontit, 
Cerat Yoni di Makam Keramat Ki Ajar Bontit
Yoni nampak terpisah menjadi 2 bagian, entah tapi tentunya bukan knockdown
     Cerat sudah tak jelas ditambah ternyata ada plester di lubang Lingga (karena mungkin lingga berbeda ukuran, sehingga untuk aman diplesterlah…..










Lingga, Yoni Makam Ki Hajar Buntit :
Lingga di Makam Keramat Ki Hajar Buntit 
Saat saya kesini, sekitar 1 jam… juru kunci tak nampak, walaupun sebenarnya saya ingin sekali mendengar bagaimana cerita mengenai Yoni ini. Semoga lain waktu bisa ketemu.
Kearifan Lokal, 

Video amatir (nunggu edit ya)

.  Kami berselfie dulu,
Saya, Pak Yon, Eka WP dan teman Pak Yon (lupa namanya)
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Yoni di Makam Keramat Ki Ajar Bontit

#hobiku blusukan


nb : 
Atas Perkenan Pak Yon, inilah hasil blusukan dengan pegiat Googlemaps.... Link lokasi plus ulasan singkat :  https://goo.gl/maps/ggriBW3XWeu





Kamis, 24 Mei 2018

Situs Poncol Klero Tengaran


Situs Poncol Klero Tengaran
Kamis, 24 Mei 2018. Lanjutan dari Blusukan Kemisan, edisi Puasa tetap seru blusukan di Klero. Keluar Sendang Klero, awalnya langsung seperti rencana. Tapi mas Dhany ngeyel (dengaren iso ngece, “Durasimu kok cepetmen?!”), ya sudah, semoga ngeyelnya bermanfaat! Akhirnya saya ikuti. Sesampainya di jalan dekat candi Klero kami ambil kiri, kalau sebaliknya kearah jalan utama. Hanya sekitar setengah km saja, sampailah kami di dusun Poncol. Kami bertanya sebanyak 2 kali kepada warga tentang dimana keberadaan Sendang Pawon. Nama ini cukup memantik rasa semangat kami untuk menelusuri, bagaimana tidak? Di lokasi yang berbeda dengan nama berunsur ‘pawon’,  ada situsnya : sebut saja Kalipawon Ambarawa, Karangpawon Candirejo Tuntang, dan Watu pawon Kawengen Ungaran juga tentu ingat Candi Pawon.
Saat kami masuk gerbang Dusun Poncol terus terang ada wangi bunga khas, namun saya pribadi belum ngeh. (tetap baca ya). 100m setelah itu, kami parkir di masjid Dusun Poncol, seperti saran warga yang kami temui. Kemudian kami berjalan menuju Sendang Pawon (Sendang diarah depan masjid, seberang jalan). Melewati ratusan anak tangga yang menurun curam (--terbayang tantangan kami nanti, waktu kembali, semoga sepadan!).
Kemudian sampailah….
Sedndang Watu Pawon Poncol
Disambut ular sawah yang sedang ninis (saat akan saya foto mumpet malu mungkin). Kami celingukan, mengedarkan pandangan barangkali watu purbakala yang kami maksud disekitar sendang. Beberapawaktu kemudian kami pastikan hanya nama saja, kecuali batu unik yang tak bisa kami duga-duga ini apa:
Sendang Watu Pawon Poncol Klero Tengaran
Modus Mas Dhany kembali terulang, akhirnya saya ikuti pula….. wkwkkwkw
Beberapa waktu kami cari, akhirnya kami putuskan yntuk menyudahi. Kami kemudian dengan gontai meniti tanjakan tangga yang menurut kami semakin bertambah jumlah anak tangganya. Beruntung Mas Eka WP tak turut serta, bisa-bisa kumur ‘Degan Hijau’ beliau. Kami kemudian berniat lanjut menuju destinasi terakhir.
Kami kemudian kembali, niat kami langsung menuju sendang berikutnya. Saat lewat di gerbang tadi saya sempat terlintas dalam pikiran “apa ini ya, kok harum sekali??!”, tepat saat saya selesai berpikiran seperti itu. Mas Eka Budi menepuk pundak dan “Stop!”, teriaknya. Saya bingung sejadi-jadinya, kemudian dia balik badan dan berlari. Saya putar balik motor untuk nututi, ternyata…
Di sebuah lokasi (di pinggir jalan) berpagar batako keliling ternyata ada makam kuno. Hanya 1 makam. Makam tersebut memakai watu candi untuk nisannya! Rejeki memang tak akan kemana!
Selain watu candi tersebut yang membetot perhatian kami, keberadaan kayu tua yang sudah mati dan tumbuh disampingnya satu pohon kamboja. Nampaknya bunga kamboja inilah yang tadi saya hirup wanginya, padahal cuma satu pohon saja. Ach..!! saya tak tanggap ternyata. Untung ada Mas Eka Budi yang jeli.
Segera kami mengeksplor.
makam keramat Situs Poncol Klero Tengaran
Watu candi terlihat jelas polanya,
makam keramat Situs Poncol Klero Tengaran
Disekeliling lantai area makam ini sudah dipaving, sehingga kami tak tahu lagi watu candi lain yang mungkin saja digunakan untuk lantai. Berbagai kemungkinan bisa saja ; entah watu candi ini awalnya bagian strukur Candi Klero yang dibawa kesini untuk dijadikan makam. Atau malah diarea ini dulunya ada pula bangunan suci masa lalu? Dugaan berseliweran di pikiran kami.
Makam Mbah Poncol, Situs Poncol Klero Tengaran
Seorang ibu yang rumahnya tepat disamping makam ini, saat kami tanyai hanya bilang, “Makam Keramat mas, sing mbabat alas alias pendiri dusun poncol ini, warga menyebutnya Kyai Poncol”, urai ibu tersebut. Cerita ya hanya terbatas itu. Karena beliau juga menambahkan bukan asli warga Poncol. Semoga suatu saat ada yang melengkapi cerita ini (berkenan meninggalkan komentar). Agar cerita tetap terjalin sampai nanti.
Karena waktu sudah menunjukkan jam 11, kami kemudian segera untuk menuju destinasi terakhir.
Crew Kemisan kali ini, Saya, Eka Budi dan Dhany Putra…,
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Lanjut menuju Sendang "Kali Tanggi" masih di Klero Tengaran. #hobiku blusukan

Sabtu, 12 Mei 2018

Watu Candi Watu Candi di Makam Kuno Kebondowo Banyubiru : Oleh - Oleh dari Festival Rawa Pening 2018

Festival Rawa Pening 2018
      Minggu, 12 April 2018. Cerita yang saya sampaikan kali ini terkait dengan partisipasi Dewa Siwa di Festival Rawa Pening Tahun 2018 yang berlokasi di area wisata Bukit Cinta Banyubiru. 
       {Jadi lebih dulu saya cerita ngalor dulu, (ngidulnya adalah blusukan)} Komunitas Dewa Siwa “Ditawari” ikut pameran dan diberi stan, tentu saja saat itu (kebetulan saja) saya yang ditawari langsung mengiyakan. Dan berani sumpah dalam pikiran saya bukan atas nama pribadi (menjawab : ada yang mengira demikian). Terimakasih kepada Ibu Retno Kabid Pemasaran Pariwisata yang secara langsung saat itu menawari kepada komunitas Dewa Siwa, sehingga DS masih bisa menunjukkan eksistensi masih ada, walaupun memang ditengah kesibukan para anggota komunitas. 

Dewa Siwa Stan No. 12 di festifal rawa pening
     Dengan melibatkan hanya beberapa orang saat persiapan, (bukan berarti mengesampingkan---hanya pertimbangan efektif dan efisien saja---) termasuk malam sebelum pembukaan. Dimana ya hanya orang yang terbatas yang bisa datang ikut membantu setting stan. Tapi tidak masalah. Karena, minimal teman-teman komunitas yang nantinya menyambangi pameran ini bisa pula menelusuri jejak peninggalan di Bukit Cinta : ada Lingga Yoni. 

Setting stan : h-1
       Komunitas DS mendapatkan stan yang terletak di dermaga nomor 12, persis satu haluan pandangan ke depan dengan Candi Dukuh di seberang. 
      Menjadikan kesan bagi kami tim setting stan, Bagaimana tidak, kami mendapatkan suasana malam di sini (sampai jam setengah 12) memandang dari kejauhan Bukit dimana Candi Dukuh kokoh berdiri. 

     Hari pertama, alias pembukaan. Sayangnya saya tak bisa turut menyaksikan, karena ada agenda lain yang tak bisa saya tinggal saya mencoba menyusul agar bisa turut merasakan suasana pembukaan.               Walaupun saya sudah berusaha laju motor ku percepat, namun baru sampai di 100 meter sebelum lokasi saya berpapasan dengan Mobil dengan ber-sirene khas.
pak mustain : di stan DS
     Ya sudah berarti pembukaan sudah selesai, tapi saya tetap bersemangat, karena terus terang ketemu dengan rekan yang infonya standby di stan… bisa ngobrol banyak…. (tapi bukan kangen lho ya…jangan salah sangka dulu)…wkwkwkwk… namun apaboleh dikata….stan sudah kosong. 
       Yah sudah… saya kemudian duduk sendiri. semoga beliau berkenan memberikan dokumentasinya.

     Sambil melihat2 pemandangan dan keramaian festival ini. Mulailah….. ada teman. Surprise juga dengan kedatangan Pak Mustain, ngobrol ngalor Ngidul kemudian senyampang waktu datang pula Bu Noorhayati dengan muridnya.
antusiasme pengunjung di Stan dewa Siwa
       Setelah batas waktu saya bisa di stan, kemudian malah ketemu dengan Pak Nanang yang datang berdua dengan Bu nanang tentu saja. 

      Ku lirik dimotornya ada salak, tak beruntung saya, gak ikut makan…wkwkwkkwk.
di motor pak Nanang terlihat logistiknya buanyak

     Hari kedua, Masih di festival rawa Pening 2018. Dimana hari ini adalah penutupan dan ada rencana dari kami dilanjutkan dengan blusukan bersama. Sayangnya lagi-lagi saya hanya bisa nyusul.
Foto  H2. :






    Sudah datang telat, momong pula. Saat saya datang ternyata stan sudah di beresi, ternyata saya ditinggal blusukan rekan2 tersebut. Ya sudah … nunggu sambil ndulang.
Start Blusukan Dewa Siwa - Festival rawapening 2018
beberapa Foto Blusukan (saat saya ditinggal)

      Singkat cerita, ini blusukan spesial …karena saya membawa serta Jagad-Bhumi tanpa Mbokne…..
jagad - bhumi

      Menuju Destinasi Blusukan Spesial bonus Festival Rawa Pening ini, dari Bukit Cinta kembali ambil arah menuju Ambarawa (juga sekalian pulang). Sesampainya di pertigaan (jalan belok tajam). Belok kiri melewati pasar Banyubiru, kemudian ambil kanan arah Wirogomo. Gang pertama setelah belokan ambil kiri (jalan kecil cor2an cukup untuk 1 mobil kecil).
    Terus saja menuju makam Keramat Dsn Jambon. Berada di Dusun Jambu desa Kebondowo, Makam Keramat ini berada.





Watu Candi di Makam Kuno di Kebondowo Banyubiru
 Makam yang nisannya disusun dari struktur batu candi. 


       Warga yang sedang disawah yang kebetulan bisa kami temui, tak mampu memuaskan rasa ingin tahu sejarah makam ini. hampir mirip mereka menjawab itu makam keramat, makam punden dusun Jambon.



 Lek Wahid, yang memang jadi guide, mengungkapkan sumber informasinya dari tulisan seorang belanda yang berbunyi demikian :
547. Kebondawa.
In het gehucht Djambou een verminkte Gane├ža en godekop.
Lit,
Knebel, Beschrijving van de Hindoe-oudheden in de residentie Semarang,
Rapp. Oudh. Comm. HnO p. 236 sq.
         Seorang warga yang tertarik dengan aktivitas kami mendekat dan menceritakan legenda dan mitos Makam ini.
"Dulu pernah ada orang luar kota yang berziarah disini, dia kekeuh memakai ikat kepala. Sebenarnya sudah diingatkan untuk tak memakai satupun identitas atau ciri khas orang yang merasa dirinya lebih tinggi. Sebelum sampai dimakam, orang tersebut terperosok disungai dan sakit (kesleo), disarankan untuk berganti peci dan sarung, beberapa saat kemudian orang itu kembali dan tak ada gangguan apa apa lagi", panjang lebar beliau bercerita.
warga yang bercerita sejarah 'mitos" makam kuno ini
         Mitos yang berkembang di makam ini, apabila pejabat yang masih memakai atribut ziarah ke sini maka tak lama kemudian akan lengser.


     Setelah merasa cukup, kami kemudian sepakat untuk mengakhiri blusukan kali ini. Semoga dilain waktu bisa ketemu lagi.... dan banyak lagi sahabat Dewa Siwa yang bisa turut serta.
     Salam Pecinta Situs dan Watu candi 
#hobikublusukan 

nb :
Semua foto didapat dari : album grup FB DEWA SIWA
dan hak cipta dari Komunitas Dewa Siwa.